Sakit

"Uhuk..uhuk...Ya Sayang?"

"Astaga Mark, kau sakit? Kau batuk? Ya Tuhan suaramu sampai habis begitu. Kenapa kau bisa batuk?"

"I'm fine, aku hanya sedikit batuk saja sayang. Uhuk...uhuk..."

"Sedikit katamu, suaramu saja seperti vokalis rock yang habis membawakan dua album. Kau tunggulah dirumah, aku akan segera mampir"

"Tidak perlu, kau kan harus latihan—"

Tututut.

Mark hanya mendesah pelan, sambil mengurut sisi kepalanya yang gatal lalu batuk , dia memang batuk. Ini diperparah dengan tidak adanya bumonimnya di Seoul. Jadinya tidak ada yang benar-benar bisa mengurusnya.

.

Di tempat Haechan.

"Oppa, hari ini jadwalku apa saja?"

"Wae? Neo gwenchana?"

"Nan gwenchana. Mark batuk parah, mana bumonimnya sedang tidak di Seoul. Tidak akan ada yang bisa mengurusnya, mana takut bocah satu itu dengan maid. Aku sendiri tidak tau sejak kapan anak itu sakit. Astaga, igo otte?", ucap Haechan cemas.

"Jadwalmu hanya latihan drama musikal saja. Tapi ini pertemuan pertama kali", jelas sang manajer.

Haechan mengangguk lalu terdiam, iya dia ingat dia menerima tawaran di drama musikal dan ini pertemuan pertamanya. Absen di pertemuan pertama akan membuatnya dicap buruk sebagai artis yang tidak profesional, iya, dia harus datang.

"Jam berapa latihannya oppa?"

"Satu jam lagi, tapi lokasinya lumayan jauh"

Haechan mengangguk sebagai tanda setuju.

.

To : My Lovely Lion.

Mark, maaf, sepertinya aku tidak bisa datang dalam waktu cepat, aku lupa ada latihan drama musikal.

.

Setelah itu mobil Haechan memasuki gedung reherseal. Haechan turun ke dalam lalu memperkenalkan diri kepada semua pemain dan kru. Dia agak gugup, jujur saja, ini adalah pertama kali dia ikut ke dalam drama musikal, langsung jadi cast utama lagi.

"Anneyonghaseyo, Lee Donghyuck imnida. Mohon bantuannya kepada sunbae dan hoobae sekalian", ucap Haechan sambil membungkuk.

Haechan disambut ramah oleh para kru dan pd-nim. Haechan mendengarkan dengan seksama perkenalan para kru dan juga pasangannya di drama musikal. Haechan membaca naskah drama dan mendengarkan penjelasan pd-nim dengan serius, walaupun sampai saat ini masih ada yang mengganjal di dalam pikirannya, pesannya belum juga dibalas oleh Mark.

"Nah Haechan, karena kau adalah peran utama nya, jadi aku harap kau lebih bisa menghayati peranmu dan juga lebih dekat dengan Kim Samuel. Aku ingin kau bisa menumbuhkan chemistry yang pas dan kuat dengannya. Kau mengerti kan maksudku?", tanya pd nim.

Haechan hanya mengangguk, dia tau yang namanya Kim Samuel, rookie baru, sepertinya blasteran. Dia melihat lagi ponselnya sekilas, masih belum ada balasan.

Latihan berlangsung lagi dan kali ini adalah peragaan untuk scene dia dan Samuel.

"Haechan-ssi dan Samuel-ssi, di pertengahan dan di akhir, kalian ada adegan berdansa dan kissing. Aku ingin kalian memperagakan bagaimana kira-kira pose dansa. Tolong kalian peragakan di atas panggung"

Haechan dan Samuel saling melihat lalu naik ke panggung, mereka masih merasa canggung. Samuel memutuskan untuk mendekat, lalu berkata "noona, miane", lalu tersenyum. Haechan hanya mengangguk entah kenapa wajahnya panas. Perlahan Samuel menaruh tangannya di punggung belakang Haechan, lalu Haechan menaruh tangannya di lengan Samuel, lalu mereka mulai berdansa dengan pelan.

"Okay, cukup", ucap pd nim, Haechan dan Samuel sama-sama melepaskan tangan mereka lalu saling bertatapan canggung.

