Dengan gontai, Kiyoteru berjalan menuruni tangga menuju lantai lima, lantai tempat terletaknya ruang kelas Special Class dan ruang kelas 1 sampai 3.
Serius, Master tega banget, deh. Licik, lagi. Mana ada kepala sekolah lain yang sebegitu menginginkan seorang guru di sekolahnya sampai menipunya? Kejam. Tidak berperasaan.
Tapi… Itu salah Kiyoteru sendiri juga, sih, terpancing emosi begitu…
"Haaah…" Kiyoteru menghela nafas lesu, menundukkan kepalanya. "Antara beruntung dan sial sekali aku hari ini…"
"Ah, Hiyama-sensei?"
Mendengar namanya dipanggil, Kiyoteru menoleh ― dan tercengang.
Yang memanggilnya adalah seorang wanita berambut hitam pendek dengan bagian poni pinggirnya yang panjang, berlipstik merah, dan berkulit putih seperti salju. Wajahnya… Wajahnya mirip seperti Kaai Yuki yang ditemuinya tadi. Wanita itu seperti versi dewasa dari Kaai Yuki; seperti Putri Salju juga.
Wajah Kiyoteru sedikit merona merah. Aneh. Apa dia kepanasan?
"Err, Hiyama-sensei? Anda Hiyama-sensei, kan?" Wanita itu menatapnya dengan ragu dengan matanya yang berwarna hijau gelap.
"A-ah, i-iya, saya Hiyama." Kiyoteru segera kembali ke alam sadar. Ia perhatikan wanita itu sekali lagi. Wanita itu memakai baju kuning dengan jas dan rok hijau lembut dan sepasang sepatu berhak tinggi berwarna putih. ('Ah, dia juga seorang guru, rupanya.') "Ada apa?"
Wanita itu tampak tersenyum lega sesaat sebelum memberikan Kiyoteru sebuah buku file besar bersampul biru tua. "Master tadi lupa memberikan ini untuk Anda. Beliau menitipkannya kepada saya untuk diberikan kepada Anda. Isinya adalah biodata dan data-data penting lainnya dari para murid Special Class."
Tersenyum lembut, Kiyoteru menerima file tersebut. "Terima kasih," Err, siapa nama guru ini? "Etto… Sensei…"
Wanita itu tertawa kecil. "Nama saya Tsukuyomi Prima, wakil kepala sekolah di sini."
'Wakil kepala sekolah? Pantas saja Master menyuruhnya.'
"Panggil saja saya Prima."
"B-baik." Kiyoteru mengangguk pelan. "Terima kasih… Prima-sensei…" Wajahnya kembali memanas saat menyebut nama itu.
"Bukan apa-apa." Prima tertawa kecil lagi. "Ngomong-ngomong, Hiyama-sensei, biar saya antarkan Anda ke Special Class."
"E-eh?" Kiyoteru jadi panik sendiri. "A-ano, t-tidak usah, Prima-sensei! Sa-saya bisa sendiri, kok! L-lagipula, nanti saya malah jadi merepotkan Anda!"
"Ahaha, tidak usah begitu, Hiyama-sensei. Saya senang bisa menemani guru baru yang manis seperti Anda." sahut Prima yang sudah berada agak jauh di depan Kiyoteru.
Kiyoteru cengo. 'M-manis…? T-tapi, aku kan laki-laki… Tunggu, hari ini, aku sudah berapa kali dibilang manis? Tiga?'
"Ayo, Hiyama-sensei."
Dengan ragu, kiyoteru berjalan menyusul Prima. "B-baik."
Mereka pun berjalan menyusuri koridor. Tampak guru-guru lain yang berjalan di koridor, menuju kelas masing-masing. Ada juga beberapa orang murid yang datang terlambat dan berlari terburu-buru menuju kelas mereka. Kiyoteru sempat melihat ada sepasang kembar berambut pirang (yang sepertinya pernah dilihatnya di mana), seorang siswa berambut biru muda-putih pendek dengan sesuatu di mulutnya (es loli?), seorang siswa ber-hoodie biru-kehijauan yang sedang mengejar seorang siswa berambut oranye, dan seorang siswa bertubuh pendek berambut coklat tua dengan seekor ayam betina di atas kepalanya―Tunggu, apa? Ayam? Itu ayam betulan? Apa sekolah ini memperbolehkan murid-muridnya membawa hewan peliharaan?
