Standar Disclaimer Applied

.

.

Fate © Tsurugi De Lelouch

-Part 4-

Maybe Sequel of "Selfish" by Morena L

.

.

.

Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

.

.

*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*


.

.

.

Jika kau berpikir aku kabur dari masalah

Memang aku terlalu pengecut untuk menaikkan harga diri

Aku menyesal telah menghancurkanmu

Tapi, apakah aku pantas dimaafkan olehmu

.

.

.

-4-

Kehidupan tidak berjalan mulus bagi setiap manusia, karena akan selalu ditimpa beberapa masalah. Dan Tuhan selalu menguji seberapa jauh manusia mampu menghadapi masalah itu tanpa mengeluh. Masalah itu sekarang kini menimpa calon dokter yang menelungkupkan kepalanya di meja. Dia tidak habis pikir mempunyai masalah yang berat untuk ukuran kemampuannya.

Sekarang dia telah menyandang status sebagai seorang Ibu dari anak laki-lakinya bernama Akira, lalu menjadi seorang istri dari direktur di perusahaan yang memegang kendali ekonomi di Konoha. banyak yang menginginkan posisi itu karena—direktur itu masih muda dan berparas tampan hingga digilai para kaum hawa.

Namun berbeda dengan wanita musim semi ini. Dia menikah dengan direktur tak lain tanggung jawab pria itu pada anak mereka—yang lahir tanpa diinginkan. Akan tetapi, wanita ini mengenyahkan perasaan cinta yang tulus dari pria itu. dan perasaan kini yang menyergapnya adalah perasaan sakit—bukan benci.

Akhir-akhir ini dia mulai untuk menerima kehadiran pria itu, walau akan menyerang batinnya menolak afeksi yang diberikan dari pria tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya, kalau tidak baik untuk memikirkan masa lalu. Namun, luka yang tertoreh di hati wanita musim semi ini apakah bisa terobati dengan cepat. Dia ingin merasakan seberapa jauh usaha suaminya mengembalikan hatinya utuh dan menerima cinta dari pria itu.

Tuk

Wanita itu menoleh ke samping lalu mendapati pria berambut merah pucat berada di dekatnya. Agak terkejut memang, namun segera dienyahkan dengan mengulum senyuman tipis dan mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk di depannya.

"Apa gerangan calon dokter melamun disini?" tanya laki-laki beriris hazelnut sambil meminum Coffe Ice-nya.

"…lalu apa maksud dari pemahat patung kemari dan menganggu ketenangan seorang wanita, Sasori?" Pertanyaan balik mengarah pada Sasori.

Sasori melemparkan gelas plastik ke tong sampah dan menatap kembali lawan bicaranya. "Sekedar jalan-jalan mencari insipirasi, Sakura. ngomong-ngomong—"

Wanita musim semi menghabiskan minumnya dan bingung dengan ucapan tidak jelas dari Sasori. "Apa?"

"Maaf sifatku saat pameran seni Shimura beberapa hari yang lalu. Mungkin karena faktor kelelahan, aku tidak mampu mengendalikan emosi," ucap Sasori.

Sakura tahu dan benar-benar tahu kalau—Sasori tengah menyembunyikan raut marahnya dari wajahnya. Sasori tak mampu untuk membohongi Sakura. Namun, wanita musim semi ini hanya mengangguk pelan lalu—membereskan buku-buku tebal di meja café.

"Sepertinya aku harus kembali ke rumah. Aku tidak enak dengan ibu mertuaku mengasuh Akira di rumah" seru Sakura memasukkan sebagian buku di dalam tas.

"Bagaimana kalau kita pergi restoran sebentar? Di sana ada makanan baru—tak jauh dari sini," ajak Sasori.

Sakura tengah menimbang-nimbang keputusannya. Dia memegang dagunya berpikir. Sasori tak habis kehilangan akal, dia mengirim pesan kepada teman-temannya untuk berkumpul di restoran. Laki-laki itu berharap jawaban iya dari wanita yang dia cintai namun tak sampai tersebut.

