Waktu kecil, kupikir aku tak akan bisa hidup bila tidak bersama Kak Alexiel.
Setelah berhasil menangkap Lucifen, aku tak lagi dapat mengenali tempatku berada. Malam yang pekat, malam yang mengaburkan semua pandanganku terhadap hutan yang kumasuki. Jarak pandangku begitu minim, hanya terlihat pohon-pohon besar yang berdiri rapat nan kokoh. Rumput-rumput yang menghampar di bawah kakiku terlihat sama, gemerisik lembut seakan tak ada jebakan apapun. Rasanya kalau aku melangkah sedikit saja, aku akan jatuh ke dalam lubang tak berdasar.
Apakah aku … tidak akan bisa keluar dari sini?
Lututku terasa gemetar, hingga aku tak dapat menopang tubuhku berdiri. Seketika, aku jatuh terduduk, memeluk Lucifen yang tampak lelah dan bingung seraya terisak. Saat ini, hanya ia satu-satunya yang ada di sisiku, namun hal itu tak dapat membuatku tenang. Bagaimanapun, aku ingin ada seseorang di sisiku, yang begitu dapat kuandalkan, tak takut akan bahaya, sehingga bisa menemaniku yang cengeng ini dan menuntunku keluar dari jeruji malam yang menyekapku.
Tolong aku … tolong aku, Kak Alexiel!
Aku tak ingin sampai benar-benar terpisah dari Kakak!
"Apa kamu … tersesat?"
Aku yang tadinya tak dapat melihat dan mendengar apa-apa, akhirnya dapat menangkap suara dan cahaya. Kuangkat kepalaku, mendongak menatap lidah api obor yang menari-nari. Wajah cantik sang pemegang obor bersuara lembut itu akhirnya tampak di balik gelapnya malam. Dengan kulit yang sepucat daging buah pir, mata yang semerah selai cranberry, rambut yang seputih saus béchamel, sekilas ia terlihat seperti makhluk astral yang menakutkan. Namun, aku dapat merasakan ketulusan hatinya saat ia memasang senyum ramah, dan seketika kegelisahanku berkurang. Setidaknya, aku tak lagi merasa sendiri.
"Apa kamu baik-baik saja?" Wanita yang tampaknya baru beranjak dewasa itu berjongkok di sampingku. "Kamu dari mana? Kenapa bisa berada di sini malam-malam begini? Dan …" Tatapannya jatuh ke lenganku yang berdarah. "… astaga! Kenapa kamu bisa terluka?"
"A-Aku … dari sana …" Aku menunjuk arah datangku yang dapat kuingat. Jawaban yang sama sekali tak membantu, karena tak peduli aku menunjuk arah apapun, yang kutunjuk hanya sebaris pohon besar berdaun lebat. Kemudian, aku menunjukkan Lucifen yang meringkuk di pangkuanku. "Aku sempat terperosok ketika mengejar ia. Untung saja tanahnya landai …"
"Meski begitu, itu tetaplah tindakan yang ceroboh," ujarnya cemas, lalu menghela napas. "Kamu dan kucingmu pasti kedinginan, terlebih luka-lukamu cukup banyak. Bagaimana kalau kalian ikut denganku? Bisa berjalan? Apakah kakimu terkilir?"
Aku cepat-cepat menggeleng menanggapi pertanyaan terakhirnya. "Terima kasih, tetapi besok … apa kami bisa keluar dari sini?"
Sesaat ia terdiam. Sorot matanya tampak sedih dan bingung, membuatku tercengang sesaat. Cepat-cepat ia memasang senyum lembut, kemudian menarik tanganku agar berdiri bersamanya. "Kita pikirkan itu nanti. Sekarang, lebih baik kamu bermalam dulu di tempat yang aman."
Sementara satu tanganku memeluk Lucifen, tanganku yang lain digenggam olehnya yang menuntunku menyusuri hutan. Meski langkahku semakin jauh dari arah kedatanganku, aku tak berniat kabur darinya. Aku yang kecil dan cengeng ini tidak akan mungkin berjalan sendiri, sehingga bila ada orang sepertinya yang menemaniku, aku merasa bisa berjalan dalam situasi apapun. Orang yang kuat dan dapat diandalkan, orang yang ramah dan baik hati, orang dewasa yang mau menerimaku dengan tangan terbuka.
Di malam itulah, aku bertemu seorang kakak yang tak akan pernah kulupakan.
Kak Clarith.
Story of Evil Reverse ~ Ai no Kanashimi ~
Story of Evil © Mothy/Akuno-P
Warnings: OOC, AR
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini. Ini hanya diperuntukkan sebagai pelampiasan hobi semata.
.
.
.
Nah, mari biarkan hati Anda membaca.
.
.
.
Stage III – Part α
Riliane
Begitu pagi menjelang, aku ditakdirkan tinggal bersama Kak Clarith.
Rumah kayu yang kecil, sedikit reyot, namun sejuk karena berada di tengah hutan. Karena rumah itu selau dinaungi pohon-pohon lebat, aku sampai lupa rasanya disengat sinar matahari. Di sudut hamparan rumput yang menopang rumah itu, ada sepetak taman kecil yang mengagumkan. Bunga-bunga hutan, seperti anggrek dan lili, ditata dengan apik dan menyegarkan mata. Tak jauh dari rumah kayu itu, ada sumur kecil nan dalam yang digali oleh Kak Clarith sendiri. Terkesan sepi memang, namun kicauan burung-burung yang selalu datang mematuk buah suguhan Kak Clarith cukup untuk meramaikan suasana.
Damainya … tidak seperti di istanaku.
Setiap hari, aku mengekor Kak Clarith. Memasak, mencuci, menimba air di sumur, membersihkan rumah, mencari makanan, menjahit, juga berkebun. Aku belajar banyak hal yang biasa dilakukan oleh pelayan dan rakyat jelata, hingga terkadang aku lupa bahwa aku seorang putri. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kemampuanku meningkat, hingga aku tak perlu lagi harus ditemani Kak Clarith setiap kali melakukan sesuatu. Aku tidak perlu lagi salah memetik buah yang ternyata beracun ataupun salah memegang gunting taman hingga menggunting gaunku sendiri.
Aku tak menduga kalau Kak Clarith yang anggun itu ternyata pintar bermain pedang. Aku hanya dapat menganga ketika suatu hari aku memergokinya mengikir sebatang kayu dengan pisau, menjadikannya pedang, lalu memberikannya padaku. Tiba-tiba saja, aku yang kecil dan lemah ini ditantang bertarung, terlebih oleh Kak Clarith yang kemampuannya tak diragukan lagi. Tentu saja, aku langsung tepar hanya dengan acungan pedang kayu Kak Clarith, lalu merengek-rengek karena takut bertarung. Namun Kak Clarith tak peduli. Ia terus mengajariku berbagai teknik dan mengadakan simulasi, terus memompa semangatku hingga dapat memupuskan ketakutanku. Akhirnya, minatku terhadap keahlian ini tumbuh, dan aku terus mengasahnya tanpa henti, hingga aku dapat mengacungkan pedang kayuku ke wajah Kak Clarith saat umurku tiga belas tahun.
Terkadang, aku merindukan rasanya melihat langit luas tanpa terhalang oleh rimbunnya hutan. Maka, kadang aku bertindak nekat, yaitu memanjat pohon tertinggi yang tak jauh dari rumah Kak Clarith. Menduduki cabang tertinggi yang kokoh, selain dapat melihat langit tanpa dihujani sinar matahari, aku juga dapak melihat pucuk atap menara kerajaanku. Biarlah aku tidak dapat melihat seluruh Kerajaan Lucifenia. Setidaknya, dengan ini, aku merasa lebih dekat dengan istana.
Dan juga, saudaraku yang paling aku sayangi.
Dalam hati, aku bertanya pada alam. Bagaimana kabar Kerajaan Lucifenia? Apakah semakin kaya seperti yang selalu kulihat sebelumnya? Semakin kuat, kah? Semakin indah, kah? Bagaimana kabar orang-orang di istana? Apakah mereka sudah menyerah untuk mencariku? Lalu, bagaimana dengan Kak Alexiel? Bagaimana dengan keseharian kakakku setelah aku terpisah darinya?
Dan, bagaimana reaksinya jika aku dapat kembali bertemu dengannya?
"Barangkali kamu akan menjadi putri paling gagah yang pernah kukenal."
Mendadak ucapan Kak Clarith saat itu terbesit di kepalaku, saat aku sudah berhasil menepiskan pedang kayu Kak Clarith dari tangannya dengan pedang kayuku.
"Aku yakin, semua akan terkejut melihat dirimu sekarang, Riliane. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang putri, yang sudah sewajarnya lemah dan manja, bisa sekuat dan semandiri dirimu."
Aku tahu Kak Clarith sungguh-sungguh mengucapkannya, tetapi aku tetap tak bisa menahan tawa dalam hati. Lucu rasanya bila orang-orang melihatku sebagai putri gagah dan bukan sebagai putri anggun. Barangkali tidak ada lelaki yang berani meminangku karena takut padaku. Tetapi, aku menyukai diriku yang sekarang, diriku yang sudah bertahun-tahun terasing dari istana, terisolasi di tempat asing nan menyeramkan, dan menghadapi bahaya setiap hari. Dengan begini, aku tidak perlu lagi dijaga begitu ketat oleh para prajurit, bahkan mungkin aku dapat melindungi Kak Alexiel, saat ia sudah memikul takdirnya sebagai salah satu harapan dunia.
Kakak, ayo kita berjanji.
Sampai waktunya kita dapat bertemu kembali, kita harus mengembangkan diri masing-masing.
Kita adalah harapan dunia.
Semoga lonceng menara memberkati kita untuk menjadi orang yang hebat.
Tetapi, entah kenapa, kenyataan yang ingin kukubur dalam-dalam kembali membuncah di hatiku. Kenyataan yang sampai saat ini tak dapat kupungkiri, kenyataan yang selalu menjatuhkan harapanku untuk kembali dari tempat ini.
"Maaf, Riliane …" Masih di saat yang sama, Kak Clarith berujar pelan dengan wajah sendu, "Kamu harus bernasib sama sepertiku, terjebak di tempat ini."
"Kak Clarith …" Aku menurunkan pedangku dengan wajah kebingungan. "Kak Clarith jangan berpikiran seperti itu. Suatu saat kita pasti menemukan jalan keluarnya …"
"Tetapi tidak di hutan lebat seperti ini, Riliane! Kita tak akan bisa melakukan apa-apa untuk keluar dari sini! " bantah Kak Clarith gusar. Aku terhenyak, terlebih oleh air mata yang mulai bergulir membasahi pipinya. "Maafkan aku, Riliane … aku tak dapat mengeluarkanmu dari sini. Aku tak tahu bagaimana harus mencari jalan keluar itu. Andai saja takdir berkata lain ... andai saja aku menjadi lebih kuat … mungkin kamu … akan segera mendapatkan kembali kebahagianmu di kerajaan sana."
