BABY

By Spcy61

Chast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Etc.

Genre : Romance. Hurt/Comfort

Rate : M

Warning! Gs for Uke! Typo's dimana-mana. Bahasa berantakan.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

Tiga hari kemudian…

Sebuah mobil berwarna merah menghentikan laju mobilnya saat dirasa mobil yang ia kendarai telah sampai didepan sebuah rumah yang ia tuju. Rumah itu bercat abu-abu dengan hiasan-hiasan—seperti tumbuhan yang dipajang disetiap celah rumahnya. Seorang wanita turun dari dalam mobil, ia melangkah dengan perlahan menggunakan sepatu kets-nya. Wanita itu memakai kaos kebesaran bertuliskan 'Sport 52' berwarna merah, celana jeans berwarna hitam, juga rambut panjangnya yang diikat kuda. Wanita itu lalu menekan sebuah bel yang berada disamping pintu besar bercat putih, kakinya yang beralaskan sepatu kets itu telah sampai di depan pintu utama.

Ting…

Tong…

Wanita itu sedikit mengetuk-ngetukan kakinya saat sang pemilik rumah belum juga membukakan pintu untuknya. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah jam tangan berwarna putih juga sebuah angka yang sudah menunjukkan pukul satu siang, terlalu panas untuk bertamu disiang hari yang sangat terik. Jika bukan karena kekhawatirannya yang berlebihan ia tidak akan mungkin repot-repot untuk datang. Ia baru pulang berkuliah, kodisi pikiran dan emosinya terkadang masih cukup labil.

Cklek

Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang sudah berumur tengah memperlihatkan raut berserinya, seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu akhirnya telah datang. "Kyungsoo, kau sudah datang."

Kyungsoo tersenyum. "Aku datang karena bibi menelponku, ada apa bibi?"

"Kita obrolkan didalam saja, mari masuk." Nyonya Byun—wanita yang sudah berumur itu mempersilahkan sahabat dari anaknya itu untuk segera masuk. Setelahnya Nyonya Byun menutup pintu utama rumahnya rapat-rapat.

Kyungsoo memandang keseluruhan ruang utama keluarga Byun ini, sudah sangat lama ia tidak lagi berkunjung kerumah sahabatnya ini. Dan yang dapat Kyungsso simpulkan sekarang adalah Ruang utama keluarga Byun yang tidak berbeda jauh dari beberapa bulan lalu, saat terakhir kali ia datang kerumah ini untuk berkunjung.

Nyonya Byun mendudukan dirinya diatas sofa, disusul Kyungsoo setelahnya. Rumah bertingkat dua itu dirasa sangat sunyi, seperti tidak ada seorang 'pun yang menghuninya. Kyungsoo menatap Nyonya Byun penuh tanya. "Dimana yang lain? Bukankah Halmoni dan Haraboji ada di Korea?"

"Mereka baru saja pulang ke China kemarin, sedangkan paman(Read; Tuan Byun) dan Baekbeom harus pergi bekerja." Jelas Nyonya Byun.

Kyungsoo menatap prihatin Nyonya Byun, Eomma dari Sahabatnya ini memang sedang tersenyum, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah senyuman pun belum bisa menghilangkan raut kelelahan dan juga kesedihan diwajahnya. "Bibi tidak bekerja?"

"Jika aku bekerja tidak akan ada yang menjaga Baekhyun."

"Apa Baekhyun baik-baik saja?" Kyungsoo bertanya perlahan, takut jika pertanyaannya ini dapat membuat kondisi Nyonya Byun semakin tidak membaik. Walaupun pertanyaan seperti itu sudah menjadi hal wajib bagi seseorang yang baru saja berpulang dari rumah sakit bahkan untuk kedua kalinya.

Tidak usah dipertanyakan bagaimana bisa Kyungsoo mengetahui hal itu. Baekhyun yang baru saja pulang dari rumah sakit kembali ia sudah mengetahuinya. Keluarga Byun memang sudah mempercayainya sejak ia dikenalkan sebagai sahabat Baekhyun didepan keluarga Byun dulu. Nyonya Byun bahkan telah menitipkan Baekhyun yang masih bersikap kekanakan kepada Kyungsoo. Jadi tidak heran jika Kyungsoo mengetahui semuanya, semua hal yang tengah terjadi kepada Baekhyun saat ini, Kyungsoo sangat mengetahui itu.

Nyonya Byun menundukan wajahnya, menghapuskan aliran-aliran air mata yang sudah berjatuhan dikedua pipinya. Setelahnya ia mendongakan wajahnya. Terlihat beberapa jejak-jejak air mata yang masih berbekas di kedua pipinya.

"Baekhyun tidak dalam kondisi baik, ia mengurung dirinya dikamar. Bibi bingung harus bagaimana? Tolong bantu bibi Kyungsoo, bantu bibi agar Baekhyun mau keluar dari kamarnya, makanan yang bibi berikan tidak disentuhnya sama sekali, bagaimanapun Baekhyun tidak sendiri, bayi yang ada didalam kandungannya harus tetap sehat."

Kyungsoo merasakan kepalanya pening, ia tidak begitu suka permohonan. Satu kata yang membuatnya menjadi lemah. Ia membenci seseorang yang memohon sesuatu hal kepada orang lain, hingga membuatnya terlihat sebegitu rendah –menurutnya. Tetapi Kyungsoo tidak bisa mengelak, ia terlalu lemah dengan sebuah permohonan, terlebih Nyonya Byun yang sudah ia anggap sebagai Eomma keduanya, ia tidak bisa mengabaikan permohonan itu begitu saja. "Aku mengerti. Boleh aku menemuinya dikamar?"

Wajahnya Nyonya Byun sedikit tenang setelah mendengarnya. Wajah-nya menampilkan raut penuh harapan. Sungguh Kyungsoo benar-benar tidak pantas menerima itu, ia bukanlah seseorang pahlawan yang memberikan janji-janji perdamaian ataupun kemakmuran kepada para pendukung-pendukungnya, ia bukanlah tokoh-tokoh protagonis yang akan menolong seseorang dengan begitu tulus ataupun seorang tokoh tritagonis yang akan membantu tokoh utama menyelesaikan permasalahannya, ia bukanlah seorang sahabat yang baik, ia hanyalah seseorang manusia seperti pada umumnya; memiliki kekurangan, egois, dan diliputi seribu penyesalan dikehidupannya. Tetapi yang Kyungsoo yakini saat ini, apa yang ia lakukan sekarang adalah bentuk kepeduliannya, rasa sayangnya yang begitu besar kepada sahabatnya.

