hai! :D

makasih buat yg udah nunggu!

dan makasih buat yg udah review, fave, alert...

thnks tooo...

CHOCOVIC-CHU

ARIA

KAORURAN KK

RISUKI TAKA

MUSIM SEMI

GUI GUI M.I.T

MIYA-HIME NAKASHINKI

SARUWATARI YUMI

RINZU15 THE 4TH ESPADA

WULAN-CHAN

MUGIWARA 'YUKII' UZUMAKISAKURA

LOLLYTHA-CHAN

DARK LUCKY DUCK

ALP ARSLAN NO NAMIKAZE

NARUTO LOVER

AND ALL SILENT READERS! :D

AN: sori karena lama updatenya... ujian penting udah selesai, tapi sekarang galau buat daftar kuliah... =='

yah... gara-gara galau, inspirasi gak nongol...

#plak!

tapi aku akan terus usahakan update :)

oke... moga-moga readers sekalian puas sama chapter ini yaa...

WARNING! alur cepat, OOC, typos, dont like dont read!

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Enjoy it, guys! :D


CHAPTER 4

.

.

.

.

.

"Makanya… jangan mau bunuh orang terus… Kualat 'kan jadinya?"

Aku langsung mendelik, membuat Ino menutup mulutnya seketika. "Aku demam karena stres dan tekanan batin, oke! Tidak ada hubungannya dengan kualat atau tidak!" Aku langsung terbatuk-batuk karena berteriak tanpa sadar. Seharusnya aku istirahat penuh di rumah hari ini, karena demam-ku masih belum pulih. Memang, demam-nya sudah tidak separah kemarin, namun aku tidak heran jika demam-ku kembali parah karena Ino-pig yang mencari gara-gara ini. Awalnya aku sudah tersentuh ketika melihatnya menjengukku sampai-sampai dia tidak sekolah hari ini. Dia juga membawakan buah-buahan untukku. Tapi ternyata si licik ini sengaja datang, mencari kesempatan dalam kesempitan karena dengan menjengukku dia punya alasan untuk bolos sekolah. Selain itu, kukira dia akan berbaik hati, mengupas buah apel tersebut dan menyuapiku (memang terdengar aneh). Tapi dia malah di sini dan menceramahiku.

"Tapi… si Naruto cukup baik juga." Ino mengusap hidungnya. "Dia sengaja menelponku semalam ketika kau demam…"

"Dia menelponmu?" Aku mengerutkan kening. "Dia tahu dari mana nomor HP-mu?"

Ino mengangkat bahunya. "Dia menghubungi telepon rumahku dan minta berbicara denganku. Aneh ya? Aku sendiri tidak tahu dia dapat darimana."

"Lagi-lagi!" Aku kembali menjerit sehingga batukku bertambah keras.

"Lagi-lagi?"

"Misterinya bertambah banyak sekarang!" Aku menggaruk kepalaku. "Dengar ya, Ino… Misteri pertama! Dia jago pukul, bahkan lebih jago dariku!"

Ino mendengus. "Misteri apanya? Itu mungkin karena dia sudah berlatih bela-diri sejak kecil!"

"Misteri kedua," aku mengabaikan Ino. "Ayah dan Ibu itu pekerja kantoran biasa, dan kantornya ada di Konoha, desa kecil ini! Kenapa mereka bisa ada kerjaan di luar negeri dan meninggalkanku kepada Naruto, pemuda yang bahkan belum pernah mereka temui! Orang tuaku itu selalu mengkhawatirkan keselamatanku, tahu! Tidak mungkin mereka membiarkanku dijaga oleh lelaki yang seumur denganku!"

Ino masih mendengus. "Itu mungkin karena Naruto sudah mengenal orangtua-mu sebelumnya?" Meski wajah Ino terlihat meremehkan, aku bisa merasakan keraguan di dalam nadanya. "Atau mungkin dia itu tunangan yang sudah direncanakan diam-diam, lalu orang tuamu ingin kalian saling dekat?"

"Hal itu cuma terjadi di komik percintaan, tahu!" Aku mendengus dan kembali mengabaikan Ino. "Misteri ketiga," aku mulai memasang tampang serius. "Meski berwajah tolol, Naruto mempunyai bakat menjadi model."