"Kakak!" Aku menjatuhkan pedangku dan berlari memeluk Kak Clarith. Kak Clarith sampai terbungkuk akibat tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku. "Ini bukan salah Kakak!" Tanpa bisa ditahan, air mataku juga ikut jatuh. "Kakak jangan menyalahkan diri sendiri. Ini tak seperti yang Kakak pikirkan. Aku … aku …"
"Maafkan aku …" Kak Clarith seakan menutup telinganya, hingga tak menggubris kata-kataku. Ia hanya terus mengulang-ulang sepatah dua patah kata itu dengan suara bergetar, hingga tubuhnya terasa berat, seakan bisa jatuh kapan saja. Aku yang kecil ini tak akan kuat menahan tubuhnya, juga mendengarkan seluruh isi hatinya yang memilukan. Kata-kata yang kini Kak Clarith lontarkan terasa magis di telingaku, seakan telah menghentikan waktuku, hingga aku hanya dapat membeku di tempat.
"Maafkan aku, maafkan aku, maaf … maaf …"
Sejak saat itu, kata 'maaf' Kak Clarith menjadi salah satu hal yang paling kutakutkan.
Sejak saat itu pula, tekadku untuk kembali bersama Kak Alexiel selalu goyah.
Kak Alexiel …
… benarkah kita … tak akan dapat bertemu kembali?
-Ai no Kanashimi-
Menunggu takdir itu sungguh menyakitkan.
Hari esok selalu sama dengan kemarin, hidup damai di hutan dan bekerja keras. Aku terus mengulang rutinitas yang sama, hari demi hari, hingga terasa monoton. Meski begitu, kemampuanku semakin meningkat, hingga bisa dibilang aku dapat melakukan apa saja, termasuk memanjat pohon. Tiada hari aku melewatkan saat aku duduk di cabang pohon tertinggi dan memendam rindu yang amat sangat dengan istana …
… hingga aku berumur enam belas tahun.
Teng, teng, teng!
Suara lonceng yang familier terdengar di telingaku. Aku menengadah menatap langit yang tertutup daun, menikmati angin sepoi di atas cabang pohon yang biasa kududuki. Biasanya, aku senang mendengar dentang lonceng Kerajaan Lucifenia yang membuatku merasa sepertidi istana, namun beberapa bulan terakhir ini, setiap kali aku mendengar dentang bel itu, hatiku menjadi gundah …
… karena hari itu, sekitar setengah tahun yang lalu …
… di hari ulang tahunku dan Kak Alexiel.
Teng, teng, teng!
Seperti biasa, aku mendengarkan lonceng tersebut seraya duduk dan menggoyangkan kaki di cabang pohon tertinggi. Padahal tidak ada yang berbeda dari dentang lonceng itu, tetapi entah kenapa aku lebih menyukainya. Barangkali aku merasa dentang bel itu sedang memperingati hari ulang tahun kami berdua. Di saat aku menikmati dentang lonceng yang terus bergema itu, mendadak aku teringat sesuatu.
Ini hari ulang tahun kami yang keenam belas.
Artinya …
Seseorang yang dulu senang menyanyikan lagu pengantar tidur untukku dan Kak Alexiel pernah mengatakan hal ini, "Mulailah hari esok dengan mempersiapkan diri kalian untuk menjadi raja dan ratu, Anak-anak. Jangan lupa, di hari ulang tahun kalian yang keenam belas nanti, kalianlah yang akan menggantikan posisiku."
Artinya, sekarang … Kak Alexiel dinobatkan sebagai raja?
Janji yang kubuat sendiri itu akhirnya dipenuhi oleh Kak Alexiel. Ia telah membuktikan dirinya sebagai orang hebat, hingga mendapatkan posisi yang paling menguntungkan, paling ditakuti, namun paling berat dan paling mengancam nyawanya. Aku tak tahu bagaimana usaha dan persiapan Kak Alexiel demi mengemban posisi raja, namun aku tahu betapa beratnya melakukan semua itu. Kini, semua usahanya telah terbayar, sekaligus memberinya tanggung jawab baru. Tanggung jawab yang memaksa dirinya untuk selalu bertaruh, mengenyahkan nasib buruk, serta mengorbankan segalanya.
Kak Alexiel, kakak kembarku yang paling aku sayangi, kini telah menjadi raja, tiang harapan Kerajaan Lucifenia, juga salah satu harapan dunia.
Lalu bagaimana denganku?
Apakah aku masih harus tetap menunggu di sini?
Sementara Kak Alexiel ibarat burung elang yang telah terbang melintasi laut, aku masih seperti anak burung pipit yang meringkuk di sarang. Keseharianku yang monoton mengukungku untuk berkembang lebih jauh, selain urusan rumah tangga dan berpedang. Aku tak mempelajari ilmu apapun untuk menjadi seorang penerus: politik, ekonomi … oh, apa sajalah. Aku sama sekali tak terlatih untuk mengurusi pemerintahan dan berpikir cermat saat menghadapi situasi yang tak terduga. Jangankan itu, aku bahkan tak tahu keadaan Kerajaan Lucifenia sekarang, selain tahu bahwa makhota kerajaan telah tersemat di kepala Kak Alexiel.
Aku … sama sekali tak pantas menjadi ratu, bukan?
Karena itu, maafkanlah aku … karena tak bisa memenuhi harapanmu.
Tetapi, aku tidak ingin terus di sini. Aku berjanji akan segera kembali. Bagaimanapun, aku ingin kembali tinggal bersama Kak Alexiel. Hanya ia yang memiliki darah yang sama denganku, hanya ia, tidak ada yang lain lagi.
Karena semuanya sudah menghilang …
Kak Alexiel, tunggulah aku.
Aku pasti akan dapat keluar dari sini, Kakak!
"Riliane, lagi-lagi kamu di situ!" Sayup-sayup terdengar suara Kak Clarith yang langsung membuyarkan lamunanku. "Ayo turun! Kita akan memasak! Hati-hati turunnya, ya!"
Aku mencondongkan tubuh agar dapat melihat Kak Clarith yang ada di bawah pohon. "Baik, Kak—"
Ucapanku dengan nada ceria yang sedang kulontarkan itu tergantung begitu saja. Entah kenapa begitu melihat wajah Kak Clarith kali ini, ada keraguan lain yang mengambang di hatiku.
Seandainya, seandainya, kalau aku dapat pergi dari sini …
… apakah aku harus meninggalkan Kak Clarith?
-Ai no Kanashimi-
Bukan tanpa alasan aku tidak mengatakannya.
Sembari memikirkan cara agar aku dapat keluar dari sini, aku terus diliputi keraguan. Sebenarnya hal ini sudah biasa dilakukan Kak Clarith, namun aku masih terlalu bodoh untuk dapat menyadarinya. Kini, setelah aku sadar, aku semakin bimbang untuk mengatakan niatku.
Kak Clarith selalu menghindari perbincangan tentang dunia luar.
Ya, aku tak salah. Ia sudah melakukannya dari dulu, walaupun aku hanya sedang mengajaknya berangan-angan tentang keadaan dunia luar setelah kami tinggalkan. Demi meyakinkanku, setelah hari ulang tahunku yang keenam belas, sesekali aku memancingnya dengan membicarakan dunia luar. Apapun itu, seperti festival kerajaan yang selalu kuikuti saat masih kecil, ataupun pelantikan raja baru. Dan sesuai dugaan, Kak Clarith selalu menghindar dengan mengalihkan pembicaraan atau pura-pura tidak mendengar. Meski dugaanku sudah dapat dibuktikan, masih ada satu pertanyaan yang selalu menghantuiku.
"Kenapa?"
Namun percuma. Aku tak berani menanyakannya …
… hingga enam bulan berlalu.
Lalu bagaimana ini?
Aku sangat ingin pulang. Sangat ingin, dan tak bisa dibantah lagi. Tetapi, bagaimana dengan Kak Clarith? Aku tak ingin meninggalkannya. Barangkali Kak Clarith punya trauma dengan suatu hal di dunia luar, dan aku tak dapat membayangkan betapa kesepian dirinya sebelum aku tiba. Mungkin aku terlalu percaya diri dengan mengatakan Kak Clarith akan kembali kesepian bila aku pergi meninggalkannya, namun itu hal yang wajar, bukan?
Seharusnya aku pergi jauh lebih cepat …
Ah, tidak. Sudah terlambat memikirkan hal itu. Terisolasinya aku dari dunia luar adalah takdir yang sudah ditentukan oleh alam, meski penyebabnya adalah kecerobohanku sendiri. Sekarang, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan takdirku sendiri. Aku akan melakukannya, pilihan terakhir yang sedari dulu ragu untuk kuambil.
Maafkan aku, Kak Clarith.
Mungkin aku harus memaksamu.
Kali ini saja, kali ini yang terakhir, aku meminta Kakak menuruti keinginanku.
"Kak Clarith, aku ingin membicarakan sesuatu."
Kak Clarith, yang saat ini menikmati angin sepoi dan langit sore di beranda depan, menoleh padaku seraya tersenyum. "Ada apa, Riliane? Soal apa?"
"Anu …" Aku menautkan jari-jariku, gugup. "Kak Clarith, aku ingin pulang ke Kerajaan Lucifenia."
Sesuai dugaanku, Kak Clarith terkejut. "Eh?"
"Aku masih ingat, Kak Clarith pernah mengatakan padaku kalau tidak ada jalan keluar dari sini. Tetapi sekarang aku tak bisa memercayai hal itu. Aku tak bisa lagi lebih lama di sini. Ada orang yang sudah menungguku," paparku cepat. "Aku tak tahu apakah berhasil atau tidak, tetapi aku akan mencoba mencari jalan keluarnya sendiri."
"Jangan, Riliane!" cegat Kak Clarith. "Ini hutan belantara. Bahaya bila kamu pergi sendirian!"
"Karena itu, aku mengajakmu, Kak Clarith," timpalku dengan sorot mata penuh permohonan. "Kak Clarith, ayo kita pergi sama-sama. Aku tak ingin meninggalkan Kakak sendiri di sini. Kalau kita berhasil pergi ke Kerajaan Lucifenia, hidup kita akan jauh lebih baik. Kita tak perlu hidup sesusah ini, membanting tulang dan mencari makanan hingga jauh dari rumah. Ada banyak pekerjaan yang menjanjikan, bila Kak Clarith tidak ingin bergantung pada istana. Kita akan mempunyai banyak waktu untuk mempelajari banyak hal, Kak Clarith, tanpa harus memikirkan apa-apa lagi." Aku menatap Kak Clarith dalam-dalam, sekuat tenaga membujuknya. "Jadi, Kak Clarith, kumohon, ikutlah denganku."
