"Who you are is not what you did... You're still an innocent." -Taylor Swift-

.

.

.

My First Dramione Fic

Disclaimer: Harry Potter dan kroni-kroninya belong to JK Rowling.

Warning: OOC -_-, Cimicimi klasik, Love Story yang basi, Alur tijel, Typo(s).

If you don't like my words, don't read. If you don't like my appearance, don't give a review. It's as simple as that.

Hope you enjoy~

P.S: Kalo lupa ceritanya, mending baca dari Chapter 1 lagi.

.

.

.

Chapter 4: Innocent.

Musang-Pirang-Bodoh-Menyebalkan!

Memangnya Hermione tidak punya kerjaan lain apa?! Dan dia pikir Hermione telah merencanakan semua ini? Membuat-apa dia bilang?-permainan? Mentertawakan Malfoy dari belakang? Dasar Pirang Tak Punya Otak! Sudah susah payah Hermione menahan gengsinya untuk memulai pertemanan lagi dengan si Kecoak-Kecil-Tidak-Berguna itu. Dan sekarang Musang itu dengan seenak jidatnya menunjuk-nunjuk Hermione, menuduhnya melakukan hal-hal yang tidak ia lakukan! Memangnya Hermione menikmati semua ini? Tentu saja tidak! Merlin! Dia hanya mencoba bersikap baik pada mantan Pelahap Maut itu! Mengapa Malfoy membuatnya begitu sulit?

Tanpa terasa Hermione sudah mencapai pintu berlambang Hogwarts yang mengarah ke Asrama Ketua Murid saat ini. Jadi ia pun menggumamkan kata kuncinya. Pintu mengayun terbuka dan segera saja Hermione masuk lalu menutup pintu di belakangnya. Malfoy tidak terlihat berada di ruang rekreasi, jadi Hermione langsung masuk ke kamar miliknya.

Kamar Hermione sendiri terdiri dari satu single bed dengan kelambu merah (persis seperti yang berada di kamarnya di asrama Gryffindor), sebuah meja belajar, lemari penyimpan pakaian, dan sebuah pintu yang mengarah ke kamar mandi.

Hermione menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan mendongak ke arah jam dinding. Saat ini masih pukul sepuluh. Masih ada dua jam lagi sebelum ia bisa berbicara dengan Harry. Jadi Hermione bangun, meraih tas sekolahnya dan membawanya ke arah meja belajar. Kemudian ia mengeluarkan segulung perkamen dan mulai mengerjakan esai sepanjang 12 inci yang diminta Professor Savage (Cara Paling Tepat Untuk Menghadapi Inferi) untuk dikumpulkan minggu depan.

Saat ini pukul dua belas kurang sepuluh menit. Esai Inferi untuk Savage sudah diselesaikan Hermione sejak pukul sebelas lewat lima belas tadi. Tiga puluh menit sisanya ia habiskan untuk mendengarkan Radio Penyihir 77,7 FM (channel radio favorit Hermione yang memutar musik baik lagu-lagu di dunia sihir maupun muggle) di radio-pocket yang Ron berikan padanya sehari sebelum keberangkatannya ke Hogwarts.

Hal ini telah menjadi kebiasaan baru Hermione: mendengarkan lagu di malam hari sebelum tidur. Ron lah yang menyarankan hal ini setelah ia tahu bahwa Hermione sering mengalami mimpi buruk setelah Perang Besar. Setiap malam selama di rumah Harry di Grimmauld Place, Hermione selalu ditemani musik yang menenangkan. Sedangkan Ron hanya berbaring di sampingnya, sesekali berkomentar tentang lagu Muggle yang menurutnya aneh (On a magic carpet ride? Aku tidak tahu kalau Permadani Terbang masih diizinkan. Kukira Dad sudah mencabut izinnya bertahun-tahun yang lalu.), sampai akhirnya Hermione tertidur lelap.

Siapa sangka kebiasaan selama sebulan itu berlanjut terus sampai saat ini. Yah, harus Hermione akui mendengarkan musik membuat Hermione lebih tenang. Untungnya, radio-pocket yang Ron berikan memang radio khusus penyihir, sehingga sihir perlindungan Hogwarts pun tidak mempengaruhi penerimaan sinyalnya.

Hermione menoleh lagi ke arah jam dinding.

11.55

Hermione pun beranjak dari tempat tidurnya, menjentikkan tongkat untuk mematikan radio-pocket miliknya, kemudian berjalan ke luar sambil memakai jubah tidurnya (dibaliknya ia hanya memakai celana pendek dan kaos biasa).

Perapian di ruang rekreasi belum sepenuhnya padam. Api masih setia membakar kayu-kayu yang tersisa. Hermione berjalan ke arah sofa merah marun nya setelah menutup pintu kamar. Ia mengerling ke arah pintu kamar Malfoy yang berada di seberang kamarnya, kemudian merapal Muffliato ke arah kamar itu. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Pikir Hermione.

Hermione duduk di sofa, menyilangkan kaki, dan menunggu.

Tiga menit lagi...

Hermione menguap bosan.

Dua menit sebelum tengah malam...

Hermione memainkan perkamen di atas meja pendek di depannya dengan tongkat sihirnya.

Satu menit...

Hermione mengambil bantal di sofa hijau milik Malfoy dan membuatnya menjadi sandaran di sofanya sendiri.

Jam besar Hogwarts yang berdentang menandakan tengah malam mengagetkan Hermione yang langsung terduduk tegak. Hermione menoleh ke arah perapian dan belum menemukan tanda-tanda anak berkacamata disana. Ia pun bangkit dan berjalan ke arah rak buku di belakangnya. Mungkin membaca buku akan membuat waktunya tidak terasa, pikir Hermione. Tetapi sebelum Hermione menyentuh buku pertama yang ia lihat (Macam-Macam Transfigurasi Hewan Dan Penggunaannya), sebuah suara yang sangat ia kenal memanggilnya.

"Hermione!"

"Harry!"

Hermione langsung berlari ke arah perapian dan berlutut di depannya. Kepala Harry terlihat sangat aneh di dalam sana.

"How's you're doing?"

"Great. Sekarang, ceritakan apa maksudmu hal yang penting."

"Okay. Ada Ron kah disana?"

"Tidak, ia sudah tidur, aku rasa. Jadi, ada apa?"

Hermione menarik napas panjang sebelum ia menceritakan semuanya. Semuanya. Dari mulai kejadian di Hogwart's Express sampai 'obrolan kecil' nya dengan Malfoy setelah rapat Prefek tadi sore.

"Jadi benar, Malfoy adalah partner Ketua Muridmu?"

