Disclaimer: Naruto and all its character (c) Masashi Kishimoto
The Little Mermaid (c) Disney Corp.

Warning: SasuNaru. YAOI. SHOUNEN-AI. BOYS LOVE. DON'T LIKE, DON'T READ! GO AHEAD AND FLAME BUT I WON'T CARE! 'A')9

Sorry for the wait, but ENJOY! Don't forget to review. :D


- Merman Melody -


Chapter 4

Pria berambut merah yang mempunyai tato bertuliskan '愛' di keningnya, sedang berjalan di tepian pantai di pagi hari yang sepi sambil membawa satu keranjang penuh ikan mentah yang baru ia beli dari pasar ikan tidak begitu jauh dari tepi pantai. Pria bernama Gaara itu baru pulang dari berbelanja ikan di pasar. Bukan kebiasaan Gaara sebenarnya untuk pergi berbelanja, tapi berhubung kedua saudaranya yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan rumah yang lain, Gaara dengan terpaksa pergi membeli ikan untuk persiapan sarapan.

Gaara memperlambat langkahnya ketika dia melihat sosok pria berkulit tan terdampar di tepi pantai tanpa mengenakan busana. Pria itu terdampar dengan posisi tengkurap dan bagian kaki hingga pinggannya terusap-usap oleh ombak pantai. Gaara memperhatikan sosok itu sambil berjalan menghampirinya. Dia berjongkok disamping pria yang nampaknya kehilangan kesadaran itu lalu menepuk pundaknya.

Tidak ada respon.

Gaara mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Pantai masih sangat sepi. Bahkan matahari pun baru terlihat muncul sebagaian dari arah timur. Tanpa menunjukkan ekspresi yang berlebihan, Gaara dengan santai meletakan keranjang berisi ikan yang ia pegang disamping kemudian melepaskan mantel yang ia gunakan untuk melindunginya dari udara dingin dipagi hari. Gaara perlahan memakaikan jubahnya ke pria malah itu. Gaara pun melingkarkan tangan kanan pria itu ke pundaknya, perlahan membantunya berdiri, sebelum Gaara membawanya pergi bersamanya ke rumah Gaara.


Minato menggeram. Dia marah. Marah dengan keputusan putranya yang bodoh. Sudah berapa kali sih Minato mengatakan pada putra satu-satunya itu bahwa dia melarang bukan karena alasan lain selain khawatir? Beribu-ribu kali mungkin? Kenapa hanya karena dia bertemu dengan seorang pria asing, dia mau membantahnya? Ayahnya! Orang yang selama ini mengurusnya dari kecil hingga dia beranjak remaja.

"Buka pintumu!" perintah Minato dengan gusar begitu dia tiba di depan pintu tempat Orochimaru tinggal.

Dia tahu Naruto pergi ke tempat ini beberapa jam sebelum dirinya sendiri tiba. Dia hanya tidak menyangka bahwa putra kesayangannya benar-benar nekat pergi. Ketika Naruto berseru untuk pergi ke tempat Orochimaru, Minato menyangka bahwa seruannya itu hanya ancaman yang dibuat oleh putranya.

Karena tidak ada jawaban dari dalam tempat tinggal Orochimaru, Minato yang kesabarannya sudah berada dipuncaknya mendobrak pintu depan Orochimaru dengan kibasan ekornya yang kuat. Pintu yang sudah tua itu terbuka dengan kasar dan terdengar dentuman keras ketika daun pintu menabrak dinding di belakangnya.

Mata Minato langsung menatap tajam ke arah Orochimaru yang terlihat dengan santainya mencampur-campurkan beberapa jenis ramuan didalam sebuah kuali kecil dan sesekali mengaduknya. Minato menghampiri Orochimaru dan langsung mencengkeram kedua lengan bagian atas Orochimaru dengan genggamannya.

"Dimana anakku?" tanya Minato dengan gusar.

Orochimaru mengangkat alisnya dan menatap Minato dengan santai. "Oh, Yang Mulia Raja. Sungguh tidak sopan Anda masuk begitu saja tanpa permisi."

