NOTE: Terima kasih banyak atas review, saran, kritik dan masukkan yang sangat sangat mengena dari readers semua *bow* Untuk readers yang sudah pernah membaca novel aslinya silahkan melihat kembali NOTE yang sudah author tulis dengan huruf cetak tebal di CHAPTER 1. If you don't like my fanfic so don't read them. Just close and leave it. It's simple right?! *giggles* I told you once more. I'M JUST A CRAZY BIG FAN OF E. WHO WANT TO SHARE MY FAVORITE NOVEL AND OTP. Dan satu lagi, jika readers pernah jalan-jalan ke AFF, kurasa kalian pernah membaca remake dari salah satu manga/anime/drama yang benar-benar sama dengan aslinya. Apakah itu disebut plagiat? Kalau bagi saya, dia tidak melakukan plagiarism sama sekali. They just appreciate their favorite author with their fanfic. So, if you said I make a plagiarism, lalu bagaimana dengan mereka yang me-remake novel/manga/drama dengan sangat mirip hingga detailnya? Don't make me laugh *plak* Daripada dengerin author banyak bacot ga jelas disini, mendingan baca chapter selajutnnya. So, CHENKAIDOt!

.

.

.

HOPE YOU ENJOY TO READ IT

NO FLAME | NO BASHING | PLEASE COMMENT

.

Title

Fifty Shade of Grey 4

Length

N - chapter

Rating

PG-18 (M)

Genre

ROMANCE, ANGST, LEMONADE, YAOI, BOYXBOY

(DON'T LIKE, DON'T READ)

Author

RUKA17

Main Cast

JUNG DAEHYUN, YOO YOUNGJAE

Disclaimer

THIS FANFICTION IS MINE!

Warning

THIS CHAPTER IS UNDERATED! A LOT OF LEMONADE! DIRTY TALK!

Bukan bacaan untuk bocah! Ini serius! Under 18 must be not read it!

.

.

.

BACKSOUND : BEYONCE – HAUNTED

.

.

.

Hal pertama yang ku rasakan adalah aroma kulit, kayu, dan cat dengan aroma citrus yang samar. Sangat menyenangkan dengan pencahayaan yang lembut dan halus. Bahkan aku bisa melihat sumber cahaya ditengah ruangan yang memancarkan cahaya ambient. Dinding dan langit-langit yang tinggi dan berwarna merah anggur gelap, memberikan efek ruang yang luas dengan lantai dari kayu pernis yang sudah tua. Ada sebuah salib kayu besar berbentuk X diikat ke dinding yang menghadap kepintu. Salib itu terbuat dari kayu mahoni tinggi yang dipoles dengan borgol di setiap sudutnya. Di atasnya terdapat besi yang menggantung dilangit-langit dengan berbagai macam tali, rantai, dan belenggu berkilauan. Di sudut kanan terlihat lemari dengan beragam benda aneh seperti cambuk dan alat semacamnya dan disampingnya terdapat sebuah nakas besar dengan laci berlapis. Aku ingin tahu secara singkat apa isi dari laci tersebut. Di sudut kiri terdapat sebuah sofa empuk dari kulit yang mengarah ke dinding dan disebelahnya terdapat sebuah meja yang tampak seperti meja biliard, tetapi ketika aku memeriksanya lebih dekat, aku melihat banyak tongkat dengan berbagai macam ukuran.

Yang mendominasi dari ruangan ini adalah sebuah tempat tidur yang berukuran lebih besar dari ukuran king size dan sebuah lukisan yang terlihat usang terpajang diatasnya. Tempat tidur itu ditutupi oleh selimut merah dan bantal satin merah yang ditumpuk di salah satu ujung. Di setiap sudut tempat tidur itu aku bisa melihat beberapa rantai dan manset.

Aku melirik dan menatap langit-langit. Aku bertanya-tanya apa yang membuat ruangan ini sedikit aneh dan ganjil. Dinding gelap, pencahayaan kurang dan perabot serba berwana merah satin membuat ruangan ini terasa lembut dan romantis. Entah apa yang kupikirkan tapi menurutku ini adalah sisi Daehyun yang lembut dan romantis.

Aku berbalik dan melihat dia bersikap tenang seperti biasa. Aku pun berjalan lebih jauh ke dalam ruangan dan ia mengikutiku dari belakang. Aku melihat sebuah cambuk seperti bulu ekor rubah. Aku menyentuhnya dengan ragu-ragu.

"Itu disebut flogger," suara Daehyun tenang dan lembut.

Flogger? Aku berpikir dan sedetik kemudian aku menunjukkan ekspresi terkejut. Tubuhku mati rasa. Aku bisa mengamatinya tetapi aku tidak bisa mengartikulasikan perasaanku tentang semua ini karena aku terlalu terkejut. Bagaimana caramu menunjukkan ekspresi yang tepat saat kau mengetahui bahwa kekasihmu tenyata seorang penggila kedisiplinan, sadis atau masokis? Takut? Ya, tentu saja. Tapi aku tidak berpikir dia akan menyakitiku tanpa persetujuanku. Begitu banyak pertanyaan diotakku. Mengapa? Bagaimana? Kapan? Seberapa sering dia melakukannya? Dan dengan siapa?

"Katakan sesuatu padaku," perintah Daehyun.

"Apakah kau melakukan ini kepada semua orang atau mereka melakukannya untukmu?" aku menggigit bibirku gugup.

"Semua orang?" Dia berkedip beberapa kali saat menanggapi pertanyaanku. "Aku melakukan ini hanya dengan wanita yang kuinginkan."

