NEXT~!


Entah apa maksudnya, hati Blaze gementar hebat. Bulu kuduknya berdiri tegak. Serempak itu juga bau busuk itu kembali. Dia terasa seperti ada sesuatu di situ, namun dia benar-benar tidak pasti. Lalu dia menoleh ke kiri.

Di celah-celah pohon karet, matanya menangkap sesosok tubuh manusia yang berdiri tegak tidak bergerak. Dia terheran-heran lalu langkahnya tanpa disedari cuba mendekati sosok itu. Semakin hampir, hingga langkahnya terhenti.

Dia melopong, tidak bisa bergerak.

"Kak!"

Panggilan itu meyebabkan tubuh Blaze hilang kawalan. Dia jatuh terduduk, pantatnya menghantam akar-akar di atas tanah. Dia semakin bingung.

"Kak Api kenapa?" tanya Air polos. Dia membantu Blaze bangun.

Blaze tercengang apabila menyadari siapa yang ada di sisinya. Dia laju menoleh semula berkali-kali ke arah tadi, namun sosok tubuh yang menggerunkan tadi sudah hilang.

Langsung dia megusap mukanya yang kini sejuk seperti batu. Apa yang dilihatnya tadi? Manusia? Hewan? Setan?

"Kakak..kenapa?" soal Air lagi.

"Gak ada apa-apa," Blaze menggeleng. Mahu diceritakan, dia khawatir Air tidak akan percaya.

"Kamu pula ngapain di sini? Bikin kakak kaget.." Blaze mengurut dadanya.

"Ibu cari kakak. Ayo pulang, ini udah senja dan hari mau hujan."

Blaze terus pergi dengan pantas, sepantas debaran di dadanya. Anehnya,apabila dia keluar dari kebuh karet itu, cuaca cukup panas. Kembali cerah.

Batinnya terus menyoal apa yang berlaku tadi. Dia tidak bisa menghapuskan bayangan orang tua tidak berwajah di matanya. Wajah yang hancur dimakan ulat.

Dia terasa mual.

.

.

.

.

"Api ke mana tadi?" tanya ibunya khawatir sebaik mendapati mereka tiba di hadapan pintu terengah-engah.

Hatinya gusar melihat wajah Blaze yang pucat.

Rasa seram sejuk masih berbekas. Malah bulu kuduknya masih menegak. Hendak diceritakan kepada sesiapa, dia bukanlah anak yang cengeng. Mungkin tadi dia berkhayal. Terlalu banyak yang difikirkan.

"Kebun itu sudah lama tidak ada yang merawat. Gak usah pergi lagi, bahaya.." nasehat ibunya.

Blaze mengangguk. Rasa debar ditambah lelahnya masih tak kunjung hilang.

Terasa tempat itu berubah total, tidak sama lagi. Padahal dahulu di masa kecilnya, dia banyak menghabiskan masa di situ. Malah tadi dia ingin terus lanjut berjalan sehingga sampai di kawasan rawa. Sesekali dia pernah mengikut ayahnya atau bermain bersama teman-temannya dahulu.

"Tutup pintunya, nak. Udah senja," tegur ibunya melihat dia terus melamun sambil berdiri di situ.

Air pula sudah lama kembali ke kamar.

.

.

.

.

"Mana mungkin kakak mahu ke rumah kakek berpakaian kayak gitu?" komentar Air melihat Blaze yang menyarungkan sehelai kaos tipis ke tubuhnya.

Mereka akan melawat ke rumah Tok Aba, orang tua yang digelar kakek oleh mereka.

"Kak Api gak bawa baju Melayu?" tanya Air.

Dengan berat hati, Blaze menggeleng. Masa dia punya? Dia sudah lama meninggalkan segala tradisi itu. Kehidupan barunya tidak memerlukan baju Melayu, sarung pelikat, peci, sejadah dan segala apa yang pernah ada. Kehidupannya kini mengajarnya tentang pistol, bom, pisau, cambuk dan segala macam kesakitan.

"Kakak pakai aja bajuku."

Air mengeluarkan sepasang baju Melayu berwarna hijau terang dari lemari bajunya. Bajunya masih baharu. Dihulurkannya kepada Blaze.

"Ini bagus banget...mahu dipakai semasa lebaran ya?" soal Blaze kagum. Jika dipakai sekalipun, ukurannya masih pas untuk tubuhnya biarpun Air terlihat lebih tinggi namun sedikit kurus berbanding dirinya.

"Gak apa-apa. Kakak pakai aja dulu. Ayo, cepat!"