"Sementara sampai disini dulu latihannya. Jadwal latihan kita masih panjang"

Haechan dan Samuel langsung membaur ke kru yang lain, saat Haechan melihat jam, jam enam sore. Waktunya pulang dan memasak untuk Mark, pikirnya.

"Haechan-ssi, pd nim mengundang semua pemain dan kru untuk makan malam bersama, Haechan-ssi mau ikut?", tawar salah satu pemain, Sujin namanya kalau tidak salah

Sebenarnya Haechan ingin tidak ikut, tapi tidak enak dengan pd nim. Hitung-hitung mengakrabkan diri dengan para pemain, tapi bagaimana dengan singa kesayangannya yang sedang batuk.. Haechan galau...

"Eehh... ", Haechan menggigit bibirnya bingung, sangat berharap ada yang membuatnya bisa tidak ikut. Tapi sepertinya tidak ada, "ye, aku ikut", ucap Haechan.

Sujin langsung tersenyum, "kami tunggu di pintu depan, Haechan-ssi" , lalu meninggalkan Haechan. Haechan menghela nafas, niatnya untuk mengurus Mark gagal total. Dia tidak tau jam berapa akan pulang. Niatnya tadi dia mau mengirim pesan ke kepala pelayan di rumah Mark untuk menyiapkan ayam, tapi kalau begini ya tidak bisa. Harus ada yang memaksa singa kesayangannya untuk makan dan istirahat. Sambil merapikan barang bawannya, Haechan mengirim pesan ke singa di seberang sana.

To : My Lovely Lion.

Mark, maaf ya. Pd nim mengajak makan malam bersama, aku tidak bisa menolak. Tolong balas pesanku, jangan membuatku khawatir. Istirahatlah. Aku pasti akan datang tapi mungkin malam.

.

Haechan hanya berharap dapat balasan. Dengan langkah gontai, Haechan keluar dari studio dan melapor ke manajernya.

"Kalian mau kemana?"

"Pd nim mengajak makan malam bersama"

"Lalu bagaimana dengan Mark?"

"Ya paling nanti setelah selesai makan malam. Habis mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin menolak"

"Ya sudah, aku ikut di belakang mobil kalian, nanti setelah selesai makan, langsung ku antar kau ke rumah Mark"

"Neon daebak, manajer oppa", ucap Haechan sambil mengangkat kedua jempolnya.

Haechan hanya tersenyum pada manajernya lalu mengikuti rombongan kru dan pemain. Sesampainya di tempat makan, Haechan mengambil tempat duduk dan mulailah Haechan berbincang dengan yang lainnya.

"Haechan-ssi, aku tidak menyangka kau akan tertarik dengan drama musikal ini, aku sangat senang kau bergabung"

"Ye, gamsahamnida. Aku juga mau mencoba pengalaman baru, jadi aku terima saja"

"Haechan-ssi, apa sih resep hubungan supaya langgeng? Aku iri melihatmu dengan Mark yang adem ayem, jarang diterpa gosip"

"Tidak ada resepnya, hehehe. Hanya saling percaya satu sama lain saja"

"Haechan-ssi, nanti akan ada kissing scene dengan Samuel. Apa Mark tidak cemburu?"

"Kurasa tidak, aku yakin dia tau itu hanya akting", jujur untuk jawaban yang ini dia juga tidak yakin.

Haechan menemani Sujin untuk melihat pemandangan diluar, katanya sih tempat makan ini terkenal dengan outdoor view nya yang bagus, jadi dia dan Sujin tertarik untuk melihat. Haechan melihat sekitar lalu berjalan mundur dan tidak sengaja menginjak kaki seseorang. Haechan yang kaget hampir kehilangan keseimbangan, untung saja ada orang dibelakangnya. Setelah melihat kebelakang, Haechan kaget, yang dia tabrak Samuel, kontan saja Haechan malu.

"Miane, Samuel-ssi, aku tidak tau jika kakimu yang aku tinjak. Aku tidak melihat saat mundur ke belakang", ucap Haechan sambil melihat kaki Samuel.

"Gwenchana, Haechan-ssi, tidak ada orang yang akan melihat sambil mundur ke belakang. Kakiku juga tidak sakit, kok. Kau kurang kuat saat menginjaknya", canda Samuel yang menyebabkan Haechan tertaawa, "kau dengan siapa jalan keluar? Sendirian?"

