SECRET?

Chapter 4

Kim Minseok – EXO Member

Other

DLDR, BL, Straight, PG-13, Little bit humor (I hope), Brothership, Friendship

By. Feyy

.

.

.

Minseok tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti saran perintah orang asing itu. Minseok berjalan dibelakang pria asing itu, dengan diapit oleh kemungkinan anak buah dari pria asing itu. "Sial,, hari ini kau mati Kim Minseok." Rutuk Minseok dalam hati. Dia tidak akan menyangka kalau hari ini, hari tersial dalam hidupnya. Bahkan lebih sial dari saat Minseok tidak diijijnkan oleh satpam untuk memasuki gedung bioskop yang saat itu memutar film ber-rate 17 tahun keatas. Satpam itu mengira bahwa Minseok masih dibawah umur bahkan satpam itu menuduh Minseok memalsukan KTP-nya agar bisa menonton film itu. Insiden itu menyebabkan Minseok gagal menonton film yang sangat dinantikannya bahkan Minseok rela tidak jajan selama hampir 1 bulan agar bisa membeli tiket film tersebut. Saat itu Minseok pikir bahwa hari itu adalah hari tersialnya, tidak menyangka akan ada hari yang lebih sial dari ini.

Akhirnya mereka sampai didepan sebuah bangunan yang mirip seperti garasi atau mingkin mirip seperti bangkel. Minseok menelan ludahnya pelan. "Kematianku sudah dekat. Selamat tinggal ayah, ibu, Minhi adikku yang peling cantik walau kadang kau cerewet -sangat cerewet-. Aku mencintai kalian, maaf selama ini aku hanya bisa menyusahkan kalian. Aku berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi dikehidupan yang akan datang. Dan untuk teman terbaikku –aku sedikit meragukannya- Cha Hakyeon aku,,,."

"Mau sampai kapan kau akan berdiri mematung seperti itu?" Pria asing itu menginterupsi kegiatan penting Minseok yaitu mengucapkan (memikirkan) salam perpisahannya pada orang-orang terdekatnya. "Aiish,, kau mengganggu saja." Kata Minseok pelan, karena takut anak buah pria asing itu akan mendengarnya. Minseok melangkah memasuki ruangan yang mirip seperi bengkel itu dan melihat sekelilingnya. "Selamat datang di Markas kami." Ucap pria asing itu sambil merentangkan kedua tangannya keatas dan jangan lupakan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. "Kenapa kau diam saja bocah? Kau tidak menyukai tempat ini?" Tanya pria asing itu, karena dia tidak melihat respon yang berarti dari bocah dihadapnnya. "Menutmu aku harus bersikap bagaimana ditempat asing seperti ini huh? Apa aku harus meloncat-loncat kegirangan seperti bocah yang baru mendapatkan permen lolipop?" Tanya Minseok sarkatis. "Oh, dan satu lagi berhenti memanggilku bocah karna aku tidak semuda itu." Tambah Minseok dengan nada ketus kali ini.

Pria asing itu tertawa kecil mendengarkan jawaban dari Minseok yang saat ini (tanpa disadarinya, tentu saja) menpoutkan bibirnya membuatnya seperti bocah ya g sedang merajuk. "Oh, well berapa tua dirimu,, Tuan?" Tanya pria asing itu sambil terenyum menggoda. Minseok merasa emosinya naik lagi, tapi ditahannya mati-matian karena ini bukan saat yang tepat untuk meledak, Minseok masih sadar benar posisinya yang tidak menguntungkannya sama sekali. Minseok sendirian dan berada ditempat yang asing. "Sial, sial, sial!" Minseok makin merutuki nasibnya yang sangat sial itu.

"Kau mulai lupa umurmu, Tuan?" Goda pria asing itu lagi.

"Hah,, sudahlah. Langsung saja, siapa sebenarnya dirimu dan apa tujuanmu membawaku kemari?" Tanya Minseok menuntut penjelasan. Pria asing itu terlihat berpikir. "Begini, bagaimana jika kau menceritakan terlebih dahulu kenapa kau bisa terlibat denga gerombolan gengster itu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu. Cukup adil bukan?" Tanya pria asing itu menawarkan.

"Huuh,, baiklah. Kurasa aku tidak punya pilihan lain." Kata minseok menyerah. Minseok menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya. "Jadi intinya temanku hari ini berulang tahun, kami berpesta di dalam klub, yah aku tau aku masih dibawah umur tapi siapa peduli. Temanku sudah mengatur semuanya. Semua berjalan lancar, sampai gerombolan gengster itu datang awalnya mereka hanya seperti pengunjung biasa. Tapi salah satu dari mereka mendekatiku yang sedang menari saat itu, dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Aku marah lalu menghajanya hingga lumayan babak belur, kurasa, dan yah kau sudah bisa menebak cerita selanjutnya. Aku benar-benar tidak suka bercerita. Huuuh." Minseok menghela nafas untuk mengakiri ceritanya. "Sekarang giliranmu, siapa kau dan apa tujuanmu membawaku kemari?" Minseok mengulangi pertanyaannya lagi. Pria asing itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Hmmm, baiklah. Perkenalkan namaku Jung Jinsu, aku pemilik tempat ini. Dan ngomong-ngomong siapa namamu?"

"Hei, itu bukan pertanyaanku." Minseok memprotes.

"Aku tahu, tapi aku lebih nyaman bercerita dengan seseorang yang aku ketehui namanya. Jadi siapa namamu? Atau aku cukup memanggilmu bocah saja?" Kata pria asing dengan senyumannya.

"Aissh,," Minseok mendesis lirih tanda frustasi. "Namaku Kim Minseok, dan umurku 17 tahun. Jadi berhentilah menyebut kata bocah. Sekarang jawab perrtanyaaku yang lain." Pinta Minseok mulai kehilangan kesabarannya. "Tenang Kim, tenang, kau pasti bisa melewatinya." Batin Minseok seperti merapal mantra.

"Well. Tujuanku membawamu kemari adalah untuk menolongmu tentu saja." Kata Jinsu santai.

"YAK! APAKAH TIDAK ADA JAWABAN LAIN, SELAIN JAWABAN BODOH ITU?" Minseok benar-benar kehilangan kesabaran kali ini. "Jelas-jelas para gerombolan gengster itu sudah tidak ada lagi, kau hanya perlu membiarkan aku pergi dari tempat bodoh tadi, tanpa harus membawaku ke tempat bodoh lainnya." Marah Minseok. Mendengar teriakan Minseok anak buah dari Jinsu terlihat akan mendekati Minseok namun dihentikan oleh Jinsu yang kelihatan sedang menahan tawanya. Alis Minseok mengerut melihat jinsu yang menahan tawanya. "Hei memangnya ada yang lucu?" Tanya Minseok tidak suka.

"Hahahahaha,,," Tawa Jinsu meledak . "Hahahah,, aku tidak pernah melihat orang marah yang terlihat lucu seperti dirimu. Hahahaha. Apa kau yakin umurmu 17 tahun?" Tanya Jinsu disela tawanya.

"Sialan. Baiklah kalau begitu, aku selesai dengan hal bodoh ini. Aku pergi." Minseok pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari tempat Jinsu dengan ekspresi marahnya.

"Hei kau pikir kau bisa keluar begitu saja? Aku tidak yakin mereka melepaskanmu begitu saja. Mereka pasti akan mencari tau tentang dirimu, teman-temanmu bahkan tentang keluargamu, untuk membalaskan dendam mereka. Kau benar-benar tidak tau berurusan dengan siapa Kim Minseok." Kata Jinsu dengan wajah seriusnya. Minseok sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi wajah Jinsu.

"kenapa aku harus mempercayai kata-katamu?" Tanya Minseok ingin tahu.

"Karena aku yang menyelamatkanmu. Sepertinya kau bukan berasal dari daerah ini ya, melihat kau tidak tahu siapa mereka. Kau tinggal dimana?"

"Aku memang bukan dari daerah ini, bahkan aku bukan dari Seoul. Aku tinggal di Provinsi Guri. Dan temanku tinggal di Seoul." Jinsu terlihat terkejut mendengar jawaban Minseok, namun segera mengendalikan ekspresi terkejutnya menjadi ekspersi serius seperti sebelumnya. "Dan alasanmu tadi benar-benar tidak masuk akal, mungkin saja mereka sudah melupakan masalah ini." Minseok membantah dengan nada tidak yakin. Dia sedikt khawatir dengan kata-kata Jinsu soal balas dendam tadi, karena teman dan keluarganya mungkin akan ikut terlibat.

