Diclaimer: Bukan aku yang punya kok. Aku cuma punya hatikamu aja kok #eaaaaaa
.
.
.
.
"HEY! AKU SUAMINYA! KAU ITU BUKAN SIAPA-SIAPA!" bentak Shikamaru sambil menahan tinjunya dan menahan suaranya agar tidak membuat ICU heboh, karena dia sadar dia berada ditempat yang seharusnya tenang.
"Ingatkan aku pernikahan kalian bukan atas dasar cinta. Temari berjanji akan menceraikanmu sebentar lagi." Sasori melemparkan tatapan tajam kearah Shikamaru.
"Diam kau! Kau itu cu―"
"Apa? Aku mencintainya , kau―"
"Tapi aku suaminya dan kau tidak pu―"
"Dia kekasihku se―"
PLAK!
Perdebatan mereka berhenti saat seorang anak kecil melempar bola plastik kearah mereka.
"Sst! Belisik! Nee-chan lagi cakit!"
"Gaara?" Shikamaru mendelik tajam kearah anak kecil yang berani melempar bola lagi ke kepalanya dengan tidak sopan. "Gaara, datang kemari dengan siapa?" tanyanya dengan memaksakan seulas senyum kearah Gaara.
"Dengan Taa-chan sama Kankulo-Nii."
"Gaara mau permen?" Sasori mengelus rambut merah yang mirip dengan rambut miliknya. Gaara mengangguk senang. Sasori mengeluarkan 5 buah lolipop berbagai rasa.
"Gaara, gak boleh makan permen entar giginya berlubang loh." Shikamaru mengambil lolipop yang diserahkan Sasori.
"Tapi Gaala mau, Chikamalu-Nii."
"Hey berikan permennya!" Sasori mencoba membentak Shikamaru.
"Ini permen berbahaya untuk anak kecil, jangan-jangan kau berniat untuk memberikan racun di permen ini."
"Hey! Kau pikir aku gila? Aku tidak mungkin meracuni adik iparku sendiri!" Sasori mengambil permen dari tangan Shikamaru.
"Chikamalu-Nii, Gaala mau itu, mau pelmen."
"Adik iparmu? Apa kau bilang? Sejak kapan Gaara jadi adik iparmu?"
"Cacoli-Nii,mau pelmen." Gaara merengek sambil menarik celana panjang Sasori, tapi sayang, rengekan yang keluar dari bibir mungilnya tidak dipedulikan oleh kedua pria yang sedang adu argumen itu.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi juga kau akan bercerai."
"Tidak akan pernah."
"GAALAAAAAAA MAU PELMEEEEEEEENNNNNN!" Teriakan Gaara membuat Shikamaru menyumpal mulutnya dengan tangannya. Gaara kemudian menangis.
"Merepotkan. Kaa-san mana?"
"Taa-can bertemu tante -Nii telimakacih ya pelmennya, Nee-chan pasti makin cinta sama Cacoli-Nii." Gaara berbicara sambil mengemut lolipopnya.
"Apa? Temari cinta dia?" Apa-apaan ini masih kecil sudah berbicara masalah cinta.
"Tentu saja, memangnya kau―"
"Aku kenapa?―"
Perdebatan mereka dihentikan saat pintu ICU di buka. Tampak dokter muda keluar dari tempat itu dengan wajah yang sulit diartikan.
"Maaf, apakah anda berdua keluarga Nona Temari?"
"AKU SUAMINYA!"
"AKU KEKASIHNYA!" Ucapan serentak kedua pemuda itu membuat kening dokter itu berkerut. Dokter muda itu menatap kedua pria itu aneh. Apa gadis muda yang sedang ditanganinya ini telah melakukan poliandri? Entahlah.
