DISCLAIMER:
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Equation © Furasawa99
.
.
Happy Reading!
.
.
Esok harinya di kediaman Uzumaki Nagato, penghuni rumah masih bersiap untuk makan pagi bersama. Sasori sebagai sosok 'keibuan' dalam keluarga kecil itu masih menyajikan masing-masing sepiring roti dan segelas susu. Nagato yang sudah turun sejak tadi hanya menidurkan kepala beralaskan lengan yang terlipat di atas meja makan. Derap langkah seorang gadis terdengar menuruni anak tangga menuju ruang makan.
"Ohayou, Tenten-chan. Kau mau pakai selai apa?" Sasori tanpa menoleh masih menata roti di atas piring. Kemudian mengambil sebilah pisau untuk diolesi selai.
"Cokelat saja, nii-san. Arigatou." Tenten menyahut ramah. Tangannya digerakkan untuk mencepol rambutnya. Dia sudah memakai kemeja putih berbalut blazer cokelat sebagai pakaian kerjanya hari ini.
Setelah mengoleskan selai di roti Tenten, Sasori menyodorkan piring roti Tenten dan tersenyum. Lalu dialihkannya atensinya pada pemuda berambut semerah berry.
"Nii-san mau selai apa?"
"Aku tak lapar."
"Uhuk uhuk!" Tenten yang baru menggigit rotinya langsung tersedak. Matanya segera diarahkan menatap Nagato nanar. Nagato masih bergeming di posisinya.
"Nii-san kenapa? Nii-san harus makan."
Seperti biasa, kumatlah sikap khawatir Tenten. Dia memang over-protektif pada kakaknya. Bukan hanya Nagato, Sasori yang merupakan kakak kandungnya juga sering jadi objek 'mengkhawatirkan' yang selalu Tenten beri perhatian. Yah, memang istilah brother complex sangat kental dalam sebuah keluarga kecil yang hanya beranggotakan tiga bersaudara itu. Yang artinya, Sasori kini memandang Nagato seolah melempar pertanyaan yang sama lewat manik hazelnya. Membuat Nagato menyesal mengatakan hal yang menuai kekhawatiran dua adiknya.
"Ya, jangan cemas. Aku bisa makan nanti, Toka-chan." Nagato mengangkat kepalanya memandang kedua adiknya dengan senyum menenangkan. Namun juga mengenaskan karena pemuda dengan penyakit pikun akut itu salah menyebut nama.
Dan ya, tidak pernah ada pagi yang tidak diawali kambuhnya penyakit si sulung. Membuat Sasori memegang satu pundak Nagato dan berbisik ditelinganya.
"Yang benar Tenten, nii-san. T-E-N-T-EN. TEN-TEN. Bahasa Inggrisnya 10 dibaca dua kali."
Hal itu membuat Nagato mendelik tajam pada adiknya yang mendadak jadi guru pengeja nama hanya untuk meralat kesalahannya.
"Double ten? Kau melantur, Madori. Aku ingat namanya itu cuma dua suku kata."
Krek
Sasori merenggangkan jemari tangannya menahan sabar.
"Tenten, berikan aku resep obat Nagato nii-san yang kau ambil tempo hari. Biar aku yang beli ke apotek. Sekalian kuantar kau ke halte."
Tenten mengangguk cepat dan segera mengambil tas jinjingnya di samping kursi makan. Mendekati Nagato dan berpamitan sekaligus berpesan pada kakak sulungnya untuk tak lupa makan. Kemudian menyusul Sasori yang melengos duluan. Tenten maklum, meninggalkan si pengidap Alzheimer dalam diam lebih baik dibanding memakinya hanya karena kepikunannya yang mengundang emosi.
.
.
.
Di tepi jalan besar kota, seorang keturunan Yuki mengayuh sepedanya tergesa-gesa. Napasnya lumayan tak karuan akibat laju kayuh yang dipilihnya. Hanya ini pilihan yang menurut Haku yang terbaik untuk bisa cepat sampai di rumah sakit tempatnya bekerja. Dia bahkan tak tahu mau menyalahkan siapa sejak mobil yang merupakan alat transportasi kesayangannya punya masalah dengan ban. Itu semua masih lebih lazim dibanding pemandangan di sadel belakang sepedanya. Benar saja, beberapa balon helium melayang apik dengan benang balon yang terikat erat di sadel belakang. Membuatnya menjadi perhatian beberapa pengguna jalan di tengah kemacetan. Hah, ada untungnya juga dia naik kendaraan beroda dua.