Minato menatap Orochimaru dengan murka. "Aku tanya sekali lagi, dimana anakku?"

Orochimaru tersenyum dengan licik, "Apakah aku terlihat seperti orang yang telah menyembunyikkan anakmu ataupun menculiknya, hm?"

Minato menggeram sambil mempererat cengkeramannya, "Jawab saja pertanyaanku!"

Orochimaru masih tersenyum licik, "Entahlah. Mungkin sekarang dia sudah ada diatas permukaan sana dan bertemu dengan orang yang dia cari? Bagaimanapun, dia sudah menukar ekornya dengan sepasang kaki."

Minato menggertakkan giginya dengan kesal, "Kau membiarkan anakku menukarkan ekornya dengan kaki? Kau membiarkannya melakukan hal terkutuk itu?"

Orochimaru mengangkat alisnya, "Well, untuk apa aku mencegahnya?"

Minato menggeram lalu mencengkeram leher Orochimaru.

"K-kau boleh saja membunuh k-ku," suara Orochimaru sedikit tertahan akibat cengkeraman kuat tangan Minato di lehernya, "kalau kau... tidak ingin tau... apa yang akan terjadi pada Naruto."

Minato menatap Orochimaru dengan tatapan yang masih murka. Dia mengencangkan rahangnya sebelum dia menghela nafas dengan berat dan melepaskan cengkeramannya dari leher Orochimaru.

"Jelaskan padaku apa maksud omonganmu!" perintah Minato dengan tegas.

Orochimaru tersenyum licik lagi sambil mengusap-usap lehernya, "Anakmu meminta ramuan untuk menukar ekornya dengan sepasang kaki padaku. Dalam dua minggu, jika dia tidak menentukan ingin jadi apa dia, dia akan mati."

Minato mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu dengan menentukan ingin jadi apa?"

"Sepenuhnya jadi manusia, atau kembali menjadi duyung." Orochimaru masih memasang senyuman licik di wajahnya.

Minato masih terlihat kesal dan marah. Namun dia berusaha sekuat tenaganya untuk tidak murka dan memikirkan semua yang telah terjadi dengan kepala dingin. "Jelaskan padaku, apa yang bisa membuat Naruto kembali menjadi duyung?"

Orochimaru bergerak lebih mendekat ke arah Minato kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Minato. Dia menilik setiap lekuk wajah Minato dengan seksama sebelum berkata, "Kau tahu Minato? Kau memiliki wajah yang tampan, sama persis dengan putramu. Aku ingin menyimpannya sebagai koleksi."

Orochimaru meraih pipi Minato dengan tangannya, dan Minato sontak memalingkan wajahnya.

"Orochimaru!" ujar Minato memperingatkan.

Orochimaru tertawa kecil nan licik lalu kembali menjaga jaraknya dengan Minato. "Dia hanya butuh ciuman dari duyung lain sebelum waktu dua minggu habis."

Tanpa menunggu apapun, Minato lalu membalikkan badannya dan bergegas pergi dari tempat Orochimaru sambil memikirkan perkataan Orochimaru.

"Hanya ciuman cinta sejati yang dapat merubahnya," ucap Orochimaru ketika Minato berenang keluar melewati pintu yang tadi Minato rusak.

Minato tidak menghiraukan perkataan terakhir Orochimaru dan tetap bergerak menjauh.


Sasuke menatap birunya laut dari atas balkon. Angin pagi yang sejuk dan lembut menerpa wajahnya dan membuat poni rambutnya bergoyang-goyang pelan terbawa angin. Dia tengah berpikir. Berpikir apakah benar gadis bernama Ino itu benar-benar orang yang menyelamatkannya. Otaknya berkata bahwa mungkin saja Ino benar-benar orang yang dia cari. Ya, Ino kan memang berrambut kuning dan bermata biru. Dia ingat dengan jelas warna rambut itu dan mata itu. Tapi hatinya berkata lain. Hati kecilnya berkata bahwa Ino bukanlah orang yang ia maksud. Karena setiap kali Sasuke memandang mata Ino, mata Ino tidak sebersinar seperti yang ia ingat.