"Hah siapapun anda berdua. Saya hanya ingin mengatakan benturan dikepalanya cukup serius. Dia kehilangan banyak darah. Saya tidak tahu kapan dia akan sadar, anda boleh mengunjunginya. Ingat! Jangan berbuat keributan!" Dokter itu kemudian pergi meninggalkan mereka. Merekapun berlomba masuk ke kamar Temari, ternyata Sasori yang berhasil duduk disamping tempat tidur Temari. Dia mengenggam lembut tangan Temari.
"Temari, maafkan aku ya sayang, seharusnya tadi aku mencegahmu untuk balapan."
"Sayang.. Sayang kepalamu!" omel Shikamaru, entah mengapa hatinya sedikit panas melihat adegan sok romantis itu.
"Diam kau!" desis Sasori sambil mengelus kepala Temari yang sudah tertutup perban. Temari memakai beberapa alat yang tidak Shikamaru ketahui namanya, tentu saja alat itu untuk membantu hidupnya.
"Taa-chan, Cacoli-Nii kaci aku banyak pelmen loh." Gaara yang ternyata menghilang, muncul bersama Karura dan Kankuro.
"Gaara, aku minta permen jeruknya satu dong." Kankuro meminta dengan muka yang sok imut.
"Gak boleh!" bentak Gaara sambil menyembunyikan permennya.
"Pelit!"
"Bialin!"
"Dasar Gaara pelit. Aku bilangin Matsuri loh kalau kamu pelit!"
"Gak papa. Gaala gak takut!" ujar Gaara songong.
"Sstt. Sudah. Sudah. Lihat Nee-chanmu lagi sakit. Jangan ribut." Karura menghentikan perkelahian kedua anaknya. Kemudian dia duduk di samping ranjang anaknya yang masih tergolek lemah. "Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, Sasori?"
"Hmm. Mantan kekasihku mengajak Temari balapan, ketika di dekat Konoha Mall, ada mobil yang tiba-tiba muncul dari arah depan mobil Temari, Temari berbelok menghindar tapi sayangnya malah menabrak selter bus, dan terguling." Sasori menceritakan detil kecelakaan yang dialami Temari, sambil menatap wajah Temari. Tangannya mengelus kepala Temari dan juga turut mengelus pipi gadis bersurai pirang itu. Karura hanya menatap miris ke arah anaknya. Memang kebiasaan balapan, merokok, dan mabuk-mabukan anak perempuannya ini sangat sulit dihentikan, mungkin sudah mendarah daging.
Gerakan tangan Sasori yang mengelus lembut wajah Temari, membuat Shikamaru sedikit tidak senang. Shikamaru melirik ke arah ibu mertuanya yang hanya bersikap biasa. Hey, suami anakmu ada disini, mengapa kau membiarkan lelaki lain mengelus wajah anakmu?
"Hey, apa-apaan tanganmu itu? Turunkan!" Shikamaru mendelik tajam ke arah Sasori, tapi Sasori malah makin mengelus pipi mulus Temari dan mencium punggung tangan Temari. Orang ini...
Kring.. Kring...
Panggilan telepon dari ponsel Karura mengagetkan Shikamaru. Karura dan kedua anaknya yang menyebalkan sudah keluar dari kamar rawat. Kesempatan yang bagus untuk Shikamaru menarik paksa tangan Sasori yang mengenggam seenaknya tangan Temari.
"Lepaskan! Oy kubilang lepaskan!" Shikamaru berhasil melepaskan tangan Temari dari genggaman monster merah bernama Sasori.
"Tidak akan pernah. Temari itu milikku. Selamanya milikku."
Pertengkaran ala remaja ababil menghiasi kamar rawat itu. Untungnya, pertengkaran itu dihentikan oleh Karura.
"Shika, Sasori, tolong jaga Temari ya. Aku bersama suamiku, Gaara serta Kankuro akan berangkat ke Suna sekarang, ada urusan bisnis yang mendadak. Maaf." Shikamaru hanya mengangguk patuh, sementara Sasori terlihat mencari muka didepan mertuanya.
