Deep in Your Heart

.

.

.

SummerChii

.

.

.

disclaimer: mereka bukan milik saya :( tapi cerita ini murni berojol dari otak laknat saya hehe

warn: bxb! incest! otw menjerumus!(masih otw) kim!family. absurd, gaje, bisa menyebabkan sesak napas, pening dan mual

.

.

.

.

04 : Warmth

Seokjin tidak tahu apa yang terjadi, tapi subuh itu ambulans parkir didepan rumahnya.

Dan dia melihat mereka membawa Namjoon keluar.

Saat dia turun, ayahnya langsung menampar dia sangat keras.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA DI SEKOLAH?!"

Seokjin awalnya diam. Lalu berbalik dan menatap sengit ayahnya yang meredam marah. Sang ibu sudah melompat ke ambulans dan pergi bersama putranya didalam sana. Sementara ayahnya masih dirumah dan memegang kunci mobil, sepertinya hendak bergegas menuju rumah sakit.

"JIKA TAEHYUNG TERLAMBAT MENYADARINYA, KAU ADALAH PEMBUNUH DAN AKU TIDAK PUNYA ANAK SEORANG PEMBUNUH!"

Seokjin sempat terdiam selama beberapa detik. Hatinya sakit mendengar penuturan bapaknya kepada dia. Dia tidak punya anak seorang pembunuh tapi Kim Namjoon adalah anaknya. Heran Seokjin kadang. Lagipula, apa yang dia lakukan kepada Namjoon? Apa yang dia perbuat pada namja yang lebih muda?

Apa yang membuat si anak tiri itu jauh lebih penting daripada dia?

"Aku bahkan tidak tahu apa-apa... dan punya niat baik kesini untuk sekedar bertanya, apa Namjoon sakit atau cedera? Tapi kau malah mencercaku dengan hal seperti ini. Apa segitu sampahnya aku, sampai kau pikir aku biang semua masalah?"

Seokjin berusaha menetralkan nafasnya, menahan tangis biarpun matanya sudah semerah kepalan tangannya sendiri. Dia berusaha menatap ayahnya dalam berusaha mengerti tatapan apa yang dilayangkan ayahnya pada dia.

"Apa aku bukan anak appa?"

Seokjin berusaha mengucapkan kata-kata itu sepelan mungkin, sehalus mungkin.

"Jangan bicara sembarangan! Kau-"

"Sembarangan apa?! Kau cuma peduli Taehyung, Namjoon, Taehyung dan Namjoon lagi! Memangnya pernah kau khawatir padaku? Pernah kau tersenyum seperti seorang papa padaku? Sejak JiHye-ssi datang, aku bukan apa-apa buatmu kan?!"

Pria paruh baya itu menahan amarahnya. Wajah appanya sudah merah sekali, terlihat siap meledak kapan saja.

"Karena sudah punya anakmu yang itu, yang lebih pintar, lebih sopan, lebih cakap daripada aku, kau lupa keluarga kita itu bertiga! Kau lupa eomma dan aku! Karena ada yang lebih muda daripada eomma, lebih waras daripada eomma, kau membuang kami kan?! Kau bilang aku pembunuh kalau sampai dia mati. Lalu kira-kira Namjoon itu apa? Dia-"

PLAK

Satu lagi tamparan mengarah di pipi bengap Seokjin, tapi dia juga belum berhenti. Matanya kembali menyorot sang ayah tajam, wajahnya sudah merah. Bekas tamparan dan penuh emosi. Dia tidak peduli jika dia marah-marah sampai menangis juga.

"Anakmu yang itu diam saja waktu eommaku bunuh diri"

"JAGA MULUTMU!"

"-bukannya dia pembunuh?"

"KIM SEOKJIN!"

"STOPP! STOPPP!!"

Bukan tangan yang menyapa dia. Tapi suara secempreng kuali dapurnya itu yang menggema. Bocah kecil itu berlari mendekatinya, membawa ponsel sang appa dan memberikannya pada pria paruh baya disana.

"Appa... eomma butuh appa sekarang. Ppali..."

Taehyung menyerahkan ponsel dengan flipcase sederhana itu, disambut tangan besar appanya yang langsung mengambil benda itu kasar, sempat berdecak kepada Seokjin seakan dia makhluk hina sebelum beralih keluar pada mobilnya. Tidak mengucapkan apa-apa kepada kedua anaknya yang termangu didepan pintu.