"Oh, ya, Hiyama-sensei, saya mempunyai seorang keponakan yang berada di Special Class, lho." ujar Prima di tengah perjalanan.
"Benarkah?"
"Iya." Prima mengangguk. "Sebenarnya, dia tidak bermasalah, tapi karena sebagian besar teman-temannya masuk Special Class, dia juga jadi ingin masuk ke sana."
"Eh? Bukannya Special Class hanya untuk anak-anak bermasalah?"
"Mereka yang masuk Special Class biasanya karena terpaksa. Kebanyakan dari mereka tidak bisa saling mengakrabkan diri." Prima menjelaskan, menghela nafas.
"Tidak bisa saling mengakrabkan diri? Maksud Anda, tidak bisa berteman?"
"Begitulah." Prima menghela nafas lagi. "Dan sepertinya, Master asal menerima permintaannya karena sifat cueknya."
'Sasuga Master…' Kiyoteru sweatdropped.
Sesampainya di depan pintu Special Class, Kiyoteru membungkukkan tubuhnya, berterima kasih kepada Prima. "Terima kasih sudah mengantarkan saya. Maaf, jadi merepotkan Anda, Prima-sensei."
"Tidak apa-apa. Bukan masalah."
"Kalau boleh saya tahu, siapa nama keponakan Anda?"
"Ah, namanya―"
"Senseeei! Prima-senseeeei!" Seorang siswa berambut pirang pendek dari kelas sebelah melambaikan tangannya, memanggil Prima. "Yang lainnya sudah menunggu, lhoooo!"
Prima melihat jam tangannya dan tampak kaget. "Uwah! Sudah jam segini!" Ia lalu merapikan rambut dan pakaiannya. "Maaf. Saya pamit dulu, Hiyama-sensei. Berjuanglah di hari pertama mengajar ini." Ia tersenyum menyemangati Kiyoteru, lalu berjalan ke kelasnya.
Kiyoteru masih berdiam diri di tempat, terpesona memandangi Prima.
"Prima-sensei cantik, ya." gumamnya pelan.
Kiyoteru kemudian berdehem, berdiri tegak, merapikan dasi dan membetulkan posisi kacamatanya, dan memasang senyum ala guru idealnya.
"Baiklah! Aku akan berjuang hari ini!" Ia tersenyum kepada dirinya sendirinya.
Tangannya meraih gagang pintu geser yang ada di hadapannya, lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas seraya menggeser pintu tersebut.
Apa yang terjadi berikutnya sangat tidak ia duga.
Tepat setelah mendengar bunyi byursh!, ia merasa tubuhnya tersiram sesuatu, lalu sebuah benda yang seperti plastik mengenai dan menutupi kepalanya.
Ia bisa mendengar suara tawa yang keras dari para muridnya.
Dan ia baru saja mengerti apa yang sedang terjadi; Kiyoteru baru saja dijebak oleh murid-muridnya sendiri ― dengan jebakan kuno ember berisi air yang diletakkan di atas pintu yang akan jatuh saat pintu dibuka.
Ia masih bisa mendengar suara tawa para muridnya.
Kiyoteru tersenyum pasrah. Seharusnya, ia sudah bisa menduga hal ini akan terjadi di kelas berisi anak-anak bermasalah.
.
.
.
Sekembalinya dari toilet dan setelah memastikan tidak ada jebakan lain yang dipasang di pintu, Kiyoteru masuk ke dalam Special Class dan berjalan ke depan kelas. Sekarang, Kiyoteru hanya mengenakan kaus putih dan celana olahraga cadangan milik guru olahraga bertubuh besar yang tadi ditemuinya.
Pria muda itu meletakkan buku-buku dan file yang diberikan Prima tadi (yang untungnya tidak basah) di atas meja sambil menghela nafas. Ia baru saja mau membuka mulut untuk memperkenalkan diri.
"Oh! Itu Kawaii-sensei!"
Kiyoteru berfirasat buruk saat mendengar suara laki-laki itu.
