Hai…
Yume balik lagi dengan chapter lanjutan dari A mysterious Blondie….
Yume harap, teman-teman sekalian masih suka dengan fic ini. Yah, akhirnya semangat Yume kembali untuk mengetik fic. Meskipun saat ini Yume masih sibuk dengan yang namanya mid-test, tapi tangan ini gak tahan kalau gak buat fic….
Yah, gak usah berpanjang lebar inilah fic Yume…
Naruto by Masashi Kishimoto
A Mysterious Blondie by YumeYume-chan
Chapter 3
Marriage
"Itachi-san, mengapa anda memberi Sasuke izin untuk menikah begitu saja?" tanya Neji ketika mereka berada di dalam kantor Itachi.
Itachi tersenyum ramah menyambut Neji. "Mau bagaimana lagi, baru kali ini aku melihat Sasuke begitu tertarik pada sesuatu," ujarnya santai.
"Tapi seharusnya anda mencari tahu dulu siapa yang akan dinikahi Sasuke, bukan?" tanya Neji lagi.
"Tenang saja, aku sudah tahu siapa yang akan menjadi adik iparku. Aku rasa dia akan cocok dengan Sasuke," sahut Itachi lagi.
"Kalau begitu apa anda tahu yang akan dinikahinya adalah seorang PEMUDA yang baru saja ia CULIK sekitar 2 jam yang lalu?" tanya Gaara dengan menekankan pada kata 'Pemuda' dan 'culik'.
Itachi menatap Gaara dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu ia berkata, "aku tahu itu Sabaku-san. Uzumaki Naruto, anak dari almarhum Namikaze Minato dan Namikaze Kushina yang meninggal 16 tahun yang lalu."
"Sasuke telah melakukan tindakan kriminal dengan menculik Naruto, sepupuku, dan memaksanya untuk menikah. Sebagai seorang kakak, anda seharusnya tidak membiarkan masalah ini terjadi. Di mana tanggung jawab anda sebagai seorang kakak, Uchiha-san?" tanya Gaara kesal.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku tahu semuanya? Selama hal itu membahagiakan Sasuke, maka apapun akan aku berikan," tutur Itachi tajam.
Gaara berjengit mendengar ucapan Itachi. "Anda telah melakukan kesalahan besar kalau begitu. Seharusnya anda bisa mendidiknya lebih baik Uchiha-san. Saya harap anda segera menghubungi Sasuke dan memintanya untuk kembali ke sini bersama Naruto."
"Gaara," panggil Neji yang sedari tadi diam saja melihat perdebatan antara sulung Uchiha dan si bungsu Sabaku ini.
"Ah, kalau begitu aku minta maaf Sabaku-san. Mungkin ini akan membuatku menjadi penjahat di matamu," kata Itachi, "tapi, APAPUN AKAN AKU LAKUKAN UNTUK KEBAHAGIAAN SASUKE. Jika dia bahagia bersama dengan Naruto, maka aku akan berada di baris depan untuk melindunginya dari orang-orang yang akan merebut kebahagiaannya."
Gaara maju selangkah mendengar pernyataan Itachi,"kalau begitu anda telah memancing peperangan antar klan Uchiha-san. Anda tentu tahu bahwa Naruto berasal dari klan Namikaze dan Uzumaki, ditambah aku dari klan Sabaku, pernyataan perang ini andalah yang telah mengucapkan. Saya permisi."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Gaara segera berbalik menuju pintu hendak meninggalkan ruangan Itachi. Namun langkahnya dihentikan oleh kalimat yang keluar dari bibir Itachi. "Jangan pikir aku tidak tahu, Namikaze dan Uzumaki sudah terlibat 'perang' sedari dulu, bahkan sebelum Naruto lahir ke dunia ini. Jadi, bagaimana mungkin kalian akan bersatu melawanku? Meski Uchiha sendiri, tetapi kami tidak akan bisa ditaklukkan oleh klan yang bahkan tidak bisa akur meski telah memiliki keturunan dari darah mereka."