Seokjin sudah merosot tepat saat punggungnya menyapa tembok disamping pintu, menyesapi tiap rasa sakit dari kata-kata sang ayah sambil menangis dalam diam. Dia meremat dadanya pelan-pelan, sesekali mengusap pipinya yang basah.

Lebih baik dia pergi saja dari sini.

Tapi belum ada dua menit dia berpikir begitu, saat kakinya bangkit Taehyung langsung menggenggam tangannya erat-erat. Bocah itu terlihat kusut khas bangun tidur, dengan piyama berantakan dan muka bantal yang masih fresh. Matanya menyorot Seokjin dengan tatapan memohon agar yang lebih tua tidak pergi.

"Hyung, ayo masak ramyeon..."

XXX

Jimin berlari menyusuri koridor rumah sakit saat menemui wajah yang dikenalnya didorong dengan ranjang menuju ruang gawat darurat. Dia meninggalkan ibu dan ayahnya di ruang tunggu dokter yang ingin memeriksa adiknya.

Wajah yang akrab dikenalnya itu benar-benar terlihat sakit. Kesakitan, bahkan Jimin sendiri sampai harus menahan napas melihatnya. Dia harus menghampiri orang itu, setidaknya untuk menemui Taehyung yang mungkin sedang menangis dengan khawatirnya atau mengetahui keadaan hyung kawan sehidup sematinya itu.

Namjoon-hyung dibawa masuk kedalam ruang gawat darurat.

Jimin menyelinap masuk koridor yang gelap dan lebih mencengkram itu karena banyaknya suster dan perawat lain yang berlari kesana, sehingga dia bisa mengekor salah satu dari mereka tanpa ketahuan. Mereka semua berlalu-lalang mengambil ini-itu dan memanggil dokter, bahkan sudah dua yang ada disana.

Satunya masih muda, dan yang baru datang adalah pria yang terlihat seumuran kakeknya.

"Berapa jam setelah kejadian?"

"Kami tidak tahu... uisanim. Mereka pulang dalam keadaan baik-baik saja... kami tidak tahu apapun... sampai tadi Taehyung menemukan dia."

Dokter tua itu kelihatannya sedang memeriksa hyungnya Taehyung. Jimin mengintip dari sela tirai, melihat mamanya Taehyung sedang menangis dan hyung kesayangannya Tae itu sudah setengah telanjang. Dia basah keringat, basah sampai ke rambut-rambutnya, bahkan Jimin bisa melihatnya.

"Dua hari kedepan kami akan memantau dia. Kalau masih belum ada peningkatan, aku akan merujuk rawat intensif."

Jimin termangu. Dia jadi ragu apa dia harus masuk atau tidak. Dia jadi takut jika kehadirannya malah merusak suasana. Dia juga jadi takut jika tak bisa mendengar lebih.

"Tolong lebih perhatikan Namjoon lagi, nyonya Kim. Ini sudah yang kedua kali dan jarak waktunya sangat dekat. Kalian tahu proses penyembuhan lukanya cukup lama, dan itu bukan hal baik. Saya mungkin tidak berada pada tempatnya untuk mengatakan ini tapi... tolong, jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi."

Bocah bulat itu hanya terdiam, berusaha mengerti perkataan orang-orang dewasa yang tidak dia mengerti sama sekali.

Dia bisa melihat bibi Kim mengangguk-angguk didalam pelukan papanya Taehyung, sementara pria yang lebih tua menepuk pundaknya.

"Kami berharap kalian menjaganya baik-baik, supaya tim juga bisa mengusahakan operasinya."

Tubuh mungil itu beringsut kedalam tirai. Niatnya yang tadi untuk menanyakan apa Namjoon-hyung tidak apa-apa hilang sudah. Kini berganti rasa penasaran, akan apa yang dikatakan dokter tua itu dan apa yang akan mamanya Taehyung katakan.

Kali ini dia harus diam, mengamati.