"Kawaii-sensei? Dia kan guru yang kita temui tadi, Len!"
Nama Len dan suara perempuan itu. Firasat Kiyoteru semakin buruk.
"Hahaha, aku tahu, kok, Rin! Wajahnya manis, jadi kupanggil begitu!"
Rin… Oh.
Kiyoteru memberanikan diri melihat siapa saja penghuni Special Class ini.
"Huh. Manis apanya? Dia menyebalkan dan payah. Denah sekolah sekolah saja tidak tahu. Tidak becus."
"Oh? Kenapa? Miku-hime cemburu?"
"Oi, Shion! Pacarmu cemburu, tuh!"
"…"
"Tapi guru baru ini sepertinya memang payah, ya. Masa bisa kena jebakan kuno seperti itu, de gozaru ka?"
"Heh. Orang yang dua minggu lalu termakan jebakan yang sama tidak pantas berbicara seperti itu."
"Kazeno! Kau ngajak berantem, ya!?"
"Berisik, Kamui."
"Aaaaah! Dia kelinci percobaan baruku yang tadi kabuuur!"
"L-Lily! D-dia―Teru-tan! Teru-tan akan mengajar kita! Kyaaa!"
"Mizki, kecilkan volume suaramu kalau tidak mau rahasiamu ketahuan."
Wajah Kiyoteru memucat.
Si kembar, si tuan putri angkuh, si kepala sekolah palsu, si biru sombong, si samurai nyasar, si Frankestein gila, si rambut pink aneh dan temannya… Semua murid aneh yang Kiyoteru temui tadi ada di sini ― ada di Special Class ini.
Kiyoteru merasa lemas seketika.
Entah ia bisa bertahan atau tidak.
"Hei! Kalian semua diam, dong!" seru sebuah suara perempuan. Suara yang sepertinya pernah Kiyoteru dengar, entah di mana. "Kalau kalian berisik terus, Kiyo-kun jadi tidak bisa mulai mengajar, kan!"
'Kiyo-kun'?
Kiyoteru menoleh ke arah si pemilik suara.
Seorang gadis bertubuh mungil, berkulit putih seperti salju, berambut hitam panjang dikuncir dua rendah… dan kotak-kotak berwarna merah…
Kedua mata Kiyoteru terbelalak lebar.
Siswi itu melambaikan tangannya dengan riang sambil tersenyum lebar kepada pria itu. "Kiyo-kuuuun! Kita bertemu lagi! Aku senang, Kiyo-kun mengajar di sini! Mohon bantuannya, ya~!"
Kaai… Yuki…
"EEEEEEEEEH!? KAU MURID SMA!?" Kiyoteru berteriak kaget, membuat seluruh penghuni kelas diam seketika.
Seisi kelas menatap Kiyoteru dengan heran.
Yuki bengong di tempat.
Kiyoteru menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
Yuki memecahkan keheningan. "Ehehe, iya, aku murid SMA!" ujarnya dengan riang. "Kiyo-kun tidak usah khawatir! Banyak yang suka mengira aku masih SMP karena tubuhku yang kecil, kok!"
Kiyoteru benar-benar ingin pingsan saja, rasanya.
.
.
.
Setelah menenangkan diri dan setelah para murid bisa lebih diam sedikit, Kiyoteru memulai perkenalan. Ia menuliskan namanya di papan tulis dengan kapur putih. Kanji kōri dan yama dan katakana kiyoteru yang ditulis secara vertikal. Di sampingnya, tertulis furigana Hiyama Kiyoteru.
"Nama saya Hiyama Kiyoteru." Ia memperkenalkan diri. "Saya ditransfer dari Ayamaha High School untuk mengajar di Vocaluta School ini. Saya akan menggantikan guru matematika dan wali kelas kalian yang sebelumnya. Saya akan mengajar dan membimbing kalian sebisa saya." Ia membungkukkan tubuhnya. "Mohon bantuannya."
Hening.
Tidak ada yang merespon sama sekali.
Oh, kecuali Yuki yang bertepuk tangan sendiri.
Kiyoteru jadi merasa gugup dan takut.
