The Last 2%
[Remake Hunhan Version]
::
Story By Kim Rang
Sehun - Luhan
Other Exo Member, etc.
Genre : Yaoi, BL, Romance
Rate T
::
Oh Sehun milik Luhan
Luhan milik Oh Sehun
::
.
.
.
Luhan terdiam di depan pintu kamar dan hanya bisa menatap pria itu. Beberapa saat sebelumnya, urusan pribadinya hampir menjadi urusan orang banyak.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Sehun sambil menawarkan jus jeruk.
"Iya. Tidak. Mm..."
Masih dengan ekspresi yang sama, Luhan menerima jus jeruk itu dan meminumnya.
"Pacar Anda?"
"Saya pikir juga begitu. Sampai sepuluh hari lalu."
"Syukurlah."
"Apanya?"
"Anda tidak berhubungan terlalu lama dengan pria itu."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak terlihat seperti pria baik-baik."
Luhan terkejut mendengarnya. Howon juga mengatakan hal yang sama.
"Namaku Sehun. Oh Sehun."
"Xi Luhan."
"Iya. Aku sudah tahu, Xi Luhan. Silakan duduk." Sehun berkata sambil menunjuk ke sebuah kursi.
"Kenapa tadi kau menciumku?"
Luhan tidak yakin, apakah pantas atau tidak dirinya bertanya seperti itu. Tapi Luhan ingin tahu.
"Karena aku rasa itu akan cukup membantu dalam situasi seperti tadi."
Luhan takjub mendengar jawaban Sehun. 'Tunggu dulu! Jawabannya kan, biasa saja.' Tapi sebenarnya, memang apa yang dilakukan pria itu sangat membantu.
"Terima kasih. Memang membantu sekali."
"Syukurlah. Silakan duduk. Sepertinya teman priamu masih ada di luar. Jadi sebaiknya kau menunggu beberapa saat lagi."
Mendengar jawaban Sehun, Luhan mengintip lewat lubang pengintip. Yang dikatakan Sehun benar. Jongin masih menunggunya di luar. Duduk berlutut di depan pintu kamar Luhan.
"Dasar bodoh!" Luhan menggerutu dan melangkah menuju kursi yang disediakan Sehun.
Sehun menuju meja rias dan mengeluarkan sesuatu dari salah satu laci. Sebuah kotak agak besar dan terbungkus rapi. Sepertinya pria itu berencana memberikannya sebagai hadiah untuk seseorang. Sehun meletakkan kotak itu di meja kemudian membuka bungkusnya dan langsung membuka kotak itu. Kotak itu berisi cokelat, yang tampak sangat mahal sekali.
"Silakan."
"Tidak, terima kasih."
"Kau terlihat gugup dan cemas. Cokelat akan membantumu merasa lebih tenang."
Luhan melihat niat baik Sehun dan mulai berpikir. Sepertinya tidak ada masalah kalau Luhan mengambil satu cokelat, untuk merasakannya. Apalagi di dalam kotak itu, terdapat banyak cokelat. Luhan ingin memakan semua cokelat itu.
"Boleh kumakan semua?"
"Silakan."
Sebenarnya Luhan tidak berniat menghabiskan semua cokelat itu seperti orang yang tidak tahu diri, tapi sesudah satu butir cokelat lumer di dalam mulutnya, dia ingin mengambil satu atau dua butir lagi.
"Awalnya cokelat-cokelat ini untuk siapa?"
"Untuk seseorang, tapi tidak apa-apa. Makan saja." Jawab Sehun sambil memandangi cokelat yang meleleh di dalam mulut Luhan.
"Yang ada di dalam tasmu, makanan kecil."
"Apa?"
"Tadi aku melihat kalau tasmu cukup penuh."
Luhan mengambil satu cokelat lagi dan mencoba menyembunyikan rasa malunya.
"Oooh itu... Mm... Bukan makanan kecil. Sejujurnya ini memalukan sekali. Aku pikir yang ada di dalam kulkas hotel itu gratis. Jadi aku menghabiskan isi kulkas seenak hatiku, tapi aku kaget waktu tahu kalau aku harus membayar yang sudah kumakan dan minum. Di luar perkiraanku, harganya mahal sekali. Dengan jumlah yang sama, kurasa, aku bisa mendapatkan dua puluh kilo beras. Oh, mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku mengira semua itu gratis. Jadi, aku menginap di sini karena menang undian. Kebetulan hadiahnya adalah voucher menginap di hotel Arizona ini. Karena bisa menginap di sini gratis, aku pikir yang ada di dalam kamar juga gratis." Luhan bercerita dengan semangat.
"Lalu?"
"Lalu aku pergi ke swalayan untuk membeli makanan dan minuman yang kuhabiskan tadi untuk nantinya aku kembalikan ke dalam kulkas. Aku berhasil mendapatkan merek yang sama, kecuali untuk dendeng sapinya."
Sehun tertawa mendengar cerita Luhan.
"Maaf . Aku tahu kalau yang aku lakukan ini tidak pantas. Tapi aku rasa, kau tidak perlu menertawai aku sampai seperti itu." Luhan menatapnya tajam.
"Aku tidak menertawakanmu."
Sehun menyodorkan cokelat yang tadi sudah diambil lalu diletakkan lagi oleh Luhan. Luhan sempat akan menolak tapi akhirnya cokelat itu diterimanya dan langsung masuk ke dalam mulutnya.
"Kau sendirian?"
"Iya."
Walau ada kursi kosong di depan Luhan, Sehun tetap pada posisi berdirinya, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Luhan.
Luhan berusaha tidak menatap Sehun, tapi karena posisi mereka berhadapan, Luhan kebingungan. Kalau saja Sehun tidak sedang memandanginya terus menerus seperti sekarang, mungkin dirinya tidak akan semalu ini. Bahkan, sekalipun Luhan berpura-pura batuk, Sehun tetap bergeming.
"Kenapa terus memandangku seperti itu? Aku jadi tidak menghabiskan cokelat ini." Luhan melemparkan protesnya pada Sehun.
