Because of Your Pheromone!

Chapter IV: I love You Without Any Reason

by killinheaven

Disclaimer: Kuroshitsuji (c) Yana Toboso

Warning: Shounen Ai | OOC | AU

Rating: T

Pairing: Sebastian X Ciel | Claude X Alois


Kibasan gorden itu menyentuh sedikit permukaan kulit putih lengannya, sinar matahari yang mendapat celah dari sekelebatan gorden yang tergeser sedikit itu pun menyinari kelopak mata yang sedang terkatup rapat itu dan spontan membuat suatu erangan tertahan terdengar. Ciel Phantomhive menggerakkan lengan kirinya untuk menutupi sepasang kelopak mata miliknya, seolah sinar matahari tersebut bisa membuat sepasang kristal biru pekat yang sedang terlindungi oleh si kelopak mata bisa hancur seketika. Remaja mungil itu kemudian menggeliat pelan di atas tempat tidurnya, meregangkan sendi-sendinya sembari menguap pelan sebelum akhirnya dengan perlahan sepasang bola matanya kembali terlihat dan berkedip untuk beberapa saat.

Sebentar.

Ngomong-ngomong, yang tadi malam itu mimpi atau bukan?

"..."

Rasa-rasanya kamar ini familiar, tapi... tunggu-tunggu, tadi malam entah setan macam apa yang merasuki mereka berdua sampai-sampai Sebastian melakukan aksinya dan Ciel membalas dan.. kemudian? Eh? Kenapa ia tidak bisa mengorek lebih jauh ingatannya? Dan kenapa... lagi-lagi Ciel mendadak sudah ada di kamar Sebastian ini? Apa yang sebenarnya terjadi, eh? Ingatannya memudar namun isi otaknya tahu-tahu sudah melanglang buana entah ke mana.

"SEBASTIAAAAAAAN!"

BUK

Ciel mengerjap seketika, kepalanya spontan memutar mencari sumber suara.

"Ergh.."

Satu suara berat yang baru saja setengah mengerang, membuat Ciel baru menyadari bahwa ia baru saja membuat Sebastian Michaelis tersentak-terjatuh dari tidur damainya di atas sofa yang ternyata tidak jauh dari ranjangnya. Wajahnya tentu saja memerah, remaja itu sontak merutuki dirinya sendiri dalam diam. Merutuki dirinya yang tidak bisa tenang dalam siatuasi, merutuki dirinya yang entah kenapa pikirannya selalu condong ke ranjang jika memikirkan Sebastian. Salah sendiri, siapa yang punya muka mesum coba? Tapi salahnya juga sih sudah berpikir macam-macam, bajunya juga masih utuh dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa pakaiannya pernah lepas dari tubuhnya.

"Apa, Ciel?" pemuda itu akhirnya bangkit dari lantai, satu tangannya mengusap dagunya yang sedikit terbentur.

Lidah remaja itu mendadak kelu, "Tadi malam.. apa yang.."

"Oh." Satu lengkungan senyum mencurigakan spontan terulas di wajah pemuda itu, dan tanpa sadar membuat punggung Ciel mengejang karena pikiran-pikiran liarnya kembali menerjang otak sialnya. "Memangnya kau tidak ingat?"

"Heh?"

Senyum mesum dari Sebastian. Dang it.

"Memangnya apa yang kau pikirkan, Ciel?" Sebastian malah balik mengetes, iseng. Kurang ajar memang seniornya yang satu ini.

Remaja itu menghela nafas gusar, wajahnya berubah masam dan sedetik kemudian ia sudah melempar kuat-kuat satu bantal pada wajah Sebastian. "Memangnya kau anggap aku sedang memikirkan apa dengan melihat mukamu yang mesum seperti itu, hah?"

"Ehm." Sebastian malah semakin melebarkan senyum tipisnya, "Baiklah. Tadi malam simpel sekali, kau tiba-tiba tertidur—ehm, dibahuku. Dan aku tidak bisa mengantarkanmu pulang karena sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumahmu, orang tuamu belum pulang mungkin? Dan yah, kubawa kau ke sini."

Ciel terdiam. Ia lupa bahwa orang tuanya ada kemungkinan besar memang tidak pulang malam kemarin, sementara hari ini memang sedang libur maka mereka bisa santai sejenak.

"Tapi.." Sebastian kembali bersuara, dan mendadak punggung Ciel sedikit mengejang. ".. ketika kau di kamar ini, kita sempat hampir.. well.."

