Naruto © Masashi Kishimoto

Story By Yumi Murakami

Warning: AU, OOC, OC (mungkin), Typo(s) bertebaran dimana-mana, Abal, Gajje

Pairing: NaruHina, SasuSaku, GaaHina and other pair

No Like, Dont Read.

.

.

My Trauma

.

Chapter 4_

Sepulang sekolah Hinata memutuskan untuk menemui Gaara, meminta maaf atas kejadian tadi. Bagaimanapun dirinya juga salah dan tidak ikut mengantar sang bungsu Sabaku ke UKS.

Berlari menyusuri koridor mencari sosok berambut merah yang ternyata baru keluar dari ruang UKS. Senyum senang terkembang diwajahnya. Segera saja ia menghampiri pemuda tersebut.

"Gaara,"

Merasa terpanggil langkahnya terhenti dan menolehkan kepalanya untuk menemukan sosok si pemanggil.

Hinata mendekat dan langsung berdiri di depannya. "Ada apa?" Tanya Gaara langsung.

Gugup melandanya mendadak, seperti biasa ia memainkan jari untuk mengurangi kegugupan, "Ano, gomenne soal yang tadi."

"Tidak apa-apa." Melewati Hinata yang masih memainkan jarinya Gaara melangkah menjauh, Hinata yang merasa kalau Gaara marah padanya kembali mengejar dan menghentikan langkahnya dengan menarik lengan pemuda Sabaku tersebut.

"Kau marah?" Tanyanya, Gaara yang tidak tahan dengan wajah Hinata sekarang hanya menghela nafas.

"Tidak,"

"Kenapa kau menghindari ku?"

"Aku tidak menghindarimu Hinata, jadi berhentilah.." Didorongnya tubuh Hinata hingga ketembok sedikit kasar, membuat pemilik tubuh merintih kesakitan pada punggungnya yang terbentur. "Berhentilah.."

Menaikan alisnya ketika melihat sikap Gaara yang aneh, ia menunduk sambil menahan tubuhnya dengan terus memegang tubuh Hinata.

"Ka-"

"Berhentilah menyakiti hatiku dengan cara memperlihatkan kedekatanmu dengan Namikaze, Hinata." Terkejut saat Gaara tiba-tiba memeluknya erat, berkali-kali membisikan kata-kata yang terus ia ulang.

"Apa maksudmu?" Tanya Hinata menahan tubuh Gaara agar tak bersentuhan langsung dengan tubuhnya. Hinata sendiri bingung, selama ini ia kurang dekat dengan tunangannya itu. Tapi kenapa Gaara beranggapan begitu? Apakah dirinya sudah melukai hati Gaara sampai sejauh itu?

"Aku menyukaimu, Hinata. Tak sadarkah kau selama ini?"

Pernyataan Gaara membulatkan sepasang iris mutiaranya, sungguh dalam pikirannya tak pernah mengkirakan hal ini benar-benar terjadi. Jadi benar apa yang diucapkan Naruto tadi saat diatap. Memang Hinata menyadari akan perasaan Gaara, tapi ia terlalu acuh akan hal tersebut, semuanya menyebabkan sebuah kefatalan. Tersakitinya hati Gaara.

Tidak. Ini tidak benar. Berusaha untuk melepaskan pelukan Gaara yang dirasanya semakin erat. Tapi kekuatannya sebagai perempuan kalah dengan kekuatan laki-laki. Adakah seseorang yang mau menolongnya? Bukan menuduhnya berselingkuh dengan Gaara mengingat posisinya sekarang ini. Hanya butuh sebuah pertolongan.

"Gaara, hentikan. Lepaskan aku."

"Tidak, aku tidak mau. Berhentilah menghindariku Hinata. Sadarlah Hinata, aku lah yang mencintaimu bukan bocah rubah itu, aku lah yang paling peduli padamu bukan dia."

"Gaara, hentikan. I-ini tidak benar. A-aku sudah punya tunangan"

"Aku tidak peduli. Aku hanya peduli bahwa aku mencintaimu"

Pelukan Gaara mengendur dan itu membuat Hinata menghela nafas lega sesaat, perkiraannya salah. Gaara tidak berniat melepaskan Hinata sepenuhnya, namun menambah masalah baginya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Gaara.

Tentu saja itu membuat Hinata menolak, ia memberontak keras terhadap perlakuan Gaara yang semakin memaksanya. Dilayangkan sebelah tangan Hinata ke pipi pucat Gaara yang wajahnya langsung menoleh akibat tamparan Hinata. Terdiam sebentar, seolah nyawanya juga ikut tersentak gara-gara tamparan tersebut.

Dan kesempatan itu Hinata gunakan untuk mendorong tubuh Gaara menjauh, buliran air mata sudah menggenang dipelupuk mata Hinata. Ia ketakutan.

"Kau sudah keterlaluan." Tangisan Hinata pecah, ia berlari menjauh. Tak percaya dengan tindakan Gaara yang sangat diluar pikiran sehatnya. Ternyata apa yang dikatakan Naruto tadi di atap benar kalau Gaara memang benar-benar mencintainya. Salahkah ia kalau tetap pada keputusannya dengan tunangannya itu yang sampai saat ini belum bisa membuka hati padanya. Lalu pemuda Sabaku itu, ia sudah dengan tulus mencintai Hinata tapi ia malah mencampakannya dengan cara kejam. Tak mau membalas perasaan lelaki yang sudah dengan tulus mencintainya. Malah memilih orang lain yang entah bagaimana perasaannya pada Hinata.