"Karena kau cantik."
Sehun mengucapkannya tanpa ragu dan kata-katanya mengalir begitu saja. Dalam situasi seperti ini, respons seperti apa yang harus Luhan berikan?
Tanpa rasa malu menjawab 'Aku tampan, bukan cantik. Tapi terima kasih.' Atau harus terlihat malu? Akhirnya Luhan memutuskan untuk memperlihatkan rasa kesalnya. Seharusnya Luhan memandang ke arah lain, untuk menghindari tatapan Sehun, tapi, seperti tersihir, Luhan kehilangan seluruh energinya dan terpana menatap wajah Sehun.
Bentuk tubuhnya seperti tiga dimensi. Dahinya terlihat lebar dan licin. Ke bawah sedikit, dia bisa melihat tulang hidung yang tampak menonjol, yang disamping kiri dan kanannya terdapat mata yang terlihat dalam dan gelap serta alis yang tertata rapi. Bentuk bibirnya menarik. Kalau diperhatikan satu per satu, Sehun memang tampan, tapi, ketika seluruh bagian wajahnya digabungkan dia terlihat lebih tampan lagi. Terlihat tidak nyata. Tubuh Sehun pun... luar biasa. Tinggi badannya bisa-bisa mencapai 190 cm. Tidak bisa dikategorikan biasa karena sekarang ini kebanyakan pria, tinggi badannya hanya mencapai, kurang lebih 180cm, seperti dirinya. Luhan tidak tahu apa yang selama ini Sehun makan hingga dia bisa setinggi itu. Tidak ada lemak yang menempel dipinggangnya, dan kalau melihat ke bawah lagi, pantatnya terlihat kencang.
"Apakah kau keberatan untuk tidak berdiri dan duduk? Leherku agak pegal."
Sambil meminta maaf Sehun langsung duduk di kursi, yang ada di depan Luhan. Karena sekarang mereka berada di tinggi yang sama, Luhan bisa dengan mudah memperhatikan tubuh Sehun. Luhan bertanya-tanya, makhluk seperti Sehun jatuh dari bintang apa.
"Kau orang Korea, kan?"
Untuk ukuran orang asing, bahasa Koreanya fasih sekali. Tapi untuk ukuran orang Korea, penampilannya luar biasa berbeda.
"Aku tinggal di Amerika, tapi aku orang Korea."
"Mm... Ibumu bukan berasal dari Korea?"
"Nenekku yang berasal dari Amerika."
"Ooooo..."
Luhan mengangguk tanda mengerti dan kembali menatap Sehun. Semakin diperhatikan, Luhan semakin tidak percaya kalau ada manusia setampan orang yang duduk di depannya itu.
"Jadi, kau ingin pernikahan kita diadakan di mana?"
Luhan kaget menerima pertanyaan itu dan kembali menatap Sehun, "Maksudmu?"
"Pernikahan."
"Pernikahan?"
"Tadi kau sendiri yang mengatakan kalau aku adalah orang yang akan kau nikahi. Dan, kau mengatakannya sebanyak dua kali."
"Aku tadi hanya ingin membuat Jongin marah, jadi aku hanya bicara sembarangan saja."
"Aku kira kau serius." Kata Sehun dengan raut kecewa.
"Ternyata kau bisa melucu juga. Ah... panas."
Badan Luhan tiba-tiba terasa panas, benar-benar panas, membuat Luhan sadar kalau dia harus keluar dari kamar itu sekarang juga.
"Terima kasih banyak untuk bantuanmu tadi. Sebaiknya aku pergi sekarang..."
Luhan mengambil satu cokelat lagi dan memasukkannya ke dalam mulut sebelum bangkit dari duduknya.
"Apakah aku membuatmu tidak nyaman?"
"Bukan begitu. Bagaimanapun juga ini bukan kamarku, jadi sebaiknya aku pergi. Apa lagi sudah tengah malam begini."
Sambil mengunyah cokelat, Luhan berjalan menuju pintu. Sehun melangkah dengan ringan dan langsung menarik tangan Luhan.
"Kenapa?"
"Kau akan pergi begitu saja?"
Dari tatapannya seolah tersirat bagaimana mungkin Luhan pergi begitu saja. Luhan menatap Sehun, "Maksudmu... kau ingin imbalan?"
"Tentu saja."
'Dia bukan akan meminta uang, kan?'
"Bagaimana aku bisa membayarmu? Aku punya mesin pemasak nasi. Masih baru. Mau?"
"Kisseu."
Sehun mengatakan 'kisseu' dalam bahasa Korea. Sebenarnya cara mengucapkan kata itu di Amerika dan Korea, tidak ada perbedaan yang berarti. Tapi mengandung racun manis. Tanpa disadari, Luhan menatap bibir Sehun. Sehun mendekati Luhan.
"Ciuman saja cukup." Sehun meletakkan tangannya di bahu Luhan.
Luhan menatap Sehun dengan mata rusanya. Orang ini... tinggi sekali.
"Cukup satu kali saja..." Sehun berbisik kemudian menunduk sedikit untuk mendekati bibir Luhan.
"Maaf. Tapi aku bukan orang yang bisa kau cium sembarangan..."
"Aku tahu."
"Aku juga masih mengunyah cokelat..."
Luhan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Sehun kembali menempelkan bibirnya. Kali ini terasa lebih dalam.
Berciuman dengan Sehun membuat dirinya menjadi tahu kapan dan bagaimana lutut seseorang bisa terasa lemas dan kehilangan energi. Seperti yang dialaminya saat ini. Luhan merasa kalau lututnya tidak akan mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Kakinya bergetar, tubuhnya lemas.
Tanpa sadar Luhan menjatuhkan tasnya. Menyadari Luhan kehilangan energinya, Sehun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan. Luhan yang berada dalam pelukan Sehun langsung membalas ciuman Sehun tanpa henti.
'O... jadi begini rasanya berciuman.'