Remaja itu dalam sekejap sontak langsung berkeringat dingin, alhasil ia hanya bisa menghasilkan tawa gugup, ".. well?"

"Well, kau terbangun sebentar. Menarik kemejaku dan.."

Mati sudah. Ciel memang lupa bahwa ia suka macam-macam jika sudah dalam keadaan setengah sadar begitu. Gah.

"Kita berciuman lagi. Benar?" Ciel menanggapi pelan, malu. "Atau kita nyaris melakukannya, Sebastian?"

"Ya, hampir."

Oke.

Gali kubur untuk Ciel Phantomhive detik ini juga.

Remaja itu hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa luar biasa malu dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Padahal Sebastian sendiri merasa tidak ada yang aneh, dan ia sendiri merasa heran kenapa kepala mungil itu tertunduk malu. Menyesalkah? Menyesalkah pernah melakukan hal ini padanya?

"Ciel." Pemuda itu bergerak mendekat, mengambil posisi di atas ranjang dan berhadapan dengan remaja itu. Satu tangannya bergerak maju, menyentuh dagu Ciel dan mengangkatnya perlahan. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Satu sunggingan senyum kecil terbentuk di wajah putih mungil itu kemudian. "Tidak. Aku hanya merasa... senang. "

Pemuda itu balas tersenyum hangat sebagai balasannya, ia kemudian menarik tubuh kecil remaja itu ke dalam dekapan eratnya, dua lengannya melingkari bahu remaja tersebut dan jemari kanannya bergerak untuk mengusap perlahan rambut lurus kelabunya. Ciel tersenyum tipis, membiarkan kepalanya tenggelam pada kehangatan bahu Sebastan, lengannya balas bergerak untuk mendekap tubuh hangat seniornya itu. Suasana mereka biarkan untuk tetap statis sebelum akhirnya Ciel kembali membuka dua sisi bibirnya untuk melontarkan satu pertanyaan.

"Dari mulai apa yang kita lakukan tadi malam sampai saat ini... apa kau menyukaiku, Sebastian?"

Sebastian tertawa tipis, didekatinya bibir tipisnya itu pada telinga Ciel, kemudian ia berbisik perlahan. "Action speaks louder than words. Claude mengajarkannya padaku. Apa aku perlu mengucapkannya?"

Senyum lebar terkembang di bibir Ciel kemudian, "Tapi tidakkah kau merasa ini terlalu cepat, Sebastian? Kita baru mengenal—"

Ucapan remaja itu terhenti dengan satu sentuhan lembut dari bibir Sebastian yang mendarat singkat di bibirnya.

"Apa kau merasa itu menjadi suatu masalah?" Sebastian tersenyum lembut, satu tangannya masih mengusap rambut remaja itu dengan halus.

Ciel masih mempertahankan senyumannya, kemudian kepalanya menggeleng kuat-kuat. Lalu ditatapnya dalam-dalam kedua iris indah kemerahan yang ada di hadapannya saat ini, "Jadi, aku bisa mengatakan bahwa sekarang aku sudah menjadi milikmu?"

Satu bisikan bernada rendah itu kemudian memecah keheningan yang tercipta selama beberapa detik, "Ya.."

Melayang, mungkin memang itulah yang sedang remaja itu rasakan saat ini. Tidak berlebihan, namun ia merasa luar biasa senang untuk bisa meraih apa yang ia mau dapat waktu secepat ini, sedikit mengejutkan dan.. entahlah, ia hanya bisa tersenyum untuk saat ini. Tanpa halangan sedikitpun dan segalanya berjalan dengan lancar, membahagiakan. Apa lagi yang kurang? Sementara Sebastian sendiri pun juga sedikitpun tidak merasakan hal yang aneh, segalanya ia lakukan dengan intuisi yang berjalan dan menganggap apa yang dilakukannya ini hal yang juga tidak salah. Ia hanya merasa nyaman berada di dekat Ciel, ia menyukai apapun tentang juniornya ini, perilaku dan segalanya. Ia tidak perlu alasan macam-macam untuk bisa menyukai Ciel Phantomhive. Bukankah segelintir orang pernah mengatakan bahwa cinta yang baik adalah cinta yang tidak beralasan? Bukan rasa kagum, bukan rasa kasihan, bukan rasa peduli yang biasanya seringkali orang salah mengartikannya sebagai cinta. Hanya ada cinta, tidak perlu ada kata lain yang menopang, tidak beralasan.

