Fanfiction.
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama, History
Summary : Sehun, putra mahkota kerajaan, tidak sengaja menjelajah terlalu jauh ke dalam hutan hingga ia harus menerima bantuan Jongin, penduduk sebuah desa yang tinggal di pinggir hutan. Sehun jatuh hati pada masakan Jongin dan Sehun ingin membawa Jongin pulang untuk dijadikan koki di kerajaan. Tanpa Sehun sadari ia juga jatuh hati pada Jongin, bukan hanya masakannya. Cinta terlarang antara dua insan berbeda latar belakang pun dimulai. HunKai/Sekai. Jongin!GS.
Chapter Four
Bulan pada malam itu sungguh sangat terang. Sehun yang sudah dua jam memandangi pemandangan malam yang mempesona ini, tapi pikiran Sehun tidak bisa rileks dan menikmati pemandangan didepannya. Sehun sedang menunggu kedatangan seseorang, gadis yang ia sukai. Gadis bernama Kim Jongin yang merupakan pelarian perang, seorang koki dan seseorang yang terlarang untuknya.
Sehun tidak menyerah untuk menunggu kedatangan Jongin meskipun sudah lewat dari waktu yang ditentukan. Sehun yakin jika Jongin akan datang, Sehun yakin jika Jongin juga memiliki perasaan yang sama padanya. Berkali-kali Sehun menghela nafas panjang, bukan karena ia merasa lelah menunggu tapi karena ia masih tidak percaya dengan nasib cintanya yang begitu sial. Gadis yang mencuri hatinya masuk ke dalam daftar orang yang harus ia hindari.
Hanya saja Oh Sehun adalah orang yang keras kepala. Sehun terus saja memutar otaknya untuk mencari celah yang bisa gunakan. Sehun akan mencari cara agar ia dan Jongin bisa hidup bersama, entah bagaimana caranya, apapun resikonya. Kadang ia terkekeh sendiri dengan pemikirannya tersebut, kepalanya sudah merencanakan berbagai macam hal namun ia malah belum mendapatkan jawaban dari Jongin. Sehun bertanya-tanya, bagaimana jika cintanya ditolak oleh Jongin? Apa ia sanggup melepaskan Jongin?
Sehun akan sangat memahami jika Jongin menolak cintanya, siapa yang mau tinggal dalam istana sebagai penyusup? Dimana-mana selalu diawasi dan diperhatikan. Selalu ketakutan jika identitas sesungguhnya terbongkar.
"Aku tahu kau akan datang." Sehun berkata pelan. "Aku melihatmu Jongin, jangan bersembunyi." Sehun menatap sebuah bayangan dibalik sebuah pohon besar tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"A-aku tidak datang untuk menemuimu. Aku..aku..hanya b-berjalan-jalan saja." Sosok yang berdiri dibalik pohon itu keluar, melangkah mendekati Sehun dengan sangat perlahan.
"Berjalan-jalan? Pukul satu dini hari? Kau tidak takut bertemu hantu?" Sehun tersenyum lebar melihat wajah cantik Jongin. Dugaannya tepat, Jongin pasti datang.
"Ha-hantu? Istana ini berhantu?" Jongin membelalakkan matanya terkejut.
"Istana ini sudah didirikan lama sekali, mana mungkin tidak ada hantunya." Sehun tersenyum jahil.
"Jangan mengerjaiku! Aku tidak takut hantu!" Jongin cemberut meihat senyum itu.
"Hahaha, aku yakin hantu-hantu tidak akan ada yang tega menakutimu karena kau terlalu cantik." Sehun melangkah mendekati Jongin yang tidak juga segera mendekatinya. "Aku tahu kau akan datang Jong.."
"Aku ti-tidak datang untuk menemuimu.." Jongin berkata sambil menunduk.
"Hm baiklah, kau tidak datang untuk menemuiku. Tapi aku tetap senang bisa bertemu kau disini." Sehun ingin sekali mengangkat wajah Jongin yang menunduk. Sehun sangat merindukan mata coklat milik Jongin.
"Sehun.."
"Jongin.."
"Kau dulu." Jongin berkata sopan.
"Uh, yang mengenai tadi siang aku tidak ingin kau menjawabnya dulu." Sehun berkata pelan, ia merasa malu karena menyatakan perasaannya dengan cara yang sama sekali tidak romantis. "Aku tahu ini semua terlalu cepat dan kau pasti perlu mempertimbangkan banyak hal. Tapi aku akan menunggumu sampai kau siap.." Sehun melanjutkan kata-kata yang ingin ia ucapkan dari tadi.