"Setiap kerajaan akan dipimpin oleh seorang raja selama kurun waktu tertentu. Dan ketika tiba saatnya sang raja mangkat, sudah seharusnya ia akan mencari calon raja yang baru," ujar Gaara lalu ia benar-benar meninggalkan ruangan Itachi. Meninggalkan Neji yang masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Ah, maaf Itachi-san, saya permisi dulu," kata Neji cepat saat sadar Gaara sudah meninggalakan dirinya.
Neji mengejar Gaara yang terus berjalan tanpa menunggu dirinya. Saat akhirnya ia dapat menahan langkah Gaara, ia sadar Gaara sedang marah saat ini. Suatu hal yang sangat jarang terjadi, karena Gaara adalah tipe orang yang amat sangat tenang.
"Sebenarnya ada apa dengan Naruto? Apa maksudnya perang antar klan?" tanya Neji.
Gaara menundukkan kepalanya, berusaha menetralisir amarah yang menguasai dirinya agar tidak sampai menumpahkannya pada Neji. "Aku butuh ice cappuccino," katanya.
"Baiklah. Kita bicarakan ini di tempat biasa," ujar Neji dengan senyum maklum, lalu ia menggandeng Gaara menuju mobilnya.
Selama dalam perjalanan Gaara hanya diam dan terus menatap ke jalanan. Ia seperti sedang melamunkan sesuatu, namun Neji tidak ingin mengusik lamunan Gaara hingga mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
"Jadi, apa kau sudah bisa menceritakan masa lalu Naruto?" tanya Neji.
Gaara menatap jalanan dari dalam kafe, lalu ia mulai bercerita. "Namikaze dan Uzumaki, adalah perusahaan yang telah saling bersaing sejak awal mereka dibentuk. Kata kaasan, perseteruan itu dimulai karena klan Uzumaki, klan kaasan sebelum menikah dengan tousan, mengingkari janjinya untuk membentuk sebuah perusahaan dengan menikahkan seorang gadis yang merupakan leluhurku dulu dengan pemuda dari klan Namikaze yang jatuh cinta pada gadis tersebut. Saat itu gadis leluhur Uzumaki telah memiliki seorang tunangan, sehingga Uzumaki terpaksa menolak lamaran Namikaze. Dan perpecahan itu pun berlangsung hingga sekarang. Menurutmu, siapa yang bersalah? Namikaze, atau Uzumaki?"
"Gaara," kata Neji yang tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendiri tidak tahu siapa yang salah? Pemuda Namikaze yang jatuh cinta, atau gadis uzumaki yang telah mencintai orang lain? Tidak, mereka berdua tidak bersalah. Mungkin yang salah adalah harga diri mereka yang terlampau tinggi sehingga tidak berfikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan jalan damai. Namun semua itu sudah berlalu, apapun yang mereka suarakan tak akan mengubah fakta bahwa sampai saat ini, Namikaze dan Uzumaki tetap berperang. Yang bisa ia lakukan hanya menggenggam tangan Gaara, mencoba untuk memberi dukungan tanpa suara. Meyakinkan Gaara bahwa dia ada bersama Gaara.
"Minato-san dan Kushina-san, mereka bertemu pertama kali saat mereka kuliah. Mereka berdua adalah orang yang berpikir untuk menghentikan peperangan klan yang sudah diwarnai dengan kegelapan dari dunia hitam, dunia bawah tanah yang menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan secara politik oleh dunia atas. Kesamaan pemikiran itulah yang menyebabkan hubungan mereka semakin mendekat dan akhirnya memutuskan untuk kawin lari, meninggalkan keluarga masing-masing karena hubungan yang mereka harapkan dapat mendamaikan kedua klan ternyata ditentang begitu keras." Gaara mengambil jeda sejenak sebleum mulai melanjutkan,"bahkan setelah Naruto lahir, mereka tetap tidak diterima. Dan fatalnya, mereka berdua tewas dalam kecelakaan yang kaasan yakini adalah hasil sabotase salah satu klan. Untungnya saat itu Naruto yang belum genap setahun, dititipkan pada Yamanaka-san. Sepupu Namikaze-san yang memilih untuk meninggalkan klan Namikaze. Dan sejak saat itu, ia dirawat bersama Ino-san anak perempuan Yamanaka-san hingga kini."
