"Sehun lepaskan ini sakit" Luhan mencicit dibelakangnya mengatakan jika pergelangan tangannya terasa sakit oleh perbuatan suaminya tersebut.
Tetapi Sehun terus menarik Luhan keluar dari gedung terkutuk itu.
"Sehun lepaskan!" ia meninggikan sedikit suaranya mencoba menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Sehun.
"Kau tidak mendengarkan apa yang kukatakan sedari tadi?" ia menatap Sehun jengkel sementara pria tinggi yang tengah ia ajak bicara itu hanya memandangi dirinya, kesal.
"Ayo pulang" Sehun meraih kembali tangan Luhan tapi pria itu segera menepisnya dengan cepat.
"Aku bahkan belum berpamitan dengan mereka Sehun"
"Kau ingin kembali kedalam sana Luhan?" Sehun menahan tubuhnya, Luhan merotasikan kedua matanya saat itu.
"Kau terlalu kekanakan Sehun" ia melepaskan diri.
"Luhan pulang sekarang, Haowen dan Ziyu pasti sudah menunggu kita dirumah" ia kembali menyeret Luhan menuju mobil mereka dan Luhan menghentakan lengannya karena hal itu.
"Kau lebih memilih kembali masuk kesana daripada pulang kerumah bersamaku Luhan!?" Sehun berteriak tepat dihadapan wajahnya.
"Luhan ayo pulang, kau bahkan mengacuhkanku dan Yujie sejak kita berada didalam sana" Sehun melembutkan suaranya kembali tatkala melihat raut wajah terkejut Luhan.
"Kau terlalu... childish Sehun" ujarnya, Luhan berbalik dan kembali masuk kedalam gedung terkutuk tersebut.
"Sialan" Sehun mengeram kasar mengikuti langkah Luhan, tidak ia tidak akan menghentikan Luhan kembali untuk bertemu dengan siapapun yang suaminya itu mau. Ia kembali masuk kesana untuk mencari Yujie, putri kecilnya itu masih berada digendongan Yixing seingatnya tadi.
Belum sempat menemui Yixing, pria berdimple itu mengiriminya sebuah pesan.
'Sehun aku membawa Yujiemu pulang bersamaku. aku melihatmu dengan Luhan tadi tapi kalian tengah berbicara serius jadi aku sedikit segan untuk memberikan Yujie pada kalian. Tenang saja, Yujiemu yang menggemaskan pasti akan merasa nyaman diatas ranjang rumahku'
Sehun menghela nafasnya kasar, Yixing pasti melihat dirinya dan Luhan bertengkar didepan tadi.
Ia menatap sekitarnya dan menemukan Luhan tak jauh dari tempatnya berdiri dan terlihat kembali berdekatan dengan gadis itu.
Emosinya memuncak, ia begitu tak percaya Luhan lebih memilih berduaan dengan mantan kekasihnya tersebut dipesta membosankan seperti ini daripada pulang bersamanya kerumah mereka.
Dengan langkah kasar ia keluar dari dalam gedung tersebut, masuk kedalam mobilnya yang masih terparkir ditepian jalan saat mereka cekcok tadi dan segera melajukannya menuju kediaman Yixing.
Ia tak ingin membuat Yixing dan Junmyeon kerepotan karena menitipkan Yujie malam-malam begini.
an HUNHAN fanfiction
"Sehun kau yakin ingin membawa Yujie ke Seoul?" Junmyeon bertanya dengan wajah setengah mengantuknya, ia sedikit mengkhawatirkan keadaan Yujie jika Sehun membawa pergi bocah manis itu menjauh dari ibunya.
"Kenapa aku harus tak yakin hyung? aku akan tetap membawanya pulang bersamaku" jawabnya pelan, ia mengusap surai lembut milik Yujie.
"Aku tak yakin Yujie tak akan menangis jika seharian tidak bertemu dengan Luhan"
"Dia anakku hyung, dia pasti tahu perasaan appanya" Sehun menutup kaca mobilnya dan mulai melajukan mobilnya tersebut. Sementara Junmyeon mengehela nafasnya pelan melihat kelakuan Sehun yang semaunya sendiri.
"Yujie putri appa bukan?" Sehun menyetir dengan Yujie yang nampak begitu tenang berada didadanya.