Sasuke pun merasa ada kejanggalan di ucapan Ino waktu itu. Setega itukah Ino membiarkan Sasuke tergelatak begitu saja di tepi pantai tanpa membawanya ke tempat aman? Terus kalau dia tega meninggalkan Sasuke begitu saja di tepi pantai, untuk apa dia sekarang mengakui bahwa dia yang menyelematkan Sasuke? Apa ada alasan tertentu? Apa karena dia seorang putra kerajaan?

Sasuke tidak tahu jelas apa motif Ino. Tapi entah apa yang Sasuke pikirkan, dia yang dari sewaktu ditemukan selamat ingin sekali bertemu dengan orang yang menyelamatkannya, sekarang setelah bertemu dia malah ingin membuktikan bahwa Ino bukanlah orang itu. Meskipun dia tidak punya bukti dan Sasuke tidak tahu apa yang harus dia jadikan bukti.

Sasuke sempat bertanya pada Kakashi, apakah ada orang lain disekitarnya ketika Kakashi menemukannya di tepi pantai. Dan Kakashi menjawab tidak. Karena memang itu lah kenyataannya. Tidak ada orang lain yang Kakashi lihat pada waktu itu. Hanya tubuh Sasuke yang terdampar di tepi pantai yang Kakashi lihat. Mendengar penjelasan Kakashi, Sasuke mulai berpikir mungkin, mungkin saja, memang tidak ada seorang pun yang menyelamatkannya. Mungkin sosok yang dia lihat hanyalah seorang malaikat atau lebih buruk lagi, hanya sebuah ilusi.

Entah kenapa, Sasuke sama sekali tidak ingin mengakui bahwa gadis itu yang menyelamatkannya.

"Sasuke?" Mikoto menghampiri Sasuke.

Sasuke menoleh ke arah Ibunya, menunjukkan bahwa dia mendengar panggilan Ibunya, namun tidak berkata apa-apa.

"Kau sudah siap?" tanya Mikoto.

Sasuke menatap Ibunya, "Siap untuk apa?"

Mikoto mengangkat alisnya kemudian tersenyum, "Kau lupa? Hari ini kan kau akan menemani Ino untuk pergi ke tengah kota di pulau ini? Kau ingat? Untuk sekedar saling mengenal."

Sasuke terdiam. Dia baru ingat, bahwa semalam saat keluarga Sasuke dan Ino sedang makan makanan penutup di jam makan malam, Mikoto menyarankan Sasuke dan Ino untuk pergi berdua. Tujuannya adalah untuk saling mengenal dan supaya Sasuke lebih mengenal tempat-tempat di pulau ini.

Sasuke menatap Ibunya tanpa ekspresi.

Mikoto menghala nafas, "Ayolah Sasuke. Kau tidak mungkin diam saja di kamarmu ini kan? Kita belum bisa kembali ke Istana. Kapal kita masih diperbaiki, belum lagi masih banyak awak kapal yang masih dalam proses penyembuhan akibat cedera sewaktu menghadapi badai. Kau juga tidak bisa berlatih cara menggunakan pedang disini."

Sasuke mengalihkan pandangannya lalu berbalik masuk ke kamarnya lagi. "Aku akan bersiap-siap." Ucapnya kemudian.

Mikoto tersenyum senang, "Nah, begitu kan bagus."


Naruto terhentak dan terbangun dari posisi tidurnya. Dia duduk di atas sebuah ranjang yang tidak ia kenali. Ia menoleh ke arah sekelilingnya, dan dia juga menyadari bahwa dia di tempat yang tidak ia kenali. Dia pun sudah mengenakan piyama berwarna coklat. Seperti mengingat sesuatu, matanya terbelalak dan dia langsung menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Mulutnya ternganga dan dia langsung meraba kakinya. Merasa tidak percaya bahwa ekornya benar-benar sudah terganti oleh sepasang kaki yang selaras dengan warna kulitnya.

