Title : Test for Kira
Disclaimer : saya mah orangnya jujur. Gundam Seed ini punya ninja hatori (?) *dihajar Sunrise.
Pairing : KiraXLacus atau KiraX... jeng! Jeng! Meer!
Warning : AU, OOC, Abal, norak, gaje, jayus, alur wuss wuss (?), gak nyambung. Gitu deh.
A/N : Huaa! maaf kalo ada yang mau buka chapter ni sebelumnya tapi gak bisa. sya remove buat di edit sebentar karena lupa satu kata yang fatal! Tolong dimaklumi karena sya buatnya di jam siskamling (?) dan maaf juga buat yang udah baca. maaf banget, soalnya nti alur ceritanya jadi beda :'(
Readers: Author bego.
Author: Author gak bego. Cuma 'agak' abnormal kayak Kira aja.
Readers: *sweatdrop
Author: yaah, pokoknya terima kasih banyak ya buat para senpai, readers, and nakama yang udah kasih wejangan buat sayaaaa! (^n^)/
Happy Reading! ^^
Test for Kira
Chapter 4
.
.
Sore ini, saat ini, banyak orang di lapangan yang dibuat menganga tidak percaya. Seorang lelaki berambut coklat awalnya juga ternganga namun langsung berganti dengan sebuah senyum lebar tidak percaya. Priit! Terdengar suara peluit panjang ditiup oleh sang wasit.
"Gol? Gol? GOOOOLL! Yeah!" seru cowok itu kegirangan dengan kedua tangan terancung tinggi ke udara.
Beberapa saat kemudian segerumul rekan berseragam sama datang menghampirinya dengan heboh. Mereka datang dan langsung melompat ke lelaki itu, mengacak –acak rambutnya, mendorongnya ke bawah dan menjitaknya secara masal. Kira yang sudah dalam posisi terlentang dengan tampang acak-acakan plus debu dan sedikit daun yang lepas dari pohonnya hanya menatap mereka bingung serta mengeluarkan seulas senyum polos.
"Gol, sih, Gol Kira. CUMA KENAPA GOL YANG KAU BUAT GOL BUNUH DIRI! BAKA!" sahut teman-temannya itu bersamaan dengan tampang garang.
The connection was reset... "Eh?"
"'EH'?" ulang teman-temannya juga dengan maksud mengintimidasi.
Refresh. Done. "EHHH? JADI TADI ITU GOL BUNUH DIRI?"
"IYA!" seru teman-temannya frustasi. Di lain pihak, yaitu pihal lawan, mereka hanya tertawa tawa dan merayakan kemenangan mereka yang menggelikan.
Seseorang tiba-tiba datang dari belakang dan langsung merangkul leher Kira. Kira melirik singkat ke arahnya. "Sudah~ sudah~ kalian semua. Jangan berlebihan begitu, dong. Kita, 'kan cuma latihan. Kira juga manusia, dan seperti yang kita tahu memang 'agak' linglung. Jadi ya santai sajalah~"
"Kau bisa santai begitu karena kau di pihak yang menang, Athrun. Tapi walau latihan masa' Kira gak bisa ngeliat perbedaan seragam, sih? Kelompok kalian 'kan pakai singlet hijau (author gak tahu namanya apa, pokoknya yang dilapisin di atas kaos itu lah)" salah seorang dari mereka menjelaskan dan yang lainnya mencibir.
"Kira, 'kan buta warna," jawab Athrun asal.
"Athrun.. aku tidak buta warna," bantah Kira lemas.
"Kira tidak buta warna, dia hanya buta arah. Makanya dia salah pergi ke pihak lawan," ralat Athrun.
"Kami semua tahu kalau Kira tidak buta arah, Athrun," sergah teman-teman yang lain serempak.
Kira hanya memandang sinis Athrun yang mulai sweatdrop. Athrun hanya balas memandang dengan tatapan 'aku-ini-berusaha-membantumu-tahu'. Dan Kira balas menatapnya dengan pandangan 'aku-tahu-kalau-kemampuan-'menjilatmu'-lebih-baik-dari-ini'. Athrun berdeham singkat sebelum mulai membela temannya ini.