Lengkungan senyum remaja itu masih bertahan dan perlahan bergerak maju, mengecup lembut bibir seseorang di hadapannya ini yang baru saja memberikan luapan rasa bahagia ke dalam relung hatinya. "Terima kasih, Sebastian."

Senyuman itu tanpa sadar membawa Sebastian untuk kembali bergerak mendekat, menciumi leher Ciel yang dirasanya semakin memabukkan dan menjadi candu tersendiri untuknya. Ciel hanya dapat mengeluarkan erangan tertahan, tangannya melingkari kepala Sebastian dan membenamkan jemarinya pada helaian rambut hitamnya itu. Dorongan halus dari tubuh Sebastian yang membuat tubuh Ciel perlahan jatuh pada kasur pun ternyata mendapat sambutan tanpa sedikitpun penolakan dari remaja itu. Sebastian masih terus menyerang, bibirnya menciumi bibir ranum itu dengan tangannya yang sudah meraba ke beberapa bagian bawah tubuh mungil itu sementara Ciel sendiri sudah mulai membuka kancing kemeja Sebastian satu per satu—

Krak

"..."

Dua eksistensi yang sedang menikmati suasana tersebut spontan terhenyak ketika suara bukaan pintu pada kamar Sebastian mendadak menggelegar.

"Ya Tuhan.." Ronald Knox terlihat muncul sembari mengusap dahinya seolah-olah ada masalah hebat yang menerjang, "Jadi ini yang menyebabkan kau tidak bisa dihubungi sepanjang malam sampai pagi ini, Sebastian?"

Yang ditanya hanya bisa tersenyum kalem dengan seenak jidat.

Sementara Ciel hanya bisa terpaku di tempat mendadak. Bingung, dan agak sedikit ngeri juga sebenarnya. Terlebih lagi dengan dua pasang muka datar milik Claude dan William yang entah kenapa terasa menusuk pada saat itu juga. Padahal sebenarnya Claude dan William biasa saja sih dengan pemandangan yang ada di kamar Sebastian, hanya masalahnya mereka sudah terlanjur dilahirkan dengan wajah dan watak seperti itu.

"Ehem." William sedikit menaikkan nada suaranya, "Aku pribadi tidak ambil pusing soal masalah ini. Namun, bagaimana dengan publik?"

"Biarkan saja." Sebastian menjawab acuh, nyaris tidak terdengar peduli.

"Biarkan saja kepalamu?" Ronald mulai geram, entah kenapa, malah dia yang paling ribut masalah ini. "Ini berhubungan dengan penjualan, Sebastian! Demi Tuhan, anak itu laki-laki! Bagaimana kalau orang-orang tidak lagi mau melirik kita? Dengan interview-interview yang akan berdatangan dan bahkan akan menganggu kalian?"

Sebastian terdiam. Terlebih lagi Ciel, ia hanya bisa menundukkan kepala seketika ia mulai merasa hawa-hawa negatif mengelilingi dirinya detik ini juga. Merasa bahwa eksistensinya hanya datang tak lebih sebagai seorang penganggu.

"Saranku.." Claude mulai bersuara, menatap Sebastian dan Ciel bergantian. ".. sembunyikan dulu. Kalau kau merasa publik perlu tahu dan sudah siap menghadapi resikonya, pikirkan waktu yang tepat. Itu saja."

Tidak ada jawaban yang mengalir, hanya ada satu gerakan tangan Sebastian yang perlahan menyatukan jemari mereka dan mengenggam telapak tangan kecil Ciel, erat.

~000~

Bola mata keemasan itu berpendar jengah. Jemari panjangnya perlahan mengamit satu kotak makan yang masih hangat, bekal. Nalurinya berjalan, dan dalam sekejap ia pun mengetahui siapa yang meletakkan kotak makan asing ini di atas mejanya. Meletakkan singkat tasnya di atas kursi, Claude menggerakkan kaki untuk meninggalkan ruang kelas dengan tatapan yang masih bertahan jengah, bahkan menghiraukan Sebastian yang baru saja memasuki kelas dan menyapanya.

Langkah-langkah panjang yang sudah bergerak di koridor pun akhirnya berbelok pada satu ruangan kelas tingkatan sepuluh, lagi-lagi menimbulkan keributan dadakan yang menjemukan bagi Claude. Pandangannya nanar mencari-cari satu juniornya dengan helaian-helaian rambut pirang pucat yang menjadi tanda pengenalnya.