Ino menatap raut wajahku yang serius. Selama beberapa detik, kami hanya saling melotot tanpa mengeluarkan suara. Awalnya, kukira Ino akan tertawa. Namun, gadis berambut pirang kusam ini balas menatapku dengan serius. Jangan-jangan… aku meneguk ludah. Ino memang sudah tahu akan hal ini…?

"Sakura…" Ino mengangkat tangannya. Tiba-tiba, dia menempelkan telapak tangannya ke keningku. "Mmm… wajar saja… Keningmu semakin melebar dan panasmu bertambah… Aku baru tahu kalau demam yang terlalu tinggi bisa menyebabkan ketidakwarasan."

Wajahku langsung memanas. Kali ini bukan disebabkan karena demam namun karena amarah. "Baka! Dasar Ino-pig!"

"Hei! Bukan salahku, dahi lebar! Siapa suruh kau berbicara hal konyol seperti itu!"

Aku menggertakkan gigi. "Oke, Naruto memang bisa konyol setiap saat. Namun, dia tidak jelek, tahu! Dia lumayan baik hat…" Ucapanku terhenti ketika melihat Ino yang menatapku dengan mata terbelalak. "… lu-lumayan… lumayan… " Wajahku kembali memerah, dan kali ini bukan disebabkan karena demam atau pun amarah.

"Sakura…" Nyaris saja Ino menempelkan tangannya di dahiku lagi kalau saja aku tidak mengelak. "K-ke mana perginya Sakura Haruno yang dulu melempar kursi ke wajah si tolol Naruto?"

"Dia tidak tolol…" aku berbisik lirih.

"Lho? Bukannya kau selalu memanggilnya 'baka'?"

Aku tidak menjawab. Entah kenapa, aku tidak suka ketika Ino menyebut Naruto tolol atau baka atau semacamnya. Memang, aku selalu memanggil Naruto 'baka', namun… entah mengapa, aku tidak suka kalau orang lain menyebutnya begitu. Aku merasa kalau seakan-akan… hanya akulah yang boleh memanggilnya seperti itu…

"Aku sudah gila!"

Ino melompat kaget ketika mendengar jeritanku yang tiba-tiba tersebut.

"Aku ini gila, kan! Aku pasti sudah gila! Ayo, bilang iya, Ino!"

"Iya. Kau memang gila," jawab Ino dengan wajah datar. Dia berdecak sambil membetulkan letak kompres yang ada di keningku. "Sudah, istirahat sana! Aku masih tidak percaya kalau Naruto berbakat menjadi model sampai kau berikan bukti nyata padaku!"

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. "Baiklah…" aku menjawab lemah. Sejujurnya, aku merasa kalau aku tidak ingin memberi bukti kepada Ino. Apa jadinya kalau Ino melihat perubahan Naruto yang 180 derajat itu? Bisa-bisa dia langsung melompat ke dada Naruto, memaksa untuk menjadi pacarnya.

"Lalu, masih ada misteri lain?" Ino menyeringai.

"Oh… dia tidak bisa membaca atau pun menulis kanji."

Ino terdiam. "Oke… agak mengejutkan, tapi cukup dimengerti…"

"Tapi dia sangat fasih berbicara dan menulis dalam bahasa Ingris."

Kali ini Ino terdiam sepenuhnya.

"Lihat ini." Aku memaksakan diriku untuk beranjak dan mengambil buku latihan bahasa Ingris yang kemarin kutunjukkan pada Naruto. "Lihat di soal ini dan ini…" Aku menunjuk beberapa jawaban yang ditulis Naruto kemarin. Mata Ino terbelalak ketika dia menatap tulisan tersebut. "Lihat! Aku tidak bohong, kan! Kemarin dia berbicara dengan bahasa Ingris yang fasih! Dia memang bisa berbicara dalam bahasa Jepang, namun anehnya, dia tidak bisa menulis dan membaca kanji! Anehnya, dia sangat ahli di bagian bahasa Ingris! Kau lihat saja, tidak ada kesalahan kata sedikit pun di tulisannya!"

