[REMAKE] Michiru Heya by Nekota Yonezou

.

.

Main Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

And others.

Genre: Romance, Drama.

Rated: M

.

.

Warning: Yaoi, Some Age-Switch, OOC, No Children

Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Nekota Yonezou.

Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.

.

.

Really hope you guys will enjoy this story~

Review, kritik dan saran sangat dinanti.

No bash. If you hate ChanBaek or hate this story then don't read. Thank you.

.

.

Pls read remaker's note in the end of the story if you don't mind.

.

.


Chapter 4

"Maafkan aku. Terima kasih sudah mengganti sepraiku."

Chanyeol melangkah keluar kamar mandi dan tersenyum tipis, merasa bersalah melihat kamar mereka sudah terlihat rapi.

Baekhyun merengut sebal, tidak suka mendengar Chanyeol terus meminta maaf.

"Akhirnya kau keluar juga," ucap Baekhyun. "Kemarilah, aku akan mengobati luka-lukamu."

Chanyeol menatap Baekhyun terkejut. Dia baru saja hendak mengatakan kalau Baekhyun tidak perlu melakukan semua itu, tetapi tatapan tajam Baekhyun menghentikannya. Baekhyun mengisyaratkan pada Chanyeol agar duduk di depannya. Dan Chanyeol akhirnya hanya bisa menghela napas panjang dan mengikuti perintah Baekhyun. Chanyeol melepas jubah mandi dari tubuhnya dan dia bisa merasakan tangan Baekhyun yang mulai mengobati luka-lukanya lembut.

"Ini sakit," ucap Chanyeol meringis.

"Tahan sebentar," Baekhyun berkata.

"Aku melakukannya."

Baekhyun menatap punggung Chanyeol dengan tatapan sedih. Walaupun tubuh Chanyeol penuh dengan luka, tetapi tubuh Chanyeol tetap terlihat indah di matanya. Baekhyun tersentak. Apa dia baru saja mengatakan kalau tubuh Chanyeol indah? Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Sadarlah Baekhyun, teriaknya dalam hati.

"Apa kau sudah selesai?" tanya Chanyeol, mengejutkan Baekhyun.

"Ah, ya..."

"Terima kasih," Chanyeol tersenyum dan mengambil alih salep luka di tangan Baekhyun. "Biar aku mengobati sisanya sendiri."

Baekhyun menganggukkan kepalanya dan terus memperhatikan Chanyeol, membuat Chanyeol tidak bisa menahan tawa melihat wajah Baekhyun yang terlihat polos dan lucu di matanya.

"Ada apa?" tanya Baekhyun.

"Bisakah kau berbalik sebentar?" Chanyeol balik bertanya. "Aku akan merasa malu jika kau terus memperhatikanku seperti itu."

"Eh?" Baekhyun menatap Chanyeol bingung.

"Bagian bawah tubuhku," Chanyeol berkata. "Klienku barusan memasukkan miliknya secara paksa dan aku rasa dia melukai bagian bawahku. Aku bisa merasakannya ketika aku duduk di dalam bathtub tadi."

Baekhyun terdiam sejenak. Dan ketika dia menyadari maksud perkataan Chanyeol, dia bisa merasakan wajahnya memanas. Dengan cepat dia membalik tubuhnya, menghiraukan tawa kecil yang keluar dari mulut Chanyeol.

"Maafkan aku," Baekhyun bergumam.

Baekhyun tetap berdiri disana dan dia bisa mendengar gerak Chanyeol di belakangnya. Jantungnya berdebar keras, berusaha membuang jauh-jauh pikiran untuk membayangkan apa yang Chanyeol lakukan saat ini. Sampai akhirnya dia mendengar suara Chanyeol mendesah. Tanpa ia duga, kejantanannya mengeras. Ini tidak baik. Dia harus pergi dari tempat ini sekarang juga.

"Aku akan keluar!" sahut Baekhyun. "Aku akan pergi ke ruang rekreasi. Jangan lupa istirahat!"

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka dan membanting pintu di belakangnya.

Chanyeol menghela napas panjang melihat kepergian Baekhyun. Dia merasa begitu bersalah karena sudah membuat repot teman sekamarnya itu.

