Semuanya runyam, sangat runyam seolah aku baru saja buta dan kehilangan arah di mana pandanganku berada, yang kuingat, baru saja aku mengetuk pintu rumah Ino dan semua objek di mataku hilang. Hitam, hanya sebuah ruangan gelap dan aku duduk sendiri di atas kayu yang kujadikan alas dudukku. Lalu, sebuah cahaya menyorotku membuatku menyipit perih.

Dan... Tiba-tiba aku membuka mata—langit-langit asing, putih yang membuat mataku perih. "Di mana aku?" lirihku saat merasakan sebuah kasur lumayan keras menjadi alas tidurku.

"Rumah sakit." napasku tercekat, wajahku memiring ke kanan dan melihat seorang pria yang tak aku kenali—bermata amethyst dan rambut panjang, cantik, batinku. Hanya saja, sepertinya ia pria, terbukti suaranya yang dalam dan berat, namun melihat wajahnya perasaan benciku meluap saat melihat kemiripan wajah dengan 'sosok itu', menenguk kekesalan pelan, bagaimana pun ia terlihat baik.

Aku tersenyum kecut, jadi, aku kembali ke rumah sakit—lagi? Apa karena alasan yang sama?

Aku duduk dan menyender di kepala kasur—dengan bantuan pria yang tak kukenal, merasa malu sebenarnya. Aku tak mengenalinya dan dia tentunya tak mengenaliku. Aku cukup tertegun karena ia cukup pengertian.

"Jangan memaksakan kondisimu, jangan terlalu lelah." dingin, namun memberiku sebuah rasa hangat tersendiri, aku merunduk, lalu apa alasannya hingga aku masuk lagi kerumah sakit? Apa...

"Janinmu lemah, apalagi diusia mudamu, 19 tahun eh?" tanyanya, aku merunduk dalam, semakin malu merasa kata-katanya menusukku. Entah kenapa...

Inilah, yang aku takutkan, aku berharap semoga ia adalah orang pertama dan terakhir yang mengetahuinya—jika tidak, aku tak bisa membayangkan ke depannya. Aku mendongak pelan dan menatap kosong sosok pria cantik itu yang terduduk di sisiku dengan mimik tenangnya.

"Hyuuga Neji."

Aku meneguk ludah, Hyuuga? Apaa... Ah tidak!

"Haruno Sakura."

Pria itu menarik sudut bibirnya dan aku kembali menunduk.

"Aku sudah tahu dari tanda pengenalmu, maaf telah lancanh," katanya dan dia meraih segelas air putih di nakas dan menyodorkannya padaku. Aku mengangguk menerima permintaan maafnya, kemudian lekas meraih gelas dan meminumnya beberapa teguk.

"Janinmu... 2 bulan, lemah karena beban pikiranmu dan mana suamimu?" tanganku meremas leher gelas, rasanya ingin aku menelan gelas ini hingga mulutku berdarah membuatnya tahu seberapa tak inginnya aku mengatakan siapa ayah biolgis dari janin ini.

Mataku menggenang, kilasan, banyak kilasan berat yang kualami dan aku menutupmya rapat seolah hal itu adalah aib besar dan sebuah 'sampah busuk' yang harus aku sembunyikan. Menyeringai miris dan mata yang tetap memandang buku-buku jariku yang memutih, "mati, ayahnya sudah mati!" kataku seperti gadis yang gila dan aku sudah gila—tentunya karena beban hidupku.

Pria bernama Neji hanya menghela napas berat dan menepuk kepalaku berulang-ulang, "aku turut berduka, dan ingat tak baik berlarut dalam duka mengingat kau sudah tak lagi 'sendiri' ada sosok kecil yang membutuhkan perhatianmu." kata itu membuatku terperangah, ia tersenyum kecil dan aku memandang dua manik mutiaranya yang berkilat-kilat...

"Ya." hanya itu yang terlontar dari dua bibirku.

Suara derit kaki kursi dan lantai terdengar bebarengan dengan Neji yang berdiri. Ia meraih gelas yang setia kugenggam dan menaruhnya di tempat semula.

