Here my chapter 4

ngebut ngerjainnya...kaya lari!

.


.

People change, but memory stay forever...

.

Mereka sangat senang karena besok adalah hari pertama mereka duduk di bangku sekolah dasar. Sore itu Sasuke dan Naruto sedang berjalan melewati taman bermain di komplek perumahan mereka. Dari kejauhan Sasuke memperhatikan seorang gadis sedang berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tampak beberapa anak laki-laki dan perempuan mengelilinginya, sepertinya ia sedang di bully. Sasuke heran mengapa gadis itu sama sekali tidak melawan dan hanya menangis?

"Naruto, apa kau mengenali gadis yang di sana itu?" Tanya Sasuke sambil menunjuk ke arah gadis tadi.

"Oiii, yang mana?" Naruto melihat ke arah telunjuk jari Sasuke. "Ohh...itu Sakura-chan, dia tetanggaku dan kita akan satu sekolah dasar dengannya, kasihan sekali dia ayo kita tolong."

Sasuke dan Naruto mempercepat langkah mereka. Sesampainya disana mereka berdua mengusir anak-anak yang tadi mengganggu gadis berambut pink yang sekarang Sasuke ketahui bernama Sakura tersebut. Entah kenapa sejak kecil Sasuke sudah memiliki aura yang mengancam sehingga dengan sekali teriakan pengganggu itu langsung kabur tanpa jejak. Naruto membantu Sakura berdiri.

"Ini...bersihkan debu dan air mata di wajahmu." Sasuke dengan acuh menyodarkan sapu tangan miliknya.

"Terima kasih..." Sakura menjawab dengan suara yang masih terisak.

"Ayooo kita pulang bersama!" Ajak Naruto dengan riang.

.

"Sasuke-kun terima kasih, ini saputanganmu sudah aku cuci." Kata Sakura malu-malu sambil meletakkan sapu tangan itu di atas meja.

"Apa kau masih suka di bully? Mulai sekarang saat pulang sekolah berjalanlah di belakangku agar kau tidak diganggu lagi." Kemudian Sasuke berjalan keluar kelas meninggalkan Sakura yang masih terbengong-bengong tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.

.

"Heeeehhh...sudah hentikan ekspresi bodohmu itu Naruto. Kalau tidak mulutmu yang menganga itu akan kemasukan lalat."

"Sasuke lihatlah...itu disana, Sakura-chan tersenyum...sepertinya aku melihat bidadari."

Dan mereka berdua pun terhanyut memandang gadis yang sama hingga kemudian terlonjak kaget oleh suara bel tanda jam istirahat telah usai.

.

"Hari ini aku membantu ibu membuat bekal, dan aku juga membuatkankannya untuk kalian berdua..." Sakura membagikan bento yang dibawanya kepada Sasuke dan Naruto. Siang itu mereka bertiga memutuskan untuk makan siang di rooftop.

"Lihaaat...Sasuke! Sakura-chan membentuk bentonya seperti wajahku yang sedang tersenyum lebar!"

"Kecilkan volume suaramu, aku tidak tuli idiot!" Sasuke membuka bento miliknya dan mendapati bahwa disitu bentuk wajahnya sedang cemberut. "Sakura...mulai besok buatkan bento dengan bentuk wajahku yang sedang tersenyum."

Hari itu, untuk pertama kalinya Sasuke mengalahkan rekor kecepatan makan Naruto.

.

Sasuke memperhatikan Naruto yang sedari tadi senyam-senyum sendirian tidak jelas.

"Hei dobe, kau masih waras kan?" Sasuke lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Naruto.

"Teme, sepertinya aku menyukai Sakura-chan."

"Huh?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

"Sudah-sudah, lupakan saja yang barusan aku bilang yaaa...hehehe." Ujar Naruto salah tingkah.

.

"Kemana siih si perginya si mulut besar itu? Membeli dango saja lama sekali!" Sasuke menggerutu sambil berdiri bersandar pada tiang ayunan. Sedangkan Sakura malah asik mengayunkan ayunannya dengan riang sambil bernyanyi kecil.

"Sasuke-kun tolong ayunkan ayunannya tinggi-tinggi yaa..." Sasuke pasrah dan menuruti permintaan Sakura.

"Lihaaatt Sasuke-kun aku seperti terbang...!"pekik Sakura girang sambil merentangkan kedua tangannya menyambut angin.

"Annoying..." Sahut Sasuke.

"No, I'm happy..." Ujar Sakura menanggapi.

Diam-diam Sasuke mengamati wajah Sakura yang tersenyum memandang langit.

.