Chanyeol berdiri dari duduknya untuk meletakkan salep di tangannya ke atas meja, namun sesuatu tertangkap matanya. Seragam sekolah baru. Dan ada pesan dari Baekhyun diatasnya.

Pakai ini untuk sekolah besok, atau aku akan marah padamu.

Chanyeol tersenyum. Byun Baekhyun memang benar-benar luar biasa.

.


.

Baekhyun melangkah cepat memasuki ruang olahraga sembari mengarahkan kepalanya kesana kemari, berharap tidak ada yang melihatnya. Setelah memastikan semua aman, dia bergegas menuju kamar mandi di ruangan itu dan membanting pintu di belakangnya. Baekhyun duduk dengan napas terengah-engah, menatap kejantanannya yang sejak tadi memberontak di dalam celananya.

"Sialan, tenanglah," bisik Baekhyun putus asa.

Baekhyun menundukkan tubuhnya kesakitan. Dia menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh melakukannya sembari memikirkan temannya sendiri. Tapi demi apapun, ini sakit sekali.

"Persetan!" seru Baekhyun, mencoba menahan suaranya agar tetap pelan.

Dia membuka ikat pinggangnya dan perlahan menurunkan celananya. Tangannya dengan lembut mulai mencengkeram kejantanannya dan menggerakkannya naik turun.

Baekhyun benar-benar merasa tidak punya prinsip sekarang. Bagaimana bisa dia melakukan ini sambil membayangkan temannya sendiri.

Ingatan akan wajah Chanyeol ketika Baekhyun memergokinya berhubungan badan dengan Luhan berputar-putar di kepalanya, bersamaan dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Suara desahan Chanyeol yang beberapa waktu dia dengar juga terus terdengar di telinganya. Membuatnya mempercepat gerakan tangannya di kejantanannya.

"Sialan, Chanyeol!" Baekhyun menjerit ketika dia mendapatkan puncaknya.

Baekhyun terengah-engah. Matanya terbuka pelan dan menatap cairan miliknya yang berceceran di lantai. Rasanya dia ingin menangis sekarang. Sekarang bagaimana dia harus berhadapan dengan Chanyeol?

.


.

Baekhyun memeluk lututnya sembari menahan tangis di ruang rekreasi. Dia benar-benar merasa seperti seseorang yang buruk dan dia sangat membenci dirinya sendiri saat ini. Jika ada pilihan untuk mati, Baekhyun akan memilih untuk mati saja saat ini. Dia benar-benar menyedihkan.

"Baekhyun!" Suara Chanyeol tiba-tiba terdengar di telinganya bersamaan dengan suara langkah kaki.

Baekhyun tak berani mengangkat kepalanya. Tubuhnya gemetar dan dia terus mengubur wajahnya di lututnya.

"Berapa lama kau akan terus berada disini?" tanya Chanyeol. "Aku khawatir karena kau tidak kembali."

"Maaf, aku akan ke kamar sekarang," Baekhyun berdiri dari duduknya dan berusaha untuk segera pergi dari hadapan Chanyeol tanpa menatap matanya. Dia benar-benar merasa bersalah.

"Tunggu sebentar," Chanyeol menahan tangan Baekhyun, membuatnya tersentak. Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, kemudian memberikannya ke tangan Baekhyun. "Kau membelikanku seragam baru. Ini uang untuk mengganti uangmu. Terima kasih."

"Ah... eh..." Baekhyun menatap uang di tangannya. "Kau tidak perlu menggantinya. Lagipula aku menggunakan uang pemberianmu untuk membeli seragam itu."

"Tidak," Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun. "Aku ingin melakukan hal yang benar, Baek. Sebelumnya aku marah padamu dan mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar tidak bermaksud mengatakan semua hal itu."

Baekhyun terdiam. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Chanyeol tersenyum lembut kepadanya, membuat senyum perlahan muncul di wajahnya juga.

"Sebenarnya," Chanyeol melanjutkan. "Aku sudah menganggapmu sebagai teman baikku, Baek."

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Ucapan Chanyeol membuat hatinya bahagia seketika. Namun, walaupun Baekhyun merasa bahagia karena Chanyeol tidak membencinya, kata-kata Chanyeol barusan juga membuat hati Baekhyun terasa kosong, entah karena apa. Dan Baekhyun merasa dia tenggelam di dalam kekosongan itu.

.


.