Lalu setelahnya yang dapat Kyungsoo lihat adalah –Nyonya Byun yang kini tengah menganggukan kepalanya. "Kamarnya tidak terkunci."

.

.

.

Tok

Tok

Tok

"—hyun, Baekhyun,"

"Baek, ini aku Kyungsoo. Boleh aku masuk?"

Hening.

Kyungsoo menghela nafasnya. Tidak ada respon sama sekali. Ia jadi merasa takut terjadi hal-hal yang tidak diharapkannya di dalam. Bagaimanapun emosi dan pemikiran Baekhyun sedang tidak stabil.

Tidak ingin terjadi apa-apa kepada sahabatnya, Kyungsoo segera membuka pintu di depannya dengan hati-hati. Bukankah Nyonya Byun berkata pintunya tidak terkunci?

"Baek…"

Hal yang pertama dilihatnya adalah gelap. Kyungsoo merasa walaupun kamar Baekhyun dalam kondisi gelap—karena lampu tidak dinyalakan—tapi ia yakin kondisi kamar ini sedang tidak baik.

Ctek

Kyungsoo menyalakan saklar lampu. Dan saat sinar dari lampu tersebut menyala, disaat itu pula Kyungsoo melihat kondisi kamar Baekhyun yang benar-benar kacau. Dengan kedua tangannya Kyungsoo memunguti pakaian dan benda-benda yang berserakan di bawah tempat tidur. Ia memandang prihatin makanan dan minuman yang terletak di atas meja tanpa di sentuh sama sekali oleh pemiliknya. Tetapi ada satu hal yang baru Kyungsoo sadari.

Baekhyun,

Dimana Baekhyun? Ia tidak melihatnya.

Kyungsoo membulatkan matanya. Ia tidak melihat Baekhyun. Di tempat tidurnya-pun tidak ada.

Cklek

Kyungsoo menolehkan kepalanya kebelakang. Ia terkejut, sekaligus lega luar biasa. Disana, di depan sebuah pintu kamar mandi terlihat Baekhyun yang menatap kehadirannya penuh kebingungan. "Kyungsoo? sedang apa kau disini?"

"Ya Tuhan! Kukira kau pergi dari rumah, Baek!" Kyungsoo bernafas lega.

"Kau ini berbicara apa? aku bertanya padamu, sedang apa kau disini?" Tanya Baekhyun. Ia menatap Kyungsoo penuh selidik.

Bukannya merasa takut karena tatapan penuh kecurigaan dari Baekhyun, Kyungsoo malah merasa kawatir dengan keadaan Baekhyun sekarang. Matanya sembab, seperti pencampuran antara tidak tidur selama beberapa hari dan menangis sepanjang waktu. Terdapat lingkaran hitam di bawah matanya, tubuhnya yang terlihat lebih kurus, juga wajahnya yang tidak lagi menampilkan senyum.

Kyungsoo menolehkan kepalanya, tidak mau melihat keadaan Baekhyun yang membuatnya sedikit sakit. Karena sesuatu hal yang membuatnya tidak berani menatap Baekhyun sekarang. "Setelah pulang berkuliah tiba-tiba saja aku ingin mampir kerumah-mu, apa tidak boleh?"

"Jangan berbohong. Eomma-ku bercerita apa saja kepada-mu?"

Baekhyun melangkah mendekati tempat tidur. Ia mendaratkan tubuhnya hingga posisinya yang kini terlentang di atas tempat tidur. Kyungsoo memerhatikan kegiatan Baekhyun tadi. "Eomma-mu bercerita bahwa kau belum makan sama sekali." Baekhyun tersenyum miris, ia tau Kyungsoo berbohong padanya.

"Aku tidak lapar."

"Aku tau kau lapar, apa kau tidak kasihan dengan kandungan-mu?" Baekhyun melotot. Posisi terletangnya segera tergantikan dengan posisi terduduk menghadap Kyungsoo. Jantungannya seakan berdetak lebih cepat. Ia memang telah memperkirakan bahwa Kyungsoo pasti akan mengetahuinya. Tapi, mendengarnya langsung dari mulut Kyungsoo membuat Baekhyun di landa ketakutan. Ia takut akan respon Kyungsoo tentang dirinya nanti.

"Sejak kapan kau mengetahui bahwa aku hamil? Apa kau tidak merasa heran padaku?" Padangan Baekhyun berubah menjadi kosong.

"Heran? Untuk apa aku heran?" Kyungsoo melembut.

"Kehamilanku, mana mungkin aku bisa hamil."

"Jelas kau bisa, kau wanita, kau juga telah—" Perkataan Kyungsoo berhenti seketika, baru saja ia akan mengucapkan sesuatu hal yang tidak boleh Baekhyun ketahui. Kyungsoo merutuki kebodohan dirinya.

"Telah apa?" Baekhyun beralih menatap Kyungsoo.

Kyungsoo terdiam. Ia salah berbicara.

"Kenapa kau diam saja? Apa maksud perkataan-mu tadi?"

Kyungsoo tetap terdiam. Baekhyun mendesah frustasi.

"Apa yang sebenarnya terjadi Kyungsoo? Beritahu aku, kumohon."

Melihat Kyungsoo yang tetap tidak memberikannya respon sama sekali membuat Baekhyun merasa kecewa. Ia hanya ingin sebuah penjelasan. Apa permintaannya begitu sulit untuk dikabulkan?

