in ampulla pendere
(iv: dance of death.)
disclaimer: mobile legends: bang bang (c) moonton.
warning(s): ooc. au. reincarnation/fantasy elements. implied grave robbery. organ harvest. demon summoning/demon contract/child sacrifice. little bloodplay. non-linear narrative.
sinopsis: iv. semuanya tentang manusia yang menipu iblis yang menipu manusia.
note: judul chapter diambil dari "danse macabre, op. 40."—danse macabre, camille saint-saëns.
note2: bagian ini membingungkan buat ditulis huft—saya dah ada ide sejak awal chapter apa yang terjadi/endingnya gmn tapi buat curahin (?) semuanya ke tulisan entah mengapa susah hahah
note3: penjelasan di bawah; trivia, funfacts, etcetc.
.
.
Rumah Miya kini memiliki keremangan yang Alucard benci kala ia menapaki masuk kediaman wanita yang ia bunuh beberapa hari silam. Rumahnya memiliki bau amis yang tak dapat ia tutupi lebih lama lagi; semakin kentara seiring berlalunya waktu. Ia tidak betah—ia ingin keluar dari sana. Baunya seperti kematian, rumah itu. Baunya seperti Zilong.
Ia menimbang-nimbang tawaran iblis itu—iblis yang namanya tak boleh ia sebutkan selain untuk menyetujui kontraknya dengan bahan yang diperlukan diletakkan di atas altar yang terbuat dari tulang-belulang perawan (ada apa dengan iblis dan para perawan?)—dan jawabannya masih sampai pada keragu-raguan. Ia tahu, ia akan melakukan apapun untuk Zilong—tapi apakah ia bisa mati dan membuat Zilong melalui patah hati yang sama, karena ia memilih untuk mati demi menghidupkan kembali orang yang ia cintai?
Alucard mengacak kediaman wanita itu—toh ia sudah mati. Alucard ingin menangisi kawannya tetapi ia lebih berduka pada kematian kekasihnya—ia tidak bisa menangisi Miya (ia tidak mau mengingat-ingat dosanya), yang seluruh peninggalannya kini menjadi esensial dalam upayanya untuk mendapatkan kembali Zilong ke dalam pelukannya. Ia menemukan berbagai buku tentang alkimia dan sihir, nekromansi dan ikhtisar tentang iblis, semuanya ditulis dalam tulisan tangan yang sangat ia kenali.
Ia mengambil buku ikhtisar, yakin kalau ia akan memerlukannya nanti.
Kakinya menuntunnya pada sebuah ruang belakang, yang memiliki nyala lilin berwarna hijau benderang, menerangi jalan yang ia lalui. Ruangan itu memiliki lingkaran yang sama persis seperti yang ia gambar pada lantainya, hanya saja ada sedikit perpotongan di antara lingkarannya—membuat lingkaran itu tidak sempurna, dan memungkinkan iblis melarikan diri dari perangkapnya.
Ada selimut di sisi ruangan, diletakkan untuk membungkus bantal kepala.
Ada rak kayu besar yang memiliki gagang yang kemungkinan ada untuk menarik keluar laci besar dari dalam dinding. Alucard menarik gagangnya—hanya untuk segera menutupnya kembali, melihat sekilas kehadiran tubuh seseorang di dalam sana, wajahnya menjerit mayat dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Alucard berani bersumpah rupa sosok dalam laci itu adalah sama seperti Miya.
Ia berlutut di tengah lingkaran—catatan yang ia ambil semula ia paparkan di hadapannya, untuk mencari bantuan pada suatu kekuatan yang lain—nama yang Miya sebut, Karina, menjadi prioritas utamanya. Tetapi tak ada tulisan tentang iblis itu—Alucard pikir Karina adalah teman Miya dan bukan apa yang Alucard pikirkan.
Tetapi tak ada.
Alucard tergoda untuk segera mengucapkan namanya yang tak boleh ia sebut untuk memanggil sosok itu, dan segera menyengel kontraknya dengan menggunakan jiwanya.
Hanya saja akhirnya ia memutuskan untuk kembali mencari. Ada berbagai macam iblis dan informasi tentang mereka pada lembaran buku itu—cara memanggil dan mengikat; cara mencegah kehadirannya dan kelemahannya. Ia membolak-balikkan bukunya, terus hingga pada akhir halaman.
Ia tiba pada halaman terakhir; ada sebuah lembaran yang hilang, sisa sobekannya masih tertempel lem pada jilid bukunya. Alucard mengedarkan pandangannya. Mengecek tiap kolong dan ruang yang kemungkinan menyimpan selipannya. Ia mencoba untuk menerawang apa yang ditulis oleh Miya pada lembar halaman terakhir itu—sepenting apa informasi yang dimiliki selembar kertas yang hilang itu, hingga ia menyobeknya dari ikhtisar yang ia tulis dengan bantuan—bantuan siapa?
Apakah buku ini ditulis dengan menggunakan bantuan dan pengetahuan Karina?
Mengapa Karina memberitahu Miya ini semua?
Ia mendapatkan sebuah suku kata—na.
Alucard yakin lembaran terakhir menyimpan ritual yang harus ia jalankan untuk memanggil Karina, kalau begitu. Ia berdiri dari lingkarannya, menjelajahi rumah itu sekali lagi, mengecek tiap rak dan buku yang ada, membalikkan segala hal yang kelihatan. Ia menemukan beberapa dedaunan yang mengering, tulang belulang berukuran sebesar kepalan tangannya, sebuah botol kecil kosong—yang, ketika ia buka, mengeluarkan suara desis seperti bisikan.