Kini ia dilanda kebingungan, mana yang harus kau pilih Hinata?

.

.

oOo

.

.

Matahari sudah siap diperaduannya menjalankan tugas tiap hari menggantikan sang dewi malam yang semalam telah mempertunjukan sinarnya. Kini giliran sang surya yang di temani oleh langit biru dihiasi arakan awan putih. Cuaca hari minggu ini akan indah.

Tapi pemuda berambut kuning yang kontras seperti cahaya matahari itu masih setia bergelut dalam dunia bawah selimutnya. Menyembunyikan iris seindah langit dalam kelopaknya. Tak peduli dengan waktu yang sudah siang dan melupakan sebuah janji dengan temannya. Hingga teriakan dering dari I-Phone apple oranye memaksanya membuka mata,

Dengan malas, diraihnya I-Phone yang tergeletak di meja laci samping kasurnya. Tanpa melihat si penelpon ia mengangkat sambungan dan mendekatkannya ke telinga.

"PAGIII! PEMALAASS! AYO BANGUN! KAU ADA JANJI DENGANKU, SASUKE-KUN DAN HINATA! AYO CEPAT BERSIAP! AKU TAHU KAU MASIH MOLOR KAN?!"

Teriakan telepon itu berhasil membuat si pemilik I-Phone itu membukakan mata sepenuhnya, melirik si penelpon yang bercontact name Sakura-chan. Tidak kaget ia dengan suara keras yang sudah membangunkannya itu.

Bangkit dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan sebelah tangan sedangkan tangan yang satu masih menggenggam I-Phone. "Ya aku sudah bangun, tidak usah teriak-teriak bisa kan, Sakura-chan?"

"Tidak, karena kalau tidak teriak-teriak kau pasti tidak mau bangun dan nanti akan kembali tidur."

Tahu saja Sakura akan apa yang dilakukan si blonde ini, padahal ia sudah bersiap menutup tubuhnya dengan selimut lagi. Setelah mendengar pernyataan Sakura tadi, diurungkan niatannya.

"Ya ya ya aku mau mandi, puas kau?"

"Sangat puas, mandilah yang bersih dan wangi baka-Naruto. Berdandanlah yang keren, jangan sampai kau membuatku malu karena dandanan norakmu seperti acara jalan-jalan kita bulan lalu."

Ternyata Sakura masih ingat akan penampilan Naruto bulan lalu ketika ada acara expo. Naruto menggunakan kaos oblong dengan celana pendek berbahan jeans, kacamata hitam yang nyentrik dan sandal. Yang melihatnya tentu akan bersweatdrop. Memang mau ke bazar atau pantai?

Mengingat hal itu ingin rasanya Naruto menertawai kebodohan dirinya dulu.

"Cepatlah baka.. Kita janjian jam 10 di Konoha Land. Kau hanya punya waktu 1 jam untuk bersiap."

"Ya yaa.. Aku tahu, sudah ya. Atau kau mau ikut aku mandi?"

Bisa diperkirakan Sakura yang mendengar itu langsung bergidik geli yang kemudian ia berteriak kencang dan mematikan sambungan. Berhasil mengerjai sahabatnya itu sudut bibir Naruto terangkat. Senangnya pagi-pagi bisa mengerjai orang.

Dalam waktu kurang dari 10 menit Naruto sudah selesai mandi, tinggal memilih baju yang kira-kira cocok. Diletakannya jari telunjuk di dagunya, memilih mana baju yang pas untuk acara yang disebut double date ini oleh Sakura.

Ya, kemarin sepulang sekolah Sakura mengajakanya, ralat lebih tepatnya memaksanya untuk ikut double date dengannya, Sasuke dan Hinata. Awalnya Naruto menolak dengan memberi sejuta alasan tapi melihat deathglare Sakura yang menyusahkan tertelannya saliva Naruto ditenggorokan membuatnya mengalah dan mau ikut dalam acara double date itu.

Bersama Hinata, ya ia dengan Hinata. Sudah jelaskan? Mengingat itu ia jadi malas saja. Kenapa berurusan lagi dengan gadis itu sih? Setelah kejadian kemarin sebenarnya Naruto memutuskan untuk tidak ingin berhubungan lagi dengan tunangannya itu. Agar apa yang dikatakan Hinata kemarin takan terjadi. Ya, walau tanpa Hinata minta Naruto sudah bisa. Tapi sayangnya kejadian itu membuatnya membuang perasaan tersebut. Tahukan apa penyebabnya? Ya trauma sialan itu. Hanya karena sepasang bola mata saja Naruto ketakutan setengah mati. Dalam hati ia merutuki diri sendiri dan mengumpat, menololli dan sebagainya. Bodoh lama-lama.

Kalau lama-lama menggumam tidak jelas dan membuang-buang waktu bisa-bisa Naruto kena omelan Sakura lagi, dengan cepat ia memilih pakaian yang menurutnya cocok dan simple. Karena Naruto memang tipe lelaki yang simple dalam berpakaian asal nyaman. Sampai pernah saking simplenya sampai tak melihat penampilannya yang pantas atau tidak.

Sekarang tinggal menjemput Hinata.

.

.

.

Iseng ia poleskan lipgloss peach ke bibirnya. Dilihatnya warna bibirnya kini yang lebih berwarna pink. Padahal tanpa lipgloss pun bibirnya akan berwarna pink. Tapi tidak buruk juga.