"Kau pasti akan mengetahuinya, Baek. Tapi, bukan sekarang, kau belum siap sepenuhnya. Kau baru saja sembuh dari sakit-mu, emosi-mu juga masih tidak stabil. Aku takut nanti akan terjadi sesuatu padamu," Kyungsoo akhirnya membuka suara. Terlihat Baekhyun yang akan protes, Kyungsoo melanjutkan. "Pikirkan kondisi kesehatanmu, Baek. Dan juga calon bayi-mu, apakah kau tidak memikirkan kondisinya walau sedikit saja? Ingat Baek, kini kau tidak sedang sendiri. Aku tahu di dalam hatimu sebenarnya kau sungguh menyayanginya. Maka dari itu, terima dia, jangan menyakitinya."

Baekhyun tersenyum miris. "Aku ini wanita, Kyung. Seberapa besar aku membencinya, aku tidak akan mungkin menyakitinya. Aku sudah mencoba untuk menerimanya." Baekhyun mengelus perutnya yang tertutupi dengan baju. Kyungsoo tertegun melihatnya. Tidak ingin terlarut dalam kesedihan, ia mengucapkan sesuatu.

"Sepertinya calon Eomma ini harus segera makan, apa kau ingin makan?"

Dan akhirnya Baekhyun mengangguk.

.

.

.

Setelah berpamitan untuk pulang dengan Nyonya Byun, Kyungsoo segera menghampiri mobilnya yang kini tengah terparkir didepan halaman rumah keluarga Byun. Kyungsoo memandang langit-langit yang kini sudah mulai menggelap, terlalu asik mengobrol dengan Baekhyun membuatnya hingga lupa waktu, tidak sadar jika cuaca sudah mulai tidak mendukungnya untuk berlama-lama di kediaman sahabatnya ini. Tetapi sebuah mobil mewah yang berjalan mendekatinya membuat pergerakan tangan Kyungsoo yang baru saja akan membuka pintu mobilnya segera terhenti. Mobil mewah itu berhenti tepat didepan mobilnya, membuat mobilnya tidak bisa keluar karena terhalang. Tetapi bukan itu yang membuat Kyungsoo menghentikan pergerakkan tangannya, melainkan seorang pria dengan gaya angkuhnya keluar dari dalam mobil dengan setelan jas mewah yang menutupi tubuhnya. Kyungsoo dibuat terkejut saat pria itu menatap dirinya sangat tajam, seperti ingin membunuhnya hanya dengan sebuah tatapan.

Pria itu berjalan menghampirinya. Kyungsoo mencoba menetralkan detakan jantungnya yang kelewat cepat, ia begitu panik saat ini, tetapi bersyukur lah dengan keadaan wajahnya yang tetap memperlihatkan ekspresi biasa-biasa saja –seperti tidak terjadi apa-apa.

Pria itu memberhentikan langkahnya saat dirinya dengan Kyungsoo hanya berjarak tiga langkah. Pria itu benar-benar angkuh dan berwajah dingin, kilatan kebencian terlihat jelas di kedua matanya. "Nyali-mu ternyata besar juga… atau mungkin kau saja yang tidak punya malu?" Ia tersenyum sinis.

"Kau sangat pintar dalam memanfaatkan situasi… Oh! acting-mu juga benar-benar keren." Kejutnya lalu disertai seringaian. Pria itu benar-benar tau jika wanita didepannya kini tengah menahan emosi.

Kyungsoo menggeram, dadanya naik turun menahan emosi yang mulai memuncak. Perkataan pria didepannya sukses membuatnya tersulut emosi. "Apa mau-mu?" Tanya-nya tanpa basa-basi.

"Hei, seharusnya itu adalah bagian dari dialog-ku, ternyata kau serakah juga ya." Pria itu—pura-pura—terkejut lalu memandang remeh wanita yang kini tengah memasang wajah muak kepada-nya.

"Kubilang apa mau-mu Chanyeol?!" Tanya Kyungsoo dengan penekanan di setiap ucapannya.

"Mau-ku? Sederhana saja… Kau pergi, jauhi Baekhyun."

Kyungsoo terdiam.

Chanyeol menatap wanita didepannya tajam, wajahnya kini bak seorang psikopat yang tengah menatap korbannya penuh kekejaman. Chanyeol benar-benar tidak akan peduli bahwa seseorang didepannya adalah seorang wanita. Hukuman yang akan ia berikan kepada orang-orang yang telah berurusan dengannya tetap sama. Chanyeol tidak akan pernah membedakan jenis gender seseorang.

Kilatan petir menyadarkan Kyungsoo dari keterdiamannya sesaat, padangannya balik menatap tajam sepasang mata bulat yang juga tengah menatapnya tajam penuh kebencian. Kyungsoo tidak akan pernah gentar dengan tatapan itu, tatapan itu seperti tengah menyedotnya lebih dalam, membuatnya kembali mengingat hal apa yang sudah diperbuat oleh si pemilik tatapan itu. Kyungsoo kembali tersulut emosi.

"Atas hak apa kau menyuruhku pergi? Aku adalah sahabatnya!"

Chanyeol tertawa remeh. "Sahabat? Lelucon-mu lucu sekali," Kyungsoo melotot, tidak terima.

"Yang terjadi pada Baekhyun sekarang adalah kesalahan-mu Kyungsoo! jadi tidak pantas sekali seseorang yang mengaku sahabatnya telah berbuat—"

"Cukup!" Kyungsoo memotong perkataan Chanyeol. Kedua tangannya menutup kedua telinganya masing-masing, tidak ingin mendengarkan penjelasan Chanyeol lebih lanjut.

Chanyeol menyeringai, "Atau-ku laporkan saja kepada Tuan Byun dan Nyo—"

"KUBILANG CUKUP!" Teriak Kyungsoo disambut oleh bunyi guntur yang terdengar kencang setelahnya. Kyungsoo terkejut, nafasnya naik-turun menahan ketakutan yang menyergapnya. Sejak kecil Kyungsoo tidak pernah akan takut oleh kilatan petir ataupun bunyi Guntur. Kyungsoo anak yang pemberani. Begitu juga saat ini, ketakutan yang dirasakannya bukan karena bunyi guntur yang begitu kencang, melainkan sesuatu hal yang menggajal dihatinya.

"Kau akan menyesal, Kyungsoo! Aku sudah baik padamu, tetapi kau malah bermain-main denganku." Chanyeol menatap benci wanita yang sedang ketakutan didepannya. Ia tidak merasa kasihan sedikit-pun. Sama-sekali tidak.