'Fuu-chan, semoga kau suka apa yang aku bawa.' Haku bergumam dalam hati selagi mencoba berbelok di sebuah tikungan sepi.
Ckiiit! Boom! Duar!
Naas sebuah sedan yang nyaris menabrak si pengguna sepeda berparas menawan kini berhenti. Haku mengaduh sambil berusaha mengangkat sepedanya. Dia baru saja menabrakkan sepedanya di dinding beton trotoar, itu dilakukannya untuk meghindari hantaman sedan yang sebelumnya melaju cepat itu. Walau lecet di beberapa bagian tubuhnya ada yang berakhir dengan darah, Haku tetap sigap membenarkan posisi sepedanya dan menghela napas lega melihat balon-balon bawaannya aman. Yah, walau sempat pecah satu dari enam yang dibawanya.
Sedangkan mobil silver yang nyaris menghantamnya kini terbuka salah satu pintunya dan turun seorang perempuan.
"Maaf, aku tak sengaja. Apa kau terluka?"
Haku menoleh ke asal suara dan tertegun mendapati seorang gadis berambut semerah berry melempar tatapan khawatir padanya. Gadis yang belum mendapat jawaban itu kini membenarkan posisi kacamatanya menunggu respons.
"Dia itu gadis yang dijodohkan denganku. Namanya Uzumaki Karin."
Haku yang notabene seorang insan dengan daya ingat di atas rata-rata jelas hapal wajah gadis itu. Tanpa ragu, diulasnya senyuman hangat di bibirnya.
"Tenang saja, aku tidak apa."
.
.
.
Singkat cerita, Haku menumpang mobil gadis itu setelah menelepon salah satu staf Konoha Hospital terdekatnya untuk menjemput sepedanya yang jeruji roda depannya ringsek parah. Dan tentunya, balon-balon itu dititipkannya pada staf itu juga.
Kini Karin dan Haku memasuki gedung rumah sakit. Bisa dibilang, gadis itu memang sedang dalam perjalanan kemari tadi. Haku tersenyum manis pada beberapa staf yang menyapanya. Pemuda itu terus berjalan diekori Karin sampai akhirnya berhenti di sofa lobby. Sofa yang tak asing bagi Karin yang pernah duduk di sana sebelum berkenalan dengan Neji.
"Aku ke ruanganku dulu. Kau tunggu saja di sini. Nanti juga Neji lewat sini. Mana mungkin jam segini dia sudah datang." Haku tersenyum manis sebelum berbalik meninggalkannya.
Senyuman manisnya terlalu hangat hingga membuat Karin tak sadar jika dia berbohong. Pemilik manik onyx itu akhirnya memasuki lift dan menekan tombol menuju lantai 8. Lebih tepatnya dia sedang menuju kantor Neji yang juga tempat dimana dia meninggalkan jas dokternya. Yah, namanya juga dokter junior. Jadi masih menumpang kantor Neji sebagai basecamp-nya. Yang artinya, sudah jelas Neji sudah tiba di ruangannya.
.
.
.
"Neji-kun! Eh?!"
"Neji akan pulang lama. Mau kuantar pulang?"
"Iie"
Ting!
Lift terbuka dan dari dalam keluarlah seorang pemuda berkemeja abu-abu dengan rambut hitam panjang tergerai. Baru satu langkah yang diambilnya sejak keluar lift dan matanya masih memperhatikan ubin dengan tatapan kosong.
"Gadis itu, apakah dia benar-benar menunggu sampai malam?" Haku mengusap tengkuknya merinding. Dia tidak habis pikir kalau laki-laki seperti Neji benar-benar menjadi sosok yang mengisi pikiran gadis itu dalam waktu yang lama.
