WARNING:

AU & OOC


At Night in My Bedroom

Chapter IV

a Naruto Fanfiction by FernMaiden (was dinemica)

Genre: Romance/Drama

Rated: T

Disclaimer: Naruto originaly created by Masashi Kishimoto

2015


Jika akan diibaratkan dengan sesuatu, maka waktu hakikatnya mirip seperti sebuah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Ketika telah dimulai perjalanan menuju ke hilir, maka tak ada suatu pun yang dapat menghentikannya untuk mengalir. Apapun yang menghalanginya tetap akan dilewati meski harus melalui celah yang sangat kecil. Sama halnya dengan waktu yang terus melaju ke depan tanpa memberi siapapun kesempatan untuk menoleh ke belakang. Jika seseorang terlena terlalu lama dengan kenangan masa lalu, maka ia akan diseret maju oleh waktu, karena waktu tak akan pernah menghentikan lajunya.

Waktu yang melaju membuat musim gugur yang indah berganti menjadi musim dingin yang beku. Perayaan natal dan tahun baru berlalu, seiring dengan mulai mencairnya salju yang menyelimuti Konoha selama beberapa minggu terakhir. Haruno Sakura, seorang gadis berusia 21 tahun, memilih untuk menghabiskan akhir pekan di dalam kamarnya yang hangat untuk menghindari suhu di luar yang baginya masih terlalu dingin.

"Ah, sial! Salah menulis tahun lagi…" umpatan dari bibir gadis berambut merah muda itu menggema di ruang kamarnya yang lengang. Ditatapnya layar laptop di depannya dengan sedikit jengkel seraya menggerakkan jemarinya di atas keyboard untuk mengoreksi bagian yang salah. Salah menulis tahun sudah menjadi kebiasaannya di setiap minggu-minggu pertama tahun baru. Entah kenapa, dirinya selalu lambat dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sepele seperti ini.

Usai membetulkan bagian-bagian yang salah, Sakura kembali mengecek ulang sebuah dokumen yang terpampang di layar dimulai dari lembar pertama hingga akhir. Matanya dengan jeli mencari kesalahan dalam pengetikan sekecil apapun dan segera membetulkannya dengan cepat. Senyum merekah di bibirnya ketika ia yakin bahwa dokumen itu telah sempurna. Setelah memastikan dokumen tersebut telah tersimpan dengan baik, Sakura pun mematikan laptopnya dan beranjak berdiri dari kursi belajarnya untuk meregangkan otot.

Sakura menarik napas panjang untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen seraya melakukan gerakan pemanasan yang sederhana. Dapat ia rasakan perasaan nyaman ketika rasa kaku di otot-otot tubuhnya kini menghilang. Sakura baru saja akan melompat ke atas tempat tidurnya ketika ia sadar betapa berantakannya ruang tidur ini. Kertas-kertas bertebaran di lantai kamarnya yang dilapisi sebuah karpet ukuran sedang berwarna merah, bungkusan cemilan yang telah kosong tergeletak di meja belajarnya namun belum ia buang, serta laci-laci dan pintu lemari bukunya yang tidak sempat ia tutup karena terburu-buru saat mengambil kertas-kertas untuk referensi materi.

"Yah, ternyata aku memang bisa jadi sedikit gila ketika mengerjakan tugas," ujarnya seraya terkekeh pelan.

Ini tak bisa dibiarkan, pikirnya. Sakura adalah tipe seorang gadis yang tidak bisa beristirahat dengan tenang bila keadaan kamarnya masih kacau seperti ini. Dengan tenaga dan sisa-sisa semangatnya, Sakura memulai kegiatan bersih-bersihnya dimulai dari membuang sampah lalu menaruh kembali kertas-kertas yang bertebaran kembali pada tempatnya.

Kegiatannya berhenti ketika ia akan menaruh tumpukan kertas ke dalam sebuah laci di lemari bukunya. Sepasang matanya terpaku pada isi daripada laci tersebut, sebuah kotak ukuran sedang yang dilapisi oleh kertas bermotif.