"Baiklah, Sasori. Aku akan menghubungi ibu mertuaku dulu—ok" Sasori mengangguk dan wanita musim semi langsung menelepon ibu mertuanya kurang lebih dua menit. Dan senyum sumringah menguar di bibir Sakura—pertanda kalau dia diperbolehkan.

Sakura menutup ponsel flip-nya. "Ingat jangan lama-lama, Sasori."

"Baiklah. Aku mengerti." Sasori beranjak dari kursi. "Ayo, kebetulan ada teman-temanku di restoran. Kebetulan mereka ingin berkenalan denganmu," ujarnya singkat.

Sakura menanggapi dengan anggukan. "Ya."

.

.

.


.

.

.

Tumpukkan berkas-berkas yang tergeletak di meja tak mampu diselesaikan mudah oleh direktur muda ini. Dia baru membaca tiga—ah lima berkas yang harus ditandatangani segera. Dirinya memijit hidungnya dan merebahkan kepalanya di kursi kepemimpinnya. Direktur itu tak menyadari kalau seseorang masuk ke dalam ruangannya tanpa izin.

"Tumben berkas-berkas masih menumpuk, Ototou!"

Laki-laki berambut mencuat ke atas itu tersentak dan menatap kaget seseorang itu—tak lain adalah kakaknya sendiri. Dia mendengus sebal dengan kedatangan kakaknya itu, namun walau dilarang sekalipun—kebiasaan kakaknya tidak akan berubah untuk menganggu kegiatan adiknya ini.

"Maumu apa datang ke sini, Nii-san?" tanyanya dengan mengatur nada sedatar-datar mungkin.

Itachi tak menjawab malah duduk di kursi lalu—mereka saling berhadapan satu sama lain. Dirinya tercengir melihat raut wajah adiknya yang terlihat—frustasi mungkin. Anak sulung Fugaku itu berdehem pelan.

"Jangan memasang raut menyebalkan di depanku, Sasuke. Sebaiknya istirahat—biar aku yang menyelesaikan pekerjaanmu ini," ucap Itachi mengambil satu berkas dan membacanya.

Sasuke langsung menarik berkas yang di tangan Itachi. "Aku baik-baik saja. Dan—kau tidak akan datang seawal ini kalau tidak ada sesuatu. Katakan apa maumu?" imbuhnya.

Itachi menyeringai tipis. "Kudengar ibu menginap di rumahmu, benarkah Sasuke?" tanyanya.

Adik bungsu Itachi memalingkan mukanya. "Itu bukan urusanmu, Nii-san."

"Kau memalingkan muka berarti iya. Aku tahu gelagat ekpresimu itu, Sasuke. Jangan berusaha menghindar," ucap Itachi menopangkan dagunya di meja.

Sasuke mendengus. "Ini masalahku. Tak perlu ikut campur," tegasnya.

"Memangnya aku tidak tahu masalahmu, Sasuke," ucap Itachi membuat Sasuke menilik iris kelam milik kakaknya itu.

"Darimana kau tahu?" sergah Sasuke.

Sambil memainkan pena yang tergeletak di meja, Itachi memasang raut serius. "Wanita yang kau nikahi itu adalah orang terkenal kecerdasan dan mengalahkanmu sewaktu kelulusan SMA. Benarkah begitu?"

Sasuke mencibir. "Itu gara-gara kau, Itachi-nii…"

Itachi tersenyum miring. "Bukan aku. tapi orang tua kita yang menekanmu dan sekarang karma berlaku untuk Tou-san dan Kaa-san juga—bukan untukmu saja."

"Aku harus bertanggungjawab karena—" Sasuke menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. "—Akira adalah anakku. Lalu—"

Kakak sulung Sasuke ini menggebrakan meja hingga sang adik kembali terkejut. "—memang dengan menikahinya. Kesalahanmu terhapuskan begitu! Hatinya ikut hancur mengetahui kalau dia melahirkan anakmu, Sasuke!" cerocos dalam satu tarikan napas.

Mau tak mau emosi Sasuke ikut tersulut. "Aku mendapatkan karmanya, Nii-san! Dia membenciku dan tidak menganggapku ada. Dia ada hanya untuk Akira… hanya untuk anak kami!" sergahnya kasar.