"Oy, Sadako!"
Sebuah teguran berintonasi datar membuat Haku mendongak seketika. Didapatinya seorang pemuda beriris lavender berjas dokter kini memandangnya. Entah kenapa Haku spontan menggigit bibir bawahnya sendiri. Namun itu tak berlangsung lama karena pada akhirnya pemilik manik onyx itu mengangkat satu sudut bibirnya.
"Sadako teriak Sadako? Setidaknya aku punya mata hitam yang mempesona, bukan warna ungu yang berlunturan sepertimu," balas Haku sambil tersenyum manis hingga matanya membentuk eyesmile. Sungguh kata-kata yang berterbalikan dengan ekspresi ramahnya.
Neji hanya menyeringai dan melanjutkan langkah kakinya. Pemuda itu memang berniat menuju lift untuk ke kamar pasien di lantai lain. Namun saat berada bersampingan dengan Haku yang masih bergeming, Neji bertanya.
"Apakah kau jadi datang ke seminar besok?" Haku mengerjapkan mata sejenak. Bagaimana Neji bisa tahu, itu mungkin jadi pertanyaannya di dalam hati. Sebagai jawaban, Haku mengangguk. Membuat napas Neji tersangkut tiba-tiba di tenggorokan. Tentu dia tahu di sana akan ada Tenten. Dan entah garis takdir macam apa yang membuat gadisnya bertemu dengan sahabat kepercayaannya ini. Yah, mau bagaimana lagi. Haku adalah salah satu partisipan dalam acara itu sebagai dokter spesialis jantung. Sedangkan Tenten adalah pasien yang mengidap penyakit itu sendiri. Neji memang mau menyalahkan siapa? Punya hak apa dia akan takdir?
"Jadi begitu. Baiklah, semoga semuanya lancar." Neji menepuk pundak Haku sebelum pergi.
Di dalam lift, Neji memijat pelipisnya frustasi. Entah kesempatan Haku untuk menghadiri seminar itu akan menjadi hal yang berguna atau malah petaka. Ingin rasanya Neji blak-blakan bilang kalau akan ada kekasihnya di sana. Ingin rasanya dia membuat Haku memanfaatkan kesempatan itu untuk menjadi perantara lurusnya hubungan mereka. Tapi Neji juga laki-laki. Dia punya gensi. Wajar merasa malu untuk minta tolong orang lain soal masalah cintanya. Neji menghela napas kasar. Dia hanya berharap jika pun besok Haku dan Tenten akan bertemu lagi, itu tak akan membuat pengaruh yang berarti. Lagipula, Haku itu temannya kan?
.
.
.
Satu jam kemudian, dari lift lobby yang baru terbuka, keluar seorang pemuda beriris hitam setengah berlari. Sejak meninggalkan ruangan Neji dan berlari sampai ke sini, pemuda dengan jas dokter bernametag Haku terus mengumpat resah. Dia baru diberitahu kalau balon yang dia titipkan untuk dibawa staf yang menjemput sepedanya ditinggal di sepedanya yang terparkir di lapangan parker rumah sakit. Dia tidak bisa membayangkan jika helium balonnya semakin berkurang termakan panas mentari. Dan saat dia melewati receptionist, langkahnya terhenti seketika begitu mata hitamnya membola mendapati seorang perempuan berambut merah masih duduk di sofa lobby. Sudah sejam dia meninggalkan gadis korban dustanya itu dan Haku bahkan tak tahu harus merasa kasihan, menyesal, atau apa pun itu. Entah terlalu polos atau justru bodoh gadis bernama Uzumaki Karin itu karena masih menunggu Neji. Tanpa merasa berdosa, Haku lanjut berlari meninggalkan gedung dan bergegas ke lapangan parkir. Tak mengindahkan gadis berambut merah yang menyibukkan diri dengan ponselnya sendiri.
Singkat cerita, Haku menghela napas penuh syukur karena lima balon bawaannya yang tersisa masih aman. Tapi omong-omong, dia baru ingat kalau benang balon diikat erat di sadel belakang. Sekarang dia bingung bagaimana bisa membawa balonnya masuk.