"Menungguku?" Jongin tidak lagi menunduk menatap ujung sepatunya, perhatiannya sepenuhnya tercurah pada wajah serius didepannya.
"Iya, aku akan menunggumu sampai kau siap memulai hubungan denganku." Sehun berkata penuh percaya diri.
"Sehun, kau tidak bertanya bagaimana perasaanku padamu?" Jongin sedikit heran dengan Sehun yang sama sekali tidak gugup mendengar jawaban dari hatinya. Bukankah jika seseorang habis menyatakan cinta akan bertanya apakah perasaannya terbalas?
"Huh? Perasaanmu padaku?" Sehun mengerjap bingung. Sehun sadar, ia bahkan tidak menanyakan bagaimana perasaan Jongin padanya? Yang ia pikirkan dari tadi hanyalah bagaimana melewati rintangan-rintangan yang akan ia hadapi jika mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Iya, perasaanku padamu. Kau yakin sekali aku juga menyukaimu." Jongin memandang Sehun yang sedikit salah tingkah, harus Jongin akui jika Sehun yang biasanya penuh wibawa terlihat menggemaskan dengan wajah kebingungan.
"Aku tahu kau menyukaiku Jong." Sehun segera menguasai diri atas kejadian yang sama sekali tidak ia duga.
"Aku tidak pernah bilang menyukaimu."
"Tapi aku bisa merasakannya."
"Perasaanmu salah."
"Aku bisa merasakan kau sedang berbohong."
"Perasaanmu salah lagi."
"Baiklah, kau tidak menyukaiku. Kalau begitu aku akan membuatmu menyukaiku." Sehun tersenyum simpul melihat betapa keras kepalanya Jongin. Semakin Jongin berbohong semakin Sehun yakin jika Jongin menyukainya, ia bisa merasakan kegugupan pada suara Jongin.
"Sehun, seriuslah sedikit. Kau tahu aku adalah penyusup disini dan kau adalah seorang pangeran yang akan segera naik tahta." Jongin menatap Sehun dalam-dalam. Bohong jika ia tidak memiliki perasaan yang sama pada Sehun, hanya saja semuanya terlalu beresiko. Jongin tidak ingin Sehun kehilangan masa depan hanya karena dirinya.
Tadi siang sewaktu mendengar pernyataan cinta Sehun, jantung Jongin rasanya ingin melompat dari tubuhnya. Namun setelah itu dengan segera sebuah suara dalam kepalanya memperingatkan bahwa Sehun bukanlah orang yang bisa ia ajak untuk menghabiskan sisa waktu hidup bersama.
"Aku serius Jongin. Aku jatuh hati padamu. Entah sejak kapan, mungkin sudah sejak pertama kali aku bertemu denganmu." Sehun membalas tatapan Jongin.
"Sehun, semakin aku terlibat dalam hidupmu, kau semakin dalam bahaya."
"Aku sudah dalam bahaya Jong. Membawamu kesini berarti aku melanggar puluhan aturan istana. Menikahimu berarti melanggar ratusan aturan istana. Hukumannya akan tetap sama meskipun aku melanggar puluhan atau ratusan, jadi kenapa tidak? Aku akan tetap menikahimu."
"Menikahiku?! Oh Sehun! Aku bahkan tidak pernah bilang aku menyukaimu!" Jongin sedikit meninggikan suaranya. Wajahnya memerah mendengar kata menikah meluncur dari bibir Sehun.
"Kau tahu? Di dahimu tertulis jika kau menyukaiku. Jadi jangan repot-repot berbohong lagi." Sehun tertawa melihat wajah memerah Jongin.
"Aku tidak berbohong!"
"Sangat jelas kau sedang berbohong Jongin."
"Sehun, aku tidak—"
"Jong, dengarkan aku. Aku sangat paham jika kau ragu untuk menerima perasaanku, aku tidak memaksamu untuk menerima perasaanku saat ini. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu, aku ingin menikahimu dan aku rela melakukan hal paling gila asalkan kita bisa bersama."