"Istirahatlah... Administrasinya sudah teman pirangmu urusi, tak perlu sungkan dan sepertinya teman pirangmu tengah berjalan kamari." yeah, ia pergi dengan langkah ringan dan tak lama sosok pirang datang dengan sebungkus makanan manis.

"Baikan?" tanyanya, aku mengangguk. Lalu ia duduk di sisiku, memandangku dalam dan aku meneguk ludah, aku merasa hawa yang tak enak.

"Siapa ayah dari janinmu, Sakura?" napasku tercekat, seolah laring membuat sebuah sumpal baru di sana, yang kutahu, ia tampak lebih frustasi daripada aku yang menerima beban berat ini.

"Kau akan tahu siapa dia," bisikku ikit-ikutan merasa tertekan dengannya. Dia mendesah.

"Siapa pun dia, dia harus bertanggung jawab!" tekannya, aku menjadi gusar. Bagaimana tidak, 'dia' hanya menjadikanku sebagai penyalur kepuasannya dan 'dia' juga hanya beranggapan aku ini hanyalah sebuah boneka dan kesenangnya sesaat, lalu dibuang, mana mungkin ia bertanggung jawab?! Miris bukan?

Membuang wajah dan aku baru tahu jika ruanganku saat ini berada di lantai dua—aku melihat parkiran rumah sakit dan jejeran kendaraan. Ino terlihat menghela napas berat.

"Kau tidak memberitahuku? Baiklah, aku akan mencari siapa 'si brengsek' itu yang menanamkan benihnya di perutmu!" pekiknya. Aku menahan napas dan menatapnya dengan mata kosong. Harapanku, hanya hidup tenang, tidak dengan 'beban' baru yang banyak ditunggu pasangan suami-isteri setelah berumah tangga dan dengan mudahnya janin itu hidup bersarang di perutku.

Aku menunduk dan menatap selimut putih yang membaluti perutku, memandang iba sesuatu yang telah memiliki jantung di sana, "Sasuke... Uchiha Sasuke..." nama itu nyaris tertelan di tenggorokkan sebab aku takut mengatakannya.

Aku melirik takut Ino, ia mendesah berat, "Sasuke? Bukankah pria itu yang memesan hampir seluruh bunga di toko kita?" mataku menyipit...

Ino mengguncangkan bahuku, menyadarkanku, "dia! Dia yang kukatakan kemarin! Klien asal Ame yang akan menikah! Ingat!" mataku membulat dan dadaku membuncah nyeri, terasa ribuan jarum menancap dalam. Mataku menggeneng, aku sedih untuk diriku sendiri...

...sudah kuingatkan, aku hanyalah mainan yang akan dibuang, lalu kemarin ia tak semata-mata untuk mengunjungiku—ternyata untuk membeli bunga di toko milik Ino untuk dekor hari pernikahan..., ternyata... Ia sudah benar-benar serius dengan wanita itu.

Ino terisak, aku termenung, ia lebih kasihan pada diriku dan aku lebih kasihan pada anakku, belum saja menghirup satu mili kubik pun udara, ia sudah dianggap sebuah kata 'semu' yang mungkin memang si brengsek itu tak sadari.

"Hiks! Sakura... Seharusnya kau-kau mengatakannya padaku! Hiks..., agar aku hiks—bisa memotong penisnya hiks!" Ino senggukkan dan aku hanya mengelus kepalanya pelan, aku rasa malah ingin tertawa akibat ucapan frontalnya.

"Sudahlah Ino..."

Ino menyusut air matanya dan memandangku penuh kilat kemarahan, "ini tak adil Sakura! Tak adil! Kita harus memberinya pelajaran! Setimpal dengan penderitaan yang telah menimpamu!" tegasnya provokator, hanya sajaaa..., aku tak berminat dan lebih mengibarkan bendera putih dengan mundur teratur seraya berkata...

"Tidak Ino, biarkan Tuhan memberi karma untuknya, Tuhan lebih tahu hukuman apa yang pas untuknya!" gumamku. Ino mengangguk pelan.

"Ya!"