Mereka berdua terdiam sejenak hingga Gaara kembali bercerita,"Namikaze dan Uzumaki, kini sedang mencari penerus perusahaan, dan Naruto adalah kandidat utama mereka karena kedua klan tersebut tidak lagi memiliki pewaris lain. Semuanya telah memilih untuk meninggalkan klan tersebut. Mungkin karena mereka sudah bosan hidup dalam peperangan bodoh."
"Bukankah itu bagus? Itu berarti Naruto akan segera diakui oleh mereka bukan?" tanya Neji.
"Memang bagus," kata Gaara seraya tersenyum kecut. "Bagus, jika mereka tidak pernah mencoba untuk melukai Naruto. Tidak, mereka tidak hanya mencoba untuk melukai, tetapi mereka juga telah mencoba untuk membunuhnya, menghancurkan mentalnya di usianya yang seharusnya ia gunakan untuk bersenang-senang, merasakan kasih sayang orang tua!"
"Gaara," panggil Neji lagi.
"Aku telah berjanji di depan kaasan yang sekarat, aku akan melindungi Naruto dari Namikaze, maupun Uzumaki. Tidak akan aku biarkan anak dari adik kesayangan kaasan menderita lebih jauh lagi," kata Gaara lirih.
"Tapi, kau tidak begitu mengenal Naruto, bagaimana kau akan melindunginya? Lagipula ada Sasuke bersamanya, aku yakin Sasuke mampu menjaganya," ujar Neji mencoba menenangkan Gaara.
"Jangan pikir aku tidak mengenal Uchiha Sasuke, Neji. Kau, aku, sudah mengenalnya sejak SMP. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan Naruto pada manusia egois dan pemaksa seperti dia?" balas Gaara tajam.
Neji membisu sejenak sebelum menjawab Gaara. "Tapi dengan begini, kita sudah lebih dekat dengan Naruto, bukan? Jadi kita bisa memikirkan rencana selanjutnya nanti."
"Tampaknya begitu."
Sementara itu di New York…..
"Maafkan saya tuan Uchiha, tetapi saya tidak mungkin menikahkan kalian," kata pendeta di gereja yang didatangi oleh Sasuke.
"Aku tidak peduli, aku harus menikah dengannya sekarang juga," perintah Sasuke.
"Masalahnya kalian berdua masih di bawah umur. Selain itu, aku tidak mungkin menikahkan kalian bila pasangan anda pingsan. Pernikahan ini adalah pemaksaan kalau begitu," terang si pendeta.
Sasuke mengernyit marah mendengar penjelasan si pendeta. "Lakukan atau gereja ini aku hancurkan? Kau tentu tahu siapa yang membangun gereja ini, dan bagaimana nasib anak-anak yang tinggal di sini bila gereja ini aku hancurkan, bukan?" ancamnya.
Sang pendeta hanya bisa tertunduk pasrah, dan akhirnya menikahkan Sasuke dan Naruto yang masih pingsan akibat obat bius yang diberikan Sasuke saat ia mulai sadar di pesawat. Setelah upacara pernikahan sederhana dan singkat yang hanya di saksikan oleh beberapa bodyguard keluarga Uchiha itu, Sasuke membawa Naruto ke salah satu apartemen milik Uchiha.