'Ck, apa tak ada gunting atau semacamnya?' Haku baru akan menjambak rambut frustasi jika saja tak memperoleh pemandangan yang menyiratkan kebahagiaannya.
Benar saja, tak jauh dari tempat sepeda Haku diparkir, seorang gadis berpakaian kantor dengan kemeja putih dan blazer cokelat sedang berjalan dari lapangan parkir menuju pintu utama.
"Hey! Menengoklah!" Haku membentuk lingkar toa dengan tangannya dan agak berjinjit berharap sosok itu menoleh.
"dr. Haku?" gumam Tenten setelah bercelingukan dan memergoki Haku berdiri di samping sebuah sepeda. Walau ragu, Tenten melangkahkah kaki ke posisi pemilik manik onyx itu.
"Boleh pinjam gunting?" tanya Haku tanpa basa-basi. Sejenak, Tenten memicingkan mata curiga. Manik hazelnya bergulir memandang pemuda cantik itu dan sepedanya yang diikatkan dengan lima buah balon dengan warna variatif secara bergantian. Setelahnya, Tenten menghela napas panjang.
"Kalau kau mau menggunakan barangku untuk menyayat nadimu untuk mengakhiri hidupmu yang super aneh itu, maka jawabannya tidak."
Toeng! Toeng!
Tanpa berkomentar, Haku lebih dulu memutus ikatan balon dari sepedanya dengan jarum tajam dari pin nametag-nya. Persetan dengan kepelitan gadis bercepol dua. Haku yang masih dengan perempatan siku-siku di kepalanya lebih memilih maklum karena memang terlihat aneh jika seorang dokter membawa sepeda dengan balon-balon terikat di sadel belakang seperti yang dilakukan Haku. Dengan wajah datar, Haku membawa lima benang balon di genggamannya dan meninggalkan tempat sepedanya diparkir. Tenten yang baru mengerti alasan Haku mencoba meminjam gunting, hanya menggeleng kepala. Entah kenapa senyuman terulas tipis di bibirnya.
"Orang aneh," ujar Tenten entah pada siapa.
Haku yang merasa langkah kakinya diikuti perempuan yang tadi, kini menghentikan langkah.
'Bodoh, di dalam kan ada Karin.' Haku seketika berbalik memandang Tenten yang malah sudah hilang dari pandangannya. Wajah pemuda itu memucat namun seketika dia agak lega karena bisa melihat lagi pemilik manik hazel yang kini berdiri di sampingnya.
Set
Dengan cepat, Haku menarik lengan Tenten dan membawanya menjauh dari pintu masuk.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Tenten sambil menarik tangannya yang malah membuat genggaman Haku semakin erat.
Tidak ada jawaban sampai akhirnya Tenten mengernyit begitu mereka sampai di basement rumah sakit. Haku masih berjalan dalam diam sampai akhirnya mereka sampai di lift dan mereka segera memasukinya.
"Sakit," rintih Tenten yang masih berusaha melepas genggaman erat di tangannya.
Sontak Haku membulatkan mata dan melepasnya. Mengusap tengkuknya kikuk dan menggumamkan permintaan maaf. Hal itu membuat Tenten mengernyit heran. Tenten semakin curiga. Untuk saat ini, ekspresi pemuda itu tak terdefinisikan. Belum dilihatnya senyuman manis yang biasanya dengan murah pemuda itu pamerkan. Sedari tadi Haku hanya bungkam sambil memandang ke arah lain.
"Kenapa pakai lift basement segala?" Tenten mengutarakan rasa penasarannya.
Haku agak tersentak. Dia menggaruk kepalanya asal sebelum memberanikan diri untuk menoleh. Dan untuk kali ini, senyum ramahnya merekah cerah.
"Ah, tidak apa. Lantai pintu masuknya tadi basah. Mungkin habis dipel. Aku cuma takut terpeleset." Dalam hati Haku tertawa hambar. Untuk hari ini, sudah dua kali dia membohongi perempuan.
Walau kecurigaannya masih sama, Tenten tetap memberi respons.
"Dokter cantik kita takut terpeleset, huh?"