Selebaran promosi tentang peramal tersebar di mana-mana. Alucard mengecek tumpukan koran dan mengeluarkan kompilasi berita koran dan majalah yang—tanpa alasan jelas—dipotong oleh Miya dan dijadikan satu dalam sebuah album berwarna hitam. Alucard membuka seluruh albumnya, tetapi tetap tak ada—ia menarik lembaran demi lembarannya keluar dari plastik album itu—beberapa sulit untuk ditarik dari tempatnya, tetapi akhirnya, Alucard berhasil mengeluarkan semuanya—tanpa menemukan apapun.
Ia berpikir untuk menyerah—ia hanya perlu memanggil iblis itu dengan namanya, mengikat kontrak dengan darahnya, pada iblis itu. Tetapi ia tak mau menyerah—ia harus mencari jalan lain. Saat ini penawaran itu ada sebagai alternatif yang akan Alucard pikirkan matang-matang. Untuk sekarang, ia bekerja untuk mendapatkan solusi yang memungkinkan Zilong kembali padanya.
Hidup bahagia bersama orang yang ia cintai.
Alucard kembali melangkah ke ruang belakang, mengacak semua rak yang ia temui—tetapi ia tak menemukan kertas itu. Lilinnya masih menyala, hijau benderang—membuat Alucard berpikir. Aksinya yang ia lakukan karena impuls membuatnya kehilangan temannya—ah, apa yang ia pikirkan. Ia harus melakukan itu—apa yang terjadi… itu bukan salahnya.
Ia mengingat apa yang dikatakan iblis itu padanya—"Kau memanggilku?" ia bertanya, mulutnya menyeringai dengan taring yang tampak tajam, sangat tajam. Matanya mengecek Alucard, dari atas ke bawah, sebelum tersenyum. Alucard menelan saliva yang terkumpul dalam mulutnya. "Ingin langsung mengutarakan proposalmu padaku?"
"Aku ingin—"
"Kekuasaan? Atau kekayaan? Maaf, sayang, untuk hal-hal rumit dan sangat, sangat manusia seperti itu, kau memanggil iblis yang salah." ia menghela napas—Alucard dapat merasakan iblis itu merasa risih. "Aku tidak menawarkan hal seperti itu—ah, tidak bisa, lebih tepatnya."
"Bukan—aku ingin kau… mengembalikan seseorang padaku." Ujarnya, membuat iblis itu mengangkat ekspresinya naik. Ia terlihat… tertarik. Alucard berjalan mengitarinya, perlahan. Cahaya lilin menari di antara tubuhnya dengan iblis itu, menyinari seluruh ruangan dengan keremangan. "Seseorang yang sangat penting untukku."
"Tahukah kau apa yang harus kau bayar dengan keinginan sebesar itu?"
"Setimpal, kan?"
Sang iblis tersenyum—bukan senyum yang menyejukkan hatinya. Senyuman itu membuatnya melangkah gelisah menjauh darinya. Ia merasa menyaksikan senyuman itu adalah suatu hal yang tak seharusnya terjadi. "Kau sudah mengerti? Tidakkah kau merasa takut?"
"Ti-tidak. Aku tahu—nyawaku, untuknya." Ia menahan napasnya saat mendengar sosok itu tertawa—benar-benar tertawa, menggelegar hingga seluruh ruangan terasa bergetar di bawah kakinya. Seringainya lebar, kala Alucard berjalan mengelilinginya. Berusaha untuk mengingat rupanya. Sosok itu tinggi, jauh lebih tinggi darinya. Matanya memancarkan cahaya yang jauh lebih bersinar dalam remang basemen ini, dibanding lilin pada tangannya.
Kepalanya menoleh dengan cepat ke satu-satunya sumber pencahayaan dari luar ruangan; sebuah jendela kecil di atas dinding, dekat dengan tangga masuk basemen dari gubuk rendah di belakang rumahnya. Ia terkekeh—rendah dan terdengar sinis—sebelum beralih pada Alucard. "Sungguh, kau ingin melakukannya?"
Ia mengangguk—ada keraguan yang tiba-tiba menancapkan akar pada hatinya. Jangan, suara dalam kepalanya berkata—jangan ragu.
Ia menginginkan ini—Zilong menginginkan ini—"Aku tidak mau mati, Alu—"
Tetapi ia tak mampu menyuarakan konsensinya. Iblis itu menatapnya, masih dengan bola mata yang bersinar, merefleksikan jiwanya yang adalah neraka tanpa ujung. "Ragu?"
Ia mengertakkan giginya. "Tidak. Aku menginginkan ini."
Ia membayangkan Zilong yang terbangun dari tidurnya, suatu saat, menghitung mundur dari saat ini (pasti)—meraba sisi ranjangnya dan tak menemukan siapa-siapa—seorang diri, sendirian—seperti saat mereka belum bertemu. Wajahnya muram, seperti kala ia mengunjungi makam saudara perempuannya yang terbaring tanpa nama tujuh kaki di bawah tanah.
Membayangkan pria itu berjalan tanpa arah dalam kediamannya sendiri, kesunyian dalam rumahnya memekakkan telinga, meremukkan hatinya dengan frekuensi suara yang dihasilkan dari debaran jantungnya sendiri. Ia pasti sangat kebingungan—tanpa dirinya disana, bersama. Alucard tidak ingin menimpakan perasaan yang sama seperti apa yang ia rasakan saat ini padanya.
"Apa yang kau tunggu, kalau begitu?" ia bertanya, masih tersenyum. Alucard merasa keraguan mulai melingkupi hatinya; ia tidak mau meninggalkan Zilong. "Darahmu, pada cawan itu." katanya—ia memiliki senyum lebar yang jauh lebih seperti seringai predator yang memiliki target lebih baik dari apa yang matanya tangkap. "Atau kau memiliki keraguan pada hati kecilmu itu…?"