Sasuke berjalan menuju rumah Sakura untuk mengembalikan buku yang kemarin ia pinjam. Tetapi setelah beberapa lama berdiri di depan pagar dan memencet bel berkali-kali tidak kunjung ada jawaban dari si penghuni rumah. Sasuke berpikir mungki saja Sakura dan ibunya sedang pergi, kemudian ia berbalik pulang. Sesampainya di rumah, Sasuke menghampiri ibunya yang berada di dapur sedang membuat riceball, ia mencomot salah satunya.

Lalu ibunya berkata, "Sasuke, tadi sebelum pergi Ibu Sakura-chan memberikan ini pada ibu. Katanya ini adalah titipan Sakura-chan untukmu." Mikoto menyodorkan sebuah amplop berwarna biru gelap kepada Sasuke.

Sasuke membukanya dengan hati-hati kemudian menyungingkan senyum kecil. Di dalam amlop itu berisi kertas bergambarkan wajahnya yang sedang tersenyum. Tetapi setelah mambaca tulisan dibawahnya ekpresinya langsung berubah drastis, ia langsung terlihat murung. Disana tertulis 'lihatlah gambar ini sebelum kau makan dan bayangkan bekal yang kau makan berbentuk wajahmu yang sedang tersenyum'

"Mereka pergi kemana oka-san?"

"Ohh...jadi kau belum tahu. Setelah semua ceremonial pemakaman tuan Haruno selesai Sakura dan Ibunya memutuskan untuk pindah ke Kyoto."

Sasuke hanya bisa diam mendengar penuturan ibunya. Ia menggenggam amplop yang Sakura berikan erat-erat lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Mikoto terheran-heran melihat tingkah laku putra bungsunya. Diraihnya buku catatan yang Sasuke tinggalkan di atas meja dapur. Ia membolak balik setiap halaman buku catatan tersebut dan menemukan tulisan tangan Sasuke di halaman terakhir bertuliskan 'never cry again...'

Jauh di tempat yang berbeda...

Di atas kereta Sakura hanya bisa memandang keluar jendela sambil menitikkan air mata.

one second, the one teardrop that's left

that's all the time we have left

couldn't it flow by a little slower

if even the teardrop would stop.. what would we do

tomorrow morning, when i open my eyes, i'll meet a totally different life

goodbye... this isn't what i wanted to say

goodbye... it's sound so familiar

tomorrow when you wake up, would you still remember me ?

Goodbye... I not knowing my feelings again

Farewell... The words i spat out painly


Sasuke terbangun oleh suara ponselnya yang tak henti-henti berdering. Ia membuka matanya dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Jam berapa sekarang, batinnya. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di lampdesk samping tempat tidurnya. Ternyata telepon dari Kakashi, sekretaris direkturnya. Mata Sasuke seketika terbelalak melihat kembali layar ponselnya.

"Shit!" Umpatnya.

Pantas saja Kakashi meneleponnya berkali-kali. Untuk pertama kali setelah 7 tahun menjabat sebagai presiden direktur Uchiha corp. Sasuke terlambat menghadiri meeting. Ia langsung melompat pergi ke kamar mandi. Saat bergegas keluar kamarnya, Sasuke melihat pelayannya sudah berdiri di depan pintu dengan membawa baki yang berisi sarapan untuknya.

Pelayan itu membungkuk lalu berkata, "Sakura-sama memberikan pesan supaya kami tidak membangunkan anda."

Sasuke hanya mengambil sepotong roti tanpa berkata-kata, lalu setengah berlari menuju mobilnya. Di tengah perjalanan ia menelepon Sakura.

"Mengapau kau memerintahkan pelayan untuk tidak membangunkanku? Aku terlambat untuk meeting penting dengan Sabaku Ltd. pagi ini." Cerca Sasuke ditelepon.

Sakura hanya menjawab dengan ringan, "Aku melihat wajahmu sangat lelah dan kau sepertinya tidur dengan nyenyak. Kau harus mengistirahatkan tubuhmu, sekali saja terlambat pergi meeting tidak membunuhmu kan?"

Sasuke mematikan ponselnya dengan kesal. Ia memijat-mijat keningnya berusaha mengingat mengapa ia bisa tertidur begitu lama. Kemudian muncul kilasan penggalan-penggalan memory tentang masa kecilnya. And then he sigh...ia ingat bahwa ia bermimpi tentang kenangan masa kecilnya. Rekaman memory itu terputar di otaknya seperti pizzeria. Sasuke sendiri tak percaya bahwaw hampir 20 tahun kemudian keadaannya bisa sama sekali berbeda. Bagaimana waktu dapat mengubah seseorang.