Aku tidak mengerti.

"Jika kau memiliki relawan yang bersedia, mengapa aku berada disini?"

"Karena aku hanya ingin melakukan hal ini denganmu."

"Oh," aku terkesiap. Kenapa harus aku?

Aku berjalan ke pojok ruangan dan menepuk sofa empuk dan menjalankan jari-jariku di atasnya. Ia suka menyakiti pasangannya. Pikiran itu membuatku tertekan.

"Kau sadis?"

"Aku dominan." Matanya menatapku intens.

"Apa artinya?" bisikku.

"Itu berarti aku ingin kau rela menyerahkan dirimu padaku dalam segala hal."

Aku mengerutkan kening, mencoba untuk mengasimilasi gagasan ini.

"Mengapa aku harus melakukan itu?"

"Untuk menyenangkanku," bisiknya dan aku bisa melihat seringaiannya.

Menyenangkan hatinya? Dia ingin aku untuk menyenangkan hatinya? Aku berpikir dengan mulut menganga. As you want tuan Jung Daehyun. Dan saat aku menyadarinya, pada saat itu juga aku ingin melakukannya bersamanya.

"Dalam istilah yang sangat sederhana, aku ingin kau menyenangkanku," katanya lirih. Suaranya menghipnotisku.

"Bagaimana aku melakukannya?" Mulutku kering dan aku berharap aku bisa menegak anggur lebih banyak untuk membasahi kerongkonganku. Oke, aku mengerti dengan maksudnya, tapi aku sedikit bingung dengan ruang penyiksaan yang ditunjukkannya padaku.

"Aku memiliki aturan dan aku ingin kau mematuhinya. Itu semua untuk keuntunganmu sendiri dan untuk kesenanganku. Jika kau mengikuti aturan-aturan ini untuk kepuasanku, aku akan membalasnya. Jika tidak, aku akan menghukummu, dan kau akan belajar dari hukuman yang kuberikan padamu, "bisiknya. Aku melirik rak tongkat saat ia mengatakan ini, membuat bulu kudukku berdiri.

"Aku memiliki sistem reward and punishment. Ini tentang mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat. Aku akan mendapatkan banyak kesenangan dan kegembiraan darimu. Semakin besar kau memberikan kesenangan padaku maka semakin besar kepercayaanku padamu. Ini semua adalah persamaan yang sangat sederhana"

"Oke. Dan apa yang ku dapatkan dari ini semua?"

Dia mengangkat bahu dan terlihat hampir menyesal.

"Aku," katanya singkat.

Aku mendapatkan dirinya? Apa maksudnya?

"Ayo kita keluar dari ruangan ini. Ini sangat menggangguku karena kau berada disini." Dia mengarahkan tangannya padaku dan sekarang aku ragu-ragu untuk menerimanya.

Dia mengatakan bahwa dia berbahaya. Dia benar. Dia sangat berbahaya untuk kesehatanku, karena aku tahu bahwa aku akan mengatakan YA. Sebagian dari diriku tidak ingin melakukannya hal gila ini. Sebagian dari diriku ingin berteriak lari dari ruangan ini. Tapi sekali lagi aku tidak bisa. Aku benar-benar sudah gila.

"Aku tidak akan menyakitimu, Youngjae-ah." Mata hazelnya memohon dan aku tahu ia berbicara tentang kebenaran. Aku mengambil tangannya dan dia membawaku keluar dari pintu.

"Jika kau ingin melakukan ini, aku akan menunjukkan sesuatu padamu."

Kami pun keluar menelusuri lorong, melewati tangga dan beberapa pintu sampai akhirnya kami berhenti dipintu paling ujung. Di dalam ruangan itu terdapat tempat tidur ganda yang besar dengan interior serba putih. Sangat bersih dan dingin dengan pemandangan yang paling indah dari kota Gangnam.

"Ini akan menjadi kamarmu. Kau bisa menghiasnya sesuka hatimu dan membawa semua barang yang kau suka ke sini. "

"Kamarku? Kau mengharapkanku untuk selalu berada disini?" Aku tidak bisa menyembunyikan kengerian saat aku terkurung dalam sangkar berwujud istana ini.

"Tidak sepenuhnya. Katakan saja Jumat malam hingga Minggu. Kita harus bicara tentang semuanya dan bernegosiasi. Jika kau ingin melakukan hal ini," ia menambahkan, suaranya tenang dan ragu-ragu.

"Aku akan tidur di sini?"

"Ya."

"Tidak denganmu?"

"Tidak. Aku bilang, aku tidak pernah tidur dengan siapa pun, kecuali dirimu, ketika kau mabuk dan tidak sadarkan diri karena minuman keras itu."

Aku terdiam. Mulutku tertahan.

"Di mana kau akan tidur?"

"Dikamarku." ujarnya tenang. "Ku rasa kau lapar. Aku akan menyiapkan makanan untukmu. "

"Aku kehilangan nafsu makanku," gumamku kesal.

"Kau harus makan, Youngjae-ah," dia mengingatkan dan meraih tanganku, membawaku kembali ke lantai bawah.

Kami kembali di ruang tamu yang cukup luas. Otakku dipenuhi dengan keraguan yang mendalam. Sekarang aku sedang berada di tepi jurang dan aku harus memutuskan untuk melompat sekarang juga atau tidak sama sekali.

