Summary : Neji sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia menyesal. Sangat menyesal. Namun saat ia berusaha untuk memperbaiki semuanya, ia sadar bahwa ia sudah terlambat. NejixTen

Disclaimer : Tokoh disini hanya milik mister tuan bapak ayah Masashi Kishimoto-sensei.

Warning : Saya baru pertama kali bikin penpik romance. Mau coba aja. Jadi pasti di penpik ini banyak suatu kesalahan, keganjilan, keanehan, kekurangan, kejelekan, de el el yang saya mohon untuk dikoreksi para senpai. Arigatou.

Hmm, seperti biasa...balesan REPIEW :D

Inuzumaki Helen-senpai : Iya, senpai belum pacaran ama Kiba. Jangan buru-buru... slow... hehe. Enggak! Helen-senpai kan enggak satu sekolah ama Kiba, gimana mau satu kelas? Hieee?? Masa'? Saya hanya mendeskripsikan si Dani itu -dikemplang Dani senpai- dengan membayangkan cowok keren...huahahaha!! -biasa, sarap- Wow! Kok senpai tau saya emang jodohin si Sky ama si Akamaru?? Iya, sama. Setuju ama senpai. Romance memang harus menggunakan bahasa lebai. Hidup bahasa lebai!! -dengan semangat masa orde baru-

kagetsukiGo : Udah untung nggak saya jadiin banci lho, senpai... -digetok pake palu 100 ton- Senpaaaai!! Kan saya udah bilang, senpai mirip Matt. Bukannya jadi Matt! Makanya rambutnya enggak cokelat keijoan. Lagipula masa' aku ngetik : 'Seorang cowok dengan rambut cokelat kehijauan berdiri di hadapan TenTen...' Ya mpuuun... ntar yang ada disangka lumut berjalan lagi! -digorok Matt- Iya, iya. Chapter depan pake google putih dengan lensa oranye... Sabar ya... di chapter depan :D Mm... maap ya, bikin senpai jadi selengekan. Gomeeeenn... Malah ntar senpai jadi perusak hubungan orang lagi... -ditendang senpai- Ohya! Makasih atas dua REPIEW-nyaaaaa!!

dark aphrodite-senpai : Iya, klub memanah... hehe, beruntungnya diajarin Neji... ooh, saya juga mauuu!! -lebai- Samaaaa senpaaai!! Saya juga sama sekali enggak jago olahraga, paling banter juga maen bentengan doang. Huehehe... Mm... Neji ngapain Tenten? Itu akan muncul di chapter depan. Sebenernya masalahnya remeh banget, tapi yah...saya nggak kepikiran ide lain sih... -dikemplang- Yup, saya tunggu selalu apdetan fic-nya senpaiii... :)

Phillip William-Wammy (senpai) : Iyaaaa cu, inih nenek apdet... -aneh, saya malah seneng dipanggil nenek. sepertinya saya udah sarap- Ho'oh... abis penpik ini saya juga HIATUS dulu... Senen udah UTS!! Ohh, para senpai-senpai yang budiman... tolong do'akan saya!! -menangis meraung raung-

TensaisBaka-senpai : Sudahlah, terima saja saya panggil senpai. Hehehe... Waduh, mahap banget kalo saya lama apdet. Maklum, stres memikirkan ujian yang begitu menyebalkan. (: Tenang senpaaai!! Jangan menjedukkan diri ke tembok!! Ntar jadi beneran lemot! -ditendang senpai- Ng... gini, sebenernya masalah Neji ama Tenten hal remeh banget. Tapi karna pada dasarnya nggak pernah berantem, jadi sesekali hal remeh jadi masalah besar buat mereka. Begicyu... :D Gak papa kok. Setelah dipikirkan, ntar peran senpai ama Yvne-senpai bakal jadi 'rada' penting. Jangan stres memikirkan penyesalan Neji, karna penyebabnya sangatlah REMEH! Oke, makasih REPIEW-nya senpaaaai!! REPIEW senpai bikin saya nyengir-nyengir karna lucu :)

Nah nah nah, selesai. Mari sekarang kita mulai kembali ceritanya!


NEJI berjalan sambil berpikir terus menerus. Ia tidak memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tak peduli dengan banyaknya orang yang sudah ditabraknya. Tak peduli dengan sudah berapa banyak orang yang menyuarakan sumpah serapahnya pada Neji. Hanya satu yang ada dalam fokusnya saat ini. Tenten. Hanya dia.