"A-aku.." Jongin tidak tahu harus menjawab apa. Memangnya apa yang bisa ia katakan? Menerima perasaan Sehun dan mengorbankan keamanan ribuan orang dalam wilayah kerajaan yang damai ini? Menolak perasaan Sehun dan harus melihat Sehun bersanding dengan gadis lain? Jongin mungkin akan memilih mati jika hal itu sungguh terjadi.
"Melihatmu harus menunduk setiap kali melihatku sungguh membunuhku. Melihatmu berjalan menjauh setiap kita berpapasan sungguh membunuhku. Melihatmu berdiri dideretan pelayan-pelayan istana sungguh membunuhku. Aku juga merasakan rasa sakit yang sama sepertimu Jongin. Aku minta maaf telah membuatmu merasa seperti ini." Sehun akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata yang lebih romantis. Bukan hanya kalimat singkat dibawah tatapan seluruh penghuni istana yang mengawasi mereka.
Jongin tidak menyangka Sehun tahu detail perasaannya, tentang bagaimana hatinya yang seperti dicubit setiap saat orang-orang disekitar mereka menyadarkan perbedaan status yang mereka miliki. Hatinya langsung terasa hangat mendengar ucapan manis Sehun. Belum pernah ia mendapat pernyataan cinta dengan kata-kata seromantis ini.
"Satu lagi. Kyungsoo bukan siapa-siapa. Dia hanya salah satu penggemarku." Sehun menambahkan. Sehun teringat ia berhutang penjelasan tentang siapa itu Kyungsoo meskipun Jongin tidak memintanya.
"Pe-penggemarmu?"
"Sainganmu banyak lho. Tapi kau tetap yang paling cantik kok." Sehun tersenyum menggoda.
"Aku tidak peduli dengan penggemarmu, kenapa kau tidak bersama salah satu penggemarmu saja sana?" Kenyataan bahwa banyak wanita yang mengejar-ngejar Sehun membuat Jongin kesal meskipun ia tidak mau mengakui hal tersebut pada Sehun. Tidak mungkin Jongin mengungkap hal itu kan? Dari tadi saja ia terus-terusan menyangkal perasaannya sendiri.
"Kau bilang tidak menyukaiku, tapi kenapa kau langsung marah-marah begitu aku menyebut nama Kyungsoo?" Sehun menaikkan sebelah alisnya, ia tidak menyangka reaksi Jongin yang cemburu sangat menggemaskan.
"Aku tidak marah-marah kok."
"Ah aku tidak salah pilih wanita. Kau bahkan sangat menggemaskan ketika marah." Sehun benar-benar menahan lengannya agar tidak menyentuh wajah cantik yang sedang cemberut didepannya.
"Terserah kau. Aku mau tidur." Jongin tidak mau lagi mendengar lebih jauh tentang penggemar-penggemar Sehun.
"Baiklah. Selamat malam calon istriku." Sehun tersenyum semakin lebar.
"Ya!"
"Oh iya, aku ingin makan yang pedas-pedas besok." Sehun menambahkan.
"Besok aku tidak mau memasak untukmu!" Jongin memandang sengit wajah cerah Sehun.
"Hahaha. Baiklah jangan masak untukku, calon istriku tidak boleh bekerja terlalu keras."
"Ugh!" Jongin menghentakkan kakinya kesal dan mulai melangkah menjauhi Sehun yang masih terus tersenyum lebar.
Sehun terus memandangi punggung Jongin yang berjalan menjauhinya. Ingin sekali ia berjalan disamping Jongin dan mengantar Jongin dengan selamat sampai didepan kamarnya sayangnya hal itu adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan. Kebahagian yang Sehun rasakan tadi rasanya menguap dengan cepat, digantikan rasa bersalah. Jongin berhak mendapat seseorang yang bisa membuatnya bahagia dan selalu merasa aman. Dirinya jelas bukan orang yang bisa membuat Jongin merasa aman, apakah ia harus merelakan Jongin begitu saja? Sebelum perasaannya semakin dalam, sebelum ia semakin sulit melepaskan Jongin.
—
Sehun melangkah penuh semangat memasuki paviliunnya. Sore ini hukumannya telah resmi berakhir, ia berhasil menjalankan semua tugas yang diberikan Guru Choi padanya. Akhirnya sore ini ia bisa menikmati waktunya dengan bersantai, atau mungkin Sehun akan menyelinap menemui Jongin.