Anak itu menengadah, menatap raut Sehun membuat pria itu tertawa pelan.
"Mama mu lebih memilih bermesraan dengan wanita sialan tadi daripada pulang bersama kita, jadi bisakah Yujie sekali saja berada dipihak appa hm?" tanyanya kosong, tentu saja Yujie tak akan menjawab pertanyaan itu. Bayi manis itu masih berusai 7 bulan saat ini.
Ia menyetir mobilnya hingga sampai didepan rumah mereka. Sehun segera masuk kedalam dan menemukan Haowen duduk disofa ruang depan dengan televisi menyala sebagai temannya yang masih terjaga hingga dini hari.
"Haowen kenapa belum tidur?" tanyanya mendekati putra sulungnya tersebut.
"Appa, mama dimana?" tanya Haowen menatap ayahnya, nampak sedikit bingung ketika melihat sang mama tak ikut pulang bersama. Mereka pamit pada dirinya sore tadi untuk pergi kesebuah pesta.
"Aku menunggu kalian pulang, Ziyu baru saja terlelap dan aku memindahkannya kedalam kamar" sambung anak itu memberitahu Sehun.
"Mamamu belum pulang juga?" tanyanya balik pada sang anak,
Haowen mengernyitkan dahinya semakin bingung "Bukankah tadi Appa dan Mama pergi ke pesta bersama Yujie?"
Sehun mengepalkan tangannya, ia sudah menjemput Yujie dari rumah Junmyeon dan Yixing tetapi Luhan belum sampai dirumah juga? Sebenarnya apa yang dilakukan pria itu hingga masih betah berduaan dengan gadis sialan bernama Guan Xiaotong digedung tadi.
Ia melangkahkan dirinya menuju kamar mereka sementara Haowen mengekorinya dari belakang. Sehun mengambil beberapa keperluan untuk Yujie dikamar mereka, tekadnya sudah bulat untuk membawa Yujie pergi ke Seoul bersamanya.
"Appa mau kemana?" Haowen bertanya saat melihat Sehun memasukan beberapa potong baju adiknya kedalam sebuah tas kecil berwarna biru muda. Itu tas yang biasa Luhan bawa ketika mengajak Yujie pergi jalan-jalan.
"Jaga Ziyu selama Appa ke Seoul okay?" Sehun mengusak surai Haowen, ia tak mungkin mengajak Haowen dan Ziyu ikut bersamanya ke Seoul juga. Mereka berdua sudah bersekolah dan Sehun tak akan membiarkan anak-anaknya membolos tanpa alasan yang jelas seperti ini.
"Kapan Appa kembali? kenapa tidak menunggu Mama pulang dahulu?" tanya anak itu, Haowen sudah terbiasa melihat Sehun kembali ke Seoul dijam seperti ini untuk urusan pekerjaan ayahnya tersebut. Tapi ini tidak seperti yang biasa dirinya lihat, biasanya Sehun tak akan pergi tanpa Luhan yang mengantarkan sampai didepan gerbang rumah mereka.
"Kau tidak takut tidur sendirian malam ini bukan?" tanya Sehun lagi dan hanya dibalas gelengan pelan dari sang anak.
"Bagus kalau begitu Appa pergi sekarang. Jaga Ziyu selama Appa pergi okay?"
an HUNHAN fanfiction
"Fuck Sehun kau menjauhkan Yujie dari Luhan hanya gara-gara dia lebih memilih gadis itu?"
"Tapi dia juga mengabaikan anaknya Hyung. dia menolak pulang bersamaku dan kembali kesana bahkan dia tak ada dirumah ketika aku sampai disana"
"Fuck fuck fuck fucㅡ"
"Baek kau mempunyai 4 anak kecil bonus Yujie disini sekarang jadi berhentilah mengumpat seperti itu"
"Diam Chanyeol, oh Man aku ikut kesal mengedengarnya Sehun tapi membawa Yujie jauh dari mamanya... seharusnya kau tidak melibatkan anakmu dalam masalah kalian berdua"
Sehun tengah berada dikediaman Baekhyun dan Chanyeol setelah hampir dua jam berada didalam pesawat bersama putri kecilnya itu dan sampai di Seoul dipagi hari ini tadi.
