| A Dangerous Widow |

Disclaimer : all characters that Masashi Kishimoto own

Genre : romance/drama

Rate : Mature

Chapter 3

"Just a Joke, Isn't it?"

.

.

Saya senang dan menghargai jika kalian berkenan untuk memvote, mereview dan memfollow cerita ini jika kalian menikmatinya

Maafkan untuk segala typo dan kesalahan yang lainnya

.
.
.

Selamat membaca

.
.
.

Telapak tangannya yang besar dan sedikit agak kasar itu menjelajah disepanjang permukaan punggung yang dihiasi lukisan cantik seperti pemiliknya.

Wanita itu mendesah lirih, merasakan sensasi nikmat dan geli atas belaian yang diberikan pria yang sedang mencumbuinya dengan lembut.

Kecupan-kecupan lembut pria itu berikan, sesekali gigi pria itu mengigiti tulang selangka dan merambat ke perpotongan leher sang wanita.

Diremasnya rambut hitam jabrik itu dengan gemas, sang wanita semakin melengguh kala lidah pria itu menyapu bagian terdalamnya dengan lembut.

"Oh, S-sasuke.. ah-"

Bagai api tersiram bensin, nafsu dan gairah Sasuke bertambah beribu-ribu kali lipat.

Suara desahan dan rintihan yang dikeluarkan wanita bermanik amethyst itu sangatlah menggairahkan.

Dengan menggebu, Sasuke mengangkat kepalanya dan memangut bibir seksi yang terus menggangu otak dan kewarasannya.

Ciuman panas penuh gairah itu menyemarakan cumbuan liarnya. Lidah mereka saling bertaut, melilit satu sama lain dengan erotis.

Telapak tangan Sasuke tak henti untuk menyentu, meraba dan meremas seluruh tubuh dari sang wanita.

Tengkuk, leher, pipi yang merona, dada yang penuh dan sedikit membusung, juga pinggul ramping dan pantatnya yang berisi.

Demi Tuhan, Uchiha Sasuke merasakan surga dunia yang sesungguhnya.

Semua hasrat dan gairah tersalurkan dengan baik dan kepuasan yang tiada hentinya.

Rambut panjang dan lebat wanita itu menambah kesan anggun dan cantik. Poni ratanya membingkai wajahnya yang kini merona karena gairah yang melanda.

Tatapan sayu itu, Sasuke sangat menyukainya.

Entah kata apa lagi yang bisa pria Uchiha itu sebutkan, karena kata apapun tidak akan mendeskripsikan dengan jelas mengenai pesona yang dimiliki wanita itu.

Tidak ingin menunggu lebih lama, Sasuke mulai memposisikan dirinya didepan pusat gairah dan kenikmatan sang wanita.

Didorong dengan perlahan, penuh kehati-hatian dan konsentrasi yang tinggi. Uchiha Sasuke, ingin mengingat setiap detik percintaan mereka dengan otak jeniusnya.

Wanita itu melengguh dan menggeliat kala Sasuke mulai memasuki dirinya dengan perlahan.

Peluh membasahi keduanya, ritme yang diciptakan Sasuke begitu sensual dan erotis. Tidam ada gerakan menggebu dan kasar.

Hanya gerakan lembut dan pelan yang sukses membuat desahan-desahan lirih sang wanita keluar dengan penuh kenikmatan.

Sasuke menyeringai puas, melihat wanita yang kini memandang sayu kearahnya sambil memanggil namanya dengan lembut.

"Sasuke, oh.. emh-"

.
.
.
.

Uchiha Sasuke, pria berusia 29 tahun itu terperanjat. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan peluh, napasnya terengah dan bagian intimnya terasa sangat ngilu dan basah.

'Fucking shit!'

Uchiha Sasuke mengumpat, dengan tolol dan bodohnya ia bermimpi mencumbui wanita yang sudah mengganggu otak warasnya.

Dokter muda dan jenius itu memimpikan wanita bertato itu bercinta dengan panas dengannya.

Demi Tuhan, Sasuke menjambak rambutnya frustrasi.

Diliriknya jam weker dinakas, sekarang masih pukul dua dinihari dan Sasuke ereksi dengan keras hanya karena memimpikan wanita yang entah siapa namanya itu.

Dengan malas sambil menggumamkan sumpah serapah, Sasuke memasuki kamar mandi dan berniat mengguyur dirinya dengan air dingin dibawah shower.

Mencoba meredamkan dan menidurkan kembali dirinya yang begitu keras. Sasuke menggelengkan kepalanya, kilasan-kilasan dalam mimpinya berkeliaran dipikirannya.

Desahannya yang lirih, tubuhnya yang bergoyang karena gerakannya, dan rambut panjangnnya yang tergerai indah diatas ranjang seperti tirai surga.