"Hinata-nee, Naruto-nii sudah menjemputmu." Panggil seseorang yang pastinya adik dari Hinata Hyuuga ini-Hanabi Hyuuga.

"Ya.. Aku segera kebawah." Jawabnya sembari merapikan barang bawaannya ke tas selempang. Segera Hinata berlari menuju ke lantai bawah untuk menemui tunangannya yang sudah menunggu. Ketika sampai di bawah, ternyata Naruto sedang mengobrol dengan ayahnya. Hinata mendekati mereka dan berujar sopan.

"Summimasen, otou-sama, Naruto-kun," Kedua lelaki itu pun menoleh ke arah berdirinya Hinata yang berpenampilan anggun dan cantik hari ini. Tanpa sadar Naruto terpesona dengan Hinata. Tapi ketika matanya bersirobok dengan amethys Hinata segera menoleh mengalihkan pandangan.

"Kau ingin pergi berkencan dengan Naruto?" Tanya Hiashi, sang kepala keluarga Hyuuga yang dijawab anggukan oleh Hinata. "Baiklah jaga Hinata ya Naruto." Giliran Naruto yang mengangguk.

Setelah berpamitan mereka pun segera menaiki mobil Ferrari Enzo Naruto yang ditancapkannya gas menuju Konoha Land, tempat tujuan mereka.

.

.

.

"Kyaa Hinata-chan, kau cantik sekalii!" Seturunnya Hinata dari mobil Naruto langsung sambut dengan teriakan Sakura yang berhasil mengundang perhatian pengunjung Konoha Land di halaman. Sasuke yang berdiri disampingnya hanya diam cuek memasukan tangannya ke saku celana.

Ya penampilan Hinata memang cantik dengan balutan kaos putih yang di dilapisi dengan rompi berwarna pink, bersepatu kets ungu lavender seperti warna matanya.

Tersipu mendengar pujian Sakura, wajah Hinata merona merah. "Kau juga cantik Sakura-chan."

Sakura tentu tak ingin kalah, ia berdandan cukup cantik dengan baju merah dan rok pendek selutut. Rambutnya dihiasi dengan bandana hadiah Sasuke minggu lalu berwarna merah maroon.

"Sasuke-kun juga tampan." Menaikan alis bingung dengan kata-kata Hinata yang malah memujinya juga. Jika Sasuke, memakai apapun memang tampan, Hinata. Walau hanya kaos biru dongker dan jaket hitam saja yang ia pakai lalu topi berlambang kipas di depannya sudah cukup membuat mata wanita yang melewatinya terus terpaku pada bungsu Uciha itu tanpa ada niatan untuk berpaling, simple dan keren.

"Hahaha.. Kau tidak salah kostum lagi Naruto?"

Memutar bola sapphiernya bosan, Naruto hanya menggerutu di belakang Hinata. Ya, untung Naruto tidak salah dengan pilihannya yaitu kaos putih polos yang diluarnya dilapisi kemeja biru muda bergaris kotak merah hitam, sepatu kets melapisi kaki tan nya. Simple dan tidak memalukan bagi Sakura, tapi keren dan tak kalah tampan dengan Sasuke bagi Hinata.

Oke, mereka siap untuk bermain dalam Konoha Land sekarang.

.

Sudah banyak wahana yang ada di Konoha Land mereka naiki bersama dengan bahagia. Sekejap masalah Naruto yang tadi pagi melandanya hilang sudah melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya itu, juga.. Tunangannya itu yang sepertinya menikmati hari ini dengannya.

"Sekarang tinggal naik gondola ya?" Ujar Sakura bersemangat, dari tadi yang terus menentukan wahana Sakura terus. Tapi mereka menikmati itu.

"Maaf 1 gondola hanya diisi 2 orang saja untuk umur kalian." Ujar penjaga gondola.

"Oke, Sasuke-kun denganku Hinata-chan dengan Naruto ya?" Menggandeng tangan Sasuke untuk siap masuk ke dalam gondola tapi dihentikan oleh Naruto.

"Ne, apa tidak kau dengan Hinata saja? Aku dengan Sasuke." Ujar Naruto memberi usul.

"Bodoh! Kau pikir aku kekasihnya Hinata? Memang kalau kau sudah dengan Sasuke-kun kalian mau apa? Berciuman di dalam sana hah?"

Godaan Sakura membuat Naruto dan Sasuke merinding. Mereka masih waras. "Lebih baik aku denganmu, sudah sana berduaan saja." Sekarang tinggal Sasuke yang menarik Sakura untuk segera masuk ke gondola berdua. Sedangkan Naruto hanya melongo disamping Hinata melihat gondola Sasuke dan Sakura sudah mulai naik.

Diliriknya Hinata yang menatap gondola terbuka, siap untuk mereka naiki. Niatnya Naruto tidak mau naik, tapi melihat Hinata yang sepertinya ingin sekali naik akhirnya terpaksa ia masuk yang diikuti Hinata dibelakang.

Mereka menaiki gondola tersebut, sempat Naruto lirik ekspresi Hinata yang nampak bahagia. Namun di dalam, mereka masih diam satu sama lain tak ada yang berniat untuk mulai membuka suara. Sibuk dengan dunianya masing-masing, Hinata asik melihat pemandangan dari atas gondola diantara bukit-bukit hijau yang indah sedangkan Naruto memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Hingga tiba-tiba gondola mengalami guncangan hebat, Hinata berteriak kencang dan terjatuh. Refleks Naruto memeluknya agar tak terjatuh, tapi karena guncangan masih dirasa membuat keseimbangannya kurang ia jaga. Naruto pun akhirnya ikut terjatuh bersama Hinata.