Ini pertama kalinya ia membawa Yujie kerumah Baekhyun dan Chanyeol. Pasangan itu begitu terkejut saat siang tadi Sehun dengan mata seperti orang yang tidak tidur selama seminggu datang ke apartemen milik mereka ditemani seorang bayi kecil yang menggemaskan digendongan pria tersebut.
"Lalu aku harus bagaimana? menunggu Luhan pulang seperti seorang maid begitu?" Sehun mendecih pelan ketika mengingat kejadian semalam.
"Aku sudah cukup bersabar menungguinya disana berjam-jam dengan Yujie layaknya baby sitter" sambungnya yang dibalas oleh gelak tawa dari Chanyeol dan Baekhyun yang membuat Sehun semakin merasa kesal.
"Kau memang mirip Sehun..." ujar Baekhyun membuat Chanyeol terbahak-bahak hingga berguling seraya memegangi perutnya dilantai apartemen mereka. Pria tinggi itu tak bisa menahan tawanya membayangkan bagaimana Sehun harus menjaga Yujie disebuah pesta sementara Luhan pergi berdansa dengan mantan pacarnya disana.
"Sialan kalian, seharusnya tadi aku kerumah Jongin dan Kyungsoo hyung saja jika tahu kalian akan menertawakanku begini" ujarnya bersungut-sungut.
"Siapa juga yang menyuruhmu untuk datang kemari bodoh, ah tapi aku merindukan putri cantikmu ini Hun" Chanyeol bangkit dari tempatnya berguling tadi.
"Yujie belum genap berumur setahun dan kau dengan beraninya membawa dia jauh dari Luhan. Itu sama saja kau menyiksa anakmu sendiri Hun" sambung Chanyeol menatap Yujie yang menghisap empeng miliknya didekapan Sehun
"Chayeol benar, Yujie tak akan bertahan lama jika jauh dari ibunya. Apalagi anakmu itu langsung diurus oleh Luhan sendiri bukan? Aku yakin tak lama lagi ia akan menangis kencang mencari ibunya" sambung Baekhyun
"Kuharap kau segera pulang ke Beijing dan menyelesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin"
"Sudahlah berhenti menangis, bukannya kau seorang pria yang anti dengan kata cengeng?"
"Diam kau panda, HIKSㅡ memangnya aku tak boleh menangisi orang-orang yang aku c-cintai?" Seseorang yang dipanggil panda tadi merotasikan kedua matanya, malas melihat keadaan sosok cengeng didepannya ini.
"Tapi kau sudah menangis seharian dan menghabiskan seluruh persedian tissue dirumahku"
"Aku yakin Tao tisu-tisumu ini tak lebih mahal dari kaos yang kau pakai sekarang 'kan? aku akan mengganti semua harga tisumu yang sudah kugunakan ini nanti" Luhan mengambil selembar lagi benda tipis berwarna putih itu dan mulai membersihkan hidungnya hingga suara seperti 'Pretttt' terdengar membuat Zitao memandanginya sedikit jijik.
"Bukan begitu yang kumaksud kijang! aku risih melihatmu seharian ini menangis seperti seorang gadis dirumahku. Lagipula tangismu juga tak akan didengar oleh Sehun, jika kau mencintainya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan perbaiki kesalah pahamanmu dengannya"
"Aku sudah mencobanya..." gumam Luhan pelan,
"Aku mencarinya, menanyakan pada Junmyeon dan Yixing dimana dirinya saat itu, Junmyeon bilang Sehun berniat kembali ke Seoul malam itu. Aku juga sudah menghubungi dirinya berkali-kali tapi dia mengganti nomornya... " sambungnya kembali menangis dihadapan Zitao.
"Dan menangis tak akan membuat masalahmu dengan Sehun cepat selesai bodoh!"
"LALU APA YANG HARUS KULAKUKAN LAGI?!" Luhan berteriak frustasi didalam tangisnya yang semakin kencang membuat Zitao mengehela nafas mencoba untuk bersabar.
"Jika kau tahu Sehun dan Yujie ada di Seoul sekarang kenapa kau tak menyusulnya saja?"
"Aku tak bisa jika harus naik pesawat Tao, bukankah kau sudah tahu fakta jika aku ini phobia dengan ketinggian?"
