"Kau benar-benar serius tentang ini Kyuhyun?", Changmin atau bisa di sebut Max ini bertanya saat Kyuhyun mempelajari salinan kontrak itu,

Kyuhyun mengangkat matanya dan menatap Changmin, lalu menunjukkan kontrak itu,

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta won Max!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang wanita? Wanita yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Cho?"

Kening Kyuhyun berkerut tidak suka mendengar kata-kata Changmin, meskipun dia tahu itu semua benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang perempuan, dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?", Kyuhyun tersenyum melihat ekspresi skeptis Changmin, tentu saja Changmin tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya,

"Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga ratus juta won tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi", jawab Kyuhyun yakin.

Changmin mengangkat bahu,

"Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada wanita itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku",

Changmin menyandarkan tubuhnya dikursi, "Sungmin ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"

Kyuhyun menggeleng,

"Dia hanya pegawai biasa, seorang supervisor lapangan, kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.

"Apakah dia gadis mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Kyuhyun langsung bersiaga, Kenapa Changmin ingat pada Sungmin? Apakah Changmin juga memperhatikan Sungmin? Apakah dia juga tertarik padanya?Insting posesifnya langsung menyeruak keluar,

Changmin tertawa melihat tatapan tajam Kyuhyun,

"Hey hey jangan menatapku seperti itu, aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",

Changmin mengangkat bahu,

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, gadis itu menarik seluruh perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",

Changmin menarik napas panjang, "Well jika dengan gadis yang sama ini kau terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."

-KyuMin-

Semua terjadi begitu cepat, Kyuhyun langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin, Sungmin tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Kyuhyun sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien Kyuhyun membantu Sungmin membereskan barangbarangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke aprtement, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Kyuhyun tersenyum pada Sungmin yang berdiri kaku di tengah ruangan,

"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali ke rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"

Sungmin memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?

"Sementara kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kaujanjikan?"

Kyuhyun mengangkat bahu,

"Silahkan", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",

"Tidak...!", Sungmin menjawab tegas, uang Tiga ratus juta yang ditransfer Kyuhyun tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu,

Kyuhyun sepertinya bisa membaca pikiran Sungmin,

"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?",

Kyuhyun mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,

"Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Sungmin mengingatnya baik-baik. Sungmin sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Kyuhyun disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Kyuhyun tidak akan tahu.

Kyuhyun memakai jasnya , puas karena Sungmin menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini", Tatapan Kyuhyun ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Sungmin memerah.

Sepeninggal Kyuhyun, Sungmin segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi, lobby apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar,

"Anda ingin dipanggilkan taxi, Nyonya? " tanyanya dengan sopan.

Sungmin cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?

"Tidak", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Sungmin segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.

Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama,

Sungmin berpapasan dengan suster Sunny ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Donghae,

"Kau tidak apa-apa Sungmin?, kau kelihatan pucat,"

Sungmin meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia menyerahkan...

"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Donghae", gumamnya gugup, Suster Sunny menatap Sungmin sedih,

"Sungmin uang tiga ratus juta won itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta, begini nak, aku punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan..."

"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya", Sungmin bergumam lemah, Kata-kata suster Sunny langsung terhenti seketika,

"Apa?...Sudah mendapatkan uangnya? Apa maksudmu nak? Darimana...?", kata-katanya langsung terhenti melihat Sungmin mulai menangis,

"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu lega",

"Mungkin setelah ini suster akan jijik pada saya", Sungmin terisak pelan. Suster Sunny mengelus rambut Sungmin dengan lembut,

"Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"

Sungmin menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Suster Sunny yang mau mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya,

"Aku tidak menyalahkanmu Sungmin, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Suster Sunny.

Sungmin buru-buru mencegah kemarahan suster Sunny,

"Bukan suster, sampai sekarang Tuan Cho tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Donghae, dia mengira aku perempuan muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"

Suster Sunny mengerutkan keningnya,

"Kenapa kau tidak mengatakannya Sungmin? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya",

Sungmin menggelengkan kepalanya,

"Tidak suster, aku tidak mau Tuan Cho mengetahui tentang Donghae, lelaki itu tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Donghae nanti",

Suster Sunny menarik napas,

"Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan suster Sunny berubah intens dan hati-hati,

"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Sungmin?"

Sungmin saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Suster Sunny,

"Eh? Apa Suster?"

Suster Sunny tampak salah tingkah,

"Apakah dia bertindak kasar semalam Sungmin?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan wanita akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",

Wajah Sungmin langsung merah padam,

"Tidak, Tuan Cho tidak kasar...Oh Tuhan!", Sungmin menutup mukanya dengan kedua tangannya,"Aku malu sekali suster, tiap kali aku memandang diriku di cermin aku merasa seperti perempuan yang sangat tidak berharga."