"Begitu ya. Sedikit informasi untukmu, kurasa aku sudah memberi tahumu bahwa gengster yang mengejarmu adalah salah satu gengster paling berbahaya di daerah ini. Jadi aku akan memberitahumu tiga poin penting. Pertama, orang yang kau hajar adalah adik dari ketua gengster yang mengejarmu tadi. Kedua, ketua gengsterr itu sangat marah karena adik satu-satunya itu teluka parah, spertinya kata lumayan babak belurmu itu memiliki arti yang berbeda, aku cukup terkesan sebenarnya. Dan yang terakhir, mereka tidak akan berhenti sampai mereka bisa membalaskan dendam mereka. Mereka akan mencari informasi tentangmu, keluargamu, teman-temanmu juga orang-orang yang berhubungan denganmu. Mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkamu Kim Minseok." Jinsu menyelesaikan kalimatnya dengan memandang intens remaja dengan ekspersi terkejut sekaligus takut didepannya itu. Minseok tidak bereaksi sedikitpun. Terlalu terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya, dan terlalu takut memikirkan kemungkinan yang akan terjadi pada seluruh orang yang berhubungan dengannya. Pagi tadi saat Minseok bangin tidur semuanya masih baik-baik saja, sarapan pagi bersama keluarganya, mendengar ocehan maha penting dari adiknya (tentang guru yang sangat menyebalkan dan teman sekelasnya yang sangat tampan dan ocehan tidak jelas lainnya), bahkan Minseok masih berangkat sekolah dengan sahabat baiknya -walaupun sedikit diragukan- dengan bersendau gurau seolah tidak ada masalah dalam hidup mereka. Dia tidak akan menyangka kehidupan tenang dan bahagia seorang Kim Minseok akan berakhir ditangan segerombolan gengster yang bahkan Minseok tidak ingat wajah mereka satu persatu, dia hanya ingat dengan wajah orang yang dihajarnya saja. Minseok benar-benar frustasi memikirkan cara agar bisa lepas dari masalah yang kemungkinan dapat membahayakan keluaragnya juga temannya. Jinsu bisa melihat ekspresi terkejut itu berubah menjadi ekspresi ketakutan. "Aku bisa membantumu jika kau mau." Kata-kata Jinsu barusan menyadarkan lamunan menyedihkan Minseok. Matanya kucing itu melebar mendengar penawaran Jinsu.

"Ba,, ba,, bagaimana kau membantuku? Dan, dan kenapa kau mau membantuku?" Minseok tidak terlalu yakin dengan tawaran Jinsu, karena Minseok tidak tau apa-apa tentang Jinsu selain yang sudah diberitahukannya tadi.

"Kau selalu betanya lebih dari satu pertannyaan ya. Pertama, bagaimana aku membantumu? Itu kita pikirkan nanti, dan kenapa aku ingin membantumu? Entahlah, aku hanya ingin membantumu saja, akhir-akhir ini hari-hariku begitu membosankan. Sedikit adegan aksi kurasa akan lebih menarik." Jawab Jinsu dengan nada santai kali ini. Minseok mengerutkan alisnya, memikirkan tawaran Jinsu.

"Alasanmu untuk membantuku sangat tidak masuk akal." Minseok benar-benar bingung apakah harus menolak atau menerima penawaran Jinsu.

"Benarkah, baiklah akan kuganti alasannya kalau begitu. Bagaimana jika alasan aku membantumu adalah karena kau bocah emmm maksudku pria yang manis, sangat manis malah." Minseok tidak akan melewatkan smirk diwajah Jinsu. "Bagaimana? Kau suka alasan yang pertama atau yang kedua?" Tanya Jinsu dengan smirk yang masih menghiasi wajahnya kali ini tambahkan tatapan intensnya.

"Ku,, ku,, kurasa yang pertama lebih baik." Minseok sedikit terintimidasi dengan smirk sekaligus tatapan intens dari Jinsu. "Apakah kau benar-benar bisa membantuku keluar dari masalah ini?" Tanya Minseok meyakinkan.

"Percayalah dengan kata-kata Jinsu, sekali dia bilang akan membantumu. Maka dia akan melakukan segala cara untuk membantumu." Kata seorang pria yang tiba-tiba datang dari sebuah ruangan ditempat itu. Pria itu tinggi bahkan lebih tinggi dari Jinsu. "Kenapa orang-orang disini memiliki tinggi yang tidak biasa sih. Benar-benar tidak adil" Pikir Minseok. Pria itu kemudian duduk disamping Jinsu. Dan itu tidak membuat keadaan semakin membaik. Minseok bergerak tidak nyaman ditempat duduknya. Dia semakin merasa terintimidasi, selain dia bertubuh paling mungil diantara mereka bertiga, tatapan intens mereka seolah menelan bulat-bulat tubuh mungilnya itu. Minseok merutuki tubuhnya yang sepertinya berhenti tumbuh diusianya yang ke 17 tahun. Melihat tatapan kosong dari Minseok, Jinsu dan pria itu mengubah tatapan intens mereka menjadi tatapan yang lebih lembut. Mereka tidak mau menakuti bocah didepan mereka.

"Percayalah padaku, apapun caranya aku pasti akan membantumu. Dan ngomong-ngomong jangan takut padanya, dia Joonhu." Jinsu meyakinkan Minseok sambil memperkenalkan pria yang duduk disampingnya.

"Kau bisa memanggilku Joon, supaya lebih akrab." Kata Joonsu sambil tersenyum ramah kali ini. Minseok agak rilex melihat tatapan mereka berubah menjadi lebih lembut juga senyum ramah Joonhu.

"Apa kalian bersaudara? Nama kalian agak mirip." Tanya Minseok agak tidak yakin dengan pertanyaannya.

"Aku yakin kau akan menanyakannya." Jawab Jinsu dengan senyumannya. "Bukan, kami hanya sahabat bukan saudara. Kurasa itu hanya kebetulan saja." Lanjutnya.

"Jadi kau sudah memutuskannya?" Tanya Joonhu ingin tahu.

"Ehmmm,, kurasa aku tidak punya pilihan lain." Jawab Minseok akhirnya. Karena sungguh, Minseok benar-benar tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui tawaran Jinsu juga sahabatnya, Joonhu. Minseok benar-benar tidak menyukai situasi seperti ini, tidak mempunyai pilihan lain dan harus mempertaruhkan nasibnya pada orang asing.

"Kalau begitu sudah jelas. Selamat datang di Markas kami kalau begitu." Kata Jinsu dengan senyum merekahnya.

"Bukankah kau sudah mengataknnya tadi?" Tanya Minseok bingung.

"Oh tentu saja tadi itu berbeda, tadi itu adalah ucapan selamat datang untuk tamu, dan yang ini adalah ucapan selamat datang untuk anggota baru dalam kelompok kami." Jinsu menjelaskan dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya.

"Tu tu tunggu, anggota baru? Bu bu bukankah kalian hanya akan membantuku? Kenapa jadi, jadi seperti ini?" Tanya Minseok denga nada yang sengat terkejut, dan jangan lupakan ekspresi takut sekaligus bingungnya itu.

"Menjadikanmu anggota kami, akan memudahkan kami iuntu membantumu." Kali ini Joonhu yang menjawab pertanyaan Minseok.

"Juga melindungimu, tentunya." Tambah Jinsu.

"Tapi aku tidak harus tinggal disini kan?" Tanya Minseok meyakinkan.

"Tentu saja tidak,dan kau bisa kemari sesukamu." Jinsu menjawab dengan wajah meyakinkannya.

"Lalu apa rencana,,, kita?" Minseok merasa aneh menyebut kata 'kita'.

"Emmm, ikuti kami. Kami akan menunjukan sesuatu padamu." Jinsu dan Joonhu berdiri dan berjalan menuju ruangan Joonhu keluar tadi. Minseok pikir itu adalah ruangan tempat mnenyimpan sesuatu tapi ternyata ruangan itu hanyalah sebuah ruangan kosong yang hanya terisi satu buah sofa yang sudah usang. Minseok terus mengikuti kedua pria jangkung itu, mata kucingnya melebar saat Joonhu membuka lantai diruangan itu.

"Ru ru ruangan rahasia? Kalian mempunyai ruangan rahasia?" Tanya Minseok tidak percaya.

"Ini belum saatnya untuk terkejut. Ikuti kami terus, masih ada yang lebih mengejutkan dari pada sebuah ruangan rahasia." Kata-kata Jinsu menginterupsi acara terkejut Minseok. Mereka menuruni tangga yang ada di ruangan rahasia itu. Tangga yang mereka lalui hanya dihiasi dengan lampu yang menyala temaram. Jantung Minseok berdetak cepat, mengantisipasi apa yang akan dilihatnya dibawah sana. Tangga yang mereka turuni seperti tidak memiliki ujung, dan itu membuat perasaan Minseok tidak enak. "Jangan-jangan aku akan disiksa disini, kemudian mereka akan membunuhku dan membiarkan mayatku membusuk dibwah sana." Berbagai pikiran negatif memenuhi kepala Minseok. Dan membuat Minseok ragu-ragu meneruskan langkahnya.