"Alois." Salah satu remaja berambut kelabu itu memanggil temannya dengan nada tercekat, menyadari tatapan tak wajar yang menempel pada seniornya itu.

"Senior Faustus!" senyum lebar dari Alois, seperti yang sudah-sudah.

Ciel kemudian hanya bisa memijat dahinya seperti orang stres, tidak percaya dan bingung apakah Alois menyadari bahwa aura di sekeliling Claude sedang dalam kondisi negatif?

Beberapa langkah kecil dari Claude, kemudian satu kotak makan kembali tergeletak tetap di atas meja Alois. Remaja pirang itu sontak mengetahui maksud Claude, tentu saja, ia tidak bodoh. Ekspetasi seperti ini juga sudah terbaca di pikiran Alois sebelumnya. Namun dipaksakannya senyuman itu untuk kembali terkembang, "Kau tidak suka makanannya?"

Claude tidak menjawab, hanya tatapan menusuk lagi yang menjadi jawaban nonverbal.

"Kalau begitu besok aku akan bawakan yang lebih—"

"Diam, Trancy."

Yang spontan menegang dengan hentakkan dari Claude malah Ciel, aneh sekali.

Alois pun menutup rapat bibirnya, namun matanya masih tetap memandang Claude dengan intens. Yang Alois tahu, mendadak tangan Claude mencengkram erat pergelangan tangannya kemudian memaksanya untuk beranjak dari kursi kecilnya untuk mengikuti Claude. Alois hanya bisa mengikuti, tidak lebih. Dan lagi-lagi, yang mendadak merasa cemas adalah Ciel. Ia tidak ingin mengikuti mereka dan melanggar privasi, tapi.. ia sangat khawatir untuk saat ini. Sungguh.

Di belakang bangunan sekolah yang bisa dikatakan sepi, langkah Claude berhenti, diikuti oleh Alois. Cengkramannya tergantikan oleh satu lemparan tangan kasar dari Claude, yang hanya bisa membuat Alois terdiam dan hanya bisa menggunakan dua bola mata biru cemerlangnya untuk menatap.

"Apa maumu?" Claude mulai bertanya dengan nada yang sama sekali Alois tidak pernah harapkan. "Sikapmu selama ini tak lebih hanya sikap yang konyol, kau tahu?"

Alois menghela nafas perlahan, "Tidak."

Claude menghela nafas jengah.

"Aku hanya menyukaimu."

Decakan kesal dari seniornya itu sejujurnya seperti sudah bertransformasi seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya tanpa ampun.

"Ada banyak laki-laki lain bahkan wanita yang akan jauh lebih baik bersandang di sampingmu, Trancy. Siapapun, jangan aku. Jangan pernah lagi mencoba mengetuk pintu hatiku yang tidak akan pernah kubuka."

"Tapi aku hanya menyukaimu, Claude!" Alois, masih mempertahankan apa yang ia inginkan. "Sangat menyukaimu."

Claude terdiam, namun matanya masih menatap seolah mencoba menguak segala apa yang juniornya ini pikirkan. Ada kesalahan apa pada remaja pirang ini sampai-sampai otaknya sama sekali tidak bisa berubah. Anak yang unik, namun mengesalkan. Claude sendiri bukan orang yang senang untuk mempunyai banyak teman, terlebih dengan kehadiran seorang juniornya ini yang dengan mengesalkannya mulai memasuki hidupnya yang tenang. Untuk bergabung dengan grup bersama Sebastian, William, dan Ronald ini pun ia hanya mengincar kesenangan harifiah dengan musik. Untuk mendapat lebih apresiasi, tak lebih. Sejengkal pun ia sama sekali tidak memikirkan apresiasi untuk dirinya, ia hanya butuh apresiasi untuk musik yang dihasilkannya.

"Lalu, katakan. Apa yang membuatmu sebegitu menyukaiku?"

Alois tersenyum tipis, "Aku menyukaimu tanpa alasan. Aku menyukaimu hanya karena aku menyukaimu."

Dan sepertinya ada dua kejadian untuk menyukai tanpa alasan pada seminggu ini. Namun Claude yang mendengarnya tak lebih hanya seperti mendengar lontaran satu kalimat luar biasa konyol.

"Lalu apa yang kau mau, Trancy?"

Remaja itu menggumam perlahan, "Hanya ingin senior tidak menolak segala perlakuan dariku. Biarkan senior sama sekali tidak menyukaiku, tapi aku akan tetap berusaha. Jangan patahkan semangatku dulu.."