Kak Clarith tertegun menatapku, yang menatapnya dengan sorot mata penuh permohonan. Sesuai dugaanku, ia tampak bimbang. Bila aku mengatakan hal ini pada orang lain, seharusnya ini menjadi suatu anugerah bagi orang itu. Namun ini Kak Clarith, yang tampak menikmati kehidupannya di hutan, terisolasi dari dunia luar, dan bahkan tak ingin menyentuh dunia luar. Baru kali ini aku menemukan orang yang seperti ini, sehingga aku tak tahu cara menghadapinya.
Tetapi aku tahu …
… Kak Clarith akan selalu mendengarkanku.
"Tidak mau." Kak Clarith menukas seraya membuang muka. "Dunia luar itu menyeramkan."
"Eh?" Aku terhenyak, tak menyangka bahwa Kak Clarith akan menolak, apalagi setegas itu. "Tidak, Kak! Dunia luar itu menjanjikan! Kita bisa hidup berkecukupan di sana—"
"Kamu tak mengerti, Riliane!" potong Kak Clarith sembari menyentakkan wajahnya menghadapku. "Hal-hal buruk di luar sana jauh lebih banyak daripada hal baik! Bahkan sebenarnya, dunia luar itu pemilih! Dunia luar selalu mengutuk orang-orang lemah tak berdosa untuk merasakan apa yang kita sebut 'neraka dunia'! Kalau kamu pikir hukum rimba hanya terjadi di hutan, itu salah. Sebaliknya, hukum rimba terjadi di tempat-tempat yang sudah diatur oleh sistem pemerintahan!"
Aku tak menyangka Kak Clarith sampai membicarakan hal ini. Aku sudah siap bila Kak Clarith marah gara-gara diriku yang nekat, tetapi pembicaraan kami malah melenceng ke hal yang tak terduga. Seketika, wajah Kak Clarith memerah, matanya menyorot tajam penuh amarah, dan napasnya tersengal-sengal. Kak Clarith yang lembut berubah jadi pemarah, meluapkan sakit hati dan dendam yang mungkin baru pertama kali dilakukannya, setidaknya di depanku.
Aku tak menyangka kalau Kak Clarith menyimpan kemarahan pada dunia.
"Kak Clarith," panggilku hati-hati. "Apa dulu Kakak punya masalah?"
Kak Clarith tersentak, dan guratan kemarahan di wajahnya langsung lenyap. "Maaf, Riliane …" Kak Clarith menyadarkan dirinya di pagar beranda tanpa berani menatapku. "Aku tidak bermaksud mengeluarkan kata-kata kasar."
"Tidak, Kak, aku tak apa," tukasku cepat. "Kak Clarith, maukah Kakak cerita padaku? Kak Clarith pasti memendam semuanya seorang diri, bukan? Aku tak mau hidup bahagia dengan ditopang Kak Clarith tanpa mengetahui apapun soal Kakak!"
Kak Clarith menatapku, lama sekali. Mungkin ia sedang menyusun kata-katanya sekaligus memendam emosi berlebih agar tak kembali marah di hadapanku. Dengan sabar aku menunggu, hingga Kak Clarith akhirnya memulai ceritanya dengan tiga patah kata, "Dulu aku ditindas …"
Spontan aku terkejut. "Eh?"
"Apa kamu tak merasa aneh saat pertama kali melihat diriku? Sosokku ini begitu menakutkan, bukan?" Kak Clarith mengibaskan rambut putihnya dengan perlahan. "Karena itu, orang-orang di desa menganggapku terkutuk, tidak mengacuhkanku, bahkan menindasku dan berharap aku mati. Siksaan dan cacian mereka begitu kejam, kamu tak akan bisa membayangkannya. Semakin hari, orang-orang desa semakin beringas. Ketika ada salah satu tetua desa yang meninggal, mereka mengatakan aku mengutuknya. Mereka membakar pondokku, tetapi aku berhasil meloloskan diri dan kabur ke hutan. Mungkin sampai saat ini, mereka mengira aku sudah mati. Jadi, kalau aku kembali menampakkan diri, barangkali seluruh penduduk desa akan ramai-ramai menikamku."
"Kak Clarith …" Rasa sedih dan bersalah langsung menyergapku. Spontan aku menggenggam tangannya. "Maafkan aku, Kak. Aku … aku … telah bertindak seenaknya sendiri …"
"Tidak apa-apa, Riliane. Aku lega karena kini ada orang yang mau bersama denganku." Kak Clarith membelai kepalaku dengan satu tangannya yang bebas. "Lagipula, aku sudah tidak perlu lagi … kenikmatan dunia …"
"Eh?" Aku mengangkat kepalaku. "Apa maksudmu, Kak?"
"Riliane, kamu boleh pergi," ujar Kak Clarith. "Kamu berhak kembali, kamu berhak mendapat kehidupan yang lebih baik, kamu berhak berkumpul kembali dengan orang-orang yang kamu sayangi. Aku akan tetap di sini. Ini rumahku, duniaku. Aku tak ingin meninggalkan alam yang telah melindungiku ini."
"Kak Clarith …" Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Maafkan aku, Kak, atas keegoisanku ini—"
"Tetapi …"
Ucapan Kak Clarith yang terputus itu membuatku heran. Aku memandang Kak Clarith yang tersenyum dengan tatapan penuh tanya. Perlahan, raut wajahnya kian melunak. Senyum dan sorot mata Kak Clarith kian lemah, getir, sekaligus penuh harapan. Seolah-olah ia telah pasrah dan memilih menyerahkan dirinya ditelan dunia, asalkan dunia mau mengabulkan secercah harapannya.
"Maukah kamu tetap bersamaku dulu … sampai ajalku tiba?"
-Ai no Kanashimi-
Dua minggu telah berlalu, namun kejadian saat itu masih berputar-putar di kepalaku.
Aku masih ingat betapa terpukulnya aku saat itu. Aku serasa membeku, tak dapat bergerak. Belum sempat aku mengatakan apapun, tangan dingin Kak Clarith yang kugenggam terlepas, dan Kak Clarith ambruk begitu saja. Saat aku panik karena kupikir Kak Clarith tak sadarkan diri, mendadak Kak Clarith terbatuk-batuk. Batuk yang begitu hebat, sampai tangan Kak Clarith yang menutup mulutnya tak mampu menahannya. Ketika aku hanya dapat menatapnya lekat-lekat dengan wajah kaget, percikan demi percikan darah yang menyembur keluar dari mulut Kak Clarith merembes di tangannya.
Muntah … darah …
Saat itulah aku mengetahui, kalau ternyata Kak Clarith digerogoti penyakit kronis.
Kenapa Kak Clarith bisa menyembunyikan penyakitnya dariku selama lebih dari lima tahun? Kenapa ia memilih tak bilang padaku? Kenapa aku bisa tak curiga, kenapa aku tidak pernah memerhatikannya lebih jauh? Apakah aku benar-benar tidak peka, sampai hal yang sulit disembunyikan pun aku tak mengetahuinya? Apa yang telah kupikirkan selama ini? Harapanku untuk dapat kembali ke rumah ternyata telah membutakanku!
Ini salahku …
Tak ada kata yang pantas untuk diriku selain kata 'egois'.
"Riliane …"
"Ah, eh?" Aku gelagapan ketika mendengar suara Kak Clarith dari luar dapur. "Iya, Kak. Tunggu sebentar."
Sembari membawa segelas air putih, aku berjalan ke luar dapur menuju kamar tidur yang hanya dibatasi oleh kain. Di dalam sana, Kak Clarith terbaring lemah, seperti hari-hari sebelumnya. Kulitnya jauh lebih pucat dari biasanya, seperti daging buah pir yang masih mentah. Matanya tak bersinar dan semerah biasanya, seperti selai cranberry yang diolah dari cranberry yang busuk. Satu-satunya yang tak berubah hanyalah rambutnya yang masih seputih saus béchamel. Tetapi, hal itu sudah cukup menggambarkan betapa parahnya kondisi Kak Clarith sekarang, ditambah lagi, tidak ada obat manjur yang bisa didapatkan dari hutan ini.
"Kenapa … kamu masih memasang wajah itu?"
"Eh?" Aku tersadar akan kalimat Kak Clarith saat aku menyibak kain. Kak Clarith, yang kini duduk di atas kasur lipatnya dan bersandar di dinding, memasang wajah sendu sembari menatapku. Seketika, perasaan bersalah kembali menyekapku, hingga rasanya aku ingin menangis.
"Riliane, apa yang harus kamu sesalkan? Bukan kamu penyebab penyakit ini." Kak Clarith mengulas senyum lemah, kemudian menerawang. "Akunya saja yang keras kepala …"
"Tetapi, tetapi … aku sama sekali tak mengetahui apa-apa soal ini!" Akhirnya emosiku membuncah. Aku jatuh terduduk, dengan gelas yang masih aman di tanganku. "Kakak, aku sudah bilang berkali-kali, bukan? Aku benar-benar egois, sampai aku tak memerhatikan kondisi Kakak! Kalau saja aku tahu lebih cepat, mungkin … mungkin … ada sesuatu yang berubah!"
"Tetapi, ini bukan salahmu," bantah Kak Clarith lembut. "Lagipula, memang tak ada obat yang manjur …"
"Tetapi, barangkali aku bisa ke kota, mencari dokter ataupun—"
"Sudahlah." Kak Clarith memotong dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, kemudian merentangkan satu tangannya. "Ayo, kemarilah."
Aku yang mulai meneteskan air mata, tertegun. Aku takut memeluknya, merasakan kulitnya yang dingin. Namun, aku tak ingin melepaskan kesempatan ini, walau mungkin ajal masih lama menjemputnya. Akhirnya, aku meletakkan gelas di sampingku dan menyeret lututku, perlahan-lahan menggapainya, sembari tetap terpaku pada senyum tipis Kak Clarith. Ia menungguku dengan sabar, hangat, meski aku sudah menginjak-injaknya dengan bahagia sendirian di depan matanya.
"Miaw~."
Aku merasakan bulu-bulu halus menggelitiki tanganku. Tersentak, aku menoleh. "Lucifen?"
"Miaw~." Lucifen bergelayut manja di tanganku. Lucifen, kucing hitam yang kupelihara bersama Kak Alexiel, kucing elit nan mempersona yang dimanjakan bak anak raja, kucing yang pernah mati-matian kukejar hingga aku tak dapat kembali ke Kerajaan Lucifenia, kini tampak kurus dan keriput. Kumisnya yang dulu setajam duri mawar, kini tampak habis dipelintir. Bulunya yang dulu sehitam dark chocolate, kini tampak kusam dan rontok. Sinar mata hijaunya yang dulu secerah kubis brussel, kini terlihat redup dan lembut. Ah, memang seperti inilah kucing yang telah lebih dari lima tahun hidup bersamaku, kucing kesepian yang hanya dapat bermain dengan dua manusia yang juga sama-sama kesepian.
"Ah, Lucifen?" sapa Kak Clarith hangat. "Riliane, maukah kamu membawanya kemari juga?"