"Aku sepenuhnya menyadari bahwa aku memimpinmu dalam jalan yang gelap, Youngjae-ah. Itulah sebabnya aku benar-benar ingin kau untuk berpikir tentang hal ini." Dia melepaskan tanganku dan berjalan menuju dapur. "Kau telah menandatangani kontrak perjanjian itu. Kau boleh bertanya apa pun yang kau inginkan dan aku akan menjawab."

Aku berdiri di samping meja, mengawasinya saat ia membuka kulkas dan mengeluarkan sepiring cheseecake.

"Duduklah." Dia menunjuk ke salah satu kursi dan aku menuruti perintahnya. Jika aku akan melakukan ini, aku harus bisa membiasakan diri. Aku menyadari bahwa dia sudah suka memerintah sejak aku bertemu dengannya.

"Aku akan memperlihatkan dokumen lainnya padamu."

"Dokumen apa?"

"Terlepas dari perjanjian yang telah kau tanda tangani. Dokumen itu mengatakan apa yang akan kita lakukan dan tidak. Aku perlu mengetahui batasmu dan kau perlu tahu tentang batas ku. Ini adalah sebuah konsensual."

Aku menganggukkan kepalaku.

"Apa kita tidak akan memiliki semacam hubungan?" aku bertanya hati-hati.

"Tidak"

"Kenapa?"

"Ini caraku."

"Bagaimana kau bisa menjadi seperti ini?"

"Mengapa ada orang sepertiku? Itu agak sulit untuk dijawab. Mengapa beberapa orang sepertiku menyukai keju dan orang lain membencinya? Apakah kau paham? Kurasa tidak."

Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya? Aku tidak sedang bertanya tentang keju. Aku benar-benar tidak mengerti.

"Apa aturan yang harus ku ikuti?"

"Kita akan membahasnya setelah kita selesai makan. "

Makan? Gosh, Bagaimana aku bisa makan sekarang?

"Aku benar-benar tidak lapar," bisikku.

"Kau harus makan," katanya singkat dan mendominasi. Semuanya menjadi jelas bahwa dia benar-benar seorang dominan. "Apakah kau ingin segelas anggur?"

"Ya,."

Dia menuangkan anggur ke dalam gelas dan duduk di sampingku. Aku menyesap anggur itu dengan tergesa-gesa.

"Apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?"

Pertanyaan bodoh macam apa yang sebenarnya ku utarakan? Tentu saja dia sering melakukannya hal ini dengan wanita atau pria manapun yang disukainya

"Ya." jawabnya

"Apakah mudah untuk menemukan seseorang yang mau melakukan ini?"

Dia mengangkat alis ke arahku.

"Kau akan terkejut," katanya datar.

"Lalu kenapa aku? Aku benar-benar tidak mengerti. "

"Youngjae-ah, aku sudah bilang. Ada sesuatu tentangmu yang membuatku tidak bisa meninggalkanmu sendirian." Dia tersenyum ironis. "Aku seperti sedang berjalan ke dalam lingkaran nyala api." suaranya terdengar berat. "I want you badly, terutama sekarang, ketika kau menggigit bibirmu lagi." Dia mengambil napas dalam-dalam dan menelan kasar salivanya.

Perutku terasa mual. pria dihadapanku ini sangat menginginkanku. Dia menginginkanku dengan cara yang benar tapi aneh.

"Ku rasa kau salah jika kau menginginkan diriku seperti itu." Aku menggerutu.

"Makanlah!"

"Tidak. Aku belum menandatangani apa pun. Aku tidak akan makan sebelum menandatangani dokumen itu jika kau tidak keberatan."

Matanya melembut dan bibirnya mengulas senyuman. "Baiklah."

"Berapa banyak wanita yang pernah melakukan ini sebelumnya?" aku sangat penasaran dengan jawabannya.

"Lima belas."

Oh, tidak sebanyak seperti yang kupikirkan.

"Untuk jangka waktu yang lama?"

"Beberapa dari mereka, ya."

"Apakah kau pernah menyakiti salah satu dari mereka?"

"Ya."

Shit!

"Apakah sangat buruk?"

"Tidak"

"Apa kau akan menyakitiku?"

"Apa maksudmu?"

"Secara fisik, Apa kau akan menyakitiku?"

"Aku akan menghukummu ketika kau memerlukannya dan itu akan menyakitkan." Aku menghela nafas kasar lalu menyesap wine. Alkohol ini membuat diriku berani.

"Apakah kau pernah dipukuli atau disakiti?" tanyaku

"Ya."

Oh, itu sangat mengejutkan.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu."

Otakku sulit untuk memproses semuanya. Aku sangat bodoh berpikir bahwa aku akan menghabiskan malam dengan gairah yang tak tertandingi di tempat tidur pria ini, tapi dia mengajakku bernegosiasi dengan aturan yang dibuatnya. Ini aneh.

Aku mengikutinya ke ruang kerjanya, ruang yang luas dengan jendela kaca menghadap ke langit-langit yang terbuka diatas balkon. Dia duduk di meja dan menyuruhku untuk duduk di kursi di depannya, dan tanganku mengambil secarik kertas yang diberikannya padaku.

"Ini adalah aturan main kita. Aturan ini mungkin dapat berubah. Ini merupakan bagian dari kontrak dan kau juga dapat memilikinya. Baca baik-baik aturan ini dan mari kita bahas."

.

=PERATURAN=

Ketaatan:

Submission akan mematuhi setiap instruksi yang diberikan oleh Dominan segera tanpa ragu-ragu dan secara cepat. Submission akan menyetujui setiap aktivitas seksual yang dianggap cocok dan menyenangkan dengan dominan kecuali kegiatan-kegiatan yang diuraikan dalam batas keras (Lampiran 2). Dia akan melakukannya dengan penuh semangat dan tanpa ragu-ragu.