Hermione mengangguk.

"Yeah, surat Ginny baru saja sampai tiga puluh menit yang lalu. Dia juga menceritakan insiden Howler itu."

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

"Aku tak tahu Hermione... Aku tak yakin bisa membantumu tentang hal ini. Sejak tadi pagi memang Ron selalu bersikap aneh. Dia tak bicara kecuali kutanya. Mengurung diri di kamar seharian. Aku kira ia sedang sakit atau apa. Ternyata hal ini penyebabnya. Jujur saja, aku kaget Ron tidak langsung menceritakan hal ini kepadaku setelah ia tahu Malfoy adalah Ketua Murid Putra tahun ini.." jawab Harry sambil berpikir.

"Aku rasa... Ia tak menceritakan hal itu kepadamu karena... Ia tahu hal itu tidak akan berguna. Kurasa, ia menghindari pertentangan yang lain denganmu. Soal Malfoy. Maksudku, setelah pertengkaran kalian bulan lalu..." suaraku menghilang mengingat percek-cokan Harry dan Ron bulan lalu. Dan lagi tentang hal yang sama: Malfoy.

"Hermione, aku rasa kau yang harus memberitahu Ron secara langsung. Kalian harus bicara. Pihak ketiga tidak akan berpengaruh banyak."

"Ya, Harry. Aku sudah mempertimbangkan hal itu.. Hanya saja... Aku takut... Ron tidak dapat menerimanya..."

"Hermione, kau harus percaya padaku. Ron pasti akan mendengarkanmu. Dia mencintaimu kan?"

Hermione hanya menatap kosong pada kepala Harry di perapian.

Ron mencintainya kan?

"Hermione, kau harus percaya padaku. Kau harus percaya pada Ron."

Hermione menatap ragu pada Harry. Hening yang lama sebelum akhirnya Hermione pun mengangguk.

"Okay, sekarang aku akan membangunkan Ron. Kau tunggu disitu. Jangan kemana-mana."

Lalu kepala Harry menghilang. Digantikan api yang kembali berkobar untuk menghangatkan ruang rekreasi itu.

Hermione menunggu lagi. Ia gelisah memikirkan apa yang akan dikatakannya kepada Ron. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh, kepala Ron sudah muncul di perapian yang berkobar itu.

"Hermione! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja? Apa Malfoy menyakitimu? Si brengsek itu! Akan ku hajar dia-"

"Ron!"

Ron berhenti berbicara.

"Aku baik-baik saja."

Hermione bisa melihat Ron menghembuskan napasnya lega.

"Untunglah kau tak apa-apa. Kalau Malfoy menyakitimu, aku akan langsung berapparate ke sana dan menghajar dia dengan duel ala muggle. Aku tak peduli dengan-"

"Ron!"

"I'm sorry Hermione. Are you okay?"

Hermione tersenyum.

"I'm okay Ron. Perfectly fine. Dan kau tidak bisa berapparate seenaknya di lingkungan Hogwarts lalu mengajak Ketua Murid Putra berduel ala muggle, Ronald. Mungkin Professor McGonagall bukan lagi gurumu, tapi aku cukup yakin ia tetap akan memberimu detensi atas perlakuanmu seperti itu." kemudian Hermione terkikik mendengar leluconnya sendiri.

"Tidak lucu Hermione. Aku tidak ingin lagi merasakan detensi dengan McGonagall."

Hermione terkekeh sebentar, kemudian ia kembali serius.

"Ron, aku ingin membicarakan sesuatu. Tapi aku harus meminta sesuatu dulu darimu."

"Apa itu?"

"Aku ingin kau percaya padaku Ron."

Hermione menatap Ron dengan sungguh-sungguh. Ia harus menunggu delapan detik penuh sampai akhirnya Ron menjawab,

"Hermione, aku percaya padamu. Selalu."

Hermione tersenyum.

"Okay, kalau begitu.." Hermione mengambil napas panjang lagi. "Aku ingin kau meminta maaf pada Malfoy."

Perkataan Hermione disambut hening seketika.

"Ookaay... Dimana lucunya?"

"Ron, aku tidak bercanda."

"Kau serius?"

"Aku serius."

"Apa dia telah meng-imperio-mu?"

"Ron!"

"Okay okay, Hermione."

Ron terdiam selama beberapa saat, kemudian berkata, "Atas dasar apa kau menyuruhku meminta maaf pada Ferret itu? Aku tidak merasa punya salah apapun padanya."

Hermione menghembuskan napas perlahan.

"Ronald, kau harus minta maaf padanya atas Howler yang kau kirimkan tadi pagi."

Ron hanya menatap Hermione dengan pandangan dingin.

"Tidak. Dia pantas mendapatkan peringatan itu. Aku tidak akan meminta maaf padanya untuk hal yang benar."

"Ron, aku mohon. Bagaimana bisa aku bekerjasama dan tinggal satu asrama dengan orang yang diancam oleh pacarku sendiri?"

Mendengar Ron tidak menjawab, Hermione pun melanjutkan.

"Ron, please, ini satu-satunya cara agar aku bisa bekerjasama dengan Malfoy. Ini satu-satunya cara agar misi lama Dumbledore bisa terlaksana. Aku mohon Ron, bantu aku berdamai dengan Malfoy, agar penyatuan asrama bisa terwujud. Aku mohon Ron, percayalah padaku."

Ron masih menatap Hermione dengan pandangan aneh.

"Aku percaya padamu Hermione, Malfoy lah yang aku tak percaya."

"Ron, aku bersumpah, bahwa Malfoy belum melemparkan kutukan padaku sekalipun sejak kemarin. Padahal ia punya kesempatan puluhan kali hari ini. Dan aku bersumpah, bahwa aku tidak akan membiarkannya menyakiti diriku selama di Hogwarts. Demi Merlin, kemarin malam aku bahkan berjabat tangan dengannya untuk memulai pertemanan kami dari awal! Dan pagi-paginya Howler darimu merusak semuanya! Ron, please. Trust. Me."

"Hermione..."

"Please. Ron. Aku bahkan bisa menjaga diriku dari sekelompok Pelahap Maut. Aku adalah The-Brightest-Witch-In-Our-Age! Kenapa aku harus takut dengan Malfoy? Dia lah yang seharusnya takut padaku!"

"Yeah aku setuju dengamu. Dia yang seharusnya takut. Tapi aku tetap tidak suka dia terlalu sering berada dalam jarak lima meter darimu, Hermione."