Sampai saat ini Luhan selalu bertanya-tanya apakah dia memerlukan kemampuan khusus untuk berciuman dengan seseorang. Bukannya ingin kembali memikirkannya, tapi ciuman pertama bersama Jongin, lalu ciuman kedua dan beberapa ciuman sesudahnya, tidak ada sensasi yang berbeda. Rasanya begitu-begitu saja. Sekarang Luhan tahu, kalau berciuman ternyata memang memerlukan kemampuan khusus.
Karena takut tidak bisa menopang sendiri dan akhirnya jatuh, Luhan berpegangan pada lengan Sehun. Dia semakin kehilangan tenaganya. Tidak hanya tangannya yang lemas, seluruh tubuhnya pun kini ikut lemas.
"Hmmm..."
Sehun mendesah seperti sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Suara desahannya, menggelitik telinga.
Luhan bisa merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhnya. Luhan lalu melingkarkan tangannya ke leher Sehun. Tubuh mereka menempel... ciuman yang awalnya terasa lembut menjadi semakin memburu. Kedua lengan Sehun menopang tubuh Luhan yang tiba-tiba kehilangan energi.
"Ehmm..."
Sehun kembali mengeluarkan desahannya dan menggigit lidah Luhan, membuat Luhan langsung meringis kesakitan. Saat itu Luhan sadar kalau dia harus menghentikan ini semua. Jika tidak, entah apa lagi yang akan terjadi. Ia meletakkan tangannya di dada Sehun, dengan maksud menjauhkan Sehun dari dirinya, tapi ketika jemarinya menyentuh dada bidang Sehun... dia tak kuasa. Luhan tidak sanggup berkata apa-apa lagi dan malah berhasrat untuk merobek pakaian Sehun.
"Luhan..."
Sehun membisikkan nama Luhan lalu kembali mengecupnya. Luhan kembali lemas seperti kekurangan tenaga. Agar Luhan tidak semakin 'jatuh', mau tak mau Sehun melepaskan bibirnya dari bibir Luhan.
"Aah... Uh... Hmm..."
Seketika Luhan pun mulai terengah-engah seperti seseorang yang sudah menahan napas selama satu jam. Sehun menatap Luhan tanpa melepaskan pelukannya. Tak lama kemudian Sehun melanjutkan mencium tengkuk Luhan. Saat itu, setelah melayang beberapa saat, kesadaran Luhan pun pulih. Luhan pelan-pelan menapakkan kakinya ke tanah.
Luhan tidak tahu apa yang ada di pikiran Sehun, tapi yang pasti dia tahu akan ada sesuatu yang terjadi kalau dia terus ada dalam pelukan Sehun, walaupun hanya satu menit lagi saja. Luhan berusaha mengembalikan akal sehatnya.
Sudah empat belas tahun sejak Luhan mengalami mimpi basah untuk pertama kalinya. Dia tahu orientasi seksualnya berbeda, karena dia tidak pernah sekalipun bernafsu jika melihat wanita dan entah sudah berapa kali dia malah memimpikan ingin tidur bersama dengan seorang pria. Aah! Tentu saja dia pernah berpikir tentang hal itu. Dan, sayangnya pria yang ingin dijadikan rekan bercintanya adalah Jongin. Tapi untung saja kesalahan itu tidak pernah terjadi. Semuanya hanya pernah terjadi di kepalanya. Seandainya Luhan benar-benar akan pergi dan bermalam di hotel ini bersama Jongin, pasti dia akan membiarkan Jongin bercinta dengannya. Rencana itu sejujurnya memang ada. Tapi, karena kesalahannya sendiri, Jongin dengan bodohnya melewatkan kesempatan emas itu.
Luhan pernah membayangkannya dan, karena rasanya samar, beberapa kali dia sempat memikirkan cara untuk benar-benar bisa merasakannya. Sekarang, untuk pertama kalinya, hal ini terasa nyata. 'Ya ampun!' Luhan ingin tidur bersama orang yang baru ditemuinya hari ini. Apalagi dia sudah mencapai usia di mana dia sudah sanggup bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dan, bukannya Luhan tidak bisa melakukan hal itu, tapi dia selalu teringat suara Howon yang berkata 'Kau bisa menahan hasratmu.' Kata-kata itu bergema di dalam kepalanya dan Luhan pun berusaha menahan hasratnya.
"Aku harus pergi."
Luhan berusaha mendorong tubuh Sehun menjauh, tapi Sehun tidak bergerak.
"I won't quit in this way."
Sehun kembali mencium tengkuk Luhan sambil berbicara dalam bahasa inggris.
"Of course not."
Sehun kembali berbicara dalam bahasa inggris dan kata-katanya tidak Luhan pahami.
"Aku harus pergi."
Kali ini Luhan mendorong tubuh Sehun lebih keras.
"Tunggu..." Sehun menarik lengan Luhan.
"Tolong lepaskan aku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi." Luhan berkata sambil menggertakan giginya sebagai tanda menahan diri.
"Aku pergi."
Tanpa menengok ke belakang. Luhan buru-buru melarikan diri dari kamar Sehun.
Sehun berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup dan kembali merasakan peperangan batin. Di satu sisi, dia ingin mengejar Luhan. Di sisi lain, dia ingin menahan diri, tapi kalau mengikuti kata hati, dia sangat ingin mengejar Luhan.
Sehun memutar badannya dan mulai melepaskan pakaiannya satu per satu, hingga yang tersisa hanya celana dalamnya. Dia masih ingin mengejar Luhan. Sehun tahu bahwa dia harus meredakan hasratnya itu, salah satunya dengan melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membiarkan air dingin membasahi tubuhnya.
"Xi Luhan..." Sehun terus menerus menyebut nama Luhan.
'Kau tidak akan bisa menemukan sosok seperti Jaejoong.'
Hal itu dikatakan oleh Yunho yang membuat kesimpulannya sendiri.
"Aku menemukannya, Hyung. Sosok yang lebih menarik dari kakak ipar."
Sehun tersenyum membayangkan Luhan.
.
.
.