"Cih, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang hah? Hati seorang wanita itu memang terlihat kuat namun—rapuh. Maka dari itu, kau harus mengobati luka yang menganga lebar di hatinya," desis Itachi.

Sasuke menatap sangar. "Kau tahu apa tentang masalahku, Nii-san?! Kau tidak tahu apa-apa—aww" ringisnya karena mendapat sentilan di dahinya.

"Jangan berusaha sok kuat didepanku, baka ototou. Aku tahu kalau Sakura akan menerimamu seutuhnya, percayalah," ucap Itachi langsung beranjak dari kursi lalu keluar dari ruangan adiknya.

Bersamaan itu pula. Sasuke mencerna perkataan kakaknya tadi. Memang dia tidak bisa membohongi Itachi, walau dia menyembunyikan serapat mungkin. Namun, Itachi berhasil membuka tanpa disadarinya. Bahkan hanya kakaknya yang tahu segala ekpresi yang timbul dari wajahnya.

Dirinya pun memijit keningnya. Benar apa yang diucapkan Itachi kalau dia belum mampu mengobati luka yang tergores di hati Sakura. tapi, ucapan motivasi dari kakaknya mau tak mau membuat—Sasuke mengulum senyuman lemah dan bergumam.

"Andaikan waktu mundur. Aku bisa memperbaiki semua."

Lalu dia tertidur karena kelelahan yang menyergapnya tiba-tiba.

.

.


.

.

Sakura tampak menikmati obrolan bersama teman-teman Sasori. Apalagi mengajak Ino dan Temari, membuat ibu satu anak ini betah di restoran itu. Ekspresi yang tercetak jelas di wajah Sakura terus dilihat oleh Sasori. Salah satu temannya mengerling jahil dan menyenggol bahu laki-laki itu sampai mendapat tatapan menusuk dari Sasori.

"Kau menyukainya eh, Sasori?" ucap pelan Deidara.

Sasori memalingkan mukanya. "Apa? Kau salah sangka," kilahnya.

Deidara menyeringai. "Tidak usah menyembunyikannya. Semua tahu dari ekpresi wajahmu itu. kapan kau akan menyatakanna?" godanya.

"Bagaimana aku menyatakannya kalau dia sudah milik orang lain, Deidara?" gumam pelan Sasori menyeruput Lemon tea.

Pemuda berambut pirang panjang itu memiringkan kepalanya dan menangkap tatapan sendu di wajah sahabatnya. "Apakah dia istri dari adik dari Itachi, Sasori?" tanya Deidara.

Tanpa menjawab, Deidara mengetahui jawabannya. Dia menghela napasnya panjang. "Cobaan cinta, begitukah Sasori?"

"—tapi kalau dia menyakitinya. Aku akan mengambilnya," ucap Sasori yang hanya didengar Deidara.

Sedikit terkejut namun Deidara tersenyum—ah menyeringai kembali. "Aku tahu kau tidak akan menyerah. Kudukung apapun usahamu. Namun, aku tidak yakin kalau dia melepaskan begitu saja."

"…kita lihat saja nanti."

Berbeda dengan Ino yang memperhatikan obrolan namun tidak terdengar di telinganya. Seraya berdehem pelan. "Apa yang kalian bicarakan, Deidara-nii?" tanyanya.

"Ini urusan lelaki. Bukan hanya kalian mempunyai urusan perempuan dan yang kalian bicarakan—adalah belanja… dan—adaaw!" ringis Deidara mengusap kepalanya yang ditimpuk buku oleh adik perempuan cerewetnya.

"Aku menduga kalau yang kalian bicarakan adalah tentang perempuan?" ucap Ino.

Deidara menilik jengkel adiknya itu. "Dan—yang kalian bicarakan adalah laki-laki?"

Mau tak mau Temari melerai pentengkaran yang selalu dialami oleh kedua saudara itu. wanita bermarga Nara itu menjitak kepala mereka masing-masing. Walau semua penghuni restoran melihatnya, namun Temari tidak peduli, dan dia langsung duduk kembali.