Dengan wajah dinginnya Chanyeol meninggalkan Kyungsoo segera, memasuki rumah keluarga Byun yang sedang tertutup rapat.

Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya ketanah, tidak peduli jika ada seseorang yang melihatnya saat ini. Wajahnya dipenuhi raut kefrustasian, pikirannya kacau. Kyungsoo tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, bukan kejadian seperti ini yang ia inginkan, bukan begini jadinya. Kedua tangannya menutupi wajahnya, ia tidak bisa lagi menahan sesuatu yang hendak keluar dari kedua matanya.

"Hiks.. Baekhyun…"

"—Maafkan aku."

.

.

.

flashback—

Kyungsoo dan Baekhyun sudah bersahabat sejak SMA. Dimulai saat mereka memasuki sekolah yang sama di tahun pertama mereka menginjakkan kaki mereka digerbang sekolah. Saat itu Kyungsoo lupa membawa sesuatu yang harus di bawanya untuk kebutuhan MOS. Kegiatan MOS ini memang diwajibkan untuk diikuti setiap siswa-siswi angkatan baru di sekolah itu. Raut gembiranya saat menantikan kegiatan MOS ini berubah menjadi raut kepanikan dan juga rasa takut, apalagi saat mengingat perkataan saudaranya jika hukuman yang diberikan bagi siswa-siswi ditempatnya bersekolah sungguh menyeramkan, Kyungsoo ingin menangis saja saat itu. Kyungsoo tidak pernah mengacuhkan perkataan saudaranya. Saudaranya juga seorang alumni di tempat ia bersekolah saat ini. Namanya Eunji ia berumur empat tahun diatasnya.

Tetapi secara tiba-tiba saja seorang wanita dengan rambut sebahunya datang menghampirinya. Wanita itu memakai seragam SMP asal sekolahnya, rambutnya yang berwarna cokelat madu dijepit sebuah pita berwarna pink diatasnya, berbeda dengan Kyungsoo yang hanya dikuncir asal-asal saja. Lalu tanpa tahu malu wanita itu langsung menanyakan sesuatu yang membuat Kyungsoo terkejut.

"Kau kenapa? Aku lihat kau hanya sendiri saja, tetapi mengapa tiba-tiba wajah-mu berubah menjadi panik begitu? Kau tidak gila-kan?"

Kyungsoo sebenarnya ingin mengacuhkan wanita itu, lalu segera pergi dari sana, karena jika tidak, ia akan memunculkan emosinya dihari pertama ia bersekolah. Kyungsoo tidak ingin hal itu terjadi. Tetapi wanita itu kembali mengucapkan sesuatu yang membuatnya terheran. Apa wanita itu keturunan cenayang?

"Kau pasti lupa membawa sesuatu? Ayolah mengaku saja!"

Wanita itu bahkan tanpa segan-segan menyengol bahunya menggoda, seolah-olah mereka sudah berteman akrab. Ia tertawa renyah setelahnya. Wanita itu sangat cantik jika Kyungsoo boleh jujur, tetapi sifat sok akbrabnya kepada orang baru membuat Kyungsoo merasa aneh.

Kyungsoo sebenarnya adalah orang yang sulit bergaul. Ia bahkan mempunyai predikat siswi nakal disekolahnya yang dulu—Nakal dalam konteks sering bolos dan tertidur dikelas. Kyungsoo itu adalah seorang wanita berjiwa pria. Walaupun begitu, Kyungsoo tetaplah wanita yang memiliki perasaan yang peka dan mudah menangis.

"Hihi, Wajahmu begitu lucu sekarang, matamu mengapa bisa besar sekali?"

"Kau mengatakan apa?"

"Aku Byun Baekhyun, panggil saja Baekhyun. Jangan berbasa-basi cepat katakan apa ada sesuatu yang lupa kau bawa?"

"Cokelat payung… aku lupa membawanya."

"Ah~ Ini… kebetulan aku membawa cokelat payung yang banyak."

Dan entah keajaiban apa yang terjadi setelahnya, tetapi mereka menjadi sangat begitu akrab. Bahkan mereka mendapati kelas yang sama ditahun pertama mereka bersekolah. Kyungsoo yang kagum dengan kepintaran Baekhyun membuatnya termotivasi untuk merubah dirinya yang sering membolos menjadi lebih baik. Bahkan Kyungsoo menyemangati dirinya untuk bisa memasuki jurusan kedokteran di universitas yang sama dengan Baekhyun. Ia tidak ingin kehilangan sahabat baiknya.

Tiga tahun berlalu hingga kini mereka telah duduk di bangku kuliah yang sama. Usia mereka yang cukup dewasa membuat mereka sedikit berubah. Baekhyun yang lebih dulu mengenal apa itu cinta segera mencurahkan segala isi hatinya kepada sahabatnya Kyungsoo.

Baekhyun menceritakan bahwa ia telah berkenalan dengan seorang pria di sebuah kedai es krim langganannya. Pertemuannya dengan pria itu tidak hanya sekali, hampir setiap hari Baekhyun melihat pria itu. Hingga mereka menggobrol bersama dan berlanjut jalan-jalan di taman yang berdekatan dengan kedai es krim tersebut. Baekhyun tidak tau mengapa detakan jantungnya berubah menjadi sangat cepat saat ia menatap kedua mata pria itu, yang Baekhyun tau bahwa ia sangat menyukai irama detakan itu. Kyungsoo berpendapat bahwa sahabatnya telah jatuh cinta, jadi ia dengan senyuman cerahnya segera mengucapkan kata selamat. Lalu tanpa ragu Kyungsoo segera menanyakan siapa nama pria itu. Pria yang telah membuat sahabat tersayangnya mengalami jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Dan dengan bangganya Baekhyun mengucapkan sebuah nama yang membuat kinerja jantung Kyungsoo terhenti seketika.

"Namanya adalah… Chanyeol, Park Chanyeol."

Semingu telah berlalu dan kini Kyungsoo merasa telah ditertawakan oleh sebuah takdir. Takdir yang telah mempertemukan dirinya oleh seseorang yang amat dibencinya. Dia Park Chanyeol, seseorang yang begitu ingin dihilangkannya dari dunia ini.