Naruto tersenyum lebar dengan girangnya, lupa akan kenyataan bahwa ada kemungkinan kalau dia tidak bisa kembali lagi menjadi seorang duyung. Dia memegangi lagi kakinya mencubitnya, dan sedikit menamparnya. Mencoba menyatakan pada dirinya sendiri bahwa itu adalah kaki sungguhan.

'Kiba pasti akan terkejut melihat ini.' Ujar Naruto dalam hati dengan senangnya.

Naruto kemudian terdiam secara tiba-tiba. 'Kiba...' Ekspresinya seketika berubah begitu dia mengingat sahabatnya itu. Dia pun mengingat bahwa dia berada disini, di tempat yang dia tidak kenali, itu bukan untuk bermain-main. Dia sudah mengambil keputusan untuk pergi mencari pria berambut hitam itu, mengatakan yang sebenarnya, dan kembali lagi ke dasar laut, hidup sebagai duyung selamanya.

Naruto mengencangkan rahangnya begitu dia ingat ucapan Orochimaru bahwa dia akan kehilangan suaranya. Naruto membuka mulutnya dan menggerakan mulutnya. Mulutnya bergerak dan membentukkan ucapan, 'Halo'. Tapi tidak ada sama sekali pun suara yang keluar dari tenggorokan Naruto. Naruto menghela nafas kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

Ruangan yang di dominasi dengan warna krem seperti warna pasir itu terlihat sedikit gelap karena satu-satunya jendela yang merupakan sumber cahaya dari kamar itu masih tertutup oleh tirai. Naruto pun bertanya-tanya dimana sebenernya dia berada. Yang jelas, dia bukan didasar laut lagi. Karena dia tahu, dia tidak bisa merasakan ada air disekitarnya.

'Aku harus mencari tahu.' Ucapnya dalam hati lalu menatap kakinya. 'Bagaimana aku bisa menggerakkan kaki ini?' Naruto memiringkan kepalanya sedikit ke arah kanan.

Dia mencoba menggerakan kedua kakinya ke samping. Kedua kaki itu pun bergerak sesuai apa yang pikiran Naruto perintahkan. Hanya saja gerakannya masih terlihat kaku. Naruto merubah posisi duduknya menjadi duduk ditepian kasur. Dia menyentuhkan telapak kakinya ke lantai dibawahnya. Naruto mengangkat alisnya begitu dia merasakan sensasi dingin dari lantai yang baru ia rasakan.

'Jadi ini rasanya bisa merasakan lantai dengan kaki?' Naruto tertawa pada dirinya sendiri.

Dia menghela nafas lalu meletakkan telapak tangannya di masing-masing samping bokongnya. Mencoba membuat tangannya sebagai topangan untuknya berdiri. Perlahan-lahan Naruto berdiri diatas kakinya. Merentangkah kedua tangannya kesamping, untuk menjaga keseimbangan.

'Ini tidak mungkin lebih sulit dari menggerakkan ekor, kan?' Naruto bertanya pada dirinya sendiri sebelum dia mencoba menggerakkan kaki kanannya.

Mungkin karena belum terbiasa dengan sepasang kaki, Naruto merasakan kakinya sangat berat untuk digerakkan. Dia mengangkat kaki kanannya kemudian mencoba melangkahkannya ke depan. Kaki yang terasa berat itu seolah menolak untuk bergerak dan ketika Naruto melangkahkan kaki kanannya selangkah ke depan, Naruto tiba merasakan bagaikan telapak kakinya tertusuk jarum. Karena kaget, Naruto kehilangan keseimbangan kemudian jatuh mengeluarkan suara yang berisik.

Mendengar suara yang berisik itu, Gaara yang baru saja selesai sarapan bersama kedua saudaranya langsung menoleh kearah pintu kamarnya.

"Suara apa itu?" tanya Temari, saudara perempuan Gaara.

"Mungkin orang yang Gaara bawa sudah bangun." Jawab Kankuro, saudara laki-laki Gaara yang bekerja sebagai pengrajin boneka, sambil memasang sebuah kaki ke perempuan yang sedang ia kerjakan.