Biar seluruh hatinya terasa rubuh mendengar tangis pilu dan permintaan maaf mamanya Taehyung, juga tiap frasa yang keluar dari bibir uisanim yang seumuran kakeknya. Telinganya terus menangkap kata-kata yang dia tak mengerti namun ia pahami- itu berbahaya. Mematikan. Terus, dan terus. Sampai pada titik dimana dia harus lari.

Jimin tidak tahu lagi, menyimpan rahasia termaksud dosa apa tidak.

Tapi dia akan mengunci ini rapat-rapat dari Taehyung.

XXX

Saat pagi menjemput, Seokjin juga tidak menemukan ketenangan.

Tidak juga dengan pagi berikutnya, dan yang besoknya lagi.

Taehyung boleh bilang semuanya akan baik-baik saja karena Namjoon kuat atau dia boleh bilang pada Seokjin untuk bicara jika merasa sedih, tapi tidak satupun perkataan bocah itu masuk keotaknya.

Tidak ada kedamaian barang sehari saja dirumah, mereka malah perang dingin. Begitu juga di sekolah.

"Kemana adikmu yang brengsek itu, Seokjin?"

Jin menutup matanya dan memalingkan wajah. Dua orang didepannya menekan bahunya kuat-kuat ke tembok, meremasnya kuat sampai membuat bibir tebal itu meringis. Pipinya yang masih membekas karena kejadian dua malam lalu tidak menarik simpati monster didepannya. Ken boleh jadi tidak ada di tempat, tapi masih ada Baro yang sama brengseknya dengan si sombong Ken.

"Aku tidak ada urusan denganmu, jujur. Aku mau buat perhitungan sama anak belagu satu itu. Dia membuat 4 teman kami di skors, sayang. Dia membuat ponsel keluaran barunya Sandeul jadi rongsok. Dia juga membuat kami terlibat urusan dengan bagian konsel plus Min Yoongi. Jadi lebih baik kau bicara, sebelum aku marah."

Jin hanya diam, berusaha melepaskan tangan besar namja itu dari bahunya dan melarikan diri. Bukannya dia mau melindungi Namjoon atau apa, tapi dia sendiri memang benar-benar tidak tahu anak itu ada dimana. Sudah tiga hari dia selalu pergi pagi dan pulang malam saat semua orang sudah tidur. Dia tidak tahu keadaan rumah dan keadaan Namjoon. Dia juga tidak peduli apa anak itu sudah masuk sekolah atau tidak. Intinya, ia tidak tahu apa-apa.

"Aku tidak tahu apa-"

"Omong kosong, Jin. Kita semua tahu kalian serumah. Kita semua juga tahu bangsat satu itu absen belakangan ini .Katakan saja dimana dan biarkan kita berenam melayat dia."

Seokjin terdiam, dia bahkan baru tahu Namjoon absen sekolah. Matanya terus lari dari manik kecoklatan namja didepannya, membuat orang itu geram dan menarik dagu Seokjin mendekati wajahnya.

"Kalau tidak mau bicara, hari ini kau menggantikan dia."

Seokjin ingin saja protes, namun bibirnya disumpal dengan substrat basah oleh namja didepannya ini. Dia menolak, namun malah mendapat gigitan keras di bibirnya yang merah. Aksi itu membuat dia ingin berteriak, namun tertahan. Namja dihadapannya langsung mengambil kesempatan dan membawa lidahnya masuk, mengekspedisi rongga mulut cantik itu seenaknya.

"Aku tidak akan memukulmu kasar seperti aku memukul Namjoon. Aku akan lebih lembut, ya?"

Seokjin tidak mau. Dia sungguh tidak mau.

Tapi dia tidak bisa apa-apa dalam kungkungan kedua orang itu. Satu mengeksplor bibirnya, yang satu lagi bergerak liar dipunggungnya. Padahal ini lingkup sekolah, tapi mereka berani melakukan hal seperti itu. Benar-benar... kacau. Dan ini seperti ranjau dia merasa seperti akan dijebak.

"Jangan-"

"Ternyata Ken benar, bibirmu enak sekali, Jin."

Namja itu menyeringai, melepas bibirnya dengan milik Seokjin yang sudah berdarah, membengkak. Seokjin berusaha untuk melepaskan cengkraman teman sekelasnya itu, namun dia benar tidak sanggup bahkan hanya untuk menepisnya. Genggamannya sama kuat dengan apa yang ayahnya lakukan buat dia.