"Ah, aniyo. Aku menemani Sujin, dia bilang tempat makan ini outdoor view nya bagus, jadi aku sekalian lihat-lihat. Kau sendiri?"

"Sama sepertimu, kau mulai dekat dengan Sujin?", tanya Samuel sambil mengajak Haechan jalan.

"Ye, aku pikir dia orang yang periang"

"Majyo, aku juga berfikiran seperti itu. Aku mengagumi lagu mu, Haechan-ssi, suaramu bagus. Lirik yang kau tulis juga indah. Kau sendiri bukan yang menulis liriknya?"

"Ye, Samuel-ssi, gamsahamnida"

"Aku sangat senang bisa bekerja sama denganmu. Ini pertama kalinya aku ikut drama musikal"

"Na do, aku juga cukup sering melihatmu di televisi, acara apa yah, yang pesertanya banyak, maaf aku memang agak pelupa. Tapi benar, aku menyukai dirimu yang pantang menyerah. Yang aku ingat ketika kau tidak masuk ke 10 besar, sebagian international fans banyak yang sedih. Kau populer loh", ucap Haechan.

"Gamsahamnida Haechan-ssi, aku tidak menyangka kau bisa memperhatikanku diantara sekian banyak peserta. Bagaimana kalau sekarang kita berbicara dengan bahasa formal? Aku lahir tahun 2002, noona tahun 2000, keutji?", tanya Samuel.

"Majayo, aku lahir tahun 2000. Bagaimana kau bisa tahu?", tanya Haechan, dirinya kaget ketika Samuel tahu tahun dirinya lahir, Haechan saja tidak tau Samuel lahir tahun berapa.

"Noona adalah salah satu solois yang dibanggakan Korea, bagaimana bisa aku tidak tau?", tanya Samuel, "naneun neoiu paen-iya, noona", ucap Samuel dengan aegyo, membuat Haechan tertawa.

"Aigo, neomu kiyeowo", ucap Haechan gemas, "gomawo, sudah mau menjadi fans ku, aku harap kau bisa memaklumi kekuranganku saat latihan nanti, Muel-ah", ucap Haechan tulus.

"Na do noona. Kajja, ayo masuk ke dalam", ajak Samuel dan diangguki oleh Haechan.

.

Setelah acara akan malam selesai dan pamit kepada seluruh kru dan pemain, Haechan langsung naik ke mobil manajer, dan masih tidak mendapati balasan dari Mark. Setelah Haechan sampai kedalam rumah Mark, Haechan langsung bergegas ke lantai atas dan menuju kamar Mark. Haechan hanya bisa terdiam melihat keadaan Mark yang sudah tertidur, dirinya meraba kening Mark dan mendesah, sangat panas, batin Haechan. Haechan menoleh ke lemari sebelah ranjang Mark, terdapat mangkok dan piring yang sudah bersih, pasti sup ayam dan nasi, pikirnya.

Haechan segera menelfon sang manajer untuk pulang dan dirinya akan menginap di rumah pacarnya, setidaknya sampai keadaan membaik. Setelah mandi dan beres-beres, Haechan menaiki ranjang Mark dengan perlahan dan memeluk Mark, mencari kenyamanan di dalam pelukan Mark.

.

Keesokan paginya, Mark terbangun agak pagi dari biasanya, maklum anak itu semalam memutuskan untuk tidur karena demam nya yang terbilang parah. Jadi, setelah dia makan sup ayam dan sepiring nasi, dia memutuskan untuk tidur. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah adanya seseorang dalam pelukannya, Donghyuck-nya. Jujur, dia tidak tau kapan pacarnya sampai disini, tapi yang pasti Mark senang.

Mark mengecupi ubun-ubun Haechan hingga si empunya terbangun. Haechan menggeliat pelan dalam pelukan Mark.

"Kau sudah bangun? Bagaimana demammu?", tanya Haechan sambil mengangkat salah satu tangannya.

"Sudah agak mendingan", jawab Haechan setelah dahi Mark tidak terasa sepanas kemarin.

"Semalam kau sampai disini jam berapa? Aku semalam tertidur sehabis makan, tidak tau jam berapa. Kepalaku terasa sangat berat, rasanya mau pecah", tutur Mark.

