"Mau gw temenin gak,tef?"

"Nggak, gw bentar aja kok. Lo selesein tugas aja dulu,"

Sifa mengangguk, dan Stefani langsung keluar kelas. Ia ingin ke kelas Ryanㅡkarena Stefani minggu lalu meminjam buku paket kelas 1-Nya untuk ia salin.

Stefani sampai di kelas 2A,ia menengok kedalam kelas yang ribut, dan salah seorang dari mereka melihat Stefani.

"Ada Ryan-Nya?"Tanya Stefani

Orang itu tersenyum jahil, dan kemudian berteriak ke arah seisi kelas.

"Robin!!! Pacar lo nih, mau ketemu katanya!"

Stefani pucat pasi

Lah??? Si adkel laknat sekelas ama Ryan???

Stefani panik, ia menggeleng cepat berkali-kali, sementara seisi kelas heboh menyiulinya, bahkan menggodanya.

"Wiiiiii Bin pacar lo noh samperin!!!"

"Pwiwit mau juga dong didatengin!!"

"Bin tuh mau di ajak ke kantin bareng wakakakak!"

Stefani bisa melihat Robin yang duduk di kursinya mulai terganggu dengan kehebohan seisi kelas, ditambah lagi Tegar yang asik ngeGame sambil headset-an harus melepas paksa headsetnya.

"Apa sih? Pacar your ass, malesin!"Sahut Robin, masih fokus pada ponselnya.

Tapi lama-lama ia melirik juga ke ambang pintu, mendapati Stefani yang berdiri gelisah dengan jidat yang agak membiru.

Stefani menengok kesana kemari, mencari sosok Ryan, tapi ia tak ada.

Dan yang muncul malahㅡ

"Ngapain lo kesini? Mau minta tanggung jawab?"

Robin menghampirinya, dan seisi kelas mendengarkan percakapan mereka secara seksama.

"HAAAAAAAA???

TANGGUNG JAWAB???"

Asep berteriak heboh, diiringi dengan kawan-kawannya yang lain.

"Bin lu apain anak orang??? Kakel bego dia!" Sambar Tegar

"Gilaa, berani banget lu bin!

Ayo bin, berani bertindak, berani tanggung jawab!,"Sahut Alfa diiringi cengirannya.

Robin mendelik ke arah Mereka,

Membuatnya terdiam, dan kembali memerhatikan Stefani.

"Weh, sorry-sorry aja nih gw mah, jan keGR-an dulu yeh!

Gw kesini pen cari Ryanㅡ"

"Nyari gw,kak?"

Stefani menoleh ke belakang mendapati Ryan dengan senyum ramahnya yang menular, Stefani pun ikut tersenyum.

"Eh,elu gw cariin di kelas kagak ada" ujar Stefani

"Ya maap kak, gw abis ke perpus, yah you know lah!

Ngeresume,hehe"jawab Ryan

"Hmm gw chat ga dibales, asik banget berduaan ama bukunya yeh,"sindir Stefani

"Hahaha gw lagi fokus nyari buku, jadi hp di silent deh, yaudah,maaf yah kak,hehe"

Robin mendengus kesal karena

Di depannya dua orang asik berbicara, rasanya seperti embe congekㅡ

"yAAMPYUN PERSELINGKUHAN DI MATAQU"Kali ini Ruri yang berteriak, membuat seisi kelas ribut lagi.

"Bin, lu tahan ngeliat mereka berdua di depan situ??? Itu berat kamu tak akan kuat,bin!"Ujar Rehan lalu disambut dengan ledakan tawa yang lainnya.

Robin berdecak sebal"heh, ngomongnya bisa kali gak di depan pintu gini, gw susah mau lewat"

Robin menabrak bahu Stefani dan pergi meninggalkan mereka berdua.

"Dih..?? Bocah ngapa yak?"gumam Stefani

Seisi kelas heboh menertawakn Robin,sedangkan Ryan jadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya sekarang.

