DESPERADO

Naruto Masashi Kishimoto

Desperado Takamura Akashi

Genre : Suspense, Agak Sci-Fi, Drama, Cannibalism

Warning : Mungkin bahasa kasar, Gore, Weird, etc.

Don't Like, Don't Read

.

.

"Naruko! Kau di mana? Keluarlah, di sini sudah aman," teriak suara wanita itu lagi. Dia masih bertahan di luar dapur, dan itu keberuntungan bagi Hinata untuk bersembunyi.

"Pfft... aman katamu?" gumam wanita bersurai indigo itu geli. Ia menertawakan kenaifan wanita barusan yang mengatakan di sini aman. Padahal siapa yang bisa menjamin hal itu.

Wanita bersurai pirang itu akhirnya masuk ke dapur, karena tidak ada balasan dari adiknya. Ia berjalan perlahan menuju bagian dalam dapur. Dan ketika ia disuguhi dengan bau anyir darah yang begitu tajam, seketika wajahnya menjadi panik. Dengan cepat ia menuju sumber bau tersebut, dan akhirnya ia melihat genangan darah dengan tulang belulang dan rambut pirang yang sudah ternodai dengan darah merah kental.

Wajah wanita menunjukkan ekpresi kaget yang amat sangat. Ia tidak ingin mempercayai bahwa tulang dan rambut itu adalah milik adiknya. Tetapi sebuah bola mata berwarna azure yang indah, mau tak mau membuatnya percaya bahwa itu adalah milik adiknya.

Ia jatuh terduduk dan menatap kosong tulang belulang yang tak bersisa apapun itu. Serpihan daging milik adiknya itu ia pungut dan ia pandangi sedimikian rupa. Tak ada tangis histeris atau pun berteriak hingga seperti orang gila. Hanya banjir air mata dalam diam yang ia tunjukkan.

Perlahan tapi pasti ia memakan serpihan-serpihan daging itu. Ia mencari lagi dan lagi seperti orang kelaparan. "Naruko..." ia mengucapkan nama adiknya berkali-kali, sambil memakan daging mentah yang hanya tinggal serpihan itu. Terakhir ia memungut bola mata milik adiknya itu dan memakannya. Ia sudah tidak memiliki rasionalitas lagi, memenuhi perutnya lah yang terpenting.

Namun, dibalik meja besar di belakang wanita itu sudah menunggu Hinata dengan katana nya yang sudah ada di tangan kanannya. Hinata sudah siap untuk menebas wanita itu kapan saja, dan ketika ia merasa timing nya sudah tepat, ia segera berlari menuju wanita itu dan segera menebas kepalanya.

Tetapi ajaibnya wanita iu bergeser beberapa inchi sehingga yang terkena adalah tangan kirinya. Wanita itu segera menghindar sembari memegangi tangan kirinya yang sudah putus itu.

"Kau yang sudah membunuh adikku?" teriak wanita itu marah kepada Hinata. Tetapi wanita bernetra indigo itu hanya menatap tanpa ekspresi kepada wanita bersurai pirang itu.

"Menurutmu?" jawab Hinata setelah terdiam beberapa waktu. Ia lalu mengibas kan katana nya untuk membersihkan nya dari sisa-sisa darah.

"Sialaaannn!" wanita itu mengambil pisau miliknya dan menyerang Hinata secara membabi buta. Tapi dengan lihai, Hinata menghindarinya.

"Daripada kau hidup seperti itu, lebih baik berikan hidupmu untuk ku," ujar Hinata dengan senyum misteriusnya.

"Keparat! Tidak sudi aku memberikan secuil dagingku untuk iblis seperti dirimu!" balas wanita itu putus asa dan ia berlari keluar dapur menuju luar toko ramen itu. Ia berharap bisa kabur dari Hinata dengan berlari secepat mungkin, dan ia senang karena tidak lagi mendengar suara langkah kaki dibelakangnya.

"Aku harus ka-" baru saja wanita itu keluar dari toko ramen itu, ia sudah jatuh tidak berdaya. Tubuh tanpa tangan kiri dan kepala itu tergeletak di depan pintu toko ramen. Darah menggenang di sekitar Toko dan trotoar jalan. Hingga mengenai sepatu pantofel milik seseorang.

"Ah, sepatuku kena darah deh," ujar seorang pria sembari membersihkan sepatunya dari darah. Ia terlampau perfeksionis, ia tidak suka hal yang tidak bersih.

"Oh gomenasai Tsunade-san, bukannya aku mengkhianati mu tapi... makan atau dimakan bukan?" ujar pria itu sembari memakan coat hitam dan sarung tangan hitam nya.

Ia dengan cepat dan hati-hati memotong tubuh wanita itu dan memasukkan bagian demi bagiannya ke dalam karung. Kemudian ia membersihkan pisaunya dengan sisa baju milik wanita itu lalu menyimpan pisau itu kembali.

"Oke selesai, saatnya pulang." ujar pria itu sambil berjalan pulang. Tetapi baru saja ia berjalan selangkah, ia ingat kalau ia masih menggunakan coat hitam di dalam cuaca yang panas. Tetapi karen menurutnya tanggung, ia membiarkan nya walaupun peluh mulai timbul di sekujur tubuhnya.

"Sepertinya setelah pulang aku akan mandi... lagi," ujar pria bersurai kuning cerah itu.

"Ahh~ mou~ aku terlalu kenyang untuk pulang, sepertinya aku akan istirahat dulu di sini," rengek wanita bernetra amethyst itu. Ia tidak mengikuti wanita itu karena baginya makanan yang ia makan sudah cukup, jadi tidak perlu lagi ia mengejar wanita itu.

Hinata tampak kekenyangan, ia kemudian mengambil posisi di dalam lemari penyimpanan dapur itu yang cukup untuk dirinya seorang. Ia tidak memperdulikan bau anyir yang begitu menyengat, seolah itu adalah hal yang bisa. Bahkan tidak lama ia tertidur dengan cepat di dalam lemari itu tanpa memperdulikan suara berisik di luar. Ia mendengarnya namun tidak perduli, begitulah cara bertahan hidup.

Bersembunyi dan aman atau, menunjukkan dirimu dan bertarung.

.

.

.

To be Continue