Sebelum mereka sampai pada ujung tangga, terlihat bayangan berjalan kearah mereka. Minseok terlihat ketakutan berbeda dengan kedua pria jangkung itu ekspresi mereka terlihat biasa saja, seperti tidak sedang melihat bayangan yang semakin mendekat. Tanpa sadar Minseok memeluk lengan pria disampingnya, yang ternyata adalah Joonhu. Bayangan itu makin terlihat jelas, saat bayangan itu tersorot oleh lampu temaram, Minseok bisa memastikan bahwa bayangan itu adalah satu orang atau lebih tepatnya seoarang pria yang sedang memapah seorang pria yang terlihat tidak baik-baik saja. Terlihat dari tangan pria itu yang memegangi dadanya. Saat dua pria itu berjalan melewati Minseok, mata kucing itu membelalak sangat lebar. Pria yang dipapah itu terlihat mengerikan dengan darah yang menghiasi wajahnya juga diseluruh pakainnya. Pikiran negatif yang semula diabaikannya itu kini terlihat jelas, tanpa pikir panjang lagi Minseok melepaskan pelukan tak sengajanya dan langsung berbalik arah untuk melariakan diri. Saat ini yang ada dipikiran Minseok hanya lari dan lari. Minseok mencoba berlari menaiki tangga itu namun gerakannya terhenti ketika seseorang yang ternyata Joonhu mencengkeram erat langannya. "YAK! LEPASKAN AKU, LEPASKAN AKU,LEPAS!" Minseok meronta dengan menggerak-gerakan lengannya yang dicengkeram Joonhu secara liar. Minseok sangat panik karena cengkraman dilengannya tidak juga terlepas.

"Hei tenanglah!" Joonhu mencoba menenangkan Minseok yang bergerak liar dicengkramannya.

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA NYAWAKU SEDANG TERANCAM. KALIAN PASTI AKAN MENYIKSAKU, LALU MEMBUNUHKU DAN MEMBIARKAN MAYATKU MEMBUSUK DIBAWAH SANA!" Minseok meneriakkan pikiran negatif yang membayanginya sambil terus meronta. Ketakutan benar-benar terlihat jelas diwajah Minseok bahkan wajahnya mulai memucat. Joonhu kemudian memeluk tubuh bergetar Minseok, untuk menenangkannya. "Yak! Lepaskan aku brengsek!" Minseok makin meronta marah saat Joonhu memeluknya dengan sangat erat. "Hei, hei tenang dulu. Aku akan melepaskanmu jika kau berhenti bergerak." Joonhu mengeratkan dekapan pada tubuh mungil itu, karna sungguh, semungil apapun tubuh Minseok tapi tenaganya benar-banar kuat. Joonhu mulai merasa sakit didada dan tangannya kerena Minseok terus meronta dan memukuli dada Joonhu dengan kuat. Minseok pun akhirnya menghentikan gerakannya, namun Joonhu tidak juga melepaskan pelukannya.

"Yak! Lepaskan aku, aku sudah berhenti bergerak bodoh." Teriak Minseok di dada Joonhu. Minseok benar-benar merasa bodoh dengan posisinya sekarang, dipeluk pria jangkung seperti seorang gadis yang tak berdaya. Minseok itu MANLY, ingat itu MANLY. Minseok benar-benar merutuki nasib sialnya saat ini.

"Sekarang aku tau kenapa Jinsu mau membantumu, kau benar-benar sangat nyaman untuk dipeluk." Kata Joonhu sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Minseok. "Asal kau tahu kalau Jinsu itu lemah terhadap sesuatu yang manis seperti wajamu dan hugable sperti tubuhmu." Kata Joonhu dengan bisikan gagalnya karena Jinsu masih bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Joonhu barusan. Jinsu yang sedari tadi hanya diam sambil melihat dengan tenang adegan menarik didepannya mulai membuka suara karena namanya disebut-sebut dalam percakapan tidak terlalu rahasia mereka.

"Hei, sudahlah. Minseok, kau tidak perlu takut kami tidak akan melakukan hal-hal yang seperti kau sebutkan tadi. Kami sudah bilang akan membantumu, ingat? Dan yang bisa membantumu saat ini barada dibawah sana." Kata Jinsu dengan nada tenang sambil menunjukan arah bawah dengan kepalanya.

"Dengan melihat keadaan pria tadi, bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" Tanya Minseok masih tidak percaya dengan kata-kata menenangkan dari Jinsu.

"Sulit untuk menjelaskannya, sebaiknya kau ikut kami dan melihat secara langsung." Jinsu mencoba meyakinkan Minseok -lagi- dengan tatapannya. Minseok terlihat sedang berpikir keras.

"Tidak mau, aku tidak mau menuruti kata-katamu lagi. Aku ingin pulang. Sekarang." Tegas Minseok dikalimat terkhirnya. Jinsu terlihat sedang menghela nafasnya. "Kau benar-benar keras kepala." Setelah menyelesaikan kalimatnya matanya kemudian melirik kearah Joonhu yang berdiri disamping Minseok. Joonhu seperi mengerti arti dari lirikan mata Jinsu, Joonhu langsung mengangkat tubuh Minseok dan menaruhnya dipundaknya dengan posisi kepala Minseok menghadap punggung Joonhu. "YAK YAK YAK! APA YANG KAU LAKUKAN! TURUNKAN AKU! YAK!" teriak Minseok sambil memukuli punggung Joonhu kali ini.

Karena sibuk memukuli punggung Joonhu dan berteriak Minseok tidak sadar bahwa mereka bertiga sampai didepan sebuah pintu. Saat Jinsu membuka pintu, hal pertama yang Minseok adalah suara riuh dan sorakan yang sangat ramai. Setelah Jonnhu menurunkannya, Minseok langsung memutar badannya dan membelalakan matanya yang sudah lebar itu. Minseok tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya. Dibalik dinding kaca bening yang ada diruangan tersebut Minseok bisa melihat dengan jelas sebuah arena pertarungan yang saat ini sedang terjadi pertarungan antara satu laki-laki melawan seorang peremepuan berambut panjang, dikelilingi oleh banyak penonton yang menibulkan suara riuh dan sorakan tadi. Minseok masih memasang wajah terkejutnya, dia bahkan tidak berkedip sedikit pun, yang dia lakukan hanya diam bagaikan patung yang bernafas. Jinsu dan Joonhu terlihat tidak sabar menunggu respon berarti dari pria mungil yang bernama Kim Minseok itu.

"Aku tahu wajah terkejutmu itu terlihat manis, tapi bisahkah kau memberikan tanda kehidupan pada tubuh mungilmu itu. Seperti bergerak, bersuara, dan tanda-tanda kehidupan lainnya seperti manusia normal pada umumnya?" Tanya Jinsu akhirnya. Tubuh Minseok terlihat berjengit mendengar perkataan Jinsu barusan, sadar dari keterkejutannya Minseok menolehkan sedikit kepalanya kearah Jinsu secara perlahan kemudian secara tiba-tiba Minseok berlari menerjang dengan cepat dan menarik kerah baju bagian depan milik Jinsu. "YAK! INI YANG KAU SEBUT DENGAN MEMBANTU HAH!" Teriak Minseok dengan terus mencengkeram erat kerah baju Jinsu. "BAGAIMANA KAU AKAN MEMBANTUKU DENGAN MENUNJUKKANKU HAL,, HAL BODOH SEPERTI INI HAH!?" Lanjut Minseok yang kini semakin mendorong tubuh Jinsu hingga punggung Jinsu menabrak tembok dibelakangnya. "SEBENARNYA APA RENCANAMU BRENGSEK. JANGAN PERNAH MEMPERMAINKAN SEORANG KIM MINSEOK!" Minseok makin mengeratkan cengkramannya dikerah baju Jinsu sambil menatap Jinsu tajam. Jinsu hanya diam diperlakukan seperti itu dan membalas tatapan tajam Minseok dengan tatapan menenangkannya. Jinsu mencoba menenangkan Minseok dengan tatapannya. Sebenarnya Jinsu dan Joonhu sudah mengantisipasi reaksi Minseok sehingga Jinsu dan Joonhu hanya diam saja dengan tindakan Minseok, membiarkan Minseok meluapkan emosinya yang sudah sedari tadi ditahannya dan menunggu sampai Minseok tenang. Melihat Minseok mulai mengendorkan cengkramannya, Joonhu menyentuh pundak Minseok lembut, dan menariknya dari hadapan Jinsu secara perlahan. Joonhu masih mengantisipasi reaksi Minseok karena sungguh tindakan dan sikap Minseok itu sangat sulit untuk diprediksi, terkadang dia bisa menjadi anak lelaki polos yang pemalu dengan pipi meronanya karena ucapan menggoda dari Jinsu maupun Joonhu, lalu tiba-tiba dia bisa berubah menjadi anak berandalan dengan kata-kata sarkastik dan kasarnya. Detik ini kau bisa melihat seorang Kim Minseok ketakutan dengan badan bergetarnya lalu detik kemudian kau akan melihat Kim Minseok yang menyerang secara tiba-tiba, seperti memojokan Jinsu dengan mencengkram erat dikerah baju bagian depan milik Jinsu. Dengan semua perubahan tiba-tibanya, Minseok seperti mempunyai alter ego yang mengejutkan. Maka dari itu saat Joonhu menariknya menjauh dari hadapan Jinsu dan Minseok tidak memberikan perlawanan yang berarti maka Jonnhu yakin bahwa Minseok sudah mulai tenang. Joonhu mendudukan tubuh Minseok dikursi yang ada di ruangan tersebut dan menatap intens wajah yang kini menatap keluar dari kaca bening itu. Wajah Minseok terlihat tanpa ekspresi. Dan itu membuat Joonhu mulai khawatir, sejak pertama kali melihat wajah Minseok hal pertama yang terlintas dipikirannya adalah melindunginya, entah mengapa pikiran itu yang melintas dipikiran Joonhu mungkin karena tubuh mungil Minseok, atau mata kucingnya yang indah, atau ekspresi lucu saat dia kebingungan atau mungkin karena semua yang ada didiri Minseok membuat Joonhu ingin melindunginya, Joonhu benar-benar tidak tahu. Dan saat ini melihat Minseok seperti ini dan penyebabnya adalah dirinya juga Jinsu membuatnya sedikit merasa bersalah. Saat ini yang ingin Joonhu lakukan hanyalah menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya dan membisikan kata-kata menenagkan dan membuatnya merasa aman dan nyaman. Tapi dia tahu betapa bencinya Minseok diperlakukan seperti itu melihat reaksinya saat Joonhu memeluknya tadi. Jadi Joonhu hanya menatapnya intens dan menuggu saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