"Lu kenal ama Robin,kak?"Tanya Ryan sambil menerima buku paket dari Stefani

"Gak seh,cuma tau"

"Oh,gak sih!

Heran aja, soalnya anak-anak kok pada heboh gitu"

Stefani mengendikan bahunya,"ga tau dek,yaudah deh kalo gitu gw balik ke kelas dulu yah,makasih yah udah minjemin bukunya"

Stefani melambai dan berlari kecil menuju kelasnya.

"Stefaniㅡjidat lu kenapa?

Kok biru?"

Stefani memejamkan matanya sebentar. Uh,sial. Ryan melihatnya,padahal Stefani sudah menyembunyikan jidat birunya dengan poninya.

"Oh,ini?

Jidat gw nyium tembok kemaren,

Eheheh"

Padahalmah gara-gara si Robin ama bola basket laknatnya

"Beneran gapapa tuh? Kayaknya sakit banget tuh,kak!

Makanya hati-hati kak kalo jalan"

Stefani menyengir,"iya, gw kemaren gak fokus. Kalo gitu, gw balik dulu yah!"

Sumpah, Stefani malu bingits. Ia segera berlari menuju kelasnya sambil menutupi pelipisnya.

Sementara Robin, ia bersandar di tembok sambil memerhatikan Stefani yang berlari menuju kelasnya.

Stefani pulang ke rumah dengan wajah kusut. Seharian ia mengerjakan banyak tugas di sekolah. Dan di tambah lagi dengan 2 ulangan dadakan. Kepalanya terasa panas, dan Stefani butuh es krim sekarang.

Ia memasuki mini market dan bergegas menuju lemari pendingin, ia mengambil sekotak es krim coklat-vanilla favoritnya, dan sialnya tinggal tersisa satu.

"Yash..es kriㅡ"

Stefani dan orang lainnya memegang es krim yang sama. Ia menggigit bibirnya, mana bisa ia mengalah dan memberikan es krim favoritnya pada orang lain.

"Maaf,tapi sayaㅡ"

"Ini punya gw"

Kedua mata Stefani melotot mendapati Robin yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

Sementara,Stefani lengah, ia menarik es krimnya dari tangan Stefani.

"Woy! Itu es krim gw!! Gw duluan yang ngambil!!"seru Stefani, ia tidak peduli dengan 2 orang kasir di depan sana menatap mereka heran.

"Kata siapa? Emang siapa yang dateng duluan?" Robin mengangkat tinggi-tinggi agar Stefani tidak bisa menjangkaunya.

"Tapi kan gw yang ngambilnya duluan!!"

"Nggak tuh? Lagian yang tua tuh harus ngalah ama yang muda"

"Hish!"desisnya sambil mengentak-hentakan kakinya kesal, lalu memilih berjalan ke lemari pendingin tempat menyimpan minuman segar.

Robin juga menuju ke tempat yang sama dengan Stefani, dan lagi-lagi mereka mengambil minuman yang sama.

Kali ini Stefani yang memegang minuman milik Robin.

"Kayaknya lo pengen banget deh skinship ama gw,ya? Nih,nih gw kasih,"

Robin mengusap-ngusap punggung tangan Stefani, Stefani pun reflek mengangkat tangannya hingga kejeduk sekat lemari pendingin.

"Adaaaaw!"pekik Stefani, sambil mengibas-ngibas tangannya yang sakit.

"Eh?? Gosah salting gitu kak!

Ampe kejeduk!"

"Gw bukannya salting! Tapi jijik!

Kek om-om genit ae luh!"

"Eits, no no no!

Btw, ni minuman gw yang ngambil duluan,"Robin merebut minuman itu dan langsung membekapnya agar Stefani tidak bisa merebutnya.

"Yaudah ambil aja semuanya!"

Sebel, Stefani pun segera menuju ke rak minuman dan enggaan bertengkar lebih jauh dengan Robin. Ia lalu bergegas ke depan kasir, membayarnya, dan langsung kabur meninggalkan Robin.

"Eh anju, kenapa ketemu tu anak mulu?"