Siang tadi, Baekhyun mengajaknya untuk bertemu seseorang yang beberapa hari lalu diceritakannya. Seseorang yang telah membuat sahabatnya merasakan apa itu jatuh cinta. Dan Kyungsoo tanpa pikir panjang mengiyakan ajakan Baekhyun—Kyungsoo tidak ingin menghancurkan senyum kelewat lebar milik Baekhyun saat itu—.

Awalnya Kyungsoo tetap berpikiran positif tentang pria yang ingin dikenalkan Baekhyun padanya. Ia berharap bahwa Chanyeol yang ingin dipertemukan dengannya adalah Chanyeol yang lain. Kyungsoo mencoba menyakinkan dirinya bahwa nama seseorang bernama Park Chanyeol tidak hanya ada satu di korea. Tetapi, sayangnya takdir benar-benar tengah mempermainkannya. Kyungsoo malah melihat seorang pria dengan pakaiannya yang masih berbalut baju kerja tengah menatapnya tenang. Kyungsoo spontan mengepalkan tangannya dibawah meja di depannya. Tidak ada yang mengetahui apa yang ia tengah lakukan saat ini.

Kyungsoo merasa sangat wajar kalau pria bernama Chanyeol ini tenang-tenang saja saat berhadapan dengan dirinya. Karena sesungguhnya Chanyeol tidak pernah mengenalnya sama sekali. Hanya Kyungsoo yang dapat mengenalnya.

Kyungsoo tersenyum miris, tentu hanya ia yang dapat mengenalnya. Mana mungkin ia melupakan seorang pembunuh, seseorang yang telah membunuh saudaranya –Eunji dua tahun silam. Kyungsoo masih mengingat betapa menderitanya saudaranya saat itu. Kesedihan di wajahnya yang tanpa ia ketahui adalah hal terakhir yang dapat di lihatnya sebelum kepergiannya. Sebelumnya Eunji telah menceritakan tentang seseorang bernama Park Chanyeol, kekasih yang telah memutuskannya secara sepihak. Eunji tidak akan semenderita itu jika saja kedua orang tua Chanyeol saat itu tidak ikut menghinanya. Eunji sangat mencintainya. Tetapi pria bernama Chanyeol itu malah mencampakannya. Eunji bunuh diri. Entah setan apa yang sedang merasuki Eunji saat itu. Kyungsoo sungguh membenci keputusasaan Eunji saat itu, hingga ia nekat untuk melakukan bunuh diri. Tetapi Kyungsoo lebih membenci seseorang yang telah menyebabkan kejadian itu terjadi. Detik itu juga Kyungsoo menyalahkan kematian saudaranya kepada Chanyeol. Baginya Chanyeol adalah pembunuh. Dan Sejak itu pula Kyungsoo membenci seseorang bernama Park Chanyeol juga seluruh anggota keluarganya.

Kyungsoo tersadar setelah suara lembut Baekhyun mengalun ditelinganya. Ia terperangah melihat senyum cerah milik sahabatnya Baekhyun. Sahabatnya sedang berbahagia, tetapi entah mengapa tidak dengan dirinya.

"Chanyeol kenalkan ini Kyungsoo sahabat sedari SMA-ku,"

"Dan… Kyungsoo kenalkan ini Chanyeol… kekasihku."

Kyungsoo tersenyum miris.

Ia tidak akan merelakan Baekhyun begitu saja. Kyungsoo bersumpah.

flasback end—

.

.

.

Kondisi jalan raya disore hari itu cukup lenggang, dimana hanya ada beberapa penggendara motor yang sesekali melintasi jalan itu. Bahkan kalian bisa menghintungnya menggunakan jari-jari tangan. Menggingat kondisi jalan raya yang sepi membuat Baekhyun dapat melangkahkan kakinya bebas, tanpa perlu takut akan terjadi hal-hal menggerikan, seperti kecelakaan misalnya. Well, meskipun begitu Baekhyun harus tetap mentaati peraturan, yaitu: menolehkan kepala terlebih dahulu kekanan dan kekiri.

Sesudah mengawali aktivitas paginya untuk berkuliah kembali, kali ini si bungsu dari keluarga Byun itu lebih memilih melewati sore harinya ini untuk mampir terlebih dahulu ke kedai es krim langganannya. Kondisi jalan raya yang sepi bukan berarti membuiat kedai es krim dengan logo penguin kecil itu menjadi sepi pengunjung. Baekhyun hampir saja mengurungkan niatnya untuk membeli es krim kesukaannya saat pandangan matanya menampilkan kursi-kursi di kedai itu yang semuanya sudah berisi pembeli.

Tapi mengingat dirinya yang benar-benar ingin memakan es krim sekarang, akhirnya setelah mengalami perang batin dengan dirinya sendiri, Baekhyun memilih memesan es krimnya terlebih dahulu. Dimana tempat ia memakan es krimnya, ia pikirkan nanti saja.

Baekhyun merasa ada yang berbeda dengan kedai es krim ini. Ia sudah berlangganan di tempat ini saat berumur tiga belas tahun, tetapi ia tidak pernah tau bahwa kedai ini telah berganti suasana. Setaunya ia tidak terlalu lama tidak datang ke kedai es krim ini. Tetapi mengapa perubahannya bisa begitu cepat?

"Annyeonghaseyo~ Apa yang ingin anda pesan noona?"

"Es krim… es krim cokelat."

"Es krim coklat? Itu saja?"

"Ti-tidak, ma-maksudku aku ingin es krim cokelat dengan topping special di atasnya, Ah ya, aku ingin cup yang besar."

"Apa ada lagi?"

"Tidak, itu saja."

"Baiklah, tunggu sebentar."

Selang lima menit es krim cokelat pesanan Baekhyun telah datang. Baekhyun benar-benar ingin memakannya segera. Biasanya ia tidak terlalu tergiur dengan hal-hal berbau cokelat, ia akan memilih rasa stroberi tanpa berfikir panjang. Tetapi, untuk kali ini rasanya ia lebih tergiur dengan sesuatu hal berbau cokelat daripada rasa stroberi favoritnya.