Malam menjelang, Naruto membuka matanyan perlahan. Kepalanya terasa berat sekali, ditambah lagi ia belum makan apapun seharian ini. Saat pandangannya mulai jelas, yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit kamar yang terkesan mewah. Ia memaksakan diri untuk bangun dan memperhatikan bahwa ia sedang berada di kamar yang sangat mewah. Satu kesimpulan muncul di benaknya,"Dasar uchiha sialan! Aku pasti sudah mati terkena serangan jantung gara-gara ucapannya tadi! Awas saja kau, aku akan menghantuimu dan membuatmu mati dengan cara yang sama!"
'kruyuk….'
"Aduh, aku lapar," keluhnya sambil memegangi perutnya yang keroncongan. Dan saat itulah ia mencium aroma yang sangat dikenalnya, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dan akhirnya ia mendapati semangkuk besar makanan kesukaannya, ramen.
"Yay, ada ramen! Tuhan memang masih sayang padaku," serunya, lalu mulai melahap ramen tersebut. "Tapi kok rasanya beda dengan milik paman Teuchi ya? Ah, sudahlah," katanya dan meneruskan menikmati ramen tersebut sampai habis. Puas, menikmati ramen tersebut ia pun mulai berbaring lagi. Tak ia sadari sepasang mata hitam milik Sasuke terus mengawasinya dari arah kamar mandi. Sasuke tersenyum kecil melihat Naruto yang tampaknya begitu bahagia mendapati makanan kesukaannya tersebut. Melihat Naruto yang akan tidur lagi, ia memutuskan untuk keluar.
"Kau sudah sadar dobe?" tanya Sasuke.
Naruto tersentak kaget mendengar suara dingin dan panggilan yang sudah ia hafal itu. "Kau?" serunya marah, "jangan-jangan kau membuat kita mati bersama ya? Kau membunuhku, lalu bunuh diri? Apa kau sudah gila? Dasar Uchiha sialan!"
"Apa kau tidak bisa mencari kesimpulan lain selain menghubungkan segala sesuatunya dengan kematian, dasar dobe," kata Sasuke.
"Beraninya kau memanggilku dobe, dasar teme brengsek!" seru Naruto lalu segera melangkah kea rah Sasuke dengan tangan terkepal. Namun, belum sampai semeter berjalan ia sudah jatuh terjerembab. Dan bunyi gemerincing pun terdengar. Mata Naruto membulat saat menyadarinya,"lepaskan rantai ini brengsek!"
Mengabaikan teriakan Naruto, Sasuke mengambil sesuatu di lemari lalu duduk di sofa dan menatap Naruto datar. "Aku hanya akan mengucapkannya sekali, jadi dengarkan baik-baik," katanya memulai pembicaraan, "mulai saat ini, kau bukan lagi seorang Uzumaki tetapi seorang Uchiha. Kau tidak akan pernah kembali pada keluarga Yamanaka, tetapi untuk seterusnya akan tinggal di kediaman Uchiha."
"Che. Kau pikir aku sudi tinggal bersamamu? Apalagi memakai nama Uchiha, selamanya aku adalah Uzumaki Naruto! Kau dengar?" bentak Naruto,"lagi pula atas alasan apa aku harus memakai nama Uchiha dan tinggal bersamamu?"
Bukannya menjawab, Sasuke malah melemparkan map yang tadi ia ambil di lemari lalu berkata,"bacalah."
Ogah-ogahan Naruto akhirnya mengambil map tersebut dan membacanya. Matanya kembali membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia baca. Dia dan Sasuke sudah menikah? Me….ni….kah? Me-ni-kah? Sekali lagi MENIKAH?
"WHAT THE HELL YOU MEAN WITH THIS F**KING S*IT?" umpat Naruto lalu meremas map tersebut. "Aku sama sekali tidak ingat pernah menikah denganmu, ke gereja pun aku tidak ingat. Lagi pula aku ini masih normal dan berpikiran waras untuk tidak menikah dengan orang gila sepertimu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Naruto langsung merobek map tersebut.