Bagaimana kalau mereka sudah tidak menyukainya karena kesan pertama yang diberikannya tadi? Bagaimana kalau ia akan dijahili oleh murid-muridnya setiap hari? Bagaimana kalau ia dikeluarkan dari Vocaluta School karena Master ternyata juga tidak menyukainya? Bagaimana kalau―
"Sensei! Saya mau bertanya!" Seorang siswa mengangkat tangannya.
Len.
Oh, syukurlah. Setidaknya, ada yang peduli dengannya selain Yuki.
"Y-ya? S-silahkan."
Len menyeringai jahil. "Kenapa namamu bukan Hiyama Kawaii saja? Menurutku, kau manis sekali, lho, Sensei~" Suaranya terdengar menggoda. Ia juga sengaja menjilat bibir bawahnya agar terkesan seduktif.
Kiyoteru merinding.
"Hahaha! Len-kun menggoda guru lagi!" tawa seorang siswi berbando telinga kucing. "Dasar genit!"
"Hmph, memang, dasar genit."
"Kenapa, Miki-chan? Kau cemburu, ya? Mau kugoda juga, hmm?"
"Berisik, BaKagamine! Jangan panggil nama kecilku!"
"E-etto… Bukan saya yang memberi nama Kiyoteru untuk diri saya ini…" Kiyoteru menjawab pertanyaan Len tadi dengan suara pelan, entah didengar atau tidak. "Dan saya lebih memilih nama Kiyoteru daripada Kawaii itu…" Ia menambahkan.
"Sensei!" Kali ini, Rin yang mengangkat tangannya. "Sensei sudah punya pacar?"
Kalau sedang minum, Kiyoteru pasti sudah tersedak. Pertanyaan macam apa itu? Tidak sopan! Apa murid-murid di sini pernah diajarkan sopan-santun?
"B-belum." Tapi tetap saja, Kiyoteru menjawabnya.
"Ooooh! Hiyama ternyata masih single!" seru si kepala sekolah palsu, Rook, yang tampak girang, entah kenapa.
"Tentu saja dia masih single. Masih muda begitu." balas seorang siswi berambut hitam dikuncir dua dengan highlight biru di poni kirinya sambil menguap.
"Lebih tepatnya, single karena tidak becus." timpal si tuan putri angkuh yang dipanggil 'Miku-hime' tadi.
Kiyoteru mengernyitkan dahinya dengan kesal. Si Miku-hime itu sepertinya senang sekali membicarakan ketidak becusannya.
"Kalau masih single, jadi pacarku saja, Kawaii-sensei!"
"Tidaaaaak! Len-kyuuuun! Kalau dia menolakmu, aku mau jadi pacarmuuuuu!" jerit seorang siswi berambut perak panjang ― sangat panjang, membuatnya sekilas terlihat seperti hantu.
"Tolong panggil saya 'Hiyama-sensei'." Kiyoteru sengaja mengabaikan ucapan Len dan siswi itu. Ia mendehem. "Baiklah, semuanya, tolong diam! Sekarang, giliran kalian yang memperkenalkan diri! Sesuai absen!"
Hening lagi.
Tidak ada yang berbicara seorang pun.
Kiyoteru menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ano, kalian semua mendengar saya, kan? Tolong perkenalkan diri kalian sesuai absen."
"Dengar, sih, Sensei…" Seorang siswi berkuncir twin-drills mengarahkan pandangannya ke siswi yang duduk di depannya. "Tapi…"
Yang lainnya ikut menoleh ke arah siswi berambut pirang dikuncir side-tail yang sedang dan dari tadi sibuk dengan handphone-nya.
Kiyoteru cengo. 'Apa sekolah ini memperbolehkan murid-muridnya bermain handphone begitu saja di jam pelajaran?' pikirnya. "Ano, kau yang sedang bermain handphone di sana." panggilnya, tapi siswi itu masih sibuk di dunianya sendiri.
"Halo? Hei, kau mendengar saya?" Kiyoteru mencoba memanggilnya lagi, tapi masih saja tidak didengar. "Ano saaaa. Heeeei."
Seorang siswi berambut perak dikuncir satu yang duduk di sebelahnya menepuk pelan bahunya. "Neru. Neru."