Setelah satu jam mandi air dingin, Sehun keluar dari kamar mandi dan mendengar suara ponsel berdering. Sehun menoleh ke arah pintu kamarnya. Dering itu datang dari dalam tas Luhan yang terjatuh. Setelah merogoh-rogoh, Sehun menemukan ponsel Luhan.
"Yixing?" Sehun membaca nama yang tertulis di layarnya.
Sehun membiarkan ponsel itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri. Dia sempat berpikir untuk langsung mengembalikan tas itu pada Luhan, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Sebenarnya dia bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk bertemu Luhan lagi, tapi dia tidak yakin apakah akan mampu mengendalikan dirinya. Seperti yang Luhan katakan, sebaiknya sampai di sini saja daripada terjadi sesuatu.
Sehun meletakkan tas itu di atas meja ketika tiba-tiba sebuah ide bagus melintas di kepalanya. Dia membuka ponsel Luhan lalu menghubungi nomornya sendiri. Ponselnya berbunyi. Setelah meletakkan kembali ponsel Luhan, Sehun berjalan menuju meja rias untuk mengambil ponsel miliknya dan menyimpan nomor Luhan.
Tadi, waktu mengembalikan ponsel Luhan ke dalam tas, Sehun tersenyum melihat berbagai macam makanan dan minuman yang ada di dalamnya.
Walau tahu bahwa dirinya tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, Sehun berbaring dan berusaha menenggelamkan diri di antara bantal dan selimut di atas tempat tidurnya. Dia sudah beberapa kali membolak-balikkan badannya sendiri sambil terus berharap Luhan berada di tempat tidur yang sama dengannya.
'Sudah pasti malam ini aku tidak akan bisa tidur.'
Ini sudah kali kedua Luhan meminta tolong staf hotel untuk membukakan pintu kamarnya sendiri. Begitu pintu terbuka, dia langsung masuk ke dalam kamar dan tanpa dia sadari waktu sudah pukul tiga dini hari. Sepertinya dia tidak akan bisa tidur.
Luhan tersenyum.
'Aku memang sudah benar-benar gila.'
Dia menuju kamar mandi lalu mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya.
Setelah keluar dari kamar Sehun, akal sehat Luhan kembali, tapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Dia membuka keran dan membiarkan air memenuhi bathtub sampai luber, lalu berendam di dalamnya. Rasanya nikmat sekali, tapi Luhan tidak bisa berhenti membayangkan apa yang dilakukannya bersama Sehun tadi. Dia juga sadar kalau dia baru saja melewatkan kesempatan emas yang tidak akan didapatkannya lagi. Entah kapan kesempatan untuk bisa tidur dengan sosok setampan Sehun datang lagi.
Luhan menyesal dan kembali membayangkan postur tubuh Sehun. Tingginya bisa mencapai 190 cm dan tidak ada yang bisa dikeluhkan dari tubuhnya. Rasanya sampai mati pun, Luhan tidak akan bisa bertemu dengan sosok seperti Sehun lagi. Luhan sempat mengutuk dirinya sendiri karena baru sekali saja bertemu dengan Sehun, dia sudah melakukan hal sejauh itu, 'Seperti orang tidak berpendidikan saja.' Tapi, keluar dari kamar Sehun pun tidak membuatnya merasa lebih baik. Saat ini dia justru merasa putus asa dan gelisah.
'Aku hanya menyentuhnya sedikit saja, namun aku tak kuasa...' Tatapan mata Sehun, bibir yang seperti tidak puas melumat bibir Luhan, dada yang sekeras batu, lengan yang melingkar di pinggangnya sampai hembusan napasnya di tengkuk Luhan.
'Aaahh.. aku benar-benar gila!'
Sudah berkali-kali Luhan mengucapkan kalimat itu pada dirinya. Saat Sehun muncul dalam bayangannya, lututnya lemas dan perutnya sedikit sakit. Rasanya ngilu. Waktu mandi tadi, Luhan menggosok dan membersihkan seluruh tubuhnya, kecuali giginya. Dia tidak ingin sikat gigi. Entah kebiasaan buruk macam apa yang sedang dijalaninya, tapi dia tidak sengaja tidak menyikat giginya karena masih ingin merasakan sensasi ketika lidahnya dan lidah Sehun bertaut beberapa waktu yang lalu.
Membayangkan Sehun membuat Luhan tidak bisa memejamkan mata. Akhirnya dia bangkit dan menuju kamar mandi, untuk sikat gigi.
Keesokan harinya, ketika sedang membereskan barang-barang bawaanya, Luhan ingat kalau tasnya tertingal di kamar Sehun. Dia berjalan menuju pintu untuk menuju kamar Sehun. Luhan tidak pernah mengira kalau dia akan memperoleh kesempatan bertemu Sehun lagi. Jantungnya mulai berdebar-debar. Dia tidak tahu apakah kali ini dia akan kembali berciuman dengan Sehun dan karena diam-diam menaruh harapan, jantungnya berdetak kian lama kian kencang.
'Kalau aku ke sana... apa yang harus aku katakan? Mm... bilang kalau aku datang karena tasku tertinggal? Atau aku langsung meminta tasku? Atau menawarinya kesempatan untuk berciuman lagi? Aku memang sudah gila rupanya...'
Luhan, yang sudah berniat untuk mengunjungi kamar Sehun, terkejut ketika dia membuka pintu. Tas yang baru akan diambilnya tergantung di gagang pintu kamarnya. Luhan kecewa. Dia tidak bisa bertemu Sehun lagi.
Luhan membawa masuk tasnya dan terkejut karena tidak menemukan apa-apa selain dompet dan ponselnya. Bir, kacang, dan lain-lainnya... sudah tidak ada.
'Apa-apaan ini? Jangan-jangan dia memakan semuanya?' Luhan memasang ekspresi bingung.
'Ternyata dia yang gila. Apa yang dia lakukan?'
Luhan berdiri tanpa menggerakkan tubuhnya. Kalau memang dia menghabiskan makanan dan minuman yang ada di dalam tasku, seharusnya dia menggantinya dengan yang ada di dalam kulkasnya sendiri, kan?