"Itu hanya fotokopi. Berkas aslinya sudah ku simpan baik-baik. Setelah membacanya kau tentu sudah paham maksud kata-kataku tadi," ujar Sasuke datar dan tenang. Ia mencoba untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya. Kemarahan yang timbul akibat reaksi Naruto yang menunjukkan betapa bencinya ia pada Sasuke.
"Aku tidak peduli pada kata-kata sialanmu itu. Cepat lepaskan aku dan lawan aku secara adil dasar pecundang Uchiha!" seru Naruto kesal.
Sasuke mengernyit mendengar ucapan Naruto, "kau bilang apa?" tanyanya memastikan pendengarannya tidak salah.
Gantian Naruto yang mengernyit jengkel, lalu setelah menarik nafas sejenak ia berteriak penuh amarah pada Sasuke,"AKU BILANG LEPASKAN AKU DAN LAWAN AKU SECARA JANTAN DASAR PECUNDANG UCHIHA! PENGECUT, BANCI! TIDAK NORMAL! KAU DENGAR?"
Amarah sepenuhnya telah menguasai Sasuke, tidak pernah ia merasa dilecehkan seperti ini. Dengan segera ia berjalan ke arah Naruto dan langsung melayangkan satu tinju ke arah wajah Naruto dan langsung menendang perutnya. Darah segar yang mengalir di sudut bibir Naruto tak dipedulikan Sasuke, ia pun menulikan diri dari rintihan kesakitan Naruto. Ia memabnting Naruto kembali ke atas ranjang king sizenya lalu kembali merantai kedua tangan Naruto di kedua sisi tempat tidur dan kaki Naruto yang bebas di sisi tempat tidur yang lain.
"Brengsek, mau apa ka-?" ucapan Naruto terhenti saat melihat mata Sasuke yang tadinya hitam berubah merah.
'Naruto, jangan sampai kau membuat seorang Uchiha murka. Karena kalau sampai mereka murka dan mata iblis mereka muncul, bahkan membunuh pun mereka sanggup. Yang saat ini bisa mengendalikannya hanya si Uchiha sulung, Itachi. Ingat itu baik-baik.'
Suara Ino yang pernah mengingatkannya langsung terngiang di pikirannya. Ia benar-benar lupa dengan peringatn tersebut. Napasnya mulai sesak saat ia menyadari bahwa Sasuke sedng mencekiknya.
'Sial, apa aku akan mati di sini?' batin Naruto. Namun semua pikiran itu sirna saat ia mendengar suara desisan Sasuke di telinganya,"mari kita buktikan, apakah aku ini seorang pecundang atau bukan?"
Naruto merinding mendengar ucapan tersebut. Firasat buruk segera saja menghantuinya, dan firasat tersebut benar adanya.
"Dobe, bangun! Aku bawakan sarapanmu," panggil Sasuke pada sosok yang masih bergelung di tempat tidur. Namun sosok bernama Naruto tersebut tidak bergeming dari tempatnya. Bahkan merespon pun tidak.
Sasuke pun memaksa menarik selimut yang menutupi tubuh Naruto. Matanya membulat saat tidak mendapati Naruto di tempat tidur. Dengan segera ia berlari ke kamar mandi untuk mencari Naruto.
Prang! Bruk!
"Naruto?" Sasuke membuka paksa kamar mandi dan mendapati Naruto sedang meninju cermin yang telah hancur. Tangannya berlumuran darah, tubuhnya yang hanya ditutupi selembar handuk tampak lecet yang diyakini Sasuke karena Naruto menggosok badannya terlalu keras.
"Naruto?" panggil Sasuke lagi. Naruto kemudian berhenti meninju cermin yang telah hancur tersebut. Dengan langkah terseok ia berjalan ke arah Sasuke. "Tidak akan ku maafkan, tidak akan pernah aku maafkan!' desis Naruto menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya bagaikan mengulang sebuah mantera.