"Kita udah mahu pergi?"

"Iyaaa...!" Air berkacak pinggang.

"Mau naik apa?"

"Mobilmu," mata Air melirik ke arah luar. Dia tersenyum, penuh harap.

Blaze mengeluh.

.

.

.

.

Blaze dan Air tiba di rumah tua itu. Kehadiran keduanya yang menaiki Audi hitam memang tampak menarik perhatian.

Orang tua itu terpinga-pinga muncul di ambang pintu. Dia terkejut melihat dua orang pemuda yang turun dari mobil. Seorang dikenalnya, manakala seorang lagi?

Blaze pula terasa gugup.

"I-Ini..?" soal Tok Aba heran.

"Ini Kak Api, kek." jawab Air tersenyum lebar.

"Api?" Tok Aba terlonjak kaget.

Lantas dia memeluk pemuda itu. Dia merangkul tubuh pemuda itu sambil menatap wajah dan matanya dalam-dalam.

"Kamu balik juga ya.." tangis Tok Aba.

Blaze tersenyum tipis. Walaupun dia terasa tersindir dengan ungkapan itu, dia terpaksa menghadapinya dengan sabar.

"Berapa lama kamu pulang?"

"Dua atau tiga hari aja. Kakek sihat?"

Blaze berusaha berlagak tenang. Padahal di hati, saking gugupnya, ingin saja dia berlari pulang ke Kuala Lumpur ketika ini.

"Alhamdulillah. Nanti kita bicara lagi, selepas sholat Isyak kita ketemu semula. Sekarang atok ingin ke masjid."

"Bisa kami ikut?" tanya Air senag.

"Boleh..."

Blaze meneguk ludah.

.

.

.

.

Berada di masjid, buat dia merasa resah. Terasa sekujur tubuhnya yang kotor tidak pantas berada di tempat suci itu. Malah, kakinya gementaran sebaik menginjak pintu masuk.

"Wudhu dulu, kak."

Blaze hanya mengikuti langkah Air, tanpa disedarinya. Keran air diputar, megalirkan air ledeng yang deras.

Dia sempat merenung wajahnya di cermin yang retak dua. Dia seperti melihat wajahnya yang asing. Wajah yang penuh pura-pura. Namun dia tidak punya pilihan. Dialah manusia dua nama, dua jiwa.

Masa terus berlalu. Ternyata sepanjang tempoh antara waktu Maghrib dan waktu Isyak terasa amat panjang bagi Blaze. Setiap kali bacaan ayat dan tazkirah oleh Pak Imam bagaikan api kecil yang membakar tubuhnya. Dia berasa panas dan gementar. Untunglah penyiksaan itu berakhir juga.

Air dan Blaze yang menanti di tangga masjid hanya memerhati jamaah yang beransur pergi.

"Nanti kita ketemu di rumahku," pesan Tok Aba.

"Eh? Kakek gak mahu pulang bareng? Naik mobil dong sama kami.." pinta Air.

"Gak apa-apa, kakek punya sepeda."

Mendengar jawaban itu, kedua pemuda itu berpamitan sebelum menaiki mobil.

Namun, mobil yang dinaiki mereka berselisih dengan sebuah mobil Volkswagen.

.

.

.

.

Sebaik sahaja mobil itu memasuki perkarangan masjid yang tidak begitu luas, turun dua orang pria paruh baya.

Tok Aba yang baru ingin menaiki sepedanya tercengang.

"Kalian?" tanya Tok Aba.

"Ya iyalah, siapa lagi?" ujar Adu Du.

"Kami ingin mengajak seluruh penduduk desa ke pesta kami nanti," ujar Probe tersenyum lebar.

"Pesta? Pesta apaan?" tanya Tok Aba heran.

"Pesta besar-besaran!" seru Probe.

"Buat apa? Siapa yang ingin menikah?" soal Tok Aba.

"Bukan pesta pernikahan."

"Terus?"

"Pesta buat keponakanku, si Boboibot."

Tok Aba makin dibuat bingung.

"Dia bakal menggantikan kepala desa yang lama. Istiadat pelantikannya lagi beberapa hari.."

Adu Du menghulurkan kado jemputan, "Sampaikan sama penduduk yang lain..Biar ramai yang hadir."

Tok Aba terdiam, setelahnya menegur apabila mereka mahu pergi.

"Adu Du."

Yang di panggil menoleh.

"Kamu udah pikir habis-habis soal keputusanmu?"

"Keputusan apa?"

"Soal pelantikan itu."