"Bagaimanapun dia adalah partnerku saat ini, Ron. Dan aku harus bekerjasama dengannya. Dan hal pertama yang harus kau lakukan untukku adalah meminta maaf padanya. Kecuali jika kau tega melihat pacarmu menanggung tugas-tugas Ketua Murid sendirian, ditemani partner yang tidak bisa berbicara dengannya tanpa pandangan sinis dan kata-kata yang penuh dengan sarkasme."

"Begitukah cara dia bicara denganmu? Musang sialan, akan kucuci mulut tajamnya kalau aku bertemu-"

"Ronald Weasley! Dengarkan aku!"

"Okay, Hermione."

Hermione mengambil napas lagi.

"Ron, semuanya baik-baik saja sebelum Howler-mu datang. Sungguh. Aku dan Malfoy bahkan mempertimbangkan untuk saling menggunakan nama depan."

Ekspresi Ron berubah menjadi kelam mendengar pernyataan Hermione.

"Jadi begitu?" Ron bertanya dengan dingin.

"Kalian sudah berteman, huh?" Hermione bahkan bisa mendengar sarkasme di setiap kata yang Ron ucapkan.

"Kau tidak lupa tentang luka yang dulu ada di tangan kirimu kan?"

Refleks, Hermione menyentuh lengan bawah kirinya. Ukiran itu sudah hilang sepenuhnya. Tapi Hermione masih bisa merasakan tajamnya pisau Bellatrix yang menyayat-nyayat kulitnya disana, mengukir kata favorit Malfoy di tahun kedua: mudblood.

"Atau waktu aku muntah siput di tahun kedua? Oooh.. Tentu saja tidak. Malfoy sekarang sudah menjadi temanmu kan? Dan kau memaafkannya begitu saja? Kau ternyata tidak sepintar yang aku kira Hermione."

Hermione menggelengkan kepalanya berulang kali mendengar perkataan Ron.

"Ron... Bukan seperti itu.. Aku hanya-"

"Hanya apa? Hanya apa?! Jelaskan kenapa aku harus meminta maaf kepadanya Hermione!"

Sekarang Ron sudah mulai berteriak kepadanya. Hermione sangat tidak suka saat Ron marah.

"Aku hanya ingin berterimakasih pada Narcissa!" Hermione bangkit berdiri dan balas berteriak.

"Dan aku lelah hidup dengan ketakutan akan musuh, Ron! Aku tak ingin lagi mempunyai musuh. Aku ingin hidup tenang! Aku lelah dengan perang kutukan! Aku hanya ingin fokus dengan pelajaranku disini! Aku. Ingin. Hidup. Dengan. Tenang!"

Lalu seperti kehabisan tenaga untuk berteriak, Hermione merosot ke lantai, kembali menghadap perapian.

"Aku muak... Dengan perang dan segalanya."

Sekarang mata Hermione sudah mulai berkaca-kaca.

"Please Ron, bantu aku. Bantu aku menjalani hidup dengan tenang disini. Aku ingin melupakan masa lalu yang kelam itu. Aku ingin melupakan musuh-musuhku. Please."

Ron hanya terdiam setelah amukan Hermione. Ia terlihat berpikir keras. Ron memandang Hermione dengan simpatik.

"Please."

Setelah beberapa saat, Ron pun berkata, "Aku minta maaf Hermione. I trust you. Dan aku akan minta maaf pada Malfoy."

Hermione terkesiap mendengar ucapan Ron.

"Thank you, Ron." air mata Hermione tidak bisa dibendung lagi. Tetapi senyum telah menghiasi wajahnya saat ini.

"Ah, sayang sekali aku tidak memelukmu dari sini. Apa aku harus ke sana sekalian untuk memelukmu?"

Hermione terkekeh sambil menghapus air matanya.

"Jangan Ron. Nanti McGonagall akan tahu kalau ada penyusup di Hogwarts."

"Ah ya.. Itu benar."

Hermione sekarang tertawa. Ron benar-benar ajaib. Hanya dia lah satu-satunya yang bisa membuat Hermione menangis sekaligus membuatnya tertawa.

"I love you, Ron."

Ron terkejut dengan ucapan kekasihnya yang tiba-tiba itu. Ini yang keduakalinya Ron mendengar kalimat sakral itu dari bibir Hermione.

"Ah Merlin, sekarang aku malah ingin menciummu. Haruskah aku benar-benar ke sana?"

Hermione tertawa lagi mendengarnya.

"I love you too, Hermione."

"I know."

-oOo-

Keesokan paginya, Hermione bangun dengan perasaan yang sedikit lega. Ia bertekad membereskan kesalahpahaman-dengan-Malfoy hari ini juga.

Jam dinding di kamar Hermione menunjukkan pukul 7.30. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Empat puluh menit kemudian Hermione sudah siap untuk menjalani hari keduanya di Hogwarts. Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran favoritnya: Transfigurasi. Ia tidak ingin terlambat menghadiri kelas yang akan diajar oleh Professor baru, yaitu Professor Gamp, yang menggantikan Professor McGonagall (sekarang menjabat sebagai Kepala Sekolah).

Hermione segera meraih tasnya yang sudah berisi buku-buku pelajarannya hari ini, lalu segera keluar dari kamarnya.

Hermione sedang menutup pintu kamarnya ketika mendengar pintu lain terbuka. Ia menoleh dan melihat Malfoy baru saja keluar dari kamar satu lagi yang letaknya berhadapan dengan kamar Hermione.

Malfoy mendongak dan mendapati Hermione sedang menatapnya. Ekspresinya langsung berubah kesal dan dingin. Hermione hanya bisa terpaku di tempatnya, tak berani mengucapkan apapun sampai Ketua Murid Putra itu meninggalkan Asrama Ketua Murid.

Hermione baru menghembuskan napas setelah pintu asramanya tertutup. Tanpa ia sadari ia menahan napasnya sejak Malfoy keluar dari kamar.

Oh, sangat Gryffindor Hermione. Kau baru saja menghilangkan kesempatan pertamamu, pikirnya.

Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya, dan segera keluar dari Asrama Ketua Murid. Memutuskan kalau ia belum siap menghadapi Malfoy saat ini, ia mengambil koridor-koridor jalan pintas menuju Aula Besar. Ia berhasil sampai dalam waktu lima menit tanpa bertemu Malfoy atau siapapun (kecuali Peeves yang untungnya sedang sibuk mencungkil pintu kantor Mr. Filch).

Ia segera melangkah masuk dan langsung berjalan menuju ke arah meja Gryffindor tanpa sekalipun menoleh ke meja Slytherin.

"Hermione, bagaimana?"

Ginny langsung bertanya ketika Hermione duduk di sampingnya.

Tahu benar apa yang dimaksud Ginny, Hermione pun menjawab, "Aku sudah bicara dengannya."