Neji sudah tidak kuat akan pertengkarannya dengan Tenten. Selama pertengkaran ini dia tidak bisa tidur. Begitu juga dengan malam ini. Lagi-lagi insomnia-nya kambuh. Membuatnya sudah dua hari tidak tidur. Dan itu membuatnya lelah sekali.

Neji ingin cepat-cepat berbaikan dengan Tenten. Tapi ia takut memulai. Begitulah, terserah kalau orang mau mengatainya pengecut atau pecundang karena tidak berani untuk mulai berbaikan. Baginya untuk memulai itu selalu sulit.

Karakternya yang kelam dan datar membuatnya terbiasa dengan hal itu dan tidak bisa untuk memberikan beberapa sentuhan gentleman dengan mulai berbaikan duluan.

Neji menghela nafasnya berat. Lelah sekali rasanya tidak tidur dalam 2 hari. Sepertinya hari ini dia memang harus ke UKS segimanapun tidak maunya ia. Tapi ia harus. Sebelum dia pingsan di tengah pelajaran dan membuat keributan.

Tapi Neji malas. Ia tak mau membuat orang-orang menanyakan kemana saja dirinya selama pelajaran atau untuk apa dirinya ke UKS. Dan dalam kebingungannya, entah kenapa tiba-tiba di telinga Neji terngiang-ngiang hal yang dibicarakan Ino dan Sai kemarin.

"Eh, cinta mana ada rasanya kalo enggak berantem?"

Sekali lagi Neji menghela nafas berat. Mudah sekali bagi mereka untuk mengucapkan kata-kata itu. Tapi lihat Neji dan Tenten, mereka tidak pernah bertengkar. Dan sekalinya bertengkar, apa yang terjadi?

Yang terjadi mereka bertengkar lama. Bertengkar lama yang membuat Neji tersiksa. Neji tidak terbiasa untuk sendirian tanpa Tenten. Tidak akan pernah terbiasa. Sampai kapan pun. Uh, apa ini ya, resiko pasangan yang jarang bertengkar? Sekalinya bertengkar mereka bisa perang dingin begitu lama. Begitu pedih dan begitu menyiksa. Ah…

Neji mengepalkan tangannya kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk meminta maaf. Kesal pada egonya yang membuat pertengkaran ini terjadi.

Neji memegang kepalanya. Pusing sekali rasanya. Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Neji berbelok dari arah kelasnya ke arah UKS berada.


"KIB! Si Nene kemana?" terdengar suara Naruto yang cempreng di telinga Tenten yang sedang mengerjakan PR bersama Hinata. Tenten menatap mereka, bermaksud mencuri dengar –menguping bahasa kasarnya, apa yang mereka bicarakan.

Kiba yang sedang konsen dengan contekan PR Sasuke menoleh sebentar pada Naruto. "Hmm… Gue belom lihat dia daritadi. Nggak tahu kemana, tadi juga gue udah nyari dia kemana-mana. Nggak ketemu juga tuh, anak." Jawab Kiba sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan dengan mengedikkan bahunya tanda tak tahu.

Naruto mengerutkan keningnya. "Lah? Kenapa dia akhir-akhir ini sering banget ngilang gitu sih? Malah makin hari makin pucet lagi! Apa dia pake prodak pemutih wajah ya?" ucap Naruto asal membuat Tenten ingin menyambitnya pakai sepatu.

Namun Tenten akui apa yang dikatakan Naruto memang benar. Neji akhir-akhir ini sering menghilang entah kemana. Terlebih wajahnya semakin hari semakin pucat. Tenten agak khawatir dengan keadaannya. Tapi… Tenten sudah tidak pantas untuk mengkhawatirkan Neji lagi.

Kini dirinya bukan apa-apa Neji lagi. Kini statusnya dengan Neji bukan 'pacar'. Tapi langsung jatuh melesak sebagai 'teman perang dingin'. Tenten menggigit bibirnya kesal. Ia kesal pada dirinya yang bicara begitu egois hingga menyebabkan terjadinya pertengkaran dengan Neji. Harusnya ia tahu kalau Neji semata-mata hanya mengkhawatirkannya.

Tenten menggigit bibirnya begitu keras hingga mengeluarkan darah. Hinata yang saat ini sedang duduk di hadapannya –mengajarkan rumus yang ia tak ketahui, menyadari hal itu dan memekik perlahan.