"Tentu. Bahaya kan kalau dokter kaya bakat sepertiku celaka? Bagaimana nasib pasienku nanti?" Haku tertawa hambar. Namun kemudian keheningan kembali menyelimuti.
"Kupikir kantor logistik di seberang hanya libur akhir pekan." Haku mengganti topik. Membuat Tenten paham kemana arah pembicaraan ini. Wajar Haku tau soal kantor tempat Tenten bekerja, rumah sakit dan kantor logistik itu memang bertetangga.
"Ya, aku izin cuti mungkin sampai besok," jawab Tenten sekenanya.
.
.
.
"Pergi belanja?" ulang Neji dengan nada tidak senang. Dia baru meninggalkan kamar rawat inap salah satu pasien dan kini sudah berhadapan dengan seorang perempuan yang tak ingin ditemuinya.
Uzumaki Karin, perempuan berkacamata itu malah memeluk lengan Neji dan memberi tatapan penuh arti. Karin sungguh berharap Neji bisa meladeni permintaannya untuk menemaninya belanja. Tidak masuk akal bagi Neji untuk menyanggupinya.
"Aku masih mengurus banyak pasien. Aku akan minta dokter gabut yang juga temanku untuk menemanimu." Jawaban Neji membuat Karin mengernyitkan dahi tak suka. Pemilik manik lavender itu segera melepas pelukan Karin di tangannya dan mengeluarkan ponselnya. Menelepon seseorang yang selalu dia andalkan untuk membantunya.
'Jawab, Sadako! Kenapa setiap aku butuh kau hilang?!'
.
.
.
"Kenapa tak kau jawab?" Tenten yang baru keluar lift di lantai 8 bersama Haku memperhatikan Haku yang kini menatap ponselnya ragu.
Setelah lama bergulat dengan segala asumsi dalam otaknya, akhirnya Haku menggeser layar jawab.
"Halo?"
[Cepat ke lantai 3! Temani Karin ke Mall.]
"Kenapa aku?"
[Cih, kau tau aku sedang kerja.] Ya, tentu Haku tahu. Neji adalah salah satu dokter spesialis saraf paling diandalkan di rumah sakit ini. Sedikit berbeda dengan Haku yang dianggapnya cuma dokter lulusan kemarin sore. Maka itu julukan dokter gabut melekat erat pada dokter berparas bak bidadari ini.
Akhirnya, Haku menghela napas panjang. Dari sudut matanya, bisa dia lihat Tenten masih diam berdiri di sampingnya menunggu Haku selesai menelepon.
"Tapi di sini ada Tenten." Bagus. Haku langsung meneguk ludah seolah keheningan selanjutnya mampu menggambarkan ekspresi Neji saat ini. Haku pun ikut bingung. Neji sekarang tak bicara apa-apa. Deru napasnya di telepon pun tak terdengar. Masa' iya Neji berhenti bernapas? Batin Haku ngawur.
"Haku-san…" Pemilik nama menoleh pada gadis bercepol dua yang memiliki suara barusan.
"Tutup saja teleponnya. Tak apa."
Haku menurunkan ponsel yang sebelumnya ditempelkan di telinganya, menyanggupi permintaan Tenten sebelum menghela napas. Haku baru sadar kalau Tenten mengetahui siapa yang meneleponnya. Mungkin cukup jelas dari bagaimana cara Haku berdialog. Dengan demikian Haku beranggapan mungkin Neji sudah pernah membicarakan ini dengan Tenten. Haku jadi merasa miris kalau ingat lagi posisi seperti apa yang pemilik manik hazel itu pijaki.
"Dia pernah cerita?" tanya Haku lirih.
"Bukan cuma diceritakan, aku juga lihat ada perempuan itu di lobby."
DEG
Air muka suram terpampang jelas di wajah Haku. Dokter muda itu langsung berandai-andai memiliki organ tubuh sekokoh baja seperti kagune ghoul yang ada di anime kesukaannya. Ingin rasanya menggali ubin dengan kagune itu untuk melarikan diri. Haku dibuat malu oleh kegagalannya sendiri.