Senyum miris terulas di bibirnya, "Ups, salah membuka laci."

Matanya memandang kotak itu dengan muram, seketika Sakura dapat merasakan tenggorokannya tercekat dan napasnya menjadi lebih berat. Sakura menimbang-nimbang sejenak, haruskah ia membuka kotak itu atau ia lanjutkan saja kegiatannya agar ia dapat segera beristirahat. Lebih tepatnya, Sakura terpaku pada dua pilihan, yaitu menenggelamkan dirinya ke dalam masa lalu dengan membuka kotak itu atau bergerak terus ke depan dan melupakannya.

Keputusan pun dibuatnya seraya ia meletakkan tumpukkan kertas yang semula ia genggam dan beralih untuk mengeluarkan kotak itu dari dalam laci. Sakura meletakkan kotak itu di pangkuannya dan dengan perlahan-lahan ia buka tutup kotak tersebut. Pandangan matanya segera menangkap objek berupa beberapa foto, kartu ucapan, beberapa tiket, sebuah gelang, dan sebuah buku. Seperti terhipnotis, tanpa sadar jemarinya meraih sebuah foto yang terlihat paling baru diantara yang lain. Napasnya semakin sesak.

Sakura memandang dua insan di dalam foto tersebut yang sedang berdiri dan menoleh ke arah kamera. Dilihat dari sudutnya, foto ini diambil dari sisi sebelah kiri kedua objek tersebut, sementara posisi mereka di dalam foto adalah berdiri menghadap pemandangan yang ada di depan mereka. Seorang gadis yang dapat Sakura kenali sebagai dirinya, berdiri di belakang sosok pemuda dengan tangan kanannya merangkul pemuda itu dari belakang sedangkan tangan kirinya menjulur memegang kamera yang memotret mereka. Pemuda itu lebih tinggi dari Sakura, sedang memegang sebuah kaleng minuman di depan dadanya sambil menoleh ke arah kamera dengan seulas senyum tipis. Langit malam menjadi latar dari foto tersebut.

Sakura ingat betul kapan foto ini diambil—empat bulan yang lalu. Saat itu, Sasuke—pemuda yang bersamanya di dalam foto—mengajaknya ke sebuah restoran yang terletak di rooftop sebuah gedung di pusat kota Konoha untuk makan malam. Momen itu merupakan makan malam terbaik yang pernah ia lakukan dengan Sasuke sekaligus makan malam yang paling ia tidak sukai. Kehangatan yang Sasuke berikan selama momen itu ditutup dengan sebuah kabar yang paling ditakutkan oleh Sakura.

Malam itu, Sasuke dan Sakura baru saja selesai menyantap hidangan makan malam mereka dan memutuskan untuk menikmati pemandangan kota dari rooftop gedung restoran itu. Sambil sesekali mereka bersenda gurau, Sakura menyempatkan diri untuk mengabadikan momen mereka dengan menggunakan kamera digitalnya. Dengan penuh semangat, Sakura memotret pemandangan malam di sekeliling mereka dan juga sosok Sasuke yang baginya terlihat lebih tampan malam itu.

"Kami akan segera melakukan debut internasional pada bulan Februari," ujar Sasuke tiba-tiba dengan diiringi angin malam yang dingin usai Sakura menghentikan kegiatan memotretnya. Sasuke menyesap minuman dari kemasan kaleng di tangannya lalu melanjutkan, "Persiapannya akan dimulai sebentar lagi, kurasa kita akan jarang bertemu."

Saat itu, Sakura dapat merasakan gejolak perasaan di hatinya. Entah itu kecewa, sedih, atau marah? Sakura tidak dapat menyebutkan. Namun, satu hal yang Sakura ketahui saat itu adalah apapun perasaan itu, ia tidak boleh menunjukkannya di depan kekasihnya. Dengan rasa tidak berdaya Sakura tersenyum tipis sambil memandang foto-foto yang ia ambil di album kamera digitalnya.

"Aku tahu," sahutnya pelan sebagai jawaban. "Karena itulah aku mengambil beberapa foto."