"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Kau jadi jalang kami bergiliran, dan kami tidak akan mengganggumu? Aku akan bicarakan itu pada Ken nanti. Hm?"

Seokjin menutup matanya, membiarkan airmata mengalir membasahi pipinya. Tangannya sakit. Hatinya sakit. Dia merasa diperlakukan seperti binatang, seperti manekin yang bisa seenaknya saja dimainkan. Tidak ada adab sama sekali. Menghargaipun tidak.

Mereka berdua menyentuhnya seakan dia itu barang pajangan yang dijajahkan gratis. Memukul dia kalau melawan, mengigit bibirnya kalau menjerit. Menarik lehernya seperti kucing kalau dia jatuh lemas. Melepaskan kancing kemejanya seakan dia boneka.

Tidak peduli sebagaimana dia meronta, menjerit sampai bibirnya membiru karena dihadiahi gigit dan tinju.

"Jin-FUCK!"

Seokjin mendengar suara desis itu dengan jelas ditelinganya. Punggungnya langsung menubruk dinding bata dibelakangnya saat sosok teman sekelasnya itu ditarik paksa menjauh dari dia. Seorang namja lain menarik rambut kedua orang itu keras, rokok di salah satu tangannya dimatikan pada dahi teman sekelasnya, sementara satu orang lainnya yang membawa kamera memukuli mereka.

"Great, Hobi. Mampusi saja mereka."

Yang merokok menyeringai, tertawa kecil. Kemeja sekolahnya digulung dan dijepit di tali pinggang, sementara tubuh bagian atasnya dilapisi tank top tipis yang mencetak keringatnya. Rambut blonde nyentrik dan celana yang digulung langsung mengidentifikasi kalau dia itu berandal yang bolos.

Sementara yang satu lagi lebih kalem-penampilannya- tapi jauh lebih brengsek.

Seokjin menatap keduanya yang sedang mencari kepuasan memukuli teman sekelasnya itu. Sepertinya mereka adik kelas, atau anak baru. Entahlah. Seokjin tidak peduli.

Begitu mereka berdua terlihat puas bergulat dan membuat dua temannya jatuh ketanah, mereka mengulurkan tangan pada Seokjin.

"Gwenchana?!"

Sirat khawatir itu tidak tertangkap di telinga Seokjin. Tanpa meraih tangannya, dia lari.

Dia sudah terlalu malu bahkan untuk sekedar mengucap terimakasih. Malu untuk menatap wajah mereka.

Malu, karena dia begitu lemah.

Malu, karena dia terlalu menyedihkan.

Malu, karena dia memang tidak bisa apa-apa. Dia bukan apa-apa. Dimanapun juga dia, dia itu sampah.

XXX

Seokjin tidak menapakkan kakinya kedalam rumah maupun menampakkan wajahnya disekolah.

Dia lari, mengintari kota kecil ini dan singgah tiap dia merasa lelah, duduk di taman-taman pada malam hari sambil termenung dalam diam. Tidak tahu arah. Tidak tahu tujuan. Menjauhi setiap kantor polisi dan tempat-tempat ramai.

Tidak tau mau kemana dan mau apa. Sudah tidak terhitung lagi berapa mobil yang menekan klakson marah padanya, atau berapa orang yang berusaha membawanya ke kantor polisi karena terlihat tidak waras.

Dia tidak mau ada di kantor polisi. Ayahnya akan mendapatkannya.

Dia tidak mau pulang juga bahkan kalau aparat memaksanya kembali ke rumah. Semuanya tidak akan memperbaiki keadaan dan dia yang rusak. Lagipula, ia ragu kalau ayahnya akan mencarinya.

Ah, mungkin kalau dia mati terlindas kereta juga bapaknya tidak peduli.

Dia tidak butuh rasa kasihan orang, juga tidak butuh uang ayahnya. Dia cuma minta sedikit atensi, sedikit ketenangan yang bisa membuatnya nyaman. Bukan hari-hari penuh ancaman dan maki-makian.

Dan di malam keduanya, dia duduk di sebuah taman dekat dengan bangunan tinggi dibelakangnya. Menghela napas lelah sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Udara sudah mulai dingin, dan dia juga tidak mengenakan pakaian hangat selain sweaternya. Blazernya ada didalam tas, dan itu sudah basah karena sore tadi hujan.