"Baik, akan jaga Temari sepenuh hati." Jawaban Sasori membuat Shikamaru nyaris terjungkal. Bagaimana bisa Temari jatuh cinta kepada orang aneh yang gemar mencari perhatian seperti ini. Karura kemudian pamit dan meninggalkan rumah sakit. Shikamaru tengah memikirkan cara untuk membuat Sasori juga meninggalkan rumah sakit. Dibunuh? Oh tidak mungkin. Dipukul? Hey! Itu salah satu perbuatan kriminal. Disekap? Seharusnya dia meminjam celana bekas ompol Gaara untuk membuat lelaki berwajah bayi ini pingsan.
Shikamaru duduk dikursi yang tadi ditempati oleh Karura sambil memberikan seringaian tajam ke arah Sasori kurang ajar yang sudah seenaknya membelai wajah istrinya. Berkali-kali ponselnya bergetar akibat panggilan masuk dan pesan singkat. Tanpa Shikamaru lihat ponselnya, dia sudah yakin seratus persen bahwa si penelepon adalah Tayuya yang masih berstatus kekasihnya. Lihat saja! Kalau sampai Tayuya terlibat di dalam insiden kecelakaan Temari, dia akan memutuskan hubungan dengan perempuan itu karena sudah berani mencelakai istrinya. Wait, sejak kapan Shikamaru mulai peduli dan memperhatikan Temari? Bahkan, lebih memilih meninggalkan kemesraannya bersama Tayuya saat mengetahui kecelakaan Temari, dan mengancam kekasihnya.
'Tidak ada kata kekasih jika sudah menyangkut hukum' ucapnya dalam hati. Sepertinya Shikamaru belum menyadari rasa cintanya ke Tayuya akan terkikis sedikit demi sedikit karena rasa sukanya kepada Temari.
Lamunan Shikamaru terhenti saat mendengar ringtone ponsel Sasori yang dia pikir sangat norak.
"Awas saja kau berani menyentuh Temari-ku. Aku ada urusan dengan polisi." Sasori membanting pintu rawat inap kemudian pergi.
"Temari-ku katanya? Cih, yang benar saja." Shikamaru menatap wajah pucat Temari. "Hey, kau dengar aku tidak? Sudahku bilang jangan balapan. Kau ini keras kepala sekali. Kau senang sekali membuatku khawatir―eh apa yang ku katakan tadi. Lupakan. Lupakan, kalau kau mati, aku belum mau menjadi duda, bodoh haha." Shikamaru tertawa konyol, dan masih belum mengakui perasaan sukanya kepada Temari.
.
.
.
.
"Ino, kau harus tanggung jawab! Shika pasti akan memutuskan aku gara-gara mulutmu yang selalu tidak bisa dikontrol itu!" desis Tayuya kesal karena tidak berhasil menghubungi Shikamaru.
"Mana aku tau kalau ada dia! Kau kira aku suka berada di posisi membahayakan seperti ini." Ino meneguk air putih. Entah sudah berapa banyak air putih yang di minumnya karena depresi.
.
.
.
"Kudengar kau ada ditempat kejadian perkara?" Pria berambut putih keabu-abuan―bukan uban―menatap ke arah Sasori tajam.
"Iya, aku membuntuti mobil Temari." Jawab Sasori santai tanpa beban.
"Bisa kudengar bagaimana kronologi kecelakaannya? Kudengar hanya kau satu-satunya orang yang berada di kejadian perkara." ujar pria itu lagi sambil mengetikan sesuatu di mesin tiknya dan menimbulkan bunyi yang teratur.
"Mantan kekasihku―Yamanaka Ino menantang Temari untuk balapan. Aku mengerti sifat Temari yang tidak suka ditantang, dia menyanggupi tantangan Ino, mereka balapan, sampai ketika di tikungan Konoha Mall ada mobil yang berlawanan arah. Temari yang menghindari mobil itu malah menabrak shelter bus dan mobilnya terguling." Sasori menarik nafas panjang, sepertinya dia kelelahan karena sudah kebanyakan bicara.