FLASHBACK – TENTEN's POV
Aku berjalan di belakang pemuda berjas dokter yang sepertinya mulai tensi. Aku hanya bisa menahan tawa saat mengingat ekspresi melasnya waktu meminjam gunting tapi tak kuberi. Kini kakiku berderap di tangga menuju pintu masuk. Berjalan cepat untuk menyusulnya dan menyamakan posisiku dengan tempatnya berjalan. Namun langkahku terlalu cepat sampai-sampai aku bablas menerobos pintu masuk mendahuluinya yang kusadari berhenti dan berbalik.
Setelah menghentikan langkahku, mata cokelatku membola begitu sosok perempuan dengan cir\ri yang familiar sedang berdiri di meja receptionist. Aku ingat receptionist bernametag Yugito itu adalah receptionist yang kudatangi juga kemarin. Yugito terlihat susah payah meminta Karin –perempuan dengan ciri familiar itu- agar tak memaksa mengganggu jam kerja dokter yang dicarinya.
Neji. Aku tahu Neji lah yang sedang dicari Karin sekarang. Aku melangkah mundur dan melihat Haku celingukan cemas dan berjalan mendekatinya. Dengan tatapan polos aku mengerjapkan mata seolah bertanya apa yang sedang dilakukannya dengan wajahnya yang pucat pasi pertanda panik. Tanpa aba-aba dia menarikku dengan menggenggam erat tanganku.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanyaku sambil menarik tanganku yang malah membuat genggamannya semakin erat. Walau tak kudapatkan jawaban dari lisannya, diam-diam, aku mengangkat satu sudut bibirku paham.
Jadi begitu. Jadi begini caranya mengalihkan perhatianku? Jadi inikah pilihan yang dia ambil untuk menjaga perasaanku? Ya, tentu aku paham yang dilakukan pemuda berparas bak bidadari itu tidak lebih dari sekedar memastikan agar aku tak melihatnya. Agar aku tak melihat perempuan itu.
Kau begitu naïf, dokter muda. Padahal kau tidak harus melakukan ini. Repot-repot menjaga perasaan gadis yang entah sejak kapan mulai berjarak dari kekasihnya.
FLASHBACK END – AUTHOR's POV
.
.
.
Tuk!
Tenten meletakkan gelas minumannya sambil menghela napas kasar. Membuat dokter gabut yang duduk di sampingnya agak berjengit. Kini, Haku dan Tenten berada di kantin rumah sakit. Jika diingat lagi, tempat ini juga yang pernah jadi pelarian Haku untuk mengalihkan perhatian Tenten dari Neji yang kala itu ada bersama Karin. Atmosfir kecanggungan masih betah-betahnya menyelimuti mereka berdua. Sesekali bunyi lentingan sendok yang digunakan Haku untuk mengaduk-aduk jusnya menjadi sumber bunyi di antara mereka.
"Jadi, untuk apa balon-balon itu?" Tenten bertopang dagu tanpa memandang lawan bicaranya. Jari telunjuknya sempat teracung pada lima buah balon yang benangnya diikat di kaki meja.
"Untuk Fuu," jawab Haku sekenanya. Sampai akhirnya dia membulatkan matanya dan meninju meja.
"Ah iya! Kenapa aku jadi membawanya ke sini?"
Tenten mendelik sekilas begitu Haku berdiri dan bergegas melepas ikatan simpul benang balon-balon itu. Walau masih memberi tatapan malas, satu sudut bibir Tenten agak terangkat untuk pemuda berambut hitam itu.
"Ugh, dokter yang manis. Jadi kau mau segera meninggalkanku menuju pasien kesayanganmu itu, huh?" ujar Tenten dengan nada mengejek.
Lagi-lagi perempatan siku-siku muncul di kepala pemilik manik onyx itu.
"Kalau kau memang cuti, lebih baik ikut saja. Aku cuma takut kalau kau pulang nanti bunuh diri setelah apa yang sudah kau lihat membuatmu stres."