Sasuke tersenyum mengejek mendengar perkataannya lalu menjawab, "Kau berkata seolah aku akan menghilang saja. Kudengar di dunia sudah ada teknologi bernama video call, bukan begitu?"

"Aku tahu." Jawab Sakura yang masih menunduk menatap kamera digitalnya. Hening menyelimuti mereka sesaat.

"Aku akan menghubungimu lebih sering, Sakura."

Dengan sekuat tenaga Sakura berusaha untuk membalas, namun yang keluar dari tenggorokannya hanya sebuah gumaman yang lemah.

Sakura merasakan matanya yang mulai memanas ketika memandang foto dirinya dengan Sasuke. Sebuah tawa miris mengiringi air matanya yang mulai menetes.

"Apanya yang lebih sering? Si brengsek itu benar-benar…"

Hari ini adalah minggu terakhir bulan Januari dan sesuai jadwal, bulan depan grup band Sasuke akan terbang menuju benua lain untuk melakukan sebuah showcase pertanda debut internasional mereka dimulai. Dan sampai hari ini, sudah seminggu semenjak hari terakhir Sasuke menghubungi Sakura. Sebelumnya, Sasuke bahkan tidak menghubunginya untuk sekedar mengucapkan selamat natal atau pun tahun baru. Sakura sudah beberapa kali mencoba menghubungi namun ponsel Sasuke selalu dalam keadaan tidak aktif. Meski bisa saja Sakura menghubungi melalui Naruto, Sai, Kiba, atau Shikamaru, namun Sakura memilih untuk menahan diri karena ia takut masalah diantara Sasuke dengan Sakura akan mengganggu anggota lainnya.

Sakura berusaha menepis rasa sedihnya dan membereskan kotak tersebut lalu mengembalikan ke tempatnya. Setidaknya, sebentar lagi ujian akhir semester akan berlangsung sehingga ia bisa fokus dalam mempersiapkan diri dan melupakan kesedihannya.

Sakura mulai bangkit untuk kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya ketika ia dengar ketukan dari arah pintu kamarnya. Ketukan itu diikuti dengan suara seorang wanita yang familiar.

"Sakura-chan, boleh ibu masuk?"

Dengan terburu-buru, Sakura menghapus jejak-jejak air mata di pipinya seraya menjawab, "Iya ibu, masuklah!"

Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu kamar tidur Sakura dengan membawa sebuah nampan berisi kudapan dan segelas susu. "Aah, tugasmu sudah selesai, ya? Padahal Ibu membawa kudapan malam hari untuk menemanimu mengerjakan tugas. Ibu khawatir karena Sakura-chan juga tidak turun untuk makan malam."

"Baru saja selesai, bu. Maaf aku tidak makan malam, aku lupa karena terlalu serius mengerjakan tugas," jawab Sakura seraya tertawa pelan, berusaha untuk terlihat seceria mungkin.

"Sesulit apapun tugasmu, Sakura-chan tetap harus memperhatikan asupan nutrisi,"

Ibu Sakura meletakkan nampan di atas sebuah meja kecil di tengah-tengah ruangan kemudian duduk bersimpuh di atas sebuah bantal duduk. Sakura mengikuti apa yang dilakukan ibunya sehingga kini mereka duduk dengan saling berhadapan.

"Sakura-chan," ujar ibu Sakura pelan. "Bila ada masalah, Sakura-chan bisa selalu bercerita kepada ibu. Apa ada hal yang mengganggu? Apapun itu terbukalah pada ibu."

"Aa, tidak ada masalah apa-apa, bu. Aku baik-baik saja."

"Benarkah? Tapi, akhir-akhir ini Sakura-chan sering melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar,"

"Benar kok, tidak ada apa-apa. Ibu jangan khawatir," Sakura tersenyum berusaha meyakinkan ibunya. "Wah, ini kan kue kesukaanku. Aku baru sadar kalau sekarang aku merasa lapar. Aku makan yaa, bu!"

Sakura memasukkan sesendok kue strawberry ice cream cake ke dalam mulutnya dan terlihat sangat menikmatinya ketika kue itu mencair di lidahnya. Ibunya tersenyum melihat tingkah Sakura.

