Arti Sahabat Kematian
Yahahahahaha….ini dia chapter ke empatnya!! Hope you……
Enjoy It!!!
"Hei, bukankah dia anak yang dikabarkan pembunuh itu kan?"
"Iya benar, ayo bawa ia ke kantor polisi sebelum dia membunuh lebih banyak orang lagi!"
"Tunggu! Ini kesalahpahaman! Tunggu!" jelas Yuki, tapi tidak ada yang mendengarnya. Yuki pun menoleh kearah Sora. Dilihatnya dia sedang tersenyum licik penuh kemenangan.
"Bye bye, loser!" kata Sora yang langsung meninggalkan tempat tersebut.
"PERSETAN KAU SORA!"
***
"Tidak bisa dimaafkan," bisik Yuki dari dalam jeruji yang dikelilingi oleh polisi.
"Hey, apakah benar itu anak yang katanya menjadi pembunuh?"
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya iya. Sayang sekali, padahal gadis itu sangat manis loh!"
Yuki yang mendengar pembicaraan para polisi itu hanya bisa pasrah. Menghela napas bekali-kali berharap bisa meringankannya sedikit.
"Itu bukan perbuatanku, tahu!," bisik Yuki yang kesal. Air wajah Yuki telah berubah total. Dulu yang penuh tawa kini berubah menjadi dendam. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Teng, teng, teng"
Tiba saatnya waktu makan siang. Semua menuju keruang makan. Termasuk Yuki. Disana mereka tampak sama, memakai seragam yang sama. Tapi, lagi-lagi keadaan itu terjadi. Saat Yuki memasuki ruangan itu, suasana jadi hening. Yuki yang sudah terbiasa dengan keadaan itu hanya mengacuhkannya. Ia pun menuju ke tempat pengambilan makanan dan memilih tempat duduk.
***
"Hey, namamu siapa?," Tanya perempuan berambut pendek warna hitam yang baru saja duduk di samping Yuki.
Yuki terdiam. Kejadian ini mengingatkannya akan yang telah terjadi. Makoto, teman pertamanya sekaligus musuhnya, yang telah menghianatinya.
"Umm," Yuki tertunduk.
"Yuki, Tachibana"
Yuki mengangkat kepalanya lalu melihat perempuan itu.
"Hehehehe, aku melihatnya dari nametag-mu," jelasnya. "Namaku Nina, Nina Hikoichi, salam kenal," Nina menghulurkan tangan.
"Ah, i….iya. salam kenal," Yuki menerimanya.
Sejak saat itu, Yuki dan Nina selalu bersama. Mereka berteman sangat dekat. "Setiap ada masalah, selalu ditanggung bersama", itulah janji yang dibuat antara mereka. Yuki pun sering curhat kepada Nina.
***
"TEEET!! TEEET!! TEEET!!"
"SOS! SOS! Di sector lima, ada tahanan lepas! Tolong bantu kami!"
"Apa?! Tapi di sana ada penjaga! Ada lebih dari sepuluh!"
"Iya, maaf Pak tapi, mereka semua……telah dibunuh…..Pak"
"Uh, sial. Ada berapa yang lepas?"
"Ada lima. Kyokuji, Hayate, Karina, Yugi dan………Nina"
Kejadian itu terjadi sangat cepat. Bahkan tidak menghilangkan keheningan pada malam itu.
***
Yuki terbangun dari tidur. Dia melirik jam yang ada disampingnya dan membangunkan diri dari ranjang.
"Hoaam….tidurku lama juga. Walaw aku disini tetap bisa tidur nyenyak ya," candanya.
"Ternyata kau masih bisa tidur nyenyak ya rupanya? Tak disangka"
Yuki tersentak. Dilihatnya ada laki-laki yang memakai jas berwarna coklat yang sudah ada di ruangan itu.
"Pak…..Inspektur…..kenapa….ada disini?" Tanya Yuki.
Inspektur itu mendekati Yuki dan langsung memborgol Yuki.
"Eh? Ada apa ini?," Yuki panik.
"Sudah kau ikut saja!" jawab Inspektur.
Dengan pikiran yang bingung, Yuki hanya bisa mengikuti. Inspektur membawanya ke sebuah ruangan. Di dalamnya sudah banyak polisi yang menunggu. Yuki semakin panik.
"Jika mukamu sudah seperti itu, berarti kau audah tahu kesalahanmu," kata salah satu polisi
"kesalahanku?" tanya Yuki.