'Semoga saja ia lekas mati!' batinku berapi-api...

"Aku membencimu... Uchiha," kata itu meluncur seiring suaraku yang melirih dan aku menangis, merasa pertahananku hancur kala mengusap perutku, perut yang berisi sebuah kehidupan...

-0-0-0-0-0-0-

Tiga hari terlewati, setelah aku menginap di sana dan memandang malas teve yang ada di ruangan inapku, moodku semakin hancur kala di teve menayangkan siaran ulang si brengsek yang menikah dengan wanita sok polos itu—mereka terkenal tentu, siapa yang tak tahu keluarga Uchiha dan Hyuuga? Rasanya aku ingin membenturkan apa saja dan mengenai dua kepala 'gelap' itu hingga ia tahu betapa mirisnya aku di sini!

Menghela napas dan mengelus perutku, aku mematikan teve dan melihat Ino datang dengan membawa sosok pria tegap dan wajah tanpa emosi di gandengannya. Tanpa perlu berkata aku sudah tahu jika pria ini bernama Sai—aku melihat nametagnya di seragam militer milik pria klimis itu.

"Kau boleh pulang Sakura. Bagaimana jika kau menginap di rumahku dulu, pasti merepotkan dengan kondisimu," sahut Ino sambil duduk bersisian dengan Sai.

"Ah, dia Sai, kekasihku. Dan Sai ini Sakura sahabat yang sudah kuanggap seperti adikku." tanganku terjulur dan Sai meraihnya. Aku melepasnya cepat dan kembali menatap Ino yang memandangku dengan alis yang terangkat satu.

"Bagaimana? Mau?" aku hanya mengangguk pelan dan mengiyakan permintaannya.

"Baiklah Sai, bisa bantu kami merapihkan barang-barang milik Sakura?" Sai si klimis mengangguk tanpa bicara dan mulai merapihkan barang bawaan milikku.

-0-0-0-0-0-0-

Topik yang sama setelah aku pulang dari rumah sakit dan duduk di atas sofa beludru rumah Ino.

"Perutmu tak bisa selamanya kau tutupi, kandunganku semakin membesar, apa kata warga Sakura? Terlebih kita tinggal di tempat pedesaan semacam ini? Hamil di luar penikahan hal tabu bukan?" Ino kembali mengulang pertanyaan tadi dan aku cukup melipat tangan di atas perut seolah bisa menyembunyikan kandunganku selama mungkin.

Aku berdecak, "lalu aku harus bagaimana?"

Ino tampak berpikir keras, lalu wajahnya menyendu membuatku takut sendiri. "Aku tahu ini ide gila, tapi siapa tahu ini memang takdir Sakura... Aku juga mengorbankan banyak hal... Tolong Sakura, terima 'ini' sebagai hadiah untuk adik yang kusayangi..."

Ino membuang wajah dan menatap sebuah cincin perak di atas meja—aku baru tahu ada cincin di sana, bibirnya terbuka, "menikahlah dengan Sai, dia tak keberatan jika hanya membawa nama keluarganya sebagai identitasmu dan anakmu kelak, hanya simbolis untuk membuang prasangka... Setelah anakmu lahir kau bercerai dengannya..."

Peluru, sebuah peluru dingin namun panas telak menembak kesadaranku hilang hingga jantungku seakan teremas keras—aku tahu ini berlebihan, tapi apakah Ino tidak berlebihan? Astaga...

"SAKURAAA!" dan itu adalah kata terakhir yang kudengar berdenging di telingaku... Hidupku semakin rumit.

-0-0-0-0-0-0-

Bersambung~

-0-0-0-0-0-0-

Note :

Bagaimana wankawan? Langsung masalah bukan? Hahahahaha~ jan tegang... Masalah makin banyak setiap chap nambah...

Fiuuh~ *lap keringat* well, aku lagi mood buat ngetik red rose, jadi... Taraaaaa, kalo ancur, jangan nyalahin aku, nyalahin diri Vanya yang begoknya sampe terkenal ke galaksi orion...

Jadi untuk chap ini... Mana suaraaaanya?

Teriaaak AAAAAAAA!