'Sial, tahu begini aku tidak akan melepaskan rantainya semalam,' batin Sasuke panic melihat Naruto yang melangkah terseok-seok dan dengan tangan berlumuran darah.
Sampai di depan Sasuke, Naruto segera mengarahkan tinjunya ke arah Sasuke. Namun belum sempat tinjunya bersarang di wajah Sasuke, ia telah ambruk lebih dulu. Dengan tangkas Sasuke menangkap tubuh Naruto. Namun kepanikannya semakin bertambah saat ia merasakan tubuh Naruto sedingin es.
"Sial!" rutuk Sasuke entah pada siapa. Ia mengangkat tubuh Naruto kembali ke ranjang, mengeringkan tubuhnya, memakaikannya baju, dan segera menutupinya dengan selimut, berusaha menghangatkannya. Lalu dia mengambil kotak P3K dan mengobati luka di tangan Naruto.
Beberapa jam berlalu, Naruto akhirnya menggeliat tidak nyaman, tubuhnya berkeringat, wajahnya merah, dan ia meracau tidak jelas.
"One-chama, bukan aku yang membunuh Haha dan chichieu. Bukan, bukan aku! Arrgh…. Lepaskan aku! Bukan aku, hiks….. bukan aku….hiks…. one-chama, di mana? Kenapa semuanya meninggalkan aku? ARRGH!" Naruto berteriak kesakitan lalu setelah itu sesak napas hingga membuat Sasuke panic bukan kepalang. Dengan segera ia menelepon ambulans dan membawa Naruto ke rumah sakit. Di rumah sakit pun, Naruto tidak berhenti berontak, ia seolah ketakutan dan terus memanggil 'one-chama'. Dokter di rumah sakit memutuskan untuk mengikat Naruto karena terus berontak.
"Tuan Uchiha, bolehkah saya bertanya mengenai masalah pribadi anda?" tanya sang dokter.
"Hn."
"Apakah anda telah memaksanya berhubungan dengan anda?" tanya dokter itu lagi.
"Bukan urusan anda," jawab Sasuke dingin.
Sang dokter hanya bisa menarik napas sabar,"maaf kalau saya mencampuri urusan pribadi keluarga anda. Saya hanya ingin member tahu bahwa keadaan suami anda saat ini adalah karena syok yang hebat. Sebaiknya anda mencari orang lain untuk menjaganya karena bila dia sadar nanti, saya khawatir dia akan mengamuk bila melihat anda."
Setelah mengatakan hal tersebut, sang dokter pun meninggalkan Sasuke yang masih terpaku pada kamar Naruto.
"Shika, siapa yang dimaksud 'One-chama' oleh Naruto?" tanya Sasuke begitu Shikamaru menjawab teleponnya.
Shikamaru menguap sejenak sebelum menjawab Sasuke,"kh, kau pikir di sini jam berapa hah? Yamanaka Ino." Terdengar suara tut putus-putus pertaada Shikamaru sudah menutup teleponnya.
Tidak menunggu waktu lama, Sasuke segera menghubungi Ino.
"Halo, Yamanaka Ino di sini, ini siapa?" tanya Ino.
"Sebentar lagi kau akan dijemput oleh anak buahku. Sebaiknya kau siap-siap, ini ada hubungannya dengan Naruto," kata Sasuke singkat.
"Apa?" teriak Ino.
Namun Sasuke sudah menutup teleponnya lebih dulu.
Beberapa jam Sasuke terus duduk di samping Naruto yang terus meronta walaupun tubuhnya diikat. Matanya masih terpejam, nafasnya memburu dan keringat dingin terus saja mengaliri wajahnya. Bibirnya tidak henti-hentinya memanggil 'one-chama' dan terkadang ia juga berteriak. Yang bisa dilakukan Sasuke adalah mengelap keringat di wajah Naruto.