Akhirnya, siswi itu mengalihkan pandangannya dari handphone-nya. "Apa?"
"Kau dipanggil Hiyama-sensei."
"Hiyama-sensei?" Neru yang belum pernah mendengar nama itu, tampak bingung. Ia lalu menoleh ke depan, dan menyahut pelan, "Oh, guru baru itu. Kenapa?"
Kiyoteru menghela nafas. "Kau nomor absen satu di kelas ini, kan? Tolong perkenalkan dirimu. Tolong sebutkan nama dan kelasmu ― maksud saya, kelas 1, 2, atau 3."
Neru memutar bola matanya, jari-jemarinya tetap sibuk mengetik di handphone lipatnya. "Namaku Akita Neru, kelas 1."
"Terima kasih, Akita-san. Berikutnya."
Rook berdiri dari tempat duduknya, membusungkan dadanya dengan bangga. Dengan cengiran lebar di wajahnya, ia memperkenalkan diri. "Namaku Inukai Rook! Namaku keren, kan? Rook, lho! Rook! Seperti nama orang bule! Hahaha!"
Kiyoteru sweatdropped. Hyper sekali anak ini.
"Aku kelas 1! Tahun depan naik ke kelas 2! Tahun depannya lagi naik ke kelas 3!"
"Kalau naik." sahut seorang siswi berambut flaming red panjang.
Yang lainnya tertawa.
"Oi!" Rook menggeram kesal, lalu melanjutkan. "Aku suka anjing! Aku memelihara seekor anjing jantan di rumahku! Aku juga suka bermain game, membaca manga, jalan-jalan―"
"Terima kasih, Inukai-san." Kiyoteru sengaja menyelanya sebelum jadi lebih panjang. "Berikutnya."
"Eeeeeh!? Hiyama, aku belum selesaaai!"
"Rook, berisik. Aku mau tidur, nih."
Rook kembali duduk di kursinya dengan wajah memelas.
Yuki berdiri dari tempat duduknya dan memperkenalkan dirinya dengan senyum manis. "Namaku Kaai Yuki! Kiyo-kun sudah tahu namaku, kan?"
"I-iya…" Kiyoteru mengangguk pelan, malu. Jujur, ia masih merasa tidak enak saat mengira bahwa Yuki adalah murid SMP.
"Aku kelas 1, dan…" Ucapan Yuki terhenti tiba-tiba, membuat Kiyoteru dan yang lainnya heran.
"Ada apa, Yu―Kaai-san?" tanya Kiyoteru cemas, melihat gadis itu menundukkan kepalanya tiba-tiba.
"A-aku…" Yuki memainkan kedua jari telunjuknya, mendongakkan kembali kepalanya dan memberanikan diri menatap langsung mata Kiyoteru. "Aku… S-su…" Wajahnya merah, semerah celana da―err, semerah apel.
Kiyoteru semakin heran dan cemas. "K-Kaai-san? Ada apa? Kau sakit?"
Yuki menggeleng pelan. Kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam, dengan wajah merah padam, ia berseru, "A-a-a-aku―Kiyo-kun―AKU SUKA KIYO-KUN!"
… Eh?
"Kiyo-kun, jadilah pacarku!"
E-eeeeh!?
Apa ini!? Pernyataan cinta!?
"HAAAAAAAH!?"
-つづく-
Pernyataan cinta dari seorang murid di hari pertamanya mengajar!?
Akankah Kiyoteru menerimanya? Atau malah menolaknya?
Lalu, kenapa wajah Kiyoteru terus merona merah selama berada di dekat Prima?
Saksikan hanya di― *dibekep*
Maaf untuk yang mengira bahwa Yuki bahwa adalah murid SMP betulan D8
Habis, kalau Kiyo nggak mengajar di kelas Yuki, nanti nggak seru, dong? XD *maksudnya apa*
Untuk wujud (?) Prima di sini, saya memakai desain Taiwan boxart, yang di mana Prima dan beberapa Engloid lainnya jadi kece *ngek*
Tapi umurnya jadi dewasa, lho, bukan 18 atau umur remaja lainnya seperti yang tertera di Taiwan boxart yang asli. Tidak mungkin seorang remaja menjadi guru, kan? Yah, pengecualian untuk Rook yang menjadi kepala sekolah palsu, sih ww *digigit*
Untuk Engloid lainnya yang akan muncul di chapter-chapter depan, saya juga akan memakai desain Taiwan boxart mereka.