"Apapun yang ingin kau jelaskan, jelaskan sekarang karena aku sudah lelah dengan semua ini." Kata Minseok tiba-tiba sambil menolehkan wajahnya kearah Jooonhu dengan wajah masih tanpa ekspresinya walaupun tatapan lelah terlihat jelas dimata kucingnya. Tanpa disadarinya Jinsu sudah duduk disamping Joonhu, dan masih memberikan tatapan menenangkannya.

Setelah menghembuskan nafas dalam Joonhu terlihat akan menjelaskan sesuatu tapi sebelum Joonhu mengucapkan sepatah kata pun, Jinsu memotongnya cepat. "Biar aku yang menjelaskan" Joonhu menolehkan kepalanya kearah Jinsu, lalu mengangguk mengerti. "Baiklah, aku akan memulai dengan rencana kami untuk membantumu." Entah sejak kapan Jinsu dan Joonhu menyusun rencana untuk membantu Minseok. Sebenarnya Minseok juga agak heran dan ingin menanyakannya pada mereka berdua namun diurungkannya niatnya itu kerena Minseok benar-benar lelah dan ingin segera mengakhiri semua kegilaan yang membingungkannya. Ekspresi Minseok tetap datar mendengar ucapan Jinsu. Jinsu mulai yakin bahwa Minseok mempunyai alter ego karena melihat sikap Minseok saat ini, Minseok yang tadinya meledak-ledak kini menjadi Minseok yang tenang seperti air yang mengalir pelan. "Kau lihat arena pertarungan itu? Itu akan menjadi inti dari rencana kami,,,"

"Tidak usah berbelit-belit, aku lebih suka dengan penjelasan singkat, padat, jelas, kalau bisa langsung pada intinya." Potong minseok cepat. Jinsu dan Joonhu agak terkejut dengan kata-kata dingin Minseok. "Bocah ini benar-benar,,," kurang lebih itulah yang ada dipikran mereka saat ini.

"Emmm,, baiklah. Singkatnya, kau sepertinya ahli dalam hal perkelahian jadi kau akan mengikuti pertarungan di arena pertarungan itu, kau harus menang disetiap pertarungan hingga sampai final, pertarungan di adakan sebulan sekali. Untuk sampai kegaris final kau harus memenangkan tiga kali pertarungan, tanpa KO sekalipun. Digaris final sudah menunggu pemenang turnamen sebelumnya, dan dia adalah pemimpin dari gengster yang adiknya kau hajar itu." Jinsu memberi jeda dari penjelasnnya itu dan menunggu reaksi Minseok, tapi nihil. Minseok tidak memberi reaksi apapun dan hanya diam menatap kedua pria dihadapannya dengan tatapan datarnya. Tatapan datarnya membuat kedua pria itu tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Minseok, terkadang pikiran Minseok sangat mudah ditbak seperti buku yang terbuka, namun saat ini pikirannya sangat sulit untuk ditebak seperti buku yang tertutup rapat-rapat dan wajah datarnya tidak membantu sama sekali. "Bocah yang inik" Batin Jinsu. "Jadi saat final dan kau bertarung dengan pemimpin gengster itu yang akan berlangsung tiga bulan lagi,oh yah sekedar informasi pertarungan pertamamu akan diadakan seminggu lagi,,," Mendengar kata pertarungan dan seminggu lagi Minseok melebarkan matanya tapi Minseok segera mengendalikan ekspresinya menjai datar seperti sebelumnya. "Setidaknya di merespon, walau hanya sedikit." Batin Jinsu lagi.

"Aku akan lanjutkan. Dan jika kau menang melawannya kau akan bebas dari masalah balas dendamnya karena dia tahu dengan siapa dia berurusan , ngomong-ngomong nama pemimpin gengster itu Taekyung, Hwan Taekyung." Jinsu mengakiri penjelasannya dengan mengantisipasi reaksi Minseok, bersiap jika Minseok tiba-tiba meledak seperti tadi. Tapi sama seperti sebelumnya, Minseok hanya diam saja dan kini wajahnya terkihat menerawang seperti memikirkan sesuatu.

"Kau sudah selesai?" Tanya Minseok akhirnya setelah kesunyian menyelubungi mereka bertiga.

"Yeeaah,, kurasa?" Jawab Jinsu agak tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

"Huuuhh" Minseok menghela nafas dalam. "Kurasa kau melewatkan poin-poin penting dari penjelasanmu tadi. Pertama kau tidak menjelaskan padaku bagaimana aku bisa menang dalam tiga pertarungan yang kau bilang diadakan setiap sebulan sekali itu tanpa mati lebih dulu dipertarungan pertamaku, melihat para petarung itu terlihat siap membunuh lawannya kapanpun ada kesempatan. Kedua kau juga tidak menjelaskan apa-apa tentang peraturan pertarungan itu, apa aku hanya perlu menghajar lawanku sampai mati atau hanya membuatnya tak berdaya. Ketiga kau tidak memberi saran apapun untuk bisa mengalahkan orang yang menang tiga kali atau mungkin lebih dalam pertarungan itu. Yang terakhir, yang keempat rencanamu terdengar seperti omong kosong." Nada yang terucap dalam kalimat terakhir Minseok terdengar sarkastik dan sedikit mengejek. Minseok tidak menyangka itu adalah rencana terbaik yang dibuat Jinsu dan Joonhu, dia merasa sudah salah menyerahkan nasibnya yang sudah sial itu. "Oh, dan sekedar informasi aku bukan ahli dalam berkelahi tapi aku suka berkelahi dan itu mengalir alami didalam darahku." Tambah Minseok cepat.

Jinsu agak atau bahkan sangat terkejut melihat respon pedas yang ditunjukkan Minseok, saat ini alter ego Minseok muncul lagi, kali ini dia menjadi bocah berandal yang tidak takut apapun, dilihat dari ekspresinya yang tegas. Kesunyian kembali menyelubungi mereka bertiga. Jinsu terlihat sedang memikirkan jawaban yang tepat agar lebih mudah dipahami Minseok. "Kali ini biar aku yang menjelasknnya dan semoga bisa menjawab semua kebingunganmu." Joonhu membuka suara secara tiba-tiba, menginterupsi kegiatan Jinsu yand sedang berpikir keras.

"Baiklah, kesempatan terkhir. Dan jika penjelasanmu masih tidak memberi jalan keluar, aku seselai sampai disini. Dari pada melakukan rencana omong kosong ini sebaiknya aku sendiri mendatangi gengster itu dan menantang berduel dan mati dengan kebanggaan tersendiri. Daripada mati ditengah arena pertarungan bodoh dan disaksikan oleh banyak orang-orang tak berguna itu." Intensitas kesarkastikan Minseok makin naik, bahkan bahasa yang dipakainya makin kasar, membuat Jinsu dan Joonhu semakin terkejut dengan perubahan-perubahan Minseok. Mereka tidak menyangka bibir mingil yang kelihatan lucu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat kasar, bahkan ditunjukkan pada orang yang lebih tua darinya. Seharusnya kata-kata yang keluar dari bibir mungil nan lucu itu adalah kata-kata yang manis dan menyenangkan bukan sebaliknya. Jinsu dan Joonhu mencoba menyingkirkan fantasi-fantasi aneh mereka tentang bocah yang duduk dihadapan mereka saat ini. "Sial, kenapa segala yang ada ditubuh Minseok terlihat mungil dan,, dan,, dan,,,Aissh otak sialan berhentilah berpikir yang tidak-tidak." Jinsu dan Joonhu terlihat kompak memukuli kepala mereka, melihat itu Minseok hanya mengernyit tidak mengerti dengan maksud tingkah laku aneh mereka. Entah disadari atau tidak Jinsu dan Jonnhu selalu mempunyai pikiran yang hampir sama mengenai Minseok.