Sudah berapa hari ia tidak berbincang dengan gadis itu? Mereka hanya bisa saling menatap ketika berpapasan dikoridor istana. Sehun hanya bisa memandang wajah cantik itu ketika waktu makanan disajikan diatas meja. Sungguh menit-menit yang sangat berharga baginya.
Sehun mandi sambil bersiul-siul riang, membuat pelayan-pelayan terkikik. Jarang sekali pangeran yang mereka layani menunjukkan suasana hatinya seperti ini. Wajah tampan itu biasanya selalu dingin, mereka tidak menyangka Sehun bisa bertingkah selayaknya remaja.
"Tolong panggilkan Jongin dan suruh dia bawakan aku teh." Sehun memerintah salah seorang pengawal yang sedang mendapat giliran berjaga didekat kamarnya. Pengawal itu segera membungkukkan tubuhnya dan berlari menjalankan perintah dari Sehun.
Tidak lama kemudian Sehun mendengar pintu kamarnya diketuk. Sehun segera merapikan dirinya dan duduk lebih tegak.
"Masuk." Pintu kamarnya terbuka sedikit demi sedikit, wajah cantik yang ia rindukan muncul dengan senyum cerah.
"Ini teh yang kau minta." Jongin segera meletakkan nampan berisi cangkir dan poci yang berisi teh diatas meja dihadapan Sehun.
"Terima kasih. Dan kau cantik sekali hari ini." Sehun sama sekali tidak menggubris teh yang dibawa Jongin.
"Uh, terima kasih." Pipi Jongin terasa panas.
"Aku mau berjalan-jalan ke kota hari ini, kau mau ikut?" Sehun menyesap sedikit teh buatan Jongin. Nikmat, seperti biasa. Bekerja di istana kerajaan membuat kemampuan mengolah makanan Jongin jadi berkembang pesat.
"Ke kota?" Suara Jongin dipenuhi semangat. Jongin belum pernah mengunjungi kota, ia ingin sekali melihat-lihat keindahan kota kerajaan ini.
"Iya, disana banyak sekali hal menarik untuk dikunjungi. Kau mau?"
"A-aku tidak bisa meninggalkan istana Hun."
"Kau bisa. Temui aku setengah jam lagi ditempat itu." Sehun kembali mengusulkan hal berbahaya. Berbahaya dan menyenangkan, Jongin tidak pernah bisa menolak ajakan Sehun meskipun nyawanya menjadi taruhannya.
"Baiklah." Jongin bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Sehun, ia tidak ingin pengawal curiga karena terlalu lama bersama Sehun seperti sebelumnya.
Sehun sepertinya terlalu dimabuk asmara untuk menggunakan akal sehatnya. Semakin hari ia semakin berani melanggar peraturan-peraturan, semua hanya untuk Jongin. Hanya untuk sekedar menghabiskan wakt dengan gadis yang ia sukai.
Sehun tidak perlu menunggu lama seperti tempo hari, Jongin muncul beberapa saat setelahnya. Wajahnya sedikit tegang namun juga bersemangat.
"Ini, ganti dulu pakaianmu." Sehun menyodorkan setumpuk pakaian berwarna pudar pada Jongin. Menyusup keluar istana tentu saja tidak bisa mengenakan pakaian yang biasa mereka pakai didalam istana, Sehun sudah menyiapkan pakaian biasa yang berwarna kusam agar penampilan mereka tidak mencolok nantinya.
"Ga-ganti dimana?" Sehun baru sadar jika Jongin tidak bisa ganti baju disembarang tempat seperti dirinya dan Chanyeol jika ingin menyusup keluar istana.
"Di..disana saja. Aku akan membalikkan badanku." Sehun menunjuk pohon besar dimana Jongin pernah bersembunyi. Jongin memandang sekekeliling memastikan tidak orang yang mengikuti mereka, apalagi sampai mengintipnya.
"Tenang saja, tempat ini sangat aman. Tidak ada orang yang pernah kesini kecuali aku dan Chanyeol. Sekarang Chanyeol sedang ada pelajaran dengan Guru Choi." Sehun seolah membaca isi kepala Jongin.
"Jangan mengintip!" Jongin menambahkan dengan nada memperingatkan. Sebenarnya Jongin sangat malu harus berganti pakaian ditempat terbuka seperti ini. Meskipun ia hanya mengganti jubah luarnya saja, tetap saja Jongin merasa malu menunjukkan sedikit saja bagian kulitnya.