Aku kembali mengalihkan tatapanku pada Kak Clarith, menyaksikan senyumnya sekali lagi meski air mata menggenang di pelupuk mataku. Dengan senang hati, aku menggendong Lucifen dan menghambur ke pelukan Kak Clarith, membiarkan Lucifen yang terus mengeong lemah di pangkuan Kak Clarith.
"Huwaa … Kak Clarith …" Aku menumpahkan semua air mataku di pelukannya. "Jangan pergi, Kak …"
Aku dapat merasakan tubuh Kak Clarith berguncang sesaat, namun ia tetap memelukku dengan lembut seraya membelai rambutku. "Tenanglah, Riliane …"
"Jangan tinggalkan aku sendiri …"
"Tenang saja," ujar Kak Clarith pelan. "Aku akan selalu bersamamu …"
"Aku ingin bersama Kak Clarith yang hidup …!"
"Meski aku sudah jadi arwah sekalipun, aku akan selalu di sampingmu …"
"Tidak!" jeritku dengan suaraku yang kini serak. "Meski itu bisa, tapi itu hanya akan menyakiti Kakak! Kakak bisa melihatku, tapi aku tidak! Kalau begitu, apakah kita bisa dikatakan bersama? Itu tetap tak akan mengubah kenyataan kalau kita sama-sama kesepian, Kakak!"
"Riliane, maaf bila aku harus meninggalkanmu, tetapi kamu pasti tak akan kesepian." Suara Kak Clarith kembali mengalun lembut. "Kamu bisa kembali ke kerajaanmu."
"Tidak, Kak, aku pasti akan tetap kesepian!" bantahku gusar. "Meski kita tak punya hubungan darah, Kakak adalah 'kakakku'! Kakak adalah orang kedua terakhir yang ingin kulepaskan dari hidupku!"
Kurasakan tubuh Kak Clarith berguncang kembali. Alih-alih langsung membalasku, ia bergumam, "Kakak, ya …?"
Meski tak mengerti, aku terus memanggilnya, "Kakak … Kak Clarith …"
Kurasakan rambutku basah. Aku sedikit terkejut, mengira Kak Clarith menangis. Namun tubuhnya yang berguncang-guncang menyadarkanku kalau ini nyata. Dengan suara gemetar, Kak Clarith bertanya, "Kamu … benar-benar menganggap aku ini kakakmu?"
"Iya!" jawabku tegas. "Kakak adalah kakakku yang paling kusayangi!"
"Ka-Kalau begitu …" Suara Kak Clarith terdengar begitu gugup. "Apakah aku boleh menganggapmu sebagai adikku?"
Dengan sedih bercampur heran, aku mengangguk. "Aku senang sekali mendengarnya, Kak."
"Terima kasih, terima kasih … karena mau menerimaku …" Terisak-isak, Kak Clarith mendekapku lebih erat. "Maafkan aku, adikku. Maaf… maaf … Maafkan kakakmu yang satu ini. Maafkan kakakmu yang egois ini … Maaf … Maaf …"
"Jangan minta maaf, Kak!" Kurasakan ketakutanku akan kata 'maaf' Kak Clarith kembali menyelubungiku. "Tolong jangan …"
"Aku … aku … selama ini … telah berbohong padamu …"
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku terhenyak. "Eh?"
"Karena … karena … aku selalu merasa kesepian, baik di desa apalagi di sini. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku langsung tak ingin melepaskanmu …" aku Kak Clarith, bercampur isakkan yang semakin keras. "Demi menahanmu agar tetap di sini … aku … aku …"
Di telingaku, Kak Clarith membisikkan sesuatu. Sesuatu untuk mencapai jalan yang kuinginkan, sesuatu yang tak kuduga itu ada.
Sesuatu yang kupikir mustahil dibuat olehnya.
"Kamu pasti …" Isakkan tiada henti Kak Clarith semakin terdengar memilukan. "… benci sekali padaku …"
"Sama sekali tidak," balasku jujur. "Bagaimanapun, Kakak adalah penyelamatku, dan Kakak tetaplah 'kakakku'. Aku bersyukur hidup di sini, mempelajari banyak hal, bersama Kakak. Aku … tidak akan menganggap ini sebagai dosa Kakak …"
Kak Clarith berhenti terisak. "Be … Benarkah?"
Aku mengangguk sembari tersenyum di pelukannya. "Hm."
"Syukurlah, syukurlah. Terima kasih …" Kak Clarith melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Sudah, ini sudah cukup … tidak, ini lebih dari cukup. Aku sudah tidak marah lagi akan semua takdirku, dan sepertinya, dunia pun sudah memaafkanku …"
"Kak, Kakak baik-baik saja?" Menyadari suara Kak Clarith semakin melemah, aku menjadi panik. Namun seakan tidak menyadari kepanikanku, Kak Clarith terus tersenyum dan mengelus Lucifen dalam diam. Melihat mereka, entah kenapa, aku seperti melihat suatu lukisan. Lukisan yang anggun, lembut, namun …
… menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Riliane, terima kasih karena telah menerimaku sebagai kakakmu, dan terima kasih karena telah membiarkanku menganggapmu sebagai adikku …" Kak Clarith menatapku, tersenyum tanpa menggubris pertanyaanku. "Hanya mengingat kalau ada satu orang yang tak akan melupakanku, aku yakin aku akan baik-baik saja …"
Tidak, tidak … jangan sekarang …
Ini bukan saatnya …!
"Kak, aku mohon, jangan menyerah!" Kupeluk kembali dirinya, dengan amat erat, merasakan surai rambut béchamel –nya menggelitik pipiku, seakan dengan ini bisa mencegatnya pergi. "Ini belum waktunya, Kak. Percayalah, Kakak masih bisa melakukan banyak hal. Hidup Kakak masih panjang. Kakak masih … Kakak masih …"
Kakak masih harus bersamaku!
"Maaf …"
Eh? Aku tertegun mendengar kata itu dari Kak Clarith yang bahkan sekarang tak kuketahui ekspresinya seperti apa.
Tidak, aku paling takut dengan kata 'maaf' dari Kak Clarith …!
Tolong … jangan katakan … jangan pernah …
"Maaf, ya, Riliane …" Dengan lirih, Kak Clarith berucap. "Maafkan aku karena telah mengecewakanmu …"
"Tidak …" Masih menenggelamkan kepala ke bahunya, aku menggeleng, berusaha membantah. "Kakak …! Tidak, Kakak …"
"Maafkan aku …" Kurasakan setitik air mata jatuh meresap ke pundakku. "… karena telah hidup …"
Aku hanya dapat menganga, tanpa dapat mengatakan apapun lagi. Kurasakan tubuh Kak Clarith semakin berat, terlalu berat hingga aku hampir terjatuh untuk menopangnya. Kurasakan pula suhu dingin yang menusuk kulitku, namun masih menyisakan kehangatan yang kurindukan, kehangatan yang … kehangatan yang …
Kehangatan yang …
"Huwaaa …!"
Aku hanya dapat terus memeluk tubuhnya, menangis tiada henti, menyesali takdir, menyalahkan diriku sendiri. Mungkin Kak Clarith dan Lucifen yang sedang berjalan menuju surga akan khawatir padaku, namun aku tak bisa menghentikan tangisan ini. Sebentar saja … sebentar saja … aku ingin melampiaskan emosi ini pada tempat aku dibesarkan, tempat aku dididik menjadi kuat dan mandiri, tempat penuh kenangan akan suka-duka yang kami alami bertiga. Hanya sebentar, hanya sesaat … biarkan aku menangis dan memaki semuanya!
Untuk selamanya, aku kehilangan sesuatu yang sebenarnya ingin kugenggam begitu erat …
Kehangatan seorang kakak perempuan.
-Ai no Kanashimi-
Setelah aku dapat melepaskan Kak Clarith dan Lucifen ke dalam tanah, aku tak dapat mengendalikan diriku sendiri.
Bagaikan maling, aku mengobrak-abrik seluruh isi rumah, mencari sesuatu yang bisa kubawa, mengemasi semuanya, kemudian berangkat begitu pagi menjelang. Meski aku sudah memegang benda yang akan menunjukkan jalanku, tetap saja, aku berlari tak tentu arah seperti orang kesurupan.
"Aku … sebenarnya pernah membuat peta hutan ini saat aku masih dalam pelarian. Aku menyelipkannya di langit-langit kamar ini. Ambilah. Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk menebus dosaku terhadapmu … Maaf …"
Peta yang kutemukan sesuai bisikan Kak Clarith itu benar-benar detail dan akurat. Ada banyak cabang jalan yang digambar di sana, tanda silang di mana jalan tersebut tak bisa dilewati karena berbahaya atau buntu, gambar tempat seperti gua atau sarang harimau, patokan seperti pohon jambu, serta tanda panah ke arah jalan yang benar. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Kak Clarith menghadapi bahaya dan tersesat sendirian, hingga akhirnya dapat tinggal dengan tenteram di tengah hutan. Berbekal peta ini, aku hanya perlu bermalam sehari di hutan, sebelum akhirnya aku dapat keluar dari hutan dan desa Kak Clarith, menatap takjub akan kemajuan dan kemegahan ibukota yang kutinggalkan selama lebih dari lima tahun.
Inikah … Kerajaan Lucifenia sekarang?
Seluruh mata memandang, hanya terlihat orang-orang yang berlalu-lalang melewati jalan. Sebagian memakai pakaian bagus nan mewah, sebagian lagi memakai pakaian biasa. Pedagang dan barang jualannya yang memikat berjejer di sana-sini. Bangunan kayu dan batu yang kokoh dan tamannya yang artistik semakin memperindah ibukota. Sungai jernih yang mengalir di bawah jembatan semakin menyegarkan mata. Tak lupa, istana indah tempat aku pernah berdiam menjulang kokoh dan angkuh di atas kepalaku. Istana emas yang agung tempat Kak Alexiel memerintah.
Sedikit lagi, Kak Alexiel. Sebentar lagi aku akan datang menghadapmu.
"Tunggu, kamu yang di sana! Buka tudung kepalamu!"
"Eh, eh?" Aku celingak-celinguk, dan mendapati sekumpulan prajurit yang berlari ke arahku. Dengan takut-takut, aku membuka tudung kepalaku, memperlihatkan wajahku yang tertutup serta membiarkan angin mengibaskan rambutku. Seketika, para prajurit dan orang-orang di sekitarku berhenti melangkah, memandangku dengan mulut ternganga. Melihatnya, aku menjadi bingung, sekaligus gugup dan takut.
Terkejutkah mereka karena aku telah kembali?
"Sudah saya duga kalau itu Anda, meski saya sempat ragu karena hanya melihat Anda dari jauh."