Dulu...dulu sekali ia pernah merasakan perasaan itu, bahwa ia juga pernah hidup normal seperti kebanyakan orang. Hal itu tentu saja jauh sebelum Itachi memutuskan untuk tidak meneruskan perusahaan ayahnya, dan tanggung jawab itupun pindah ke pundak Sasuke.

Sasuke yang sekarang adalah seseorang yang di bentuk oleh Fugaku seperti robot. Selalu menuntut kesempurnaan dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Bahkan mungkin Sasuke sudah lupa bagaimana caranya bisa tertawa lepas. Karena membuat seorang Fugaku Uchiha terkesan bukanlah pekerjaan mudah. He have to surpass his father.


Sakura sedang memeriksa file-file yang harus ia tanda tangani ketika Tenten masuk ke dalam ruangannya dan memberitahu bahwa ada seseorang yang menunggunya di Lobby.

Begitu keluar lift Sakura langsung disambut suara nyaring Naruto yang menggema di seluruh penjuru ruangan.

"Sakuraaaa-chaaaaaaan...!" Naruto merentangkan kedua tangannya siap memeluk Sakura with his famous bear hug.

Sakura berlari menghambur dalam pelukan Naruto, sahabat yang selalu menguatkan dan memberikan kehangatan sinar mentari pada hidupnya yang kelabu. Yaa...Naruto memang personifikasi dari sinar mentari yang selalu menghangatkan dan menggembirakan.

"Happy anniversary! Kau harus mentraktirku Sakura-chan!"

"Kalau kau mau mengajakku makan siang di Ichiraku sama juga bohong...masa aku harus mentraktirmu makan di ramen shop milikmu sendiri, itu tidak adil Naruto!"

Pria yang mendapat julukan 'ramen man' itu tertawa lalu berkata, "Apa boleh buat, di Jepang ini tidak ada ramen seenak Ichiraku...hehehehehe"

"Okey baiklah, sepertinya aku tidak punya pilihan. Tapi kali ini biarkan petugas kasirmu menerima uangku." Sakura menyerah.

Ayah Naruto yang bernama Namikaze Minato adalah seorang politikus yang tidak diragukan lagi sepak terjangnya di lingkungan parlemen Jepang dan Ichiraku dulunya adalah ramen shop traditional favorite keluarga Namikaze. Semenjak Naruto menyadari bahwa ia too dumb to be a politician iya memiliki ide untuk membeli Ichiraku dan menjadikannya sebuah merk dagang. Kini ichiraku adalah ramen shop yang frenchise-nya sudah tersebar luas dimana-mana, selain itu Naruto juga memproduksi beberapa merk ramen instan. Meskipun gagal menjadi seorang politikus setidaknya sekarang ia sukses sebagai seorang enterpreneur.

"Naruto, tell me about that Hyuga girl." Pinta Sakura setelah mereka selesai memesan 2 porsi miso ramen.

"Ahahahaha...aku bertemu dengannya di sebuah cafe di dekat kantor Ayahku. Siang itu aku sangat bosan dan mengantuk, jadi aku kabur saja hehehehe. Aku melihatnya terlibat pertengkaran dengan seorang pria sepertinya pria itu pacarnya. Tetapi kemudian pria itu meninggalkannya dalam keadaan menangis. Aku kasihan padanya Sakura-chaaaann...lalu aku menghampirinya."

"And then..." Sahut Sakura tidak sabar.

"I seat infront of her and i said that tears is not match with her pretty face. I said again that I wanted to see smile from sweet girl like her." Ucap naruto menjelaskan. Pandangannya menarawang seakan berusaha menghadirkan kembali peristiwa yang barusan ia ceritakan. "You know Sakura, ketika dia mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arahku...rasanya waktu terhenti. I think i'm falling in love at the first sight."

"Woooww...such a lovely story Naruto. By the way sejak kapan kau pandai merayu?"

"Hehehehe...itu rahasia Sakura-chaan!"

"Huuhh, dasaar kauu!"

"Apakah kau dan Hinata sudah melakukan ciuman pertama kalian?" Tanya Sakura menyelidik.

Wajah Naruto memerah, "Kau tau Sakura-chaan, dia gadis yang sangat pemalu. Saat aku akan menciumnya tiba-tiba saja dia pingsan!"

Sakura langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Naruto hanya bisa pasrah melihat Sakura menertawainya.

Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dengan penuh canda.

Naruto, you made my day. Ucap Sakura dalam hati.


Sasuke menjabat tangan partner bisnisnya dengan erat. "Senang bekerja sama dengan anda Mr. Sabaku."

Lawan bicaranya itu membalasnya dengan senyum tipis di bibirnya, kemudian membungkuk.