Setelah membayarnya Baekhyun segera membawa es krim cokelatnya. Matanya kembali melihat kursi-kursi di sana yang ternyata masih sangat ramai oleh para pembeli. Tidak mungkinkan ia memakan es krimnya sambil berdiri. Eomma-nya selalu mengingatkan kepadanya untuk tidak memakan sesuatu sambil berdiri. Itu tidak baik.

Tetapi, setelah ia lihat lebih teliti lagi ada salah satu kursi kosong di pojok ruangan. Meja bernomor kosong enam itu memiliki dua buah kursi yang berhadapan dengan satu buah meja yang menjadi penghalangnya. Sayangnya ada seorang pria yang menduduki salah satu kursinya. Baekhyun ingin sekali duduk di sana. Tetapi apakah tidak apa-apa? Ia tidak mengenal pria itu, dan pria itu juga pasti tidak mengenalnya, apakah terlihat sopan? Tetapi, jika ia berdiri seperti ini terus, maka es krimnya akan benar-benar menjadi sebuah genangan air—mencair—.

Baekhyun memutuskan untuk menghampirinya saja. Meminta izin terlebih dahulu, sedikit berbasa basi, memakan es krimnya dengan lahap dan segera pulang. Ya, semudah itu. Berdoa saja semoga pria itu bukan seorang om-om mesum.

"Permisi tuan, apa saya boleh duduk disini?" Baekhyun berkata sopan seraya menunjuk sebuah kursi kosong. Pria yang sedang menatap es krim di depannya itu terdiam sesaat. Tercenung dengan suara yang baru saja di dengarnya.

Baekhyun mengeryit. Pria di depannya ini sungguh aneh. Terdiam dengan kepala menunduk menatap es krim yang berada di depannya. Apa Baekhyun sedang berurusan dengan om-om mesum sungguhan?

"Hng… kalo tidak boleh, tidak apa-apa. Saya akan mencari kur—"

"Silahkan saja, tidak ada yang melarang." Pria itu mendongakan kepalanya. Terlihat wajah putih bersihnya yang membuat Baekhyun sedikit terperangah—hanya sedikit—wajahnya mengingatkan Baekhyun tentang tokoh-tokoh anime yang sering ia tonton dulu.

"Baiklah, terimakasih." Baekhyun membungkuk sopan. Ia segera menarik kursinya dan duduk dengan tenang.

Baekhyun melahap es krim itu dengan cepat. Baru beberapa menit berselang, es krim dengan cup besar itu telah habis di makannya. Ia baru sadar jika nafsu makannya bisa sebesar itu. Baekhyun baru akan berdiri untuk memesan es krim kembali, namun sayangnya hal itu harus di urungkannya saat ia melihat es krim berwarna cokelat milik pria di depannya itu telah benar-benar mencair. Pria itu sepertinya tidak ada niatan sedikitpun untuk memakannya, ia malah sedang melihati perubahan es krim itu seperti sesuatu hal yang menarik untuk di lihat.

"Es krim-mu mencair." Baekhyun tahu perkataannya sedikit bodoh. Memperingati seseorang tentang 'Es krim yang mencair' padahal orang itu jelas-jelas sudah melihati 'Es krim mencair' itu lebih lama dari dirinya. "Aku tahu." Yeah, begitulah jawaban yang ia dapat.

"Kalau kau tidak berniat memakannya, tidak usah memesannya. Apa kau tidak tau? Banyak sekali pembeli yang kecewa karena es krim di tempat ini cepat sekali habis. Dan kau malah membuang-buang es krim itu. Bahkan kau tidak membuangnya, kau melihati es krim itu hingga ia mencair. Kau tidak dapat memakan es krim yang telah mencair!" Sifat asli Baekhyun keluar. Ia akan mengeluarkan semua pemikirannya, tidak peduli jika orang itu adalah orang yang baru beberapa menit ini ia temui.

"Tapi kau dapat meminumnya."

Itu benar,

"Tapi itu bukan es krim lagi, itu terlihat seperti sebuah cairan."

Benar juga,

"Baiklah, aku selalu kalah dengan seorang pencinta es krim."

Pria itu mengalah, tetapi Baekhyun tidak peduli. Dengan kaki yang di hentak-hentakan Baekhyun segera pergi kearah meja kasir. Rencananya ia akan membeli sebuah es krim cokelat untuk kedua kalinya. Wajahnya cemberut, ia sedikit sebal dengan pria tadi. Bisa-bisanya pria itu menyianyiakan sebuah es krim, padahal Baekhyun sendiri selalu memuja-muja begitu nikmatnya rasa sebuah es krim.

Setelah menyampaikan apa yang ia pesan, Baekhyun tersenyum begitu puas, tetapi wajah seolah-olah meminta maaf yang di tampilkan oleh si penjaga kasir malah membuat Baekhyun sedikit was-was. Setelahnya, perkataan penjaga kasir itu benar-benar membuat Baekhyun terdiam.

"Maaf noona, tetapi stok es krim cokelat kami telah habis, hanya tersisa blueberry dan vanilla saja."

Dan Baekhyun mengingat-ingat tentang rasa es krim milik pria yang telah menyianyiakan es krimnya tadi.

Tanpa sopan santun sama sekali Baekhyun segera melangkahkan kakinya cepat meninggalkan meja kasir tersebut. Matanya memandang kearah pria yang masih terdiam di meja yang terletak di pojok ruangan. Baekhyun yang terlihat emosi membuat penjaga kasir tadi sedikit takut juga heran. Lain hal dengan seorang pria yang saat ini tengah menatap biasa-biasa saja wanita yang baru saja menduduki kursi di depannya dengan penuh emosi.

"Hei! Dasar penjahat es krim! Es krim cokelat itu—" Baekhyun menunjuk es krim di depannya yang telah mencair, lalu pandangannya menatap tajam pria yang sedang terheran-heran di tempatnya. "Seharusnya adalah es krim-ku! Gara-gara kau aku kehabisan es krim cokelat yang seharusnya sudah berada di hadapanku sekarang!"

"Oh Sehun."