'Memangnya aku menghabiskan semua cokelatnya? Kenapa dia harus mengambil barang-barangku?'
Di tengah-tengah kekesalannya, Luhan tiba-tiba terdiam dan langsung membuka dompetnya. Uangnya masih utuh. Kalau dia mengambil seluruh uangku, dia bukan laki-laki sejati. Walaupun begitu, bagaimana mungkin dia melakukan ini? Sebentar. Aku pikir-pikir dulu. Semalam dia habis-habisan menciumku dan pagi ini dia menggantungkan tasku begitu saja di pintu, dalam keadaan kosong dan tanpa penjelasan apa-apa. Kelakuan yang benar-benar tidak pantas.
Sambil menggerutu geram, Luhan keluar kamar, menutup pintu dan menoleh ke kamar Sehun.
'Mm... apakah aku harus ke sana untuk berpamitan?' pikir Luhan.
'Tapi, untuk apa?' Orang yang akan Luhan pamiti sudah memakan semua makanannya lalu menggantungkan tasnya di gagang pintu kamarnya. Luhan mencibir ke arah kamar Sehun dan langsung masuk lift untuk mengembalikan kunci ke meja informasi.
"Saya mau check-out."
"Baik, Tuan. Bagaimana pengalaman Anda menginap di sini?" tanya staf informasi itu dengan ramah.
"Iya. Saya senang bisa menginap di sini. O iya, saya juga menghabiskan beberapa makanan dan minuman yang ada di dalam kulkas. Berapa yang harus saya bayar?"
"Semuanya sudah lunas, Tuan."
"Lunas? Maksudnya?"
"Semuanya sudah dibayar oleh tamu yang ada di kamar 1106."
"Kamar 1106?"
Sehun. Baguslah kalau begitu. Berarti dia cukup tahu diri karena sudah memakan semua milikku.
"Kalau begitu, boleh bantu saya menghubungi kamar 1106?"
'Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih. Lagi pula aku ingin mendengar suaranya sekali lagi.'
"Saat ini tamu yang ada di 1106 sedang tidak ada di kamarnya."
"Oh begitu. Baiklah. Terima kasih."
Luhan keluar dari Hotel Arizona yang megah itu dengan sedih. Walau dia tidak meninggalkan sesuatu dan yakin kalau tidak ada barang yang tertinggal, Luhan beberapa kali menoleh ke belakang dan kembali menatap hotel itu.
"Rupanya aku hanya bermimpi semalam." Gumam Luhan tidak puas.
.
.
.
"Dalam rangka apa pergi ke Busan?" tanya Luhan sambil meletakkan lima bungkus camilan di sebelah laptopnya.
"Bertemu teman." Howon menjawab.
"Teman? Siapa?"
"Kenapa kau tiba-tiba ingin tahu?"
"Bukan begitu..."
Saat itu Howon sedang mencoba mengencangkan baut-baut yang longgar di pintu kamar Luhan. Selama ini, pintu itu tidak pernah bisa ditutup dengan rapat. Setelah menunda-nunda beberapa kali, akhirnya Luhan meminta Howon memperbaikinya. Luhan terus bertanya sambil memperhatikan Howon yang sedang mengencangkan baut itu dengan obengnya. Tapi Howon tampak tidak ingin memberi jawaban jelas.
"Di sebelah sini sepertinya juga agak longgar."
Howon memeriksa sisi yang Luhan tunjuk, "Oke. Sesudah ini aku cek."
"Tunggu sebentar. Tiga puluh detik saja."
"Kau sedang apa?"
"Ikut undian. Katanya hadiah yang bisa dimenangkan adalah tiket nonton Piala Dunia. Siapa tahu aku bisa ke Jerman. Kau tahu kan keberuntunganku?" Luhan menggosok nomor yang ada di bungkus camilan yang dibelinya tadi.
"Jadi kau sengaja membeli semua itu untuk ikut undian?"
"Iya."
"Sudah kusangka. Tadi aku bertanya-tanya kenapa kau membeli sebanyak itu, padahal kau bukan anak kecil lagi."
"Tadi waktu aku beli di supermarket, lima bungkus ini sudah dijadikan satu. Lalu... aku tadi juga membeli dua paket ramyeon, nanti kau bawa saja satu, tapi berikan bungkusnya padaku."
"Apa yang bisa kau dapat dari ramyeon-ramyeon itu?"
"Kulkas dua pintu."
"Mau kau letakkan di mana lagi?"
"Siapa tahu aku memenangkannya. Kalau iya... akan kugunakan setelah aku menikah."
Luhan mendekati Howon dan membantunya memegangi daun pintu.
"Kalau semuanya sudah kau persiapkan satu per satu seperti sekarang, sepertinya waktu menikah nanti kau tidak perlu mengeluarkan uang sedikit pun untuk membeli perabotan."
"Iya. Lalu, kalau aku menang, tiket Piala Dunia itu akan kugunakan untuk bulan madu."
"Sepertinya ada yang kurang... undian berhadiah pasangan untukmu menikah. Pria atau wanita, Lu?"
"Sudah dipastikan aku akan kalah kalau ada undian semacam itu. Dan tentu saja, pria. Howon bodoh! Kau kan tahu aku tidak suka wanita!"
Howon hanya bisa tertawa mendengar jawaban Luhan.
"Howon... menurutmu aku menarik tidak?" tanya Luhan tiba-tiba.
"Tidak."
Jawaban Howon yang spontan dan terdengar tidak dipikirkan terlebih dahulu itu, membuat Luhan kesal.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak pernah menganggapmu menarik."
"Memangnya menentukan seseorang menarik atau tidak itu perlu pemikiran mendalam? Bukankah kau seharusnya langsung bisa merasakannya, ketika melihat seseorang?"
"Aku tidak merasakannya waktu melihatmu."
"Itu karena kau menyukai wanita! Kau menyebalkan sekali."
"Bagaimana mungkin aku bisa menilaimu menarik kalau kau mengejekku seperti itu?"
"Kalau begitu, menurutmu... apakah orang lain akan memandangku sebagai sosok yang menarik?"