Ino masih terlihat kaget. Aku bisa mengerti perasaannya. Aku juga merasa begitu semalam. "Apa-apaan ini?" Ino menggelengkan kepala dan menatapku dengan tatapan tidak percaya.

"Iya… aku mengerti, Ino! Naruto hebat, ya! Jawabannya benar semua!"

"Maksudku… aku tidak mengerti pertanyaannya apa."

Aku menepuk kening, membuat peningku terasa bertambah. Aku baru ingat kalau Ino adalah salah satu siswi yang kena korban hukuman Kakashi-sensei karena selalu gagal dalam ujian Inggris.

"Pokoknya… jawaban yang ditulis Naruto itu betul, oke? Jadi… dia aneh bukan?" Aku mengangkat jariku. "Jago berantem, seorang model, orang Jepang tapi tidak bisa menulis kanji dan fasih berbahasa Inggris, dia juga tahu nomor telepon rumahmu…" Aku terdiam sesaat. "Selain itu, dia tidak pernah memberitahuku tentang orang tuanya…"

"Ah… mungkin sudah meninggal…"

"SAKURA-CHAAN!" Bersamaan dengan suara teriakan yang menulikan telinga, terdengar bunyi benturan di tangga dan jeritan kesakitan yang diakhiri dengan 'dattebayo'.

"Oke. Naruto sedang berlari ke sini, tapi tersandung dan mungkin jatuh dari tangga." Ino menganggukkan kepala, sok berperan sebagai detektif.

"Itu sih, bukan misteri!" Aku mendengus.

"Sudah ya, aku pulang dulu." Ino beranjak, berjalan menuju pintu kamarku.

"Lho? Cepat sekali!"

"Yah… aku tidak mau mengganggu kalian berdua, kan?" Ino mengedipkan mata. Dia membuka pintu dan tepat ketika dia hendak keluar kamar, jantungnya nyaris meledak karena melihat sosok pemuda berambut raven dengan mata berwarna hitam kelam.

"Sasuke Uchiha!" Ino menjerit, membuat Sasuke mundur beberapa langkah. Pemuda itu menatap Ino seakan-akan wanita yang di depannya sudah sinting.

"Dobe…" Sasuke menggeram. "Kau bilang kalau ini kamar si rambut pink itu?"

"Tentu saja! Mana mungkin aku salah?" Naruto mendengus, berjalan menuju kamarku dengan santai. Meski sudah jatuh dari tangga, dia tetap terlihat baik-baik saja. Naruto membuka pintu kamarku lebar-lebar, mengabaikan Ino yang mematung dan bergetar tidak jelas. "Sakura-chan? Kau sudah baikan? Ini! Kubawakan si buntut ayam supaya kau bisa sembuh lebih cepat!"

"Bawa? Culik maksudmu?" Sasuke mendengus. Pemuda tersebut memutar tubuh, dan hendak turun ke lantai bawah. Namun, Ino yang sudah mendapat kembali kewarasannya tidak akan membiarkan Sasuke pergi begitu saja.

"Tunggu! Sasuke-sama! Jangan pergi!" Ino menyeret tangan Sasuke, membuat lelaki itu nyaris terjatuh di tangga.

"Lepaskan." Sasuke mencoba untuk memasang wajah tenang, namun dia tidak bisa menyembunyikan kebencian di sorot matanya.

"Wah… teme sudah mulai marah!" Naruto berdecak. "Ano… Ino! Sebaiknya kau cepat-cepat menghindar darinya! Dia sudah melihatmu dengan penuh kebencian begitu!"

Namun, Ino sepertinya dibutakan oleh sosok Sasuke. Tatapan kebencian Sasuke terlihat seperti tatapan penuh rasa kasih sayang di depan matanya. "Kenapa kau datang ke sini?" Tanya Ino, mengedipkan matanya, membuat Sasuke merinding seketika. "Untuk menemuiku?"

Naruto tidak bisa menahan tawa ketika melihat wajah Sasuke yang sudah memucat. "Salah kaprah, tuh!" Naruto cepat-cepat membungkam mulut ketika Sasuke mendelik ke arahnya. "Ino… kau tidak bisa mendapatkan Sasuke lagi! Dia sudah punya orang yang disukai, loh! Dan dia cuma bisa bertemu gadis itu kalau dia membesuk Sakura!"