"Baiklah, kasus ini untuk sementara murni kecelakaan sampai ada keterangan dari Yamanaka Ino, dia sedang menuju kesini." Hening sejenak, Sasori tidak berniat untuk kembali kerumah sakit, dia ingin tau kelanjutan kecelakaan yang menimpa kekasihnya. Soal Shikamaru ada dirumah sakit, dia tidak perlu khawatir toh Shikamaru tidak akan menyentuh kekasihnya, cih coba saja kalau berani.
Bunyi dering telepon mengagetkan semua orang yang berada dikantor itu.
"Sasukee, tolong angkat teleponnya." Teriakan berat seseorang mengingatkan Sasori pada seseorang. Telepon. Astaga Sasori ingat sesuatu.
"Aku melihat Yamanaka Ino menelepon seseorang sebelum balapan. Kau bisa tanyakan ke dia nanti." Sasori melihat pria yang ternyata bernama Hatake Kakashi itu mengernyitkan alis, kemudian kata 'baiklah' keluar dari mulutnya.
"Hubungi Shikamaru, kita butuh otaknya yang encer itu untuk kasus ini." Pria berambut panjang― yang Sasori pikir seorang wanita berteriak. Kenapa polisi-polisi disini gemar berteriak sih?
"Tapi, dia sedang menemani istrinya, bagaimana jika is―" Belum sempat polisi berambut seperti durian berbicara ucapannya sudah di potong oleh polisi yang berada dihadapan Sasori. Dan satu lagi, selain hobi berteriak juga gemar memotong ucapan orang.
"Baiklah..Baiklah." Akhirnya polisi itu mematuhi ucapan si Kakashi.
"BUKAN AKU! BUKAN AKU PELAKUNYAAA~!" Wanita yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang diiringi teriakan histeris. Sasori sekarang berada di dalam lingkaran orang-orang yang hobi berteriak, well, sebaiknya dia harus segera memeriksa telinganya ke dokter THT setelah ini.
Yamanaka Ino datang bersama Tayuya. Ino memasang wajah panik yang luar biasa kontras dengan wajah Tayuya yang santai. Tapi, wajahnya yang santai berubah panik saat pria berambut nanas datang. Pria itu adalah kunci semua perbuatan yang sudah ia lakukan. Tayuya mengigit-gigit bibirnya karena terlalu panik.
"Mendokusai, kenapa ini?" Shikamaru melirik tajam kearah wanita yang masih berstatus kekasihnya.
"Kau duduk disini! Jadi pendengar yang baik!" Hatake Kakashi memerintahkan Shikamaru layaknya memerintahkan murid taman kanak-kanak. Konyol.
"BUKAN AKU YANG BUAT DIA CELAKA, DIA SAJA YANG TIDAK PANDAI MENGENDARAI MOBIL. IYAKAN TAYUYA?" Nada bicara Ino meninggi, sementara Tayuya masih terus membisu.
"Bagaimana dengan pembicaraanmu dengan Tayuya tempo lalu?" Shikamaru mendelik tajam ke arah Ino, dan mulai memutar otaknya untuk berpikir.
"P-P-Pembicaraan yang mana?" tanya Tayuya yang akhirnya membuka suara. Mati sudah, pikirnya.
"Tentang "Dia sudah mati, aku lihat mobilnya terguling" kira-kira seperti itu."
"Heh, tunggu dimana kau mendengar ucapan itu Shika?"
"Dirumah Tayuya. Aku sedang bersama Tayuya." Jawab Shikamaru santai.
"Apa? Kau dan Tayuya selingkuh?" Kakashi mendelik. Bagaimana bisa pemuda pemalas akut seperti Shikamaru melakukan selingkuh, sementara Kakashi masih terus single diusia hampir 30 tahun.
"Kakashi, kita tidak sedang membahas perselingkuhan." Sasuke menatap sebal ke arah seniornya di kepolisian itu.