Entah bagaimana absensinya dan apakah orang-orang rumah mencarinya, dia tidak peduli.

Seokjin termenung cukup lama disana, duduk diam biarpun serangga mengigiti kulitnya. Dia tidak terlalu peduli-gatal karena itu bukan apa-apa buatnya. Tangannyapun sudah cukup banyak lecet karena banyaknya bekas gigit nyamuk yang dia garuk terlalu keras.

Dinginnya udara malam itu perlahan hilang-oleh suatu lembaran lembut berwarna abu-abu yang menutupi bahunya dari belakang.

Seokjin langsung menoleh.

Dan menemukan anak itu berdiri dibelakangnya, dengan piyama khas berwarna biru yang tertutup rapat dan sebelah tangannya yang terhubung dengan tiang iv.

Matanya menyorot rasa simpati pada Seokjin.

Dia benci.

"Apa lagi, Namjoon?"

Yang lebih tinggi hanya diam, membenarkan selimut untuk membaluti tubuh Seokjin sambil menggeret tiang iv-nya yang menyangkut terus di batu-batu. Seokjin awalnya diam, tapi lama kelamaan dia teringat perlakuan apa saja yang dia dapat karena anak ini.

Dia langsung menepis tangannya, membiarkan linen abu itu jatuh kebawah dan membuatnya kotor. Matanya menatap marah yang lebih muda.

"Hyung, bibirmu-"

"Jangan sok peduli. Jangan panggil aku hyung!"

Namjoon hanya diam saat dia terguncang sedikit karena pergerakan Seokjin yang kelewat dadakan. Namja itu mengambil selimutnya sementara Seokjin berdiri dan menghapus jejak basah di pipinya kasar.

"Apa lagi maumu? Setelah membuat aku habis dirumah lalu direndahkan disekolah... apa mau menginjakku juga? Apa belum cukup melihatku jadi binatang?"

Seokjin tidak sanggup menahan airmatanya yang turun makin deras, bersamaan dengan isakan yang molos keluar dari bibirnya.

"Membuatku kehilangan eomma dan appa sekaligus, membuat seisi sekolah menertawaiku karena papanya selingkuh dan punya anak gelap. Membuat aku jatuh terus tapi tidak pernah dibangunkan. Diinjak-injak, dimaki-maki, dibuat seperti boneka..."

Namjoon hanya diam, mendengar semua keluh kesah Seokjin yang menangis sambil menunduk, menyeka airmatanya.

"Aku lelah, sungguh... aku lelah dengan semuanya."

Dan yang lebih muda tidak berucap. Membuka mulut saja tidak. Dia hanya diam saja menelan semua yang Seokjin katakan, memandangi pucuk kepala yang lebih tua. Rambut coklat gelapnya menutupi wajah, karena ia menunduk terlalu dalam dan belum memotong poninya.

Lalu kemudian dia tersenyum kecut, tertawa walaupun tak ada sesuatu yang lucu dan menyorot iris gelapnya pada sang adik yang lebih tinggi.

"Kadang aku berpikir, kalau aku mati nanti apakah ada yang datang ke pemakaman atau tidak?"

Namjoon masih terdiam, membalas tatapan Seokjin datar dan meremat erat tangannya di tiang iv biar urat-uratnya pada timbul-memberikan efek ngeri kalau kulitnya robek karena jarumnya menembus terlalu dalam.

"Apa mungkin dengan cara begitu appa akan peduli padaku? Apa itu akan membuat ibumu menyesal setengah mati atau bahkan membuatnya pesta pora?"

Namja yang lebih tinggi mulai menguar aura kelamnya sementara Seokjin terus bicara melantur soal ini dan itu-menumpah ruahkan kegilaan dan keputus asaannya dia sambil berjalan keluar pagar, berdiri diluar batas zona penyebrangan yang aman.

"Mungkin aku cuma butuh tidur telentang dan tunggu truk melindas badanku disini, itu lebih baik bukan daripada yang sebelum-sebelumnya?"

Seokjin berhenti, menatapi Namjoon yang tiga meter berada didepannya, dibatasi pagar besi yang dibuat lekukan bunga-bunga dan daun. Diam didepannya dengan tiang iv masih digenggam.