Kualihkan pandanganku pada lelaki yang berjalan tenang ke arahku, menghalau para prajurit yang tampak patuh padanya. Kupicingkan mata menatap sosok berpakaian mewah yang tersenyum ramah itu, mencoba mengingat-ingat. Namun, tidak ada satu hal pun yang dapat kuingat tentang dirinya. Semakin ia mendekat, aku semakin yakin bahwa inilah saat pertama kali aku bertemu dengannya.
Tetapi kenapa? Kenapa sosoknya terasa familier …?
"Emm …" Dengan ragu, aku bertanya. "Kamu siapa?"
"Ah, maafkan atas ketidaksopanan saya. Saya lupa bahwa saya belum memperkenalkan diri." Ia yang telah berdiri di depanku, membungkuk layaknya seorang pelayan. "Nama saya Ney, utusan kerajaan ini, sekaligus tangan kanan Yang Mulia Alexiel."
"Ney …" Ternyata memang baru kali ini aku bertemu dengannya. "Apa kamu tahu tentang diriku?"
"Bila saya tak mengetahui apapun tentang Anda, saya tak akan berusaha keras mencari Anda," jawab Ney. Tampak jelas ia sangat menghormatiku meski baru kali ini kami bertemu. "Syukurlah Anda telah kembali. Bagaimana caranya Anda dapat kembali kemari? Dan apakah Anda baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," balasku seraya melemparkan senyum. "Terima kasih karena telah berusaha mencariku selama ini, emm … Ney."
"Terima kasih kembali, Tuan Putri." Ney menolehkan kepalanya ke istana. Sepertinya ia baru mengingat sesuatu. "Kita harus mempertemukan Anda dengan Yang Mulia Alexiel sekarang." Ney mengulurkan tangannya padaku, seakan sedang mengajakku berdansa. "Tuan Putri Riliane, maukah Anda membiarkan saya menuntun Anda ke istana?"
Sebenarnya aku ragu memercayakan diriku dituntun oleh orang yang baru pertama kali kutemui, namun mengingat saat pertama kali bertemu Kak Clarith, keraguanku segera lenyap. Ney pasti lelaki yang baik, terlihat dari sikap hormatnya padaku. Maka aku pun tersenyum dan menyambut uluran tangannya. "Dengan senang hati, Ney."
"Terima kasih. Mari kita jalan, Tuan Putri." Ney menolehkan kepalanya pada para prajurit di belakang. "Kalian semua, bentuk formasi untuk menjaga Tuan Putri Riliane! Bukakan jalan untuk Tuan Putri agar Tuan Putri bisa sampai di istana tanpa hambatan! Dan juga, sebarkan berita ini pada seluruh penduduk kerajaan …" Ney menolehkan kepalanya lagi menghadap jalan, sembari tetap memegang tanganku yang berada di sampingnya. "… Tuan Putri telah kembali!"
"Selamat datang kembali, Tuan Putri!"
Dengan tatapan penuh penghormatan rakyat, aku berjalan berjejeran dengan Ney dengan anggun sekaligus canggung. Para prajurit sibuk mengawal kami, membukakan jalan dan menyuruh rakyat berbaris rapi. Tanpa hambatan, aku telah sampai di istana. Semua pelayan dan pengawal istana juga sama terkejutnya, dan Ney segera memberi isyarat untuk membungkuk hormat padaku. Padahal aku menyadari bahwa aku adalah seorang putri, namun karena sudah lama jauh dari istana, aku jadi merasa tak nyaman. Namun aku tetap menyunggingkan senyum hangat, hingga akhirnya Ney membuka pintu aula, tempat singgasana raja berada.
"Yang Mulia Alexiel," panggil Ney dengan penuh penghormatan sesaat ia membuka pintu. "Kami sudah—"
"Ney, sudah kubilang jangan kembali sebelum kau menemukan—"
"Tuan Putri Riliane telah kembali!"
Ucapan Ney itu langsung membungkam sang raja, begitu pula denganku yang sedari tadi terkesiap mendengar suara sang raja. Aku dan dirinya sama-sama terpaku, terkejut, hingga tak mengindahkan Ney yang menutup pintu dan meninggalkan kami berdua di aula. Aku yang terlihat seperti rakyat jelata dan ia yang jelas-jelas adalah seorang raja saling bertatapan, seakan sedang saling menatap diri masing-masing di cermin.
Akhirnya … akhirnya … aku dapat bertemu lagi denganmu, Kakak!
"Anu …" Dengan gugup, aku berjalan pelan mendekatinya. "Ini aku, Riliane-"
Tanpa sempat kuduga, Kak Alexiel berlari memelukku. Aku begitu terkejut mendapat pelukan hangat dan penuh kasih sayang dari orang yang sudah bertahun-tahun tak bertemu denganku, terlebih karena aku sempat pesimis bila mendapat reaksi Kak Alexiel yang tak sesuai harapanku. Saking terkejutnya, aku hanya dapat membatu, terlebih ketika mendengar suara lembut saudaraku yang sudah lama kurindukan.
"Riliane, kupikir aku tak akan bertemu denganmu lagi …" bisik Kak Alexiel dengan suara penuh haru. "Aku sudah lama mencarimu, tahu. Aku sudah menunggumu dari dulu, tetapi kau baru muncul sekarang. Ke mana saja kau di hutan? Dan juga, apakah kau baik-baik saja? Tidak disekap oleh seseorang, bukan?"
Sesaat setelah mendengar kalimat terakhirnya, wajah Kak Clarith terlintas di benakku. Cepat-cepat aku menggeleng dan balas memeluknya. "Tidak … aku baik-baik saja. Seperti yang Kakak lihat, aku kembali dengan selamat, bukan—"
"Riliane." Kak Alexiel melepaskan pelukannya dan memegang bahuku. Seketika, ekspresi wajahnya berubah drastis. Wajah Kak Alexiel kini terlihat kaku, meski masih menyiratkan perasaan sedih yang mendalam. Kutatap wajahnya heran sekaligus bingung, berpikir aku telah melakukan kesalahan. Tetapi di manakah kesalahanku? Kata-kata yang barusan kuucapkan? Aku tak mengerti bila satu di antara sekian patah kata yang kuucapkan bisa menyinggung perasaan kakakku ini, terlebih bila ia tak mau menjelaskan alasannya padaku.
"Tolong … berhentilah memanggilku 'Kakak'."
-Ai no Kanashimi-
Tak perlu dua, cukup satu saja.
"Kak—Yang Mulia Alexiel, mulai hari ini saya akan melayani segala keperluan Anda."
"Ri-Riliane?" Kak Alexiel tampak terkejut saat aku menghadapnya di aula dengan seragam maid, juga caraku memberi salam selayaknya pelayan. "Kenapa kau berpakaian seperti itu dan merendahkan diri kepadaku? Siapa yang menyuruhmu jadi pelayan?!"
"Tidak, Kak—ah, Yang Mulia." Aku berusaha menenangkannya meski aku sendiri juga gugup. "Aku—ah, saya memang ingin melayani Yang Mulia dari lubuk hati saya."
Aku tak dapat menyimpulkan perasaan Kak Alexiel saat ini. Barangkali Kak Alexiel bingung dengan tindakanku ini. Meski sudah menduga, tetap saja terdengar menakutkan bila Kak Alexiel menyinggung statusku sebagai salah satu penerus takhta. "Kenapa … kau malah jadi pelayan? Kita ini saudara, sama-sama penerus takhta! Seharusnya kau menjadi putri dan membantuku mengurusi pemerintahan!"
"Karena …" Tatapan tak senang kakak kembarku membuatku sedikit gentar. "Karena …"
Bagaimana cara aku menjelaskannya? "Karena saya tak pantas menjadi putri"? Memang benar aku berpikir demikian, namun di atas semua itu, aku mempunyai alasan yang absolut.
Karena aku tak ingin terpikat kembali dengan kehidupan mewah ini.
Bila Kak Clarith tidak menahanku di hutan, sudah pasti aku dapat kembali ke istana sejak lama, sehingga aku bisa kembali menikmati semua kekayaan dan kekuasaan ini jauh lebih cepat. Tetapi, bila direnungkan kembali, aku malah bersyukur karena telah menghabiskan masa kecilku di tempat yang jauh dari istana, terasing dari kenikmatan dunia, dan mempelajari hal-hal yang dapat menunjang kehidupan. Aku menyukai diriku yang kuat dan mandiri, diriku yang dibimbing oleh Kak Clarith. Bila aku kembali menjadi seorang putri, aku takut sisi diriku yang kubanggakan itu akan tenggelam dalam lautan harta.
Bila sampai itu terjadi, barangkali aku tak bisa bertemu Kak Clarith dan Lucifen di surga.
Selain itu, aku juga tak berguna dalam bidang politik. Membantu Kak Alexiel mengurusi pemerintahan? Oh, tolong jangan buat aku tertawa. Kerajaan ini bisa runtuh bila aku yang memegang kendali pemerintahan. Semua orang yang jauh lebih cerdas dariku bisa memanfaatkan kelemahanku dengan mengiming-imingi sedikit keuntungan di atas kerugian besar yang dibalut dengan sesuatu yang disebut 'perjanjian'. Aku buta akan dunia yang memaksa diriku untuk selalu bertaruh, hingga barangkali aku akan mengorbankan segalanya tanpa mengerti apa yang kukorbankan dan maknanya, namun pada akhirnya aku tetap tak dapat mengenyahkan nasib buruk yang paling ditakutkan kerajaan: kehancuran.
Sengaja ataupun tak sengaja, tetap saja itu disebut sebagai perbuatan iblis, bukan?
Karena itu, biarlah Kak Alexiel yang menggenggam kekuatan itu seorang.
Kak Alexiel tahu cara menikmati kekayaannya dengan baik, terlihat dari sikap tenangnya meski sudah lama menjalani kehidupan borjuis. Kak Alexiel juga pandai dan dididik dengan baik dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang raja. Kak Alexiel selalu bersikap tenang dan berkepala dingin, hingga mampu menutupi semua celah yang dapat menyudutkannya. Kak Alexiel pasti memikirkan semua keuntungan dan kerugian bila akan mengambil suatu tindakan, serta siasat untuk menjalankannya dengan mulus dan mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Tidak ada yang perlu diragukan dari diri Kak Alexiel. Aku yang bagaikan cerminan darinya sudah pasti dapat melihat hal itu.
Kekuatan absolut ini hanya pantas dimiliki oleh Kak Alexiel.
Bila hanya Kak Alexiel yang menjadi penguasa, lalu aku jadi apa? Hal itu sudah kupikirkan sejak lama, dan aku sudah bertekad untuk menjalankannya, tak peduli bila Kak Alexiel menentangku.
Aku akan menjadi pelayanmu.
Tentu saja tidak hanya sebatas menyokong segala keperluannya, tetapi juga menjadi pedang dan perisainya. Memang aku tak sekuat prajurit-prajurit di kerajaan ini, tetapi aku tetap bertekad untuk melindungi Kak Alexiel seorang. Aku bersedia mengabdi kepadanya, mempertaruhkan hidupku padanya, asal Kak Alexiel tetap menjaga posisinya sebagai salah satu harapan dunia.