"Ah! Tenten! Kamu berdarah!" ucapnya khawatir. Hinata segera mencari-cari tisu di tasnya namun tak berhasil menemukannya. Malah Sakura dan Ino belum datang, lagi. Pagi ini, kelas mereka memang baru terisi anak cowoknya saja. Para gadis belum datang sedari tadi.

Tenten berusaha tersenyum namun jadi terlihat seperti ringisan. "Ehm, nggak apa-apa kok Hinata. Ini hanya sedikit." Ujar Tenten berbohong. Luka ini sepertinya cukup parah. Sangat perih, dan entah kenapa darahnya mengalir deras sekali. Ia merasakan rasa anyir darah itu. Ia ingin muntah namun ia tak ingin membuat Hinata makin khawatir.

Hinata tak terlihat percaya pada ucapan Tenten, "Jangan bohong Tenten… Darahnya keluar banyak sekali. Setidaknya kita ke UKS dan ambil tisu ya?" ajaknya lagi.

Tenten menggeleng lagi. "Hinata ini tidak apa-apa kok. Ini tak seberapa…," kata Tenten menahan tangisnya.

Hinata menatap Tenten sebentar lalu mengerti. Ia tahu maksud Tenten. Luka di bibirnya itu tak seberapa dibanding luka hatinya. Dibanding apa yang sedang diderita dirinya dan Neji sekarang, baginya ini hanya luka kecil.

Hinata jadi ingin ikut menangis. Ia tahu, Tenten tetap seorang gadis yang rapuh dibalik ketomboiannya. Ia tahu, sebagaimanapun kuatnya Tenten, ia pasti tetap akan merasakan sakitnya jika dihadapkan pada masalah yang sudah menyangkut Neji. Hinata lagi-lagi merasa bersalah. Tenten sahabatnya dan Neji sepupunya. Tetapi ia tak pernah bisa melakukan apa pun. Padahal ia begitu dekat dengan keduanya.

Maka Hinata diam bergeming. Memberi kesempatan pada Tenten untuk mencurahkan apa yang selama ini ditahan-tahannya. Sesekali ia membelai rambut Tenten ketika Tenten mulai terisak. Berusaha untuk memberikan kekuatan dirinya pada Tenten. Ia tahu, Tenten pasti bisa menghadapi ini.


SHIZUKA menatap sungguh-sungguh Neji yang sedang mencontohkannya –sekali lagi- memanah yang benar. Kali ini ditambah dengan embel-embel 'agar anak panah tidak patah' sehingga menjadi 'memanah yang benar agar anak panah tidak patah'. Neji yang menamainya seperti itu. Dan itu membuatnya mendapat sambitan geta dari Shizuka.

Namun akhirnya Shizuka menerima juga nama itu meski terpaksa. Neji yang ketua klub memanah itu bilang dengan tegas, kalau itu adalah inovasi nama teknik pengajaran paling bagus pemberian KETUA. Ingat dalam otak! KETUA. Jarang-jarang seorang KETUA mau memberi nama pada teknik pengajarannya. Itu yang dikatakan Neji hingga membuat Shizuka tak berkutik.

Shizuka mendesah perlahan ketika Neji lagi-lagi berhasil menempatkan anak panah itu tepat pada lingkaran merah paling tengah dengan gampangnya. Ia masih bingung bagaimana caranya melakukan seperti apa yang baru saja dilakukan Neji. Semua itu berjalan terlalu cepat.

"KETUA! Lakukan sekali lagi!" 'ucap' Shizuka yang terdengar seperti 'seru' Shizuka. Neji menoleh ke arahnya.

"Hah? Tadi kan, sudah." katanya sambil mengambil anak panah lagi. Memerhatikan anak panah itu sebentar lalu menaruhnya kembali dan mengambil yang lain.

Shizuka menggerutu pelan, "Iya tau. Tapi tadi kamu melakukannya begitu cepat." Ujar Shizuka sambil mengangkat busur panahnya perlahan. Busur dengan berat 7 kilogram itu dibersihkannya hingga mengkilat. Ia lalu mengambil beberapa anak panah.

Neji mengangkat satu alisnya, "Yah, kau tinggal lakukan saja seperti kemarin. Tapi ingat! Jangan mematahkan anak panah! Seharusnya kau mengganti uang pembelian anak panah itu." Kata Neji sambil berusaha menyamarkan tawanya.

Shizuka mengangkat geta-nya lagi. Berancang-ancang melempar Neji dengan bakiak tinggi khas Jepang itu. Neji yang melihatnya jadi sedikit takut lalu berusaha mengembalikan ekspresinya agar kembali datar dengan susah payah.