Ino kembali mematung. Sebenarnya, aku juga tersentak ketika mendengar ucapan Naruto tadi. Aku ingin bertanya, namun aku merasakan sepasang mata yang melotot ke arahku.

"Sakura… kau… Jangan-jangan kaulah gadis itu?" Ino mendesis. Tubuhnya bergetar karena amarah.

Aku melongo. "Tentu saja bu…"

"Bukan dong! Salah kaprah lagi, tuh!" Naruto mendengus, cepat-cepat membela diriku. "Aku membawa Sasuke ke sini karena kupikir dengan melihatnya Sakura-chan bisa menjadi lebih baik!"

Aku menghela napas lega. Diam-diam, aku berterima kasih kepadanya yang sudah membelaku.

"Lagipula, Sakura-chan itu milikku, dattebayo!"

Dalam sekejap, peningku terasa bertambah. Apanya yang mau membuatku menjadi lebih baik? "Makin parah…" Aku hanya bisa mengelus-elus dada.

.

.

.

.

.

"Hee? Kau sudah bukan fans Sasuke lagi?" Naruto melongo. "Tapi dulu katamu kalau kau sangat ingin dipertemukan dengan Sasuke?"

Aku hanya bisa terbungkam. Kalau aku bilang kalau itu hanya alasan untuk mengusirnya, pasti suasananya akan kembali kacau.

"Tapi… memang benar, kok! Sakura sudah tidak terlalu menyukai Sasuke lagi sejak setahun yang lalu!" Ino berdecak. Dia duduk rapat di sisi Sasuke, membuat pemuda itu duduk merapat di sisi Naruto. "Padahal kami berdua ini fans berat Sasuke waktu itu! Namun, hanya karena muncul model pengganti, Sakura langsung mencampakkan Sasuke! Sakura jahat yaa, Sasuke-kun! Aku memanggilmu Sasuke-kun saja yaa?" Ino memasang tampang centilnya, membuat Sasuke kembali merinding.

"Model pengganti?" Naruto mengerutkan kening.

"Iya! Setahun yang lalu, di majalah Konoha Girls itu, ada seorang pemuda yang menjadi cover majalah. Memang, dia berpose di sebelah Sasuke, namun ketika melihat pemuda itu, Sakura langsung pindah hati! Padahal cowok itu hanya muncul sekali sebagai cover majalah…" Ino beranjak dan berjalan ke arah meja belajar. Dengan seenaknya, dia membongkar laci belajarku. Sebelum aku sempat menghentikannya, Ino sudah menemukan apa yang dia mau.

"Lihat ini!" Ino menyeringai lebar. Dia menyodorkan cover majalah yang masih sangat rapi. "Sudah setahun berlalu, tapi Sakura masih menyimpannya!"

"Hei, Ino!" Aku mulai tersipu malu.

"Lihat, dong!" Naruto mengambil majalah itu dari tangan Ino. "Wah… siapa cowok yang berpose di sebelah Sasuke ini! Dia tidak tampan sama sekali, dattebayo!"

Sasuke mengerutkan kening dan melirik ke arah majalah itu. Dia melihat dirinya yang sedang berpose di sebelah seorang lelaki dengan rambut hitam jabrik dengan warna mata yang sama sepertinya. "Ini kan…"

"Siapa? Kau tahu dia?" Aku bertanya dengan semangat. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Tentu saja. Sasuke pasti kenal model itu! Siapa tahu dia bisa memperkenalkan pemuda itu padaku…

"Naruto."

Sesaat, tidak ada suara sedikitpun di kamarku ini. Mata kami semua tertuju pada Sasuke.

"Aku?" Naruto melongo.

"Iya, dobe." Sasuke mendengus. "Kau lupa? Setahun yang lalu, Jiraiya menyeretmu. Dia menyuruh penata rias untuk mewarnai rambutmu dan memaksamu untuk mengenakan contact lens. Dia juga merias wajahmu dengan begitu pucat, dan menghilangkan kumis kucing-mu itu." Sasuke berceloteh panjang lebar. Sepertinya ini kalimat terpanjang yang pernah keluar dari mulutnya.