"Apa maksudmu?!" suara Adu Du meninggi.

"Soal itu aku sama sekali tidak berniat untuk membantah. Tetapi biarlah dilakukan dengan cara yang benar. Kumohon kalian jauhilah segala macam acara yang khurafat itu...ia salah."

Perempatan muncul di pelipis Adu Du.

"Apa kau bilang? Khurafat? Heh, orang desa. Keturunanmu. Tidak habis-habis iri.." balas Adu Du sambil menggeleng. Probe di sisinya hanya diam.

Tak lama, mereka langsung menaiki mobil meninggalkan perkarangan masjid.

Tok Aba hanya mampu menghela napas panjang.

.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, Blaze dan Air tiba di rumah Tok Aba.

Mereka menunggu seketika sehingga orang tua itu datang dengan sepedanya.

"Naiklah," sila Tok Aba.

Di tangannya, ada beberapa bungkus nasi hasil sedekah para jamaah.

"Kalian sudah makan?"

Kedua-duanya menggeleng.

"Kalian pasti lapar, sudahlah...makan dahulu. Terutama kamu, Api. Pasti capek sejak pulang ke sini."

Blaze mengangguk, namun dia segan-segan.

Sebelum sempat Blaze menyuap nasi ke mulutnya, Air menyikut lengannya.

"Baca doa dulu," tegurnya.

Muka Blaze memerah.

Kedua tangannya diangkat, walaupun dia berdoa dalam ingat-tidak-ingat.

Disela-sela makan, Tok Aba mengangkat bicara.

"Apa besok kamu masih ada di sini, Api?"

Sejujurnya, dia mahu meninggalkan mereka secepat mungkin. Namun apabila terpandang adiknya, dia berasa tidak tega pula.

"Kakak belum pulang besok, kan? Gak apa-apa kan?"

Blaze hanya mengangguk.

"Besok malam Kakek harap kalian bisa ke rumahku," Tok Aba bersuara.

"Ada apa?" tanya Blaze setelah menelan kunyahan.

"Datang aja ke mari, pasti ramai kok." ujar Tok Aba misterius. Dia tersenyum.

Air dan Blaze saling memandang sesama sendiri, lalu membalas tatapan orang tua itu.

.

.

.

.

Mercedes hitam itu baru ingin membelok masuk ke jalan yang memasuki Desa Rintis.

Kalau bukan karena suhu enjin mobilnya naik mendadak, tidaklah dia terpaksa berhenti agak lama di pinggir jalan itu.

Mujurlah tadi ada montir yang bisa dihubungi. Sempat dia membenarkan kipas radiator yang gagal berfungsi. Gara-gara itu, dia terlewat sampai ke kampung.

Jam yang melingkar ditangannya dipandang sekilas. Matanya berat. Namun tempat tujunya belum terlihat. Sesekali dia menghela napas berat.

Dia terus memaksa dirinya mengemudi di tengah larut malam begini. Rumah itu hanya tinggal beberapa meter sahaja lagi. Dari jauh kedua matanya menatap lama pintu rumah yang bisa dilihat dari jarak jauh.

Sedikit lagi..

Anehnya kendaraannya bergerak terlampau perlahan. Dia coba memecut sekuat hati namun mobilnya terus bergerak perlahan. Semakin perlahan.

Pandangannya diluruskan ke arah jalan. Gelap namun lengang tanpa kenderaan di hadapan. Dia satu-satunya di situ.

Seketika mobilnya terasa bergegar. Kemudiannya terasa berat.

"Urgghh..rosak apa lagi?!" Halilintar menggerutu kesal, membanting stir dengan penuh frustasi. Topinya dilepas.

Bunyi klakson mobilnya memecah kesunyian larut malam di jalan itu.

Napasnya sesak memikirkan macam-macam kemungkinan. Mahu berhenti sebentar untuk keluar memeriksa, dia tidak berani. Dia tidak ada pilihan. Dia samaada terbebani atau dihalangi sesuatu di jalan. Apa-apapun setelah tiba nanti baru dia bisa memeriksa kondisi mobilnya.

Mobilnya dipaksa 'merangkak' hingga sampai ke halaman rumah.

Sesampainya di situ, enjin mobil dimatikan. Lalu di saat dia membetulkan kaca spion, dia melopong. Sontak matanya membulat kaget. Raut wajahnya berubah sejuk.

Dia berlari keluar menutup pintu mobil dengan kencang.

Sesudah membuka kunci rumah, dia langsung menerpa masuk. Nafasnya yang tercungap sempat diatur.