Jam Tidur:

Submission akan memastikan dia tidur minimal tujuh jam tidur ketika dia tidak sedang bersama dengan Dominan.

Makanan:

Submission akan makan secara teratur untuk menjaga kesehatan dengan daftar makanan yang telah ditentukan (Lampiran 4). Submission tidak diperbolehkan memakan camilan di antara waktu makan kecuali buah.

Pakaian:

Submission akan mengenakan pakaian yg hanya disetujui oleh Dominan. Dominan akan menemani Submission untuk membeli pakaian secara berkala.

Latihan:

Dominan harus menyediakan pelatih pribadi untuk Submission selama empat kali dalam seminggu dengan lama latihan selama satu jam pada waktu yang telah disepakati bersama antara pelatih pribadi dan Submission. Pelatih pribadi akan melaporkan kepada dominan tentang kemajuan latihan Submission.

Kebersihan Pribadi / Kecantikan:

Submission akan menjaga dirinya bersih dengan mencukur setiap saat. Submission akan mengunjungi salon kecantikan pilihan Dominant dan menjalani perawatan apapun yang Dominan inginkan.

Keamanan Pribadi:

Submission tidak akan minum secara berlebihan, merokok, memakai narkoba atau menempatkan dirinya dalam bahaya.

Kualitas Pribadi:

Submission tidak akan masuk ke dalam setiap hubungan seksual dengan orang lain selain Dominan. Submission harus memperlakukan dirinya dengan sikap yang sopan dan sederhana setiap saat. Dia harus mengakui bahwa perilakunya adalah refleksi langsung dari Dominan. Dia akan bertanggung jawab untuk setiap kejahatan, kesalahan, dan kenakalan yang dilakukan bila tidak di hadapan Dominan.

Kegagalan untuk mematuhi apapun di atas akan berakibat pada hukuman langsung yang ditetapkan oleh Dominan.

.

Aku selesai membaca peraturan yang dibuatnya. WTF of this SHIT!

"Aku tidak ingin kau memberiku uang hanya untuk membeli pakaian. Aku memiliki uang dari hasilku bekerja. Apa itu kurang?"

"Tidak. Aku hanya ingin memberikanmu pakaian yang aku inginkan karena aku yakin uang hasil dari pekerjaanmu tidak akan bisa menutupi jenis pakaian yang ku inginkan." ujarnya dengan angkuh.

"Aku tidak harus memakainya saat tidak bersamamu kan?"

"Tidak"

"Oke." aku menyetujuinya. "Aku tidak ingin latihan empat kali seminggu."

"Youngjae-ah, aku ingin kau lentur, kuat, dan penuh dengan stamina. Percayalah, kau perlu latihan."

"Tapi tidak empat kali seminggu, bagaimana kalau tiga kali seminggu?"

"Aku ingin kau melakukannya empat kali seminggu."

"Aku pikir ini adalah negosiasi?"

Dia mengerucutkan bibirnya padaku.

"Oke, bagaimana kalau sekitar satu jam pada tiga hari dan satu hari setengah jam? "

"Tiga hari, tiga jam." putusku. "Aku yakin kau akan melatihku diluar jam latihan."

Dia tersenyum nakal. "Oke, setuju. Apakah kau yakin tidak ingin magang di perusahaanku? Kau seorang negosiator yang baik. "

"Tidak, aku tidak berpikir itu ide yang bagus."

Aku kembali menatap peraturannya. Waxing! Waxing apa? Semuanya? Ugh!

"Ini aturan batas milikku." Daehyun mengulurkan sepotong kertas.

.

=Batasan=

Tidak ada tindakan yang melibatkan bermain api. Tidak ada tindakan yang melibatkan jarum, pisau, menusuk, atau darah. Tidak ada tindakan yang melibatkan peralatan medis ginekologi. Tidak ada tindakan yang melibatkan anak-anak atau hewan. Tidak ada tindakan yang akan meninggalkan bekas permanen pada kulit. Tidak ada tindakan yang melibatkan kontrol napas.

.

Aku selesai membacanya. Tentu saja mereka semua terlihat sangat masuk akal, dan terus terang sangat diperlukan. Orang waras pasti tidak ingin terlibat dalam hal semacam ini. Meskipun sekarang aku merasa sedikit mual.

"Apakah ada sesuatu yang ingin kau tambahkan?"

Aku tidak tahu. Aku benar-benar bingung. Dia menatapku dan mengernyitkan alisnya.

"Apakah ada sesuatu yang tidak ingin kau lakukan?"

"Aku tidak tahu."

"Apa maksudmu kau tidak tahu?"

Aku menggeliat tidak nyaman dan menggigit bibir.

"Aku tidak pernah melakukan hal seperti ini."

"Ketika kau sudah melakukan hubungan seks, ada sesuatu yang kau tidak suka lakukan?"

Aku menundukkan wajahku malu.

"Kau harus memberitahuku. Kita harus jujur satu sama lain atau ini tidak akan bekerja. "

Aku menggeliat tak nyaman lagi dan menatap jari-jari tangan yang ku genggam erat.

"Katakan padaku," perintahnya

"Err...aku belum pernah berhubungan seks sebelumnya, jadi aku tidak tahu." ujarku pelan. Aku mengintip ke arahnya, dan dia menatapku, mulutnya terbuka, beku, dan wajahnya benar-benar pucat.