"Mereka bilang kau adalah anak dari seorang pelacur. Apa menurutmu kau pantas berada disini?"

"Kemarin ayahku bilang kalau dia membeli ibumu. Apa kau tahu itu?"

Chanyeol menatap orang-orang di hadapannya dengan tatapan takut. Tangannya menutup kedua telinganya berusaha agar ucapan orang-orang itu tidak terdengar olehnya. Dia ingin lari, tetapi dia tidak bisa. Terlebih ketika satu persatu dari mereka mulai menarik tangannya. Tubuhnya yang kecil bukan apa-apa bagi mereka.

"Biarkan kami memakaimu. Jangan khawatir, kami akan membayarmu."

Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa ketika orang-orang itu mendorongnya ke atas lantai. Mulai memukulinya dan melepas seragamnya. Seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak karena ditahan oleh tangan-tangan dari orang-orang itu. Dan Chanyeol hanya bisa menangis ketika satu persatu dari mereka mulai memasukkan kejantanan mereka ke dalam dirinya.

"Hah!"

Chanyeol membuka matanya dan dia bisa merasakan napasnya yang terengah-engah. Perlahan dia mengangkat tubuhnya untuk duduk, menyadari bahwa mimpi buruk yang memang selalu menemani malam-malamnya itu datang lagi untuk yang kesekian kalinya.

Chanyeol menatap memar di kedua pergelangan tangannya. Dan seketika semua kenangan buruk yang selalu datang lagi kepadanya dalam bentuk mimpi buruk itu berputar lagi di dalam kepalanya. Tubuhnya gemetar. Mengingat saat orang-orang itu memperkosanya dan meninggalkannya terbaring tidak berdaya setelahnya. Mengingat saat orang-orang itu melemparkan tumpukan uang ke wajahnya. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian mengerikan itu, tetapi Chanyeol tetap tak bisa melupakannya. Dia mengusap wajahnya frustasi. Sampai kapan kejadian itu akan terus menghantuinya seperti ini?

Suara dengkuran pelan menyadarkan Chanyeol dari lamunannya. Matanya melirik ke arah Baekhyun yang tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Perlahan ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Menutup kedua matanya pelan, menikmati suara dengkuran lembut dari Baekhyun. Di bibirnya, senyum tipis terukir. Entah kenapa, hanya dengan menatap wajah Baekhyun sekilas dan mendengar suara dengkurannya, Chanyeol sudah merasa jauh lebih tenang.

"Baekhyun..." bisiknya pelan sebelum ia kembali tertidur.

.


.

"Aku kembali." Baekhyun membuka pintu kamarnya dan Chanyeol, kemudian berjalan masuk. Dia memegang beberapa surat di tangannya dan dia melangkah mendekati Chanyeol yang tengah mengerjakan sesuatu di meja belajarnya. "Aku membawa surat untukmu."

Chanyeol menoleh dan menerima surat yang diberikan oleh Baekhyun. "Terima kasih."

Baekhyun memeriksa surat-surat miliknya sembari sesekali melirik kearah Chanyeol. Chanyeol tampak menatap surat miliknya beberapa lama sebelum meletakkannya begitu saja dan kembali mengerjakan apa yang ia kerjakan sebelumnya.

"Hey... Hey..." Baekhyun melangkah mendekati Chanyeol. "Kenapa kau tidak membaca suratmu?"

"Aku akan membacanya nanti," jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun.

Baekhyun mendengus. Dan pikirannya mengatakan jangan-jangan surat itu dari seseorang yang spesial untuk Chanyeol. Mungkin Chanyeol memiliki kekasih diluar sana. Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Berhentilah berpikir terlalu keras," sahut Chanyeol membuat Baekhyun menghentikan apa yang sedang ia lakukan. Chanyeol membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Baekhyun. "Surat ini dari ibuku."

"Ah, begitu..."

Chanyeol mengusap kepala Baekhyun gemas.

"Eh, tapi kenapa marga kalian berbeda? Kau Park, sedangkan ibumu Kang?" tanya Baekhyun penasaran.

"Itu karena dia menikah lagi," jawab Chanyeol.

"Oh, baiklah kalau begitu." Baekhyun tersenyum canggung dan melangkah menuju tempat tidurnya, melanjutkan membaca suratnya sendiri.