Tao mengusap punggung Luhan pelan, ia mencoba agar Luhan sedikit menghentikan tangisan tersebutnya itu. Menangis membuat Luhan tak bisa berpikir dengan jernih pikirnya jadi ia mencoba untuk sedikit menenangkan pria itu.
"Kalian sama-sama egois" ujar Zitao membuat Luhan mendongak menatap pria dengan lingkar hitam cantik dibawah matanya itu.
"Sehun yang gegabah seenaknya sendiri memutuskan untuk membawa pergi putri kecil kalian dan kau dengan segala gengsimu itu yang juga tak terbendung. Apa salahnya sekali-kali kau melawan phobiamu itu dan datang menemui mereka? itu juga akan membuktikan jika dirimu lebih mementingkan mereka daripada apa yang menurutmu penting itu" sambungnya setelah Luhan menghentikan tangisnya itu.
"Keegoisan kalianlah yang akan membuat kalian tersiksa sendiri"
an HUNHAN fanfiction
Sehun menyetir Audi rs7 miliknya menuju kediaman kedua orang tuanya ketika Yujie tak berhenti menangis saat berada divilla miliknya, atau lebih tepatnya milik mereka berdua. Sehun membeli villa itu dulu, di daerah Samseo-dang gangnam gu dulu saat pertama kali mereka menikah dan menjadikannya tempat persinggahan Sehun jika harus ke Korea jika pria itu ada urusan pekerjaan disini.
Ia melajukan mobilnya menuju distrik Jungnang, tempat dimana rumah kedua orang tuanya berada. Itu tak jauh dari utara sungai Han, ia mengingat setiap kali dirinya dan Luhan datang berkunjung menemui orang tuanya, ia akan mengajak Luhan berjalan-jalan disekitar jalanan pinggir sungai Han sekedar untuk merasakan sepoinya angin disana.
Dan sekarang ia kembali ke sini tapi bukan bersama Luhan melaikan dengan putri kecilnya saat ini.
Ia memarkirkan audi miliknya dipekarangan rumah dan melihat ibunya tengah duduk didepan teras dan begitu melihat dirinya wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik tersebut segera berdiri dengan senyum mengembang dikedua sudut bibirnya, menyambutnya hangat.
"Sehun kau kesini hanya untuk menyuruh eommamu menghentikan tangisan anakmu ini?"
"Aku tidak menyuruh eomma, eomma saja yang mempunyai insting untuk menenangkan Yujie"
"Sinting" ujar nyonya Oh menempeleng kepala putra bungsunya itu seperti menjitak seorang bocah.
"Aku mungkin tak bisa menghentikan tangisnya tadi jika Yujie tak mengantuk. Sehun demi Tuhan kenapa pemikiranmu masih seperti seorang remaja haish... kau sudah mempunyai 3 orang anak dan usia pernikahan kalian juga sudah bukan seumur jagung lagi. Aku merasa malu sendiri melihat kelakuanmu ini" sambung wanita yang sudah bisa disebut halmeoni itu.
"Eomma bisakah mengocehnya nanti saja? kau bisa membuat Yujieku terbangun jika berbicara sekeras itu disini" ucap Sehun menyuruh eommanya untuk sedikit memelakan ucapannya.
"Biar biarkan saja, biar kau tahu rasanya bagaimana sulitnya mengurus seorang bayi. Tapi demi Tuhan Sehun jika Yujie bangun eomma ingin kau segera kembali ke Beijing dan mempertemukan cucuku yang manis ini dengan Luhan karena demi Tuhan juga ia pasti merindukan ibunya setelah beberapa hari kau memisahkan mereka. Appa macam apa kau ini, tega sekali" Sehun menekuk wajahnya melihat bagaimana eommanya itu terus memarahinya tanpa henti disini, tapi biarlah tak apa ia mendengarkan celotehan eommanya daripada tangisan nyaring milik Yujie yang membuat kepalanya hampir pecah sejak kemarin.
Nyonya Oh mengehela nafasnya pelan, ia memijit pelipisnya yang berdenyut sejak Sehun datang kesini tadi.