Gaara lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke kamarnya. Dia membuka pintu lalu menatap Naruto yang terbaring di lantai. Mendengar pintu terbuka, Naruto menengadahkan kepalanya ke arah Gaara dan memandang Gaara yang masih menatapnya tanpa ekspresi. Naruto perlahan bangun dari posisi tengkurapnya lalu duduk di lantai. Dia memandang Gaara lagi dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya sebelum kembali menatap Gaara dan memiringkan kepalanya. Diam-diam bertanya dimana dirinya berada dan apakah ini kamar Gaara?

Gaara masih saja memandang Naruto, merasa tidak mengerti apa yang Naruto maksud. "Kau tidak bia bicara?" tanya Gaara dengan nada yang dingin.

Naruto mengangguk pelan.

"Dia sudah bangun?" tanya Temari yang tiba-tiba muncul di belakang Gaara. "Woo.. Dia tampan juga." Ucapnya sebelum menghampiri Naruto dan berjongkok di depannya.

Temari memperhatikan Naruto dan menatap matanya, "Matamu biru sekali. Seperti warna lautan."

Naruto hanya mengedip-ngedipkan matanya lalu tersenyum kecil. Sedikit merasa tidak nyaman dengan Temari yang tiba-tiba saja mendekatinya.

"Aku Temari," Temari meraih tangan Naruto dan menjabat tangan kanannya, "Siapa namamu? Kenapa kau terdampar di tepi pantai tanpa mengenakan apa-pun?"

Naruto membuka mulutnya kemudian menutupnya lagi, mengingat bahwa dia tidak mempunyai suara untuk menjawab pertanyaan Temari.

"Dia tidak bisa bicara, Temari." Ucap Gaara yang masih diam di ambang pintu.

Temari menoleh ke arah Gaara untuk sejenak lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto. "Apa itu benar?"

Naruto terdiam sejenak lalu mengangguk.

Temari berhenti memegang tangan Naruto lalu berdiri. Dia berjalan ke arah meja belajar di kamar Gaara lalu mengambil secarik kertas dan balpen. Gaara dan Naruto hanya memperhatikan Temari.

"Kau bisa menulis?" tanya Temari sambil berjalan kembali ke arah Naruto dan berjongkok lagi di depannya.

Naruto mengangguk. Tentu saja duyung pun bisa menulis.

"Coba kau tuliskan siapa namamu. Supaya aku bisa memanggilmu dengan benar." Ucap Temari sambil menyodorkan kertas ke arah Naruto.

Naruto mengambil kertas dan balpen dari tangan Temari kemudian menuliskan namanya di atas kertas sebelum dia menunjukkannya ke Temari.

"Naruto, huh?"

Naruto mengangguk.

"Kau bukan orang dari pulau ini? Aku baru mendengar namamu." Tanya Temari.

Naruto mengangguk lagi, mengiyakan pertanyaan Temari.

"Kau tentu saja bisa berjalan kan?" tanya Temari lagi sambil berdiri.

Naruto mengusap-usap tengkuknya. Dia tidak mungkin bilang dia tidak bisa. Karena manusia-manusia di depannya ini tidak tahu bahwa dia sebenarnya bukan seorang manusia dan dia tidak mungkin memberi tahu mereka bahwa dia seekor duyung yang baru saja mempunyai kaki. Naruto tidak mau mengambil resiko terburuk yang akan dia alami jika orang-orang dihadapannya mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Naruto mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, kau bisa ikut aku ke dapur. Kau pasti lapar, kan?" Temari tersenyum sebelum dia berbalik arah dan berjalan keluar kamar.

Naruto terdiam sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia berpikir bagaimana cara untuknya bisa berjalan dengan sempurna tanpa ada orang yang curiga.

'Ayolah, Naruto. Bayangkan saja kaki ini adalah ekormu. Kau terkenal dengan cara berenangmu yang cepat! Kau pasti bisa berjalan.' Naruto memberi semangat pada dirinya sendiri.

Gaara yang masih diam di tempatnya berdiri hanya memperhatikan Naruto tanpa berkata apa-apa.

Naruto yang tidak terlalu sadar dengan Gaara yang masih memperhatikannya, kemudian menggerakan kakinya. Dia lalu berjongkok dan perlahan berdiri.