Mengaduh ketika dirasa punggungnya sedikit terbentur pada lantai besi gondola, ditambah berat pada atas tubuhnya. Penasaran, ia membuka matanya untuk melihat si pembuat berat pada atas tubuhnya. Saphhier itu melihat jelas tubuh berbalut rompi pink terbaring telungkup di atasnya. Sama-sama mengaduh.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" Tanya Naruto berusaha mengugrangi guncangan gondola dengan memegangi bangku, perlahan guncangan gondola yang terhenti itu berkurang.

"Aa daijoubu," Bangkit dengan menahan lengannya, tapi karena ruang gondola yang sempit membuatnya susah bangun dari atas tubuh Naruto.

Ketika sedang membantu Hinata bangun, tanpa sengaja pandangan mereka saling bersirobok (bener gak sih kata-katanya). Saat itulah Naruto sadar akan sesuatu, mata Hinata berbeda dengan 'dia'. Mata itu memancarkan kelembutan, bukan menusuk. Dan, Naruto terpesona akan mata itu untuk sekian lamanya.

"Naruto-kun?" Merasa Naruto tiba-tiba terdiam ketika membantunya, Hinata memanggil.

Panggilan itu ia acuhkan terpaku pada satu sepasang ametyhs yang mendadak menarik dirinya tuk mendekat pada si pemilik manik mutiara tersebut. Akal sehatnya telah terbawa arus suasana kali ini. Entah apa yang menggerakan tangannya menuju belakang kepala gadis yang hanya diam saja menunggu hal lanjutan pemuda pirang dibawahnya. Melupakan dunia nyata mereka dan terus mendekat hingga terhapus sudah jarak antara mereka. Kesadarannya telah menguap, hilang dan tergantikan dengan dirinya yang lain. Diri yang dulu ingin memiliki Hinata. Bibirnya tersentuh oleh sebuah benda kenyal dan lembut untuk pertama kalinya. Ini adalah hal pertama bagi keduanya dan mereka menikmati akan saat-saat ini.

Sekejap, perasaan yang bergemuruh untuk lebih bisa memiliki gadis ini menguasai hatinya. Apa ini sebenarnya? Dimana sosok dirinya yang dulu pernah merasakan benci pada gadis indigo itu. Mata yang dulu ia takuti, kini malah menariknya untuk terperangkap di dalamnya.

Ia sudah terperangkap dalam sosok seorang Hyuuga Hinata dalam hitungan detik, di situasi tak terkendali dalam tempat tergantung yang terisi hanya mereka berdua. Gondola ini bagai dunia mereka yang hanya terhuni 2 orang saja.

Apakah gadis ini berhasil membuatnya jatuh padanya seperti sebuah rentetan kata-kata yang kemarin ia ucapkan di atap sekolah? Dan inilah hadiah yang diberikan atas suksesnya hal tersebut. Dan apakah perasaannya di masa lalu telah datang kembali, menggantikan traumanya?

.

.

.

"Ya ampun mengagetkan saja. Tiba-tiba terguncang, lalu berhenti mendadak. Merepotkan. Ada apa sih?" Menoleh ke bawah mendapati sebuah pemandangan langka baginya, langsung saja ia berteriak membuat sang kekasih disampingnya berjengit kaget. "Kyaa! Sasuke-kun, lihat mereka," Telunjuknya ia arahkan ke gondola yang terletak tepat dibawah sampingnya, gondola milik Hinata dan Naruto.

"Apa yang mereka lakukan?" Gumam Sasuke yang cukup bisa didengarkan Sakura.

"Ya ampun, tentu saja berciuman! Kyaa ternyata mereka bisa dengan cepat berbaikan ya Sasuke-kun? Padahal kemarin mereka habis bersitegang. Posisi mereka juga.. Kyaaa!"

Tidak tahan dengan ocehan Sakura yang terus berteriak histeris melihat ke bawah sana ia menarik wajah kekasihnya itu, di dekatkan untuk mempertemukan bibir mereka satu sama lain. Hanya ciuman sekilas tapi itu sanggup membuat wajah Sakura memanas.

"Berhentilah berteriak Sakura, seperti kau tidak pernah melakukannya saja." Saling mengalihkan pandangan, menghindar agar wajah mereka yang memerah tak bisa dilihat.

.

.

.

Sepulangnya dari Konoha Land, dari pihak Naruto maupun Hinata tak berani mengeluarkan suara apapun. Pikiran mereka bergelung dalam kejadian beberapa waktu lalu ketika di gondola, seolah ingatan itu terus terulang-ulang dalam otak mereka.

Namun perasaan mereka berbeda, yang dirasakan Hinata adalah kebahagiaan. Ia yang berniat membuat tunangannya yang kini duduk disampingnya juga mencintainya kini terjawab dengan ciuman tadi. Apakah itu artinya ia berhasil?

Sedangkan Naruto, ia bingung dengan hal tadi. Kenapa ia malah melakukan hal itu? Diluar pikirannya, seperti sedang dikendalikan. Mungkin benar ia sedang dikendalikan. Ya dikendalikan perasaan masa lalunya yang kini tumbuh seiring waktu kebersamaannya dengan gadis ini.

