Chapter 4
"Ayo Kurapika, kau ingin ku perkenalkan dengan orang yang-"
Kurapika menarik tangan Neon. Nostrade itu dapat merasakan wajahnya bertambah panas.
"K-Kurapika, lepaskan!" Tangan Neon tidak dikunci secara kasar, bahkan bisa dikatakan Kurapika menarik tangannya secara halus. Kini dia bingung melihat Kurta itu.
"Miss Neon, ini penting."
Neon menjawabnya dengan kesal, "Jangan pake Miss. Apa?" Kurapika melepaskan tangannya.
Kurapika yang semulanya menghadap ke lantai kini menatap wajah Neon dengan mata birunya.
"… " terjadi keheningan sesaat. "Apa?"
"KENAPA SEMUA MENGIRA AKU SEORANG PEREMPUAN!" Inilah salah satu saat terlangka untuk si bocah Kurta. Kurapika telah kehilangan ketenangannya akibat hal spele dan tekanan yang dia terima sepanjang hari.
Ketegangan di udara sudah menghilang, suasana berubah mencair. Neon tak dapat menahan ketawanya lagi, "Astaga Kurapika! Kau ini… ku kira ada apa! Ini baru pertama kalinya aku melihatmu meledak seperti itu! Lucu sekali." Muka Kurapika berubah merah, Neon merasa kasihan melihatnya yang selucu anak anjing setelah diabaikan pemiliknya, "tentu saja aku memberitahu mereka semua! Kan aku sudah bilang!"
"Tapi kau bilang 'nanti disana aku akan mengatakan bahwa kau seorang perempuan' dimana pada kalimat tersebut mengandung kata nanti serta disana, yang berarti kau belum mengatakan apapun tentang diriku kepada keluarga Araminta. Lalu sejak kita sampai disini, aku tidak melihatmu berbicara kepada siapapun dan mengatakan bahwa aku ini perempuan-" Kurapika terdiam dan baru saja menyadari gravitasi dari perkataannya. "Urgh… lupakanlah."
"Penjelasanmu panjang, lebar, dan membosankan, tetapi ingatanmu bagus. Setelah aku memikirkannya, aku memang belum mengatakan apa-apa." Neon tersenyum.
"Hmph."
"Ayo Kurapika."
"Neon, aku ingin minta maaf sebelumnya. Tidak biasanya aku menggertak seperti itu."
Neon hanya tertawa kecil, "Kurapika, itu biasa saja. Bukankah teman selalu begitu?" Dia mulai berjalan.
Apakah Miss Neon menganggapku seorang teman? Entahlah. Kurapika mengangkat bahu dan teresnyum tulus.
Neon menghentikan Kurapika yang akan membuka pintu perpustakan, "Tunggu."
"Ada apa?"
"Kau penggila buku kan?"
"Penggila? Entahlah, kata itu tidak terasa tepat."
"Ya terserah. Pokoknya jangan terkejut ketika masuk."
Kurapika menaikkan alisnya dan membuka dua pintu besar sambil melihat Neon dengan bingung, "Apa maksud-" Kurapika terkejut melihat ruangan itu, "Astaga!"
Perpustakaan itu sangat luas, bahkan luasnya tidak wajar untuk sebuah rumah besar. Dari tempat mereka berdiri, ujung ruangan itu terlihat menghilang. Semua rak buku yang terbuat dari kayu tersusun rapih dan menjulang tinggi, interior ruangan tersebut juga sangatlah memukau. Klasik dan memberikan kesan seperti istana jaman dahulu kala.
"Sudah ku bilang jangan terkejut."
"A-apa ini? Ini mustahil!"
Neon menuruni tangga yang sangat panjang. Kurapika mengikutinya dari belakang dengan hati-hati.
"Ini Kurapika, bukanlah ruangan perpustakaan keluarga Araminta yang asli karena bla, lalu bla, dan bla." Neon memandang kiri dan kanan lalu mulai berteriak memanggil nama seseorang, "SHUREI!" suaranya bergema panjang. Perpustakaan itu menghilang. Kini ruangan itu hanya berupa perpustakaan sebesar milik keluarga Nostrade dengan rak buku yang hanya mencapai dua tingkat.
"Miss, apa yang baru saja terjadi?"
"Ah Shurei!" Neon mendekati seorang perempuan berkepang yang menggunakan kacamata.
Perempuan itu mengerutkan keningnya,"Apa?"