"Oke. Sekarang coba." Kata Neji ketika tawanya sudah mulai surut. Shizuka masih menatapnya dengan tatapan mengancam ketika Neji berbalik badan ingin tertawa.

"Iya. Awas kalo tertawa! Dengan senang hati aku akan menyambitmu dengan geta-ku lagi!" katanya sambil tak bosan-bosan mengacungkan geta itu. Ia lalu mengangkat kembali busur dengan corak bunga sakura itu sembari mengambil sebatang anak panah.

Ia berkonsentrasi sebentar lalu melepaskan anak panah itu dari busurnya. Anak panah itu melesat cepat dan tertancap jauh dari lingkaran merah di tengah. Malah, anak panah itu nyaris tidak mengenai target.

Shizuka mendesah kecewa melihat apa yang dihasilkannya. Buruk sekali. Neji hanya meliriknya yang sedang mendesah berkali-kali.

Neji lalu mengacak-acak rambut hitam panjangnya sambil tertawa pelan, "Jangan terlalu dipikirkan. Sepertinya kau kurang konsentrasi hari ini. Pergilah istirahat lalu kembali kesini untuk memanah." Ucap Neji sambil memanah kembali.

Shizuka menghela nafas. Neji tidak tahu apa yang membuatnya tidak konsentrasi seperti ini! Uh, itu semua karena dia! Kenapa Shizuka selalu saja berdebar-debar ketika berdekatan dengannya? Padahal jelas-jelas Neji sudah punya Tenten. Meskipun sekarang mereka terlihat jarang bersama.

Shizuka menghela nafas lagi. Ia kesal. Kesal dengan fakta kalau dirinya berdebar-debar oleh pacar orang lain. Ia ingin menghentikan degup jantung ini lalu kembali konsentrasi. Tapi nyatanya ia tak bisa. Tak semudah itu untuk menepis perasaan cinta.

Shizuka berusaha menekan perasaannya. Ia tak bisa membuat Neji berpisah dengan Tenten bukan? Jahat sekali kalau dia sampai berlaku seperti itu.

Ia menatap Neji yang masih sibuk memanah dengan setiap anak panah tertancap tepat di tengah lingkaran terdalam. Ia melepas hiasan bunga sakura di kepalanya perlahan, lalu menyentuh rambutnya yang acak-acakan karena perlakuan Neji barusan.

Ia menyentuh rambutnya dengan mata berkaca-kaca. Ia merasakan cinta itu namun harus secepat ini juga melepasnya. Maka dengan sedikit senyum terpaksa, Shizuka pergi meninggalkan klub memanah.

Masih dengan tangan yang menyentuh rambut hitam legamnya.


KIBA berlari mengikuti gerak Akamaru, anjingnya yang lincah dan enerjik. Sore ini seperti biasa, Kiba harus mengajak Akamaru untuk berjalan-jalan. Bosan mengajak Akamaru berjalan hanya dalam lingkungan Konoha SHS, maka hari ini ia memutuskan untuk mengajak anjingnya itu berjalan-jalan keluar Konoha SHS.

Kiba tertawa senang sambil terus mengikuti Akamaru yang berlari sambil tersenyum. Sesekali Kiba mengelus-elus Akamaru dengan penuh sayang. Ia sudah lama hidup dengan anjingnya ini, sudah akrab luar-dalam dengannya.

Namun lama-kelamaan Akamaru kelihatannya makin lincah saja. Kiba yang biasanya juga lincah jadi agak kewalahan mengejar anjingnya itu. Kiba terus mengejar Akamaru yang berlari lebih cepat setelah mengendus beberapa saat.

"Hoi, Akamaru! Jangan berlari cepat-cepat. Hari ini aku capek sekali habis belajar fisika yang membosankan itu!" ucap Kiba sambil berusaha menyamai langkah anjingnya. Namun Akamaru yang biasanya selalu mendengar dan menuruti apa kata Kiba, hari itu tampak tak menggubris Kiba sama sekali.

"Buset dah nih, anjing. Mulai bertingkah lagi…," ucap Kiba lalu akhirnya tak mau tahu. Ia tetap berlari berusaha menyusul Akamaru. Terus berlari tanpa melihat objek lain selain anjing putihnya itu. Dan,

BRUAAAKKK!!

"Auww…," terdengar suara memilukan dari arah depan Kiba. Kiba mendongak dari jatuhnya untuk melihat siapa yang ditabraknya itu.