"Sakura-chan, apakah… Sakura-chan masih berhubungan baik dengan Sasuke?"

Seketika Sakura tersedak oleh kue yang semula sangat ia nikmati. Ibunya cepat-cepat memberikan segelas susu agar Sakura meminumnya. Sakura meminum susu itu sedikit demi sedikit dan mengontrol napasnya kembali.

"Maksud ibu?"

"Aa, tidak. Ibu hanya ingin tahu apakah Sakura-chan masih menjalin hubungan baik dengan Sasuke? Sudah lama pemuda itu tidak mampir ke sini, terutama setelah ia menjadi bintang terkenal,"

'Dia masih suka mampir kok, bu,' Sakura berujar di dalam hati. 'Hanya saja tidak lewat pintu depan.'

"Baru-baru ini, Ibu juga lihat berita terbaru tentang bandnya lho," Ibu Sakura melanjutkan. "Katanya mereka akan go international!"

Sakura tertawa pelan melihat ibunya yang bersemangat. "Ya, itu benar," sahutnya seraya menyuap sesendok kue lagi.

"Apakah kalian masih berhubungan baik?"

"Hmm, begitulah," jawab Sakura dengan mulut yang penuh. "Kenapa ibu bertanya?"

"Perihal itu… hanya saja… Sakura-chan, ingatkah ketika ada penguntit yang ditangkap di rumah kita? Ayah bilang, saat penguntit itu akan dimasukkan ke dalam mobil polisi, pria itu sempat menyebut nama Sasuke beberapa kali dengan nada yang marah."

"Menyebut namanya? Hmm, maksud ibu?"

"Ibu pikir pria itu menguntitmu karena Sakura-chan masih berhubungan baik dengan Sasuke. Ibu benar, kan?"

Sakura berusaha menyembunyikan rasa canggungnya dengan menyuap beberapa sendok kue lagi dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan ibunya.

"Semua pilihan pasti memiliki resiko, bukan begitu?" ujar Ibu Sakura dengan tatapan menerawang. "Adalah pilihanmu untuk memilih Sasuke menjadi teman baik dan itu bukanlah hal yang salah. Jadi, apapun konsekuensinya hadapilah dengan berani. Mengerti, Sakura-chan?"

Sakura tertegun memandang ibunya yang tersenyum simpul di hadapannya. Dalam hatinya Sakura menebak-nebak apakah ibunya memiliki kekuatan yang bisa membaca situasinya saat ini?

Tiba-tiba ibunya tertawa pelan seraya berkata, "Sebetulnya ibu hanya menebak, tapi melihat ekspresimu tampaknya ibu benar. Ibu tidak tahu seperti apa masalah persisnya, tapi Sakura-chan, tetaplah semangat!"

Perlahan-lahan, sesulas senyum tertoreh di bibir Sakura. "Iya, bu!" sahutnya dengan semangat.

Ketika malam semakin larut dan kebanyakan orang sudah memasuki alam mimpinya, Sakura masih terjaga di atas termpat tidurnya. Percakapan dengan ibunya barusan masih terngiang-ngiang di telinganya dan membuatnya berpikir hingga selarut ini.

'Hadapi konsekuensinya dengan berani' adalah kalimat yang membawa semangat baru di dalam diri Sakura. Jika Sakura ingin jujur, maka sebetulnya konsekuensi apapun dari hubungannya dengan Sasuke akan ia hadapi dengan dada yang membusung. Sakura adalah tipe gadis yang teguh pada pendirian dan berani berjuang atas hal yang diyakininya. Sama halnya ketika ia memutuskan untuk jatuh cinta kepada Uchiha Sasuke, Sakura telah mempertaruhkan segalanya dan kata menyerah tak pernah sekali pun terpikir olehnya. Termasuk kondisi saat ini yang menjadi resiko dari pilihannya itu, Sakura telah memahaminya sedari awal.