"Oh iya!" Naruto menepuk tangannya. "Soalnya aku tidak mau wajah asliku tertera di depan majalah begitu saja! Makanya aku setuju menjadi model asalkan bukan wajah asliku di cover majalah." Naruto tertawa. "Pantas saja wajah model ini tampan! Ternyata model ini aku!"

"Memakan ucapannya sendiri." Sasuke mendengus.

"Kau bilang apa, teme?"

"Bukan apa-apa, dobe."

Meski sekarang Naruto mulai bergulat dengan Sasuke, aku tidak lagi memperhatikan hal tersebut. Aku hanya menatap cover majalah yang kujaga sepenuh hati itu. Kutatap cover tersebut dan sedetik kemudian, kutatap wajah Naruto. Selama beberapa menit aku tidak melakukan apa-apa selain menatap cover ini dan wajah Naruto berulang kali. Aku tidak tahu apa yang kurasakan pada saat ini. Syok? Kaget? Kecewa? Hanya ada satu kalimat yang melesat masuk ke dalam otakku. Jadi lelaki yang kuidolakan sampai sekarang adalah Naruto?

Entah ini mukjizat atau malapetaka.

"Tepati janjimu!" Sasuke menggeram tiba-tiba.

"Tentu saja akan kutepati!" Naruto mengelak dari pukulan Sasuke. "Tapi tidak di depan Sakura-chan, bodoh!"

Ucapan Naruto mengembalikanku ke alam sadar. "Apa maksudmu?"

Naruto tersentak dan menatapku dengan panik. "Anu… itu…" Dia mencuri pandang ke arah Sasuke, seakan-akan meminta bantuan. Namun, Sasuke dengan sengaja memalingkan wajahnya. "Tidak ada kaitannya denganmu, Sakura-chan…" Naruto berbisik lemah.

"Kalau kau tidak mau bilang, aku tidak akan menatap wajahmu lagi seumur hidup!"

"Lha? Sakura-chaan! Jangan begitu, dong!" Naruto mulai memohon-mohon, namun tak kupedulikan dia. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa kesal. Aku tidak suka dengan fakta kalau Naruto menyimpan terlalu banyak rahasia. Kalau dia memang menyukaiku, dia seharusnya menceritakan tentang dirinya lebih banyak lagi. Tidak adil kalau dia tahu tentang diriku, namun aku tidak tahu tentang dirinya.

Untuk apa kau mencari tahu tentang Naruto? Kau membencinya.

Pertanyaan tersebut sering kali melesat di kepalaku setiap kali aku memikirkan Naruto. Aku tahu kalau itu salah. Namun… aku tidak bisa menghentikan rasa ingin tahuku. Entah kenapa… aku merasa kalau aku ingin mengenal Naruto lebih dalam. Memang aneh, tapi inilah yang aku rasakan. Tinggal serumah dengannya memang sangat tidak menyenangkan, namun… aku tidak keberatan.

"Aku… hanya ingin tahu tentang dirimu, baka…" Aku bergumam dengan sangat lemah. "Apa salahnya kalau kau berbagi rahasia sedikit padaku? Bukankah kau menyukaiku?" Wajahku langsung terasa terbakar ketika aku mengucapkan hal itu. Diam-diam, aku melirik ke arah Naruto. Pemuda itu menatapku dengan mata terbelalak. Dia seakan-akan tidak percaya akan pendengarannya. Yah… sebenarnya aku juga tidak percaya karena telah mengucapkan hal ini.

"S-serius? Sakura-chan? Kau ingin mengenal diriku?" Naruto bertanya dengan terbata-bata. "Aku tidak salah dengar ya?"

Aku mendengus dan memalingkan wajahku yang sudah merah terbakar ini. "Aku tahu kalau kau bukan hanya seorang hentai bodyguard! Lagipula… aku tidak membencimu, jadi tentu saja aku tidak keberatan untuk tahu lebih banyak tentang diri…"

"Tunggu, tunggu!" Naruto menghentikanku. "Kau bilang apa tadi?"