Ginny menunjukkan ekspresi bingung.

"Dengan Malfoy?"

Hermione menghela napas.

"Ya.. Dan tidak. Maksudku aku sudah bicara pada Ron."

"Dan?"

"Dan dia akan minta maaf pada Malfoy."

Hermione bisa melihat ekpresi terkejut pada perempuan yang sudah ia anggap adik itu.

"Benarkah?"

"Ya."

"Kau serius?"

"Ya."

"Ron akan minta maaf?"

"Ya."

"Pada Malfoy?"

"Demi Merlin Ginny, berapa kali aku harus bilang 'Ya'?"

"Oke oke, aku hanya memastikan." kata Ginny sambil beralih ke menu sarapannya kembali.

Hermione pun mengambil roti panggang dan selai kacang kesukaannya, dan mulai mengoleskannya ke roti, dan kemudian melahapnya.

"Kau, Hermione Granger, benar-benar membuat kakakku, Ronald Weasley, berubah. Demi Merlin Hermione, kalau bukan kau sendiri yang mengatakannya, aku tak akan percaya bahwa Ron akan meminta maaf pada Malfoy. Kau seharusnya mendengar dia berbicara tentang Malfoy selama liburan di The Burrow. 'Malfoy itu benar-benar bermuka dua dan bla bla bla..'. Aku mengira pertunangan mereka akan diumumkan setiap saat."

Ginny menyerocos panjang lebar di samping Hermione, sedangkan Hermione hanya mengangkat bahu dan mengangguk sebagai tanda bahwa ia mendengarkan perkataan Ginny.

"Hai Ginny, Hermione,"

Sebuah suara baru menyapa Ginny dari seberang meja. Ternyata Neville telah memutuskan untuk bergabung bersama mereka.

"Hai Neville," mereka menjawab bersamaan.

Setelah itu mereka sibuk dengan sarapan masing-masing. Baru setelah potongan roti ketiga Hermione, Neville mengeluarkan suara melamun, bertanya entah pada siapa.

"Apa Harry dan Ron benar-benar akan mengikuti pelatihan auror?"

Hermione mendongak ke arah Neville, kemudian berpandang-pandangan dengan Ginny. Hermione menolehkan kepalanya kembali pada Neville.

"Ya. Neville. Ya. Mereka mulai minggu depan." jawab Hermione dengan agak bingung.

"Oh."

Hanya itu komentar Neville setelah mendengar jawaban Hermione. Hermione kembali bertatapan dengan Ginny.

"Err, Neville, ada apa?" tanya Ginny dengan ragu-ragu.

Neville menghela napas.

"Sejujurnya... Aku ingin sekali ikut pelatihan Auror yang ditawarkan Mr. Shacklebolt."

"Wow, itu ide bagus Neville! Lalu, apa masalahnya?" tanya Hermione.

Neville menghela napas lagi.

"Nenek. Dia ingin aku menyelesaikan sekolahku. Katanya aku harus belajar lebih banyak lagi sebelum bisa bergabung bersama Harry."

Hermione melirik ke arah Ginny lagi.

"Itu konyol! Kau bisa langsung ikut Pelatihan tanpa menyelesaikan NEWT terlebih dahulu! Kingsley sendiri yang menawarkannya kan? Kau seharusnya mengambil kesempatan ini Neville!" kali ini Ginny yang angkat bicara.

"Itu benar Neville, kalau kau memang ingin ikut Pelatihan Auror, kurasa sekarang belum terlambat untuk menulis surat pada Kingsley. Bilang pada McGonagall kalau kau tidak bisa melanjutkan sekolah di Hogwarts. Aku yakin beliau pasti mengerti. Kirim surat untuk nenekmu, bilang padanya kalau kau ingin mengikuti jejak orangtuamu dan berjuang bersama Harry, aku yakin dia akan bangga mempunyai cucu sepertimu." tambah Hermione.

"Ya, dan aku akan menulis surat juga pada nenekmu untuk mengingatkan bahwa cucunya sendiri lah yang telah membunuh ular kesayangan Voldemort." timpal Ginny.

Neville terlihat berpikir keras saat kedua gadis itu memberondongnya dengan kalimat-kalimat dukungan. Akhirnya setelah beberapa saat ia membuka mulutnya.

"Kalian yakin?"

"Tentu saja Neville! Aku tidak bisa membayangkan karir lain untuk seseorang yang sudah membunuh Nagini." jawab Ginny.

Hermione mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat, mengiyakan segala perkataan Ginny.

Akhirnya Neville berkata dengan mantap,

"Baiklah, aku akan menulis surat pada Mr. Shacklebolt dan nenek. Dan aku... Akan memberitahu McGonagall secepatnya."

"Bagus sekali!" seru Hermione.

"Yeah! Bagus sekali Neville! Aku akan memberitahu Harry secepatnya. Kau bisa tinggal di Grimmauld Place kalau kau mau. Bersama Harry dan Ron. Mereka pasti sangat senang menerimamu." Ginny tersenyum pada Neville.

"Trims Ginny," sekarang Neville nyengir kepada mereka berdua.

"Hei, kalau begitu aku kembali ke asrama dulu untuk mengambil amplop dan perkamen tambahan. Daah!" kemudian ia pun beranjak dari kursinya dan mulai berlari ke luar Aula Besar.

Seamus Finnigan yang melihat teman seasramanya pergi, berteriak,

"Neville! Kau mau kemana?! Kelas mulai lima belas menit lagi!"

.

Hermione berjalan menyusuri koridor-koridor Hogwarts. Ia baru saja keluar dari asrama Gryffindor, setelah mengerjakan PR Transfigurasi Professor Gamp yang cukup rumit. Kenapa ia mengerjakan PR di asrama lamanya dan bukan di asrama Ketua Murid atau di perpustakaan? Alasannya sederhana. Pertama, ia kangen suasana ruang rekreasi Gryffindor. Kedua, ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengerjakannya di ruang rekreasi Ketua Murid. Siapa tahu Malfoy tiba-tiba masuk dan mengatainya munafik berdarah- yah, pokoknya begitu. Hermione memutuskan tidak akan membuat kontak dengan Malfoy sampai surat permohonan maaf dari Ron tiba di tangan partnernya itu. Perkiraan Hermione, surat itu akan sampai pada saat sekitar jam makan siang, yang berarti sepuluh menit dari sekarang. Hermione mempercepat langkahnya menuju Aula Besar.

