Chapter 4

.

.

.

.

.

"Mepelkaos itu apa?" Jungkook bertanya dengan wajah imutnya yang penuh dengan makanan.

Jimin hanya ingin saat itu dia mati terlindas truk saja jika itu mungkin.

Hening...

Seokjin beranjak dan menarik Jimin ke ruang kerja Namjoon diikuti Namjoon dari belakang. Jimin hanya menurut dengan kerigat dingin yang mulai mengalir di sekujur tubuhnya. Meninggalkan Jungkook dan Taehyung yang menghabiskan makanan di atas meja makan.

Di dalam ruangan ukuran 4x5m itu Jimin sedang duduk diinterogasi oleh Seokjin. Pasalnya Seokjin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu dengan terpaksa Jimin menjelaskan semuanya tentang hubungan dirinya dan Yoongi. Seokjin dan Namjoon menghela nafas lelah.

"Astaga Chim. Jadi yang kau bilang belahan hatimu yang menghilang itu Yoongi?"

Jimin hanya mengangguk menjawab pertanyaan Namjoon.

"Tapi kau memang brengsek Park Jimin. Kau gila. Bahkan anak Yoongi sampai melihatmu mau memperkosanya. Jika aku tak ingat kau sahabat Namjoon sudah kucincang kau sedari tadi." Seokjin berdecih kesal.

Hening.

"Anak.." Jimin bergumam membuat dahi Namjoon dan istrinya berkerut. "Yoongi menikah? Punya anak? Ouch." Kepala Jimin di pukul.

"Tentu saja dia punya anak. Tak lihat calon menantuku? Tapi Yoongi tak menikah dan aku baru tahu juga 3 tahun yang lalu kalau Yoongi punya anak."

TOK..TOK...

Pintu ruangan itu terbuka. Sebuah kepala muncul dari balik pintu.

"Ajusshi.. kalau mau mendapatkan Eomma, Tae kasih saran. Sekarang pergi ke Tokyo Tower. Eomma sedang di sana kalau sedang galau. Tadi Tae menelpon tapi tak diangkat, berarti Eomma sedang galau. Bawa cheesecake dengan cincin. Juga boneka Kumamon kalau bisa yang besar. Lamar Eomma lalu bilang tidak akan memperkosa Eomma lagi." Astaga sedari tadi Jimin seperti tukang perkosa yang sedang diadili.

Yang di dalam ruangan sama-sama mengerutkan kening dengan ucapan tiba-tiba dari namja yang masih sekolah itu.

"Kau tak marah padaku?" Jimin bertanya dengan wajah bingung.

"Tidak. Eh... marah sih.. tp sudahlah.. Cepat pergi temui Eomma. Kurasa Eomma bisa lompat dari sana kalau Ajusshi tak segera menyusul. Aku tak bisa ke sana sekarang karena sudah ada orang lain untuk Eomma." Cengiran kotak itu entah mengapa membuat hati Jimin merasa teduh.

"Tapi.. kenapa–?" Jimin masih bingung.

"Hyungie..." Jungkook masuk memeluk Taehyung dari belakang dan dibalas Taehyung mengelus tangan Jungkook dengan sayang.. "Kookie mengantuk. Ayo tidur." Suara manja itu membuat kedua orang tuanya merasa iri kenapaa Jungkook merajuk pada Taehyung dan bukan mereka. Oke skip.

"Karena aku tak ingin marah pada orang yang menyebabkan aku bisa lahir ke dunia dan bertemu dengan Kookie" Taehyung berbalik lalu mengangkat Jungkook ala bridal style dan melenggang keluar menuju kamar Jungkook, "Baiklah Bunny.. kajja..."

Ruangan terasa begitu hening.

Suara pintu kamar Jungkook terdengar sudah di tutup. Tiga manusia yang ada di dalam sebuah ruangan lain itu memproses apa yang baru dikatakan remaja umur belasan itu. Apa maksudnya? Jimin menyebabkan Taehyung lahir ke dunia? Tunggu.