Neon memeluk Shurei sambil mencubit-cubit pipinya,"Kau semakin imut saja!"
Shurei tidak dapat melepaskan tubuh kecilnya dari pelukan Neon yang mematikan,"Neon! Aku tidak dapat bernapas!"
"Semakin marah kau semakin imut saja!" akhirnya Shurei dilepaskan.
"Hmph. Siapa kau?" perhatiannya beralih ke Kurapika, dia mengamati Kurta itu sambil mendorong kacamatanya yang perlahan turun.
Kurapika masih terkejut terhadap apa yang baru saja terjadi.
"Dasar sombong."
Neon mencolek dagunya,"Introspeksi diri dulu Shu-chan!"
"Ih!" Shurei menggosok-gosok bekas sentuhan Neon dengan.
"Shu-chan, ini Kurapika. Dia bodyguardku. Kurapika, ini Shu-chan."
Kurapika hanya memandang kosong dan berusaha tersenyum.
"Dia terlihat bodoh seperti itu." Teman sejak masa kecil Neon itu beralih kepadanya, "Neon kenapa dia terdiam seperti orang bodoh?"
"Um…" Kurapika mencoba untuk berbicara.
"Dia kaget melihat kemampuan-… apasih namanya? Aku lupa."
"Namanya Nen, Neon. Bagaimana kau bisa lupa satu kata sederhana itu, itu cukup keterlaluan karena kay juga memilikinya." Shurei tidak menyukai orang yang memiliki intelektual rendah, "Aku tidak suka orang bodoh. Dan kau terlihat bodoh."
Kurapika sadar dari lamunannya,"Maaf." Dia menarik napas, muka bodohnya sudah menghilang.
"Itu lebih baik."
Tempat tadi! Banyak sekali bukunya! Aku melihat semuanya buku berharga yang sangat langka… Kurapika berusaha menyembunyikan kekagumannya, "Kau pengguna Nen juga? Apa jenis Nen milikmu?"
"Dasar kampung. Sudah jelas aku seorang Specialist." Suasana terasa canggung.
"Ah Kurapika, kau tahu, Shu-chan ini seorang jenius!"
"Tentu saja." Shurei terlihat bangga. "Dan kau pasti penasaran cara penggunaan Nenku bukan?"
Kurapika tidak sabar ingin mendengarnya meskipun dia hanya menagguk.
"Sebagai seorang specialist aku memiliki kemampuan bla, lalu bla, dan bla." Shurei adalah jenis orang yang tidak suka menjelaskan sesuatu,"Pikirkanlah sendiri bodoh."
"Baiklah." Dia terlihat sangat kecewa.
"Menyedihkan."
"Kurapika, Shu-chan pintar dan mengerti bahwa kau seorang laki-laki." Neon berusaha menghiburnya.
"Apa?" Shurei tidak mempercayai perkataan Neon.
Kurapika berdiri bagaikan mayat hidup.
Shurei melipat tanggannya, dasar bodoh… aku hanya bercanda.
Harga diriku menjauhHarga diriku memudar
Harga diriku menghilang.
Apalah arti hidup ini,
Tanpa adanya harga diri?
Miaka menghampiri mereka di luar perpustakaan,"Ha, kalian semua sudah berkumpul! Baguslah. Bagaimana jika kita semua diajari memasak oleh sepupuku?" mukanya berubah merah melihat Kurapika.
Suka perempuan… Kurapika menghela napas.
Mereka semua menuju dapur. Tentu saja dapur rumah Araminta merupakan sesuatu yang juga sangat megah, bahkan semua peralatan memasaknya terlihat belum pernah dipakai.
"Itu karena memang belum pernah dipakai, Kurapika. Bodoh." Shurei membenarkan kacamatanya.
"Dia belum datang Miaka?"
"Sudah, akan kupanggilkan ya." Miaka pergi.
"Siapa orang ini?"
"Sepupu Miaka yang pandai memasak."
"Dan juga seorang gourmet hunter." Shurei menambahkan.
Kurapika menelan ludah mengingat galaknya-
"Hallo semuanya!" begitu menyapa, empat buah pisau tajam terkena pantulan cahaya lampu dapur dan menyilaukan mata Kurapika.
M-Menchi!
Gourmet hunter itu masih tersenyum.
End of chapter 4
Critics are welcomed, duh. PM me if you wanna share ideas... damn I'm desperate.