Brak!
Pintu dibuka dengan brutal oleh Yamanaka Ino, wajahnya jelas sekali menunjukkan kekhawatiran. "Naruto!" serunya, lalu berjalan ke arah Naruto.
'Plak!'
Satu tamparan keras mendarat di pipi Sasuke. "Kau. Brengsek!" maki Ino tidak peduli pada marga Uchiha yang disandang Sasuke,"lepaskan Naruto! kau sudah menang Uchiha, sekarang lepaskan Naruto!"
"Tidak bisa," jawab Sasuke datar.
"Apa belum puas kau menyakitinya? dia sudah masuk rumah sakit bahkan sampai seperti ini, dan kau masih belum puas juga?" seru Ino.
"Sekarang dia adalah Uchiha, kau, Yamanaka, tidak perlu mengurusinya lagi." Sasuke pun pergi setelah mengucapkan hal tersebut. Untuk sejenak Ino tertegun mendengar kalimat Sasuke, namun berikutnya ia paham saat melihat kalung dengan bandul prisma biru milik Naruto kini mendapatkan teman sebuah cincin emas putih.
"Brengsek kau Uchiha!" desis Ino.
Sekitar 1 jam lebih Ino menemani Naruto, akhirnya Naruto mulai berhenti berontak dan keadaannya pun mulai tenang, dan ikatannya telah dilepas. Ino meninggalkan kamar Naruto dengan wajah sembab. Ia hanya pernah mendapati Naruto seperti ini saat ia dan Naruto masih kelas 3 SD. Saat mimpi buruk itu datang menghancurkan kebahagiaan Naruto yang masih sangat belia.
Ino mendapati Sasuke masih duduk di luar kamar Naruto. Tampaknya ia masih menunggui Naruto, padahal ini sudah jam 3 pagi. "Pulanglah, keadaannya sudah membaik,' kata Ino pada Sasuke.
"Kau tidak punya hak untuk memerintahku," kata Sasuke datar.
Ino menyandarkan dirinya pada pintu kamar Naruto, kapalanya menunduk ke lantai, "atas dasar apa kau melakukan ini semua? Membawanya pergi, menjadikannya seorang Uchiha, menunggunya tanpa tidur, apa alasanmu?"
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke singkat.
"Lepaskan dia. Jangan menyakitinya lagi, kalau memang kau mencintainya lepaskan dia. Dia terlalu banyak menanggung luka seumur hidupnya. Jangan tambah lagi, aku mohon," isak Ino.
"Jam 9 besok pagi, kau akan kembali ke Konoha," kata Sasuke lalu meninggalkan Ino.
Pagi menjelang, sinar cahaya mentari menyelinap ke sebuah ruangan serba putih yang cukup luas. Seorang pemuda berambut pirang membuka matanya, memaksakan diri untuk duduk, sejenak memperhatikan seluruh ruangan dan kembali menatap kosong ke arah jendela kamar rumah sakit. Suara pintu dibuka tak ia hiraukan, hingga suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.
"Naruto, aku membawakan sarapanmu, tapi kau tidak boleh protes dengan bubur rumah sakit, setelah sembuh aku akan mentraktirmu makan ramen di tempat paman Teuchi. Oke?" Ino menyapa Naruto dengan seriang mungkin.
"Ino," panggil Naruto.
"Ada apa Naruto?" tanya Ino.
"Ino," panggil Naruto lagi. Kini ia bangun dari tempat tidur dan melepas infuse yang terpasang di tangan kanannya. Berjalan perlahan mendekati Ino, Naruto hanya menyebut satu nama.
"Ino."
"Naru-" ucapan Ino terputus karena perbuatan Naruto yang tiba-tiba saja memeluknya erat.
"Suka Ino," bisik Naruto di telinga Ino.