Chanyeol hanya tertawa kecil melihat tingkah Baekhyun dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Baekhyun menghela napas panjang. Menyembunyikan wajahnya di balik surat-surat di tangannya. Dia teringat akan rumor yang menyebutkan tentang ibu Chanyeol yang seorang prostitusi dan ayah Chanyeol yang meninggal karena bunuh diri bersama dengan kekasih lelakinya. Apakah semua rumor itu benar atau tidak?

Baekhyun benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang Chanyeol. Chanyeol bilang mereka berteman, tetapi masih begitu banyak rahasia tentang Chanyeol yang tidak Baekhyun ketahui.

"Baek!" Panggil Chanyeol menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.

"Ya?"

"Apa kau punya majalah edisi lanjutan dari majalah kemarin yang aku pinjam?" Tanya Chanyeol.

"Ya..." Baekhyun menjawab, tetapi tiba-tiba satu ide melintas di dalam kepalanya. "Chanyeol, daripada hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Bagaimana kalau kita bermain sepak bola di luar?"

Chanyeol mengerenyitkan dahi, menatap Baekhyun bingung.

"Hari ini benar-benar cerah," Baekhyun tersenyum lebar. "Selain itu, kau selalu menghabiskan waktumu di dalam kamar. Ayo kita keluar! Aku akan memperkenalkanmu dengan teman-temanku."

Chanyeol terdiam menatap Baekhyun yang memandangnya dengan tatapan penuh harap.

"Maafkan aku, Baek," ucapnya kemudian. "Aku tidak terlalu suka pergi keluar dan berada di tengah-tengah banyak orang."

"Ah, begitukah..." Senyum Baekhyun perlahan menghilang.

"Jadi, majalahnya?"

Baekhyun mengambil majalah di atas meja dan memberikannya pada Chanyeol. Menatap Chanyeol yang kembali ke mejanya dan kembali sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka teman, tetapi Baekhyun merasa Chanyeol masih memberikan batas di dalam hubungan mereka. Dan Baekhyun tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

.


.

"Kau benar-benar..." Jaehwan menatap Baekhyun kesal. "Sudah kubilang untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Kau hanya akan membuat dirimu berada dalam masalah."

Baekhyun merengut. Dia baru saja menceritakan soal keinginannya memperkenalkan Chanyeol kepada Jaehwan dan teman-teman Baekhyun yang lain yang kemarin ditolak secara halus oleh Chanyeol. Dan Jaehwan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar cerita Baekhyun.

"Tidak semua orang memiliki pikiran yang sama denganmu, Baek." Jaehwan mendesah frustasi.

"Tapi, aku hanya ingin dia keluar dari dalam kamar," ucap Baekhyun.

Jaehwan mendengus. "Aku rasa bukan itu tujuanmu yang sesungguhnya. Aku tahu kau ingin kami semua berteman dengan si casanova. Aku harap kau berhenti melakukan hal itu, Baek. Jangan memaksakannya."

Baekhyun hanya diam.

"Aku akan menjelaskan padamu sekarang," Jaehwan menatap Baekhyun kesal. "Aku tidak pernah punya pikiran untuk berteman dengan Park Chanyeol. Dia terkenal akan pekerjaannya menjual tubuhnya pada orang-orang dan aku tidak mau orang-orang menganggapku sebagai homo karena aku bergaul dengannya."

Kedua mata Baekhyun melebar. Seketika dirinya merasa marah. Baekhyun tidak masalah jika Jaehwan tidak mau berteman dengan Chanyeol. Tetapi tidak seharusnya Jaehwan mengatakan hal seperti itu.

Baekhyun menatap Jaehwan kesal dan berdiri dari duduknya dan melangkah pergi dari sana. Menghiraukan panggilan Jaehwan di belakangnya.

.


.

"Hey Chanyeol!" Baekhyun memanggil Chanyeol yang sibuk membaca majalah di atas tempat tidurnya. "Aku mau membuang sampah keluar. Apa kau mau menitip juga?"

"Ah ya..." Chanyeol bangkit dari tempat tidurnya kemudian memberikan kantung sampah miliknya kepada Baekhyun. "Terima kasih."