Suster Sunny menepuk pundak Sungmin lembut, menenangkannya,

"Sungmin, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya, pengorbananmu demi Donghae sudah luar biasa besarnya, aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional,

"Sungmin aku yakin, Tuan Cho ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah kemarin dia menggunakan pengaman?",

Sungmin memandang Suster Sunny dengan bodoh,

"Pengaman?"

Barulah ketika Suster Sungmin menatapnya dengan intens dan penuh arti, Sungmin menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,

"Oh, itu...", suara Sungmin hilang, "kemarin dia memakainya"

Suster Sunny berdehem,

"Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu sayang?",

"Eh, aku baik-baik saja Suster"

"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini dengan Tuan Kyuhyun "

-KyuMin-

Sungmin meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan.

Kondisi Donghae baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Sungmin hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan,

Dengan ragu, Sungmin memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Sungmin menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.

Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,

Sungmin mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega.

Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur,

"Baunya enak sekali"

Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga Sungmin hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,

Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Kyuhyun bersandar di sana, mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,

"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.

Kyuhyun melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Sungmin, dia berdiri dekat di belakang Sungmin, lalu menengok penggorengan,

"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Sungmin.

"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Sungmin berusaha bertingkah wajar,

"Seperti omelet?", kali ini Kyuhyun tampak benar-benar tertarik,

"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana" Sungmin menjawab sambil melirik ke ekspresi Kyuhyun, baru sekarang Sungmin sadar, ternyata lelaki ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.

"Buatkan aku satu ya"

Sungmin menoleh mendengar permintaan Kyuhyun,

"Memangnya kamu mau?", tanyanya ragu.

Lelaki itu mengangkat bahunya,

"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat kondisimu."

Dasar perayu ulung, Sungmin memaki dalam hati, orang seperti Kyuhyun tidak segan-segan memanipulasi pikiran perempuan agar mau melakukan apapun yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!

Kyuhyun masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Kyuhyun memang jauh lebih tinggi dibanding Sungmin, tiba-tiba saja, tangan lelaki itu ,mencengkeram pundak Sungmin mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Sungmin dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Sungmin bagaikan diestrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Kyuhyun pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Sungmin di dapur, yang mencoba menetralkan nafasnya.

-KyuMin-

Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Sungmin tidak bisa berkonsentrasi pada makanannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Kyuhyun.

Ternyata Kyuhyun suka masakan biasa, dari penampilan dan gayanya, kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas atas, tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet sederhana.

"Kenapa?", Kyuhyun tiba-tiba menatap tajam setelah suapan terahkirnya, dia merasakan tatapan Sungmin selama dia makan,

Sungmin langsung menundukkan kepalanya gugup,

"Eh...tidak, tidak apa-apa."

Kyuhyun tersenyum,

"Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?",

Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia min, kita tidak ada bedanya, kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa manusia yang satu berbeda dengan yang lain",

Kyuhyun mengangkat bahunya, "kuakui memang aku menyukai makanan berkualitas dan bercitarasa tinggi, tapi kadangkala, aku bosan, masakan sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat",

Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja minuman, dan menyesapnya ringan.

"Dan suka minum kopi", Tanpa sadar Sungmin mengomentari kebiasaan Kyuhyun, sejak kemarin, diamatinya Kyuhyun selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.

Lelaki itu tertawa mendengar komentar Sungmin,

"Ya, kopi berkualiatas juga", gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Sungmin menunduk, entah kenapa Kyuhyun yang santai dan ramah ini lebih membuatnya merasa nyaman, dibandingkan Kyuhyun yang kaku dan dingin di kantor,

"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang musti kubereskan. Sungmin segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Kyuhyun membuat secangkir kopi lagi, sekaligus secangkir teh untuk Sungmin,dan membawanya ke ruang baca,

Dengan enggan Sungmin menyusul ke ruang baca, Kyuhyun sedang duduk di sofa, menghadap notebooknya dan tampak Serius, dia hanya melihat sekilas pada Sungmin,

"Duduklah, minum tehmu", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap notebooknya.

Sungmin sebenarnya mengantuk, tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar duluan, apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu, Sungmin tidak tahu, apakah Kyuhyun akan menginap ataupun pulang, dia sama sekali tidak mengatakan rencananya.

Sungmin menghirup tehnya, lalu duduk di sofa di seberang Kyuhyun, dia mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa.

Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.

-KyuMin-

Sungmin merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat, dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia membuka matanya yang berat, dia menyadari Kyuhyun sedang menggendongnya ke kamar, lelaki itu tak menyadari Sungmin membuka matanya, dengan langkah pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar,

Sungmin langsung pura-pura memejamkan matanya lagi begitu Kyuhyun dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.

Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Sungmin masih belum berani membuka matanya, Apakah Kyuhyun memutuskan pulang atau tinggal?

Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya, ternyata lelaki itu menginap disini, Sungmin menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu menyelinap di balik selimut,

Kemudian, tubuh hangat Kyuhyun mendekat dan merengkuh Sungmin dari belakang, Pertama kali Sungmin merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya hangat ditengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.

-KyuMin-

Sungmin terbangun dengan rasa haus yang amat sangat, biasanya sebelum tidur dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya.

Dengan tak nyaman dia bergerak gerak gelisah,

"Ada apa min?", sosok yang memeluknya dari belakang bertanya, suaranya sangat segar,

Tidakkah dia tidur? Gumam Sungmin dalam hati,

"Haus", ahkirnya Sungmin bisa bersuara meskipun parau.

Kyuhyun langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja minum, lalu mengitari ranjang berdiri di samping sisi Sungmin terbaring, lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan telanjang dada,

"Duduklah, minum."

Dengan pelan Sungmin duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih setengah minuman tersisa, Kyuhyun mengambil gelas itu,

"Apakah kau sudah bangun?", Sungmin mengernyit karena suara Kyuhyun sekarang menjadi parau.

Dengan masih bingung dia menganggukkan kepalanya,

"Bagus", Kyuhyun menenggak sisa air putih di gelas Sungmin sampai tandas lalu setengah membantingnya di meja samping ranjang.

Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Sungmin hingga terbaring di ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Sungmin, dan mata birunya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak hitam, di tengah-tengah mata birunya.

Sungmin agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Kyuhyun yang sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika kemudian Kyuhyun mengecup bibirnya dengan sangat intim, semula hanya ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Sungmin panas dingin karena begitu ahlinya Kyuhyun.

Menggerakkan bibirnya, Setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Kyuhyun mengangkat wajahnya dan tersenyum,Sungmin bisa merasakannya karena bibir Kyuhyun hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya,

"Kau tidak biasa berciuman ya?"

Sungmin memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pertanyaan blak-blakan itu, tapi Kyuhyun meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka lagi,

"Tirulah apa yang kulakukan padamu", bibir Kyuhyun bergerak di bibir Sungmin, dan ketika Sungmin mengikutinya, Kyuhyun mengerang senang, "ya...ya bagus, begitu...tidak,,,jangan gigit...bagus...bagus...buka mulutmu...ah sayang...",

Kyuhyun terus memberikan instruksi di sela sela ciumannya yang makin panas dan bergairah, dan Sungmin menurutinya, lebih dikarenakan ingin tahu, ketika Kyuhyun membuka mulutnya Sungmin mengikutinya,ketika lumatan Kyuhyun makin dalam dan belaian lidahnya membelai Sungmin dengan ahli, Sungmin mengikutinya dengan tersendat-sendat, meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi Kyuhyun karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya, ciuman dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak akan berahkir, Sungmin bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman bisa dilakukan dengan sedalam dan seintim itu!

Lama kemudian kyuhyun mengangkat kepalanya, hanya sedikit seolah olah ingin tetap berdekatan dengan Sungmin, matanya tampak berkabut dan napasnya terasa bergemuruh di dadanya,

"Itu tadi yang namanya french kiss...",gumamnya lembut, lalu tangannya mulai bergerak dengan ahli membuat Sungmin melengkungkan punggungnya merasakan sengatan kenikmatan yang tidak diantisipasinya,

Tubuh telanjang mereka berdua bergesekan. Dengan lembut Kyuhyun mengajari Sungmin bagaimana cara menyentuhnya, bagaimana cara memuaskannya. Lelaki itu suka disentuh dimana-mana, dia akan mengeluarkan erangan pendek tertahan ketika Sungmin menyentuhnya.

Dan itu mempesona Sungmin, seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan seperti Kyuhyun, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut Sungmin menyusuri bagian dalam lengan Kyuhyun yang kekar, membuat napas Kyuhyun terengah,

"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan", bisik Kyuhyun Serak, lalu melumat bibir Sungmin penuh gairah, "Dan aku akan mati bahagia", desahnya.

Kyuhyun menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Sungmin, dan ketika dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.

"Bagus sayang, jangan ditahan, aku akan mengajarimu...ah...kau begitu hangat dan siap untukku..."

Suara Kyuhyun tenggelam di sela sela cumbuannya yang sangat ahli, menghanyutkan Sungmin kedalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Dan ketika Kyuhyun membuat Sungmin mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam, mengejar kenikmatannya sendiri.

.

.

.

TBC