"Aku tidak menyangka pria tukang tidur itu tahan dengan sikap kasarmu, Temari," celetuk Hidan.

Sasori menimpali ucapan Hidan. "…atau mungkin karena dia hamil. Maka emosinya—arghh… Temari, aku tidak mau menjadi sasaran tanganmu juga," cibirnya.

Bersamaan pula, Sakura menikmati pemandangan itu ikut mengulum senyuman tipis dan seakan melupakan masalah yang dihadapinya sekarang. Secara tidak sadar, Sakura ditatap oleh mereka yang terlibat ribut tadi.

"Ngomong-ngomong bagaimana dengan Akira, Sakura?" tanya Hidan.

Kakuzu dan Deidara menatap Hidan dengan tatapan bertanya-tanya. "Darimana kau tahu?" namun Hidan hanya mengendikkan bahunya dan menunjuk Sasori.

Wanita musim semi ini menghela napasnya pendek. "Dia baik-baik saja, Hidan. Sekarang mungkin dia asyik bermain dengan neneknya," imbuhnya.

"Oh begitu—" Hidan melihat pelayan membawa satu hidangan untuk mereka kecuali Temari yang menjaga pola makannya. "—nah selamat makan." Ucapnya langsung memakan makanan itu.

Begitu juga dengan Sakura memotong makanan itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Seketika, wanita musim semi ini merasakan pening di kepalanya—tapi segera ia enyahkan dan melanjutkan makannya. Akan tetapi, Sasori menangkap raut tak biasa dari Sakura. Dia mencoba makanannya dan agak terkejut lalu—melirik tajam Hidan.

"Makanan yang kau pesan ini mengandung sedikit alkohol dan Sakura—"

Wajah Sakura kini memerah dan tangannya tidak berhenti memakannya. Dia tidak sadar kalau dirinya tengah mabuk, Ino dengan sigap menghentikan pergerakan tangan Sakura. namun segera ditepis oleh Sakura sendiri.

"…memangnya kenapa mengandung sedikit alkohol, Sasori?" tanya Hidan agak panik.

Sasori kembali menatap sangar Hidan. "Dia alergi alkohol, bodoh!"

Temari menyuruh Ino untuk menghubungi seseorang. Ino mengangguk lalu segera dia menghubungi dengan ponsel milik Sakura yang tergeletak di meja. Segera dia tekan dial dan menempelkan di telinganya.

"Halo, Sakura. Ada apa?"

"Sakura sekarang mabuk, Sasuke. Sekarang kau harus ke—"

"Bagaimana dia bisa mabuk? Siapa yang melakukannya?"

"Ini salah makanannya, Sasuke. Kau tidak perlu menyalahkan apapun, sekarang kau harus ke restoran Trenence karena Sakura mabuk berat." Ino mematikan komunikasi dan meletakkan ponsel milik Sakura di meja.

Ino hampir tersulut emosi gara-gara ucapan Sasuke tadi, dan Temari menyadari raut wajah Ino berubah. "Apa yang dikatakannya?" tanya Temari.

"Kalau saja aku tidak segera menutup teleponnya. Dipastikan dia akan menyerocos tidak jelas kalau menyangkut Sakura… haaah," gumam Ino.

Temari menggelengkan kepalanya dan memberikan minuman air putih ke mulut Sakura—untuk menetralisir sementara kondisinya. Sedangkan Sasori memarahi Hidan yang memesan makanan ini dan hampir terjadi perkelahian diantara mereka, kalau saja Deidara menempelkan minuman dingin di wajah sahabatnya itu.

"Jangan menyalahkan siapapun, Sasori."

Sasori menghela napasnya dan melepas tangannya yang mencengkram baju Hidan. Lalu dia duduk dan nafsu makannya pun lenyap melihat kondisi Sakura yang kini mabuk.

"Biar aku saja yang mengantarnya sa—"

Ucapan Sasori terpotong dan mendapati pria yang paling dibencinya saat ini sudah ada disini. "—bagaimana kau bisa secepat ke sini, Sasuke?" tanya Sasori menahan emosinya.