"Baiklah, Kira, tolong ambilkan bola yang lain di gudang. Kurasa tekanan dan lapisan kulit bola yang kita pakai tadi mulai jelek. Nah, pergilah~ pergi~" ujar Athrun yang membuat Kira makin bingung namun akhirnya pergi juga.
Setelah beberapa meter Kira melangkah, ia menoleng ke belakang untuk memastikan apa yang dilakukan Athrun tapi Athrun hanya balas melambai, Kira pun berjalan lagi tanpa kecurigaan yang tersisa. Athrun segera merangkul dua orang yang paling dekat dengannya dan akhirnya mereka semua berkumpul membentuk lingkaran.
Athrun memasang tampang serius. "Dengar teman-teman, kalian sadar kalau Kira akhir-akhir ini sering melamun?"
Mereka mengangguk.
"Kalian sadar kalau akhir-akhir ini Lacus jarang mampir ke sini untuk melihat Kira berlatih?"
Mengangguk lagi.
"Walau kalian para lelaki single, kalian pasti bisa mengira-ngira bagaimana rasanya jauh dari pacar atau sedang ada masalah dengan pacar, 'kan?"
Ngangguk.
"Jadi? Menurut kalian apa yang akan terjadi kalau kalian memberi banyak tekanan padanya?"
Mereka semua diam dan berpikir. Athrun mengangguk pelan untuk memancing penalaran mereka. 5 detik.. 15 detik... 30 detik.. (kelamaan?)
"KIRA TIDAK AKAN MELAKUKAN GOL BUNUH DIRI LAGI TAPI MELAKUKAN BUNUH DIRI BETULAN!" jerit mereka serempak dengan wajah pucat dan shock dalam hati.
"Hei, kenapa kalian bergerumul begitu?" ujar Kira yang muncul tiba-tiba dan sukses membuat Athrun dan kawan kawan terlonjak kaget.
Mereka semua segera berbalik menghadap Kira dan berdiri tegak.
"Ehem~ sudahlah, Kira. Masalah gol bunuh diri tadi tidak usah dipikirkan. Kami tahu kau memang orang linglung. Masih bisa ditempa~ masih bisa dilatih~" kata salah seorang dari mereka sambil menepuk-nepuk bahu Kira.
"Ya?" Kira hanya tersenyum simpul. Bingung.
"Jangan disimpan sendiri bebanmu. Cerita-ceritalah pada kami. Nah, kau boleh istirahat duluan untuk menenangkan pikiran. Silakan~" timpal yang lain.
"He? Ah, ngomong-ngomong bolanya..."
"Serahkan pada kami. Sekarang pergilah ambil minum dan istirahat. Oke? Oke?" orang pertama tadi mengambil bola dari tangan Kira dan mengkomando yang lain untuk mulai latihan lagi.
Tersisalah dua orang yang sedang berdiri berdampingan di sana. Athrun hanya menganggung-angguk dan menyelipkan sebuah jempol yang terangkat di samping pahanya untuk teman-temannya tadi.
Kira kembali memandang sobatnya itu. "Nee.. apa yang sebenarnya kau katakan pada mereka, hm?" celetuk Kira datar.
"Aaah~ bukan hal yang istimewa."
Kira kembali menoleh ke depan. "Kurasa tidak berlebihan kalau aku menyebutmu 'penjilat sejati'"
"Tidaak~ kau berlebihan. Hei, kau sendiri bagaimana? Sudah ajak Lacus makan siang bersama siang ini?" Athrun berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kira kembali teringat kejadian di koridor tadi pagi. Senyum Lacus yang begitu berseri. Penampilan barunya. Dan saat dirinya dipanggil 'Kira-kun'.
"...kenapa? Apa mau dipanggil Kira-san saja?"