Haruskah aku mengatakan itu padanya?
"Karena …" Aku kembali memikirkan kata-kata yang akan kuucapkan. "Menjadi pelayan Anda adalah hal yang paling saya inginkan, Yang Mulia."
Aku akan melindungimu …
… di atas segalanya …
… dengan cara apapun.
Kak Alexiel terhenyak sesaat, kemudian perlahan wajahnya melunak. Melihat hal itu, kepercayaan diriku menguap begitu saja. Aku tahu Kak Alexiel akan menentang keputusanku untuk membuang statusku dan menjadi pelayan, bila menilik rasa kasih sayangnya padaku. Tetapi aku tidak bertindak sembarangan. Aku tak akan mau menjadi pelayan pribadi bila bukan Kak Alexiel yang kulayani. Melayani saudara sendiri adalah hal yang wajar, bukan? Menjadi putri bukanlah jalan yang kuinginkan, tetapi aku ingin tetap menyokong Kak Alexiel, maka dengan segala kemampuan yang kupunya, hanya posisi ini yang bisa kuambil.
Selain itu, aku ingin menjaga diriku untuk tidak memanggilmu 'Kakak' lagi, sesuai permintaanmu.
Tetapi boleh bukan, suatu saat nanti, aku memintamu untuk menjelaskan alasannya?
"Baiklah, Riliane. Terima kasih. Aku senang kau yang menjadi pelayan pribadiku." Kak Alexiel berujar dengan malu-malu hingga mengalihkan pandangannya dariku. "Tetapi, tetaplah turuti kata-kataku ini, Riliane. Jangan panggil aku 'Yang Mulia' bila tidak di hadapan orang lain."
Aku hanya dapat mengangguk heran. "Ba-Baik, Ka—"
"Panggil aku 'Alexiel'." Seakan Kak Alexiel telah meramalkan ucapan yang akan kulontarkan, Kak Alexiel kembali angkat bicara. "Tolong … jangan memanggilku 'Kakak' lagi."
Ah, hampir saja aku keceplosan, padahal aku sudah berusaha menjaga diri. Perasaanku kini bercampur-aduk. Aku bahagia karena Kak Alexiel tetap menganggapku saudara yang disayanginya dan memintaku untuk tetap menganggapnya sebagai saudara, tetapi bila aku diminta untuk memanggilnya hanya dengan namanya, itu berarti aku tak bisa menganggapnya 'kakak' lagi secara terang-terangan. Padahal aku selalu ingin memanggilnya 'Kakak', tetapi kenapa aku tak boleh melakukannya lagi? Meski hal itu akan selalu menghantuiku, tetapi saat ini, aku hanya dapat mengangguk dengan patuh.
"Aku mengerti, Alexiel."
Karena titahmu adalah absolut.
Titahmu adalah jalan hidupku.
Tidak ada alasan bagiku untuk menentang dirimu.
Aku sudah bersumpah akan mengabdi pada dirimu yang menjadi raja demi memenuhi harapan dunia.
Waktu demi waktu berganti. Dengan dikelilingi oleh tatapan heran orang-orang dan beragam spekulasi, aku melayani Kak Alexiel dengan cermat dan sepenuh hatiku, sekaligus menunjukkan betapa kuat dan mandirinya aku. Kak Alexiel pun bisa menjalankan tugasnya dengan baik dengan makanan dan kudapan yang selalu kubuatkan untuknya. Keakraban yang dulu tak bisa kami jalin kini semakin lama semakin erat, hingga aku meyakini keputusanku menjadi pelayannya adalah hal yang paling tepat. Menjadi putri yang biasanya lebih sering mengerjakan urusannya sendiri pasti tak akan dapat mengeratkan hubungan ini.
Tetapi suatu saat, pertanyaan itu pasti akan melemahkan hatiku.
"Apakah aku menyesali keinginanku untuk menjadi seorang pelayan?"
-Ai no Kanashimi-
Teng … teng … teng …!
"Oh, sudah waktunya minum teh."
"Riliane." Masih tetap berkutat pada dokumennya, Kak Alexiel memanggilku yang sedang sibuk menuangkan earl grey ke dalam cangkir dan menyuguhkan kue buatanku ke meja kerjanya. "Aku tak ingin makan kudapan manis sore ini … oh, brioche!"
"Maaf aku terlanjur membuatnya." Dengan mata berbinar-binar, kuperhatikan Kak Alexiel yang sedang memotong kudapannya dengan garpu dan memakannya. "Akhir-akhir ini Kakak terlihat sibuk sehingga pola makannya tak terkontrol. Kupikir dengan makanan kesukaan Kakak, Kakak akan lebih—"
Tak! Kak Alexiel memotong brioche yang renyah dengan keras hingga menghentak piring. "Riliane, sudah kubilang, jangan panggil aku 'Kakak'," ujarnya pelan. "Kita ini saudara kembar. Kita bahkan lahir hanya beda dua menit."
"O-Oh … maaf, Alexiel." Sembari berusaha menyembunyikan perasaanku, aku menunduk dan meletakkan teko di atas nampan, kemudian membawanya ke meja kecil di sebelah rak buku. Terlihat di sudut mataku, Kak Alexiel kembali sibuk memeriksa dokumen. Suasana mendadak hening, membuat emosiku makin membuncah saja. Mungkin waktunya tidak tepat, tetapi aku tak ingin mengulur waktu lagi. Spontan, aku membuka mulut dan mencoba bertanya dengan suara terbata-bata, "A-Anu …"
"Oh ya, Riliane, bagaimana hasil penyelidikanmu?"
"Eh? Ah, iya …" Meski agak kecewa, aku tetap mengambil setumpuk kertas di samping nampan dan membawanya ke hadapan Kak Alexiel. "Aku sudah menyelidiki semuanya."
Sementara Kak Alexiel membaca dokumen yang kutulis tangan, diam-diam aku menghela napas. Aku tak tahu apa tindakan yang diambil Kak Alexiel seusai penyelidikanku selama tiga minggu, tetapi di sudut hatiku, aku memendam rasa bersalah dalam-dalam, akibat takdir tak terduga yang telah mengajarkanku satu hal yang mengubah hidupku. Takdir yang seharusnya kuhindari.
Pertemuanku dengan Pangeran Kyle.
Aku masih ingat saat pertama kali kami bertemu. Tidak ada adegan yang muluk-muluk, hanya tertabrak karena aku sedikit ceroboh. Ketika Pangeran Kyle mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri, topi yang digunakan untuk menutupi wajahnya tak lagi berguna di mataku. Bila situasinya lain, seharusnya aku akan senang sekaligus sungkan saat bertemu dengan seorang pangeran, namun situasi kali ini terlalu rumit, dan sangat berbahaya. Maka tanpa memikirkan sopan santun atau apapun, aku segera bangkit dan berlari meninggalkannya.
Bertemu dengan orang penting seperti dirinya sama saja dengan cari mati.
Karena aku sedang ditugaskan untuk menyelidiki seluk-beluk kerajaannya.
Sejak saat itu, aku berusaha lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain, baik sengaja ataupun tidak. Tetapi ternyata alam cukup usil. Belum seminggu berlalu, aku kembali bertemu dengannya di tempat yang sama, dengan penyamaran masing-masing yang sama pula. Saat aku melangkah mundur, mencoba kembali kabur, dengan sigap ia menangkap sebutir tomat yang tanpa sengaja jatuh dari kantung.
"Jangan takut begitu." Ia tersenyum tipis sembari mengembalikan tomat ke kantung yang kupegang. "Kamu … yang waktu itu, bukan?"
Tanpa punya pilihan lain, aku mengangguk dan menjawab dengan bahasa Marlonese yang cukup kukuasai. "I-iya … Terima kasih …"
"Tidak usah terlalu sungkan," ujarnya salah tingkah. Kemudian ia menatapku kembali sesaat, namun itu cukup untuk membuatku gugup. Aku bertanya-tanya apa hal yang dilihatnya dariku, sebelum ia bertanya, "Kalau tidak salah, kamu pelayan pribadi raja Kerajaan Lucifenia, bukan?"
Oh, oh … ternyata mengemban misi penyelidikan untuk pertama kali memang berat. Memang aku cukup diakui dalam hal bertarung dan mengobservasi, tetapi aku tak yakin bisa berakting. Bila aku tak bisa berinteraksi dengan orang lain dan mendapatkan kepercayaannya untuk menggali dan mengakses semua informasi, tamatlah riwayatku dan Kerajaan Lucifenia. Sebagai kerajaan adikuasa, Kerajaan Marlon sangat berbahaya. Entah apa yang akan mereka lakukan terhadap Kerajaan Lucifenia bila mereka sampai menangkapku. Kalau begini, aku harus bagaimana? Terlebih, Pangeran Kyle mengetahui keberadaanku dan mengenalku …
Tunggu, apakah sebenarnya ini keuntungan untuk diriku?
Bila aku mendekati seorang pangeran, seharusnya aku bisa mendapatkan banyak informasi darinya …
Ah, bisakah aku melakukannya? Kemampuanku dalam bersosialisasi sembari menyembunyikan tujuan sebenarnya belum mumpuni. Bagiku, lebih mudah mengancam seseorang dibanding harus memperalatnya di balik sikap beramah-tamah. Sikap Ney yang satu itu memang sulit ditiru olehku. Lagipula, Pangeran Kyle jelas sekali bukan orang yang mudah jatuh ke dalam jebakan. Ia cukup jeli dan bisa tetap mengamati seraya memasang pesonanya sebagai pangeran. Bila aku memutuskan untuk mendekatinya, kemungkinan besar aku akan ditangkap. Tetapi, kalau aku memilih kabur sekarang, selain mudah dicurigai, aku tak punya cara lain lagi.
Kurasa tak ada salahnya mencoba dulu.
Bila begini saja aku tidak bisa, tidak mungkin aku dapat melindungi kakakku …
"I-Iya, Pangeran." Kemudian aku menundukkan kepala dalam-dalam. "Ma-Maafkan atas ketidaksopanan saya waktu itu."
"Bukan masalah," sahut Pangeran Kyle. "Angkat kepalamu, ehm ... namamu?"
"Riliane." Kutarik salah satu ujung gaunku dan memperkenalkan diri. "Nama saya Riliane. Saya benar-benar merasa tidak enak atas kejadian waktu itu. Adakah yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?"
Mungkin agak berbahaya, namun bila takdir memihakku, Pangeran Kyle mungkin bisa memintaku melakukan sesuatu yang bisa memuluskan jalannya misi meski hanya sedikit. Selain itu, aku akan punya alasan untuk lebih sering berinteraksi dengannya, sehingga aku bisa menggali informasi darinya. Ya, ini pasti tindakan yang benar dan tidak terlalu mencurigakan. Bertingkah seperti gadis lugu yang juga merupakan salah satu sifatku sepertinya akan dapat kubawakan dengan baik.