"Bukankah kau ingin menjelaskan versi lain dari rencana kalian juga menjawab pertanyaanku?" Tatapan Minseok ditunjukkan pada Joonhu, Minseok mulai tidak sabar sepertinya.

"Oh! Yah kau benar." Joonhu tersadar dari fantasi anehnya. "Begini, rencana yang sebenarnya adalah dengan kau mengikuti pertarungan itu setidaknya kau hanya akan melawan satu orang saja, yaitu Hwan Taekyung. Asal kau tahu yang membuat Geng Taekyung menjadi salah satu geng yang paling berbahaya adalah anggotanya yang mencapai ratusan dan tersebar diseluruh kawasan Kota Seoul, jika kau memilih mendatangi sendiri geng itu, mungkin kau akan kalah jumlah, tapi jika kau mengikuti pertarungan ini kau hanya perlu melawan satu orang, karena dalam pertarungan, anak buah Taekyung tidak akan ikut campur sama sekali. Dan itulah perturan resmi dari pertarungan disini. Meskipun Taekyung sudah tidak berdaya dalam pertarungan itu, anak buahnya tetap tidak akan bisa membantu sama sekali kecuali Taekyung sendiri yang mengatakan bahwa dia menyerah. Dan jika dia menyerah itu berarti dia sudah tunduk padamu dan tidak akan mengganggu kehidupanmu maupun orang-orang yang berhubungan denganmu. Apakah rencananya sudah terdengar masuk akal sekarang?" Tanya Joonhu memastikan.

"Kurasa kau belum menjelaskan semuanya." Jawab Minseok, ekspresi Minseok kali ini terlihat sedang memproses penjelasan versi baru dari Joonhu.

Joonhu juga terlihat sedang berpikir apa yang terlewatkan dari penjelasannya tadi. "Aku ingat sekarang, tentang bagaimana kau bisa menang dalam ketiga pertarungan itu dan juga mengalahkan Hwan Taekyung itu mudah kami akan melatihmu menjadi seorang pro dalam sebuah pertarungan. Mengingat kau suka berkelahi, itu akan memudahkanmu mencerna semua pelatihan yang kami berikan. Kalau kau serius dalam melakukan pelatihan aku yakin kau akan dengan mudah memenangkan ketiga pertarungan itu juga menjatuhkan seorang Hwan Taekyung." Jonnhu mengakiri penjelasan panjangnya dengan senyum puas, sepertinya penjelasannya kali ini mulai dipahami oleh Minseok, terlihat dari ekspersinya saat ini yang semakin terlihat berpikir keras mengenai penjelsannya barusan. "Bagaimana? Apakah rencana ini masih seperti omong kosong?" Joonhu mencoba mencari jawaban dari ekspresi Minseok saat ini.

"Eemmm,,," Minseok menggaruk pipi chubbynya dan terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan Joonhu. Minseok masih ragu dengan keputusan yang akan diambilnya, Minseok bukannya meragukan pelatihan yang akan diterimanya, namun dia ragu dengan dirinya sendiri. Apakah Minseok benar-benar bisa menaklukan pertarungan itu dan keluar sebagai pemenang, atau malah sebaliknya. Minseok benar-benar bingung harus bagaimana.

Melihat ekspresi bingung dari Minseok pikiran-pikiran aneh kembali mendatangi otak Joonhu bahkan Jinsu yang sedari tadi hanya diam saja menyimak penjelasan Joonhu juga mulai berfantasi yang aneh-aneh tentang Minseok. Bagaimana tidak berfantasi aneh-aneh saat melihat ekspresi Minseok yang bingung membuatnya seperti anak anjing yang tersesat dan membuat kedua pria jangkung itu menahan keinginan untuk menarik tubuh Minseok dan menyimpannya ditempat yang aman seperti kamar mereka misalnya dan lebih bagus lagi jika kamarnya terkunci rapat dan hanya menyisakan Minseok dalam dekapan mereka lalu membaringkan tubuh Minseok dikasur king size mereka kemudian membuka jaket yang membungkus tubuh mungil itu kemudian,,,.

"Sampai kapan kalian akan memasang ekspresi seperti orang bodoh atau mungkin itu memang wajah asli kalian?" pertanyaan Minseok menyadarkan mereka dari fantasi tidak sehat mereka dan mulai menfokuskan perhatian mereka pada Minseok. "Baiklah aku sudah memahami rencana kalian, kurasa itu bukan rencana yang buruk. Jadi aku ikut!" Seru Minseok dikalimat terakhirnya dengan senyum sumringahnya. Mendengar seruan Minseok, Jinsu dan Joonhu berdiri bersamaan secara refleks, "Ayo kalau begitu!" Seru mereka berdua, bersamaan -lagi-. Mendengar mereka berseru bersamaan seperti anak kembar membuat Jonsu dan Joonhu menoleh dan saling memandang satu sama lain dengan ekspresi terkerjut. Menyadari kebodohan mereka yang membiarkan fantasi aneh mereka mangambil alih tubuh mereka. "Apa maksud kalian? 'ayo' kemana?" Tanya Minseok kebingungan. Minseok benar-benar tidak habis pikir dengan sikap antik mereka. "Apa kalian yakin jika kalian bukan saudara? karena dari tadi kalian kelihatan sangat kompak." Tanya Minseok lagi yang masih kebingungan dengan sikap mereka.

"Hahaha,,,, tidak kemana-kemana kok, maksud kami adalah ayo lakukan yang terbaik demi kelancaran rencana kita. Hehehehe" Joonhu tertawa garing sambil menjelaskan kata-kata absurd mereka. "Ya benar kata Joonhu, kita harus melakukannya sebaik mungkin, hehehe" Jinsu ikut menambahi dengan senyum canggungnya.

Sebenarnya Minseok masih ingin menanyakan lebih lanjut tentang rencana mereka namun tubuhnya benar-benar lelah dan yang Minseok inginkan saat ini hanyalah pulang kerumahnya dan tidur dikamarnya yang nyaman. "Baiklah kalau begitu aku sangat lelah dan ingin segera pulang kerumah. Jadi besok aku akan kesini lagi dan membahas lebih lanjut rencana kita." Bibir Minseok sudah tidak merasa asing lagi mengucapkan kata 'kita', karena mungkin Minseok sudah mulai mempercayai mereka.

"HEI! TUNGGU!" Seru mereka berdua yang lagi-lagi secara bersamaan.

"Ck,, sungguh, kalian harus mengetes golongan darah kalian mungkin saja kalian ini adalah saudara yang terpisah." Saran Minseok dengan sedikit nada mengejek. Karena saat pertama kali Minseok bertemu dengan mereka, kedua pria jangkung itu terlihat mengintimidasi dan berbahaya, siapa sangka mereka sekarang menunjukan sisi bodoh mereka. Mendengar ucapan Minseok mereka berdua hanya bisa memeberikan cengiran aneh mereka.

"Ehhmm kurasa ini sudah terlalu larut untuk pulang apalagi rumahmu kan sangat jauh dari sini, sebaiknya kau tidur di kam,,, ma-maksudku tempat kami, kurasa masih ada kamar kosong." Jinsu menyarankan.

Minseok terlihat berpikir sebentar. "Kalian benar juga, kalau begitu dimana kamarnya, aku sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat tidur." Minseok kelihatan sangat antusias memdengar kata kamar karena itu artinya dia akan segera tidur dan bisa sedikit melupakan masalahnya saat ini. Juga mempersiapkan diri untuk hari-hari yang lebih berat, juga penuh tantangan.

.

.

FLASH BACK END

.

.

"Wah tempat ini banyak berubah, benar-benar berbeda dari yang dulu." Minseok melihat sekeliling dengan mata berbinarnya. "Bahkan gambar gravitinya makin keren." Tambah Minseok. Jinsu hanya diam memperhatikan tingkah kekanakan Minseok, jujur saja Jinsu sangat merindukannya karena Jinsu sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Walaupun dirinya pernah mempunyai fantasi aneh tentang Minseok. "Apa hari ini tidak ada pertarungan?" Tanya Minseok.

"Kemarin baru saja digelar pertarungan." Jawab Jinsu yang tersadar dari lamunan singkatnya.

"Wah sayang sekali, padahal aku sudah lama sekali tidak menyaksikan pertarungan di tempat ini, ayo kebawah hyung. Aku ingin berkeliling selagi ada kesempatan." Ajak Minseok sambil menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar. Saat bersama Jinsu Minseok akan menjadi Minseok yang kekanakan, bukan Minseok yang dewasa yang selama ini dia tunjukan dipublik. Sebagai member tertua dia memang harus menunjukan sikap dewasanya agar menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya.