"Tidak pernah?" Bisiknya. Aku menggelengkan kepalaku.

"Kau masih perjaka?" Dia terlihat sulit bernafas. Aku menganggukan kepalaku kembali. Dia menutup matanya dan terlihat menghitung sampai hitungan kesepuluh. Ketika ia membuka mata dia terlihat marah padaku.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" geramnya.

.

.

.

.

.

Daehyun berjalan mondar mandir seraya mengacak frustasi rambutnya. Aku bisa melihatnya mengusap kasar wajahnya.
"Aku tidak mengerti mengapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?"
"Maaf, aku tidak terbiasa mengungkapkan status seksualku kepada semua orang yang ku temui. Maksudku, kita tidak mengenal satu sama lain." Aku menundukkan kepalaku. Mengapa aku merasa bersalah? Kenapa dia begitu marah? Aku mengintip ke arahnya.
"Baiklah. Kau harus tahu lebih banyak tentangku sekarang," tukasnya, mulutnya menekan kebawah menjadi garis keras. "Aku tahu kau tidak berpengalaman dan kau masih perjaka! WTH! Ampuni aku Tuhan." geramnya. "Apakah kau pernah mencium orang lain selain diriku? "
"Tentu saja." aku menyombongkan diriku, membuat diriku terlihat hina untuk kesekian kalinya

"Tapi kau masih perjaka? Oh gosh, kau sudah berumur 20 tahun dan sebentar lagi kau berumur 21 tahun dan kau juga cantik untuk ukuran namja." Daehyun mengacak kembali surai hitamnya dengan frustasi.

Daehyun berpikir bahwa aku cantik? Aku menatapnya dengan tatapan datar, berusaha menyembunyikan senyumanku.
"Dan kau serius ingin membahas apa yang ingin ku lakukan, sedangkan kau tidak memiliki pengalaman." Alisnya saling bertautan. "Bagaimana bisa kau tidak menghindari seks yang kutawarkan?"
Aku mengangkat bahu.
"Nan molla. Kau datang padaku dan aku menghampiriku. Sederhana saja. Kenapa kau begitu marah padaku?" bisikku.
"Aku tidak marah denganmu, aku marah dengan diriku sendiri." dia menghela nafas. "Apakah kau ingin pergi?" Ia bertanya, suaranya lembut.
"Tidak, kecuali jika kau menginginkan ku pergi," gumamku. Oh tidak, aku tidak ingin meninggalkannya.
"Tentu saja tidak. Aku senang kau di sini." dia mengerutkan keningnya lalu melirik arlojinya. "Ini sudah malam." Dan ia berbalik menatapku. "Kau menggigit bibirmu lagi." Suaranya serak dan dia menatapku tajam.
"Maaf."
"Jangan meminta maaf. Hanya saja aku juga ingin menggigitnya."
Aku terkesiap. Bagaimana ia bisa mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku dan tidak mengharapkan aku akan terpengaruh olehnya? Sial.
"Ayo," bisiknya.
"Apa?"
"Kita akan memperbaiki keadaan sekarang."
"Apa maksudmu? Keadaan apa? "
"Keadaanmu. Youngjae-ah, aku akan bercinta denganmu sekarang."
"Oh." Rasanya tubuhku seperti terhempas kelantai yang dingin. Aku menahan napas.
"Itu kalau kau mau, maksudku, aku tidak ingin kau berpikir bahwa aku sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Kupikir kau tidak ingin bercinta karena kau terlihat kacau." Aku menelan kasar salivaku, mulutku terasa kering.
Dia memberikan senyum evil-nya, membuatku bergidik ngeri.
"Aku bisa membuat pengecualian, atau mungkin menggabungkan keduanya, kita akan melihatnya nanti. Aku benar-benar ingin bercinta denganmu. Silakan, datang ke tempat tidurku. Anggap saja malam ini aku memberikanmu latihan dasar. Dan kau harus tahu bahwa ini bukan berarti aku memberikan seluruh hatiku padamu."

Oh My Godness. Apa aku sedang bermimpi?
"Tapi aku tidak melakukan semua hal yang kau butuhkan dari daftar peraturaanmu." desahku
"Lupakan soal peraturan. Lupakan semua rincian yang ada dalam perjanjian hanya untuk malam ini. Aku menginginkanmu. Lagi pula kau juga sudah terlanjur berada disini. Kau tidak perlu memikirkan tentang batasan dan hukuman. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini denganmu."

Dia memegang erat tanganku. Matanya terlihat cerah dan bersemangat. Aku memutuskan untuk membalas genggaman tangannya dan dia menarikku kedalam pelukkannya. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya yang menjalar keseluruh tubuhku. Dia meraba tengkukku, meletakkan tangannya diwajahku lalu menarik daguku hingga aku bisa menatap kedua bola mata hazelnya.
"Kau sangat berani Youngjae-ah." bisiknya. "Aku kagum padamu."

Kata-katanya membuat tubuhku terbakar. Dia membungkuk dan mencium bibirku dengan lembut, lalu mengisap bibir bawahku.
"Aku ingin menggigit bibir ini," gumamnya dan dengan hati-hati ia mengigit pelan bibir bawahku. Aku mengerang dan dia tersenyum.
"Youngjae-ah, biarkan aku bercinta denganmu."
"Ya," bisikku, karena itulah sebabnya aku berada di sini. Senyumnya menunjukkan kemenangan saat ia melepaskanku dan meraih tanganku lalu menuntunku ke kamarnya.
Kamarnya sangat luas. Jendela kaca setinggi langit-langit menggambarkan pemandangan kota Gangnam yang menyala. Dinding putih dan perabotan berwarna biru pucat. Tempat tidur berukuran super besar terbuat dari kayu berwarna silver seperti kayu apung. Diatasnya terdapat sebuah lukisan yang menakjubkan dari laut.