'Yosh!' Naruto mengangguk ke dirinya sendiri kemudian melangkahkan kaki kanannya ke depan. Matanya memperhatikan gerakan kakinya yang kaku. Dia tersenyum puas begitu dia tidak merasakan rasa sakit yang sama seperti ketika dia pertama melangkan kakinya. Dia lalu melangkahkan lagi kaki karinya.

"Kau terlihat seperti orang yang baru belajar berjalan." Ucap Gaara.

Naruto sedikit terhentak kaget dengan suara Gaara lalu menoleh kearahnya. Mengedip-ngedipkan matanya. Gaara memandang Naruto untuk sejenak lalu berjalan ke arah Naruto. Tanpa berkata apa-apa, Gaara meraih tangan kiri Naruto dan melingkarkan tangan itu ke pundaknya. Gaara pun membantu Naruto berjalan keluar dari kamar.

Naruto tersenyum kecil, diam-diam mengucapkan terima kasih.


Setelah makan siang, Sasuke dan Ino pergi ke pusat kota di pulau itu. Ino memutuskan untuk membawa Sasuke berkeliling dan menunjukkan beberapa toko yang menjual beberapa senjata seperti pedang, busur panah, atau alat perang lainnya. Oleh katena itu, dihari yang lumayan panas itu, terlihat Sasuke berjalan di belakang Ino yang terlihat girang. Mereka tengah berjalan di daerah pertokoan. Dia menatap punggung Ino. Hatinya maasih menolak bahwa sosok di depannya itu adalah orang yang sudah menyelamatkan hidupnya.

"... Ya kan, Sasuke?" tanya Ino yang sudah berani memanggil Sasuke dengan nama depannya sambil berbalik ke arah Sasuke dan tersenyum kearahnya.

Sasuke menatap Ino, "Kau bicara tentang apa?"

Ino menggembungkan pipinya, cemberut. "Kau tidak mendengarkan aku!"

Sasuke menatap Ino tanpa ekspresi lalu mengalihkan pandangannya ke toko buah didekatnya. Dia berjalan mendekat ke toko itu lalu memilih-milih apel yang dipajang di depan toko. Ino menghampiri Sasuke lalu mengambil apel yang terlihat segar dan menggigitnya.

"Kau tahu aku suka apel? Belikan aku ini, ya?" ucap Ino sambil menggigit apel yang ia peganng lagi.

Sasuke menoleh ke arah Ino dan menatapnya dengan dingin. Ia ingin sekali memukul Ino yang bertingkah seenaknya dan menendangnya. Namun tentu saja bukan karakter seorang Sasuke untuk tiba-tiba murka di depan umum. Oleh karena itu, Sasuke memanggil penjaga toko kemudian memberi beberapa kilogram apel.


Naruto yang diajak oleh Kankuro untuk pergi ke toko peralatan untuk membuat boneka, dengan girangnya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Meskipun dia masih sedikit kaku dalam menggerakan kakinya, namun sekarang dia sudah bisa berjalan seperti manusia biasa. Dia menarik tangan Kankuro dan menunjuk ke sebuah toko yang memajangkan beberapa alat musik di balik jendela.

"Hm? Itu toko alat musik, Naruto. Kau ingin pergi kesana?" tanya Kankuro.

Naruto menoleh ke arah Kankuro dan mengangguk.

Kankuro menatap Naruto untuk sesaat, berpikir untuk apa dia menuturi keinginan Naruto? Toh Naruto bukan siapa-siapa Kankuro, kan? Dia hanya orang asing yang tiba-tiba datang dan menetap di rumahnya. Meskipun dia tidak tahu akan berapa lama Naruto diam di rumahnya. Tapi mata biru Naruto yang berbinar-binar membuat Kankuro tidak tega.

"Kau ingin membeli sesuatu dari toko itu?" tanya Kankuro.

Mulut Naruto membentuk huruf 'o' dan kemudian menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menunjuk toko tadi dan menunjuk matanya segera bergantiaan.

Kankuro mengangkat alisnya, "Kau hanya ingin melihat-lihat?"