Setelah mengelilingi seluruh arena pertarungan atau lebih tepatnya seluruh ruangan yang ada digedung yang Minseok sebut 'Markas' itu bahkan dia juga mengecek setiap toilet yang ada. Minseok merasa sedikit lelah, lalu mendudukan dirinya disebuah sofa didalam ruangan tersebut dan memejamkan matanya sambil menegadahkan kepalanya seperti sedang menikmati ketenangan yang mulai sulit didapatkannya sejak menjadi seorang bintang. Belum lima menit Minseok menikmati ketenangan langka itu, ponsel Minseok berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Minseok melihat nomor yang tertera dilayar ponselnya. "Manajer hyung?" Minseok lalu menjawab telfon itu.

"Ya hyung? Ada apa menelfon?" Tanya Minseok penasaran, tidak biasanya manajer menelfonnya jika dia sedang istirahat.

"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Dimana kau sekarang?"

"Ehmm,, aku di,,, dorm? Ya aku di dorm hyung, aku sedang istirahat." Jawab Minseok sedikit ragu-ragu.

"Aku dan yang lainnya sedang ada di dorm sekarang. Sebaiknya kau segera kembali ke dorm sebelum membuat mereka benar-benar gila karena mencarimu." Minseok sangat terkejut mendengar jawaban dari manajer EXO itu, dia tidak menyangka bahwa para member EXO akan pulang lebih awal.

"B,, baik hyung, aku akan segera kembali ke dorm." Jawab Minseok dengan sedikit nada ketakutan karena ketahuan berbohong.

"Sebaiknya kau cepat, dan sebaiknya kau mempunyai alasan yang tepat kenapa kau tidak berada di tempat seharusnya kau berada. Tut,,tut,,tut" Mendengar sambungan terputus Minseok langsung lari keluar dari tempat itu, dan segera mencari taksi. Selama didalam taksi Minseok mengirimkan pesan singkat untuk Jinsu, yang berisi kenapa dia pergi secara tiba-tiba.

.

SECRET?

.

Sementara di dorm EXO

.

.

.

Para member EXO sedang menunggu anggota tertua mereka dengan ekspresi yang hampir sama, yaitu khawatir. Tujuan utama mereka pulang lebih awal dari latihan adalah ingin merawat hyung favorit mereka yang keadaannya (menurut mereka) belum sembuh total. Namun mendapati dorm yang kosong dan tak menemukan Minseok dimanapun membuat kesebelas pria itu panik dan khawatir. Mereka mulai gila karena Minseok juga tak menjawab panggilan yang mereka lakukan dan tak membalas pesan yang mereka kirimkan. Situasi semakin memburuk saat manajer mereka mengambil kunci dorm dan melarang mereka untuk mencari Minseok karena para fans –dan jika sudah berhubungan dengan fans maka semuanya akan semakin rumit-. Manajer EXO yang melihat semua itu hanya menghela nafas kasar dan juga ikut mencoba menghubungi nomor Minseok, setelah beberapa pangggilan akhirnya Minseok menjawab telfonnya. Setelah mengakhiri sambungannya dengan Minseok lagi-lagi manajer EXO itu mengela nafasnya kasar sambil menuju ruangan tengah dimana kesebelas member EXO duduk dengan wajah khawatir dan frustasi mereka.

"HYUNG! Kami mohon tolong bukakan pintu dorm, kami harus mencari Minseok hyung secepat mungkin. Mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk menimpanya." Teriak Chanyeol setelah dia melihat manajernya memasuki ruang tengah. Kini semua tatapan tertuju pada manajer EXO dengan tatapan memohon mereka. "Tidak perlu, Minseok akan segera kembali. Aku baru saja bicara padanya melalui telfon." Kata manajer hyung dengan tenang.

"Jadi Minseok hyung menjawab pangggilan dari manajer hyung?" Terdengar nada tidak suka dari kalimat yang ditanyakan oleh Luhan. Karena Minseok lebih memilih menjawab panggilan dari manajer mereka daripada menjawab panggilan darinya. Well sebenarnya bukan hanya Luhan saja tapi juga kesepuluh anggota lainnya, terlihat dari tatapan tajam yang mereka arahkan pada manajer malang itu. Ditatap secara tajam oleh kesebelas anggota EXO membuatnya merasa terintimidasi juga walaupun dialah yang tertua diantara semua orang yang ada diruangan tengah itu.

"Itu hanya kebetulan saja kurasa. Kalian tau sendiri kan kebiasaan Minseok men-silent ponselnya –silent yang benar-benar silent, bahkan tanpa getar sekalipun-, aku yakin saat kalian menghubunginya, Minseok tidak sedang memegang ponselnya dan pas saat aku menghubunginya kebetulan dia sedang memegang ponselnya. Jadi jangan berikan manajer kalian tatapan seperti itu lagi, aku lebih tua dari kalian." Manajer EXO itu mencoba menjawab dengan nada yang dibuat seperti marah. Mendengar jawaban dari manajer EXO, tatapan mereka tidak setajam tadi, sedikit merasa bersalah karena sudah memberikan tatapan tajam kepada manajer mereka sendiri.

"Maafkan kami hyung." Kata Luhan dengan nada menyesal. "Apakah Minseok baik-baik saja, maksudku suaranya. Apakah dari suaranya terdengar baik-baik saja?" Lanjutnya. Sebelum manajer hyung menjawab pertanyaan Luhan, terdengar suara bel di pintu dorm mereka. Manajer langsung berjalan menuju pintu dorm sambil memegang kunci, namun sebelum sampai didepan pintu, kunci yang dipegangnya sudah berpindah tangan dengan kecepatan cahaya. Dan orang dengan kecepatan cahaya itu tak lain dan tak bukan adalah maknae kedua dari EXO yaitu Kim Jongin. Jongin membuka pintu dorm dengan tidak sabaran dan setelah pintu berhasil terbuka dan memperlihatkan sosok yang sangat dikhawatirkannya sejak tadi tanpa menunggu lama lagi Jongin langsung memeluk erat tubuh mungil itu dan seolah tak ingin melepaskannya lagi.

.

.SECRET?

.

.

MINSEOK POV

Tepat setelah pintu dorm terbuka seseorang langsung memelukku dengan sangat erat, sampai-sampai nafasku terasa berhenti di dadaku saking eratnya pelukannya. Aku mencoba melepaskan pelukan mematikannya namun percuma karena setiap gerakan yang aku lakukan malah membuat pelukannya mengerat, aku makin susah bernafas karena wajahku menekan dada orang yang memeluku. Kurasa tidak ada cara lain selain cara ini yaitu memukul-mukul dadanya, walaupun cara ini bukan cara ter-MANLY tapi cara ini cukup efektif, buktinya orang itu langsung melepaskan pelukannya. Ternyata pelukan erat (aku lebih suka menyebutnya pelukan mematikan sebenarnya) itu berasal dari seorang Kim Jongin. Sambil sedikit ngos-ngosan (selain dari maraton singkatku tadi, pelukan Jongin juga memberi dampak yang tidak terlalu bagus untuk nafasku) aku memperhatikan ekspresi Jongin, lalu ekspresi member EXO lainnya. Semuanya ekspresi mereka hampir sama, khwatir,, kurasa aku tau alasannya, terkejut?,, aku tidak ta penyebabnya, lalu ekspresi apa itu?,, seperti ekspresi tidak suka?,, entahlah aku benar-benar tidak pandai membaca ekspresi wajah.

"Hyung,, apa sudah selesai melamunnya?" Pertanyaan seseorang mengagetkanku dari kegiatan menganalisaku. Mereka pasti berpikir aku melamun lagi, ck dasar.

"A,, a,, aku tidak melamun kok, hehehe. Hanya sedikit mengamati, kurasa." Kataku sambil menggaruk pipiku yang sebenarnya tidak gatal, benar-benar kebiasaan aneh. Dari semua anggota tubuh kenapa pipi? benda kenyal dan bulat yang membuatku jadi bahan lelucon oleh orang-orang terdekatku, bahkan orangtuaku sendiri menyebut pipiku dengan sebutan pipi bayi. Dunia membencimu dan pipi chubbymu Kim Minseok, kau harus terima itu.

"Jadi bisahkah hyung menjawab pertanyaanku sekarang?" Kata seseorang itu lagi, yang ternyata Baekhyun.

Sial, aku benar-benar tidak tau apa yang ditanyakan Byun Baekhyun tadi. Memang kapan Baekhyun bertanya sih? "Uh,,uh emm bisakah kau mengulangi pertanyaanmu sekali lagi, kurasa pertanyaanmu tadi tidak terlalu jelas. Hehe,," mereka terlihat menghela nafas saat mendengar jawabanku barusan.

Kegagalan seorang Kim Minseok yang ke 11849394735: Payah dalam memperbaiki suasana yang tidak begitu baik.