Harum makanan menerpa indera penciuman Hermione sesampainya ia di Aula Besar. Sambil menyangga tas di bahu dan beberapa buku di kedua tangan, ia melangkah ke meja Gryffindor, kali ini sambil melirik-lirik ke arah meja Slytherin, mencari-cari pemuda berambut pirang yang merupakan partnernya. Juga melihat tanda-tanda dimana burung hantu mungil yang dikenalnya mungkin berada.

Hermione sampai di meja Gryffindor yang belum penuh karena bel istirahat memang belum berbunyi. Ia mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan meja Slytherin untuk memudahkannya mencari sosok Malfoy. Ah, itu dia. Hermione melihat pemuda itu di ujung meja Slytherin dan untungnya si Pirang duduk menghadap ke meja Gryffindor. Sekali lagi, Hermione menemukan bahwa Malfoy duduk sendirian. Hanya ditemani Daily Prophet edisi hari ini kalau dilihat dari halaman depannya. Hermione memperhatikan sekeliling meja Slytherin. Goyle berada di ujung lain meja, bersama Zabini dan seseorang yang Hermione kenali sebagai Theodore Nott. Sedangkan Pansy Parkinson sedang duduk tak jauh dari situ dengan Daphne Greengrass dan Millicent Bullstrode, membicarakan sesuatu dengan berbisik-bisik. Tapi Hermione dapat melihat bahwa Parkinson berkali-kali menoleh ke arah Malfoy berada, seperti tak mendengarkan dengan fokus atas apa yang teman-temannya gosipkan.

Mengangkat bahu, Hermione mengambil kentang goreng terdekat dan membuka catatan pelajaran Rune Kuno tadi pagi.

Di suapan ke lima nya, bel istirahat berbunyi. Satu persatu murid tingkat bawah yang baru menyelesaikan kelas memasuki Aula Besar untuk menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh para peri rumah Hogwarts.

"Hermione."

Ginny menyapa Ketua Murid Putri itu dan duduk di sampingnya. Respon yang di dapat hanya anggukan kecil karena Hermione sedang fokus membaca catatannya dan menyuapkan kentang goreng ke dalam mulutnya.

Ginny pun mengabaikan respon yang tidak ramah itu dan mulai mengambil makan siangnya sendiri.

Hermione sampai di paragraf terakhir ketika orang di sebelahnya menggoyang-goyangkan bahunya.

"Hermione."

"Hmm,"

"Hermione!"

"Apa Ginny? Aku sedang membaca!"

"Bukankah itu Pigwidgeon?"

Hermione refleks mengangkat wajahnya dari catatan Rune-nya, mencari-cari sekeliling Aula Besar. Mengikuti arah pandangan Ginny, Hermione mendapati burung hantu yang sangat dikenalnya itu berada dua meja darinya, sedang bertengger di depan pemuda yang sedang berusaha melepaskan ikatan surat dari kaki mungil burung hantu tersebut.

Hermione menatap Malfoy dalam diam, sambil menahan napas, sampai pemuda itu selesai membaca suratnya.

Malfoy mendongakkan kepalanya setelah membaca permohonan maaf dari Ron Weasley tersebut. Matanya menangkap mata Hermione yang sedang tertuju ke arahnya. Hermione melihat Malfoy mengangkat sebelah alisnya.

Hermione menarik napas lega, kemudian mencoba tersenyum ragu-ragu kepada pemuda itu.

Malfoy hanya mendengus dan kembali kepada makan siangnya. Bagaimanapun, Hermione melihat sedikit anggukan oleh pemuda itu.

Hermione menghembuskan napas lega.

"So... Kau baru saja mencegah Perang Dunia Sihir Ketiga, huh?"

Hermione menoleh ke arah Ginny yang sedang menyeringai ke arahnya.

"Oh, shut it up." balas Hermione tak bisa menahan senyummya juga.

"Hermione?"

Sebuah suara membuat Hermione menoleh ke belakang dan mendapati Demelza Robbins berdiri disana.

"Ya, ada apa Demelza?"

"Aku mendapat pesan dari Professor McGonagall. Ia bilang ia ingin menemuimu di kantornya setelah makan siang."

McGonagall ingin menemuinya?

Hermione menoleh ke arah Ginny yang sedang memandangnya ingin tahu. Ginny ikut mengerutkan kening.

"Yeah, yeah of course." jawab Hermione kembali menoleh ke arah Demelza.

"Oke. Dan umm.."

"Ada lagi?"

"Umm, ya.. Dia bilang.. Dia ingin sebotol Gillywater untuk hadiah natal...?" ucap Demelza tidak yakin.

Ah, tentu saja. Pikir Hermione sambil tersenyum.

"Okay Demelza, terimakasih." kata Hermione masih tersenyum kepada penyampai pesan itu.

Demelza hanya mengangguk dengan raut wajah yang masih bingung.

Kemudian Demelza mengambil tempat duduk di sebelah Ginny dan berbicara sesuatu tentang uji coba Quidditch. Hermione tidak memperhatikan. Pikirannya sedang sibuk berkelana. Pandangannya jatuh ke arah meja guru dan kursi kosong yang seharusnya ditempati Kepala Sekolah Hogwarts tersebut.

Untuk apa McGonagall ingin bertemu dengannya?

-oOo-

"Gillywater." ucap Hermione dengan mantap ke arah gargoyle tua yang melompat ke samping setelah Hermione mengatakan kata kuncinya.

Ia segera menaiki tangga spiral melingkar yang bergerak terus ke atas seperti eskalator di dunia Muggle. Tangga tersebut pun berhenti bergerak. Hermione melangkah ke arah sebuah pintu kayu ek dengan ketukan pintu berbentuk Gryffin, yang kemudian ia gerakkan sebanyak tiga kali.

"Masuk," sebuah suara memerintahkan dari dalam.

Hermione membuka pintu dan melangkah ke dalam ruangan berbentuk bundar itu. Kalau dahulu, saat kepemimpinan Dumbledore, ruangan ini sangat berantakan dengan peralatan perak di sana-sini, kali ini, untuk pertamakalinya dalam hidup Hermione, ia mendapati ruangan kepala sekolah senormal ruangan lain. Rak-rak buku di sudut ruangan, perapian yang padam apinya di sudut lain, meja-meja berbagai ukuran tersebar merata, menyangga bingkai-bingkai foto maupun peralatan minum teh sore hari, sebuah meja kerja yang diletakkan di tengah ruangan, sofa di sebelah rak buku yang besar sekali, memungkinkan seseorang membaca dengan nyaman. Dan semuanya sangat rapi. Tertata dengan sempurna.

"Silakan duduk Miss Granger." ucap seorang wanita tua yang sedang duduk di belakang meja kerjanya.

"Terimakasih Professor."