Sasuke hanya tersenyum miring. "Kebetulan aku ingin pulang sebentar ke rumah, dan restoran yang dikatakan Ino sangat dekat. Jadi suatu keberuntungan rupanya," desisnya.

"—sebernanya aku ingin yang mengantarnya tadi."

"… karena suaminya sudah datang. Kau tidak usah mengantarkannya. Aku berterima kasih dengan niatmu itu." Sasuke menggendong Sakura lalu dia menyuruh Ino untuk membawa barang bawaan istrinya.

Sasori harus menahan emosinya lagi untuk tidak menutup mulut tajam adik dari Itachi Uchiha itu. "Sama-sama, Sasuke."

Kemudian Sasuke berlalu dan keluar dari restoran tersebut. Berbeda dengan Sasori yang memandangnya kesal dan kembali memakan makanan dengan penuh emosi. Deidara paham kalau sahabatnya tengah dilanda cemburu, akan tetapi Deidara tidak menganggunya untuk sementara waktu.

.

.

.


.

.

.

Sesampainya di rumah, Sasuke menatap cemas kondisi istrinya yang masih mabuk berat. Dirinya pun menyuruh pelayan untuk membawa tas serta buku-buku di dalam mobilnya. Sedangkan dia menggendong Sakura ke dalam rumahnya. Lalu—dia tercegat karena anaknya, Akira dan ibunya sedang turun dari tangga.

Mikoto menatap anak bungsunya dengan tatapan menyelidik. "Apa yang terjadi dengan Sakura, Sasuke?" tanyanya.

"Dia mabuk karena memakan makanan di restoran, ibu," jawab Sasuke mengusap kepala istrinya.

"Bersama siapa?" tanya Mikoto kembali.

"…bersama teman-temannya, ibu."

Akira melihat ibunya dengan iba. "Ayah, apakah ibu baik-baik saja?"

Sasuke tersenyum. "Ibumu hanya kelelahan. Ayah akan membawa ke kamar. Kau tenang saja." Lalu dia naik ke tangga diikuti dengan pelayan yang membawa barang Sakura.

Mikoto memejamkan matanya lalu menggandeng tangan Akira. "Ayo, bermain lagi dengan nenek. Kau tenang saja, Akira. Pasti ayah bisa menyembuhkan ibu, ok."

"Hm, baiklah, nenek." Akirapun tersenyum lebar dan melompat dari tangga ke tangga lain.

"Hati-hati… Akira…" ucap Mikoto panik.

Namun disambut dengan cengiran dari Akira yang membuat Mikoto merasa hangat dengan—tingkah cucunya itu.

.

.


.

.

Setelah pelayan meletakkan barang itu di sofa kamar milik tuannya. Sasuke menyuruh mereka untuk keluar dan dirinya merebahkan tubuh istrinya dengan pelan di kasur mereka. Ah—semenjak ibu datang, kasur yang semulanya terpisah diganti dengan kasur King Size. Mau tak mau mereka berdua menerima keputusan ibunya itu.

Sasuke langsung menghubungi sekretarisnya kalau dia tidak kembali ke perusahaan, dan meminta Nagato untuk menggantikan sementara rapat dengan klien. Dirinya pun duduk di kasur dan meletakkan ponselnya di nakas. Adik bungsu Itachi ini kemudian mengusap kepala Sakura.

Uugh

Pandangan Sakura mengabur dan membuat Sasuke terkejut kalau istrinya sudah sadar. Akan tetapi melihat raut wajah Sakura masih memerah. Pria itu langsung bangkit akan tetapi ditarik oleh Sakura hingga Sasuke tak mampu—untuk menahan keseimbangannya, sehingga dia hampir menindih tubuh istrinya.

"Sakura, kau sedang mabuk sebaiknya istirahat."

Sakura menggelengkan kepalanya malah melingkarkan tangan di leher suaminya. "Aku… hiks… tidak mabuk… hiks…"

"Istirahat, Saku—"

Ucapan Sasuke terpotong karena Sakura mendorong kepala suaminya—hingga bibir mereka saling bertemu. Wanita musim semi itu melumat bibir suaminya, namun Sasuke sendiri menahan gejolak untuk menyentuh istrinya—dengan membiarkan sang istri mencium bibirnya walau—Sakura sendiri tidak sadar.