Setelah mengatakan hal seperti itu, dia pikir dia akan merasa lega dan puas. Nyatanya dia makin sesak. Dadanya seperti diikat. Dia nyaris merasa seperti penderita asma tapi nafasnya masih lancar.

"Kau juga, Namjoon... apa kau akan pesta pora kalau aku mati?"

Seokjin menyunggikan senyum miring, wajahnya sudah merah dan basah airmata, biar dia tidak mabuk juga. Matanya menyeret jalanan, melihat apakah ada kendaraan yang lewat dan siap menghantam dia.

Tapi malah bertemu dengan mata adiknya yang gelap.

"Padahal nafas saja masih gratis, bicara saja masih lancar. Berjalan saja masih bisa tanpa batasan. Bicara soal mati terus... pikiranmu itu tidak bisa diubah ya, hyung?"

Seokjin tertawa, menggeram marah.

"Memangnya apa lagi yang harus kupikirkan! Memangnya ada yang memikirkan aku?! Ada yang peduli?! Mau tahu saja tidak ada-"

Namjoon mendekatinya, mengenggam tangannya erat dan menatapnya dalam-dalam. Lupa dengan infus yang dia bawa-bawa tadi. Lupa dengan tangannya yang diperban tadi. Dibiarkan saja disamping bangku taman sambil meneteskan cairan terus. Menyisakan darah di jarumnya.

Seokjin masih berusaha mengatur napasnya, bersiap menyemburkan lava panas dari bibirnya lagi. Tapi belum sempat sepatah kata keluar, anak itu menariknya kuat sekali. Menempelkan kepala pada bahunya yang tegap.

Menempelkan dada mereka dan berbagi detak yang tak seirama bersama.

Seokjin berusaha melepaskan diri, berkali-kali mendorong tubuh itu menjauh dari dekapannya. Memukulnya dan terus mengajukan protes marah sementara Namjoon diam saja dan tenggelam menunduk dibalik bahunya. Menenangkan Seokjin dengan detak samar di dadanya yang pelan dan rengkuhan yang terlalu hangat.

"Sedikit saja... tolong. Lihat aku, cari aku, pikirkan aku. Lari padaku, Seokjin. Tolong..."

Genggaman pada pinggangnya mengerat, seiring kepala itu tertunduk pada bahunya.

"Aku peduli. Aku memperhatikan. Aku mau tahu... aku mau selalu ada."

Seokjin termenung, hatinya sakit lagi mendengar pernyataan se-lirih itu dari adiknya.

"Aku bukan Dewa yang menentukan takdir. Juga bukan Tuhan yang bisa membolak-balik hati orang jadi tiba-tiba baik. Aku bukan malaikat pelindung yang bisa selalu menolong dimanapun. Aku hanya manusia. Yang katamu pembunuh, yang pandai merusak. Yang menghancurkan keluarga orang, membuatmu kehilangan kedua orang tua. Yang membuatmu terpuruk... yang tidak peka karena membuatmu susah."

Bahkan hanya karena dipeluk dan mendengar perkataan seperti itu dari adiknya, matanya memanas.

"Tapi aku sayang padamu. Sungguh. Aku benar sayang padamu, Seokjin."

Seokjin tidak pernah mendengar seseorang mengatakan sayang padanya dengan nada selirih itu. Nada serendah itu, sedalam itu. Dia belum pernah mendengar ayah atau ibunya mengatakan itu sambil memeluknya kelewat erat, membuat kepalanya bersandar terlalu nyaman pada bahu tegap yang bahkan tidak empuk sama sekali. Membuat matanya memanas dan dadanya dipaksa kembang kempis.

"Sebagai seorang teman. Sebagai seorang keluarga. Sebagai saudara. Sebagai adik kepada kakaknya. Lebih dari itu, sebagai laki-laki. Lebih daripada apa yang kau bayangkan. Aku juga tidak bisa mengatakan bagaimana rasanya. Ini salah, aku tau..."

Namjoon melepaskan tangannya pada pucuk kepala Seokjin yang berwarna gelap. Namja itu mengendurkan lingkaran pada tangannya dan menatap hyungnya dalam-dalam.