Semoga aku dapat memenangkan taruhan pertama.
"Baiklah, Riliane. Kalau begitu …" Pangeran Kyle menempelkan telunjuknya di mulut. "Tolong, rahasiakan penyamaranku ini, ya."
Dengan senyum dan mata berbinar sembari menyembunyikan hatiku yang mulai membusuk, aku mengangguk. "Baik, Pangeran."
Sekilas, tampaknya aku sudah memenangkan taruhan pertama, bahkan berhasil mendapatkan sedikit kepercayaan Pangeran Kyle. Seharusnya tidak akan ada masalah lagi mulai sekarang, namun entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang mengganjal, dan aku tidak bisa mendapatkan jawabannya.
Apakah suatu saat nanti, aku akan terjebak dalam perangkapnya?
-Ai no Kanashimi-
Sudah hampir setiap hari kami bertemu dan semakin akrab, namun aku tidak bisa mendapatkan apapun darinya.
Tidak, tepatnya, aku tidak bisa menanyakan apapun padanya.
Tolong jangan tanyakan kenapa, karena saat itu, perasaanku sedikit kacau.
Setelah berpisah darinya, seharusnya tugasku berakhir hari itu. Tetapi di luar dugaan, ombak laut hari itu begitu tinggi, sehingga aku dan keempat rekanku tidak bisa kembali secepatnya. Maka, sembari membunuh waktu, dengan kedok yang sama sekali tak mencolok, kami berlima berpencar ke kota dan daerah sekitarnya …
… tentu saja, untuk kembali menyelidiki.
Aku berjalan-jalan di pantai bukan hanya sekadar memanjakan mata. Aku mengamati kehidupan nelayan dan hasil tangkapannya, serta kondisi pantai. Aku berjalan dari ujung ke ujung sembari memikirkan laporan yang akan kutulis untuk Kak Alexiel. Sesekali kakiku menendang perlahan pasir putih yang terasa begitu hangat. Seharusnya penyelidikanku ini berjalan lancar ...
... kalau saja ia tak kembali.
"Riliane?"
Hampir saja aku berteriak ketika mendengar suaranya. Seketika, tengkukku mengeluarkan keringat dingin, terlebih ketika melihatnya berjalan mendekatiku dan bertanya dengan bahasa Lucifenian yang selalu kami gunakan tiap kali bertemu. "Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu sudah di kapal?"
Bagaimana ini? Alasan apa yang harus kuberikan padanya? Oh, tidak, aku begitu panik, padahal situasi ini masih aman terkendali. Kalau begini, masihkah aku dapat berperan sebagai gadis lugu?
"Maafkan kelancangan saya, Pangeran," cicitku dengan penuh sesal, entah sesal yang dibuat-buat atau tidak. "Setelah Anda mengantar saya ke kapal, tiba-tiba ombak lautnya lebih tinggi dari biasanya, jadi perjalanan pulangnya ditunda. Lalu sambil menunggu ombaknya reda, semua awak kapal memutuskan untuk jalan-jalan ke kota, tetapi saya memilih untuk berjalan-jalan di sekitar pantai karena saya belum pernah melakukannya. Tetapi akhirnya, saya malah tersasar di sini."
"Astaga, kenapa kamu sampai harus tersasar jauh dari pelabuhan?" gerutu Pangeran Kyle, lalu mendadak ia membekap mulutnya sendiri. "Maaf, Riliane."
Aku yang berusaha menyembunyikan senyum getir ketika mendengar gerutuannya, tiba-tiba menjadi gugup. "Tidak, Anda tak perlu meminta maaf. Saya yang salah."
Kutatap Pangeran Kyle yang kini tengah menatapku, dan aku semakin gugup saja. Apa yang ia lihat dariku? Apakah ia sedang menyelidikiku? Apakah aku terlihat mencurigakan, berjalan-jalan sendirian di tempat asing? Atau adakah yang salah dengan penampilanku, yang berpakaian lusuh padahal aku adalah pelayan pribadi raja Kerajaan Lucifenia? Oh, aku harap ia tak menyadari semua ini. Saat ini, kumohon, biarkan aku tetap menjadi gadis lugu di matanya!
Tak lama aku menangkap ekspresi itu, ekspresi yang membuat Pangeran Kyle semakin misterius.
Kenapa … Pangeran Kyle memasang wajah sendu begitu?
Pangeran Kyle menghela napas. "Baiklah, kamu akan kuantar sampai ke pelabuhan. Tetapi …" Ia memandang sejenak ke arah laut. "Ombaknya masih cukup tinggi untuk kapal kecil seperti kapalmu."
"E-Eh?" Aku tidak mendengarkan kalimat terakhirnya. Di satu sisi, aku tak ingin penyelidikan ini terhambat. Namun di sisi lain, aku tak bisa menolak ajakannya, karena satu dan lain hal. Akhirnya, aku hanya dapat menunduk seraya berucap, "Te-Terima kasih atas kebaikan Anda, Pangeran."
"Bukan apa-apa. Tetapi, kita baru akan pergi kira-kira sepuluh menit lagi." Ia berjalan membelakangiku menuju hamparan pasir yang ada di bawah tebing, di samping hutan bakau, tanpa mengindahkan diriku yang heran. "Aku mau mencari sesuatu."
"Oh …" Naluriku untuk membantunya muncul. Buru-buru aku mendekatinya yang sedang mengorek-ngorek pasir. "Apa yang Anda cari, Pangeran?"
"Batu safir," jawabnya. Seketika pikiranku melayang ke laporan penyelidikanku yang kutulis beberapa hari sebelumnya. "Kalau ada laki-laki dari kerajaan ini yang mau meminang wanita, ia harus mendapatkan batu safir sebagai bukti kalau wanita yang dicintainya itu memang jodohnya."
Jodoh, ya …?
Apakah jodoh yang Pangeran Kyle harapkan adalah Putri Michaela?
Sesaat, wajah Putri Michaela yang terakhir kali kujumpai terbesit di mataku. Raut wajah penuh arti yang tak kumengerti, sama seperti raut wajahku sendiri saat menatapnya.
Perasaan apa … ini?
"Oh …" tanggapku hambar. "Saya juga pernah dengar. Kalau wanita yang dicintainya itu tidak direstui oleh alam, laki-laki itu tidak bisa mendapatkan batu safir, bukan?"
"Benar."
Pikiranku berkecamuk. Naluriku untuk membantunya kini lenyap. Aku hanya dapat mendengarkan gema hatiku sembari menatap Pangeran Kyle yang terus mengorek-ngorek pasir tanpa henti. Padahal tampak sangat jelas ia sudah lelah, pakaiannya pun juga kotor akan pasir pantai, tetapi ia menyembunyikan semua itu di balik sosok tegapnya. Sosok berambut biru berkilau layaknya blueberry, buah yang sangat kusukai. Asam sekaligus manis, seperti perasaanku saat ini terhadapnya. Perasaan yang ingin kusadari, sekaligus ingin kusangkal. Siapa sangka, niat awalku yang busuk untuk mendekatinya malah memunculkan perasaan ini, perasaan hangat yang baru pertama kali dirasakan olehku.
Tetapi, yang bisa kudapatkan hanya sebatas ini, bukan?
Kalau lebih dari ini … kalau lebih dari ini …
Sama saja aku sedang memupuk niat yang busuk.
Namun masih ada bara egois yang menguasai setengah diriku, memaksaku untuk mendapatkan Pangeran Kyle. Aku ingin menjadikannya milikku, mendapatkan kebahagiaan ini secara utuh. Apa nasibku segitu buruknya, sehingga dari dulu aku lebih banyak mendapatkan kemalangan? Kenapa hal yang begitu didambakan banyak gadis seperti ini saja tidak bisa kudapatkan? Kalau begitu, kenapa perasaan ini harus ada? Kenapa aku harus menambatkan perasaan ini pada kekasih orang lain? Akan dikemanakan perasaanku ini? Adakah yang bisa menjawabnya?
Riliane, kamu hanyalah seorang pelayan!
Setengah diriku yang lain tiba-tiba mengungkapkan hal itu. Hal yang sangat … rasional.
Pangeran Kyle dan Putri Michaela bisa bersanding karena mereka adalah pangeran dan putri, sementara kamu? Kamu hanyalah pelayan!
Pelayan tidak mungkin bisa bersanding dengan seorang pangeran!
Benar. Aku hanyalah seorang pelayan. Pelayan tak akan mungkin bisa dinikahi oleh pangeran. Tugas pelayan adalah mengabdi, bukan menguasai. Pangeran hanyalah milik seorang putri, orang yang berada di kasta yang sama dengannya. Dulu aku memang putri, tetap sekarang aku sudah melupakan kasta itu. Akulah yang memilih berganti peran menjadi seorang pelayan, dan itu keputusan yang absolut.
Aku tak boleh menyesali takdir yang kupilih.
Bukankah aku memilih takdir ini karena tak ingin dipengaruhi oleh kenikmatan dunia?
Sekarang, aku harus melakukan tugasku sebagai seorang pelayan.
Membiarkan seorang pangeran mengotori dirinya sendiri jelas merupakan pelayan yang tidak bertanggung jawab.
"Riliane!" panggilnya ketika melihatku berjongkok di dekatnya dan ikut mengorek-ngorek pasir. "Apa yang kamu lakukan?"
Meski grogi, aku berusaha menjawabnya dengan yakin. "Saya ikut membantu mencari batu safir itu, Pangeran."
"Tidak mungkin kamu menemukannya, Riliane," sergahnya. "Batu itu hanya bisa ditemukan laki-laki penduduk kerajaan ini yang wanita pujaannya direstui oleh alam."
Aku tahu, aku tahu! Aku juga tak yakin bisa menemukannya. Tetapi, bila aku tidak membantunya, aku tak akan bisa melepaskan perasaan ini. Setidaknya, aku harus menemukan satu hal yang meyakinkanku, hal mutlak yang mampu menghapuskan perasaanku kepada Pangeran Kyle!
"Tetapi saya tak bisa diam saja melihat Pangeran seperti ini!" Tanpa sengaja, aku mengeluarkan suara yang melengking. Buru-buru aku mengendalikan diriku. "Maaf saya berteriak, Pangeran, tetapi saya tak bisa membiarkan Anda berusaha sendirian. Lihat, Anda sampai kotor dan lecet begini. Mungkin bantuan saya tak berguna, tetapi setidaknya, jangan biarkan saya hanya berdiri melihat Anda tanpa melakukan apa-apa."
Kumohon … biarkan aku … melihat batu safir itu jatuh ke tangannya!
Kalau alam sudah mengabulkan hal itu, aku janji, aku tak akan melakukan apa-apa lagi!