"BAIKLAH!. Cukup sampai disini perbincangan tidak penting kalian. Jadwal latihan kalian besok pasti akan sangat melelahkan, jadi cepat mandi dan makan bagi yang belum melakukannya, dan segera tidur, pembicaraan ini akan kita bahas besok pagi, setelah sarapan." Teriakan manajer hyung membuat kami semua tersentak dan ngomong-ngomong kapan kami melakukan perbincangan?. "DAN TIDAK ADA YANG MEMBANTAH PERINTAHKU KALI INI." Tambah manajer hyung dengan nada tegas dan keras. Sebelum salah satu dari kami merespon perintahnya tadi, manajer hyung kemabali membuka suara "dan untukmu, Kim Minseok. Malam ini kau tidur di kamarku. Sekali lagi, tidak ada BANTAHAN." Tekan manajer hyung. Yifan kelihatan akan mengucapkan sesuatu tapi langsung dipotong oleh mananjer hyung. "Aku tidak menerima penolakan ataupun bantahan dari siapapun." Manajer hyung benar-benar tidak memberikan kami kesempatan untuk membuka suara sedikitpun dan langsung melenggang pergi begitu saja menuju kamarnya. Kami semua diam seperti patung yang bernafas, hingga akhirnya aku memilih untuk mengikuti manajer hyung menuju kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada para member, bahkan pertanyaan Baekhyun tadi sepertinya sudah menguap terlupakan begitu saja. Begitulah jika manajer hyung sudah mengeluarkan taringnya, tidak ada yang berkutik. Aku mengetuk dengan hati-hati pintu kamar manajer hyung, takut jika manajer hyung akan meledak seperti tadi lagi.

"Masuklah." Kudengar suara manajer hyung sudah mulai biasa seperti biasanya. Walaupun manajer hyung kelihatan tenang dan penyabar tapi terkadang dia bisa kelihatan menyeramkan, seperti tadi misalnya.

Aku menelan ludahku sebelum memulai pembicaraan dengan manajer hyung. "Emmm,, kurasa hyung ingin membicarakan sesuatu denganku?" tanyaku ragu.

"Mandilah dulu, kurasa masih ada bajumu yang tertinggal disini." Kata manajer hyung, kali ini suaranya terdengar lebih ramah. "Setelah itu makanlah burger itu, aku membelinya saat aku kembali tadi." tambah manajer sambil menunjuk meja dimana burger itu berada dengan kepalanya. Aku selalu suka jika menajer hyung perhatian seperti ini setidaknya itu membuatku merasakan kehadiran ayah yang jarang kutemui sejak aku masuk agensi ini.

"Baiklah kalau begitu, aku mandi dulu." Jawabku, menurut. Sebelum mandi aku mencari bajuku yang mungkin tertinggal disini, aku memang sering mandi dikamar mandi yang ada di kamar manajer hyung dan aku selalu membawa baju lebih jika diperlukan juga selalu meninggalkannya dikamar manajer hyung, jadi manajer hyung menyimpannya. Alasan kenapa aku suka mandi di kamar mandi manajer hyung adalah selain tempatnya lebih luas, aku juga tak perlu mengantri jika mandi di kamar mandi manajer hyung. Kamar mandi manajer hyung itu terbuka untuk umum jika memang manajer hyung mengijinkannya, jika tidak jangan harap kau bisa menginjakan kaki dikamar manajer hyung, apalagi kamar mandinya. Tapi aku beruntung karena manajer hyung selalu mengijinkanku untuk mandi di kamar mandi manajer hyung, aku tidak tau kenapa mungkin karena aku adalah member tertua? Entahlah, aku tidak begitu peduli sebenarnya. Setelah selesai dengan kegiatan mandi dan makanku, disinilah kami, duduk dibalkon kamar manajer hyung. Kamar manajer hyung memang dilengkapi dengan kamar mandi juga salah satu dari empat kamar yang memiliki balkon.

"Jadi,, " manajer hyung memulai pembicaraan namun kelihatan ragu-ragu meneruskan kalimatnya. Aku menunggu dengan sabar kalimat selanjutnya. "Jadi,, kemana kau seharian ini? Kuharap jawabanmu tidak seperti yang aku pikirkan dari tadi." kata-kata manajer hyung tenang sambil menatapku dengan serius.

"Huuuh" aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan manajer hyung."Maaf mengecewaknmu hyung, tapi kurasa yang hyung pikirkan benar, aku pergi ketempat Jinsu hyung tapi sungguh aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Aku hanya berkeliling dan melihat-lihat. Hyung tau, mengenang masa lalu, bernostalgia dan sejenisnya." Aku menjawab dengan hati-hati agar manajer hyung tidak berpikir yang aneh-aneh tentang kunjungan terlarangku hari ini. Ya, manajer hyung memang tau rahasiaku, seluruh rahasiaku mungkin. Mungkin hanya bersama manajer hyung saja aku bisa menunnjukan diriku yang sebenarnya, karena hanya manajer hyung dan segelintir orang saja yang tau tentang masa laluku.

Manajer hyung terlihat biasa saja mendengar jawabanku barusan, manajer hyung pasti sudah memperkirakan kemana aku pergi tadi. "Presdir pasti tidak akan menyukainya." Aku sangat terkejut mendengar ucapan manajer hyung. Tidak mungkin kan kalau manajer hyung memberiatahukan hal ini padanya. Kan,,?

"H,,h,,hyung memberitahukannya?" aku bertanya penuh harap, berharap bahwa menajer tidak memberitahukan hal ini padanya.

"Aku tidak memberitahukannya, setidaknya belum." Jawab manajer hyung kalem.

"JANGAN!" tanpa sadar aku berteriak pada menajer hyung mendengar jawaban kalemnya.

"Maaf, aku tidak bermaksud berteriak." Aku menundukan kepalaku malu karena bersikap tidak sopan pada manajer hyung. Karena aku tidak mendengar manajer hyung mengatakan sesuatu, aku mengangkat kepalaku dan melihat manajer hyung yang kelihatannya sedang berpikir. "Hyung, kumohon jangan beritahukan padanya tentang hal ini, aku berjanji, aku tidak akan ketempat itu lagi. Kumohon~" mohonku sambil memberikan tatapan paling menyedihkanku -ingat, ini bukan aegyo-

"Itu juga yang kau katakan satu bulan yang lalu, saat kau ketahuan mendatangi tempat itu lagi. Bahkan kau beraegyo agar aku tidak memberitahukannya pada presdir." Kata manajer hyung dengan nada agak mengejeknya.

"Tapi itukan satu bulan yang lalu." Bantahku dengan sedikit marah karena menyinggung soal beraegyo, karena sebenarnya aku benci beraegyo.

"Jadi kau akan melanggar janji yang kau buat sendiri tiap bulan?" tanya manajer hyung yang secara tidak langsung membungkam mulutku. "Kuharap ini terakhir kalinya kau tempat itu, jika kau melanggar janjimu lagi, aku akan langsung memberitahukan pada presdir dan aku tidak akan membantumu lagi." Kata manajer hyung dengan nada final. Dan aku hanya bisa menunduk tanpa memberikan bantahan yang berarti, karena aku tahu jika manajer hyung sudah memberikan nada final itu berarti bantahan seperti apapun tidak akan mengubah apapun.

"Huuuuhh,," aku menghela nafas dalam sambil terus menundukkan kepalaku. "Baiklah aku ber,,,"

"Aku tidak perlu kata janjimu, aku perlu tindakanmu, pembuktianmu bahwa kau tidak akan melanggar janjimu." Potong manajer hyung cepat. Aku benar-benar tidak berkutik kali ini. "Dan ngomong-ngomong kuharap kau sudah menyiapkan alasan yang tepat untuk kau beritahukan pada member lainnya kenapa kau tidak ada didorm disaat harusnya kau didorm." Kata-kata manajer hyung menydarkanku bahwa aku sama sekali belum menyiapkan alasan yang bagus untuk meyakinkan para member lainnya. Mereka benar-benar sulit untuk diyakinkan, dan lebih buruknya aku payah dalam hal meyakinkan. "Sial" Rutukku dalam hati sambil terus menundukan kepalaku.

"Dan soal member lainnya,,," kata-kata manajer barusan membuatku langsung mengangkat kepalaku.

"Apa? Member lainnya? Apa ada yang tahu? Hyung memberitahu mereka, atau salah satu dari mereka?" Tanyaku beruntut.

"Tenang Minseok, mereka tidak tau apapun." Kata-kata manajer hyung menenangkanku, sedikit.

"Lalu kenapa dengan member lainnya?" Tanyaku penasaran.

"Kau tahukan seberapa besar perhatian yang mereka berikan padamu?" tanya manajer hyung sambil menatapku serius.

"Ya aku tahu, kurasa. Tapi bukankah sesama satu grup memang harus saling memperhatikan kan?" jawabku dengan sedikit bingung. Aku tidak tahu akan mengarah kemana pembicaraan ini.