Dia berharap penumpang yang begitu ramai menumpang mobilnya tadi sudah pergi jauh. Hanya perasaannya atau apa, matanya sempat menangkap bahawa semua penumpang tadi tidak berkepala.

.

.

.

.

Keesokannya..

"GYAHAHAHA..udah kubilang cerita itu benar!" Iwan tertawa puas, setelah melihat wajah Halilintar yang pucat bercerita.

Iwan juga pernah mengalaminya. Keretanya juga pernah 'ditumpang'.

Halilintar mendelik tajam. Mereka lagi berbual di atas tangga.

"Jam berapa kamu sampai?" tanya Tok Aba pada Halilintar setelah keluar dari ruang tamu.

"Jam satu dini hari."

Halilintar awalnya tidak berniat untuk masuk. Dia sekedar ingin berjumpa lelaki tua itu. Dia sudah muncul di hadapan rumah Tok Aba seawal pagi.

Setelah tidak bisa melelapkan mata semalaman, dia memutus untuk ke situ secepat mungkin.

"Udah sarapan?"

"Belum."

Masih berpakaian yang sama sejak semalam, dia mengetatkan jaketnya, dingin.

Tok Aba khawatir melihat Halilintar yang sepertinya sakit. Wajahnya pucat. Dihulurnya secangkir teh panas untuk pemuda itu.

"Makasih." Halilintar tersenyum tipis.

"Um..Kakek," Halilintar ingin bertanya, namun tertahan.

Tok Aba mengernyit.

"...tidak jadi ah."

Iwan terkikik.

"Dia ternampak setan malam ta-aduh!" Iwan meringis apabila Halilintar menyepak kakinya.

Namun jauh di sudut hati, Halilintar mengharap Tok Aba mepercayai kata-katanya.

"Setan?" tanya Tok Aba, lalu Halilintar menceritakannya. Untung dia tidak ditertawakan.

"Kakek juga pernah melihatnya semasa pulang dari masjid. Udah beberapa kali.."

Mulut Halilintar sedikit terbuka, namun ditutup semula. Dia terdiam sesaat.

"Kakek rasa ini ada hubungannya sama pelantikan itu?" tanya Halilintar perlahan.

Tok Aba tidak menjawab.

"Sudahlah, gak usah dipikirkan. Sebaiknya kalian membantuku untuk majelis nanti malam," Tok Aba mengalih pembicaraan.

.

.

.

.

Blaze, Air dan ibunya tiba di rumah Tok Aba. Blaze menghentikan mobilnya berhampiran sebatang pohon. Beberapa buah kereta diparkir di halaman rumah menyebabkan halaman itu tampak sesak dari biasanya. Tidak jauh di sana terlihat Tok Aba berbual-bual sebaik menyambut kedatangan Pak Imam dengan Pak Siak.

Blaze menghitung, tidak ramai dari sepuluh orang termasuk dirinya. Dia mula resah. Dia berharap dia tidak dipinta melakukan apa-apa, bisa sakit perutnya nanti jika disuruh mengetuai bacaan doa selamat.

Malam itu, mereka ingin mengadakan majelis tahlil serta bacaan doa selamat untuk kesejahteraan desa mereka sempena ulang tahun penubuhannya ratusan tahun dahulu.

Tok Aba mempersilahkan mereka masuk. Di sisi pintu, Iwan tersenyum ke arah Air dan ibunya.

Namun apabila terlihat seorang lagi pemuda menyusul di punggung mereka, dia terheran-heran lalu bertanya,"Siapa dia tante?"

"Oh..dia Api. Kakaknya Air," balas Ibu sambil tersenyum.

"He? Air punya kakak? Kenapa tak pernah dibilang?" Pemuda yang hampir seumuran dengan Air menepuk pundak Air perlahan.

"Kak Api baru pulang, kok. Selama ini dia kerja dan tinggal di KL," ucap Air.

"Oh..." angguk Iwan.

"Hali mana? Sepatutnya kan dia sudah pulang semalam?" tanya Ibu pada Tok Aba.

"Ada, kok. Rasanya tadi dia di dapur, sebentar ya..kupanggilkan."

.

.

.

.

"Halilintar?"

Yang dipanggil menoleh. Dia lagi sibuk mencuci gelas-gelas yang berdebu untuk digunakan semasa acara makan-makan sebentar lagi.

"Oh, kakek. Ada cangkir-cangkir yang retak, apa kuharus-"

"Ikut sama kakek ke depan. Di situ ada banyak lagi 'cangkir'," pintas Tok Aba dengan nada bercanda.