"Su-sudah sampai, Naruto-kun." Tanpa sadar ternyata ia sudah memberhentikan laju mobilnya di depan kediaman sulung Hyuuga ini.

"Aa. Ya, aku harus pulang. Tidak apakan aku langsung?" Tanya Naruto mengembalikan kesadarannya yang masih terbagi.

Menganggukan kepala menyahuti, "I-iya, hati-hati dijalan."

"Ya, salam untuk Hiashi-sama dan Hanabi."

"Ba-baiklah. A-aku masuk ya, sampai jumpa Naruto-kun." Tangan kanannya akan membuka pintu mobil sebelum sebuah tangan kekar menghentikan lengan kirinya, refleks ia menoleh ke arah putra sulung Namikaze itu.

"Terima kasih untuk hari ini."

Seolah ia mengerti akan perkataan Naruto yang baginya berbagai maksud, senyuman tipis namun manis terhias di wajah putihnya yang sedikit terdapat semburat merah dipipinya. "Douita."

Genggaman Naruto mengendur menandakan untuk Hinata meninggalkannya sekarang. Setelah pintu mobil tertutup, mobil keluaran terbaru itu langsung dipacu cepat oleh si pengendara yang pikirannya masih pada berlanjut.

Apalagi kenyataan bahwa ada orang lain yang melihatnya tadi dengan Hinata, siap untuk meledek setiap harinya. Ya tadi Sakura bercerita akan kejadian saat digondola tadi, dan Naruto juga berhasil digoda habis-habisan oleh sahabat pink dan ravennya.

Mengacak gusar rambut pirangnya, kenapa harus terjadi? Ia tak bisa berhenti memikirkannya. Apa lagi saat ia bersama Shion waktu itu yang berhasil membuat gadis yang jarinya terlingkar cicin yang sama dengan Naruto hatinya tersakiti oleh sang tunangan pirang tersebut. Bingung. Kenapa harus bingung? Ya bingung harus mengungkapkan bagaimana?

.

.

oOo

.

.

"Aa~ kemarin apa saja yang kau lakukan ketika gondola berhenti?~"

"Tidak ada."

"Aku melihatmu sedang beradegan mesum dengan Hinata lhoo.."

"Aku yang sering melihatmu beradegan mesum dengan teme saja aku diam, kenapa saat kau melihatku beradegan mesum dengan Hinata kau jadi rempong begitu?"

Habis sudah kata-kata Sakura untuk menggoda Naruto, memang sih Naruto tak satu kali dua kali melihatnya dengan Sasuke sedang melakukan 'sesuatu'. Pernah juga ketika Sakura main ke rumah Sasuke yang kebetulan Naruto berada disana dan tiba-tiba Sasuke menciumnya didepan Naruto yang hanya memutar sapphiernya bosan. Sebenarnya tak hanya itu, Naruto pun pernah melihat keadaan Sakura yang setengah telanjang, dan itu sungguh membuat Sakura malu sekali.Tapi kenapa harus dibicarakan sekarang sih?

"Kau benar-benar baka!"

"Kau baru tahu? Kalau tidak, Sasuke-teme tak akan memanggilku dobe.." Menjulurkan lidahnya untuk membalas ledekan si pink yang sudah siap dengan luapan emosinya.

"Awas kau yaa!" Kepalan kertas yang dibuat bulat terlempar menuju Naruto, namun dengan mudah ia menghindar.

"Eits.. Anda kurang beruntung, silahkan coba lagi.. Hahaha" Tawa nyaring Naruto yang bagi Sakura adalah penghinaan membuat tangannya terdorong untuk menjambak rambut duren pemuda didepannya.

"Ittei! Lepaskan! Sakit!"

"Dasar rubah jelek, kepala duren, mesum sialan, pervert baka!"

"Aaargh! Ingat ya, yang pervert itu pacarmu"

"Jangan mengatai Sasuke-kun, baka!"

Niat untuk meledek dan menggodanya malah senjata makan tuan, ia yang digodai oleh pemuda rambut kuning yang sedang ia goncangkan keras.

"Wah, manisnya~" Adegan kekerasan antara Sakura dan Naruto terhenti ketika datangnya seorang pemuda pecinta anjing ini, ia duduk disamping Naruto yang rambutnya masih ditarik Sakura.

"Apa kau?!" Deathglare dilemparkan pada Kiba langsung mengangkat kedua tangannya menenangkan mood Sakura yang sedang tidak bagus.

"Maaf maaf.. Aku kan cuman mau duduk disini? Tidak boleh?"

"Tidak!" Teriak Naruto dan Sakura bersamaan, kedua mata vertikal kiba pun berputar jenaka.

Melepas kasar helaian pirang Naruto dan mendorongnya, si pemilik rambut mengelus kepalanya yang terasa perih setelah kegiatan tarik menarik rambutnya sendiri bersama si surai pink.

"Hei, kemana pacar kalian?" Ujar Kiba meminum jus alpukatnya, bersandar pada sandaran kursi menyamankan tubuh.

"Sasuke-kun sedang ada urusan OSIS,"

"Aku tidak tahu dimana Hinata, jangan tanya aku."

Memandang putra tunggal Namikaze itu dengan tatapan sulit diartikan, Naruto sendiri hanya menjauhkan diri dari kedua temannya ketika melihat tatapan yang seakan ingin memakannya hidup-hidup. Berlebihan.

"Kau keterlaluan Naruto, kekasihmu sendiri tak tahu ada dimana?" Tanya Sakura memutar emeraldnya.