Naruto mengangguk, mengiyakan.

"Baiklah kalau begitu. Kau boleh melihat-lihat. Tapi aku tidak bisa menemanimu, ya? Aku akan pergi ke toko peralatan untuk bonekaku. Kau pergi saja kesana dan jangan kemana-mana. Aku tidak ingin Gaara marah padaku karena orang yang dia temukan malah menghilang." Ujar Kankuro.

Naruto mengangkat alisnya tapi mengangguk. Tanpa bertanya lagi, dia kemudian langsung berjalan masuk ke toko alat musik yang ia maksud. Kankuro menatap punggung Naruto untuk beberapa saat kemudian pergi ke tempat tujuannya.

Ketika Kankuro berjalan menuju tempat tujuannya, dia melirik seorang gadis berambut kuning yang terlihat sedang menarik-narik seorang pria berambut hitam. Kankuro hanya mengangkat alisnya dan pergi menjauh.


"Ayo, Sasuke. Aku ingin mengajakmu ke toko baju disebelah sana. Disana banyak juga baju-baju yang pasti cocok untuk seorang pangeran sepertimu." Ino menarik tangan Sasuke sambil berjalan. Menyeret Sasuke untuk ikut bersamanya.

Sasuke menggeram pelan, namun tetap membiarkan Ino menyeretnya pergi. Selama dia belum menemukan bukti bahwa Ino bukanlah orang yang menyelamatkannya, dia tidak bisa sembarangan mencampakkan Ino. Bagaimanapun, Ino adalah orang yang menyelamarkannya. Ya, setidaknya itu yang ada dipikirannya sekarang.

Sasuke menoleh ke arah sebuah toko alat musik begitu dia sekilas melihat seseorang berambut kuning. Dia berhenti berjalan dan menajamkan matanya. Mencoba memperhatikan jendela besar yang memajangkan beberapa alat musik seperti biola, cello, terompet, dan beberapa alat musik lainnya.

"Sasuke! Ayo!" Ino lagi-lagi menarik tangan Sasuke dan membawanya pergi.

Sementara itu, setelah Naruto puas melihat-lihat beberapa alat musik yang sebelumnya belum pernah dia lihat, Naruto keluar dari toko itu dan berhendak menunggu Kankuro di depan toko.

Naruto memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang dihadapannya dan tersenyum kepada beberapa orang yang juga tersenyum padanya.

'Apa ada sesuatu diwajahku? Kenapa orang-orang memandangiku?' Naruto bertanya-tanya dalam hati.

Beberapa lama Naruto menunggu, tiba-tiba ada seorang pria berambut putih kebiru-biruan menghampiri Naruto.

"Hai, kau sendirian?" tanya pria itu sambil tersenyum lebar menunjukkan barisan giginya yang terlihat runcing.

Naruto menatap pria itu, menoleh ke samping kiri dan kanan sebelum dia menunjuk hidungnya sendiri.

Pria didepannya tertawa kecil, "Tentu saja kau, blondy. Siapa lagi?"

Naruto terdiam. Dia bingung bagaimana harus menjawab pria itu. Dia kan tidak bisa berbicara sekarang.

Pria berambut putih itu mengangkat alisnya, "Kenapa kau tidak menjawab?"

Naruto hanya menggelengkan kepalanya, berharap pria dihadapannya mengerti bahwa dia tidak mempunyai suara untuk berbicara.

"Hey, Suigetsu!" teriak seseorang berambut oranye dengan perawakan besar Naruto dan pria di depannya.

"Oy, Juugo! Aku menemukan mangsa yang manis ini." Ujar Suigetsu dengan cengirannya yang khas.

Naruto mengernyit mendengar ucapan Suigetsu. 'Mangsa?'

Juugo menghampiri mereka berdua lalu mengangkat alisnya namun tidak berkata apa-apa.

"Hey, blondy. Aku tanya sekali lagi kenapa kau tidak menjawab? Apa kau sendirian?" Suigetsu mengulang pertanyaan.