Sakura frustasi karena suaminya tidak membalas lumatan bibirnya. Dia berusaha untuk membuat suaminya mengimbangi permainan mulutnya. Lalu wanita itu melepas ciumannya dan langsung mencium leher suaminya sampai memerah.

Sasuke menghembuskan napasnya berat, lalu dia melepas gigitan istrinya dari lehernya. "Kau mabuk, Sakura. aku tidak ingin terjadi apa-apa."

"Hiks… kau tidak mencintaiku… hiks…"

"Aku sangat mencintaimu, Sakura. Maka dari itu, aku tidak akan menyentuhmu sampai itu tiba," ucap Sasuke.

"B-bohong…" Sakura langsung melumat bibir suaminya lagi. Dia sangat kesakitan dan perasaannya tersalur di ciumannya.

Adik dari Itachi ini pun mengikuti permainan ciuman istrinya. Saling membelit lidahnya sampai saliva mereka menetes. Dan tatapan sendu dilayangkan pada Sakura—kemudian Sasuke memindahkan ciuman itu ke leher istrinya dan—menciptakan kissmark disana.

Bersamaan pula, Sakura membuka kancing kemeja kerja milik suaminya dan mengusap hingga tubuh Sasuke agak menegang. Mata Sasuke kini menajam dan tidak memperdulikan perasaan untuk menahan menyentuh istrinya. Dirinya langsung melepas seluruh pakaian istrinya—lalu menghisap dada kiri Sakura dan tangannya meremas bagian kirinya.

Suara lenguhan pelan terdengar merdu di telinga Sasuke. Dia mengindahkan perasaan menyakitkan saat menyentuh istrinya. Dia takut kalau saat sadar nanti istrinya akan—ah, segera ia enyahkan. Tanpa menunggu waktu lama, Sasuke memasukkan jari-jarinya ke dalam kewanitaan istrinya.

"Ahh… ughh… erghh…"

Setelah memberikan seluruh tanda di dada istrinya, dia melepas jari-jarinya dari kewanitaan Sakura. Lalu dia menunduk dan menjilat kewanitaan milik istrinya. Dia melakukannya dengan lembut, dirinya menghisap dan menekan titik di kewanitaan istrinya sampai cairan orgasme keluar dari sana.

Sejenak Sasuke ragu untuk menyelesaikannya, tetapi melihat raut sayu istrinya membuat pria itu melepas seluruh pakaiannya—dan memposisikan kejantannan di kewanitaan Sakura. Sasuke menggigit bibirnya karena lorongnya terlalu sempit, namun dengan pelan. Mereka menyatu di dalam tubuh masing-masing.

Sasuke memulai gerakan pelan sampai agak cepat. Sampai Sakura mendesahkan namanya dengan merdu. Namun Sasuke mendengarnya sangat sakit, karena melakukan ini tanpa kesadaran istrinya. Dia mau kalau mereka melakukan ini sama-sama sadar.

"L-lebiih… cepaath… aah.. Sasukee…"

Lagi adik bungsu Itachi ini berdecih karena miliknya ditekan otot kewanitaan istrinya. Sasuke langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Sakura ketika mereka sama-sama mencapai klimaks masing-masing. Dia sadar kalau dirinya menyemburkan benihnya di rahim Sakura.

Segera Sasuke melepas miliknya dari kewanitaan istrinya dengan pelan. Dia mengusap kepala Sakura yang tertidur karena kelelahan. Begitu pula dengannya, dia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan menyelimuti tubuh mereka. Dia menutup matanya dan bergumam pelan.

"Maaf…"

.

.


.

.

Beberapa jam berlalu, Sakura tersentak bangun dan memegang kepalanya. Dia melirik lalu terkejut mendapati sang suami berada di sebelahnya yang terlelap. Dia menahan napasnya karena mereka sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Dirinya mengingat kalau tadinya dia mabuk dan mendengar ucapan lirih dari suaminya.