"Naru-"
"Hanya suka padamu. Hanya kamu. Hanya Ino saja," dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya hendak mencium Ino. Dan tangannya mencoba melepaskan pakaian Ino.
Plak!
Yamanaka Ino, pertama kalinya dalam hidupnya ia menampar Naruto. "Na…Naruto, ma…maaf a…aku tadi…aku," kata Ino tidak jelas. Ia benar-benar panic hingga tanpa sengaja menampar Naruto.
"Pergilah," suara dingin Naruto membungkam semua penjelasan Ino. "pergi, dan jangan pernah kembali."
Ino menatap tidak percaya pada Naruto. Ia, baru saja diusir oleh Naruto, tidak pernah ia bayangkan Naruto akan bersikap dingin padanya, apalagi mengusirnya. "Naruto, aku-"
"Pergi, atau kau akan menyesal seumur hidup. Bagaimanapun juga aku ini laki-laki, kau tidak akan bisa menang melawanku," kata Naruto dingin.
Ino benar-benar merasa bingung sekarang. Jika dia pergi, dia tidak akan pernah tahu kapan ia bisa bersama Naruto seperti dulu lagi, tapi bila tidak, kejadian tadi bisa saja terulang. "Naruto, maaf!" Ino berlari meninggalkan Naruto, air mata membanjiri wajahnya.
'Pergilah Ino, jangan sampai keputus-asaanku membawamu ke dalam lubang kehancuran. Aku mencintaimu, dan aku tidak ingin menghancurkanmu. Selamat tinggal, Ino.'
"Ada apa, Neji?" tanya Sasuke saat menjawab teleponnya.
"Sasuke, sebaiknya kau segera membawa Naruto pulang," suara Gaara yang terdengar di seberang telepon.
"Gaara?" kata Sasuke.
"Namikaze dan Uzumaki sedang memperebutkan Naruto. Dan aku yakin mereka akan menggunakan segala cara yang mungkin bisa melukai Naruto."
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak mengerti.
"Penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Naruto."
TBC
Vipris, sizunT hanabi dan ziacchi love sasunaru : ni udah update…..
Vanadise : alurnya kecepatan ya? Mudah2an yang ini udah nggak… XD
Sabaku uchiha kyuumaru: Yume kan harus kuliah juga….
CCloveRuki : *yang jawab Sasuke* : siapa cepat dia dapat…
Namikaze Hanaan : hahahaha… nih udah update…
Moga puas ya?
ElsNaru : fufufufufu silahkan datang ke pernikahan mereka gratissssss…..
Hikarii Hana : jawabannya udah tahu kan?
mommiji aki :kalau baca chap di atas pasti tahu jawabannya….
rhie chan no midori :Gaara anaknya Karura yang masih saudaranya Kushina…. Ino adalah anak dari saudaranya Minato…
jadi mereka semua tuh sepupuan….
Err, penjelasan yume jelas gak?
sasunaru's lover "Hima-chan makasih buat sarannya ya? Jangan lupa kasi kritik n saran lagi….
namikaze-hana "dendam banget ya ama naru-chan?
Maaf ya, kayaknya di chap ini yume nyakitin Naru-chan….
Hyuzura Namikaze Hyuuga "moga udah gak penasaran….
Uzumaki Winda :syukurlah lau gitu….
Susah juga buat jadiin Naruto gak girly….
: hahahaha, yang penting udah review…
Makasih ya?
Fi suki suki : hahahahahaha, bias ngeayanginnya koq…
Terharu deh hiks…. Ada yang hiks… suka fic Yume….. T.T *nangis Haru*
Lyra du Reccif :special buat Zuka aka Lyra: MANA UTANG LANJUTAN FICNYA HAH? *PEGANG BALOK* STORY OF SNOW DAN SEME VS UKE? Yume penasaran Tahu…..
Shinki PrimoVongola : okeh. Udah update nih…
Buat yang udah review salam kenal ya? XDD
jangan lupa review lagi...