Naruto menggelengkan kepalanya lalu menoleh kesamping, mengharapkan ada sesuatu untuk dia jadikan alasan untuk pergi. Dia mempunyai firasat kalau ada sesuatu yang salah dan dia sedang dalam keadaan yang sedikit bahaya.

Suigetsu melangkah mendekat ke arah Naruto sambil tersenyum lebar. "Kau cukup manis untuk ukuran seorang pria, hm? Kenapa kau tidak mau memberitahuku namamu, blondy?"

Naruto mengernyit lalu menatap Suigetsu dengan kesal.

"Owh. Tatapanmu itu hanya membuatku makin ingin membawamu pergi, blondy." Ujar Suigetsu, melangkah mendekat lagi.

Dia lalu meraih tangan Naruto dan mencengkeramnya. Naruto mengeraskan rahangnya kemudian merenggut tangannya kembali, melepaskan cengkeraman Suigetsu. Dia menatap Suigetsu dengan kesal.

"Woh, kau ingin melawan, hm?" Suigetsu menyeringai.

Naruto mendorong badang bagian Suigetsu dengan kuat, membuat Suigetsu tersungkur jatuh. Naruto menjulurkan lidahnya lalu dia berjalan menjauh. Mempercepat langkahnya dan mencoba untuk berlari.

"Juugo! Tangkap dia!" teriak Suigetsu.


Mata kiri Sasuke berkedut. Dia mulai kesal. Entah harus memakan berapa kata-kata, 'Ayo, Sasuke.' lagi, akan membuat Sasuke kehilangan kesabarannya. Dia mengeraskan rahangnya sambil menatap Ino yang sedang memilih-milih jas dengan tatapan yang kesal.

"Juugo! Tangkap dia!" terdengar teriakan seseorang dari luar toko.

Sasuke menoleh kearah jendela, bertanya-tanya siapakah gerangan yang berteriak. Begitu dia menoleh, mata gelapnya menangkap seseorang dengan rambut kuning berlari dengan perlahan melewati toko yang sedang Sasuke dan Ino kunjungi. Sasuke mengernyitkan keningnya dan berjalan keluar toko.

"Aku rasa ini cocok untukmu, Sasuke." Ino menoleh ke arah Sasuke yang ternyata sudah menghilang dari tempatnya berdiri. "Sasuke?"

Yang dicari ternyata sudah berada diluar toko. Dia melihat seorang pria berambut oranye berjalan dengan cepat melewatinya, mengejar seseorang di depannya. Sasuke mendalamkan kernyitannya, merasa penasaran dengan sosok orang yang tengah dikejar.

Mata Sasuke sedikit membesar ketika dia melihat sosok seorang pria berambut kuning. Entah kenapa, tapi nalurinya mengatakan bahwa dia harus ikut mengejar pria itu. Oleh karena itu, Sasukepun bergerak melangkah mengikuti orang berambut oranye. Dia tahu, jika dia mengikuti pria itu, dia pasti akan menemukan pria berambut kuning itu.

"Juugo! Cepat tangkap dia!" teriak seseorang dari belakang Sasuke.

Orang yang bernama Juugo itu mempercepat langkahnya kemudian meraih tangan orang yang ia kejar. Juugo mencengkeram tangan pria malang itu dengan erat. Yang dipegang tangannya kemudian meronta-ronta.

"Suigetsu, pria ini tidak mau diam." Ucap Juugo.

Pria bernama Suigetsu itu berlari menghampiri Juugo.

Sasuke mengikuti Suigetsu lalu bertanya, "Apa yang kalian lakukan?"

Suigetsu menoleh ke arah Sasuke lalu mengangkat alisnya, "Well, siapa ini? Kau mengenal pria ini?" Suigetsu menggerakkan dagunya ke arah Naruto.

Sasuke menatap Naruto lalu terdiam. Sekilas memori ketika Sasuke membuka matanya setelah dia tenggelam dilaut tiba-tiba menghampiri Sasuke. Mata itu, rambut itu, apakah dia?

Sasuke mengedipkan matanya lalu menunjuk ke arah Naruto, "Kau..."


- To be Continued -


A.N: Please, review ~ :)