Sakura menutup mukanya. "Kenapa aku menyuruhnya… kenapa aku memancingnya arghh—"

Sasuke terbangun dan menatap istrinya yang menutup mukanya. Dia siap dengan segala apapun yang akan didapatnya. "Maafkan aku, Sakura."

"Kau tidak perlu meminta maaf. Ini sudah berlalu," ucap datar Sakura membuat Sasuke merasakan kembali rasa sakit.

"Hn, tapi—"

"Anggap saja kita tidak sadar dan lupakan ini." Sakura menitikan air mata. Ia benci air mata yang melemahkan dinding hatinya.

Sasuke langsung memeluk tubuh istrinya dengan posesif dan lembut. Memang mereka melakukannya dan tidak dapat diulang kembali. Akan tetapi perasaan mereka membohongi kalau mereka saling menginginkan karena rasa takut… sakit serta belum siap menyergap segalanya. Karma kini berlaku bukan untuk Sasuke, juga—bagi Sakura.

Mereka pun menangis diam…

.

.

. *To Be Continued*


Wulanz Aihara Uchiha

Hontoooou Gomenasaiii pada kalian semua yang sudah menunggu cerita ini. Harap maklum sebelumnya aku dilanda kuliah dan Ujian Akhir Semester, namun sekarang selesai. Berkat inilah aku bisa melanjutkan cerita ini kembali.

Bagaimana dengan ceritanya? Apakah kurang greget atau bagaimana? Aku memang masih belajar dalam berbagai genre. Aku memang condong ke family sebenarnya. Namun ini menjadi tantangan buatku. Tanganku panas dingin membuat lemon … lagi. Maafkan kalau kurang gimana gitu #disumpal.

Hm buat salah satu reviewer ya. Aku berani membuat fic ini karena aku sudah mendapatkan izin dari Morena L. Lagipula dia menyupportku untu tetap melanjutkan fic ini. Begitu juga dengan yang lain. Thanks^^

Oke sekian bacotanku. Bye… ^^

Thanks for reading and reviewing my story

karimahbgz, Mr. J, Tania Hikarisawa, Ajisai Rie, Asakura Ayaka, poetry-fuwa, "Guest", Hanna Aiko, Azakayana Yume, Nedya-Chan, bluepinkgirl, Kim Keyna, Rie saka, hachikodesuka, sasusaku uciha, iya baka-san, K, Nara Kenkari, Guest, anggraini, Guest, Rue-zoldyck, bitter cheese, hiruka aoi sora, Kikkawa miharu sasusaku, Neko Darkblue, Fumie Ai, Summer, blyskue, PL Therito, Deshe Lusi, Guest, Brown Cinnamon, Brown Cinnamon, sasusaku kira, , tita, melyarahmawinarti, Sparyeulhye, Haruchi Nigiyama, Guest, Hikari Matsushita, akasuna no ei-chan, , Deauliaas, Morena L, MuFylin, poetri-chan, Raditiya, Ichikawa soma, Morena gak login, firuri ryuusuke, Dhel a fey, Utsukushii Haruhi, HELLoIRIS, Guest, Haruchi Nigiyama, Kim lita xi yusung, AgthaRitha, Jellalna, Putri Hassbrina, Tania Hikarisawa, K, Hany-chan DHA E3, ocha chan, Kikkawa miharu sasusaku, aguma, white moon uchiha, blyskue, , , sasusaku kira, Seiya Kenshin, yuriko danno, VILocKey, Hikari Matsushita, angodess, poetri-chan, Novrie TomatoCherry, Vermthy, SasuSakuSasoGaa, Bunga Sakura, hiruka aoi sora, azriel, hanazono yuri, nabilla, Sanny UchiHaruno Swift, sasuke, WonderWoman Numpak Rajawali, Kazu-chan, Uchiha maiia, nadya Harvard, syifafadilah, Queennara, Azi-chan, Hany-chan DHA E3, barbeque, Nice Reviewer, Brown Cinnamon, Guest, YunSa uchiha, K, anzu qyuji, Dark Courriel, emerallized onyxta, summer dash, bluepinkgirl, Seiya Kenshin, firuri ryuusuke, Kekayi Nina.

Tsurugi De Lelouch

Palembang, 15 Juni 2013