"Yang mati itu kelinciku." Tayuya menjaga agar getaran ditubuhnya tidak terlalu mencolok atau dia akan menerima konsekuensi, dijebloskan dari penjara, dan hubungannya bersama Shikamaru berakhir.
"Lucu sekali, bagaimana bisa kelinci naik mobil, dan kau sama sekali tidak menyukai kelinci, Tayuya." Shikamaru tertawa mencoba memojokan Tayuya.
"Aku dan Tayuya tidak bersalah!" Ino kembali berteriak nyaring. Sementara Sasori hanya menjadi pendengar yang baik di ruangan itu.
"Kudengar kau menelepon seseorang sesaat sebelum balapan, benarkah?" Kakashi menatap Sasori sambil tersenyum, Sasori menatap jijik kearah Kakashi yang sedang tersenyum layaknya om-om hidung belang.
"Aku menelepon Tayuya, menanyakan apa dia sudah makan."
"Tayuya tidak menerima telepon darimu. Aku bersama Tayuya, Ino."
Ino menelan ludahnya, kenapa dia yang dipojokan seperti ini. Padahal rencana ini murni buatan mereka berdua. Kenapa Tayuya tidak membelanya? Tayuya kurang ajar.
"Walaupun Ino sahabatku, tapi aku tidak bisa membenarkan hal buruk yang dilakukan sahabatku bukan?" Tayuya tersenyum singkat. "Ino yang mencelakai Temari, karena Temari merebut Sasori dari tangannya―"
"Hey! Kau bicara apa?" Ino memotong ucapannya, dan menatap Tayuya kesal.
"Kecelakaan itu murni karena perbuatan Ino. Mobil yang melaju dari arah berlawanan itu adalah orang suruhan Ino, yang bernama Pain―"
"Kurang ajar kau Tayuya!" Ino sudah berniat mencakar Ino, kalau saja Sasori tidak menahan tubuhnya.
"Apakah kami bisa mempercayai ucapanmu?"
"Tentu saja, cek saja ponselnya."
"Aku memang mencelakai Temari, semua yang dikatakannya itu memang benar, tapi aku bersama dia―bersama wanita tidak tahu malu ini, merencanakan rencana jahat untuk membuat Temari celaka!" Ino masih meronta, berteriak seperti orang kesetanan, butuh 2 orang pria untuk mengunci perbuatan beringas seorang Ino.
"Aku berani bersumpah kalau aku tidak terlibat. Aku juga tidak menerima telepon dari Ino. Ino memang sedikit depresi karena ditolak Sasori."
Kakashi meminta Ino untuk menunjukan ponselnya. Sesaat kemudian Kakashi bersuara, "Tidak ada pesan singkat, panggilan masuk maupun keluar, dan kontak atas nama Tayuya di ponsel ini. Tapi, ada pesan singkat dari seseorang bernama Pain. Tayuya murni tidak bersalah." Ucapan Kakashi di sambut oleh senyuman kemenangan ala Tayuya. Sementara Ino, masih mengeluarkan umpatan kearah sahabatnya itu, masih pantaskah Tayuya disebut sahabat?
"Kau menghapus semuanya? Dasar wanita tidak tahu malu kau! Kurang ajar―" Ino berteriak histeris. Dia tidak menyangka Tayuya tega berbuat licik seperti ini.
"Tolong hubungi Pain, kalau perlu langsung tangkap di rumahnya." titah Kakashi, sementara Shikamaru sedikit bernafas lega, karena kekasihnya memang tidak terlibat.
Tayuya terpaksa melakukan hal ini, demi Shikamaru, karena cintanya yang begitu besar ke Shikamaru, ia rela mengorbankan sahabat terbaiknya. 'Maafkan aku, Ino' batinnya menyesal.