Baekhyun menganggukkan kepalanya tersenyum. Sebelum dia keluar dari kamar mereka, dia memeriksa isi kantung mereka berdua, takut kira-kira ada barang penting yang tidak sengaja terbuang. Dan benar saja Baekhyun melihat surat milik Chanyeol yang kemarin Baekhyun berikan padanya ada di dalam kantung sampah milik Chanyeol. Baekhyun mengerenyitkan dahinya dan mengambilnya. Surat itu bahkan belum dibuka.

"Chanyeol..."

"Ya?"

"Bukankah ini surat dari ibumu?" Tanya Baekhyun sembari menunjukkan surat yang ia maksud kepada Chanyeol. "Untung aku memeriksa kantungmu terlebih dahulu."

Chanyeol tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Buang saja," ucapnya. "Aku tidak akan membacanya."

Baekhyun menatap Chanyeol bingung. Baru saja ia ingin menanyakan kenapa, tetapi Chanyeol sudah membalikkan tubuhnya dan kembali sibuk dengan majalahnya. Baekhyun terdiam. Dia sadar Chanyeol tidak ingin membahas ini dan dia pun memutuskan untuk memasukkan kembali surat itu ke dalam kantung sampah Chanyeol dan melangkah keluar dari kamar mereka.

Chanyeol benar-benar memiliki banyak rahasia. Dan Baekhyun tidak tahu bagaimana caranya ia bisa dekat dengan Chanyeol jika hubungan mereka seperti ini terus. Teman? Teman apa yang menyimpan begitu banyak rahasia dari temannya yang lain?

Baekhyun menghentikan langkahnya di tengah koridor ketika matanya menangkap sosok yang familiar baginya. Luhan. Baekhyun tersenyum ketika Luhan menoleh dan menangkap keberadaannya.

"Sunbae-nim, bisa aku bicara denganmu?" Tanyanya kemudian.

.


.

Disinilah mereka sekarang. Di ruang rekreasi ditemani dengan secangkir teh di depan diri mereka masing-masing. Luhan menatap Baekhyun, menunggu Baekhyun memberitahu apa yang mau dia bicarakan.

"Begini..." Baekhyun memulai. "Ini soal Chanyeol."

Luhan menaikkan alisnya. Menanti kelanjutan dari ucapan Baekhyun.

"Kau memintaku untuk menjaganya, tetapi aku tidak yakin kami bisa berteman dengan baik jika dia memiliki begitu banyak rahasia," ucap Baekhyun. "Sebelumnya kau cukup dekat dengannya dan... Kira-kira apa kau tahu bagaimana caranya agar dia mau sedikit terbuka? Agar hubungan kami bisa lebih baik kedepannya."

Luhan menghela napas panjang kemudian menyesap pelan teh di hadapannya. Dia menatap Baekhyun yang memandangnya penuh harap.

"Apakah kau mengira Chanyeol akan memberitahumu segalanya dengan mudah?" Tanya Luhan.

Baekhyun terdiam.

"Aku juga tidak mengerti dirinya." Lanjut Luhan. "Baginya aku hanya klien dan selama ini dia selalu memperlakukanku seperti klien, bukan temannya, walaupun aku berusaha keras untuk dekat dengannya. Aku sudah sering menanyakan tentang dirinya kepadanya, tetapi dia benci ketika aku melakukan itu. Chanyeol benci jika ada seseorang yang menanyakan tentang kehidupannya."

Luhan menundukkan kepalanya sedih.

"Tapi, entah kenapa aku tahu kalau Chanyeol adalah orang yang kesepian dan sedih," ucap Luhan. "Setiap selesai kami berhubungan seks, dia tidak langsung menyelesaikan semuanya dan menyuruhku pergi. Kau tahu, normalnya jika semua hanya tentang bisnis, sesudah melayani kliennya seseorang pasti akan menyelesaikan semuanya dan menyuruh kliennya pergi setelah menerima uang. Tetapi Chanyeol tidak begitu. Dia selalu memelukku dan memintaku untuk tinggal lebih lama. Setelahnya, dia akan tertidur seperti anak kecil."

Baekhyun menggigit bibirnya, terus mendengarkan Luhan.