"Hyung berapa umur Taehyung?" Jimin bertanya entah pada siapa.

"15." Jawab Namjoon santai yang mulai menyadari apa sebenarnya yang terjadi.

"OH.. ASTAGA.. Aku mau ke dokter jantung besok. Terlalu banyak kejutan malam ini." Seokjin keluar dari kamar. Suaminya hanya memutar bola matanya jengah juga dengan tingkah istrinya yang terkadang berlebihan.

"Aku akan mendapatkan Yoongi kembali dan juga Taehyung." Jimin berucap mendapat tepukan di bahunya dari Namjoon.

Ini harusnya nyambung di chapter kemarin tapi ternyata aku kurang teliti pas posting :"D

Maapkan...

Oke mari kita lanjutkan..

Seorang namja tengah diam di atas Menara Tokyo memandang gemerlapnya ibukota Jepang dari ketinggian yg cukup menenangkan. Dia sedang menenangkan diri dari semua hal yang ia alami hari ini.

Eomma sarangee~~ Eomma sarange~~

Bunyi ringtone yang menggema itu hanya ia diamkan saja.. tak perlu mencari tahu siapa yg menelponnya. Pasti anaknya yang seperti alien itu yg menelpon.

Dia mengabaikan telpon itu, dia hanya ingin sendiri dan pasti anaknya juga tahu hal itu. Tenang saja dia tak akan bunuh diri. Dia hanya butuh sendiri.

Matanya memandang lurus kosong ke gemerlap lampu. Pikirannya melayang entah kemana. Dia ingin melupakan segala sesuatu tentang Park Jimin.

Dan sepertinya keinginannya tak akan berjalan sesuai keinginannya.

puk puk puk

Namja itu berjengit kaget saat merasakan tepukan di pundaknya. Reflek ia menoleh dan seketika itu pula ia membulatkan matanya. Ia melihat sosok yg sangat tidak ingin ia lihat lagi. Sosok yg ingin ia lupakan. Sosok yg begitu sangat ia benci tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia masih sangat mencintai sosok ini. Park Jimin.

"Hyung..." Suara yg ia begitu rindukan, "maafakan aku. Ijinkan aku menjelaskan segalanya."

Namja itu mendorong yang lebih muda dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju arah lift. Tapi tangan seorang Park Jimin lebih cepat menangkap tangan seorang Min Yoongi.

"Lepaskan aku brengsek!!" Suara Yoongi memekik dengan kencangnya. Beruntungnya ini sudah hampir jam tutup jadi hanya ada mereka di sana.

"Tidak sebelum kau mau mendengarkan aku." Jimin menarik tubuh mungil itu dan mendekapnya erat.

Yoongi memberontak dalam dekapan dada bidang yang sebenarnya ia rindukan. "Lepaskan aku. Brengsek. Bajingan... Lepaskan." Ia terus memukul dada orang yang memeluknya, berteriak dan mengumpat menutupi debaran jantung dan rasa sakit ingin menangis karena dia mengingat bagaimana rasanya dipeluk oleh namja yg menghancurkan hatinya belasan tahun yang lalu.

Yoongi masih terus meronta. "Kau menjijikkan, dasar breng-" "Aku mencintaimu." umpatan Yoongi dipotong begitu saja dan semua gerakan Yoongi terhenti saat itu juga.

Hening beberapa saat. "Min Yoongi. Aku mencintaimu." Dekapan itu semakin erat, namja yg dipeluk hanyaa terdiam. "Min Yoongi. Menikahlah denganku."

Tak ada jawaban dari namja yg sedang dupeluk. Ia hanya terdiam. Hening. Sampai... "Hiks...hiks..."

Jimin mengerutkan dahi, ia melonggarkan pelukannya dan mengangkat dagu hyung manisnya yang sedang terisak. Mengusap air mata yang meleleh dari manik hitam yang menuruni wajah manis itu. Mengelus lembut kedua pipi tembam dan mulus itu. Mendekatkan wajahnya lalu menempelkan dua belah bibir mereka. Hanya menempel dengan lembut, penuh cinta tanpa nafsu.