Awalnya Haku mencoba balas mengejek. Namun seketika dia yang merasa bicara keterlaluan, langsung berbalik dan melihat gadis bercepol dua yang kini berdiri di hadapannya mengacungkan kepalan tangan kanannya hendak meninjunya. Namun wajah menunduk gadis itu semakin dalam tundukkannya membuatnya hanya bisa menurunkan kepalan tangannya lemas. Dia tidak jadi meninju Haku.
'Aku tidak berhak marah padanya,' gumam Tenten dalam hati.
Grep
Tenten mendongak dengan manik hazel membola membalas tatapan manik onyx di hadapannya. Tenten tidak tahu kenapa tangan kiri lelaki itu menggenggam tangan kanannya. Tenten juga tidak tahu kenapa genggaman tangan Haku kali ini terasa berbeda. Genggaman Haku yang kali ini terasa… hangat.
"Ayo, Fuu pasti merindukan dokternya yang mempesona ini," tutur Haku pede sambil menarik tangan Tenten membuatnya ikut melangkah menuju tujuannya. Dengan tangan kanan Haku yang menggenggam benang balon pastinya.
.
.
.
"Aku ini gadis yang sudah mengalami masa pubertas, masa' diberi balon?"
Alis Haku berkedut kesal menerima tanggapan pasien 'kesayangannya'. Benar juga, jelaslah Fuu tidak sama dengan Inari, bocah yang dulu dirawat Haku. Tenten hanya tergelak puas melihat pemuda berparas cantik itu memperlihatkan mimik suramnya. Tenten awalnya juga berpikir kalau pasien yang akan didatanginya ini adalah seorang bocah. Jika tau begini, pasti Tenten sudah memperingatkan Haku supaya tak usah memberikan balon.
"Setidaknya bilang terimakasih, Fuu! Separuh jiwaku melayang saat tahu satu dari enam balon yang kubawa pecah karena kecelakaan sepeda tadi." Haku mengeluh ala drama sekaligus menasihati Fuu yang dikenalnya memang terlalu santai dan sering lupa tutur kata yang tepat ditujukan pada orang tua. Kemudian, Haku melipat lengan jas putihnya dan mempersiapkan suntikan rutin sepuluh hari sekali.
Gadis bersurai aquamarine itu memutar bola mata malas. Matanya hanya memandang tak minat ke arah suntikan yang masih dipersiapkan Haku. Sampai saatnya dia mengalihkan pandangan pada gadis bercepol dua yang duduk anteng di sofa kamar, seringaian terpatri di bibir Fuu.
"Onee-san, apakah dokter muda ini suamimu? Kawaii! Aku baru tahu kalau laki-laki cantik itu bisa disukai perempuan." Fuu mengatupkan kedua tangannya seolah gemas.
Haku mendadak keki. Tangannya yang masih memegang suntikan terasa gatal. Seolah ingin menusuk-nusuk pasiennya dengan jarum suntik sesegera mungkin. Tenten tetap bergeming. Walau wajahnya agak memerah, Tenten berpaling dan tertawa hambar.
"Hubungan kami tak seperti yang kau pikirkan, Fuu-san." Tenten mengklarifikasi sambil mengayunkan tangannya.
Hal itu sukses membuat Fuu tertawa puas. Membuat Haku semakin tidak nyaman dengan pola tingkah pasiennya itu.
"Ya, ya. Aku percaya, nee-san. Mana mungkin aku percaya ada perempuan yang menyukai laki-laki macam Sadako itu. Sebelas-dua belas dengan dokter saraf si temannya."
Krek!
"Fuu-chan," Aura mengerikan muncul di sekitar pemuda berjas dokter itu. Fuu dan Tenten sama-sama meneguk ludah melihat ekspresi suram si pemilik manik onyx. Sejak Haku merenggangkan jemarinya pegal, kini seringaian terpatri di bibirnya bersamaan dengan tangan kanannya yang mengangkat jarum suntik ke udara.
"Kau jangan banyak bicara, aku cuma takut salah suntik."
.
.
.