"Sehun dengarkan eommamu ini, membawa Yujie kesini tak akan menyelesaikan masalah kalian berdua yang ada hanya kau yang menyiksa Yujie jika seperti ini terus"
"Entahlah eomma, aku sudah begitu kecewa dengan ini semua. mungkin seharusnya aku dan Luhan berpisah..." gumamnya memelankan kata diakhir yang sayangnya didengarkan oleh ibunya.
"Tarik kembali ucapanmu itu!" nyonya Oh menggeplak kepalanya kasar, ini lebih sakit daripada tempelengannya yang tadi.
"Tuan Lu akan menembak kepalamu jika kau berkata demikian, dia pasti akan menjadikan kepalamu sebagai pajangan diruang tamu rumahnya jika kau merusak kepercayaan itu" ujarnya memandang tajam Sehun.
"Kau harus mengingat bagaimana usahamu dulu untuk mendapatkan restunya Sehun. Jika kau melepaskan Luhan begitu saja karena hal sepele seperti yang tadi kau ceritakan ke eomma itu sama saja kau telah menyia-nyiakan perjuangan Luhan hingga saat ini bisa bersama dengan dirimu. Kau harus mengingat jika Luhan berani menentang Babanya itu demi semua dirimu, demi rasa cintanya"
Sehun memandang eomma tanpa sepatah kata apapun, lidahnya begitu kelu saat ini.
"Sehun jika kau mempunyai masalah dengan Luhan, apapun masalahnya entah itu besar atau kecil selesaikan dengan cara terbuka satu sama lain. Kalian type pasangan yang saling tidak ingin mengalah, jika kau masih mencintainya atau jika kau masih ingin pernikahan kalian ini baik-baik saja dan tak ingin menyakiti Haowen Ziyu maupun Yujie buang semua egomu nak. Temui Luhan, dia pasti juga sangat merindukan anaknya ini."
an HUNHAN fanfiction
Luhan terduduk disalah bangku tunggu bandara, ia akan melakukan pernerbangan menyusul Sehun ke Seoul malam ini juga. Dirinya sudah membuang jauh rasa takut pada ketinggian saat ini, rasa takutnya akan kehilangan Sehun lebih besar daripada phobianya itu.
Ia hanya bisa menatap sepatu yang tengah pakai saat ini, separuh nyawanya sudah seperti hilang entah kemana sejak beberapa hari ini, ia merindukan Sehun dan juga lebih merindukan putri kecilnya saat ini.
Memikirkan Yujie yang jauh darinya, anak itu pasti akan menangis begitu kencang dan itu membuat air matanya kembali menetes tanpa halangan apapun membayangkan betapa sakitnya Sehun ketika mendengar Yujie menangis karena mencari dirinya.
"Hei don't cry" sebuah suara bariton yang familiar terdengar ditelinganya serindu inikah ia dengan Sehun hinga ia bisa mendengar suara pria itu begitu jelas.
"Aku bilang berhenti menangis sayang, kau terlihat jelek dengan mata berair seperti itu" Luhan mengangkat kepalanya dan menemukan Sehun berdiri tepat dihadapannya sekarang, pria itu mendekat dan Luhan tak tahan untuk tidak merengkuh seseorang yang begitu ia rindukan saat ini.
"Sehun maaf, maaf jika malam itu aku membentak dan mengatakan jika kau terlalu kekanakan. maaf maaf aku juga menolak untuk pulang bersamamu saat itu karena aku hanya ingin meluruskan pada mereka tentang kita, bahwa aku yang sudah menikah denganmu. Sehun maaf..." Luhan terisak hebat dipelukannya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu Luhan. Maaf telah menjadi seegois ini, aku terlalu gegabah memutuskan sesuatu... maaf membuatmu harus berjauhan dengan Yujie. Aku benar-benar minta maaf" Sehun memeluknya erat dengan Yujie yang terapit diantara mereka berdua.
"Aku berjanji tak akan bertemu dengan gadis yang kau benci itu Sehun, aku berjanji" ucap Luhan dengan mata sembabnya yang penuh air mata menatap manik sendu milik Sehun.
Sehun menangkup wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Sebuah ciuman dalam melepaskan rindu mereka malam ini.
Fin
.
Wad00 buat apaan ini aing ya gila jam 4 nulis dan ini udah selesai aja jadi harap maklum kalo alurnya ngebut dan typo dimana-mana:')