Ia menelan salivanya—tidak menjawab, bibirnya terasa membeku. Iblis itu tertawa. "Pikir baik-baik, sayangku—kau akan menjadi milikku selamanya, seandainya kau mengiyakan ini."
"Aku—"
"Kecuali… kecuali kalau kau memiliki orang lain untuk menggantikan tempatmu sebagai persembahan yang kuinginkan." Alucard menatapnya, tak percaya—iblis itu balas memandang dengan licik. "Siapa tahu, mungkin kau bisa mencari dan mendapatkan sesuatu yang harganya sebanding dengan jiwamu."
Ia memiliki peluang untuk menyelamatkan Zilong; kembali ke kehidupan mereka yang dulu.
"Mungkin… bila kau tertarik, kau bisa berkonsultasi dengan temanmu yang mengenal seseorang yang mengenaliku tapi—ah, ia sudah mati." matanya melirik tubuh Miya di pojok ruangan dengan ekspresi sedih yang masih nampak palsu pada mata Alucard—iblis tak memiliki hati untuk bersimpati. "Aku cukup terkenal dari tempatku berasal, loh. Tentunya akan sangat mudah… mengetahui apa yang kuinginkan."
"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?" ia mengumpulkan nyali untuk bertanya. "Sesuatu yang sangat kau inginkan itu."
Iblis itu tertawa. "Oh, sayang—kami tak pernah memiliki kendali atas hidup manusia kecuali manusia itu sendiri yang mengizinkan kita untuk berbuat—ini bukan opera sabun; kami harus memiliki persetujuan dari manusia yang bersangkutan sebelum dapat menguasai mereka." ia melangkah maju, mendekati Alucard—pria itu mundur. "Ini tentang kekuatan dan kekuasaan yang diberkahi tuhan pada kaummu—manusia lebih berkuasa dari malaikat yang jatuh, lagipula."
Alucard merasa ini adalah ide yang buruk—ia merasa bersalah. Pengajaran dari gerejanya kembali pada ingatan, membasuh mentalnya yang butuh dibaptis. Tetapi Alucard sudah lama tak memiliki tuhan—ia menolak untuk percaya pada sesuatu yang menganggapnya suatu kesalahan karena dirinya mencintai seseorang yang tidak seharusnya.
"Bila kau siap, panggilah aku dalam doamu—"
Angin yang keras tiba-tiba menyapu ruangan—Alucard merasakan air membanjiri seluruh ruangan, bersumber dari tangga yang menuju halaman belakang. Airnya menimpa seperti badai yang kuat, menyapu lantai dan merusak lingkaran yang Alucard buat—darahnya luntur meskipun seharusnya sudah mengering di lantai. Ia menyadari dirinya yang terbuka untuk diserang saat iblis itu menarik tangannya, lalu membisikkan padanya suatu nama yang tak familiar.
"Namaku Martis."
Sebelum ia menghilang.
Alucard bertanya-tanya darimana hujan badai yang menyeruak masuk ke basemen ini.
.
.
Ia menemukan kertas sobekannya.
Miya menyembunyikannya di dalam botol kaca. Alucard menyocokkan sobekannya pada buku ikhtisar itu—dan cocok. Ia segera meluruskan kertas itu dan berusaha membaca—tetapi terlalu banyak coret-coretan. Ia yakin ia melihat Karina, namun sepertinya kembali ditimpa dengan Selena—atau apakah itu kebalikannya? Ia tidak begitu peduli. Semoga keberuntungan berpihak padanya.
Wanita itu menyimpan nyaris semua bahan yang ia perlukan untuk memanggilnya—ditemukan dengan mudah dalam keadaan sistematis dalam rak di ruang belakang, lengkap dengan label di tiap tas/botol/kemasan yang Alucard temukan. Ia meletakkan semuanya di dalam sebuah ampul (usang; tapi masih terpakai), yang kemudian ia tuangkan anggur merah—sambil mengucapkan mantra, sesuai yang tertulis di sana secara berulang-ulang.
Ada dua set mantra—ia memilih satu, memejamkan matanya dan berharap yang terbaik.
"Daemon, esto subjecto voluntati meae."
Tetapi hening.
Tidak ada siapapun di depannya.
Ia pikir ia melakukan suatu hal yang salah—tetapi sepasang tangan menyusup dan memeluknya dari belakang. Alucard berbalik—mata iblis itu ramah, ia terkikik menyaksikan reaksi manusia di hadapannya. Tangannya dilambaikan. "Halo, tuan manusia. Aku mendengar panggilanmu—aku mengapresiasi persembahanmu."
"Namamu Karina?"
Iblis itu—mengambil rupa seorang gadis, dengan mata sayu yang memandang Alucard dengan bingung. Ia memiringkan kepalanya, sebelum menyeringai. Alucard merasa seperti ia menyembunyikan sesuatu, tapi—bukankah semua iblis demikian? Ia memiringkan kepalanya ke sisi lain, rambutnya yang tergerai mengikuti pergerakan kepalanya. "Tentu. Aku Karina. Ada yang bisa kubantu?"
"Aku butuh bantuanmu untuk mengetahui—"
"Ah, ah, ah—berhenti sampai situ." Karina—iblis itu—tersenyum pada Alucard, maklum. "Pengetahuan bukan cabangku. Kau mungkin ingin memanggil… kau tahu, bukan-aku. Aku hanya dapat memberi kekuasaan dan kejayaan padamu."
"Ini tentang salah satu dari kaummu—kau pasti mengetahuinya; ia bilang ia cukup terkenal."
"Siapa?"