"Aku sudah selesai!" Jongin mengganti pakaiannya secepat kilat. Sehun membalikkan tubuhnya menghadap Jongin yang kini sudah berpakaian layaknya penduduk biasa. Jantung Sehun dari tadi berdebar luar biasa keras memikirkan Jongin yang berganti pakaian tidak jauh darinya, berkali-kali ia menahan diri untuk tidak berbalik dan melihat sedikit saja bagian kulit Jongin.
"B-baiklah. Ayo ikuti aku." Sehun berjalan mendahului Jongin menuju semak-semak tinggi yang menempel pada dinding tinggi pembatas paviliun Sehun dan luar istana.
"Ki-kita akan melompati dinding ini?" Jongin mengamati dinding tinggi didepannya. Dinding itu dua kali lebih tinggi darinya, mana mungkin ia memanjatnya?
"Tidak, kita akan lewat bawah sini." Sehun menyingkap sedikit semak-semak tebal yang tumbuh disepanjang dinding. Jongin menyipitkan matanya dan melihat sebuah warna yang berbeda dari warna dinding tinggi itu.
"Disana ada lubang yang cukup besar dan tertutup oleh batu besar. Biasanya aku dan Chanyeol menyelinap lewat sini." Sehun membuka semak-semak itu agar semakin memperlihatkan batu besar. Dengan mudah Sehun menggeser batu besar tersebut.
"Kau duluan, hati-hati kepalamu." Jongin meneguk ludahnya sekali lagi. Jongin tidak menyangka akan melakukan hal ekstrim seperti ini dalam hidupnya, bertemu dengan Sehun memang merubah garis hidupnya.
Jongin terpana melihat pemandangan didepannya. Dirinya berada dipinggir sungai kecil yang indah, sunyi dan tentram. Disekitarnya hanya ada pohon-pohon, tidak ada tanda kehidupan manusia.
"Kita berada dipinggir kota, perlu lima belas menit berjalan untuk mencapai daerah pemukiman." Sehun tiba-tiba sudah berdiri disebelahnya.
"Indah sekali disini Hun. Suasananya sangat menenangkan." Jongin menghirup nafas dalam-dalam.
"Aku setuju. Memang sangat menenangkan tinggal jauh dari pemukiman penduduk."
"Jadi karena itu kau suka berburu di hutan?"
"Iya, aku suka sekali pergi ke hutan. Suasananya menenangkan." Sehun mulai berjalan menyusuri pinggir sungai. "Aku ingin sekali tinggal di desa yang tenang seperti desamu."
"Desa itu memang sangat indah." Jongin menyetujui ucapan Sehun.
Lima belas menit kemudian Jongin sudah bisa melihat rumah-rumah penduduk. Langkah Jongin semakin cepat, ia tidak sabar melihat isi kota. Sehun tersenyum melihat Jongin yang penuh semangat.
Begitu sampai kota Jongin terus-terusan menarik lengan Sehun agar menemaninya melihat berbagai macam hal yang menarik perhatiannya. Beruntung sekali keduanya tidak ada seorangpun yang mengenali Sehun berkat pakaian yang ia pakai, jadi mereka bisa leluasa berjalan-jalan diantara kerumunan penduduk.
Tanpa keduanya sadari, tangan mereka sudah saling menggenggam. Sehun menggenggap jemari Jongin erat-erat agar Jongin tidak hilang dari pandangannya, Jongin hanya membalas genggaman tangan Sehun. Jongin terlalu bersemangat untuk sekedar mengingat bahwa tidak seharusnya mereka bergandengan tangan.
"Jong kita kesana sebentar." Sehun menarik tangan Jongin mendekati penjual pernak-pernik perhiasan wanita.
"Kau suka dengan benda-benda seperti ini?" Jongin bertanya heran.
"Tidak, aku hanya ingin membelikan hadiah untuk seseorang." Sehun mengamati berbagai macam bentuk dwikkoji—hiasan rambut untuk wanita Korea Selatan pada jaman dahulu—dengan seksama.
"Tuan, inilah model yang baru." Bibi penjual pernak-pernik itu dengan penuh semangat menunjuk deretan dwikkoji cantik berwarna-warni. Jongin ikut menatap pernaik-pernik yang diperhatikan Sehun, hanya saja Jongin tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Bibirnya sedikit melengkung ke bawah.