Sasori pamit undur diri dengan alibi ada urusan pekerjaan, tapi Shikamaru yakin dia pasti akan ke rumah sakit, dan kembali mengelus-ngelus wajah istrinya, dan membuat Shikamaru menatap tidak suka ke arah pria itu.
Kantor polisi kembali kedatangan tamu, kali ini tamu dengan penuh tindik di wajahnya dan membuat Shikamaru sedikit ngeri.
"Pain! Wanita ini tidak mengakui perbuatannya!" Ino mendatangi Pain dan memeluknya.
"Perbuatan apa Ino? Bukankah ini semua murni perbuatanmu? Kau yang menyuruhku? Tenang saja Ino, aku akan mencari pengacara handal untuk kita berdua." Pain mengelus punggung Ino― wanita yang selama ini begitu dikaguminya. Bahkan, dia rela masuk bui, hanya untuk mematuhi perintah Ino. Sepertinya kita sudah menemukan tersangka dalam kasus ini, dan seorang tersangka yang berhasil menyembunyikan wajah seorang kriminal.
"Awas saja kau Tayuya, kau akan menyesal telah melakukan ini kepadaku." Ucap Ino dipelukan Pain.
.
.
.
"Shika." panggil Tayuya manja, kepada pria yang sibuk menyetir di sebelahnya.
"Ya?"
"Ayo bersenang-senang malam ini." Tayuya merengek manja kepada Shikamaru.
"Aku tidak bisa, aku ada urusan." Ucapan Shikamaru disambut dengusan panjang dari Tayuya.
.
.
.
Hari ini adalah hari ketujuh, Temari belum sadarkan diri dirumah sakit. Shikamaru duduk disamping ranjang dan mengenggam tangan Temari yang terasa dingin. Sudah sejak hari kedua, Sasori tidak pernah menunjukan batang hidungnya lagi, dan itu sangat menyenangkan menurut Shikamaru. Shikamaru sudah sedikit mengabaikan Tayuya, kelakuan wanita itu yang seperti anak-anak membuat Shikaamaru sedikit kesal. Shikamaru dengan telaten merawat isterinya yang masih belum menunjukan tanda-tanda akan sadar itu. Dia sudah mengajukan cuti―walaupun cutinya sudah berakhir sekarang guna merawat isterinya. Dia mengelus pipi mulus istrinya, takut jika wajah putih itu dipenuhi debu. Konyol memang. Tapi, Shikamaru sangat mengagumi wajah Temari ketika tidur. Hari menjelang siang, Shikamaru hendak beranjak untuk mencari makan.
Shikamaru kaget saat jemari tangan isterinya sedikit bergerak digenggamannya, dan matanya sedikit demi sedikit terbuka, dan akhirnya Temari sadar sepenuhnya.
Temari mencoba beradaptasi dengan penglihatannya. Kepalanya sedikit sakit, dan dimana dia sekarang? Seingatnya, dia sedang balapan bersama wanita bernama Ino, dan semuanya gelap. Seseorang yang pertama kali dilihatnya adalah Shikamaru yang sedang mengenggam tangannya.
"P-Polisi bawel?" Ucapnya lirih, sementara Shikamaru hanya tertawa.
"Sebentar ya wanita merepotkan, aku panggilkan dokter." Shikamaru keluar dari ruangan itu, tak lama kemudian datang dokter muda, bersama seorang perawat. Shikamaru kemudian menelepon mertuanya, menyampaikan berita gembira ini.
"Menarik, kupikir dia akan sadar dalam sebulan karena benturan itu cukup keras, tapi ternyata keadaan Nona Temari sudah sedikit membaik, hanya butuh istirahat." Dokter muda itu kemudian pergi. Shikamaru menghampiri Temari yang menatap langit-langit kamar itu.
"Mana Sasori?" tanya Temari yang membuat Shikamaru sedikit kesal. Mengapa Temari harus menanyakan Sasori? Mengapa tidak menanyakan Shikamaru yang sudah susah payah merawatnya.