"…aku tidak bisa menyebut namanya."
Karina terkekeh. "Ah. Kau keberatan dengan penawarannya dan ingin mencari alternatif? Aku mungkin tahu siapa makhluk tolol yang menawarkan hal seperti itu. Mau bermain tebak-tebakan? Beri sinyal bila aku mengucapkan namanya, ya? Alice. Zhask. Helcurt. Argus." Ia melangkah menjauh—Alucard tak berniat untuk mengikutinya. Setelah agak jauh—sambil terus menyebutkan nama-nama iblis yang ia ketahui—ia kembali, hingga dari mulutnya terselip nama itu, "—Martis. Ba—"
Ia menunjuk Karina.
"Martis." wanita itu mendesis, masih tersenyum. Dari mulutnya, kata-kata melantun diselingi racun yang kuat. "Arogan sekali." ia mendekat pada Alucard, berlutut dan mendekatkan tubuhnya, hingga ia melingkari tangannya pada leher Alucard, dadanya menekan Alucard. "Apa yang ingin kau tanyakan, tuan tampan? Pertanyaanmu memerlukan bayaran yang setimpal, omong-omong."
"Bayaran seperti apa?"
"Hmm… karena seseorang sudah mengklaim nyawamu—mungkin… bukan-nyawamu." Ia menjilat daun telinga Alucard—membuatnya bergidik tak nyaman. Suaranya rendah dan lembut kala ia berbisik, "Kau tahu… aku mencium kematian seseorang padamu—seseorang yang sangat kakakku—maaf—sangat, sangat… kusayangi. Aku menginginkan apa yang tersisa darinya." ia menatap Alucard. "Jantungnya. Untuk informasi."
Ia menelan salivanya—bukan apa-apa, kan? Toh… Miya… sudah mati. (Ia berbicara tentang Miya, kan?)
Tidak ada artinya.
Ia mengangguk.
.
.
Ia meletakan jantungnya pada sebuah mangkok kaca yang ia bungkus dengan kain berwarna hitam kelam. Jantungnya berdebar lemah seolah masih memompa darah ke seluruh tubuh yang sudah tak ada (bagaimana hal ini bisa terjadi?). Ia tidak menyukai baunya—busuk. Sudah terlalu lama. Berat (amat berat) di dalam mangkok itu. Rumahnya pun pekat akan aroma kematian yang berusaha untuk tak ia tanggapi. Saat ia kembali, Karina masih di sana.
Alucard meletakkan mangkok kaca tersebut di hadapannya, yang segera diambil dan didekap erat.
"Apa sesuatu yang harganya senilai dengan jiwaku? Apa yang… ia inginkan?"
Karina bersenandung. "Ia hanya menginginkanmu, tampan." katanya. "Ia tak pernah diam—waktu di dunia ini bergulir lebih cepat dibanding waktu di tempatku berasal; kau tidak tahu berapa abad yang kulalui, hanya dia yang terus berceloteh tentang keinginannya untuk memiliki seorang manusia yang hatinya telah dimiliki oleh orang lain."
Alucard mendengarkan. "Ia ingin membuatmu menjadi miliknya; mendorongmu hingga ke ujung dan membuatmu kehilangan dirimu sendiri—hanya untuk mengingat dirinya seorang." Karina memandangnya dengan seringai lebar, mengetahui betul Alucard merasa tak nyaman dengan apa yang dikatakan padanya. "Tapi ternyata kau sudah gila tanpa memerlukan hasutannya—dua iblis dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan? Haruskah kita memberikanmu sertifikat rekor?"
"Kau… tidak menjawab pertanyaan pertama—adakah sesuatu yang harganya senilai dengan jiwaku?" ia bertanya—ia tahu… siapapun manusia yang kurang beruntung harus ia tambahkan pada daftar dosanya.
Karina terkekeh, ia menyentuh pipi Alucard. "Oh, tentu—tapi itu bukan bagianku untuk bercerita, kan?" ia beranjak. Alucard memandang punggungnya yang tertutupi surai panjang yang ia biarkan tergerai bebas, menari bersama semilir angin yang tak ada dalam ruangan ini. "Ia tinggal di tempat yang sangat, sangat jauh dari sini."
"Katakan siapa." Nadanya mengancam—ia tahu akan sia-sia, tapi ia merasa sangat membutuhkan orang ini. Kunci lain untuk mendapatkan Zilong. Ia tahu ia egois—ia tahu ini akan membuatnya menyesal seumur hidupnya, tetapi demi bersama Zilong, kebahagiaannya akan berlipat dan penyesalannya akan terkubur jauh.
"Tidak sabar? Tapi… ah, kau tidak akan bisa menyebrangi jembatannya."
"Di-dimana orang itu?—jauh dari sini? Aku bisa mendatangi—"
"Sangaaat jauh dari sini. Kau tidak memiliki waktu untuk mengunjunginya." Ia menyeringai saat menangkap kekecewaan pada wajah pria itu. "Tapi, tentu saja, dengan bantuanku—tidak ada yang mustahil."
Alucard masih memandangnya—bayarannya harus setimpal.
"Apa yang… kau inginkan?"
"Oh—tidak, manis, aku bukan monster. Kau sudah memberiku lebih dari cukup." Karina mendekat padanya—ia mendekap Alucard sangat dekat, intim, bisa dibilang—bibirnya berbisik dan jarinya menari menyentuh tengkuk Alucard. Ia membisikkan sesuatu pada Alucard dalam bahasa yang tak pernah ia pahami sebelumnya, tetapi matanya terbuka lebar.