"Kau suka yang mana?" Sehun bertanya pada Jongin, meminta pendapat.
"Tanya saja pada bibi itu." Jongin menjaga suaranya agar tidak terdengar jika ia sedang kesal. Gadis itu memang sedang kesal sekali, bagaimana mungkin Sehun berpikir tentang gadis lain saat sedang bersamanya? Padahal baru beberapa hari lalu Sehun menyatakan cinta pada Jongin. Memang sih Jongin tidak menerima pernyataan cinta Sehun, tapi kan dia juga tidak menolak.
"Ah, menurut bibi ini adalah yang paling bagus. Warnanya tidak mencolok tapi berkesan sangat mewah." Si bibi menunjuk sebuah dwikkoji berwarna merah maroon yang indah. Jongin makin merengut. Dwikkoji itu indah sekali.
"Baiklah, aku ambil yang itu." Sehun membayar perhiasan wanita tersebut dan menyimpannya didalam kantung kecil dipinggangnya. "Sekarang kau mau kemana?" Sehun bertanya cerah.
"Terserah kau." Jongin tidak ingin memandang wajah Sehun.
"Ayo kita membeli makanan dan segera kembali." Sehun mengeratkan genggamannya pada jari Jongin. Gadis itu hanya mengikuti langkah Sehun dengan hati menahan kesal.
"Jong kau tidak mau ini?"
"Tidak."
"Akan ku habiskan jika begitu." Sehun menyuapkan sepotong besar makanan yang baru saja mereka beli kedalam mulutnya. Itu adalah potongan terakhir dan Jongin hanya bisa menelan ludahnya. Jongin masih tidak ingin beramah tamah dengan Sehun, ia masih kesal dengan Sehun. Kenyataan bahwa ia tidak bisa mengekspresikan kekesalannya membuat Jongin lebih kesal lagi.
"Apa kau senang dengan kencan kita hari ini?" Sehun bertanya dengan mulut penuh. Kini mereka sudah berjalan melintasi pinggir sungai menuju tembok tempat mereka menyusup.
"Ke-kencan? Kencan apanya? Kita kan cuma jalan-jalan."
"Bagiku ini termasuk kencan. Berjalan-jalan sepanjang sore bersama dengan kekasihku, membeli makanan ringan dan melihat-lihat isi kota."
"Kekasih? Aku tidak—"
"Kau cemburu ketika aku bilang aku ingin membeli dwikkoji sebagai hadiah untuk seseorang dan kau membiarkanku menggandengmu sepanjang sore. Apa itu tidak cukup menunjukkan bahwa kita sepasang kekasih?" Sehun kembali menggandeng tangan Jongin.
"Cemburu? Kau besar kepala sekali Oh Sehun. Kenapa kau tidak menggandeng gadis yang ingin kau hadiahi?" Jongin mencoba melepaskan jari-jarinya dari genggaman Sehun.
"Aku sudah menggandengnya."
"Huh?"
"Itu untukmu Kim Jongin."
"Untukku?" Jongin terkejut. Jadi perhiasan itu tadi untuknya? Bagaimana mungkin Sehun membelikan sebuah hadiah untuknya ketika ia berada tepat disampingnya?
"Untukmu. Aku ingin kau memakainya setiap hari agar aku tahu kau milikku." Sehun mengeluarkan dwikkoji dari dalam kantungnya dan memakaikan benda itu pada sanggul kecil dirambut hitam Jongin.
"Kau cantik sekali." Sehun memuji Jongin setelah perhiasan itu terpasang dengan sempurna pada rambut Jongin. Gadis cantik itu hanya menunduk dan merona, tidak menduga sikap Sehun yang begitu manis.
"Jadi sekarang kau masih tidak mengakui bahwa kita sepasang kekasih?" Sehun tersenyum melihat wajah merah muda Jongin yang sedari tadi hanya diam saja, terlalu malu untuk berkata-kata.
"Aku akan mengungkapkan isi hatiku sekali lagi Kim Jongin." Sehun menarik nafas panjang. Jongin mengangkat kepalanya menatap wajah tampan Sehun dengan hati berdebar. "Aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali kita berjumpa. Kau adalah gadis tercantik yang pernah aku temui. Bukan hanya wajahmu tapi juga hatimu, kau selalu mengingatkan aku pada seorang wanita yang paling aku cintai dimuka bumi ini. Ibuku." Sehun menahan kepala Jongin yang sudah akan menunduk lagi. Jongin tidak tahan dengan kalimat-kalimat manis Sehun yang membuatnya memerah.