Tubuhku bergetar hebat. Ini dia. Akhirnya, setelah sekian lama, aku akan melakukannya, dengan seorang Jung Daehyun. Nafasku tercekat dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari dirinya. Dia melepas jam tangannya dan menempatkannya di atas laci disebelah tempat tidur lalu melepas jaketnya dan menaruhnya diatas kursi. Dia mengenakan kemeja linen putih dan celana jeans. Jantungku berdegup kencang. Rambut hitam kelam dan bola mata hazel itu bersinar layaknya berlian. Sungguh sangat mempesona.

"Aku akan menganggap saat ini kau tidak dalam keadaan mabuk."

Apa? Sial!
"Aku tidak berpikir begitu." Dia membuka laci bagian atas dan mengambil sebuah kondom. Dia menatapku dengan saksama.
"Bersiaplah," gumamnya.

Aku tidak bisa bernafas dengan baik. "Kupikir kau tidak membiarkan siapa pun tidur di kamar pribadimu."
"Siapa bilang kita akan tidur?" bisiknya lirih.
Oh. Holy shit!
Dia berjalan perlahan mendekatiku dengan percaya diri, tubuhnya yang seksi, matanya yang menyala, membuat jantungku memompa darah dengan kencang ke seluruh tubuhku. Aku merasakan badanku memanas dan perutku terasa mual. Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang berputar diperutku. Dia berdiri dihadapanku, menatap tajam kearahku dengan manik hazelnya. He is so freaking hot!
"Mari kita lepas benda yang sangat mengganggu ini." ujarnya lembut seraya memegang kerah jaketku dan menanggalkannya perlahan dari bahuku. Dia menempatkan jaketku di sofa disamping tempat tidur.
"Apakah kau tahu betapa aku menginginkanmu, Youngjae-ah?" Bisiknya. Nafasku tercekat. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Dia menggapai wajahku dan mengusap pelan pipiku hingga ke dagu.
"Apakah kau tahu apa yang akan ku lakukan padamu?" ujarnya seraya membelai daguku.

Otot tubuhku menegang. Aku mengepalkan tanganku erat-erat hingga kuku ku memutih. Aku ingin menutup mataku, rapi aku terhipnotis oleh manik hazelnya yang menatapku tajam hingga aku tidak bisa berpaling dari tatapannya. Dia memiringkan wajahnya, menempatkan bibirnya diatas bibirku. Dia melumat bibirku. Bibirnya menuntutku untuk membalasnya. Daehyun mulai membuka kancing bajuku, sementara itu dia menempatkan ciumannya disekitar rahang, dagu dan sudut bibirku. Perlahan dia menanggalkan pakaianku satu per satu dan membuangnya ke lantai. Dia kembali menatapku yang kini dalam keadaan half naked menyisakan celana jeans yang menggantung ditubuhku. Aku yakin wajahku pasti merah padam seperti kepiting rebus.
"Youngjae-ah, kau memiliki kulit yang paling indah, putih dan sempurna. Aku ingin mencium setiap incinya."

Nafasku kembali tercekat. Damn you, Jung Daehyun! Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan.

Dia menyisir rambutku dengan jari-jari panjangnya. "Aku suka rambutmu. Sangat lembut," gumamnya dan kedua tangannya menangkap setiap sisi kepalaku. Dia kembali mencium bibirku. Ciumannya yang menuntut menyuruh lidahku untuk bertarung dengan lidahnya. Aku mengerang dan lidahnya memenuhi mulutku. Dia menempatkan lengannya di sekitar pinggangku dan mengangkatku kedalam pelukan tubuhnya. Satu tangannya tetap mengelus surai hitamku dan yang lainnya bergerak ke bawah tulang belakangku. Tangannya mengelus punggungku dan meremasnya dengan lembut. Dia memegang pinggulku dan aku bisa merasakan kesejatiannya menegang diperutku.
Aku mengerang sekali lagi di dalam mulutnya. Aku hampir tidak dapat mengontrol hormon liar yang memberontak didalam tubuhku. Aku mencengkeram lengan atasnya. Aku bisa merasakan otot bisepnya yang besar. Dia cukup kuat dan berotot. Aku dengan ragu-ragu menggerakkan tanganku ke wajahnya dan rambutnya. Holy shit! Rambutnya sangat halus dan lembut. Aku sedikit nakal, menarik surai hitamnya dengan lembut, dan dia mengerang. Dia mendorongku ke tempat tidur hingga aku bisa merasakan tubuhnya berada diatasku, mengunci tubuhku dengan kedua kakinya. Dia meraih pinggulku dengan kedua tangannya, lalu menempatkan dan menjalankan lidahnya di sekitar pusar, kemudian dengan lembut menempatkan bibirnya dipinggulku.

"Engghh~" erangku.
Aku melihatnya berlutut di depanku dan merasakan bibirnya menari disekitar perutku. Sangat tidak terduga dan membuat tubuhku kembali memanas. Tanganku meremas lembut surai hitamnya dan sedikit menariknya ketika aku mencoba untuk menenangkan napasku. Dia menatap ke arahku sangat lama dengan manik hazelnya. Tangannya menggapai dan melepas kancing celana jeansku dan dengan santai menarik ke bawah ritsleting celanaku. Tanpa mengalihkan pandangan dariku, tangannya bergerak di bawah pinggangku, melepas celana jeans yang masih menggantung dipinggangku. Aku tidak bisa berpaling. Dia berhenti dan menjilati bibirnya yang penuh dan seksi. Ugh. Aku benar-benar gila.