"Yang jelas dia masih di bumi ini kan?"

Ingin sekali kepalan tangan Sakura ia luncurkan ke atas kepala duren Naruto, ia mengeratkan tangannya gemas. "Baka!"

"Oh ya, aku dengar ada murid baru ya dikelas kita?" Ujar Kiba memajukan tubuhnya.

"Siapa?" tanya Naruto ikut memajukan tubuhnya, sedangkan Sakura masih pada posisinya. Ia tak tertarik karena kelas mereka berbeda.

Mengangkat bahunya dan melengkungkan bibirnya pertanda ia tak tahu.

"Lalu kau dapat informasi itu dari siapa?"

"Anak-anak, pada ribut mbahas anak baru yang ngga jelas itu. Jangan tanya aku, tanya mereka"

Memundurkan tubuhnya juga dan bersandar lagi pada sandaran, "Kalau mau ngasih info tuh jangan setengah-setengah." Menyeruput jus jeruknya yang tinggal setengah dalam gelas kemudian menaruh kembali ke atas meja setelah menghabiskannya.

"Hehehe.."

Jadi penasaran siapa anak baru itu, entah kenapa perasaan Naruto sampai tak enak begini. Ada apa ya?

.

.

.

Masih sibuk dengan tugas yang diberikan Kurenai-sensei untuk pelajaran Matematikanya di perpustakaan. Kalau Hinata mengerjakan di kelas pasti akan sangat mengganggu dan ditambah lagi jika ia lama-lama memandang Shion yang kemarin telah membuat masalah dengannya. Walaupun mungkin Shion tak sadar kalau Hinata masih tak terima dengan kejadian hari yang lalu.

Menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia mengeluh. Kenapa jadi begini? Tapi ia bersyukur telah mendapatkan sebagian hati Naruto sekarang. Tanpa sadar ia tersenyum.

Pernah ia dengar dari pembicaraan antara Sasuke dengan Naruto tentang masa lalunya, katanya Naruto pernah menyukai gadi dimasa lalu, kira-kira siapa? Apakah Naruto masih menyukai gadis itu?

Dan Hinata juga pernah dengar dulu Naruto pernah satu SMP dengannya dari Sara, tapi Hinata sendiri tidak sadar dengan itu. Entah setelah kabar kakak sepupunya telah memukuli seseorang kemudia beberapa hari kemudia ada murid yang pindah. Entah mengapa Hinata sendiri merasa aneh dengan itu. Tapi masih bingung.

Ternyata banyak hal tentang Naruto yang belum Hinata ketahui.

Segera saja Hinata kembali ke pekerjaannya sebelum dirasanya sesuatu bergetar dalam sakunya. Diambil SmartPhonenya dari kantung kemeja seragamnya, sms dari Naruto.

From Naruto-kun

Kau dimana? Pergilah kekantin, pacarmu mencarimu.

Pesan dari Naruto membuat wajahnya memerah seketika, ia menyalah artikan pesan tersebut. Maksud pacar oleh Naruto bukan dirinya, tapi Sakura. Dan Hinata mengaggap sebaliknya.

Langsung saja ia rapikan alat tulisnya kemudian berlari menuju kantin untuk menemui pacarnya.

.

.

.

"Tuh pacarmu." Telunjuk Naruto mengarah pada seorang gadi bersurai indigo sedikit berlari menuju mejanya, dan emerald Sakura mengikuti arah telunjuk Naruto.

Senyum senang terkembang diwajah Sakura, langsung saja ia melambai memberi tanda Hinata dan menyuruhnya duduk disamping gadis cheeryblosom itu.

"Sejak kapan kalian pacaran?" Selidik Sasuke menatap tajam tunangan pinknya itu.

"Sudah lama, lebih lama dari hubungan kita.." Menjulurkan lidah seolah menantang Sasuke yang sebenarnya hanya menggoda sosok pangeran es yang amat posesife.

"Teme.. teme.." Menepuk pundak Sasuke, "Jangan khawatir, mereka boleh berpacaran. Tapi kita tunangannya," Mendekatkan wajahnya untuk membisikan sesuatu yang membuat Sakura dan Hinata bergidik sedikit takut melihat seringai Sasuke dan Naruto. "Kita lebih bebas mengeksploitasi mereka diranjang."

"Ternyata kau punya otak mesum juga ya dobe?"

"Oh tentu, kan kau yang mengajarkannya Sasu-chaaan~" Runtuh sudah rasa senang Sasuke mendapat teman yang mesum baru walaupun Sasuke sendiri tahu jika tentang Naruto dan Hinata itu hanya candaan, ternyata pikiran shounen ai Naruto kumat dan itu membuatnya geli, menjauhkan tubuh Naruto yang merajuk manja padanya. Sasuke memandang sahabat pirangnya jijik.

Dan itu membuat Sakura juga Hinata hanya bisa sweatdrop melihat sepasang sahabat aneh tersebut, sedangkan Kiba sendiri tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya.

"Naruto-kun~" Tiba-tiba saja seseorang mengalungkan lengannya dileher Naruto sembarangan, membuat kelima remaja itu diam.

Menolehkan kepala untuk melihat sang tersangka yang memeluknya, "Ino!"

"Ino-pig!" Sakura ikut berteriak melihat sahabat lamanya datang.

"Hai ForeHead, apa kabar?" Melepaskan pelukannya dan langsung memeluk Sakura, melepas rindu.

Hinata yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja, ia sedikit cemburu ketika gadis pirang itu memeluk Naruto.