"Dengarkan aku My Sugar.." Panggilan manis itu membuat Yoongi bungkam fan menundukkan kepalanya berpikir apa Jimin sedang memanggilnya. "Hei lihat aku." Jimin mengangkat dagu yg lebih tua mempertemukan kedua pasang netra mereka.

"Aku mencintaimu bahkan sejak kita bertemu pertama kali saat masih balita. Kau yg selalu ada bersamaku. Kau yang selalu ada di sisiku. Kau yang selalu begitu berharga untukku.

Aku memang bodoh dengan terus menyakitimu saat kita masuk SMA. Saat itu aku takut kau akan tersakiti karna keinginanku untuk menjamahmu. Aku berusaha menjauhkan diriku. Tapi saat kau datang semua pertahananku runtuh. Bahkan aku memperlakukanmu tak layak.

Aku memperlakukanmu lebih buruk dari jalang di luar sana. Aku menyetubuhimu seperti orang gila. Karna ya... saat itu aku memang tergila-gila padamu hingga saat ini. Dulu aku ingin kau membenciku tapi ternyata kau mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Saat malam terakhir aku melakukan...itu-"

"Jim..." Yoongi memotong penjelasan panjang Jimin. "Jangan bahas itu.. aku ingin melupakannya."

Jimin meraih kedua tangan Yoongi meremasnya dan mengecup tangan itu. "Kumohon ijinkan aku menceritakan semuanya. Saat itu di hotel aku ingin melamarmu.Tapi kau murka dan memberiku sumpah serapah dan aku melakukan itu. Maafkan aku dan egoku dulu. Kumohon. Biarkan aku memperbaiki semuanya."

Yoongi terdiam masih memproses ingatan-ingatan saat itu. Dia saat memang melihat kelopak2 bunga di atas kasur, botol wine dan gelas juga ada sajian makanan di meja juga cake kesukaannya. Tapi saat itu dia tak menyadarinya.

"Aku ingin menjadi sosok suami yg mencintaimu dan aku ingin menjadi sosok ayah untuk Taehyung walau mungkin sudah terlambat." Jimin mengecup pucuk kepala Yoongi dengan penuh sayang dan mendekap Yoongi dengan erat.

"Bodoh..." Gumam Yoongi pelan yang menghasilkan kekehan pria yang memeluknya. "Aku memang bodoh sayang. Ijinkan orang bodoh ini untuk memperbaiki semuanya."

Yoongi menganggukkan kepalanya dalam dekapan Jimin. Jimin tersenyum lebar mendengar itu. Lalu ia menarik tangan Yoongi mengajaknya ke dalam lift. Membawanya menuju mobilnya.

Sepanjang perjalanan merela hanya diam. Menikmati momen kebersamaan mereka, Jimin yang menggenggam lembut tangan Yoongi sembari sesekali meremas tangan itu. Yoongi yang mulai berharap bahwa semua ini bukan mimpi dan ia berharap Jimin benar-benar mencintainya. Jika ini mimpi, ia tak ingin terbangun.

Kini mereka tiba di sebuah hotel mewah yang tentu saja sudah di pesan sebelumnya. Yoongi mengerutkan kening bersiap membuka mulutnya untuk menyumpah serapahi Jimin.

Belum sempat Yoongi membuka mulut, mulutnya sudah dibekap terlebih dulu oleh bibir yang lebih muda. Melumatnya dengan perlahan.

"Kumohon jangan katakan apapun."

tbc

Lalu aku akhirnya update :"D

Maapkan ini aku mager ngetik di hape.. laptop saya error... Tolong berikan diri ini semangat buat melanjutkan cerita ini..

kritik dan saran sangat2 diterima dan kubutuhkan sekali..

thanks buat yg memberikan review.. kalian terbaik... membuatku semangat menulis lagi...

Dan terimakasih buat yg sudah mau mampir membaca ff ff gaje diri ini..

Lanjut gak ya?? galau kapan bisa selesai nulisnya :'D

Luv you all *