Setelah meeting selesai Kakashi menemani Sasuke kembali ke ruangannya. Pria paruh baya yang berambut perak keabuan serta mengenakan masker di wajahnya itu menyerahkan beberapa dokumen kesepakatan merger bisnis yang harus Sasuke pelajari.

"Kakashi apakah kau akan melapor pada ayahku bahwa aku terlambat meeting hari ini ?"

"Tentu saja tidak Sasuke, aku senang kau datang terlambat hari ini. Wajahmu terlihat lebih segar daripada biasanya. Sepertinya kau harus lebih banyak beristirahat." Ujar Kakashi sambil menepuk pundak Sasuke.

Di kantor ini hanya Kakashi yang tidak memanggil Sasuke dengan sebutan Sasuke-sama atau gelar kehormatan lainnya. Itu disebabkan karena Kakashi adalah mentor bagi Sasuke sejak pertama kali Uchiha corp. jatuh ke tangan anak kedua Fugaku tersebut. Dan Sasuke sendiripun sangat menaruh hormat pada Kakashi sebagai mentor dan seniornya. Kakashi juga merupakan salah satu orang kepercayaan Fugaku.


"Naruto, aku turun disini saja. Aku ingin berjalan-jalan di taman kota sebentar menikmati sore. Lagi pula letaknya kan hanya beberapa blok dari kantor yayasan milikku."

"Baiklah..." Naruto memperlambat kecepatan mobilnya hingga kemudian berhenti. "Kau yakin tidak mau aku temani Sakura-chan? Aku selalu punya waktu luang untukmu."

"Tidak usah, terima kasih untuk hari ini. Jangan lupa segera kenalkan pacar barumu itu padaku." Sakura melepaskan seatbeltnya lalu turun dari mobil Naruto.

Naruto membuka kaca mobilnya dan melambai pada Sakura. Sakura melambai balik dan mengucapkan selamat tinggal, "Jaa ne..."

Sakura berjalan sambil merapatkan coatnya ke arah bangku dimana banyak burung merpati hinggap disekelilingnya untuk mematuk biji-bijian. Lama ia duduk menikamati semilir angin sore dan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Setelah puas ia segera beranjak karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ia berjalan menyebrangi padestrian lalu kemudian menyusuri trotoar ke arah kantornya. Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna merah maroon metallic melaju dengan kencang, menerjang genangan air yang cipratannya langsung mengenai Sakura.

"Oouucch!" Pekik Sakura kaget. Lalu ia menunduk melihat separuh coat Alexander McQueen yang baru dibelinya minggu lalu sudah ternodai oleh air kotor. Huuufft...

Yang lebih mengagetkan lagi adalah ternyata mobil yang tadi menyipratinya berjalan mundur perlahan lalu berhenti tepat di hadapan Sakura. Dan Sakura yang melihat pemilik mobil itu turun hanya bisa diam, bengong ditempatnya. Pemilik mobil itu adalah seorang pria berkulit pucat, berambut semerah darah dengan tattoo 'ai' di dahi sebelah kirinya. Meskipun postur tubuhnya tidak se-well build Sasuke, tapi ia kharismatik dan tampan in his own way. Ia melepaskan kaca mata hitamnya kemudian menghampiri Sakura yang berdiri mematung. Iris mata berwarna jade itu menatap sakura dengan penuh rasa bersalah.

"Nona apakah anda baik-baik saja ? Maafkan kecerobohanku." Ia membungkuk meminta maaf.

"Ahh...tidak apa-apa." Sakura balas membungkuk.

"Sebagai permintaan maaf bagaimana jika aku memberikanmu tumpangan. Rasanya tidak etis jika aku membiarkan seorang gadis yang bajunya basah berjalan sendirian, hari ini anginnya sangat dingin nanti kau bisa sakit."

Hmmm...such a nice gentleman, pikir Sakura.

Melihat Sakura yang tak kunjung menjawab tawarannya, ia berkata, "Tenang saja, aku tidak akan menculikmu." Candanya.

Kemudian Sakura mengangguk tanda setuju.

Perjalanan menuju ke kantor Sakura hanya membutuhkan waktu 5 menit. Sebelum Sakura turun, pria itu bertanya, "Kalau boleh tau siapa namamu?"

"Namaku Sakura." Hari ini ia sedang malas memperkenalkan dirinya sebagai seorang 'Uchiha Sakura'

"Hmm...it's match your hair nicely. Kau bekerja di yayasan yang berada di bawah perusahaan Uchiha corp. ini ?"

"Yup, eeerr... kau belum menyebutkan namamu?"

"Gaara...you can call me Gaara."

"Thank you Gaara...nice to know you." Sakura tersenyum sopan kemudian bergegas turun dari mobil karena hari sudah mulai gelap.