Kalau tidak tahu seperti apa desain Taiwan boxart mereka, silahkan ggrks.
Siapakah siswa berambut pirang pendek yang memanggil Prima-sensei tadi? Kagamine Rinto? Suiga Sora? Silahkan tebak sendiri XD *heh*
Ada yang bisa menebak, siapa saja para penghuni Special Class yang muncul di chapter ini?
Soal chapter dua, kenapa rambut Yuki dan Rin jadi panjang adalah karena mereka telah menjadi murid SMA kelas 1, alias berumur 16 tahun dan karena mereka bertambah dewasa dan jadi lebih cocok dengan rambut panjang. Lagipula, saya sering melihat fanart adult!Rin dengan rambut panjang.
Lalu, karena Len juga berumur 16 tahun di fanfic ini, mohon bayangkan Len yang kuncir satunya rendah dan bukan shota lagi, tapi tetap berwajah manis *gimana*. Saya mengambil image Len ini dari lagu SPICE!-nya. Menurut saya, Len lebih cocok jadi playboy, sih *dilindes road roller*
Terakhir, bagi yang penasaran kenapa Master itu misterius, silahkan baca omake di bawah ini 8D
~Seiryuu Sakurane
-おまけ-
Prima yang baru saja masuk ke ruang kepala sekolah, menatap datar pria berambut coklat berantakan dan berjas laboratorium yang sedang tertawa puas sambil memandangi selembar foto itu.
"… Master, apa yang sedang kau lakukan, tertawa sendiri seperti karakter antagonis begitu." tanya wanita itu dengan wajah dan suara yang sama datarnya. Apa Master ini gila? Tertawa sendiri tanpa sebab dan alasan yang jelas begitu…
"Ara, Prima-kun." Master menoleh pada Prima, masih dengan senyum di wajahnya. "Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya sedang senang saja, akhirnya, Kiyoteru-kun masuk ke sini." Ia menjelaskan, lalu lanjut tertawa. "Aku tidak menyangka, ternyata Kiyoteru-kun gampang dijebak, ya~"
"Setidaknya, tolong ekspresikan kegembiraan Anda dengan cara yang lebih normal, Master. Jangan seperti karakter mencurigakan begitu." Prima sweatdropped. Capek juga menjadi wakil dari seorang kepala sekolah yang sinting seperti Master ini.
"Ehehe, maaf, maaf, kebiasaan~" Master menyengir.
Prima menghela nafas, lalu ujung matanya menangkap sesuatu. "Master, apa itu?" tanyanya, melihat sebuah buku file besar bersampul biru tua yang terletak di atas meja begitu saja.
"Hm?" Master menoleh ke arah yang ditunjukkan Prima. "Arara, sepertinya, aku lupa memberikannya untuk Kiyoteru-kun~" ujarnya dengan santai, diikuti suara tawanya. Orang ini terlalu santai. "Warui naa~ Warui~"
Prima sweatdropped lagi.
"Naa, Prima-kun, bisa tolong berikan ini pada Kiyoteru-kun? ― Hiyama Kiyoteru-kun, lebih tepatnya." sahut Master sembari memberikan buku file tadi ke wanita berambut hitam itu. "File ini berisi biodata dan data-data penting lainnya dari para murid Special Class. Kiyoteru-kun pasti akan sangat membutuhkannya."
"A-ah, baiklah." Prima mengangguk, mengambil file tersebut dari tangan Master. "Hiyama Kiyoteru-san… Guru baru yang tadi baru saja keluar dari ruangan Anda itu?" tanyanya memastikan.
"Tepat sekali~!"
"Sambil menangis pasrah?"
"Iya~!"
"…" Prima diam, menatap datar Master sekali lagi. Entah apa yang Master lakukan sampai guru baru itu menangis.
"Jangan diam saja, Prima-kun. Cepat, cepat, sebelum Kiyoteru-kun masuk ke dalam Special Class!"
"Yes, Sir!"