"semalam ada tahan kabur, ada lima. Namanya Kyokuji, Hayate, Karina, Yugi dan Nina"
"NINA??!"
"Sudah kuduga kuduga kau temanya"
Polisi itu merogoh sesuatu dari kantongnya.
"Itu…..gelangku!" kata Yuki.
"bagus kau mengakuinya. Mereka berlima melarikan diri dengan cara membunuh semua penjaga, depalapan belas penjaga. Dan kau tahu apa lagi? Aku menemukan gelangmu di tempat kejadian"
Yuki terkejut. Memang itu gelangnya, tapi dia jarang memakainnya. Dia hanya menaruhnya dikamar. Dan satu-satunya yang selalu kekamarnya adalah…..
"Nina," kata Yuki tak percaya.
"Pembunuhan berencana, membunuh 18 orang dengan cara yang sadis. Kau dikenakan sangsi hukuman mati! Bawa dia!"
Yuki benar-benar syok. Tidak ada yang bisa membelanya. yuki berontak. Dia menolak untuk dihukum mati karena ia tahu itu bukan salahnya. Salah satu polisi langsung memukulnya dikepala berniat membuat yuki tak sadarkan diri. Namun pukulan itu belum cukup membuat Yuki pingsan. Polisi itu berniat memukulnya untuk kedua kalinya.
"Tidak bisa dimaafkan," bisik Yuki.
Yuki Manahan pukulan itu dengan tangannya. Yuki mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk karena dipukul. Dilihatnya ia menangis berwarna merah. Ya….itu darah. Yuki sudah terlalu banyak menangis, karena rasa sakit setelah mempercayai seseorang.
"TIDAK BISA DIMAAFKAN!!!"
Semua polisi polisi disekitarnya terlempar. Entah apa yang telah merasuki Yuki. Badannya kini diselimuti api. Ia pun langsung membakar seluruh penjara dan keluar dari penjara itu. Di samping penjara itu ada tempat penampungan minyak. Penampungan minyak itu meledak dan membakar banguna lain. Yuki terus saja berjalan, samapi akhirnya langkahnya terhenti disebuah rumah. Rumah Makoto. Saat itu juga ditemukannya Makoto sedang berlari ke luar rumah.
"Yu….Yuki?"
Yuki hanya memandangnya. Lalu ia melemparkan bola api ke Makoto. Makoto yang ketakutan lsngsung berlari ke kamarnya. Berharap ia tidak bisa mengikuti. Akhirnya Yuki sampai diruangan Makoto. Dilihatnya Makoto sedang memegang boneka. Yuki terdiam. Dilihatnya yang dipegangnya adalah boneka jerami, sama seperti yang pernah ia pegang. Makoto berniat menarik simpul tersebut. Tapi terlanjur Yuki sudah melemparkan serangan kepada Makoto. Sehingga Makoto terbunuh dengan menggenggam benang berwarna merah.
***
Yuki berdiri di sebuah bukit, sambil melihat apa yang telah dibuatnya. Api dimana-mana, berwarna merah, seperti neraka. Didengarnya ada suara tapak kaki yang mendekat. Yuki tertawa kecil.
"Sudah saatnya kan? Aku untuk pergi, setelah apa yang telah kuperbuat ini"
Ai hanya terdiam. Sebenarnya ia kasihan melihat apa yang telah terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, ini yang harus ia lakukan. Sesaat ia melihat kota yang kini tenggelam oleh api. Ai kembali melihat Yuki dan menjulurkan tangannya.
"Ya. Ayo, saatnya kita pergi…..ke neraka"
Yuki memandangi Ai. Ia pun menerima tangan Ai dan ikut bersamanya.
"Cring!"
~50 tahun kemudian~
"Selamat datang di taman monument ini! Disini ada monument yang bernama "Shi-hi". Monumen ini menceritakan tentang kejadian kebakaran yang membakar hamper seluruh kota. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi diperkirakan terjadi karena tempat penyimpanan minyak yang meledak. Baiklah, mari ikut saya ke sebelah sana"
Ada seorang perempuan yang melihat dari jauh. Rambutnya hitam penjang dengan mata merah. Lalu akhirnya perempuan itu pergi.
***
Shi-hi = kota api. Shi = kota, hi = api.
Yahahahahaha….akhirnya berakhir…..sorry kalo panjangnya beda dengan chapter lain. Habis g enak kalo dipotong. Klo ada salah ketik sorry y……males meriksa balik….hehehe……oiya! hamper lupa lagi……jangan lupa review!!