Neji berdiri dengan bersadarkan salah satu pilar lobby. Di genggamannya, sebuah ponsel sedang mencoba menghubungi seseorang dengan nama kontak Hinata. Neji berpikir lebih baik meminta Hinata datang untuk menjemput Karin atau mengajak gadis itu pergi kemana pun secepat mungkin. Karin sendiri masih diam berdiri di sampingnya menunggu Neji selesai bertelepon. Berhubung dia belum diberitahu bahwa akan dijemput Hinata untuk diusir dengan cara lembut, maka Karin masih dengan tingkah kalem menunggu di samping pemuda beriris lavender itu.
'Jawab, Hinata! Aku harus segera ke tempat Tenten,' mohon Neji dalam hati. Pada dasarnya, dia agak syok saat tahu Tenten ada bersama Haku. Di saat dirinya masih berada dengan Karin, Neji mencoba cari cara lain untuk membuat Karin pergi.
Saking fokusnya mata pucat itu pada ponselnya, Neji tak sadar bahwa seseorang melangkah mendekati tempat mereka berdiri. Sampai akhirnya orang yang ditelepon Neji menjawab panggilan dan terdengar kalimat 'halo', Neji baru akan menempelkan ponselnya pada telinganya sebelum ponsel itu terjatuh akibat Neji yang refleks bergedik kaget saat seseorang menepuk satu pundaknya dari samping.
"Oy-"
Tuk!
"E-eh, maaf," imbuh orang itu begitu ponsel Neji tergeletak di atas lantai. Orang itu lebih dulu berjongkok untuk mengambil ponsel Neji.
Neji yang belum sempat melihat wajah laki-laki yang menepuk pundaknya, agak mengernyit memperhatikan rambut maroon sosok yang mulai berdiri itu.
"Sasori-san?" gumam Neji yang berupaya menyembunyikan raut keterkejutan.
"Yo! Aku ke sini mau jemput Tenten. Dia ke sini untuk menemuimu kan?" Sasori tersenyum ramah. Namun saat matanya bergulir memandang perempuan berkacamata yang berdiri di belakang Neji, keningnya agak mengernyit.
"Karin? Sedang apa di sini?"
Checkmate.
TBC
A/N:
Kenapa Sasori kenal Karin? Di keluarga besar Uzumaki, semuanya saling kenal. Jadi Uzumaki Nagato, Uzumaki Naruto, Uzumaki Karin, tiga sepupu inti itu sudah pasti dikenal. Tinggal terserah Karinnya apakah dia kenal Sasori dan Tenten yang notabene adik angkat Nagato.
Terimakasih banyak Iiepah, Josephine La Rose99, Kyulennychan, shikadaii, Hyota Sasara, Rahasia, & Dobe Amaa-chan untuk reviewnya. Makasih readers yang dengan sengaja maupun tak sengaja baca ff ini XD
POJOK RESPONS:
shikadaii: Yo! Ini udah lanjut. Kenapa Neji harus waspada? Apa aroma HakuTennya makin jadi di sini? Apa jarak antara Neji dan Tenten makin jauh? Apa Neji terlihat tak member perlawanan apa pun pada Hizashi? Apa menurutmu NejiTen dalam bahaya? Will HakuTen be happening? *menatap polos pembaca*
Rahasia: Gak bisa geleng-geleng baca reviewmu. Kamu sering menargetkan minimal review per chapter dua kali ya? Chapter lalu sampe ada 3, wkwk. Masa sih review pertama gak nongol? Mestinya kamu tunggu aja. Atau kalau beneran gak nongol, kamu gak harus review lagi. Ya gimana yak? Soalnya aku juga pernah dan ikut ngerasain capeknya ngetik review yang sama dua kali. Padahal aku kalo review minimal separagraf :"3 Etdah atashi dipanggil Fuwa-san XD Iya aku tau kok ada saatnya orang greget atau justru ninggalin ff yang rumit. Makanya aku nulis sebisaku, ada baca ya syukur. Nah iya! Memang dialog Neji yang itu cem sinetron woahaha(?) Aku gak tau pilihan kata-kata yang tepat waktu itu yampun jadi ilpil X3 Dan di review ketiga, isinya permintaan maafmu. Pfft, ngapain minta maaf? Aku juga sering review model begitu. Lain kali review panjang lagi aja!
Untuk reviewer yang namanya biru, balasannya di PM ya!