"Shit! Sasuke tolol! Enyahlah dari pikiranku, wanita sialan!"

.

.

Suasana pagi yang ceria memenuhi mansion yang sebelumnya tampak seperti hamparan kuburan yang mencekam.

Tentu saja, remaja keturunan Namikaze itu membuat suasana mencair dengan senyum secerah mentari dan juga keceriaan yang dapat menular pada siapa saja yang melihatnya.

Boruto manyantap sarapan paginya dengan penuh semangat.

Hari ini, adalah hari pertama baginya untuk melakukan pelatihan mengelola bisnis mendiang ayahnya.

Di usianya yang ketujuh belas tahun, Boruto sudah lulus sebagai sarjana muda dari sebuah universitas bisnis di Belanda.

Berkat kejeniusan yang dimilikinya, sekarang dia akan menempuh pendidikan Magister sekaligus memulai pelatihannya dalam mengelola bisnis.

Hyuuga Hiashi sangat bersyukur, karena cucu satu-satunya tak hanya dianugerahi dengan wajahnya yang rupawan, tapi juga otak yang super encer.

Meski ada setitik kecewa dalam lubuk hatinya, mengingat Boruto lebih memilih sebagai penerus sang ayah dan mewarisi kerjaan bisnis Namikaze yang sangat besar daripada sebagai pewaris tunggal Hyuuga.

Hyuuga dan Namikaze adalah dua keluarga yang memiliki kerjaan bisnis yang besarnya bukan main.

Jika bisnis Hyuuga berpusat di Jepang, lain hal dengan Namikaze. Bisnis Namikaze berpusat di Belanda dan untuk sekarang akan dipindahkan ke Jepang.

Yang secara otomatis akan ada dua kerajaan bisnis di Jepang.

Jika melihat urutan kesuksesan, Hyuuga berada di posisi pertama, lalu Namikaze dan menyusul keluarga Haruno.

Namun, bisnis keluarga Haruno berpusat dan terfokus dalam bidang medis dan kesehatan. Seperti rumah sakit, universitas, maupun yang lainnya.

Hyuuga Hiashi menatap ketiga anggota keluarganya. Tak berhentinya pria baya itu merasa senang dengan kepulangan Hinata dan Boruto.

"Hinata, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau berniat mengelola Hyuuga?"

Satu pertanyaan yang membuat kedua alis Hinata bertaut, namun tak lama wanita itu terkekeh dengan pelan.

"Tidak ayah, aku tidak ingin melakukannya. Lagipula sudah ada kak Neji, iya kan?" Hiashi mengangguk paham, mencoba menerima tolakan dari Hinata.

"Paman, Hinata hanya terbiasa untuk menikmati saja. Dia tidak pernah bekerja karena paman dan Naruto selalu memanjakannya."

Hiashi terkekeh, mendengar sindiran dari keponakannya pada Hinata. Memang benar, dirinya selalu memanjakan Hinata sejak wanita itu lahir kedunia.

Hinata tidak terbiasa dengan pekerjaan apapun selain memasak dan bersenang-senang. Karena mendiang suaminya Naruto, juga tidak pernah mengijinkan puterinya itu untuk bekerja.

Meski sekedar untuk menandatangani sebuah dokumen yang bernilai ratusan juta yen.

Karena menurut mereka berdua (Hiashi dan Naruto), Hinata tidak cocok untuk hal itu. Wanita itu lebih cocok untuk menghabiskan uang yang mereka hasilkan.

Dan sekarang Hyuuga Hiashi yang agung merasa konyol dengan pertanyaannya sendiri, karena sudah menawari puterinya untuk mengelola kerajaan bisnisnya.

"Oh Grandpa, mengapa paman Kakashi tidak ikut sarapan disini?"

Hiashi melirik, lalu tersenyum sekilas.

"Kakashi sudah pindah dari mansion satu minggu yang lalu. Aku menyuruhnya pindah karena kalian akan tinggal disini. Mungkin sebentar lagi dia akan datang, dan kau cucuku. Kau akan dibimbing oleh Kakashi."

Penuturan sang kakek membuat bibir Boruto mengerucut, "Mengapa harus paman Kakashi? Kenapa tidak paman Neji saja yang gay itu kakek?"

Oh Boruto, penuturan kurang ajarmu membuat para pelayan yang berdiri diruang makan menahan gelak tawa mereka.

Alis Neji kembali berkedut kesal, "Heh, jadi keponakan kuningku ingin dibimbing oleh pria yang gay, huh?"

Boruto nyengir kuda, merasakan aura mematikan yang terpancar dari tubuh tegap pamannya.

"Cucuku, apa kau tidak takut jika dibimbing oleh pamanmu? Bisa saja dia melecehkanmu selagi kalian berdua dikantor."