"Aku tidak keberatan untuk tahu tentang…"

"Bukan itu! Sebelumnya!" Naruto kembali memotong. Aku mengangkat sebelah alisku. Memangnya tadi aku mengatakan apa?

"Aku tidak membencimu?" ujarku, ragu-ragu. Apa yang spesial dari ucapan ini?

"Kau tidak membenciku!" Naruto berseru kencang. "Benar, Sakura-chan?" Mata birunya menatapku dengan berseri-seri. Wajahnya merona merah. Aku tersentak menatapnya yang seperti itu. Entah kenapa, aku membayangkan anak anjing yang menggoyangkan ekornya ketika melihat Naruto yang seperti ini.

"Tentu saja, baka!" Aku tertawa.

"Kau tertawa!" Naruto kembali berseru kencang. "Teme! Kau lihat? Sakura-chan tertawa karena aku, dattebayo!"

Sasuke mendengus, begitu juga dengan Ino.

"Pasangan bodoh." Ino bergumam. Aku hanya meringis mendengar hal tersebut.

"Hei. Janjimu." Sasuke mendelik ke arah Naruto. Senyum Naruto perlahan-lahan menghilang dan dia menghela napas.

"Alright! Kau ini sangat menyebalkan!" Naruto mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya. Dia menekan beberapa tombol dan menempelkan ponsel tersebut di telinganya.

"Hei, dia melihat." Sasuke melirik ke arahku.

"Tidak apa. Sakura-chan berhak tahu." Naruto tersenyum lemah. "Ah, halo?" Cengiran lebar Naruto muncul seketika.

"Naruto menelpon siapa, Sasuke-kun?" Ino kembali mendekati Sasuke.

"Pacarku."

Jawaban singkat dari Sasuke sudah cukup untuk membuat Ino terkena serangan jantung.

"Pacarmu?" Naruto menjauhkan ponsel dari telinganya. "Enak saja! Tidak akan kuserahkan dia semudah itu!" Naruto mendengus. "Aku hanya membiarkanmu kencan dengannya, kau dengar? Tidak lebih dari itu!"

Aku mengerutkan kening ketika melihat sikap Naruto yang protektif itu. Mau tidak mau, aku mulai curiga. Aku tidak tahu siapa yang ditelpon Naruto, namun aku bisa mendengar suara seorang gadis dari seberang telepon. Naruto bercakap-cakap dengan gadis itu dengan suara yang manis dan dia berkali-kali mendelik ke arah Sasuke, seakan-akan tidak senang untuk menyatukan Sasuke dengan gadis itu.

Jangan-jangan gadis itu adalah…

"Oke, bye! Akan kutelpon lagi ya." Naruto memutuskan sambungan.

"Siapa gadis itu, Naruto?" Pertanyaan itu langsung melesat keluar dari mulutku tanpa kusadari. "Mantan pacarmu?"

Mata Naruto terbelalak seketika. "Tentu saja bukan. Dia ini…" Naruto tampak ragu-ragu sesaat. "Dia ini adikku."

Ucapan Naruto membuatku melongo. Naruto punya adik? Dan Sasuke menyukai adik Naruto?

"Adik?" Ino langsung bangkit dari kematian sesaatnya. "Adik Naruto?" Seringai lebar mulai muncul di bibir Ino. Aku tahu apa yang ada di dalam otak Ino. Dia pasti berpikir kalau adik Naruto bukanlah rival yang tangguh. "Naruto, kau ada foto adikmu?" Ino bertanya dengan suara termanisnya. Ino pasti ingin membandingkan wajah adik Naruto dengan wajahnya sendiri.

"Tidak ada. Naruko sangat benci difoto." Naruto menggelengkan kepala. "Tapi wajah kami berdua sangat mirip. Rambutnya juga pirang. Matanya juga sewarna denganku."

"Ooo…" Ino bergumam. Senyumnya semakin melebar.

"Dia akan datang ke sini, bukan?" Tanya Sasuke dengan nada berharap. "Kalau belum aku bisa pergi ke Tokyo sekarang untuk menjemputnya."