"-Hah?"

"Ada seseorang yang ingin kakek kenalkan."

"Siapa? Kalau kakek mau cari cewek lagi untukku aku gak mahu terima.."

"Bukan, kali ini bukan cewek. Laki-laki.."

"Siapa?" kali ini dia benar-benar tertanya.

"Api."

"Api?" Halilintar mengernyit. Dia tidak perlu merasa heran atau aneh mendengar nama seperti itu karena nama seperti itu memang sudah lama diguna pakai keturunannya sejak zaman-berzaman lagi. Termasuk dirinya.

Lalu dia mengeringkan jarinya yang basah, masih sedikit berbusa sabun di ujung kaosnya.

"Ikut saja sama kakek ke sana...Bisa kamu kenal-kenal. Dia baru saja pulang."

Dengan berat hati, dia mengikut saja lelaki tua itu berjumpa orang yang dimaksudkan.

.

.

.

.

Tidak berapa lama kemudian, muncul Tok Aba bersama seorang pemuda bertampang dingin dari pintu dapur.

Pemuda itu bertubuh biasa-biasa namun tegap. Semakin menghampiri, rupanya dia lebih tinggi dari yang disangkakan.

Dia mengenakan kaos lengan panjang yang ditarik ke siku, matanya 'tenggelam' di balik topi yang depannya sedikit hampir menghala ke bawah. Kesan bercak basah tampak di mana-mana pada bahagian kaosnya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana selututnya.

Halilintar mungkin tampak comot malam ini namun Blaze yakin pemuda tampan itu lebih berpelajaran dari dirinya..

Halilintar menatap orang-orang yang ada di depannya satu persatu. Mula-mula direnung wajah Tok Aba, lalu beralih menatap Air.

Air diam tidak berkutik. Dia menunduk. Sejujurnya dia takut dipandang Halilintar sebegitu. Membuat hatinya bergelojak.

Kemudian mata ruby Halilintar tertumpu pada pemuda beriris oranye.

Air terus melarikan diri ke arah orang ramai.

Semoga sahaja kakaknya tidak apa-apa.

Adik sialan, ditinggalkan kakaknya sendirian berhadapan orang ini.

Blaze cuba tersenyum apabila dihadapkan dengan lelaki itu. Tangannya disimpul ke belakang untuk menghilangkan kejanggalan apabila lelaki itu terus menatapnya remeh.

"Hali, ini anak pertama tante. Sepupumu juga," ujar Ibu tersenyum bangga.

Tanpa memandang Blaze, Halilintar tersenyum tipis lalu tangannya dihulurkan.

Dengan gementar, dia menerima uluran tangan lelaki itu sambil tersenyum kekok. Dia menjabat tangan Halilintar yang dingin, keras dan kaku itu penuh janggal.

"Kerja di mana sekarang?" tanya Halilintar acuh-tidak-acuh.

"KL," jawab Blaze pendek.

"KL? Di daerah mana? Aku cuma di Bangi. Nanti bisa kita keluar minum-minum.." ucap Halilintar sinis.

Blaze meneguk ludah.

"Gombak, tapi tinggal di Bukit Tinggi."

"Oh, Gombak. Itu sudah di luar KL," balas Halilintar sambil menyeringai.

Kini Blaze tahu, Halilintar sebenarnya tidak tinggal di kampung, sama sepertinya. Dari tatapan maut Halilintar yang disadarinya, dia tahu lelaki itu tidak meyukainya.

Tok Aba terbatuk-batuk kecil untuk memecahkan kejanggalan di antara mereka.

"Yah begitu dong...kan bagus kalau lebih ramai anak muda di kampung. Lebih meriah," ucap Tok Aba.

Blaze berpaling dari tatapan tajam Halilintar. Dia menghela nafas lega. Dia juga tidak suka kalau banyak sekali disoal sama lelaki itu. Bahkan dia juga tidak pernah ingin sama sekali untuk minum-minum sama Halilintar. Orang seperti itu dirasakan tidak sesuai menjadi temannya, begitu juga dirasakan di hati Halilintar. Namun di depan Tok Aba dia terpaksa ikut sahaja kehendak lelaki itu.

Kemudian Tok Aba dan ibunya kelihatan serius berbincang sesuatu.

Blaze semakin bingung. Mungkinkah ada sesuatu hal teramat besar yang tidak diketahuinya..?

TBC


Yiiieeeee~

Hali muncul dan dia dikerjain! xD *tebar bunga*

Stay tune for more chapters in this absurd story^^