"Jika aku pikirkan. Semua pasti karena dia merasa sangat kesepian. Dan begitulah caranya untuk mengatasi semuanya sendirian. Dia tidak mau memberitahu siapapun tentang apa yang terjadi dengan dirinya atau kehidupannya. Dia memilih untuk menyimpannya sendiri. Karena itu dia membutuhkan seseorang untuk ia peluk," Luhan tersenyum tipis. "Aku tidak tahu benar apa alasannya menjual dirinya. Tapi mungkin, salah satu alasannya adalah ini."

.


.

Baekhyun bersandar di meja belajarnya dengan tangan menopang dagunya. Matanya sejak tadi melihat ke arah Chanyeol yang sibuk membaca di atas tempat tidurnya. Perkataan Luhan tadi siang terus berputar-putar di kepalanya. Jika dilihat dengan benar, Chanyeol memang terlihat begitu kesepian. Mungkin Chanyeol punya masalah soal kepercayaan, karena itu dia memutuskan untuk menutup dirinya dan itulah yang membuatnya kesepian. Baekhyun benar-benar mau Chanyeol membuka dirinya. Dan Baekhyun akan berusaha keras agar itu bisa terjadi.

"Chanyeol!" Panggil Baekhyun.

"Ya?"

"Aku punya film bagus. Kau mau menonton bersama?" Tanya Baekhyun tersenyum lebar sembari menunjukkan dvd di tangannya kepada Chanyeol.

"Film apa itu?" Chanyeol terlihat penasaran.

"Film ini sangat populer," jawab Baekhyun.

Baekhyun menyalakan laptopnya dan menepuk tempat di sampingnya, mengajak Chanyeol untuk bergabung dengannya. Chanyeol tampak ragu awalnya, tetapi melihat senyum Baekhyun membuat keraguannya hilang dan Chanyeol pun naik ke atas tempat tidur Baekhyun dan ikut tengkurap di sampingnya.

"Kau tidak akan kecewa," ucap Baekhyun dengan senyum lebarnya.

Baekhyun pun memulai filmnya. Tetapi, sejak film dimulai, entah kenapa Chanyeol lebih tertarik memperhatikan Baekhyun di sampingnya. Semua ekspresi Baekhyun membuatnya tak bisa menahan senyum. Sampai di pertengahan film, Baekhyun mulai terlihat mengantuk. suaranya yang awalnya terdengar begitu antusias perlahan menghilang. Dan akhirnya kepala Baekhyun jatuh ke atas tempat tidur.

Chanyeol tertawa kecil. Tangannya bergerak mengambil keripik kentang yang masih terjepit di bibir Baekhyun dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah mematikan laptop di depannya, Chanyeol berniat kembali ke tempat tidurnya. Tetapi suara dengkuran lembut Baekhyun menghentikannya. Perlahan Chanyeol berbaring di sebelah Baekhyun. Dan dengan ditemani dengan suara dengkuran Baekhyun, dia mulai memejamkan kedua matanya dan jatuh tertidur.

.


.

Baekhyun membuka matanya perlahan ketika sinar matahari masuk dari sela jendela kamar. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum dia bisa melihat jelas apa yang ada di hadapannya. Chanyeol tersenyum lebar kearahnya, dan itu membuatnya seketika terduduk dan membuat tawa keluar dari bibir Chanyeol.

"Pagi, Baek," sapa Chanyeol.

"Pagi..." Baekhyun bergumam dengan rona merah muda yang muncul di kedua pipinya.

"Sebaiknya kau cepat bersiap," ucap Chanyeol mengacak rambut Baekhyun. "Aku akan menunggumu disini. Ayo kita ke sekolah bersama-sama."

Baekhyun menatap Chanyeol tidak percaya. Chanyeol terlihat benar-benar terlihat berbeda pagi ini. Dia terlihat lebih bahagia. Senyum itu tidak hilang di wajahnya dan perlahan membuat Baekhyun ikut tersenyum juga. Baekhyun mengangguk semangat dan bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

.


.

"Untung kita tidak terlambat," Baekhyun berkata dengan napas yang terengah-engah. "Maafkan aku karena terlalu lama di kamar mandi. Seharusnya kau tinggalkan saja aku tadi."

Chanyeol tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, lagipula ini menyenangkan," ucapnya.

Baekhyun tertawa.

"Selain itu," lanjut Chanyeol. "Terima kasih sudah membawa jas sekolahku. Aku benar-benar tidak terpikir untuk mengambilnya tadi."