Dia membungkukkan badannya ke depan, menempelkan hidungnya diantara selangkanganku. "Aku menyukai aroma tubuhmu," gumamnya seraya menutup matanya. Aku bisa melihat kesenangan yang tampak pada wajahnya, dan aku hampir mengejang. Dia masih berlutut dan menggenggam kedua kakiku. Aku mengangkat tubuhku sekedar ingin melihat apa yang sedang dilakukannya. Aku terengah-engah, menginginkannya segera memasukki tubuhku. Dia tidak mengalihkan pandangannya dariku dan sekali lagi aku merasakan ia menjalankan lidahnya di sepanjang punggung kakiku dan sesekali menggigitnya. Sial. Aku mengerang. Aku merasa aku seperti orang yang sedang mengalami candu. Aku menjatuhkan kembali tubuhku diatas tempat tidur, merintih. Dan aku bisa mendengar tawa lembutnya.
"Oh, Youngjae, apa yang bisa aku lakukan untukmu?" bisiknya seraya menatapku. "Kau sangat cantik, Yoo Youngjae. Aku tidak sabar untuk bisa berada di dalam tubuhmu."
Sialan. Dia berani menggodaku.
"Tunjukkan padaku bahwa kau juga menikmati semua ini."
Apa? Aku mengerutkan kening.
"Kau tidak perlu malu-malu. Tunjukkan padaku," bisiknya.
Aku menggeleng.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud." Suaraku serak. Aku hampir tidak mengenalinya. "Bagaimana caramu memohon padaku untuk menyentuhmu lebih, aku ingin melihatnya."
Aku menggelengkan kepalaku.
"Shireo," gumamku. Dia mengangkat alisnya heran, matanya menggelap, dan ia menggeleng tidak percaya.
"Baiklah, kita lihat saja nanti." Suaranya lembut, menantang dan mengancam. Dia membuka kancing celana jeansnya dan perlahan-lahan menarik celananya ke bawah, tatapannya tidak pernah lepas dari mataku. Dia membungkuk di atasku dan memegang masing-masing pergelangan kakiku, aku tersentak saat mengetahuinya merangkak ke tempat tidur di antara kedua kakiku. Dia kembali melayangkan ciumannya diseluruh bagian tubuhku dan aku pun menggeliat tidak nyaman. I want him so badly!

"Engghhh~"

Shit! Aku tidak bisa menahan eranganku.
"Terus lagi," gumamnya dan kemudian ia membungkuk dan mencium bagian dalam pahaku. Mendengus dan menjilat dengan rakus pintu hole-ku.
Sial! Aku tidak bisa diam. Aku meronta dibawah kungkungannya.
"Tubuhmu sangat indah, Youngjae-ah." Dia meninggalkan jejak ciuman di perutku dan lidahnya berputar disekitar pusarku. Kulitku terasa terbakar. Wajahku memerah dan aku menarik sprei di bawahku. Dia berbaring di sampingku dan tangannya mengarah keatas perutku, memelintir pelan nipple merah muda yang sudah mengeras.

"Sangat bagus," bisiknya
Ibu jarinya kembali memelintir nipple merah muda itu. Aku mengerang, merasakan sensasi manis sampai ke pangkal pahaku. Aku basah. Oh shit! Bibirnya menyentuh nipple ku dan menggigitnya dengan pelan membuatku hampir mengejang.
"Mari kita lihat apakah aku dapat membuatmu klimaks seperti ini," bisiknya dan kembali menyesap nipple merah muda yang sudah mengeras itu.
"Oh, shit." Erangku. Tubuhku mengejang. Ia menarik bibirnya dari nipple-ku dan kembali meraup bibirku. Menyerap setiap teriakkan yang ku lontarkan kedalam mulutnya.

"Enngghhhh...mmmppphhhh~"
Oh shit! Aku merasa itu sangat luar biasa. Dia menatap ke arahku, memperlihatkan senyum puas di wajahnya. Aku semakin waspada terhadapnya.
"Kau sangat sensitif," dia bernafas. "Kau harus belajar untuk mengendalikan itu, dan itu akan menjadi sangat menyenangkan saat aku mengajarkannya padamu." Dia kembali menciumku.
Napasku masih terengah-engah. Kini tangannya bergerak ke bawah pinggulku, mencari sesuatu diantara selangkanganku dan dia mendapatkannya. Oh Gosh. Jari panjangnya mulai mengocok kesejatianku yang sudah basah karena mengeluarkan precum.

"Kau basah. Sial! Aku benar-benar menginginkanmu sekarang juga."

Ia kembali mengurut pelan batang kesejatianku, membuatku kembali mengerang, menikmati perlakuannya padaku. Ia mulai mempercepat temponya dibatang kesejatianku dan aku mengernyitkan keningku ketika ia menyodorkan jarinya kedalam hole-ku. Ini sungguh sangat menyakitkan. Tapi ketika ia menemukan titik sensitifku, aku menangis dan memohon padanya untuk melakukannya lagi dan lagi. Dia mendorong jarinya kedalam hole-ku lebih keras. Aku mengerang.
Tiba-tiba, ia duduk bersimpuh pada kedua lututnya dan melepaskan celana boxer-nya, menampikan kesejatiannya yang sudah menegang. Oh shit! Kenapa miliknya lebih besar dari milikku?