Mendengar pertanyaan Luhan, Howon menutup pintu dan memperhatikan Luhan dengan seksama.
"Tentu saja."
"Dari sisi mana?"
Raut wajah Luhan melunak.
"Kau sendiri yang bilang kalau kau pria paling tampan di Deoksan, kan? Meskipun untuk semua warga Deoksan, kau itu pria paling cantik."
"Kau! Tapi memang kenyataannya begitu kan? Aku tampan, dan yeah... agak sedikit cantik."
"Apaan sih kau ini."
"Menurutmu... orang akan lebih suka pada pasangan yang lugu atau yang jujur?"
"Tergantung selera. Ngomong-ngomong, kau bersenang-senang di Hotel Arizona?"
"Tentu saja."
"Memangnya tidak seram waktu malam?"
"Menyeramkan bagaimana? Aku bisa menulis dengan lancar di sana. Aku jadi ingin pergi ke tempat seperti itu lagi. Tapi, untuk itu aku sepertinya harus mengeluarkan uang banyak."
Luhan memperhatikan Howon yang sedang membereskan alat-alatnya dan akhirnya duduk di sebelah Luhan.
"Ketika kau mencintai seseorang... maksudku, menurutmu... seperti apa rasanya jatuh cinta?"
Howon menatap Luhan dengan aneh. "Kau kan pernah pacaran dengan Jongin. Kenapa kau bertanya padaku?"
"Aku pacaran dengannya karena rasa suka saja. Apa yang kau rasakan ketika kau jatuh cinta?"
"Tidak bisa berpikir apa-apa."
"Maksudnya?"
"Tiba-tiba napasmu sesak. Lalu mata dan telinga... seperti tertutup."
"Mata dan telinga tertutup?"
"Iya. Tidak ada hal lain yang bisa kau lihat. Waktu matamu tertutup pun, yang ada di pikiranmu hanya satu orang itu saja. Kau juga tidak akan mendengar suara lain, tidak peduli seberisik apapun suara-suara itu. Kurang lebih... seperti penyakit yang susah disembuhkan."
"Wah. Sepertinya serius sekali."
"Memang." Howon menjawab dengan senyum pahit.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu berdebar-debar, ya?"
"Iya... Waktu aku melihatnya, jantungku berdebar-debar, selalu merasa tidak tenang, dan aku selalu bertanya-tanya dia sedang apa. semacam itu..."
Raut wajah Luhan terlihat serius, begitu juga dengan Howon yang memandangi Luhan dengan seksama.
"Sepertinya yang kau rasakan itu cinta."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kau yakin?"
"Yakin. Siapa orang itu?"
"Dennis Oh."
Dennis Oh menjadi target cinta tak terbalas Luhan.
"Hhhh... Harus ada yang menyadarkanmu."
Howon terlihat seperti akan memukul kepala Luhan dengan kepalan tangannya, lalu melangkah menuju pintu dan memakai sandalnya. Luhan mengikutinya dari belakang.
"Kalau aku jadi lebih sering spontan dalam melakukan sesuatu, dan aku... hanya ingin menikah dengan orang itu, apakah bisa disebut cinta juga."
"Luhan..."
Howon memasang ekspresi termanisnya, yang menurut Luhan tidak pantas sama sekali, lalu meletakkan tangannya di pundak Luhan dan mulai meremas-remasnya.
"Buang rasa cintamu itu. Tidak akan mungkin terwujud."
"Memangnya kenapa."
"Memangnya Dennis Oh sudah gila? Mana mungkin dia menikahimu? Memangnya dia gay juga sepertimu?"
Howon menegaskan kata-katanya. Luhan langsung menyingkirkan tangan Howon dari pundaknya.
"Sana pergi!"
Luhan membuka pintu lalu mengusir Howon.
"Benar juga. Sial."
Sambil menggerutu, Luhan membuka dan menyalakan laptopnya, lalu mulai mengetik.
.
.
.
Yunho memperhatikan Sehun yang sepanjang rapat selalu tersenyum. Dia menghampiri Sehun begitu rapat selesai.
"Kau baik-baik saja?"
"Iya."
"Ada sesuatu yang terjadi padamu, kan?"
Mendengar pertanyaan Yunho, Sehun secara spontan tertawa.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Sungguh."
Sehun berdiri dari kursinya. Memang menyenangkan. Selama rapat berlangsung, yang ada di kepalanya hanya Luhan. Wajah Luhan. Suara Luhan dan betapa bibirnya terasa lembut dan manis. Tapi dia masih tidak ingin membicarakannya dengan siapa-siapa, karena belum ada perkembangan apa-apa.
"Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu."
"Tidak ada, Hyung."
Yunho tertawa karena merasa tebakannya benar. Ketika mereka baru akan keluar ruang rapat, Ketua Tim Produksi masuk ke dalam ruangan.
"Penulis Samak sudah tiba, Sajangnim."
"Ah, aku hampir lupa kalau masih ada rapat lagi. Kalau begitu, kita bicarakan di ruangan saya saja."
"Baik."
"Sehun, kau juga harus ikut."
"Baik."
Sehun mengikuti Yunho ke ruangannya. Tidak lama kemudian, Ketua Tim Produksi bersama dengan penulis skenario Samak, yang rencananya akan digarap Walden Pictures, masuk. Ternyata penulis yang dimaksud adalah seorang pria bertubuh mungil.
"Sajangnim, perkenalkan, Byun Baekhyun."
"Annyeonghaseyo. Senang bertemu Anda."
"Annyeonghaseyo, Sajangnim."
Yunho menyodorkan tangannya, yang lantas disambut oleh Byun Baekhyun. Mereka bersalaman.
"Merupakan kehormatan untuk saya, akhirnya bisa bertemu dengan sajangnim."
Mendengar kesantunan Baekhyun, wajah Yunho bersemu.
"Saya perkenalkan Direktur Walden Pictures, Oh Sehun."
Yunho memperkenalkan Sehun pada Baekhyun, yang membungkuk pada Sehun.