Dan seluruh mansion dipenuhi oleh gelak tawa dari mereka. Bahkan Hiashi ikut tertawa sambai kedua bahu yang kokoh itu bergetar.

Hinata sudah menitikan air mata karena tidak bisa menahan tawanya, sementara para pelayan undur diri karena tidak tahan dengan candaan keluarga Hyuuga yang menurut mereka adalah sebuah keajaiban.

Karena memang sebelumnya, mansion itu selalu sepi dan terasa mencekam seperti kuburan.

"Ayah, aku akan pergi kerumah sakit hari ini."

"Rumah sakit? Untuk apa?"

Boruto memutar kedua maniknya, "Grandpa, Momy akan mengecek kadar gula darahnya. Karena sekarang adalah jadwal rutinnya."

Hiashi mengangguk paham, mengingat usia puterinya yang kini menginjak angka 37 dan tidak lagi disebut muda.

Tetapi, tetap saja. Wajah puterinya itu terlihat seperti wanita berusia 27 tahun. Tetap cantik dan awet muda.

Neji yang mendengar penuturan dari Boruto menyeringai, "Oh, ternyata Hinataku yang manis sudah tua."

Senyum ejekan itu masih bertengger dibibir tipis Neji, "Ya, aku memang tua. Dan kau bahkan lebih tua dariku, Neji nii-sama."

Penuturan sarkastik Hinata hanya dibalas dengan kekehan dari Neji.

"Mommy, apa aku harus mengantarmu?"
Gelengan lemah Hinata tunjukkan, sebagai tolakan halus pada putera tunggalnya.

"Sekarang kau tidak akan sebebas dulu, Bolt. Kau harus belajar dengan keras agar kau bisa mewarisi dan mengendalikan semua aset Daddymu."

Boruto menganggukkan kepalanya semangat, merasa tidak sabar dengan pelatihannya mengenai bisnis mendiang ayahnya.

.

.
.

Hinata memarkirkan mobil sedan Lexusnya di basement Harunos Internasional Hospital. Ia tidak ingat jika rumah sakit ini sangat besar dan luas.

Langkah kaki jenjang itu berjalan dilobi rumah sakit, suara ketukan sepatu heelsnya membuat atensi semua orang yang berada disekitarnya melirik kearahnya.

Hinata menuju resepsionis, "Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin pemeriksaan laboratorium, gula darah."

Perawat itu mengedipkan matanya dua kali, "Pengecekan gula darah?" Hinata mengangguk kecil.

Perawat itu terkekeh pelan, "Saya sedikit terkejut nona, maafkan saya. Saya pikir anda masih muda dan sudah mengecek kadar gula darah." ucap perawat itu sambil menyodorkan satu lembar kertas yang harus Hinata isi.

"Oh, saya sudah berusia 37 tahun, suster. Dan mengecek kadar gula darah saya rasa tidak ada yang aneh dengan hal itu."

Senyuman perawat itu menghilang seketika, merasa terkejut dan sudah berlaku tidak sopan terhadap wanita cantik didepannya itu.

"Oh nyonya, saya minta maaf atas kelancangan saya."

Kini giliran Hinata yang terkekeh, "Tidak apa, jangan dipikirkan. Jadi? Dengan dokter siapa saya akan berkonsultasi?"

"Anda akan berkonsultasi dengan dr. Shino."

Hinata membulatkan kedua matanya, "dr. Shino? Maksudmu Aburame Shino?"

Perawat itu mengangguk pasti, Hinata tertawa dengan pelan. Tidak menyangka jika Shino, teman masa kecilnya telah menjadi dokter.

Mengingat pria itu pindah sejak memasuki Junior High School, dan sekarang pria itu menjadi seorang dokter di Jepang.

"Nyonya Hyuuga, anda bisa bertemu dengan beliau sekarang. Mari saya antar."

.

.

dr. Aburame mengedipkan matanya beberapa kali, merasa tidak percaya dengan wanita yang kini tersenyum lebar kearahnya.

"Hi-hinata? Kau Hyuuga Hinata bukan?"

Hinata tertawa, merasa lucu dengan reaksi teman masa kecilnya.

"Iya, dr. Shino. Saya Hyuuga Hinata seperti yang anda maksud."

dr. Shino tertawa dengan keras, merasa senang dengan pertemuan tak terduga antara dirinya dan Hinata.

"Well, kau semakin menawan saja di usiamu yang semakin beranjak. Aku sangat terkejut dengan kedatanganmu, sungguh."

"Aku yang seharusnya terkejut. Kau meninggalkan Jepang dan sekarang lihatlah dirimu, kau menjadi seorang dokter daripada menjadi kolektor serangga."

Tawa mereka pecah, mengenang masa lalu yang begitu menyenangkan.