"Aku tahu mencintaimu adalah hal yang sangat beresiko, tapi seperti yang pernah aku katakan padamu waktu itu. Aku ingin sekali saja menjadi egois, aku ingin memilikimu." Pipi Jongin terasa sangat panas sekarang. Sehun masih terus memandangnya dengan tatapan serius. Kedua mata Sehun seolah menghipnotis Jongin.
"Hingga saat ini aku sudah melakukan banyak hal gila agar aku bisa bersamamu, dan aku rela melakukan ratusan hal gila lagi agar aku bisa menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Aku juga tahu kau bukanlah gadis egois yang hanya memikirkan kebahagianmu saja, kau tidak menjawab pernyataan cintaku bukan karena kau tidak membalas perasaanku kan?" Sehun bertanya dengan lembut.
"Uh..i-iya.." Jongin tahu dia tidak akan bisa selamanya menyembunyikan kejujuran hatinya.
"Hal itu membuatku semakin jatuh cinta padamu. Kau memikirkan ribuan orang di kerajaan ini disaat kau bisa dengan mudah mendapatkan kebahagiaan."
"Aku..aku hanya tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan akibat perang. Kehilangan keluargamu dalam perang sangat menyakitkan.." Jongin berkata lirih.
"Aku tahu—"
"Biarkan aku yang bicara sekarang Sehun." Jongin memotong perkataan Sehun dan tersenyum. "Aku ingin minta maaf karena telah mengelak tentang perasaanku beberapa hari yang lalu." Sehun langsung ikut tersenyum mendengar ucapan Jongin.
"Aku..aku juga menyukaimu Oh Sehun. Aku menyukai caramu berpikir, aku menyukai bagaimana kau memandang dunia ini. Memutuskan untuk menjadi koki di kerajaan adalah hal paling gila yang pernah aku lakukan dan semua itu karena dirimu. Asal kau tahu, aku juga ingin menjadi egois sekali saja. Hanya saja aku tidak sampai hati..melakukan ini semua. Aku tidak ingin menjerumuskanmu lebih dalam lagi.." Jongin mencengkram ujung lengan bajunya erat-erat.
Sehun termenung. Jongin menolak cintanya? Jongin tidak bisa menjadi miliknya? Jantung Sehun rasanya berhenti berdetak, kakinya terasa lemas. Tidak pernah Sehun bayangkan jika Jongin akan menolak perasaannya.
"Sehun, aku sungguh tersanjung dengan segala yang lakukan untukku. Aku hanya tidak ingin kita semakin sakit hati jika semua ini tidak segera dihentikan. Kau tahu kan?" Jongin menatap cemas pada Sehun yang hanya diam.
Sehun tahu betul jika semua perkataan Jongin benar. Mereka memang harus segera menghentikan semuanya. Tapi Sehun tidak ingin semuanya berakhir, ia sudah mempersiapkan puluhan rencana untuknya dan Jongin. Sehun sudah mempersiapkan dirinya untuk segala resiko yang akan ia hadapi.
"A-aku tahu. Aku sangat memahami alasanmu. Maafkan aku tidak bisa mengontrol egoku." Sekarang Sehun yang tidak bisa memandang mata cokelat Jongin.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Sehun. Aku juga bersalah karena mengikuti egoku. Kita berdua egois." Hati Jongin seperti dicubit melihat mata Sehun yang menunjukkan sorot terluka. Tidak pernah ia melihat Sehun yang selalu dapat menguasai diri seperti ini, terlebih lagi dirinya lah yang membuat Sehun tersakiti.
"Kau menolakku bukan berarti perasaanku padamu akan berubah, kau tahu itu kan? Aku akan tetap mencintaimu." Sehun memandang nanar wajah cantik didepannya.
"Jangan seperti itu Sehun. Kau harus—"
"Aku tidak akan pernah bisa mencintai gadis lain." Sehun merasa matanya memanas. Sehun tidak tahan lagi dan menarik tubuh mungil gadis didepannya kedalam sebuah pelukan.
"Aku sudah memikirkan sejuta rencana untuk kita, aku sudah memikirkan rumah yang indah untuk kita tinggali, aku sudah memikirkan nama anak-anak kita nanti. Aku..aku…sangat mencintaimu Kim Jongin." Sehun menjaga suaranya agar tidak bergetar.