Iblis itu menjauh darinya, senyumannya lebar—seringai, seringai, seringai sinis penuh dengan niatan jahat, menginginkan kehancuran. Wajah itu kemudian berubah—kembali seperti seorang gadis naif; ia terkekeh. "Kau mungkin akan melihat hal-hal yang tak kau inginkan, tapi kau tidak akan mengingat apapun yang terjadi sana—orang itu pun… tidak akan mengingat apapun yang terjadi sini."
"Aku hanya tinggal… membawanya untuk menyebrang?"
Karina mengangguk, matanya berkilat—Alucard berusaha untuk tak menangkap kesinisannya, tetapi akhirnya, ia seolah tahu apa yang akan ia lakukan memiliki akhir yang buruk bagi dirinya dalam jangka panjang. Karina memiliki motif lain selain membantunya—tetapi Alucard memilih untuk tak memedulikannya. "Jangan sampai ia mengetahui siapa kau, dan kau akan baik-baik saja."
"Apa yang kubutuhkan untuk… melakukan ini?"
Siapapun itu yang ia perlukan—ia berhutang maaf padanya.
Ia menulis surat untuk orang itu—siapapun itu.
.
.
Permukaan cerminnya beriak tenang ketika Alucard menyentuhnya.
Alucard mengambil langkah lebar agar tak menginjak deretan lilin pada kaki cermin—lalu ia tiba pada basemen rumahnya, melalui riak cermin itu—dengan penampakan yang sama, kecuali jejak darah dan perangkap yang ia gambar dengan darah Miya. Ia mengedarkan pandangannya, tak merasakan perbedaan pada keadaan sekelilingnya—mungkinkah Karina berbohong padanya? Atau ia melafalkan mantra yang salah?
Ia memutuskan untuk tak mencapai kesimpulan dengan tergesa. Kakinya menapaki anak tangga yang mengantarnya ke dapur rumahnya. Rumah yang ia lihat di depan matanya adalah rumahnya, namun disaat yang bersamaan rasanya seperti bukan rumahnya. Alucard mengedarkan pandangannya—dan merasa kalau ia seperti tidak seharusnya berada di sini.
Ia menepis pemikiran itu, lalu berjalan perlahan ke ruang tengah untuk menangkap penglihatan dua orang—wanita dan pria, duduk bersebelahan di atas sofa yang jelas tak ia kenali. Ia menggeleng, kepalanya menunduk ke lorong rumah yang lantainya kini dihiasi sigilum yang merangkak dari bawah basemen rumahnya di sisi lain cermin.
Arahnya perlahan naik ke tangga—warna putih seperti kapur semakin bersinar.
Hingga ia tiba pada pintu kamar yang seharusnya adalah kamar tamu; kosong. Tanpa penghuni.
Ia berdehem, mempersiapkan wajah ramah untuk membujuk siapapun di dalam sana untuk membantunya. Ia tersenyum. Berpura-pura mengenali orang di dalam sana—ramah. Ia harus bisa membujuknya. "Hai, maaf aku terlambat—"
Kamar itu kosong. Tanpa penghuni.
Seharusnya.
Tetapi nyatanya ada sebuah ranjang kecil dan gumpalan selimut di atasnya—ada orang di dalam sana. Ia mengintip dari celah selimutnya yang ia buka dan—"oh."
Oh, tuhan.
Orang itu—anak itu nampak sangat kecil. Terlalu kecil. Usianya mungkin belum menyentuh 10—mengapa?
Apa yang diinginkan iblis itu dari anak ini?
Hati kecilnya berbisik lirih untuk mundur dari kegilaan ini. Mungkin ia harus mundur dan menyerah—mata anak itu memandangnya waspada, bola matanya yang berwarna biru cerah memperberat niatannya untuk membawanya ke seberang cermin—ke dunianya. Ia—ia tidak bisa melakukan ini. Anak ini tidak perlu—anak ini tidak seharusnya—
"Halo." Ia menyapa—kala anak itu merangkak mundur, Alucard merasakan keputusannya berubah menjadi penyesalan. Anak ini tidak seharusnya terlibat dalam keinginan egoisnya. Mungkin ia harus melepaskan Zilong—anak ini tidak perlu terlibat, kan?
Tidak—tidak. Ia harus melakukan ini.
Untuk Zilong.
Anak ini bukan siapa-siapa.
Ia bisa melakukan ini.
"Um. Halo…?" balasnya—ia mengeratkan selimutnya, mungkin untuk menenangkan dirinya. Wajah anak itu mengerut; takut, atau bingung. "Si-siapa kau…?"
Alucard berjalan mendekati anak itu, lalu duduk di sisi ranjangnya—bola matanya membulat ketakutan. Alucard merasa bersalah—namun dengan anak ini… ia akan lebih mudah. Membujuknya untuk ikut bersama Alucard menyebrang. "Kau pasti adiknya Miya, ya?" ia berusaha meringankan suasananya—tertawa, lalu meraih pipi anak itu. Anak itu menolaknya dengan sangat tak suka. "Miya bilang ia kehilangan adik laki-lakinya. Syukurlah kau tidak apa-apa."
"Siapa Mia?" ia bertanya—mudah untuk menjawab tetapi mengingat temannya yang ia bunuh dan ia manfaatkan bahkan setelah kematiannya sekalipun—Alucard merasa perasaan tak nyaman itu menyelimuti hatinya. Mulut anak itu terbuka untuk mengatakan sesuatu, tetapi Alucard menyela.
"Hei, berapa umurmu?" Alucard menatapnya, lembut, sambil tertawa—tak peduli berapa besar usahanya untuk menutupi motifnya, anak itu seolah mengetahui sesuatu. "Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Hanya—maukah kau melakukan sesuatu untuk membantuku?"
Matanya melirik ragu pintu kamarnya dan Alucard. "Uh…."