"Kalau soal itu semua orang juga mengetahuinya. Tapi apakah kau tahu jika perhatian yang mereka tunjukan padamu dan pada orang lain itu berbeda. Kau seharusnya melihat wajah khawatir mereka saat mereka tidak menemukanmu didorm, mereka bahkan akan mendobrak pintu dorm jika kau tidak segera datang tadi. Apa kau tau mereka selalu memperhatikanmu dan akan melakukan apapun untuk memastikan kau tetap aman, memastikan kau makan cukup untuk kesehatanmu, memastikan bahwa kau bahagia dan tidak ada yang mengganggumu maupun pikiranmu, memastikan segalanya baik-baik saja. Dan mereka tidak memberikan perhatian maupun bertindak seperti itu pada orang lain, bahkan termasuk diri mereka sendiri. Apa kau mengetahui semua itu Kim Minseok?" Pertanyaan manajer hyung semakin membuatku bingung. Aku berpikir keras apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan manajer hyung barusan dan berakhir dengan aku menggaruk pipiku -lagi- tanda aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa.

Manajer hyung terlihat menghela nafas pelan. "Tentu saja kau tidak tahu. Kau pasti terlalu fokus dengan kehidupan pribadimu, terlalu fokus menutupi rahasia besarmu. Hingga membuatmu buta akan semua perhatian yang mereka berikan. Aku tahu kau terpaksa memasuki agensi ini bahkan mungkin kau juga terpaksa masuk dalam gruo EXO, tapi setidaknya kau menghargai perhatian yang mereka berikan, dan bukan malah mengabaikannya begitu saja." Kata menajer hyung dengan nada sangat serius.

Aku memikirkan semua yang dikatakan manajer hyung padaku. Jujur aku terkejut dengan kata-kata manajer hyung tadi. Aku tidak tau bahkan tidak merasakan segala perhatian yang manajer hyung katakan. Apa benar jika mereka tidak memberikan perhatian seperti itu kepada orang lain selain padaku? Dari mana manajer hyung tahu semua itu? Apa mereka memberitahu manajer hyung? Tapi kurasa itu tidak mungkin, manajer hyung kan kadang sok tahu. Tapi wajahnya terlihat sangat serius saat mengatakan semuanya tadi. Apa aku harus mempercayai kata-kata manajer hyung? Kalau memang kata-kata manajer hyung tadi benar berarti aku harus manambah daftar dalam buku kegagalan seorang Kim Minseok.

Kegagalan seorang Kim Minseok yang ke 11849394736: Benar-benar bukan hyung yang peka dan manusia terbodoh didunia.

"Benarkah hyung?" tanyaku masih ingin meyakinkan. "Kurasa aku bukannya terlalu fokus pada kehidupan pribadiku ataupun dengan rahasia bodohku itu, dan mengabaikan perhatian yang mereka berikan. Tapi aku merasa tidak mengabaikan perhatian mereka kok, dan aku menghargai segala perhatian mereka, tapi terkadang aku juga harus mengabaikan perhatian mererka jika perhatian mereka berlebihan, misalnya waktu itu di kafetaria kami semua sedang makan dan tiba-tiba seorang Park Dobi Chanyeol merebut sendokku, juga makananku dengan alasan akan menyuapiku karena aku kelihatan kelelahan. Itu benar-benar tidak masuk akal hyung aku tidak mungkin meladeni kegilaan yang hyung sebut sebagai 'perhatian khusus' dari adik terberisikku itu kan, aku masih punya harga diri sebagai member tertua dan sebagai member tertua, aku, seharusnya diperlakukan sesuai dengan umurku, dan bukan diperlakukan seperti bocah yang belum bisa makan dengan benar sehingga harus disuapi. Dan hyung tahu sendiri jika aku sangat benci diperlakukan seperti anak kecil. Aku benar-benar malai membenci wajahku." Kataku sambil menutupi seluruh wajahku dengan kedua telapak tanganku. "Jadi aku harus memilah perhatian apa saja yang harus aku terima atau aku abaikan, karena terkadang perhatian mereka itu tidak masuk akal." Tambahku masih dengan menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.

Berbicara panjang kali lebar seperti tadi melelahkan juga ternyata. Kepalaku jadi agak pusing. "Dan ngomong-ngomong dulu aku memang terpaksa masuk agensi ini dan sampai sekarang pun masih tapi aku tidak pernah menyesali masuk kedalam grup EXO, sekalipun tidak pernah dan tidak akan. Mereka adalah saudaraku, dan selamanya akan seperti itu." Sambungku dengan nada meyakinkan, walau pusing dikepalaku semakin menjadi dan tiba-tiba saja pusingnya berubah menjadi menyakitkan, aku berusaha keras menahan keinginan untuk memijat pelipis yang menjadi pusat sakit dikepalaku, aku tidak ingin manajer hyung tahu keadaanku yang sebenarnya dan malah akan memperburuk situasi yang memang dari awal sudah tidak terlalu baik ini. Penyebab kepalaku sakit pasti karena kelelahan, kata dokter jika aku terlalu kelelahan maka kepalaku akan sakit, itu disebabkan karena dulu aku sering menerima pukulan dikepala yang cukup keras dan mempengaruhi saraf diotak, walaupun tidak berbahaya untuk kehidupanku, tapi ini sangat merepotkan jika sedang kambuh, karena rasanya bisa sangat sakit dan aku harus meminum obat penghilang rasa sakit untuk meredakan rasa sakitnya. Dan tentu saja hanya aku yang boleh tau soal ini, bahkan manjer hyung pun tidak tahu soal ini, akan merepotkan jika ada yang tau. Hah, pertarungan itu benar-benar memberikan dampak yang buruk untukku.

"Yah tentu saja jawabanmu akan seperti itu, kau kan Kim Minseok." Kata-kata membingungkan manajer hyung malah memperburuk sakit kepalaku. "Kalau begitu kau harus lebih mengahargai perasaan mereka kau bisa mengabaikan perhatian mereka tapi jangan abaikan orang yang memberikan perhatian itu." Tambah manajer hyung.

"Jadi aku benar-benar mangabaikan mereka. B,, benarkah?" suaraku agak bergetar karena menahan sakit kepalaku yang tidak membaik sama sekali.

Manajer hyung malah tersenyum mendengar pertanyaanku. "Yah tentu saja. Kim Minseok dengan segala kepolosannya." Manajer hyung tersenyum mengejek setelah mengucapkan kalimat tidak masuk akalnya lagi.

"Yak! Hyung, aku sudah 24 tahun jadi aku tidak sepolos itu oke." Marahku sambil berusaha untuk tidak menpoutkan bibirku, karena kata orang-orang aku selalu menpoutkan bibirku jika sedang marah atau kecewa, padahal demi apapun didunia ini aku BENAR-BEANAR TIDAK MERASA mempoutkan bibirku. Aku memang terlahir denga bibir yang seperti ini. Geez. Sepertinya aku mulai menyesali segala yang ada pada tubuhku.

Kegagalan seorang Kim Minseok yang ke 11849394737: Tubuh yang tidak sinkron dengan pikiran dan USIA.

"Udaranya semakin dingin, dan kau kelihatan akan pingsan sewaktu-waktu, jadi sebaiknya kita masuk dan istirahat. Besok pasti hari yang berat, terutama untukmu Kim Minseok." Kata manajer hyung tiba-tiba sambil berdiri dari kursinya dan berjalan memasuki kamarnya.

"Kenapa besok hari yang berat intuku hyung?" tanyaku penasaran.

"Karena urusanmu dengan adik-adikmu belum selesai. Dan sepertinya kau belum mempunyai alasan yang bagus untuk membuat adik-adikmu berhenti menginterogasimu soal jalan-jalan singkatmu." Jawab manajer hyung dengan posisi membelakangiku.

Sebenarnya aku masih ingin memikirkan semua yang dikatakan oleh manajer hyung tadi sambil menikmati udara dingin disini walaupun tubuhku sudah agak menggigil padahal aku sudah memakai jaket dua lapis. Tapi sakit dikepalaku benar-benar mengganggu. Sial! Aku juga belum mempunyai alasan yang bagus untuk besok, ini pasti akan menyusahkan. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku mengikuti manajer hyung yang sepertinya sudah tertidur pulas dikasur hangatnya. Aku pun berbaring dikasur yang satunya (setiap kamar didorm EXO mempunyai lebih dari satu kasur) sambil terus memijat pelipisku yang rasanya seperti dipukuli dengan pemukul bola baseball bertubi-tubi, aku bisa mangatakan itu karena aku mamang pernah mengalaminya beberapa kali.

Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang penuh perjuangan, perjuangan menahan sakit dikepalaku. Dan besok akan menjadi hari yang berat bagi seorang Kim Minseok.

"Your life is suck! Kim Minseok and you have to accept that" dengan pikiran itu aku terlelap menyusul manajer hyung dialam mimpi. Semoga aku tidak bertemu dengan salah satu member EXO.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED...