an original debut story by tyXsc
.
all characters are owned by Masashi Kishimoto
.
warning: OOC, typo(s), plotless, AU, less-conflict, don't expect too much bcs you've always been warned.
.
[bgm: Finding Hope - 3:00 am]
.
congratulations, you've reached chapter 4!
.
happy reading!
.
.
2:58.
2:59.
Jam kini menunjukkan pukul tiga dini hari.
Dan Sakura belum memejamkan matanya barang sedetik punㅡjika berkedip tidak masuk hitungan. Ia belum merasa lelah, dan ia rasa otaknya malah sedang memaksanya untuk memikirkan banyak hal, menolak untuk beristirahat. Beruntung, hari ini akhir pekan, sehingga ia tidak memiliki jadwal kuliah.
Banyak hal sudah Sakura pikirkan. Mulai dari tugas-tugas kuliahnya, hubungannya dengan teman-temannya, hal-hal berbau idola Korea, beberapa fashion item yang dipadu-padankannya dalam pikiran, dan semuanya bermuara pada entitas Uchiha Sasuke.
Sakura membalikkan tubuhnya ke kiri. Matanya menatap tembok dengan tatapan menerawang, namun otaknya sibuk berpikir. Bagaimana bisa ketika ia mengucapkan 'kata-kata sembarangan'nya, Sasuke mendengarnya dan mengikutinya?
Itu sungguhlah sebuah kebetulan. Dan lagi, Sakura dapat menyimpulkan bahwa Sasuke memang selalu mengikutinya, ke mana pun. Sakura berusaha mengabaikan pertanyaan: apakah Sasuke juga mengikutinya ke toilet atau saat ia sedang berganti pakaian. Kenyataan itu didukung oleh perkataan Tsunade mengenai auranya dan aura Sasuke menyatu dan lainnya.
Sakura memang tidak paham apa pun mengenai aura dan tetek-bengeknya, tapi ia yakin kalau dua aura tidak bisa menyatu atau memiliki kemistri hanya dalam semalam-dua malam.
Ditambah kenyataan lain, bahwa hubungannya dengan lawan jenisnya mulai memburuk saat ia duduk di pertengahan tahun keduanya di sekolah menengahㅡsaat ia mengucapkan kata 'sakti' itu. Maksudnya memburuk dalam artian tidak berhasil menjalin hubungan. Walaupun ia tidak menyalahkan Sasuke seratus persen, tapi pasti karena keberadaan lelaki tak kasat mata itu dalam kehidupannya lah yang membuat kehidupan asmaranya berakhir begini.
"Uchiha-san," ucap Sakura lirih. Ia duduk di tepi ranjangnya. Kedua tangannya memegang tepi ranjang, sementara kakinya ia goyang-goyangkan pelanㅡternyata ia sedang gugup. Kepalanya tertunduk dalam.
"Uchiha-san. Uchiha-kun. Sasuke-san. Sasuke-kun. Aku tidak tahu bagaimana memanggilmu, tapi karena kurasa kau sudah mengenalku selama lima tahun ini, kuputuskan untuk memanggilmu Sasuke..." Sakura menelan ludahnya. "Sasuke-san."
Sakura mengangkat kepalanya. "Sasuke-san, aku tidak tahu kau ada di mana. Aku juga tidak tahu apa kau masih berada di sini, atau sudah pergi. Aku tidak tahu," ujarnya, masih dengan suara pelan. Ia menggeleng kecil. "Aku tidak pernah tahu kau ada di mana."
Ia memandang berkeliling, mengamati setiap sudut kamarnya yang hanya diterangi cahaya lampu dari luar. Sakura menghela napas pelan. "Kuharap kau... kau, mendengarkanku. Aku ingin berterimakasih." Sakura menyelipkan senyum kecil yang tulus dalam monolognya. "Terimakasih, karena sudah menjagaku dari lelaki yang memang tidak ditakdirkan untukku, jadi aku tidak perlu merasakan sakit hati berkali-kali."
"Kuharap aku juga bisa bertemu denganmuㅡuh, mungkin ini agak kasar, tapi kuharap aku bisa bertemu dengan persemayaman terakhirmu," Sakura dapat merasakan perasaan tercekat saat ia mengatakan kata terakhir itu. Ia berdeham, "Ehm... kuharap aku bisa melihatmuㅡbertemu denganmu dalam kondisi utuh. Tubuhmu, nyawamu, lengkap semuanya. Semoga kau tidak tersinggung dengan perkataanku," Sakura tertawa kecil dalam keheningan itu.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun ini, Sakura mendapat petunjuk dari kehadiran Sasuke dalam hidupnya. Sakura dapat merasa hembusan angin begitu lembut saat ia tertawa tadi, membelai pipinya dengan sangat hati-hati. Tidak, ia tidak merasa gila setelah bicara sendirian di ruang hening begitu. Ia merasa Sasuke ada di sana. Mendengarkannya.
"Sasuke-san," suara Sakura bergetar. "Terimakasih."
.
.
Semalaman Sasuke mengamati Sakura yang tidak kunjung tidur. Mulai dari bermain ponsel sampai membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur, gadis itu tidak terlihat mengantuk sama sekali.
"Sakura, kau seharusnya tidur," Sasuke berujar dengan suara beratnya. Terselip kekhawatiran di sana.
"Uchiha-san."
Sasuke membeku mendengar Sakura yang untuk pertama kalinya memanggilnya. Ia mengamati Sakura dalam diam, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.
Sasuke melihat Sakura duduk di tepi ranjangnya dengan kepala tertunduk. Ia lalu melanjutkan, "Uchiha-san. Uchiha-kun. Sasuke-san. Sasuke-kun. Aku tidak tahu bagaimana memanggilmu, tapi karena kurasa kau sudah mengenalku selama lima tahun ini, kuputuskan untuk memanggilmu Sasuke..." Sasuke menahan napasㅡsetengah mati berharap Sakura memanggilnya dengan sufiks -kun. "Sasuke-san."
Yah, walaupun tidak sesuai harapan, setidaknya Sakura mau memanggilnya dengan nama belakangnya, bukan nama keluarga.
"Hn," balas Sasuke, walaupun tahu itu semua sia-sia karena Sakura tidak mendengarnya.
Sakura mulai bersuara lagi, sementara Sasuke mendengarkan setiap kata yang Sakura katakan dengan perhatian, tidak melewatkan satu kata pun. Ini untuk pertama kalinya Sakura menganggapnya benar-benar ada, terlepas dari kenyataan bahwa gadis itu memberinya kue dan cokelat saat Valentine tempo hari.
"Hn. Sama-sama," balas Sasuke saat Sakura mengucapkan terimakasih yang sangat banyak. Ia sendiri, kan, tidak sengaja mengusir para lelaki itu. Mungkin karena adanya sedikitㅡsedikit, Sasuke tekankanㅡperasaan cemburu dalam dirinya yang membuat para lelaki itu jadi merasa tidak nyaman dengan Sakura.
"Ehm... kuharap aku bisa melihatmuㅡbertemu denganmu dalam kondisi utuh. Tubuhmu, nyawamu, lengkap semuanya. Semoga kau tidak tersinggung dengan perkataanku."
Sasuke terkekeh mendengar perkataan itu. Tidak, tentu saja ia tidak tersinggung. Ia, kan, memang hantu. Wajar saja Sakura berharap melihatnya dalam wujud manusia.
"Kau akan kaget setengah mati melihat wajahku," komentar Sasuke.
Sasuke, yang sedang duduk di kursi meja belajar Sakuraㅡberhadapan dengan gadis ituㅡlangsung menghampirinya. Ia berlutut di depan Sakura yang masih duduk di tepi ranjangnya.
Ia mengangkat tangannya, dan mengelus pipi gadis itu, yang walaupun dalam keadaan temaram pun terlihat ronanya. Meskipun tangannya tidak dapat benar-benar menyentuh Sakura, Sasuke tetap melakukannya.
Sasuke menatap emerald Sakura dalam-dalam.
"Sasuke-san," Sasuke mendengar getar dalam suara itu. "Terimakasih."
"Tidak, Sakura," Sasuke tersenyum lembut melihat wajah Sakura yang semakin merona. Padahal gadis itu sama sekali tidak melihatnya.
"Terimakasih, karena sudah menganggapku ada."
.
.
Baby if I could tell you, if I could tell you
How much I care, I'm in despair
Are you still there?
Just tell me
Just tell me how we can make this work
How we can make this work?
.
.
to be continued.
.
.
.
ini hanya chapter selingan sebenernya, karena saya kebangun dan memutuskan untuk post ini jam 3 subuh; menyesuaikan dengan lagunya Finding Hope yang judulnya 3:00 am. eh, taunya malah ketiduran waktu mau post *curhat*
lewat chapter ini saya pengen ceritain interaksi SasuSaku yang walaupun mungkin gak nyambung, tapi at least mereka berusaha untuk bangun komunikasi. jadi ke depannya mungkin bisa lebih banyak momen mereka berdua hehehe.
btw ini bukan songfic, kok. lagu-lagu ini diselipkan buat membangun mood pas lagi baca cerita ini, jadi bukan ceritanya disesuaikan dengan lagu, tapi lagu ini hanya tambahan aja :)
terimakasih untuk setiap dukungannya, ya!
