#13 : ngidol
"Oi, lu tau grup idol yang lagi populer di Jepang sekarang?" Tanya Rook suatu hari pada Muyo ketika dia bertandang ke rumah sang otaku. Niatnya sih ingin menguji pengetahuan Muyo tentang dunia idol masa kini.
"AKB49." Muyo masih memainkan PS Vita-nya.
"Lu pernah ngidolin mereka gak Muy?" Muyo pun menjawab dengan sejuta bangga,
"Gue cuma cinta dua dimensi."
Muyo masih asyik meneruskan permainannya, sementara Rook nepok jidat, lupa akan fakta yang satu itu.
#14 : surat cinta
"Surat cinta dari siapa Gum?! Wah brengsek lo!" Rinto meninju pelan bahu Gumiya. Iri tau gak gaes ngeliat temen lu dapet surat cinta, sementara elu dapetnya surat tagihan PDAM saking kerenya.
Gumiya cuma cengengesan sambil melirik malu pada sebuah amplop berwarna pink yang ia bawa.
"Aku menemukan ini di lokerku waktu ku cek tadi." Gumiya berbunga. Auranya fuwa-fuwa.
"Coba buka Gum." Rinto kepo, siapa yang mengirim surat cinta untuk jomblo ngenes satu itu.
Gumiya pun membukanya. Wajahnya yang bersinar langsung tertekuk. Ia pun segera melipatnya kembali.
"Loh? Kenapa Gum?" Rinto heran.
"Ini bukan dari Luka-senpai."
Rinto ngelap muka.
#15 : uks
"HAHAHAHA!" Tawa nista membahana.
"Kiri dikit woi!" Seru yang lain menimpali.
"Bentaran sempit nih." Sahut entah siapa.
Di uks terlihat segerombolan pemuda lagi asik dempet-dempet duduk di kursi. Pandangan mereka tertuju pada satu layar notebook yang bertengger di meja.
"Yaakk! Goooll!"
UKS adalah alternatif tempat nobar kejuaraan sepakbola.
#16 : perpustakaan
Fukase sedang sibuk mencari buku astronomi. Ia menelusuri rak buku dengan teliti sebelum menentukan buku mana yang akan ia baca nanti.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Fukase lalu memilih duduk di tempat legendaris; dekat jendela. Sederhana, datangnya sinar mentari yang terbias melalui kaca akan meringankan kerja mata untuk membaca. Ingat kawan, penglihatan adalah anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa, by Fukase Teguh.
Ia menarik kursi yang sebelumnya tersembunyi di bawah meja, dan duduk perlahan untuk menikmati suasana.
Di saat ia hendak membaca, barulah ia tersadar akan sesuatu yang ada di hadapannya. Tepat di depannya, ia dapat melihat seorang pemuda oranye dengan tampang madesu menatap jendela ala drama Korea. Oh, demi kolor Neptunus! Itu menjijikkan. Fukase dapat membaca nama yang tertera di dada kiri seragamnya, Hibiki Lui.
"Cinta ini kau anggap debu, tak berharga di matamu." Lirihnya pelan. Walau begitu, Fukase masih dapat mendengar puisi alay meluncur dari mulutnya. Apa sedang patah hati, pemuda itu?
Pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arah Fukase. Fukase gugup setengah harga, tanpa sadar merentangkan cover buku astronomi yang hendak dibacanya.
Pemuda itu lalu menatapnya intens, bergantian dengan buku yang Fukase bawa. Tu-tunggu, kenapa Fukase merasa gugup?
"Jelaga pada netramu mengalihkan duniaku, maukah kau berjalan denganku―"
Fukase ngacir ke meja lain sesegera mungkin.
"―dan mentraktirku?"
Lui gagal lagi membuat seseorang mentraktirnya. Oya, tadi siapa, ya? Lui juga ga kenal.
Ah, bodo amat.
tbc
balasan review :
nirmalasari218 : mikuo anaq polos tak berdosa #YHA, makasih mau mampir ke gubuq ketjil ini ;;w;;
Schlaf : masalahnya author sering dibegitukan ;;w;; #ngitunginpasir btewe makasih ;;w;;
Hyuu-Nakashii : anjay gitarnya :"(( #NGAMBILGITARNYA MIYA
m.a : di sini anggota PCB Lovable semua #GAK
semoga terhibur dengan cerita ini ^^ saran dan kritik dipersilahkan ^^
migi & hidari