Jadi, kenapa aku harus merasa takut dan sedih? Pikirnya. Kami hanya berpisah untuk sementara, seperti yang sudah-sudah, aku pasti akan bisa melewatinya.

Untuk sejenak, Sakura merasakan hatinya menjadi lebih tenang. Tubuhnya menjadi lebih rileks dan rasa berat di dadanya kini berangsur menghilang. Kini, Sakura memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.

Sakura sudah hampir kehilangan kesadarannya ketika tiba-tiba ada suara mencurigakan dari beranda kamarnya. Sakura membuka matanya dengan siaga dan berusaha mendengarkan suara itu dengan seksama. Hening menyelimuti ruang kamarnya sejenak sebelum suara itu kembali terdengar dan kali ini lebih keras. Sakura segera bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju pintu kamarnya. Namun, tepat diambang pintu, Sakura tersadar akan suara itu dan satu-satunya yang memungkinkan menjadi pelakunya. Dengan perlahan, ia berbalik dan menatap ke pintu berandanya yang terbuat dari kaca dan dilapisi oleh tirai, berusaha mengira-ngira siapakah sosok di balik itu.

"Dilihat dari bayangannya, rambut model itu,,, mungkinkah?" ia berbisik dalam gelap.

Sakura mulai melangkah perlahan untuk menyalakan sebuah lampu meja di sebelah tempat tidurnya lalu beralih menuju pintu berandanya. Dengan hati-hati ia buka kunci pintu itu dan membukanya sedikit. Sebelah matanya mengintip melalui celah pintu yang terbuka.

"Siapa kau?" Tanya Sakura dengan nada penuh curiga meski ia tahu betul siapakah sosok itu.

"Permisi, nona," jawab suara itu. "Aku ingin mencuri di rumah Anda."

Sakura membuka pintu berandanya lebar-lebar seraya berkata dengan cepat, "Apa yang ingin kau curi? Hatiku?"

"Menggelikan, Sakura,"

"Kau yang mulai duluan. Ayo masuk, Sasuke," ujar Sakura seraya memutar bola matanya dan berbalik badan.

Sasuke melangkah mengikuti Sakura memasuki ruang tidurnya yang lengang lalu menutup kembali pintu beranda. Ditatapnya Sakura yang kini tengah kembali berbaring memunggungi Sasuke di atas tempat tidurnya. Sasuke mendesah pelan, "Apa kabarmu?"

"Baik."

"Hn, baguslah,"

"Bagus?" Sakura memutar tubuhnya menghadap Sasuke untuk menatapnya yang kini sedang memperhatikan pajangan-pajangan di meja belajarnya.

"Hn. Naruto bilang kau sangat sedih karena aku terlalu lama tidak menghubungimu, tapi ternyata kau baik. Baguslah."

Sakura menatap kekasihnya dengan terpana, 'Si bodoh ini…' bisiknya dalam hati. Dengan satu gerakan sigap Sakura merubah posisinya menjadi duduk lalu berkata sambil memeluk gulingnya, "Kau sendiri bagaimana kabarnya? Siang tadi aku stalking fanbasemu dan menemukan link yang katanya itu lagu baru kalian. Sepertinya bocor ya?"

Hening menyelimuti ruangan itu. Sakura melirik Sasuke yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Sakura nyengir, "Tapi aku tidak buka link itu kok, sungguh,"

"Hn. Memang ada lagu yang leaked, tapi lagu itu bukan yang menjadi title song."

"Begitu, ya… Lalu, bagaimana persiapan kalian sejauh ini?"

"Kami akan mulai shooting untuk video musik besok malam,"

"Hmm, begitu…" Sakura memandang lututnya dengan tatapan nanar.

"…Mau mendengarkan lagunya?"

Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan cepat. Tatapannya menunjukkan tanda tanya dan keraguan. Tidak biasanya Sasuke memperdengarkan lagu-lagu dari album bandnya yang belum dirilis. Jika Sakura memintanya, Sasuke dengan tegas akan menolaknya.