"Apa?" Baekhyun terheran. Pria di depannya benar-benar aneh. Baekhyun meningkatkan kewaspadaannya. Bisa saja pria di depannya tengah mabuk. Baekhyun mengendus. Tidak ada bau alkohol. Jangan-jangan pria ini memang sudah gila.

"Nama-ku Oh Sehun." Pria itu melipatkan tangannya di dada. Lalu tersenyum kecil melihat betapa merahnya wajah wanita yang berada di depannya. Marah hanya karena sebuah es krim cokelat yang habis. Lucu sekali.

"Bukan, maksud-ku kenapa kau memberitahu nama-mu? Aku ini sedang marah padamu!" Baekhyun menjawab masih dengan nada penuh emosi.

Sehun mengangkat bahu acuh. "Ya, siapa tahu kita dapat bertemu lagi. Di saat itu pula kau dapat memangilku dengan sebuah nama bukan dengan perkataan Hei!"

Baekhyun mempertajamkan matanya. Mencari-mencari apakah pria berwajah tampan di depannya adalah orang jahat atau tidak. Karena Baekhyun berkeyakinan bahwa seorang penjahat tidak bisa di lihat hanya dengan penampilannya saja. "Nama-ku Byun Baekhyun . Jika kau bertemu dengan-ku, kau harus membayar hutang-mu kepadaku." Ia akhirnya memperkenalkan namanya di iringi dengan nada ketus setelahnya.

"Boleh aku meminta nomor pensel-mu? Aku akan mentarktir-mu es krim lain kali."

Baekhyun membelalakan matanya. Tidak dapat di ragukan lagi, pria bernama Oh Sehun itu benar-benar pria yang bergerak cepat.

Tetapi, seorang pria asing yang meminta nomor ponsel, jelas Baekhyun akan menolak, tapi, sebuah es krim gratis?

"Aku bukan seorang pria jahat ataupun seorang om-om mesum jika itu yang sedang kau pikirkan." Sehun memasang wajah meyakinkan.

Baekhyun mendesah berat. Masih tidak yakin untuk memberi nomer ponselnya kepada pria asing. Tapi… Demi es krim gratis!

"Baiklah, simpan nomer ponsel-ku, dan jangan berani macam-macam." Baekhyun memperingati dengan wajah galak yang sama sekali tidak terlihat seram. Lagipula hanya nomer ponsel, ia akan mengganti nomer ponselnya jika pria itu berani macam-macam.

"Tidak akan." Sehun tersenyum.

Dalam hati ia bersyukur, semoga ini dapat berjalan lancar.

.

.

.

Di malam tiba, Baekhyun sedang bersender di headboard tempat tidurnya. Setelah meminum susu yang di berikan Eomma-nya, Baekhyun segera mengunci pintu kamarnya, ia beralasan sudah mengantuk dan akan pergi tidur. Tetapi, yang Baekhyun lakukan saat ini adalah memandang langit-langit kamarnya yang gelap—karena lampu telah di matikan—sesekali ia akan mengelus perutnya yang semakin hari terlihat semakin membesar.

Baekhyun tidak menyangka ada sebuah malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam perutnya. Selama fase mengurung dirinya di kamar, Baekhyun selalu memikirkan bagaimana hal ini dapat terjadi. Ia akan mengerang frustasi karena tidak dapat mengingat sama sekali. Setiap bangun tidur atau setiap ia sedang berdiam diri, Baekhyun dapat merasakannya. Ia dapat merasakan sesuatu yang sedang tumbuh di dalam perutnya.

Baekhyun mencoba menerimanya, walau terkadang ia masih sering menyangkal, karena—hei, mustahil bukan jika tiba-tiba saja kau hamil tapi kau tidak mengingat sesuatu bagaimana bisa kau hamil?

Tetapi semakin di rasakannya, semakin ia menyukainya, ia menyayangi sesuatu hal yang sedang tumbuh di dalam perutnya. Seakan hal sepaerti ini benar-benar telah di tunggunya. Pikirannya berkata mustahil, tetapi hatinya tidak dapat menolak.

Park Chanyeol.

Tiba-tiba saja nama itu melintas di kepalanya. Baekhyun tidak tahu siapa Chanyeol sebenarnya. Pengakuan Chanyeol beberapa hari lalu membuat Baekhyun shock, apalagi saat pengakuan Chanyeol terbukti benar adanya. Setelah kebenaran yang ia terima dari dokter waktu itu, Baekhyun terus memikirkan Chanyeol. Bukannya ia tertarik. Tetapi, Baekhyun selalu memikirkan apakah Chanyeol benar-benar Ayah dari malaikat kecil yang ada di dalam perutnya. Tetapi sekali lagi, bagaimana bisa?

Huh, selalu saja seperti itu, pemikirannya akan berujung dengan 'Bagaimana bisa Chanyeol adalah Ayah dari calon anaknya ini?'

Baekhyun berjanji, seperti kata Kyungsoo kemarin, jika ia sudah siap, ia akan menanyakan semua permasalahan ini kepada kedua orang tuanya. Baekhyun yakin jika kedua orang tuanya tau sesuatu hal yang tidak di ketahuinya. Baekhyun tidak ingin menjadi orang bodoh kerena tidak tau permasalahan apa yang sedang terjadi kepadanya. Baekhyun merasa ia seperti telah melewatkan sesuatu.

Tring~

Baekhyun menatap ponselnya yang baru saja berbunyi. Siapa yang memberinya pesan malam-malam begini?

Baekhyun segera mengecek ponselnya. Mengusapnya untuk membuka layar, dan menekan ikon 'lihat' untuk melihat pesan yang baru saja sampai. Nomor tidak dikenal. Baekhyun mengeryit. Tidak ingin terlarut dalam kebingungan ia lalu membaca isi pesan yang terpampang di layar ponselnya.

'Haii~ pencinta es krim^^ masih ingat denganku? Apa ini terlalu malam untuk memberi-mu sebuah pesan? Aku adalah pria yang sibuk, jadi maklumkan saja. Segera balas jika kau membacanya.'

Baekhyun tersenyum manis, tidak menyangka pria yang ia temui di kedai es krim tadi benar-benar memberinya sebuah pesan.