"Kau mencoba bersikap menjadi seorang yang egois?"

"Tidak!"

"Lalu? Kau memaksaku?"

Alois hanya bisa mengatupkan dua sisi bibirnya, penolakan ini mendadak datang bertubi-tubi tanpa ampun secara tersirat dan langsung secara bersamaan. Dan pertanyaan terakhir spontan membuat seluruh kata-kata di otak Alois hilang seketika, ia tidak bisa menjawab sama sekali. Memaksa Claude? Hal itu sama sekali tidak pernah terlintas masuk ke dalam sirkuit otaknya. Lalu kenapa?

"Senior Faustus.." Alois pun mulai menggerakkan dua sisi bibirnya, "Kenapa kau sebegitu tidak menyukaiku?"

Ada jeda beberapa detik sebelum Claude akhirnya mengeluarkan suaranya, "Aku tidak menyukaimu tanpa alasan. Aku tidak menyukaimu hanya karena aku tidak menyukaimu."

.

.

.

.

Remaja pirang itu kemudian hanya dapat mengulas senyum hambar, agak pedih sedikit rasanya mendengar balasan kalimat yang menjadi bumerang untuknya. Tidak, ia merasa pedih, kalau boleh jujur. Ia tidak bias lagi mengucapkan kata-kata ketika Claude sudah memutar badannya, kakinya juga sudah mulai bergerak menjauhi posisinya, pergi dari tempat mereka berpijak sebelumnya dan menimbulkan derap-derap langkah yang menyakiti telinga Alois setiap detiknya.

Tepat ketika sosok seniornya itu sudah benar-benar menghilang dari pandangan, remaja itu menyandarkan penuh punggungnya pada tembok, menghela nafas panjang dan berat.

"Claude.."

Dan ia pun tertawa kecil, amat kecil.

Tubuhnya yang sedang bersandar itu pun merosot ke bawah, terjatuh perlahan masih dengan hela nafasnya yang kentara sekali berat untuk terhela. Kemudian tiba-tiba perlahan derap-derap langkah kecil memasuki indra pendengarannya, semakin mendekat setiap detiknya dan sampai akhirnya Alois menemukan sosok sahabatnya yang berambut kelabu itu yang sudah ada di hadapannya. Alois tersenyum kecil melihat Ciel, sementara yang disapa masih tidak menunjukkan ekspresi wajah yang berarti.

"Aku ternyata tidak seberuntung kau, Ciel." Tawa kecil Alois kembali terdengar, "Aku mungkin memilih orang yang salah, orang yang sudah pasti menyakitiku.. aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa begitu... menginginkannya.." tawa itu masih berlanjut, namun Ciel yang mendengarnya hanya bisa merasa tergores hatinya.

Remaja yang lebih pendek itu melangkah maju, menunduk dan menyamakan tingginya dengan Alois yang sedang terjatuh terduduk di hadapannya ini.

"Jangan pernah menertawakan aku, Ciel.."

Namun Ciel sudah merengkuh tubuh Alois ke dalam pelukannya, erat. Dan remaja bermata cerulean itu pun baru dapat merasakan tubuh Alois yang bergetar karena rasa sakit emosional yang baru saja menyerangnya. Begitu sakit kah? Tentu saja. Mungkin Ciel juga sedang melakukan hal yang sama jika ia yang bertukar peran dengan Alois untuk saat ini, atau mungkin bisa lebih parah. Dendang tawaan kecil Alois itu perlahan berubah menjadi satu erangan kecil, erangan rasa sakit dari batinnya yang terkoyak karena suatu kalimat-kalimat mengerikan yang baru ia tahu tajamnya melebihi tajamnya pedang iblis sekalipun.

"Tidak usah ditahan. Menangislah."

Ciel hanya bisa mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut, mencoba menyerap sedikit rasa sakit itu. Bahu Ciel terasa tergenggam erat oleh jemari Alois, mungkin karena lamanya menahan tangisan? Namun akhirnya ia dapat mendengar erangan itu semakin mengeras dan akhirnya berubah menjadi satu tangisan lepas yang semakin detiknya menaik nadanya.

Mereka tetap pada posisi itu selama beberapa lama, sampai segalanya bisa kembali menjadi normal, setidaknya sedikit.