"Ah, bagaimana dengan Kiba? Apa dia menjadi dokter hewan?"

"Ya, Kiba menjadi dokter hewan sekarang."

Hinata kembali terkekeh, "Aku tidak sabar ingin menemuinya."

"Nah, Miss Hyuuga. Sehubung kita sudah bertemu, mari kita lekas melakukan pemeriksaan dan minum kopi bersama setelahnya."

"Aku rasa itu ide yang bagus."

Setelah pemeriksaan dan meminum kopi di kafetaria, dr. Shino mengajak Hinata untuk berkeliling rumah sakit.

Shino yang kebetulan tidak terlalu sibuk menyempatkan diri untuk mengajak Hinata berkeliling sambil bernostalgia bersama

Sekarang mereka sedang berada di IGD, tempat paling ramai dan paling sibuk di rumah sakit ini. Hinata bisa melihat beberapa dokter muda yang berlalu lalang menangani pasien.

Tak lama, manik amethystnya menangkap sesosok pria tinggi dengan rambut emo jabrik dan memiliki mata sehitam jelaga.

Pria itu menoleh, dan mematung kala kedua pandangan mereka bertubrukan satu sama lain. Iris amethyst bertemu dengan onyx.

dr. Shino yang menangkap eksistensi Sasuke langsung memanggil pria itu sambil melambaikan tangannya dengan santai.

Hinata dan dr. Shino berjalan menghampiri Sasuke yang masih setia menatap lekat kearah Hinata.

"Oh dr. Sasuke, seperti biasa kau selalu disini."

Sapa dr. Shino, Sasuke mengangguk kecil dan kembali memfokuskan dirinya pada wanita yang kini berdiri dengan nyata disamping dr. Shino.

"Ah Hinata, perkenalkan. Ini dokter Uchiha Sasuke, dokter muda dan jenius kebanggaan rumah sakit ini."

Dalam hati, Sasuke berterima kasih karena dr. Shino telah mengenalkannya pada wanita yang membuatnya hampir gila dengan bangga.

Dengan berani, Sasuke mengulurkan sebelah tangannya, "Uchiha Sasuke, senang bertemu dengan anda, nona."

"Hinata, Hyuuga Hinata."

Degupan jantung Sasuke bertambah cepat, telapak tangan putih dan halus itu menyapu telapak tangannya yang sedikit kasar.

Batinnya berteriak dengan frustrasi. Wanita yang kini sedang menjabat tangannya adalah wanita yang semalam ia pergoki sedang bercumbu dan juga wanita yang ia mimpikan dengan tidak senonoh.

"Bagaimana dr. Sasuke? Miss Hyuuga sungguh menawan bukan?"

Pertanyaan jahil dr. Shino membuat jabat tangan diantara mereka terlepas. Sasuke mengumpat dalam hati, bisa-bisanya dia diam dan tidak berdaya hanya karena berjabat tangan.

dr. Shino meringis, merasakan cubitan yang Hinata layangkan pada pinggangnya.

"Shino, kau terlalu berlebihan."

"Tidak, Miss Hyuuga. Anda memang menawan."
Perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Sasuke.

dr. Shino menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan perkataan yang Sasuke ucapkan. Tidak biasanya pria kaku itu memuji seorang wanita.

Hinata yang merasa risih karena tatapan Sasuke yang tak kunjung beralih darinya berkata,

"Aku rasa aku harus pulang, hari mulai sore."

Desahan kecewa lolos dari mulut Sasuke. Entah untuk alasan apa pria itu merasa begitu kecewa.

dr. Shino mengangguk, "Kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai lobi. dr. Sasuke, kami pamit dan selamat bekerja kembali."

Sasuke mengganguk, dan mereka berbalik meninggalkan Sasuke yang kini melihat punggung Hinata yang semakin menjauh.

'Shit!'

Sasuke mengumpat, merasakan bagian bawah tubuhnya yang beraksi dengan tidak tahu malunya.

Pria Uchiha itu bergegas meninggalkan IGD, sebelum dirinya benar-benar malu karena ketahuan sedang ereksi.

"Miss Hyuuga Hinata. Kau harus membayar atas ini semua."

Sasuke berlari kecil, berharap tiba secepatnya diruang pribadinya dan mencoba memenangkan dirinya yang sudah sangat bergairah.

Dengan napas memburu, Sasuke merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Sakura kau sibuk? Bisa temui aku di rumah sakit?"

"Oh, Sasuke. Aku baru selesai pemotretan."

"Bagus. Segera kemari dan langsung temui aku diruanganku."

"Kau kenapa? Apakah kau begitu merindukanku? Hm?"

Alis Sasuke berkedut kesal, "Ya. Aku ingin bercinta denganmu, sekarang."

.

.
.

BERSAMBUNG