Baekhyun menatap jas sekolah Chanyeol yang ada di tangannya. Benar saja, dia tadi sempat keluar dari kamar tetapi karena dia melihat Chanyeol tidak memakai jasnya, dia memutuskan kembali dan mengambilnya. Baekhyun mengangkat kepalanya dan mereka berdua tertawa bersama.

"Ah ya," ucap Baekhyun."Nanti sepulang sekolah, ayo kita menonton film bersama lagi. Semalam itu benar-benar menyenangkan, walaupun ujung-ujungnya aku ketiduran."

Chanyeol menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, kalau begitu aku-," Baekhyun baru saja hendak pamit masuk ke kelasnya ketika Chanyeol tiba-tiba mendekat ke arahnya.

Kedua mata Baekhyun melebar melihat Chanyeol yang begitu dekat dengannya. Tangan Chanyeol bergerak naik untuk merapikan rambut Baekhyun dan juga mengusap keringatnya. Membuat jantung Baekhyun seketika berdebar dengan begitu keras. Aroma tubuh dari Chanyeol tercium dengan jelas oleh hidungnya dan itu benar-benar memabukkan bagi Baekhyun. Baekhyun yakin seluruh wajahnya sudah memerah saat ini.

Chanyeol sendiri hanya menunduk menatap Baekhyun. Jantungnya juga berdebar dengan begitu kencang. Merasakan lembutnya rambut Baekhyun di tangannya dan aroma strawberry yang menguar dari tubuh Baekhyun, menatap wajah memerah Baekhyun sedekat ini. Entah kenapa semua terasa benar baginya.

"Jangan bermesraan disini kalian, dasar homo!"

Baekhyun tersentak mendengar sahutan dari seseorang yang baru saja lewat itu. Tangannya tanpa sadar menepis tangan Chanyeol yang masih berada di rambutnya.

Chanyeol sendiri tampak terkejut akan tindakan Baekhyun. Kedua matanya melebar, namun dengan cepat dia menundukkan kepalanya dan senyum sedih muncul di wajahnya.

"Maafkan aku..." ucap Chanyeol sebelum melangkah pergi meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun terdiam sejenak sebelum tersadar dan berbalik menatap kepergian Chanyeol. Perasaan bersalah menyeruak dari dalam dirinya. Dan dia bisa merasakan sesuatu menyengat di dalam hatinya.

"Kenapa kau meminta maaf?" ucapnya pelan.

.

.

To be continued...

.

.


Okay, so I don't really feel satisfied with this chapter I don't know why. huhuhu

Chapter ini terlihat memiliki scene scene yang pendek dengan latar tempat atau waktu yang berbeda karena di manganya memang seperti itu.

Sedikit bingung awalnya mau digimanain but I tried my best, I'm so sorry kalau kalian ngerasa chapter ini aneh atau membingungkan. huhuhu

Dan buat kalian yang khawatir Chanyeol bakalan jadi bottom disini karena dia yang dimasuki oleh kliennya disini

atau part dimana dia diperkosa dan dijadiin bottom sama orang-orang bejat itu,

don't worry guys, Chanyeol gak bakalan jadi uke nya Baekhyun kok disini.

Chanyeol itu profesional dalam pekerjaannya jadi dia harus mau jadi top atau bottom buat kliennya itu, contohnya dia jadi top pas sama Luhan kan.

Dan soal Chanyeol diperkosa, itu kejadian waktu Chanyeol masih kecil, bisa dibilang SMP sih disini.

Dan ini alasan Chanyeol memilih pekerjaan ini untuk dia menghasilkan uang, selain alasan yang dibilang sama Luhan.

Uang nya buat apa bakal dijelasin di chapter-chapter selanjutnya.

Btw thank you so much buat kalian yang udah review di chapter sebelumnya:

ChoKyuKev, PuppyB, Byunae18, aupaupchan, Pied Piper915, 90Rahmayani, dan WinterJun09

Seneng banget asli baca review dari kalian! Kalian bener-bener bikin aku semangat ngelanjutin remake ini. Thank you so much, guys!

Terima kasih juga buat yang udah follow dan favorit story ini~

Jangan sungkan untuk meninggalkan kritik dan saran buat cerita ini.

Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan, pasti aku jawab.

So, see you guys in the next chapter!

Bubye~