"Annyeonghaseyo, senang bertemu Anda."
Sama seperti Yunho, Sehun menyodorkan tangannya untuk mengajak Baekhyun bersalaman.
Yunho duduk di kursi kebesarannya, sementara Ketua Tim Produksi dan Baekhyun duduk di kursi tamu yang berseberangan dengan Sehun. Tidak lama kemudian, sekertaris Yunho masuk sambil membawa teh.
"Saya dengar ada beberapa bagian yang diubah, ada kesulitan?"
"Kami tidak menemui masalah yang berarti. Sejauh ini Penulis Byun dan tim produksi bisa bekerja sama dengan cukup baik."
Selama Ketua Tim Produksi memberikan jawabannya, Baekhyun hanya bisa tersenyum.
"Sebelumnya Penulis Byun pernah terpilih sebagai pemenang di sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Ageo Production. Semua karyanya juga selalu sukses."
Sepintas Yunho menjelaskan profil Baekhyun, tapi dari penjelasan singkat itu saja bisa terlihat bahwa kerja keras Baekhyun terbilang cukup bagus.
"Sampai saat ini saya baru menghasilkan tiga karya." Kata Baekhyun menambahkan dengan nada rendah hati.
"Baru? Jangan terlalu merendah..."
Sehun menganggukkan kepalanya. Dia sependapat dengan Yunho.
"Sudah jelas bahwa peran produser itu penting. Akting para aktor dan aktris juga penting. Tapi itu semua tidak akan berarti kalau tidak didukung skenario yang baik."
Yunho menyampaikan pendapatnya dengan serius.
"Kami yakin karya Anda kali ini pun akan kembali sukses. Kami percaya kemampuan Penulis Byun akan membuat film pertama produksi kami ini berhasil."
"Cara Sajangnim mengatakannya membuat saya sedikit terbebani." kata Baekhyun dengan raut wajah sedikit khawatir.
"Saya tidak bermaksud seperti itu."
"Saya akan berusaha sebaik mungkin." jawab Baekhyun dengan mata bersinar.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Bagaimana Ketua Tim Jeong? Dan, apakah tim produksi juga bisa bergabung?"
"Saya rasa tidak ada masalah."
"Lalu Penulis Byun? Kau bisa bergabung dengan kami?"
"Baik."
"Sehun, kau juga harus ikut."
"Maaf. Saya sudah terlanjur membuat janji."
"Janji? Dengan siapa?"
"Dengan orang yang sangat penting."
Sebenarnya janji itu baru akan dirancangnya. Malam ini Sehun sengaja meluangkan waktunya.
"Sayang sekali."
Mendengar komentar Yunho, Sehun pun tertawa.
"Kau ingin aku pura-pura tidak paham dengan apa yang terjadi padamu?"
"Belum waktunya aku menceritakannya."
"Baiklah."
Baekhyun menyimak percakapan Yunho dan Sehun dengan seksama. Menurut informasi yang pernah dia dengar, Walden bersaudara semuanya tampan. Setelah bertemu langsung dengan mereka, dia pun mengakui bahwa informasi itu ternyata bukan hanya isapan jempol. Benar-benar bersaudara yang semuanya tampan. Dan, sesuai hasil penyelidikannya, Sehun adalah satu-satunya anggota Walden bersaudara yang sampai sekarang belum menikah. Menurut Baekhyun, Sehun-lah yang paling tampan dan seksi, dan Sehun pun gay, sama seperti saudara-saudaranya. Contohnya adalah Yunho, kakak sepupunya yang menikahi laki-laki cantik bernama Jaejoong.
Oh Sehun, Direktur Walden Pictures. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keseksian Sehun. Aroma wangi keluar dari seluruh penjuru tubuhnya. Dia seksi. Dia tampan. Dan raut wajahnya serius. Baekhyun rasa, tidak akan ada yang bisa melupakan cara Sehun tersenyum. Sempurna.
Sebuah hasrat tiba-tiba saja muncul. Baekhyun ingin memiliki Sehun, satu-satunya anggota Walden bersaudara yang masih belum menikah. Setiap perempuan dan laki-laki berstatus bottom seperti dirinya, yang melihat Sehun pasti memiliki hasrat yang sama. Baekhyun berharap dia bisa menjadi pendamping Sehun. Sepengetahuan Baekhyun, kecuali maknae Kyuhyun, di Walden bersaudara ada Yunho dan Jinki yang sudah menikah dengan pria yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Dan, sampai sekarang mereka menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia. Itulah kenapa Baekhyun merasa cukup percaya diri untuk menjalankan misinya, kecuali Sehun hanya berharap mendapat pasangan yang berasal dari tingkat ekonomi yang sama.
Baekhyun terus memandangi Sehun. Tidak hanya tampan, dia pun terlihat kaya. Melihat Walden bersaudara yang dididik dengan cukup baik dan berkarakter ini, Baekhyun merasa tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Mereka semua terlihat terhormat.
'Aku juga akan menjadi bagian dari keluarga Walden ini.' pikirnya. Baekhyun bertekad bulat mewujudkan hasratnya.
'Orang penting?'
Baekhyun ingin tahu siapa yang dimaksud orang penting oleh Sehun.
'Jangan-jangan kekasihnya.'
Tanpa alasan yang jelas, Baekhyun merasa cemburu. Tapi, walaupun Sehun mengatakan orang penting dan yang dia temui adalah kekasihnya, Baekhyun tidak akan mundur. Cinta bisa saja berubah. Toh, tidak ada larangan untuk mencintai Sehun, kan?
"Penulis Byun, Anda tentunya tahu kalau kami sedang mengadakan lomba menulis skenario?" tanya Yunho.
"Saya tahu Anda sibuk, tapi bagaimana kalau Anda juga menjadi bagian dari tim juri?"
"Apakah menurut Sajangnim, saya pantas?" Baekhyun merendah.
"Saya rasa, Anda mampu menjalankannya dengan baik."
"Kalau memang diizinkan saya ingin ikut ambil bagian." Baekhyun berusaha menahan luapan bahagianya dan tersenyum kecil.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan ini sambil makan malam?"