"Ah ya, Hinata ini Ino. Sahabatku dulu di SMP."

Mereka pun berjabat tangan seraya saling mengenalkan nama panjangnya masing-masing.

"Dan dia saudara sepupu Naruto, mereka sama-sama berambut pirangkan? Heehehe.."

'Oh jadi hanya sepupu, pantas mereka akrab' Begitulah batin Hinata merasa lega di sebabkan ia tahu ketidak adaan hubungan spesial antara gadis pirang itu dengan Naruto.

Kembali duduk diikuti Ino yang juga duduk dibangku kosong samping Sakura, "Ne, mau apa kau kembali ke Jepang?" Tanya Sakura.

Hanya cengiran yang menjadi jawaban Ino sebelum menjelaskannya, "Aku ikut ayahku karena ada sedikit urusan dengan sekolah ini, jadi aku ikut. Sekalian aku ingin menemani kekasihku pindah. Hehehe.."

"Kekasih, kau sudah punya kekasih? Siapa?" Naruto ikut penasaran dengan kedatangan dadakan sepupunya itu.

"Sudah donk, memang kau saja yang bisa punya tunangan," Kemudian iris aquanya melirik Hinata dan tertawa kecil. "Nanti kau juga tahu sendiri, katanya dia ditempatkan dikelas yang sama denganmu."

Kira-kira siapa? Dan pertanyaan itu selalu terngiang dalam otak Naruto. Rasa penasaran menyesak dalam dirinya, entah mengapa ia merasakan kebencian dadakan seperti ini.

.

.

oOo

.

.

Bel masuk telah berbunyi, seluruh murid Konoha Gakuen memasuki ruang kelasnya masing-masing. Begitu juga Naruto dan yang lainnya. Ino sudah kembali tadi.

Tiba-tiba saja perasaan Naruto sekarang sedikit tidak enak dan merasa hawa kebencian menguar dalam dirinya. Kenapa ya kira-kira?

"Selamat pagi semuanya," Salam guru bertanda coretan dihidungnya mengembalikan dunia Naruto ke kenyataan.

"Pagi, sensei." Jawab para murid kelas yang dipegang guru bertagname Iruka Umino.

"Nah, hari ini kalian akan mendapat teman baru di kelas kita. Silahkan masuk.."

Seperti perintah Iruka, seorang lelaki seumuran dengan murid kelas tersebut memasuki kelas dengan senyum yang terlihat tak ada niatan untuk dikeluarkan. Ya, seperti ada kepalsuan dalam senyuman tersebut.

Iris biru langit Naruto membulat sempurna ketika melihat sosok pemuda berambut hitam lurus dengan mata onyx berdiri di depan, senyum palsu itu sangat Naruto kenal. Ia lah si dalang dari semuanya. Dia-

"Perkenalkan, nama saya Shimura Sai. Pindahan dari Paris. Mohon bantuannya." Membungkukkan tubuh ketika selesai dengan sesi perkenalannya, masih dengan senyum palsunya.

"Baiklah, semoga kau bisa beradaptasi di Jepang ya Shimura-san. Lalu kau akan duduk dibelakang Namikaze-san. Dibelakang sana." Telunjuk Iruka mengarah pada tempat duduk kosong belakang Naruto, dan itu membuatnya kaget. Ingin sekali protes, tapi hatinya melarang. Jadilah ia diam dan mengalihkan pandangan kesamping, kearah jendela ketika Sai berjalan menuju kearahnya.

Jadi ini penyebab perasaan bencinya tiba-tiba menguar dalam dirinya, ia kembali.

"Hai Naruto. Apa kabar, lama tak bertemu ya." Ujar Sai dari belakang Naruto yang sedang mengepalkan tangan erat.

Iris kelam Sasuke menatap Sai tajam dari samping Naruto. "Tidak usah sok akrab. Baru datang jangan membuat masalah lagi." Ujarnya menekankan pada kata lagi. Susah payah Sasuke menahan emosinya melihat sosok Sai yang masih memasang senyumnya. Senyum itu penuh kemunafikan bagi bungsu Uchiha.

"Maaf ya," Menampilkan senyum itu lagi pada Sasuke yang siap melancarkan pukulannya jika tidak ingat tempat.

"Diamlah kau, bajingan. Nantikan saja kematianmu setelah ini." Ujar Naruto tenang walau hatinya juga telah meletupkan emosi. Tapi tak ada rasa takut dalam wajah Sai yang masih adem ayem dengan perkataan serius Naruto. Ia hanya diam masih tetap staysmile.

Pelajaran pun berjalan seperti biasa dalam suasana mencekam diantara 3 pemuda dibelakang. Tanpa ada yang tahu kejadiannya.

.

.

.

Brak

Tiba-tiba saja Naruto membanting kursinya dan menghadap Sai sepulang sekolah dalam keadaan kelas masih ramai membuat puluhan pasang mata tertuju pada kedua pemuda tampan tersebut.

"Aku ada urusan denganmu." Menarik kemeja Sai keluar kelas, diikuti Sasuke dibelakangnya, berbagai pertanyaan pun terlontar dari mulut para murid yang lain dengan kejadian tadi. Mereka penasaran dan bingung ada masalah apa antara murid baru itu dengan putra dari orang paling berpengaruh di Konoha Gakuen.

.

"Masih ingat apa masalahmu?" Tanya Naruto mendorong tubuh Sai ke tembok belakang sekolah.

Menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya setelah mendapat pukulan dari si pirang, Sai menatap sapphier didepannya masih dengan ketenangan, berbanding dengan Naruto yang sudah emosi.

"Maaf ya, aku tidak tahu kalau akhirnya kau akan diperlakukan special oleh kakak sepupu Hinata."

Bugh –perut Sai mendapat sikutan dari Naruto setelah ia mengucapkan kalimat yang membuat Naruto tak bisa menahan emosinya lagi.

"Terima kasih atas laporannya Sai. Kau telah membuat aku diberi hadiah special darinya yang sampai sekarang masih tersimpan disini." Menunjuk pelipisnya dengan telunjuk, sapphiernya masih menatap tajam lelaki yang sedang berusaha berdiri setelah mendapat pukulan dari Naruto.

"Kau mau tidak aku bagi hadiah itu?" Mengangkat tubuh Sai, menerima kayu yang diberikan dari Sasuke. Siap untuk memukul kepala Sai sebelum sebuah suara menghentikan mereka.

"Hentikan, Namikaze." Kepala mereka pun sontak menoleh kearah asal suara tersebut yang disana seorang pemuda berambut darkred sedang melangkah mendekati mereka sambil memasukan kedua tangannya dalam saku.

"Jangan ikut campur, Sabaku," Peringat Sasuke.

"Aku tidak akan ikut campur kalau itu bukan menyangkut sahabatku. Bukankah begitu kata-katamu, Uchiha."

Iris kelam itu menatap tajam pemuda didepannya, begitu juga si sapphier.

Tidak mempedulikan tatapan kedua pemuda lainnya, Sabaku Gaara membantu Sai bangkit dan berjalan meninggalkan Sasuke dan Naruto disana.

Sebelum pergi Sai sempat melemparkan senyum palsunya terhadap Naruto yang dianggapnya sebagai senyum mengejek.

Naruto bersumpah, lelaki itu akan merasakan apa yang ia rasakan 3 tahun lalu.

.

.

oOo

.

.

Sedang melangkahnya Hinata menuju halaman depan sekolah bersama teman-temannya ketika tiba-tiba SmartPhone nya bergetar, saat dilihat ternyata ada pesan. Betapa kaget dirinya membaca pengirim pesan tersebut. Seseorang yang dulu pergi jauh kini sudah kembali.

From_ Niisan

Hinata, aku pulang.

TBC

A/N:

Akhirnya saya bisa update. Senengnya ^^.

Maaf belum kesampaian Lemonnya, saya janji-janji terus ya? T.T maaf. Mungkin chap depan, Mungkin ya.. ^^v Dan maaf kalau chapter ini kurang feelnya. Habis Sakit T.T

Nah dah terungkap siapa orang yang udah jadi pelapor si Naruto ke Neji. Yaps si Sai, dan Sai ini ternyata teman Gaara.

Kalau soal tahunya Hinata tentang trauma Naruto itu besok juga. Dia belum dapet penjelasan sih dari kakak maupun Narutonya.

Oh ya, lagi-lagi saya gak bisa janji bisa update cepet. Tapi tenang ajah gak akan sampe 1 bulan ^.~ . Saya sebentar lagi mau Ujian, gak bisa maen-maen lagi -_-. Tapi saya berusaha update cepet.

Ada yang mau SideStory nya My Trauma ini? Pas NaruHina masih SMP?. Haha.. Saya sudah menyiapkannya. Berminat? silahkan review, biar saya tahu anda sekalina setuju atau tidak ^^7.

Nah tinggal balas review :D

kirei – neko_ Iya Naruto plin plan.. Gara-gara pengaruh perasaan masa lalu dan masa kininya sih.. Duh jangan gitu donk.. tetep review.. buat semangat sayaa T.T

.9_ Udah update :D Soal Lemon insya allah besok, tapi saya gak janji ^^. Makasih dah review :D

Ayumu Hasegawa_ Haha iya iya lemon ya lemon. Besok. Ajarin sceannya donk :D. Makasih dah review.

didik717_ Besok kayanya :p. Makasih dah review.

Malila Hyuuga_ Sudah ini. Semoga suka. Makasih dah mau review.

ocha chan_ Makasih buat pujiannya dan ini sudah dilanjutkan. Makasih dah review.

Guest_ Umm.. Kalau tanpa orang ketiga cerita kelihatannya kurang greget bagi saya. Maaf kalau begitu (_ _). Makasih dah mau review.

Soputan_ Kalau gak dibatalin bisa berlanjut yg gak gak ~.~. Belum saatnya, mungkin besok. Tergantung suasana :D . Makasih dah review.

Algojo_ Sudah nee.. Mkasih dah review.

Ayzhar_ Hwee.. Menyedihkankah? Hehehe saya baru kali ini bikin cerita yang bisa bikin nangis T.T. Makasih dah review.

elisilorento_ Makasih ^^.

kaname_ Iya betul, kalau ada lemon masih awal, niatnya saya mau bikin lemon pas bener-bener lagi konflik. Sedangkan konflik masih lama. Neji dah balik dari luar negeri sekarang. Dia bakal diem ajah soal hubungan NaruHina. Tapi dari dalam dia yang paling menentang. Makasih dah review. ^^

dattebayonaruto_ Makasih. Dan ini udah update ^^

JumawanBlez_ Sudah:D

Akhirnya dah bisa balas review. Maaf kalau salah dalam enulisan nama. Boleh minta review lagi?

Mind to RnR?