Hermione duduk di kursi di seberang Professor McGonagall.

"Bagaimana hari keduamu di Hogwarts? Harus kuakui aku sangat senang sekali saat mengetahui kau akan melanjutkan pendidikanmu di Hogwarts, Miss Granger. Keputusan yang sangat tepat, kubilang."

"Ya, terimakasih Professor." Hermione membalas dengan tersenyum.

"Aku juga sangat senang kau menerima lencana Ketua Murid Putri dariku Miss Granger, karena aku tidak bisa membayangkan seseorang yang lebih pantas darimu untuk mengenakan lencana itu. Tentu saja, aku mengharapkan yang terbaik dari murid terbaikku selama tujuh tahun terakhir ini, Miss Granger. Aku harap, aku bisa mengandalkanmu."

"Tentu Professor."

"Maaf aku baru bisa berbicara langsung padamu hari ini. Pembukaan kembali Hogwarts ternyata lebih sibuk dari yang kuduga, menimbulkan saran-saran dan bahkan kecaman-kecaman di lain pihak. Kuharap kau mengerti situasinya."

Hermione hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah guru favoritnya itu.

"Miss Granger,"

Professor McGonagall memperbaiki letak kacamatanya sejenak sebelum melanjutkan.

"Dua hari ini aku bertanya-tanya sendiri tentang keputusanku menjadikan dirimu dan Mr. Malfoy sebagai Ketua Murid tahun ini."

Hermione terkejut atas pernyataan McGonagall. Apa ia menyesal telah menjadikan Hermione sebagai Ketua Murid?

"Jangan salah mengartikannya Miss Granger. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku menjadikan kalian berdua sebagai Ketua Murid. Bagaimanapun, kalian memang mempunyai nilai-nilai tertinggi dibandingkan standar murid lain."

Hermione terdiam. Ya, Hermione tahu nama Malfoy selalu berada tepat di bawah Hermione sendiri dalam urusan pelajaran. Malfoy tidak benar-benar berotak kosong, dan Hermione harus mengakui itu.

"Tetapi aku menyesal tidak membicarakan hal yang sangat penting ini sejak aku memutuskan bahwa Mr. Malfoy lah yang akan menjadi partnermu. Jika aku memberitahumu lebih awal mungkin saja kejadian kemarin pagi tidak akan terjadi,"

Hermione bisa merasakan darah mengalir di kedua pipinya. Tentu saja McGonagall tahu tentang insiden Howler itu. Betapa bodohnya Hermione tidak menduga arah pembicaraan ini sejak awal.

"Tentang itu, Professor, saya.."

"Tidak ada gunanya menangisi ramuan yang sudah tumpah, Miss granger. Jujur saja, aku bukan lah orang yang senang ikut campur urusan murid-muridku. Dan aku harap kau bisa mengatasinya... Setelah aku memberitahukan beberapa hal kepadamu."

"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku menjadikan Mr. Malfoy sebagai Ketua Murid-di luar nilai-nilainya yang memang memuaskan-mengingat 'catatan' masa lalunya?"

Hermione terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Penyatuan Asrama?" tebak Hermione.

McGonagall menghela napas.

"Ya.. Sebagian besarnya. Albus?"

Sedari tadi Hermione tidak memperhatikan potret para mantan Kepala Sekolah Hogwarts yang memang senang sekali berpura-pura tertidur. Tetapi sekarang ia menoleh ke arah potret kedua dari pinggir di sebelah kirinya. Penghuninya sudah terbangun dan sedang menatap kedua orang yang sedang berbincang di ruangan itu dengan mata biru cemerlangnya.

"Ya, Minerva?"

"Bisakah kau menjelaskan idemu itu kepada Miss Granger kita? Aku yakin kau menyimak pembicaraan kami.."

"Ah, sayangnya Minerva, aku tidak menganggap hal itu merupakan murni pemikiranku, karena bagaimanapun, seperti kata orang, saat ini adalah.. Ah.. Pestamu."

"Apa aku bisa mengartikan itu sebagai pembangkangan perintah, Albus?" sekarang potret Phineas Nigellus lah yang berbicara dengan nada sinis di piguranya.

Dumbledore meboleh ke arah kanan piguranya sebelum berkata dengan kalem, "Bukan begitu Phineas. Aku berpikir kalau Minerva bisa menjelaskan hal itu lebih baik daripada jika aku yang menjelaskannya."

"Sudahlah kalian berdua.." ucap McGonagall dengan letih. Menghembuskan napas, kemudian ia berbicara kepada Hermione dengan suara yang cukup tenang.

"Begini Miss Granger. Setelah kau memastikan bahwa dirimu akan melanjutkan bersekolah di Hogwarts, aku tahu aku akan langsung menunjukmu sebagai Ketua Murid Putri, tanpa berpikir dua kali. Rencana awalku adalah menjadikan Longbottom sebagai partnermu, tetapi aku tahu, dia tidak punya pengalaman dalam hal peraturan dan tata tertib sekolah. Walaupun aku sangat terkesan dengan keberaniannya tahun lalu saat menghadapi 'masalah-masalah' yang terjadi di sekolah ini. Bagaimanapun, aku tidak memiliki waktu lagi untuk mengajari seseorang yang awam lagi dengan peraturan sekolah dan hal lain-lainnya."

"Saat itulah."

McGonagall bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pigura di samping potret Dumbledore, penghuninya sedang tidur dengan sangat pulas, walaupun sudut bibirnya terlihat bergerak-gerak dengan tidak menyenangkan.

"Severus mengusulkan nama Mr. Malfoy."

Seperti ada yang membunyikan alarm, potret Severus Snape terbangun-atau membuka mata lebih tepatnya-ketika McGonagall menyebutkan namanya.

"Kau menyebut namaku Minerva?" dengan suara dinginnya, dia bertanya sok polos.

Hermione dapat melihat usaha potret lain serta McGonagall sendiri untuk tidak memutar bola mata.

"Ya, Severus."

Kemudian McGonagall beralih kembali pada Hermione.

"Severus berkata dengan sambil lalu, bahwa ia sangat menyayangkan tidak adanya Ketua Murid dari asrama Slytherin sejak 17 tahun terakhir,"

Hermione mengangkat alis.

"Lalu Phineas," McGonagall mengarahkan tangannya ke arah potret Phineas Nigellus yang sedang menyeringai senang,

"Membenarkan hal itu dengan menggebu-gebu."

"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya Minerva. Hogwarts perlu seseorang yang cerdas, bukannya yang main otot setiap saat seperti-"

"Bagaimanapun," McGonagall meneruskan dengan suara keras, menenggelamkan kata-kata Phineas Nigellus selanjutnya.