Sasuke melangkah mendekati Sakura sambil mengeluarkan ponsel dan earphonenya lalu duduk di hadapannya. Sasuke menyambungkan earphone dengan ponselnya lalu memasangkan sebelah earphone ke telinganya dan sebelah lagi ke telinga Sakura. Tak lama kemudian Sakura bisa mendengar nada denting piano yang menjadi awal dari lagu tersebut.

Untuk beberapa saat hingga lagu itu selesai, sepasang kekasih itu hanya duduk diam berhadapan. Sasuke tampak memejamkan matanya sementara Sakura tak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Sakura mengira-ngira di dalam hatinya apa yang ada dalam pikiran Sasuke saat ini. Sakura menghela napas tanda frustasi, sampai kapan pun dirinya tak akan pernah mampu memahami jalan pikiran pemudah yang duduk di depannya ini. Namun, seketika itu semua tidak menjadi hal yang penting lagi ketika kini Sasuke berada tepat di depannya dan begitu dekat dengannya. Semua rasa takut, sedih, khawatir, dan kecewa yang sempat menyelimutinya kini sirna oleh karena kehadirannya.

Lagu telah berhenti dan keheningan kembali menyelimuti mereka, namun baik Sasuke maupun Sakura enggan untuk merubah posisi. Sakura menundukkan pandangannya ketika ia sadari Sasuke perlahan-lahan membuka mata. Rasa terkejut menghampirinya ketika ia sadar bahwa ada sesuatu yang menyentuh dahinya. Dahi mereka yang saling bersentuhan membuat sepasang bola mata Sakura bertemu dengan milik Sasuke.

Sasuke memejamkan matanya kembali seraya berkata dengan lirih, "Maafkan aku,"

"…untuk apa?" Sakura bertanya.

"Aku sudah memutuskan. Aku akan mengakui hubungan kita sebelum kami berangkat."

Sakura terkejut dan segera menarik diri. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Bola matanya mencari-cari mata Sasuke untuk menemukan jawaban. "Sasuke… apa yang kau pikirkan?"

"Kurasa memang itulah yang terbaik,"

Sakura terdiam mematung sejenak. Di dalam pikirannya kini seperti ada sebuah pusaran yang berputar dengan cepat. Hingga akhirnya seolah ia dapat menemukan cara untuk menghentikan pusaran itu, matanya kini menajam dan ia pandang pemuda di hadapannya dengan tatapan tegas.

"Tidak, jangan lakukan itu."

Sasuke balas menatapnya dengan bingung, "Apa? Kenapa?"

Sakura tidak menjawabnya dan beralih menarik sebelah tangan Sasuke ke dalam genggamannya. Sebuah keputusan telah ia buat malam ini.

TBC


A/N:

Ampun, jangan bunuh saya aaaaa!

Hm kira-kira kenapa ya Sakura malah gak mau hubungannya diekspos? Hmmm...

Saya tiba-tiba gagal paham sama cerita saya sendiri, lol. Saya rasa saya gak akan bikin cerita ini terlalu panjang. Mohon maaf atas keterlambatan dalam mengupdate ya, soalnya kondisi di sekitar saya sekarang lagi gak kondusif banget untuk bikin FF. Ada aja yang mengganggu.

Btw, terima kasih banyak untuk yang sudah mereview chapter kemarin. Maaf belum bisa saya balesin satu-satu tapi saya seneng banget setiap kali baca review dari kalian meski hanya berisi beberapa kata, tapi itu sangat berarti ^^

Saya pengennya FF ini selesai setelah 2 chapter. Feel free untuk yang mau mengutarakan idenya untuk cerita ini, karena saya sendiri pun merasa agak lost sama plotnya. Yaiyalah, bayangin aja ini plot saya bikin 5 tahun yang lalu, masuk 6 tahun malah. Tapi yang jelas saya gak mau ini jadi panjang-panjang.

Untuk yang pernah usul drabble romantis, maaf saya gak bisa bikin FF ini jadi seperti itu, atau mungkin di FF baru kali ya tapi dengan tokoh dan setting yang sama.

Mohon maaf untuk segala kekurangan, saya tunggu komentar, kritik, dan sarannya! ^^