"Aku cuma ingin kau tahu, kau punya tempat pelarian yang akan berdiri dibelakangmu terus."

Membiarkan bahunya yang bergetar menubruk dadanya dan wajahnya yang memerah kembali menyapa bahunya.

"Tidak seharusnya aku menyimpan rasa begitu, maaf. Tapi tolong, lihat aku sekali-kali. Aku ada dibelakangmu."

Membiarkan jemari Seokjin meremas erat punggungnya, membuat namja itu menangis tanpa suara didadanya dan mengumamkan betapa dia malu dan putus asa tentang segala hal. Betapa dia merasa diperlakukan seakan-akan sampah oleh semua orang.

Bahkan dia sendiri tidak sadar lagi mulutnya melepas semua sesak seperti tangki bocor.

"Aku merasa hina. Benar-benar hina. Aku merasa seperti bangsat, seperti sampah."

Dia menggumam lirih, meremas piyama biru adiknya yang masih ditempeli bau khas desinfektan. Membiarkan Namjoon menepuk kepalanya kembut sambil mengusap punggungnya.

"Mereka membuatku merasa seperti barang kotor."

"Tidak ada yang kotor disini, Seokjin. Tidak ada yang sampah disini-"

"Kau tidak tahu. Seperti apa mereka membuatku merengek macam wanita yang dihimpit tembok dan laki-laki. Aku ini laki-laki. Dan cuma sampah yang tidak bisa melawan-"

"Tidak ada yang sampah. Mau seperti apa juga, tidak ada yang boleh menyebut Seokjin sampah."

Namja itu tersenyum, melepas tempelan pada dada mereka dan tersenyum manis kearah Seokjin, mencetak gurat dalam di pipinya.

Menatap kakaknya tenang dan menangkup pipinya yang bengkak dalam telapak tangannya.

"Kau sendiripun tidak boleh menganggap dirimu sampah. Bajingan, atau apapun itu."

Seokjin memandang yang lebih muda dengan nafas tidak karuan, matanya masih merah. Pipinya masih basah. Dan dia masih mau dekapan hangat seperti tadi. Ah, harusnya Seokjin malu dan lari ke kutub utara karena merasa nyaman pada orang yang dia hina-hina tadi. Tapi apa daya, Namjoon sepertinya memutuskan urat malu Seokjin.

"Karena kau penting buatku. Ini salah, tapi aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi soal ini."

Namjoon mendekatkan wajahnya, menumpu tubuhnya pada bahu lebar Seokjin sambil tersenyum lembut, mengikis jarak sambil terus membelai rambutnya yang halus.

"Aku sayang padamu, lebih dari apapun."

Dan Seokjin, tidak bisa apa-apa. Dia hanya bisa diam tidak berkutik, memejamkan mata, menikmati angin malam itu dan rasa hangatnya Namjoon. Membiarkan tangan besar itu mendorong kepalanya untuk merapat. Menghela napas tenang saat dia kembali mendapat rengkuhannya.

Hanya karena satu hal.

Dia yakin tidak ada kebohongan padanya. Dia yakin Namjoon bisa jadi tempat bersandar.

Cukup lengannya. Bahunya. Sorot matanya. Seokjin tahu dia tidak berbohong.

XXX

A/N:

Halo?

Pertama, aku mohon maaf atas update ngaret parah ini. Sebulan ya ga kulanjut? Lewat?

Gimana chapter ini? Mengecewakan gak? Apa aku terkesan maksa bawainnya? Aku kuatir sendiri ampe ketik ulang terus... draft chapter ini udah ampe 3 dan setelah ditelaah beda semua. Ini otak terlalu bercabang. Ampyun deh. Akhirnya aku pilih yang ini karena paling semangat lanjutin versi ini/? Dan ini yang gak begitu belibet dari yang lain kayanya(?) Dan aku gemes pengen buat scene terakhir ci chap ini masa #aduhjadicurhat

Ohyaaa...Buat yang masih baca,

Makasihhh banget bangett bangettt mau nungguin. Juga buat yang udah review, fav, follow juga QuQ

Maaf aku terlalu banyak notenya~

Aku open saran, kritik, dan masukann hehehe... semuanya yang demi pembangunan/? Akan aku terimaa

Lavvlavvv

SummerChii

27.08.2017