"Severus mengingatkan jasa-jasa keluarga Malfoy saat-err-kekacauan yang lalu. Bahwa Slytherin berhak diberikan kepercayaan sekali lagi, seperti yang Severus dapatkan."

"Dan aku sependapat dengan Severus." kali ini potret Dumbledore lah yang berbicara.

McGonagall kembali duduk di belakang meja kerjanya, berhadapan dengan Hermione.

Kemudian Dumbledore pun melanjutkan.

"Mr. Malfoy muda adalah seseorang yang malang. Aku berani bilang bahwa hidup keluarga Malfoy pun sama tak tenangnya dengan hidup kita saat Voldemort bangkit lagi. Terutama karena kesetiaan keluarga Malfoy yang diragukan oleh Voldemort sendiri. Aku yakin kau telah mengetahui seluruh ceritanya Miss Granger. Bagaimana Draco telah dibebankan tugas untuk membunuhku di tahun ke enam kalian, bagaimana Voldemort mengancam akan membunuh keluarganya jika ia tidak berhasil melaksanakan misi yang mustahil itu.."

"Perlu kuberitahu satu hal, Miss Granger, bahwa Narcissa Malfoy adalah seorang wanita yang begitu mencintai keluarganya. Ia bahkan rela mengkhianati Voldemort dalam usahanya menyelamatkan anak sematawayangnya."

Dumbledore berhenti sampai disitu. Kemudian, McGonagall lah yang melanjutkan.

"Narcissa Malfoy... Adalah salah satu mata-mata Orde semenjak tahun ke-6 kalian."

Hermione menarik napas dengan terkejut. Narcissa Malfoy?

-oOo-

Hermione berjalan dengan gontai menuju Asrama Ketua Murid. Percakapan di kantor Kepala Sekolah terus terngiang-ngiang di kepalanya. Bahkan, ia tak bisa berkonsentrasi mendengar omongan Professor Binns tentang Pernikahan Silang Penyihir di Abad ke-17 saat pelajaran Sejarah Sihir tadi siang.

Hermione memiliki waktu senggang sampai sebelum makan malam berlangsung. Ia tidak memiliki hasrat untuk belajar dengan keadaan pusing seperti ini. Jadi ia memutuskan untuk santai di ruang rekreasi Asrama Ketua Murid saja, sambil mendengarkan radio-pocket miliknya. Sambil melangkahkan kakinya, ia memutar kembali kilasan percakapan di Kantor kepala Sekolah yang berlangsung tadi siang.

Narcissa Malfoy adalah mata-mata Orde...

Hanya segelintir orang yang mengetahui hal ini, Lucius dan Draco tak mengetahuinya…

Narcissa telah berunding dengan Harry…

Draco tak mengetahui hal ini…

Suara ramai-ramai di koridor lantai lima memecahkan lamunan Hermione. Ada apa lagi sih ini? Ia pun segera meraih tongkat sihir dalam jubahnya dan melangkahkan kaki ke arah sumber suara.

"Kau, seharusnya sedang membusuk di Azkaban, Ferret."

Hermione membelok dan menemukan partner barunya sedang disudutkan oleh beberapa orang. Dua orang memegang masing-masing satu lengan Malfoy sehingga pemuda itu tidak dapat berkutik. Dalam keadaan seperti ini, Hermione masih melihat ekspresi dingin dari sang pewaris tunggal keluarga malfoy itu, pandangan melecehkan kepada lawannya masih tertera jelas disana. Hermione bisa melihat lebam di mata kiri Malfoy akibat pukulan para penyerangnya.

"Yeah, pelahap maut sepertimu tak seharusnya dibiarkan berkeliaran sesuka hati!"

"Stu—"

"Cukup!" Hermione berseru.

Pemuda yang sedang merapal mantera itu menoleh.

"Smith! Lima puluh angka dari Hufflepuff karena telah menyerang Ketua Murid Putera! Sekarang, pergi dari sini sebelum aku menambahkan detensi untuk kalian!"

"Granger, apa kau gila? Dia adalah Pelahap Maut!" Zacharias Smith berbalik berteriak pada Hermione.

"Namanya sudah dibersihkan, Smith! Apa kau tidak membaca Daily Prophet? Sekarang, tinggalkan ia dan suruh teman-temanmu untuk melepaskan tangannya!"

Para murid Hufflepuff yang tengah memegangi tangan Malfoy segera melepaskan pegangannya. Mereka pun berlalu, tak lupa melemparkan pandangan sinis kepada Hermione yang dianggap gila karena telah menolong seorang Pelahap Maut. Hermione segera menghampiri Malfoy setelah ia yakin bahwa para penyerangnya telah benar-benar pergi. Malfoy tampak sangat kepayahan. Pipinya lebam, hidungnya pun mengeluarkan darah, seperti habis berduel ala muggle.

"kau tak apa-apa?" Hermione bertanya dengan cemas.

Malfoy tak menjawab, seperti biasa. Ia tampaknya betul-betul kehabisan tenaga, karena ia tidak menolak ketika Hermione mengalungkan lengan pemuda itu ke leher untuk membantunya berdiri.

"Kenapa kau tidak melawan, Ferret Pintar? Dimana tongkat sihirmu? Kau ini penyihir bukan sih?" Tanya Hermione dengan sedikit dongkol. Bagaimana bisa Ketua Murid Putera diserang seperti ini? Bahkan untuk mempertahankan diri saja tidak bisa.

Malfoy tidak menjawab pertanyaan Hermione. Menghela napas, Hermione menyangga tubuh Malfoy agar tidak terjatuh. Ia membantu Malfoy berjalan ke Asrama Ketua Murid karena lokasinya memang lebih dekat daripada Sayap Rumah Sakit. Untunglah ia mendengar suara sekelompok orang berjalan di koridor di depannya. Tepat saat ia akan meminta bantuan mereka, Hermione melihat siapa yang sedang berjalan ke arahnya.

Parkinson bersama Nott dan Zabini tengah memandang mereka dengan aneh. Kelompok kecil Slytherin itu terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Hermione yang sudah membuka mulut untuk berbicara mengatupkannya kembali. Ia melihat ke arah Malfoy yang sedang menatap para sahabat seasramanya itu. Ekspresinya tak terbaca. Kemudian, sang rombongan Slytherin hanya berjalan melewati pasangan Ketua Murid itu, tanpa menoleh sedikitpun.

What. Exactly. Was. That?