"Sejak hari kedua kau masuk rumah sakit, dia tidak pernah datang kemari." Temari memasang wajah sedih, "Tenang aku akan menjagamu disini."
Temari hanya tersenyum lemah. Lapar diperut Shikamaru sudah tidak bisa ia kontrol.
"Ehm, aku mau cari makan dulu, kau mau aku belikan sesuatu?"
"Aku mau Steak!"
"Hey! Kau itu baru sadar. Tidak bisa. Aku belikan kau bubur saja ya."
"Tidak mau! Aku mau steak! Pokoknya steak!" Temari merengek seperti anak kecil. Shikamaru menggelengkan kepalanya. Kelakuan Temari hampir menyamai Tayuya. Masalah Tayuya, Shikamaru tidak pernah menghubungi Tayuya sejak Temari sakit. Panggilan dari Tayuya selalu diabaikan olehnya. Pikirannya hanya terfokus kepada Temari, entah mengapa.
"Aku tidak akan mau membelikanmu itu. Sudah ya, aku sudah lapar. Aku pergi dulu."
Mata Temari membulat sempurna saat Shikamaru mencium bibirnya dengan lembut sebelum pergi.
"Cih, selalu membuatku mati kutu!" desis Temari kesal. Mengambil remote televisi dan menonton televisi untuk mengatasi kejenuhannya.
.
.
.
"Bodoh, apa yang aku lakukan sih? Dia itu seperti penyihir!" Shikamaru merutuki kebodohannya karena sudah mencium Temari. Menurutnya, bibir Temari tadi benar-benar menggoda, dan mengapa Temari hanya diam saja saat ia cium?
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Haloooooo! Hehehe akhirnya update jugaa ini fic :p masih adakah yang menunggu fic ini xD
Oh yaa, citraa kecewaa karena ada yang meng-COPAS fic citraa. Hmm, citraa gak tau musti ngomong apa? Orang itu terus menerus mengirim PM ke citraa, dan menuduh citraa yang plagiat dan mencuri idenya. Dia ngakunya idenya itu sudah ada sejak tahun 2011 lalu, padahal Citraa sama sekali gakenal sama dia. Citraa bukan bermaksud mau ngadu ke readers tapi citraa bingung harus ngapain. Huhuhu. Yasudahlaah~ tapi sedikit kecewa siih
daripada ngurusin hal gapenting kayak gitu mending bales review aja yaaa hehehe :)
*ayu-san : terimakasiih yaa ayu-san sudah menjadi readers setiaku *kiss* jangan panggil senpai dong, panggil aja citraa atau Nee-chan sajalah hoho *padahal intinya sama aja ya* ini sudah saya update. Review lagi?
*Shiho Miyano : Makasiiih, ini udah update! xD jangan panggil senpai dong. Panggil citraa aja ya hehehe :3
* : Hehe makasi makasih :3 ini udah lanjut yaaa :) panggil citraa aja yaa. Jangan senpai :)
*Yui : Makasiiii yui :) udaaah lanjut niiiih :D
*Aden: hehehee iyaaa. Jawabannya ada di chapter ini :3 sudaah lanjut:) semangat chapter 4 hehoheheo
*Nara Love Sabaku: hehe ini sudah lanjut Nara-san :D
*Asuna Riisuka : hehee makasiiiih . Makasih :D udah update ini riisuka-san :)
*Rumaisa: Makasiii :D sudah lanjut niiih :D
*Nara Kazuki : wkwkwkwk :p
*Mayraa: hoho diusaahain :3 ho? Gasuka GaMatsu ya? :O tapi kan Gaara nya masih kecil jadi bukan cinta sebenarnya (?) makasiii sudah fave *kissu* udah update nih hehe :3
*wind scarlett: hihiii makasih senpai :3
*kurapika: Sudaaa lanjut ini hehe :)
Makasihh buat review nyaa yaaa :D hehehe sampai bertemu di chapter 5 minnaaaaa :D *KISS ATU ATU* (?)