~000~

"Whoa! Gerakanmu jauh lebih bertenaga dan lebih luwes dari biasanya, Sebastian!" Ronald tersenyum girang, tepat ketika mereka baru saja menyudahi latihan rutin mereka. "Mungkin karena ada Ciel di sini ya?"

Sebastian hanya mengangkat alis, namun sedetik kemudian ia hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya. Sementara di belakang mereka Ciel hanya bisa memasang senyum manis, bingung mau menanggapi apa. Remaja itu hanya memutar pandangannya pada keadaan sekitar, tak ayal beberapa kali dua pasang matanya bertemu dengan sepasang kereng emas Claude. Mereka sama sekali tidak berinteraksi secara langsung, yang ada hanya kata-kata yang menguar dalam diam. Ciel tahu, ia mengerti dari tatapan Claude yang tidak biasa menemukan Ciel sendirian. Biasanya Ciel bersama Alois selalu terlihat bersama, namun tidak untuk kali ini. Bukannya Alois tidak mau, tapi Ciel memang tidak mengajaknya untuk melihat latihan Sebastian dan teman-temannya sore ini.

Kentara sekali mata Claude memang mencari seseorang ketika Ciel datang tadi. Ha.

Setelah dikejar-kejar begitu, lalu tidak ada yang mengejar lagi rasanya menjadi kehilangan, kan? Dasar Claude.

"Hei." Sebastian, yang sudah mengambil posisi di samping remaja itu sembari mengulas senyum hangat.

"Yo." Ciel menanggapi, sembari juga balas tersenyum. "Lelah?"

Sebastian menggeleng pelan. "Tidak. Ini jauh lebih mudah daripada menyusun lagu, kau tahu? Aku lebih lelah jika sudah bekerja dengan otak."

Ciel hanya mengulum bibir sembari menganggukkan kepalanya.

"Sebastian, apa ada yang aneh dengan Claude?" Ciel bertanya pelan, hanya ingin sedikit mencocokkan saja.

Seolah bisa membaca pikiran Ciel, pemuda yang ditanya itu hanya menyeringai, "Ingin menemukan tanda-tanda bahwa Claude kehilangan Alois, hm?"

"Yeah."

"Bagaimana kalau taruhan?"

Ciel mengangkat alis.

"Aku tidak begitu optimis jika Claude dan Alois akan bersama nantinya, mengingat tabiat Claude yang memang susah untuk didekati. kalau aku menang, kau akan mentraktirku."

Klise. Gampang.

Ciel hanya bisa tertawa. "Baiklah. Tapi jika mereka bisa bersama nantinya... aku minta aku yang di atas jika kita akan melakukan itu lagi.."

"..."

TBC


Nggak tahu mau ngomong apa orzzzzz Pendek ya, maaf :|

Keikoku Yuki: Hehe, T+ xDDD Wakaka, kasian lah udah cukup menderita lahir batin itu Alois di anime, di sini jangan terlalu menderita :| Iya emang ada paragraf yang kepanjangan ._. Eh iya, makasih info-nya xDD nggak ngeh kalo settingannya masih mau review kudu log in :| makasih udah baca, Yuki-chan :D

ariefyana-Fuji Lestari: kemarin lagi nggak ada kerjaan jadinya cepet update-nya, hehe. Panggil aja Tari-chan :D Alois sedikit beruntung di chappie kemarin, haha. Ciel mah emang malu2 mau ./. Iya ada kata2 yang hilang, cuma aku susah ngeditnya ya di sini :| makasih udah baca, ari-chan :D

Kusa: iya ya kurang hot xDD hahaha. Makasih udah baca, kusa-chan :DD

Kojima Michiyo: Iya Claude muka papaan _ Ciel selalu dapet banyak bagian, Grell cuma numpang nongol doank kemarin kayaknya, kayaknya sih =)) entahlah nanti =)) kemarin apdetnya cepet lagi ga banyak tugas ._. Makasih banyak udah baca :D

Earl Yumi Trancy: typo kesalahan tangan saya, hiks. Mau ngedit kok susah ya :|a ahaha, yang bagian itu. Cielnya langsung pucet kapur kali ya xDD Iya romance selalu ada tiap chappie ./. Maap kalo kurang, hehe. Duo datar LMAO, biarin lah, biar unik tuh boyband-nya =)) makasih banyak udah baca :D

chiko-silver lady: Ini di-update xD hehe, makasih. Chapter 3 ini yang dirimu review loh =)) makasih banyak udah baca :DD

Review? :|a