Haechan mengangguk, pantas saja pesan-pesannya tidak dibalas.

"Aku juga tidak ingat sampai disini jam berapa, niatnya kemarin itu kesini, tapi sehabis latihan, malah pd nim mengajak makan malam bersama, mana mungkin aku tolak, jadi yah sehabis makan malam aku kesini", curhat Haechan.

"Kan aku sudah bilang kau ada latihan drama, kau malah mematikan secara sepihak", kesal Mark.

"Ya sudah, sekarang aku mau bangun dan kebawah, kau istirahat saja disini", ucap Haechan lalu bangkit dari ranjang Mark.

"Kau mau kemana?"

"Kau itu belum sembuh benar, aku melarangmu untuk bekerja minimal sampai kau sembuh. Awas saja kalau masih bercinta dengan laptopmu", ancan Haechan lalu turun, meninggalkan Mark yang tersenyum senang.

.

Sesampainya dibawah, di area dapur tepatnya, Haechan mulai memasak untuk pacarnya, mencincang ayam, membuat jus buah, dan lain-lain. Setelah Haechan memasukan ayam ke panci, dirinya bergegas mandi, setelah mandi, Haechan menyiapkan ayam dan masakan lain ke mangkuk dan piring dan membawanya ke atas.

Haechan membuka pintu kamar Mark, anak itu sedang berbaring di atas ranjang dan memainkan ponselnya.

"Sayang, woa, kau memasak apa? Aku sudah lama tidak masak makananmu. Ngomong-ngomong kau tidak ada jadwal hari ini?", tanya Mark semangat ketika melihat Haechan membawa nampan penuh. Mark turun dari ranjang dan menghampiri makanan yang sudah Haechan letakkan diatas meja kerja.

"Aku sudah meminta manajer oppa untuk mendelay semua job ku untuk sementara waktu"

"Jinja?"

"Eoh, kau tidak percaya?", tantang Haechan.

"Aniyo, nan mideoyo, hanya saja. Berapa banyak yang akan di delay?", tanya Mark cemas.

"Ya tidak tau, selama manajer oppa tidak mengirimi pesan berarti semua sudah diatur. Lagipula prioritas utamaku sekarang itu pacar Kanada-ku yang sedang sakit", ucap Haechan sambil memandang Mark yang sedang makan.

"Woah, jinja masshita", ucap Mark senang, Haechan hanya melihat pacarnya yang sudah agak baikan. Setelah makan dan minum obat, Mark tidur lagi. Haechan tersenyum ketika meraba dahi Mark, panasnya sudah agak berkurang dan wajah Mark sudah tidak pucat lagi.

Selama Mark tidur, Haechan sibuk melihat instagram, dia hanya pasrah ketika melihat gambar dari beberapa paparazzi yang meliput fotonya dan Samuel di restoran kemarin, ada berbagai macam komentar, Haechan tidak mau ambil pusing, toh dia hanya milik Mark.

Ketika malam hari, Mark terbangun, dan mendapati Haechan sedang membaca naskah dramanya. Mark bangkit dari ranjang dan memeluk Haechan dari belakang.

"Jangan dengarkan apa kata paparazzi, aku tau kau hanya mencintaiku"

Haechan yang kaget sontak menoleh ke belakang.

"Mark, akan ada kissing scene nanti, kau tidak marah?"

"Kata siapa aku tidak marah?", ucap Mark serius, Haechan yang melihat ekspresi perubahan wajah Mark mendadak takut.

"Tapi Mark itu sudah jadi—"

Mark tetap diam, perlahan Mark mendekatkan wajahnya pada Haechan, Haechan yang takut memilih untuk menutup mata, sampai akhirnya dia merasakan benda lembut menyentuh dahinya.

"Aku percaya padamu, sayang. Itu hanya akting, I know", ucap Mark tersenyum.

Haechan membalas dengan mencium bibir Mark pelan lalu berucap "gomawo".

Author's note:

maaf karena memasukan nama Muel disini, aku belum tau siapa cowok atau cewek yang bisa untuk peran antagonis dan dekat dengan Haechan.

Maaf karena lama update, kuliah lagi banyak tugas, nilai ku hancur.

Mohon reviewnya, terimakasihhhh