Tak ada yang lebih mengejutkan Hermione daripada hal ini. Hermione tidak dapat memikirkan alasan mengapa Si Sapi Parkinson tidak meneriaki dirinya seperti biasa. Lagipula, ada apa dengan para Slytherin? Mengapa mereka tidak membantu Malfoy, yang dulunya adalah pemimpin mereka?

"Kau mau menolongku tidak Granger? Atau kita harus menunggu sampai aku pingsan dahulu sebelum kau membawaku ke Asrama?"

Suara Malfoy memecah lamunan Hermione. Ia pun segera mambantu Malfoy untuk berjalan lagi ke Asrama Ketua Murid.

"Godric Slytherin." Hermione mengucapkan kata kunci.

"Bisakah kita mengganti kata kunci konyol itu? Aku muak mengucapkannya, ataupun mendengar kau mengucapkannya." Gerutu Malfoy.

Hermione hanya diam setengah mendengarkan, masih memikirkan tindak tanduk aneh para Slytherin. Ia mendudukkan Malfoy di sofa hijau milik pemuda itu. Malfoy pun langsung menyandarkan dirinya.

"aargh." Ringisnya

Hermione pun duduk di sebelah partner Ketua Muridnya yang sedang meringis kesakitan itu.

"Biar aku lihat lukamu,"

Hermione memperhatikan wajah Malfoy yang lebam-lebam, serta hidungnya yang mengucurkan darah.

"Sepertinya hidungmu patah, Malfoy. Aku rasa aku bisa memperbaikinya. Aku tidak pernah mempraktikkan mantera penyembuhan yang ini, tapi aku tau teorinya."

Hermione baru akan mengacungkan tongkatnya ketika Malfoy menghentikan dirinya dengan memegang tangan pemegang tongkat Hermione.

"Hell, kau yakin ini aman Granger? Jangan-jangan kau malah akan menghilangkan hidungku!"

Hermione hanya memutar bola mata dan melepaskan cengkraman Malfoy, kemudian mengarahkan tongkatnya kembali ke hidung pemuda itu.

"Episkey!"

Hermione yakin manteranya cukup berhasil setelah mendengar bunyi tulang bergeser di hidung Malfoy. Kemudian ia mengarahkan tongkatnya sekali lagi ke arah pemuda itu dan bergumam dalam hati,

"Scourgify!"

Darah yang mengotori wajah pucat Malfoy pun menghilang.

Malfoy yang masih meringis karena tulang hidungnya yang bergeser, mengelus-elus wajahnya yang sudah tidak bersimbah darah lagi.

"Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan lebam selain dengan cara yang biasa muggle lakukan. Jadi mungkin lebih baik kau mengunjungi Madam Pomfrey sebelum makan malam."

Malfoy masih meringis menyentuh lebam-lebam di wajahnya tanpa sedikitpun menunjukkan bahwa ia mendengar kata-kata dari partnernya.

"Kenapa kau membiarkan mereka menyerangmu?" Tanya Hermione, langsung ke topik utamanya.

Malfoy tidak menjawab, dan malah melihat wajahnya di cermin yang ia panggil dari kamar tidurnya.

Hermione menggigit bibir.

"Malfoy!"

"Berisik Granger!"

"Kenapa kau tidak mempertahankan diri?" Hermione mulai berteriak dengan frustasi. Malfoy yang ia kenal memang pengecut, tapi tak sebodoh itu dalam hal mempertahankan diri. Oke, Malfoy memang idiot, tak seperti Harry yang memang cerdas, tapi setidaknya dia bisa menggunakan otoritasnya sebagai Ketua Murid dengan mengurangi poin Hufflepuff kan?

"Karena aku tidak ingin! Kau puas, Miss?"

Hermione tercengang. Apa?

"Apa?"

"Apa kau tuli Nona? Aku tidak ingin mempertahankan diri, dan tak ingin menyerang mereka juga."

Hermione berpikir keras. Apa maksud Malfoy? Bukankah hobi Malfoy adalah menyerang orang lain? Oke, Hermione tahu Malfoy lebih suka menyerang lawannya dari belakang seperti Slytherin pada umumnya, tapi Hermione juga tahu bahwa Malfoy tidak bodoh dalam hal berduel. Malfoy pasti tahu mantera-mantera hitam yang tidak murid-murid lain dan—walaupun Hermione meragukan hal ini—Hermione sendiri ketahui, mengingat dulu ia pernah bergabung dengan antek-anteknya Vol-pesek-demort.

"Tapi… Kenapa?" Hermione bertanya.

"Entahlah."

Malfoy menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, kemudian menutup mata.

"Mungkin karena aku pantas mendapatkannya." Kata Malfoy pelan.

Hermione tak berani bersuara. Karena, keheningan mungkin akan terasa sangat damai untuk pemuda yang sedang ia tatap saat ini.

The End of Chapter 4.

.

.

.

Minna-san….. Gomennasaaaaaaai .

Pertama, saya mau meminta maaf atas masa HIATUS yang tak direncanakan sebelumnya.

Kedua, saya mau meminta maaf atas kePHPan saya terhadap kalian semua.

Ketiga, saya mau meminta maaf atas cerita yang semakin lama semakin gaje.

Keempat, saya meminta maaf atas cerita yang mengecewakan.

Kelima, saya mau berterimakasih karena masih ada yang mau review dan baca chapter 3 kemarin.

Keenam, saya mau berterimakasih sama Bilqis yang udah nyuruh-nyuruh update terus.

Ketujuh, saya berterimakasih pada semua yang baca author's note ini sampai habis.

Udah yah, 7 aja. Seven is Magic.

Terserah kalian mau review apa enggak. Flame juga boleh kok. Boleh banget malah.

.

.

.

Balesan review kemarin.

Virginia: makasih ya ni, udah review.. Jogja apa kabar nih? Pokoknya kalo soal lanjutan cerita, ditunggu aja deh yaaaa. Hehe makasiiih :)

Carra: Yeay, bisa bikin geregetan dan maaf updatenya jauh dari kata kilat :'

LAudiots: Terimakasih udah review ya :) Ini udah update, mind to review again?

Novel: Peleeeee makasih ya udah revieeeew. Maaf ya lama banget updatenya :( Engga kok gak gantung endingnya…. (semoga engga). Hahaha review lagi?:)

Wike ajah ok: terimakasih sudah review :) Maaf ya update nya lama :( Mind to review again?

Adisti Malfoy: terimakasih sudah revieeew :) Maaf ya updatenya lama :( Mind to Review again?

Lulu Lovegood: haloo terimakasih sudah review :) Ini sudah next chap (walaupun lama). Mind to review again?

Rin Akizakura: Terimakasih sudah review :) Ini udah lanjut, mind to review again?