Ia tidak akan menerima tidak untuk jawaban. "Kumohon?" ia berusaha untuk tersenyum—tetapi mungkin anak itu melihat sesuatu yang lain pada pendar matanya, hingga ia tidak ikut tersenyum, dan malah makin terlihat skeptis. "Ini kepentingan hidup dan mati seseorang yang sangat, sangat, kusayangi. Tidak maukah kau membantuku melakukan suatu hal kecil untuk suatu hal yang besar?"
Anak itu nampak berpikir—tapi pada akhirnya, ia menggeleng, tanpa alasan. Alucard pikir mungkin ia tak mau orang tuanya menangkap basah dirinyayang berbincang dengan orang asing dalam rumah mereka.
"Ini akan jadi rahasia kecil kita, bagaimana?"
Ia berusaha untuk meyakinkan, akhirnya.
Anak itu memiringkan kepalanya, tapi perlahan ia mengangguk. Alucard tersenyum padanya, ia meraih tangan anak itu dan menuntunnya keluar dari kamarnya, mengikuti jejak seperti kapur yang bersinar di bawah lantai—yang perlahan terdistorsi menjadi sesuatu dengan warna kemerahan—seluruh rumah ini pun demikian. Alucard memutuskan untuk mengabaikannya, sedangkan anak itu menautkan alisnya ketakutan.
"Jangan takut."
Tetapi Alucard merasakan darahnya membeku, ketika ruang tengah yang semula ia lalui kini digenangi oleh darah dari pria yang tadi duduk di atas sofa—tetapi anak itu nampak tak peduli. Tangannya menunjuk sofa—dan ia melambaikan tangannya, seolah menyapa apapun itu yang ia lihat. Ia memutuskan untuk bertanya—mengabaikan tubuh seseorang yang juga bersimbah darah di dapur, kali ini seorang wanita.
"Apa yang kau lihat?"
Anak itu terkekeh kecil, "Papa dan mama."
Papa dan mama.
Alucard merasakan sesalnya membuih di hatinya—anak ini juga tentunya memiliki orang tua. Memiliki figur ayah dan ibu yang menyayanginya.
Alucard tak pernah disayang orang tuanya, terlebih ibunya—eksistensinya selalu diharamkan—ayahnya tidak ada. Ibunya membencinya. Penyiksaan selalu menjadi makanan sehari-hari untuknya. Ibunya tak menginginkannya. Ayahnya selalu menghilang.
Ia tiba pada basemen rumahnya—mengajak anak itu untuk menyeberang melalui cermin tinggi yang permukaannya berwarna putih, memantulkan samar-samar cahaya lilin di seberang—di dunianya. Penyesalannya semakin terasa berat ketika anak itu menapaki kakinya di dunia ini; kotor. Anak itu memandangnya dengan bola mata yang melebar, namun kosong—mengapa tatapannya seperti itu?
Tubuhnya dituntun ke hadapan lingkaran itu—ia berusaha menutupi mata anak itu dari penglihatan yang tidak diinginkan—sisa onggokan tubuh seseorang yang telah dikuliti dan tulang-belulang yang belum sepenuhnya disusun untuk membuat altar yang ia perlukan. Ia merasakan tangannya gemetar—mungkin sudah sejak lama. Tubuhnya butuh istirahat—siapapun yang mengamati tahu ia tak beristirahat semenjak Zilong—tapi ia harus melakukan ini.
"Hei, kita di sini." Ia berujar—ia berusaha untuk tak mengetahui apapun tentang anak ini ketika ia bertelut di hadapan cawan emas itu. Anak itu kemudian memandangnya dengan sayu—bingung. Alucard tersenyum kepadanya, meyakinkannya kalau tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Ia menggumamkan namanya—"Martis,"—tak peduli kalau perangkapnya sudah tak bisa berfungsi dengan seharusnya setelah pertemuan terakhir mereka.
Tawanya seketika mengisi kehampaan ruangan—anak itu segera berlutut di sampingnya, tangannya berpegang erat pada tubuh Alucard yang merasakan suhu ruangan yang turun beberapa derajat. Ia menoleh ke kiri, dan ke kanan—hingga bola mata benderang itu menampakkan dirinya, tepat di hadapan mereka. Anak itu, seperti yang Alucard duga, terlonjak ketakutan, berhadapan langsung dengan objek mimpi buruknya.
Martis terkekeh. "Aww, manis, tidakkah kau mengetahuiku?"
Anak itu menggeleng kuat, dari matanya air mengalir—ia memandang Martis, lalu Alucard, menambah perasaan bersalahnya dengan bola mata yang terbelalak ketakutan. Jawaban yang diberikan anak itu membuat Martis meringankan derajat intensitas senyumnya—senyum yang mengerikan itu mengalus. Lalu sebelum Alucard sempat mengatakan sesuatu, tubuh iblis itu diliputi oleh kepulan asap hitam gelap yang baunya seperti polusi dari kendaraan bermotor.
Dan ia berdiri di sana—dengan wujud yang berbeda. Senyumannya lebar, taring dan cakarnya masih ada—tapi ia tak lagi menyerupai monster. Anak itu pun, sepertinya tak lagi menakutinya. Ia melompat dan mengampirinya dengan riang gembira. "Martis!"
Anak itu memeluk kakinya—Martis menurunkan tubuhnya seraya mengecup puncak kepala anak itu dengan mesra. Senyumannya lebar—tangannya yang dengan hati-hati ia posisikan agar tak menyakiti pipi anak itu meraba dengan lembut, "Ku-kupikir Martis meninggalkanku…."