Yunho memanggil sekertarisnya melalui interphone, "Kami akan makan malam bersama. Tolong pesankan tempat."
"Baik, Sajangnim."
Setelah sekertaris Yunho meninggalkan ruangan, Sehun bangkit dari duduknya, hal ini membuat Ketua Tim Produksi dan Baekhyun ikut berdiri.
"Saya mohon diri terlebih dahulu."
"Kau akan tetap tinggal di Arizona?"
"Iya."
"Sempatkanlah mampir ke rumah."
"Aku akan memikirkannya."
'Arizona?'
Baekhyun sekarang tahu kalau sehun tinggal di Hotel Arizona.
"Kalau begitu, kami juga pamit."
"Nanti kalau sudah tiba waktunya makan malam, saya akan menghubungi kalian."
"Baik, Sajangnim."
Baekhyun membungkukkan badannya pada Yunho dan langsung menyusul Sehun.
"Direktur Oh Sehun, apakah Anda sudah sempat membaca naskah Samak?" tanya Baekhyun, sambil berusaha mengimbangi langkah Sehun.
"Sudah, Penulis Byun."
Dibandingkan dengan tadi, atmosfir terasa berbeda. Sehun sempat menatap cara berpakaian Baekhyun sekilas.
Baekhyun mengenakan celana bahan berwarna hitam yang melekat pas di tubuh mungilnya, kemeja berwarna soft pink dan dilapisi sweater biru muda bermotif kelinci berwarna putih. Bibir Baekhyun terlihat sedikit berkilap efek dari sapuan tipis lip gloss yang dipakainya, mata kecilnya pun terlihat lebih hidup karena dilapisi eyeliner yang agak tebal. Rambutnya yang lurus dan berwarna pirang tembaga pun tampak bersinar. Wajahnya tampak seperti boneka yang akan retak kalau bergoyang. Badannya terbilang kecil untuk ukuran seorang pria, bahunya pun kecil, dan kakinya seperti sumpit. Benar-benar seperti boneka. Sepertinya Baekhyun merawat tubuhnya dengan baik dan sangat memperhatikan penampilannya. Baekhyun, yang sadar kalau dirinya sedang diamati oleh Sehun, tersenyum lembut. Dengan penuh percaya diri, Baekhyun mengatakan pada dirinya sendiri kalau dia harus memiliki Sehun.
"Kalau menurut Anda ada yang sebaiknya direvisi atau mungkin Anda punya masukan, silakan Sajangnim langsung sampaikan pada saya."
"Saya rasa... sudah cukup menarik."
Jawaban Sehun yang sangat singkat membuatnya sedikit bingung. Karena ingin menerima telepon tanpa mengganggu siapa-siapa, Ketua Tim Produksi menjauh. Baekhyun kembali memberanikan diri.
"Mungkin ada bagian yang Sajangnim rasa kurang tepat? Supaya hasilnya tidak mengecewakan dan menjadi karya berkualitas tinggi, kalau ada yang perlu saya perbaiki, tolong sampaikan secara langsung dan jujur pada saya."
"Saya rasa tidak ada."
Sehun terus memberikan jawaban yang singkat. Baekhyun berusaha memulai percakapan dengan berbagai macam cara, tapi yang diterimanya tetap jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Sepertinya tidak akan mudah.
"Sejujurnya saya ingin karya saya nanti juga beredar di Hollywood. Karena sudah jelas ada perbedaan selera antara Korea-Amerika, kalau Sajangnim ada waktu mungkin kita bisa membicarakan bagaimana memecahkan perbedaan selera itu."
"Ide yang bagus."
"Kalau tidak keberatan, saya mohon kesediaan Sajangnim memberi waktu."
"Baik."
"Terima kasih, Sajangnim."
"Sama-sama. Kita bertemu lain waktu, Penulis Byun."
Sehun memberikan senyumnya dan berpamitan pada Baekhyun.
Baekhyun melihat Sehun melangkah menjauh. Hari ini percakapan mereka tidak panjang, tapi tadi Sehun sudah berjanji akan meluangkan waktunya. Baekhyun berharap mereka bisa bertemu lagi secepatnya. Sepertinya sudah cukup untuk hari ini.
'Dia bilang dia tinggal di Hotel Arizona.'
Baekhyun tersenyum licik seperti sedang mempersiapkan rencana.
.
.
.
TBC
.
.
.
Beberapa jam sebelum post chapter ini aku iseng-iseng buka ffn dan kaget ada yang remake novel ini dengan cast Hunhan juga, tapi dia versi GS.
Hhmm.. gimana yah, aku sih ngga masalah kalau misalkan ada author lain yang mau remake ff dari novel yang sama, toh genre dia GS, sedangkan aku Yaoi, meskipun cast kita sama-sama Hunhan. Karena novel ini juga kan dijual secara umum, dan setiap orang bisa beli dan baca, dan setiap orang punya imajinasinya masing-masing, kan?
Dan aku cuma mau kasih tau aja sih, meskipun ini dari novel yang sama, ff aku ngga sama dengan ff sebelumnya yang pake cast YunJae GS version, karena aku cuma HHS jadi ngga pernah baca ff selain cast Hunhan. Jadi, ff ini pure dari novel aslinya dan aku edit sedikit biar berasa feel Yaoi-nya.
Dan untuk kenyamanan para readers tersayang, ada beberapa adegan yang aku cut dari novel ini karena ngga terlalu cocok buat ff Yaoi, jadi kalau ada yang punya novelnya dan ngerasa ceritanya ada yang kurang atau dialognya ada yang beda, tolong maklum, karena dunia Yaoi kan emang agak beda dan emejing, wkwk.
Sekian cuapcuap ngga penting ini, maaf ngga bisa update secepat yang kalian mau dan juga kalau masih ada typo yang belum bisa dimusnahkan.
Terima kasih buat readers+siders, reviewers tersayang dan yang udah follow dan fav, kalian penyemangat terbaik! ^^
.
Mind to review?
.