'Apakah pria yang sibuk adalah pria yang menghabiskan waktu sehariannya di sebuah kedai es krim? Kurasa tidak.' –BB

Tring~

'Hei, aku benar-benar pria yang sangat sibuk, asal kau tau.'—OS

'Baik, aku percaya padamu:'v'—BB

Tring~

'Kau memang harus percaya kepadaku:^ Kapan kau ada waktu, aku akan mentraktir-mu es krim.'—OS

'Aku tidak tau, akan aku kabari nanti.'—BB

Tring~

'Baiklah.'—OS

Tring~

'Kau benar-benar belum berniat untuk tidur? Kau tidak akan mengantuk?'—OS

'Sebenarnya aku baru akan tertidur sebelum kau memberiku sebuah pesan,'—BB

Tring~

'Benarkah? Apakah aku menganggu waktu tidurmu? Baiklah kalau begitu, selamat malam, selamat tidur pencinta es krim^^'—OS

'Selamat malam juga, dan selamat tidur.'—BB

Dan setelahnya Baekhyun mematikan ponselnya, menaruh ponsel miliknya itu di atas sebuah nakas di samping tempat tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimut dan segera pergi tidur. Entah apa yang terjadi, tetapi Baekhyun merasa pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya tadi telah hilang entah kemana. Semoga saja ia terbangun dengan keadaan yang lebih tenang dan lebih siap. Karena apa yang akan terjadi besok, belum tentu sesuai dengan apa yang di harapkannya.

.

.

.

Dilain tempat seseorang dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya memandang sesuatu benda di hadapannya dengan penuh kerinduan. Pria itu tengah terduduk di sebuah tempat tidur King Size. Wajahnya di liputi penyesalan. Ini memang kesalahannya dahulu, tapi tidak adakah sedikit maaf yang dapat diterimanya. Ia sudah berubah. Chanyeol yang brengsek sudah pergi entah kemana, tapi mengapa Tuhan seakan baru saja menghukumnya. Apakah kesalahannya terdahulu benar-benar sudah tidak dapat di maafkan? Sehingga Tuhan mengambil seseorang yang sangat di cintainya sekarang.

Jika sebuah keajaiban itu nyata, Chanyeol memohon, ia akan memohon kepada Tuhan untuk memaafkan kesalahannya dan mengembalikan seseorang yang amat sangat di cintainya saat ini.

Di peluknya sebuah boneka Rilakkuma yang berada di hadapannya. Sebuah cairan bening membuat kepala boneka itu sedikit basah. Setelah merasa lebih tenang, Chanyeol menatap boneka itu penuh harap.

"Aku mohon, segerahlah kembali, aku merindukan-mu,"

"—Baekhyun."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

(Mohon dibaca untuk yang masih bingung, hehe :'v)

Haiii~*tampang polos*

Maaf nih baru dilanjut, hehe:'v aku nggak pede sama chap 3 ini*tutupmuka*gimna? Mungkin masih ada yang bingung sama jalan ceritanya, maklumin aja ya, aku baru di ffn ini soalnya, aku juga masih belajar, aku sendiri juga berusaha buat cerita aku nyaman sama para pembaca.

Oh ya sekedar memberitahu, di chapter kemarin mungkin ada beberapa yang bingung siapa yang bicara sama sehun, bener nggak? Itu sebenernya Chanyeol lho, padahal aku udah kasih clue, tapi mungkin ada beberapa dari kalian yang nggak peka kali yaa. Syudahlah aku syudah terbiasa *eyyjadibaver* wkwk.

Contohnya mungkin kek gini;

Bukannya tidak ingin menolong, tapi Sehun lebih mengetahui tabiat sahabatnya yang tidak akan pernah sudi meminta pertolongan tanpa ia yang memintanya. –dari sini itu sebenernya aku udah kasih clue lho, masih inget nggak sama adegan ini? Disini ceritanya chanyeol kakinya sakit abis jatoh dari kamar mandi, tapi dia nekat buat jalan sendiri tanpa minta bantuan sehun. Semoga masih inget kkk~

Dan,

Sehun tersenyum, sahabatnya memohon padanya, dan bukankah ia harus segera menolongnya? –Nah! Padahal dari kalimat sebelumnya, dan juga kalimat ini sebenernya menunjuk kearah chanyeol.

Tapi, intinya, sebenernya si chanyeol ini minta bantuan ke sehun buat jauhin Dia dari Baekhyun.

Nah, Dia itu siapa? Kalo kalian udah baca chap ini dengan serius dan teliti pasti udah tau dong dia yang dimaksud chanyeol siapa. Kalo belum tau juga? coba baca lagi pelan-pelan.^^

Terus Alasannya chanyeol jauhin dia dari baekhyun? Alasannya, pasti akan terungkap seiring berjalannya waktu kok *eaaa* Jadi, aku harap kalian bersabar. Karena aku pasti nyelesain semuanya secara pelan-pelan. Chapter demi chapter. Dan aku harap kalian punya poin tersendiri di setiap chapternya. Pusing ya? Aku yang bikin lebih pusing lho. Aku juga sadar kalo konflik yang aku buat dicerita ini cukup rumit. Padahal aku nggak jago buat cerita yang rumit-rumit. Aku nekat sebenernya.

Jadi di chapter tiga ini apakah masih ada yang nggak ngerti? Yang nggak ngerti monggo kalian bisa tanya-tanya di kotak review atau pm aja juga bisa, insya Allah akan aku jawab di chapter selanjutnya. Tetapi tetap menggunakan bahasa yang sopan yaa…

Makasih lho yang udah Review, fav, follow, dan yang masih ikutin berkembangan cerita ini. Juga makasih yang udah sempet-sempetin ngasih saran ke aku hihi, semoga semakin kesini penulisan aku semakin baik^^ aku cinta kaliaann~ BYEE…

P.s : tanggal 18 nanti aku bagi rapot lho^^ doain-ya semoga naik ke kelas 11:'v dan nilainya juga bagus-bagus, hihi^^

P.s (Lagi): HAPPY CHANBAEK DAY^^ YUHUUUU~ (maaptelat:'v)

#614EverWithChanBaek