Ia merengut. Manis. Membuat iblis dalam wujud manusia itu tertawa, rendah. "Kau tahu aku tidak akan meninggalkanmu, Alu…" katanya—Alu?
"Kau menginginkan anak ini?" ia bertanya, keras-keras pada Martis—agar anak itu menjauh dari iblis itu. Tidak aman—anak ini benar-benar sesuatu. Tidak seharusnya orang-orang tersenyum senang saat bertemu langsung dengan iblis. Tapi anak itu tersenyum lebar seperti ia bertemu dengan kawan lamanya. "…siapa dia, sebenarnya…?"
Martis tak menjawabnya—kejutan. "Cepatlah lakukan—aku tidak mau menunggu lebih lama lagi."
"Siapa anak ini, Martis?" ia tak dijawab, jadi ia beralih pada anak itu—Alu? "Hei, boleh kutahu namamu?"
"Na-namaku? Oh, aku A—"
"Namanya tidak penting, kan?" ia menggeram—benar-benar, liar, menggeram. Martis tidak ingin Alucard mengetahui siapa anak ini, membuat Alucard ingin mendorong pertanyaan itu hingga anak ini menjawabnya dengan jelas. Anak itu nampak ngeri mendengar geramannya. Ia melangkah mundur. "Kau tahu apa yang lebih penting, sayang; Zilong-mu jauh lebih penting dari anak ini, kan?—jadi cepatlah lakukan sebelum aku mengubah pikiranku."
Ragu.
Ia mulai ragu.
Siapa anak ini?
Ia bertelut, mensejajarkan wajahnya dengan anak itu, yang tak sedikitpun menampilkan kebingungan pada raut mukanya. Ia mengeluarkan pisau tajam—dan tak sedikitpun membiarkan anak itu melihat, ia meraih telapak tangannya. Alu—nama anak itu—memiringkan kepalanya, sebelum benar-benar meringis dan menangis saat Alucard menggores telapak tangannya secara horizontal dengan mata pedangnya. Darahnya mengumpul pada tangannya yang terbuka, perlahan tertuang pada cawan keemasan di hadapan mereka.
Anak itu melawan, tapi ia tak dapat menyaingi kekuatan Alucard yang menahannya. "Karena kau sudah disini… apakah aku harus meletakkan cawannya pada tul—"
"Tidak, tidak—kemarikan tangannya." Alucard mendengar anak itu terisak—saat ia melepaskan, Martis segera meraih tangannya, lalu menjilati darah yang mengotori tangan anak itu. Anak itu berhenti menangis. "Aku tidak begitu peduli pada altar tulang-belulang itu—semuanya hanya formalitas." Katanya.
Alucard menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya dengan tak nyaman—rasa bersalahnya semakin menjadi saat anak itu tiba-tiba terjatuh, ke lantai, tak sadarkan diri setelah Martis dengan sugestif membersihkan darah yang mengalir dari lukanya yang terbuka. Ia terbaring lemas di lantai, napasnya lemah—Alucard ingin mengangkatnya, tapi ia dihentikan. "Belum selesai."
Ia menelan salivanya. "A-apa lagi…?"
"Seharusnya kau tahu."
…tidak, ia tidak tahu.
Martis menghela napas—apakah iblis bernapas? "Tidak pernah dengar? Seal the deal with a kiss—"
"Oh, tuhan—tidak." Ia berbalik, tak ingin wajahnya dilihat oleh iblis itu. Bisa-bisanya ia meminta hal seaneh itu. "Aku tidak akan—"
"Kalau begitu aku juga tidak akan membantumu." Katanya, nadanya sombong, ia mengetahui kelemahan Alucard. "Atau kau bisa membangunkan si manis ini dan membiarkanku menciumnya—maksudku, anak malang sudah membayarnya, kau hanya tinggal memeteraikan kontrak ini dengan ciuman. Kecil."
"Aku tidak seharusnya—"
"Kau khawatir kau tidak setia pada Zilong, hm? Tidak bisa berselingkuh kalau kekasihmu mati, sayang." Martis mendekatinya, wajahnya semakin dekat—menyaksikan Alucard yang berpikir keras, mencerna tiap kata yang keluar dari mulutnya. Mudah sekali dibujuk untuk setuju, manusia. "Anggap saja kau memberikan ucapan terima kasihmu pada orang yang akan mengembalikan apa yang kau inginkan."
Alucard melihat anak itu—ia tidak mungkin bisa menyaksikan anak itu kembali membayar apa yang seharusnya ia bayar. Jadi Alucard menghela napas, berat. Tubuhnya kembali menghadap Martis yang kini tersenyum padanya. Tangannya diulurkan untuk menarik Alucard mendekat padanya. "Setelah itu, kembalikan semuanya seperti semula—kembalikan Zilong padaku."
"Tentu, tentu." Martis semakin mendekat—Alucard memejamkan matanya saat ia merasakan bibirnya bersentuhan dengan milik Martis. Tak nyaman—aneh, aneh, aneh—ia tidak seharusnya melakukan ini. Ia seharusnya memikirkan Zilong—memikirkan apa yang kekasihnya mungkin katakan padanya, bila ia mengetahui Alucard pergi dan mencium orang—iblis—lain dengan bibirnya; membagi ciumannya yang seharusnya hanya untuk Zilong seorang.
Martis menciumnya lama—hingga kepalanya terasa ringan, dan perlahan kesadarannya terselip dari dirinya. Saat ia dilepaskan, ia segera terjatuh, matanya bergulir lemas tak bisa memandang jelas, pikirannya tak mampu memandang lurus.