Ia mengambil kondom yang ia letakkan diatas nakas dan memasangnya. Ia menatapku seakan dia tahu apa yang sedang kupikirkan.
"Jangan khawatir," ujarnya menenangkanku.

Dia membungkuk, tangannya berada di kedua sisi kepalaku, ia menatap tajam mataku.
"Kau benar-benar ingin melakukan ini?" Tanyanya lembut.
"Yes, please." aku memohon.
"Angkat kakimu ke atas," perintahnya lembut, dan aku menaatinya. "Aku akan bercinta denganmu sekarang, Yoo Youngjae," bisiknya sambil memposisikan kepala ereksinya di depan hole-ku. "Ssshhhh...kau sangat sempit, Youngjae-ah," bisiknya dan dia menghantam telak hole-ku.
"Aarrgghhh!" Aku berteriak dan menangis karena merasakan sensasi aneh disana. Rasanya tubuhku seperti terbelah menjadi dua. Ini tidak seperti yang ku bayangkan. Sangat menyakitkan. Dia menatap ke arahku, menunjukkan seringai kemenangannya.
Mulutnya terbuka sedikit dan napasnya terdengar berat. Dia mengerang. "Kau benar-benar sempit. Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk meskipun aku masih merasakan sakit yang begitu hebat. Aku merasa begitu penuh. Dia tetap diam, membiarkanku menyesuaikan diri dengan kesejatiannya yang berukuran big size itu.
"Bergeraklah," ujarku setelah aku merasa lebih tenang.

Dia kembali menggerakkan batang kesejatiannya didalam hole-ku dengan perlahan. Aku bisa merasakan batang kesejatiannya menyodok telak prostat-ku, membuatku kembali mengerang.

"Lebih?" Bisiknya.
"Y-yes," aku sulit bernapas. Dia melakukannya sekali lagi dan lagi.
Aku mengerang. Tubuhku menerima dirinya. Oh, aku menginginkannya.
"Lagi?" Dia bernafas.
"Y-yes. Please." Aku memohon padanya
Dan dia bergerak, tapi kali ini ia tidak berhenti. Dia menggeser badannya sehingga aku bisa merasakan berat badannya padaku dan ia berpegangan padaku. Dia bergerak perlahan pada awalnya, mengeluarkan lalu kembali memasukkan batang kesejatiannya didalam hole-ku. Dan sepertinya aku mulai terbiasa, pinggulku bergerak ragu-ragu untuk menyesuaikan dengan ritme-nya. Dia mempercepat tempo-nya. Aku kembali mengerang, dan dia menambah kecepatannya, tanpa ampun, dengan irama tanpa henti, dan aku mengikutinya. Dia menangkup kepalaku di antara kedua tangannya dan menciumku dengan kasar, giginya menarik bibir bawahku lagi. Dia sedikit bergeser, dan aku bisa merasakan milikku kembali menegang. Batang kesejatianku mulai menegang saat ia memompa hole-ku terus dan terus. Aku melengkungkan punggungku. Oh my gosh, aku tidak tahu itu akan terasa seperti ini, sangat menyenangkan. Pikiranku kacau, aku menikmati setiap perlakuannya padaku, sensasi yang begitu menakjubkan, oh please. Aku kembali menegang.

"Come with me, Youngjae-ah," bisiknya terengah-engah, dan aku pun meledak saat aku mencapai klimaksku. Dan saat ia mencapai klimaksnya, aku bisa mendengar ia memanggil namaku, menyemburkan benihnya dengan keras didalam hole-ku.
Aku masih terengah-engah, berusaha untuk mengatur nafas, jantungku berdetak cepat, pikiranku kacau dan sangat liar. Wow, itu pengalaman yang luar biasa. Aku membuka mataku, dia menekan keningnya di keningku, matanya tertutup, napasnya terengah-engah. Matanya kemudian berkedip dan menatap ke arahku, gelap tapi lembut. Dia masih berada didalam diriku, membungkuk dan mencium keningku dengan lembut kemudian perlahan-lahan menarik keluar batang kesejatiannya.
"Oohh." Aku meringis.
"Apakah aku menyakitimu?" Tanya Daehyun saat ia berbaring di sampingku, bersandar pada satu siku lengannya. Dia menyibak rambutku ke belakang telingaku. Aku tidak sanggup menatapnya.
"Kau bertanya apakah kau menyakitiku?"
Dia menyeringai. "Aku serius, kau baik-baik saja?" Matanya menatapku intens penuh selidik

Aku berbaring di sampingnya, tulang-tulangku rasanya seperti jelly, tapi aku berusaha terlihat tenang dihadapannya. Aku menyeringai padanya. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya bercinta dengan orang yang sangat kau inginkan. Rasanya sungguh luar biasa.
"Kau menggigit bibirmu dan kau belum menjawab pertanyaanku." Dia mengerutkan keningnya. Aku menyeringai nakal ke arahnya. Dia tampak mempesona dengan rambut kusutnya dan mata hazelnya yang menatap tajam kearahku.
"Aku ingin melakukannya lagi," bisikku. Untuk sesaat aku berpikir bahwa aku mungkin sudah gila.

Dia menyeringai dan kembali mencumbui diriku.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Gaaaaahhhhh~ author ga tahan *nosebleed* *tutup hidung pake tisu*

.

Author udah ga bisa ngomong apa-apa lagi.

.

At last, MIND TO REVIEW?

.

KAMSAHABNIDA *deep bow*