Seorang gadis dengan mata baby blue, rambut panjang sepunggung cokelat muda, dan berkulit kuning langsat mengerang kesakitan di hadapannya. Kiba merasa sedikit bersalah lalu mengulurkan tangan kepada gadis itu. Bermaksud menolongnya.

Gadis itu menatap Kiba dengan mata innocent baby blue-nya, lalu tersenyum. Ia menggenggam tangan Kiba kemudian berdiri. "Arigatou gozaimasu!" ucapnya kemudian sambil membungkuk sopan. Kiba jadi latah ikut membungkuk.

"Ng… Maafkan aku tadi. Kau tak apa-apa kan?" Tanya Kiba sambil memandang gadis yang sedang membersihkan celana pendek selututnya yang kotor ketika jatuh di hadapannya itu. Setelah merasa celananya sudah tidak kotor, gadis itu lalu menatap Kiba dan tersenyum lagi. Kiba mengangkat satu alisnya karena senyum gadis itu…ng, sedikit lebay.

"Nggak apa-apa. Terima kasih sudah mau membantu berdiri. Tadi saya jatuh bukan karena kamu kok. Keseimbangan saya memang buruk sehingga saya mudah jatuh." Tuturnya dengan wajah ceria. Kiba mengangguk meski agak bingung. Lalu, yang tadi ditabraknya itu apa dong?

"Ah! Sky dimana ya? Tadi sehabis menabrak kamu dia langsung menghilang bersama seekor anjing putih lain." Kata gadis itu membuat Kiba mengerti. Ternyata tadi dia nabrak anjing toh…

Kiba kemudian menengok sekeliling. Benar, Akamaru sudah tidak ada. Berarti dia pergi bersama anjing milik gadis ini. Apa tadi namanya? Sky? Ya, Sky.

"A…anjing putih itu punyaku. Sepertinya dia pergi bersama dengan anjingmu. Hmm… mau cari bersama?" Tanya Kiba ragu.

Gadis yang sedang menoleh kesana kemari itu memutar badannya kembali ke hadapan Kiba. "Cari bersama? Ayo!" ucapnya semangat sambil menarik tangan Kiba tanpa sungkan. Tapi kemudian ia berhenti mendadak seperti teringat sesuatu.

"Ada apa?" Tanya Kiba bingung melihatnya berhenti mendadak.

Gadis itu nyengir, "Kita belum kenalan lho! Saya Helen. Inuzumaki Helen. Senang berkenalan denganmu!!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Kiba menatap tangan itu sejenak lalu ikut nyengir. "Aku Inuzuka Kiba. Senang juga berkenalan denganmu, Inuzumaki." Katanya lalu membalas uluran tangan Helen.


TENTEN berjalan menuju klub memanah. Ia bermaksud melihat keadaan Neji saat ini. Apakah Neji baik-baik saja? Apa Neji masih terlihat pucat?

Tenten mempercepat langkahnya. Tidak sabar untuk melihat kondisi Neji yang sudah prima dan kembali memanah. Tenten rindu melihat kehebatan Neji memanah. Memang baru beberapa hari ia tak melihat skill Neji itu. Tapi kalau sedang bertengkar begini, waktu beberapa hari itu terasa bagai beberapa tahun.

Tenten sudah sampai di tempat latihan klub memanah. Biasanya, dia pasti langsung menghampiri Neji dan mengagetkannya. Namun dalam situasi begini, apa dia akan melakukannya? Oh, bodoh sekali jika dia melakukannya. Yang ada nanti Tenten malah dicuekkin. Atau kemungkinan terburuknya, dibentak.

Tenten mengintip sambil menoleh kesana-kesini. Mencari dimana gerangan sosok berambut panjang terikat satu yang indah itu.

Dan ketika menemukan seseorang yang dicarinya, Tenten terbelalak kaget.


CHAPTER THREE THE END.

Yep! Saya mengakhiri chapter tiga sampai adegan ini saja. Untuk membuat para senpai penasaran. –disambit batok kelapa-

Okeh, saya nggak mau banyak bicara lagi, yang penting REPIEW aja yaaa!! Dan ohya, bagi OC yang merasa sifatnya agak berbeda sesuai yang diinginkan, harap maklum. Saya mohon mahap karna itu saya lakukan untuk penyesuaian cerita penpik ini.

Akhir kata, Arigatou udah baca! REPIEW yaaaa!! Ditunggu lho!! –diceburin ke sumur-