Alucard melihat Martis membungkus pisau yang tergeletak di lantai dengan kain putih tanpa noda, lalu berjongkok dan mengecup anak itu sebelum mengangkat tubuh kecilnya dengan matanya yang berkilat posesif seperti anak itu hanyalah miliknya seorang, sekarang. Alucard mendengarnya samar-samar berkata, "Kau milikku sekarang, selamanya, Alucard."
Semuanya menjadi gelap.
.
.
Ia terbangun di depan ranjangnya, Zilong masih berbaring di sana. Tubuhnya hangat.
Alucard tak menyadari dirinya yang menangis—ia segera melompat menaiki ranjang mereka, dan mendekap Zilong erat—pria itu mengaduh, matanya terbuka perlahan dan Alucard kembali merasakan hatinya melompat dari dadanya. Zilong mengamatinya dengan heran—suara yang Alucard rindukan—memanggilnya, menjeritkannya—berkata padanya, dengan perlahan, "Kau… baik-baik saja?"
Napasnya tertahan—ia disini; Zilong disini—ia membiarkan air matanya membasahi pundak pakaian pria lainnya. Kekasihnya. Baik-baik saja—disini. Rasanya seperti mimpi. "Y-ya—aku baik-baik saja—kau disini. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja." ia melebarkan senyumnya, tangannya mengusap pipi Zilong dengan penuh afeksi yang lama ia bungkam karena Zilong sudah mati—tapi ia ada di sini. Ia melumat bibir pria itu; apa yang telah lama ingin ia lakukan—hingga ia tidak bisa bernapas lagi.
Zilong masih membiarkan Alucard menelusuri mulutnya—memberikannya ruang untuk masuk dengan cepat, Alucard menyentuh Zilong, seluruh bagian tubuhnya, hingga berhenti pada jantungnya yang berdebar tergesa—kekurangan pasokan oksigen. Ia menciumi kekasihnya hingga akhirnya ia melepaskan. "Aku mencintaimu, Zilong—aku benar-benar merindukanmu, oh—oh, tuhan,"
Tangannya menyentuh leher Zilong—masih ingin merasakan kehangatan itu, meyakinkannya kalau Zilong telah kembali bersamanya. Dadanya terasa penuh—ia merasa lengkap. Zilong mendekapnya. "Kau mimpi buruk lagi, Alu?"
Alucard mengangguk, ia tak menjawab. Zilong masih memandangnya dengan tatapan yang lembut—tak mengetahui apapun yang Alucard lakukan—Alucard akan mempertahankan situasinya seperti itu; Zilong tak mengetahui apapun. "Tapi tidak apa—ka-kau disini… aku… aku sangat mencintaimu."
"Semuanya akan baik-baik saja, Alu." katanya. Alucard meraih tangannya, mengecup punggung tangan itu dengan jarinya yang berdiam sepersekian detik pada nadinya. Matanya kembali pada wajah Zilong; bersemu merah—yang selalu senantiasa membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia ingin kembali mencium bibir itu hingga kemerahan—sekarang karena semuanya tidak apa-apa. Zilong telah kembali padanya.
Tetapi ia tak melakukannya—ia hanya terus mendekap pria itu, bersamanya. "Jangan… jangan meninggalkanku lagi, Zilong." Ia mencengkeram pakaian pria itu—tak membiarkan ekspresinya nampak pada Zilong. "Aku… aku tak akan membiarkanmu."
Zilong tersenyum padanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Alu—aku… aku terlalu mencintaimu untuk melakukan itu."
.
.
[to be continued.]
note: *emma roberts voice* surprise, bitch
ssh saya tau saya blg update ch4 bakal lama—itu karena saya salah baca deadline pengumpulan esai, maap.
mantra yang ada disini bener-bener dikutip dari serial tv supernatural; saya bukannya males riset ato apa, tapi tentang demon summoning, emang ga pernah ada informasi yang konkret dan sejarah yang nyatet beginian "pernah terjadi"—iyala n_n ritual yang terjadi disini juga ga nyata—saya ngambil metodenya dari ide tentang cerita yang pernah saya karang beberapa tahun lalu (yang juga, ngambil inspirasi dari berbagai sumber), kalo ada kemiripan ama cerita lain yang pernah dipublikasikan sebelumnya, mungkin cuma kebetulan. maaf:)
'karina' disini bukan bener-bener karina. saya juga mau nyebut kalo martis/alu di ch3 yang sedikit pedo—ups—dijelasin di sini. bukannya ga signifikan dan cuma sekedar fanservice(?); semuanya selalu ada dengan alasan (minus bola di basemen dr ch1, fuck that tbh idk why i put that there)—bagian dari ch3 ada karena martis janji ke alu buat ga ninggalin dia—'seal the deal with a kiss'.
tentang martis yang bilang kalau itu semua cuma formalitas—terlebih bagian alu ngebunuh miya, itu juga, seharusnya gaperlu dilakuin—karena cuma formalitas, dan karena saya rasa martis bakal jadi bajingan yang nginstruksiin demikian buat liat orang gila macem apa yang mau ngelakuin hal sejahat yang harus dilakuin buat manggil dia.
ch3 dan ch4 endingnya sengaja mirip—chapter 2 seharusnya berakhir pas miya mati, tapi saya ngerasa kalo kayak gitu ch4 malah bakal terlalu panjang—ini jg dah terlalu panjang karena note pls.
happy ending? whats that? suffer.
mungkin saya bakal buat side story tentang karina/miya? saya gatel sih, pengen nulis mereka (hubungan mereka di au ini, tentunya), tapi zialu selalu lebih menarik dibanding mereka /cri jadi mungkin ngga.
makasih yang dah mampir baca! how tf ppl read this mess is beyond me tbh. ada pertanyaan? c:
—Jakarta, 26 Agustus 2018, 4:38 PM.