Kira langsung berjongkok begitu teringat hal itu. Ia mencoret-coret tanah dengan jari telunjuknya. Jadi sebenarnya, Kira tidak sadar kalau Lacus kemarin adalah orang lain alias Meer. Ia mengatakan 'kau bukan Lacus yang kukenal' karena memang merasa berbeda dan tidak terima dirinya dipanggil –kun. Tapi hanya itu. Bukan karena hal lain. Kesimpulan Author? Kira tetap orang bodoh. *ditendang Kira.
"Pasti gak jadi," Athrun menjawab pertanyaannya sendiri. Ia menemukan tulisan yang ditoreh Kira bertuliskan 'Kira-kun'. "Hee~ sebenarnya apa yang terjadi, Ki-ra-kun?" ledek Athrun.
Kira langsung tersentak mendengar hal itu dan langsung bangkit untuk menyeret Athrun ke pinggir lapangan setelah menghapus torehannya. "Jangan-panggil-aku-begitu!"
"Lho kenapa? Tidak masalah, 'kan selama bukan –san?"
Kira terdiam. Ia duduk begitu saja di tepi lapangan yang berumput. "Athrun. Segitu buruknya, ya panggilan 'san'?"
Athrun diam. Ia kini mengerti apa masalah yang sedang dibahas di sini. Ia ikut duduk di sebelah Kira. "Menurutku, sih tidak juga. Menurutku, lho. Panggilan 'kun' dan 'chan' itu lebih ke panggilan sayang atau akrab daripada 'san' yang formal. Tidak pakai embel-embel apapun juga menurutku lebih akrab daripada pakai embel-embel 'san'. Karena biasanya, 'kan kalau kita baru kenal sama orang kita pakai embel-embel itu."
"...begitu, ya?"
"Aih~ mau ganti panggilan untuk Lacus, ya? Gimana kalau darling saja?" Athrun mulai menggoda Kira lagi.
"Eeeh! Apaan, sih! Nggak mau!" bantah Kira dengan wajah memerah.
"Kalau begitu honey saja."
"Kau panggil Cagalli dengan itu baru aku mau."
.
"Jadi..."
"...ketahuan..." desah kedua gadis itu serempak saat duduk di sofa ruang keluarga.
"Huwaa! Hounto ni gomenasai, Lacus-chan! Aku tidak menyangka kalau insting Kira Yamato begitu kuat," jelas Meer dengan kepala tertunduk.
"Aaah~ salahku juga karena tidak memberitahu beberapa hal terlebih dulu padamu. Tentang kebiasaan kami," hibur Lacus tanpa melihat ke arah saudaranya itu.
"Tapi dia marah. Bagaimana ini?" tanya Meer bingung.
Plik. Untuk yang satu ini Lacus belum mendengarnya. Ia segera merangkul Meer dari belakang dan mencubit keras pipinya. "Marah? Kok kau tidak bilang padaku, Meer-chan?" balas Lacus horor.
"Huweee. Hakuh hibuhuh Hakaa-caaa~ (takut dibunuh Lacus-chan~)"
Setelah puas, akhirnya Lacus melepaskan cubitannya. Ia mendesah. "Baiklah, kalau begini tidak ada cara lain lagi!"
"Eh? Apa?" tanya Meer sambil mengelus-elus pipinya yang memerah.
"Beli coklat yang banyak dan kartu ucapan!"
"He? Mau menyogoknya dengan itu?"
"Bukan sogokan! Hanya 'alat bantu penerima maaf'! Aku akan langsung minta maaf padanya besok."
"Wah, selamat berjuang, ya," ujar Meer innocent.
Lacus langsung memberi deathglare seperti medusa. Meer membatu.
"Aku harus minta maaf!" tekad Lacus dalam hati. Padahal kalau dipikir-pikir ini, 'kan salah Meer, ya?
.
Selesai! Karya terakhir sebelum menghadapi ulangan semester nista! *nangis gaje sambil mengibarkan bendera putih.
Nah, bagaimana cerita kali ini? gajekah? OOC kah? Abalkah? Jayus kah? Sebenarnya inspirasi dari cerita kali ini adalah situasi di kelas yang diisi banyak penjilat.
Chapter kali ini benar-benar tidak ada lagu kawan-kawan! *plak.
Review, please (_"_) *bow