"Dia bilang kalau dia memang sudah ada di desa Konoha ini sejak kemarin. Cuma dia tidak tahu aku ada di mana." Naruto menggelengkan kepala. "Adikku yang malang… sepertinya dia kesulitan mencariku… Aku merasa bersalah padanya…" Naruto sadar bahwa ucapannya membuatku bingung. Sambil tersenyum lebar, dia mulai menjelaskan. "Oh, sebenarnya kami berdua tinggal serumah di Tokyo. Tapi aku pergi dari rumah setahun yang lalu dan bertemu denganmu, Sakura-chan. Sejak saat itu, aku tidak mau pulang lagi. Naruko tahu aku ada di Konoha. Dia memaksaku untuk pulang, tapi aku tidak mau."

"Lalu? Dia akan datang ke sini?" tanyaku, bingung.

"Ya. Barusan aku memberitahu alamat rumah ini padanya. Seharusnya dia sudah ngebut dengan motornya…"

"Motor?"

"Dia bisa mengendarai motor meski umurnya masih lima belas tahun, lebih muda dua tahun dariku."

"Sudah kuduga. Sebaiknya aku yang menjemput dia." Sasuke beranjak. Wajahnya yang tenang itu mulai terlihat cemas. Ini pertama kalinya aku melihat wajah Sasuke yang seperti itu. Wajah dinginnya itu lenyap setiap kali nama Naruko terdengar.

"Lalu? Kenapa Naruko tidak mau mengunjungimu ke Konoha ini sejak dulu dan menyeretmu pulang?" tanyaku lagi kepada Naruto.

"Ah… dia sibuk dengan pekerjaannya…"

"Pekerjaan apa?" tanyaku, semakin bingung. Kata Naruto tadi, adiknya benci difoto. Tidak mungkin adiknya menjadi model juga. Lagipula, aku tidak pernah menemukan nama 'Naruko' di majalah para model.

"Kau akan tahu nanti." Naruto meringis. Tiba-tiba, terdengar bunyi decitan yang sangat keras dari luar. "Ah… dia sudah sampai."

Orang pertama yang beranjak adalah Sasuke, diikuti oleh Ino. Sepertinya Ino tidak sabar untuk melihat wajah adik Naruto.

"Mau melihat adikku?" tanya Naruto sambil menyeringai. "Kau bisa turun, Sakura-chan? Masih pusing?" Aku menggeleng. Sejujurnya, aku sendiri penasaran akan wajah Naruko. Apakah sifatnya akan seperti dengan Naruto?

"Dia juga… liar sepertimu?" tanyaku. Sekarang, yang berada di dalam kamarku ini hanya kami berdua. Sasuke dan Ino sudah turun ke lantai satu.

"Mmm…" Naruto bergumam. "Bisa dibilang lebih liar. Dia itu… sangat tomboi…" Naruto berdecak.

"NII-CHAAN!" Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang sangat keras dari lantai bawah. Dan di detik kemudian, terdengar benturan di tangga disertai dengan seruan 'dattebane'.

"Yah… seperti yang kubilang, dia lebih liar dariku…" Naruto meringis.

Lagi-lagi, aku menepuk keningku. Kalau begini terus, sakitku bisa bertambah parah…

"Yah, aku bisa menebak kenapa dia datang mencariku." Naruto menghela napas panjang. "Dia sudah mengambil cuti dan akan menyeretku pulang."

Mendengar ucapan Naruto, mataku langsung terbelalak. Pulang? Jadi maksudnya Naruto akan pergi dari Konoha dan kembali ke Tokyo? Naruto akan pergi dari rumah ini?

"Dan sifatnya juga… sangat menyulitkan." Naruto menggelengkan kepala. "Dia keras kepala. Kuharap dia tidak berencana untuk berduel denganmu, Sakura-chan… Dia tidak suka kalau ada wanita yang lebih kuat darinya berada di dekatku."

"Dia bisa karate juga?"

"Mmm… Lebih tepatnya lagi, judo." Naruto meringis. "Ban hitam."


TBC

okee... segitu dulu...

Sekali lagi maaf kalau banyak kesalahan dan semacamnya yaa

thnks for reading!

Mind to review? :)