"Se-sehun.." Jongin yang sedari tadi sudah menahan tangisnya mulai menitikkan air mata. Jongin tidak tahan melihat Sehun yang terdengar tidak berdaya seperti ini. Tangan Jongin mulai melingkari pinggang Sehun. "Aku juga sangat mencintaimu Sehun." Suara terisak Jongin membuat Sehun melepaskan pelukannya dan memandang Jongin yang pipinya dipenuhi air mata.
Sehun menyentuh wajah Jongin sempurna untuk pertama kalinya, diusapnya aliran air pada kedua pipi Jongin. Sungguh menyakitkan bagi Sehun melihat Jongin meneteskan air mata. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Jongin bahagia, tapi lihat lah, sekarang Jongin malah menangis karena dirinya.
"Jongin, jika aku mampu menemukan jalan keluar untuk kita. Jalan keluar dimana kita tidak akan menyakiti siapapun. Apakah kau mau mempertimbangkan untuk hidup denganku?" Sehun menangkup wajah cantik itu dalam telapak tangannya. Sehun tidak bisa hidup tanpa Jongin. Ia pasti akan menemukan sebuah jalan keluar, atau dia akan membuat jalan keluar.
"Hiks..i-iya..aku mau.." Jongin menjawab dengan sedikit terisak. Jongin tahu ia tidak akan bisa menolak Sehun. Sama seperti dulu ketika ia menolak ajakan Sehun untuk tinggal di istana. Kini Jongin lagi-lagi tidak bisa menolak Sehun.
"Tunggu aku Kim Jongin. Berjanjilah kau akan menungguku." Sehun memeluk Jongin lagi. Lega setidaknya dia masih punya kesempatan untuk bersama Jongin.
"Terima kasih. Terima kasih Kim Jongin." Sehun memeluk Jongin semakin erat.
—
Sehun sedang membaca sebuah buku ketika Chanyeol masuk kedalam kamarnya. Sehun sedikit mengernyit heran pada Chanyeol yang malam-malam datang ke paviliunnya, namun ia tidak begitu peduli. Mungkin Chanyeol sedang bosan atau sesuatu sedang mengganggu pikirannya. Sehun teringat jika tadi ia mendapat sebuah berita tentang sepupunya, Baekhyun.
"Sehun, kita perlu bicara." Chanyeol mulai berbicara.
"Maaf aku tidak bisa membantumu jika ini tentang Baekhyun." Sehun berbicara tanpa melihat Chanyeol, ia masih sibuk membaca bukunya. Wajah serius yang Chanyeol pasang menunjukkan ada sesuatu genting yang sedang terjadi padanya, dan biasanya itu menyangkut Baekhyun. Sepupunya itu sedang dijodohkan oleh seorang pangeran dari Cina yang akan datang berkunjung beberapa minggu lagi, pasti hal itu yang membuat Chanyeol gundah.
"Aku sudah tahu hal itu dan aku sudah mengatasinya." Sehun menoleh ke arah Chanyeol. Terkejut dengan ucapan yang baru saja Chanyeol katakan. "Bukan tentang Baekhyun yang ingin aku bicarakan. Ini tentangmu."
Sehun menelan ludahnya. Entah mengapa ia merasa sangat gugup melihat wajah tegang Chanyeol. Temannya itu adalah orang yang paling sulit diajak serius tapi kini wajah Chanyeol benar-benar terlihat tidak sedang bergurau. Sehun tiba-tiba teringat dengan Jongin, tidak mungkin kan ini ada hubungannya dengan Jongin? Sehun yakin jika dirinya menutupi identitas Jongin dengan sempurna.
"Tentangku? Aku sudah menyelesaikan hukumanku dengan Guru Choi dan aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan.." Sehun sedikit tegang ketika berbohong pada Chanyeol.
"Ini tentangmu dengan Jongin." Mendengar nama Jongin disebut-sebut membuat makan malamnya terasa naik sampai kerongkongannya lagi. Ketakutannya menjadi nyata, ini memang ada hubungannya dengan Jongin.
"Jo-jongin?"
To Be Continue
Semi jadian ya Sehun sama Jongin wkwk
Semoga memuaskan chapter yang ini hehe
Jangan lupa review, kritik dan sarannya^^