Tanpa mengindahkan Pangeran Kyle, aku memulai pencarianku. Suara pasir yang kugali berhasil mengaburkan cicit hatiku yang masih menyayangkan keputusanku. Beberapa menit berlalu, namun kemungkinan diriku untuk menemukannya masih tetap tak beranjak dari angka minus. Pelan-pelan aku mencarinya, bergerak sedikit demi sedikit, memeriksanya dengan detail, mengamati secercah cahaya yang mungkin muncul dari batu itu …
"Ah!"
Entah siapa yang menemukannya duluan, namun aku berhasil mendapatkannya dengan tanganku. Saat itu, aku menyadari, kalau yang kugenggam bukanlah batu safir, melainkan tangan Pangeran Kyle. Tangan putih yang besar dan kokoh, tangan yang hangat, tangan yang selalu ingin kugenggam. Bila takdir tidak mengabulkan harapan Pangeran Kyle, kurasa aku akan menggenggam tangannya dan menghiburnya. Barangkali dengan begitu, ia akan berpaling padaku. Namun sekarang, itu hanyalah harapan kosong. Aku harus melepaskan tangan ini, dan bertingkah selayaknya orang yang tak sengaja.
"Ma-Maaf!" jeritku sekaget mungkin.
"Tak … Tak apa." Oh, Pangeran Kyle sampai memalingkan wajah begitu. Apa ia beranggapan buruk terhadapku? "Ah, yang penting ada batu yang kita temukan. Mungkin ini yang kita cari."
Kegelisahanku itu pudar ketika menyaksikan Pangeran Kyle mengangkat batu itu. Batu yang berkilau dan jernih, merefleksikan sinar matahari sore hingga membentuk komplikasi warna yang menakjubkan. Pangeran Kyle tampak terkagum-kagum, namun bukan kagum selayaknya orang yang serakah, melainkan sumingrah karena harapannya telah terkabul. Aku tak dapat melepaskan pandanganku terhadap matanya yang berbinar. Mata yang tak lagi dapat dibandingkan dengan blueberry, namun dengan batu safir yang ada di hadapannya. Tidak, bahkan mata itu jauh lebih cerah dibanding batu safir. Tanpa bisa kuelakkan, aku kembali jatuh hati pada warna biru, juga kepadanya.
Andai saja mata itu hanya mau menatapku …
"Batu safir," ucapnya sumingrah. "Akhirnya kutemukan."
Oh, lagi-lagi! Kenapa tekadku begitu mudah digoyahkan? Bukankah aku sudah berjanji? Tidak, tidak! Tutupilah! Menyesalnya nanti saja. Sekarang, aku harus memulai langkah kedua untuk menyingkirkan perasaan ini.
"Indah sekali ya, Pangeran." Tanpa mengindahkan rasa pilu di hatiku, aku mencoba tersenyum. "Gadis yang ingin dipinang Pangeran pasti benar-benar jodoh Pangeran, ya."
Oh, kenapa setengah diriku merasa tidak rela untuk mengucapkan itu? Kenapa setengah diriku memaksaku untuk menyelipkan kata-kata yang sedikit menohok? Namun, aku tak tega menghapuskan sorot mata penuh kebahagiaan itu sekarang, dan melihat tampang Pangeran Kyle yang terkejut dan kikuk karena dapat menangkap perasaanku. Maka dari itu, aku berusaha mengulas senyum semanis mungkin, bukan senyum untuk memikat, namun senyum penuh kerelaan. Tetapi, aku nyaris tak dapat bertahan, ketika aku melihat tampang Pangeran Kyle yang sempat kutakutkan …
Kenapa … lagi-lagi … Pangeran Kyle memasang wajah sendu begitu?
Apa ia menyadari perasaanku?
Oh, aku tak sanggup lagi melihatnya. Perasaanku membuncah lagi, dan aku tak punya cara lain untuk menahannya, selain angkat kaki saat ini juga. Segera aku bangkit berdiri, membungkuk dan mengucapkan salam perpisahan dengan berat hati. "Pangeran, sepertinya cuaca sudah mulai membaik. Saya harus segera pulang. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya masih bisa mengingat-ingat jalan kembali ke pelabuhan."
"Tunggu, Riliane!" Padahal kupikir aku bisa lolos darinya karena aku segera melangkah saat itu juga, namun kesigapan Pangeran Kyle memang tak bisa kutandingi. Ia menarik tanganku dari belakang, membuatku harus menghentikan langkah. Untung saja aku tak dipaksa berbalik menghadapnya, karena raut wajahku saat itu kacau-balau. "Bukahkah aku … sudah berjanji … akan mengantarmu?"
Ada apa dengan nada suaranya? Kenapa nada suaranya begitu memilukan? Apa yang membuat Pangeran Kyle tiba-tiba menjadi sedih? Karena akukah? Oh, pasti bukan! Pasti bukan! Aku terlalu banyak berhalusinasi, hanya karena mengharapkan sepotong cinta.
Atau inikah saat yang tepat untuk mendapatkan cinta, meski hanya secuil?
"Maaf, Pangeran …" Tak berusaha melepaskan diriku, aku menyanggupi janjinya. "Baiklah."
Kata maaf yang penuh arti …
Maafkan atas keegoisanku, maafkan atas campur tanganku, maafkan aku atas semuanya …
Tetapi saat ini, biarkan aku bersikap sedikit egois …
Hanya sampai pelabuhan saja, hanya beberapa menit saja, biarkan aku menganggap kamu adalah milikku.
Saat kita saling melambaikan tangan, saat itulah aku akan melepaskanmu …
Aku janji.
Tak perlu waktu lama untuk segera berpisah dengannya. Aku menatap cakrawala dari mulut kapal yang mengarungi lautan, membisu. Entah kenapa keempat rekanku sama sekali tak mengusikku, padahal biasanya mereka akan segera melaporkan hasil penyelidikannya padaku. Ketika akhirnya kapal ditambatkan di dermaga Kerajaan Lucifenia, aku menuruni kapal dengan tergesa, dan disambut oleh Ney yang diperintah Kak Alexiel untuk mengawasi keadaan pelabuhan.
"Tuan Putri Riliane …" panggilnya halus, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. Aku hanya dapat menatapnya datar, sekalipun tak mengerti maksudnya. "Kenapa … Anda menangis?"
Eh, menangis? Aku menangis? Sejak kapan air mata ini jatuh? Tetapi, aku tak bisa menutupinya. Sebaliknya, aku ingin air mata ini mengalir semakin deras, serta ingin membagikan kisah cinta yang berbuah pahit ini. Namun, sampai kapanpun, hati kecilku tak akan mengizinkanku untuk terus-menerus menangis di hadapan orang lain. Mungkin kali ini saja pengecualiannya.
Ney, apa kamu pernah jatuh cinta?
-Ai no Kanashimi-
Hingga sekarang, terkadang aku menatap kosong tanganku, berharap Pangeran Kyle melingkarkan cincin batu safir di jari manisku.
Barangkali jodoh Pangeran Kyle bukanlah Putri Michaela, tetapi aku.
Ah, tetapi tak mungkin, ya …
"Apa ini benar-benar sudah lengkap?"
Pertanyaan Kak Alexiel langsung menghentakkanku kembali ke dunia nyata. "Aku yakin sudah. Aku dan rekan-rekanku sudah menyelidiki semuanya. Daerah-daerah penghasilan Kerajaan Marlon, keadaan politik, akses wilayah; baik yang menjadi akses utama maupun terselubung, semuanya sudah kami selidiki hingga tuntas."
"Terima kasih, Riliane. Kerja bagus." Kak Alexiel meletakkan dokumen itu ke meja dan kembali menyantap brioche-nya. "Dengan begini, aku bisa melaksanakan niatku."
"Eh?" Aku mengangkat alis. "Mengadakan negosiasi, bukan? Atau—"
"Aku … berniat membinasakan Kerajaan Marlon."
"Eh?" Seketika, diriku diselubungi kegelapan, entah berasal dari mana. Aku begitu terperanjat, hingga aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Sorot mata Kak Alexiel yang tenang namun penuh selidik itu mengunciku, hingga aku merasa akulah targetnya, bukan Kerajaan Marlon.
"Kerajaan Marlon memiliki banyak potensi. Sayang bila kita tidak memanfaatkannya sebagai batu loncatan Kerajaan Lucifenia demi menguasai dunia," lanjut Kak Alexiel. Mau tak mau, aku mendengarkannya dengan saksama, hingga aku tak dapat mendengar suara napasku sendiri. "Untuk menguasai dunia, kita harus melebarkan sayap ke Kerajaan Marlon. Kita akan mengambil alih wilayahnya, merebut seluruh harta kekayaan, dan yang terpenting: tidak boleh menyisakan apapun yang tidak kita butuhkan, terutama nyawa para petinggi Kerajaan Marlon serta penerus takhtanya yang berpotensi membangun kembali Kerajaan Marlon."
Apakah hanya perasaanku, atau ini memang aneh? Semula Kak Alexiel memaparkan semua itu dengan ekspresi wajah dan suara yang tenang, namun saat menyebutkan kata "penerus takhta", ia berubah menjadi sosok yang bengis. Hanya sesaat memang, namun sebagai adik kembarnya, tentu aku dapat menangkapnya. Adakah maksud tertentu dari kata-kata itu? Apakah itu yang menjadi alasan utamanya untuk "melebarkan sayap"?
Dan 'penerus takhta' yang dimaksud …
Tidak … tidak mungkin!
Tidak mungkin Kakak sedang membicarakan—
"Tetapi, aku tak mau bertindak sembarangan hingga harus mencoreng namaku sendiri."
Aku yang benar-benar tak mengerti politik ini hanya dapat menganga mendengarnya. Apalagi itu? Maksudnya, ia tak ingin langsung mengadakan perang? Memangnya ia ingin melakukan apa? Bukankah tindakan akhirnya sama saja? Oh, aku sama sekali tak mengerti apapun tentang dirinya yang sekarang. Isi kepalanya, sorot matanya, ataupun …
… oh, ada apa dengan senyumannya itu?
Dikelilingi sinar matahari sore dari jendela, Kak Alexiel memasukkan garpu yang telah menusuk brioche ke dalam mulutnya. Bibirnya menyunggingkan senyum licik yang baru pertama kali kulihat darinya. Sembari menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti, Kak Alexiel memulai ucapannya,
"Jadi, kira-kira … apa alasan yang bagus untuk menghancurkannya, ya?"
-Ai no Kanashimi-
Siapapun, tolong beritahu aku.
Yang mana yang harus kupilih ...?
.
.
.
.
.
Oke, 10K memang terlalu banyak, namun ini masih lebih baik.
Bagaimana jalan ceritanya? Apakah sudah semenarik buatan Mothy-san? Saya memang tak bisa menandinginya, namun saya harap Anda menyukai fic ini.
Mari kita lanjut ke stage berikutnya. Jangan lupa tinggalkan sepotong review, ya.
Riliane ~ Maid of Evil
Next to Stage III – Part β
"Hancurkan."
Matilah—
Nah, katakan bagaimana perasaan Anda.
