Sudah setengah jam Jinyoung datang ke apartemen Jackson dan dia masih terdiam ditempatnya. Duduk di sofa, sambil tangannya sesekali memencet tombol kunci pada handphonenya, matanya pun tak hentinya mengecek layar berharap ada telepon atau pesan masuk. Tadi pagi jackson mengirimnya pesan memintanya untuk datang ke apartmentnya dan Jinyoung seperti biasa tidak pernah bisa menolak seorang jackson.

"Jinyoung." Jackson yang sudah jengah karena daritadi di abaikan mencoba menarik perhatian Jinyoung. Dia melambaikan tangannya didepan Jinyoung tapi tidak ada respon.

"Jinyoung?" Jinyoung masih memandang layar hpnya, diam seakan layar hpnya yang mati lebih menarik dari apapun di sekitarnya. Jackson mencoba cara lain dia menggoyang tubuh Jinyoung mencoba membawa Jinyoung ke alam sadarnya. "Jinyoung? Hey!"

"O..Oh.. Jackson-ah? Ada apa?"

"kau hari ini aneh." Jackson memang sudah lama ingin berkata seperti itu. Bahkan semenjak sebulan lalu Jinyoung jadi berubah menjadi lebih pendiam dan lebih sering melamun sendiri sambil menonton layar hpnya yang gelap. "Kau kenapa sih?"

"aku... tidak apa apa." Jinyoung mencoba tersenyum tapi dimata Jackson itu jelas palsu.

"ayolah kenapa? Katakan saja. Kenapa kau jadi sering mengecek hpmu padahal dulu kau cuek sekali. Kau menunggu pesan seseorang? Siapa? Kau punya selingkuhan baru lagi?"

Jinyoung tertegun, dia tersinggung dengan ucapa Jackson. Apakah diamata Jackson dan orang lain dia semudah itu? gampangan? Dan bisa dengan mudahnya menambah selingkuhan begitu?

Dulu memang dia begitu, tapi tidak lama kok, hanya beberapa waktu setidaknya sampai Jaebum memarahinya malam itu.

Jinyoung bukannya tidak merasa berdosa mempermainkan hati orang tapi mau bagaimana lagi, yang penting sekarang dia sudah taubat. Sedikit.

"Aku tidak punya selingkuhan lagi jackson. Hanya kau yang tersisa." Jinyoung menjawab dengan sinis. Sebenarnya dia malas menjawab pertanyaan Jackson tadi, dia terlanjur tersinggung tapi mau bagaimana lagi.

"Lalu?"

"Aku menunggu Mark hyung. Dia bilang dia akan pulang bulan ini. Dan aku tidak mau melewatkan satupun pesan atau telepon darinya seperti tempo hari."

Jinyoung sempat melihat Jackson terkaget dari sudut matanya. Jinyoung tidak tahu jelas kenapa, tapi Jackson selalu memasang wajah yang tidak enak jika dia mulai menyebut nama Mark. Entah itu karena perasaan berdosa atau cemburu.

"Oh, Mark lagi." Jackson tertawa hambar. "Ayolah Jinyoung, dia di hutan, tidak ada sinyal. Mana mungkin dia menelpon."

"Tapi bulan lalu saja dia bisa menelpon, dia bahkan menelponmu juga kan?"

"Iya, tapi itu seperti satu berbabnding seratus kemungkina dia menelpon atau tidak." Jackson mulai menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan Jinyoung. "Sudahlah,kenapa tidak kita nikmati waktu kita berdua? Aku menyuruhmu kesini bukan untuk ini sayang."

Jinyoung mulai merasakan tangan Jackson kini ada di pinggangnya, posisi duduknya pun kiat merapat padanya.

"Jackson, kumohon, tidak bisakah kita hentikan ini?" Jinyoung mencoba melepaskan tangan Jackson di pinggangnya tapi yang di dapat hanya Jackson yang menariknya lebih dekat.

"Tidak, dan kita sudah membahas ini sebelumnya."

"Tapi aku benar benar tidak tenang, aku takut jack." Jinyoung menunduk, dia hampir menangis. Bayangan Mark yang kesakitan karena ulahnya, bayangan Mark yang pergi meninggalkannya, tidak Jinyoung tidak siap untuk itu.

"Apasih yang kau takutkan? Kita berhasil berjalan sejauh ini nyoung dan kita baik baik saja. Kau masih dengan Markmu, dan aku masih dengan bambamku. Kita akan terus seperti ini jika tidak ada yang memberi tahu mereka." Ya, Jackson tidak tahu kalau bambam dan Jaebum sudah tahu semua kebusukan mereka. Tapi lain dengan Jinyoung, dia tahu bambam dan Jaebum tahu, makanya dia takut.

Dia sudah sangat merasa bersalah pada bambam, dia sudah merasa tidak enak pada Jaebum, dia sudah sangat merasa berdosa pada Mark tapi dia masih tidak bisa menolak Jackson.

Jinyoung masih terdiam, mencoba mengatur kata kata yang akan dikatakannya pada Jackson. Dia bersikukuh kalau dia harus mengakhiri hubungannya dengan Jackson hari ini juga.

Belum sampai Jinyoung menemukan kata yang cocok, dia merasakan tiupan hangat di lehernya. Perlahan lahan jadi sedikit basah, sapuan lidah Jackson dan kecupan kecupan kecil disana berhasil mengambil alih fungsi otaknya lagi.

"Jaaack... Uh.." Jinyoung melenguh, Jinyoung sadar dan dia tahu betul ini salah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa. Jackson perlahan lahan dan dengan pasti mengambil hp Jinyoung dari tangannya.

Jackson yang berhasil mengambil hp Jinyoungpun memencet tobol kunci lebih lama dan memilih shutdown. "Tidak ada Mark disini nyoung, yang ada hanya Jackson. Lupakan Markmu, dan baik baiklah pada Jacksonmu. Kau paham." Jackson berbisik pada Jinyoung dengan nada yang malah menaikkan nafsu Jinyoung.

Jaebum duduk di tempat duduk yang sudah disediakan bagi para penumpang. Sudah setengah jam dia menunggu, dia tahu dia memang berangkat lebih awal dari jadwal kedatangan kereta ke stasiun, tapi bukan itu yang dia tunggu.

Tidak berapa lama, dia melihat orang itu, sahabatnya yang akhir akhir ini menguji kesabarannya, Jinyoung sambil berlari lari. Jaebum sebenarnya ingin sekali bertingkah tidak peduli atas apa yang dilakukan Jinyoung tapi percayalah dia melakukan semua ini karena sayangnya dia terhadap Jinyoung yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.

"Kau datang juga?" Jaebum menatap Jinyoung dengan tatapan sinis. "kupikir kau akan sibuk dengan orang tak tahu malu itu lagi."

"Hyung dia punya nama. Dan maaf aku terlambat. Aku tidur terlalu larut tadi malam."

"Yayaya aku tahu, kau pasti telah menghabiskan banyak ronde lagi dengannya kan?! Sampai sampai kau tidak mau diganggu dan mematikan hpmu dan lagi lagi pacarmu yang bodoh itu harus menitipkan lagi pesannya kepadaku karena pacarnya yang kurang ajar sedang selingkuh dan berbuat mesum dengan orang yang bodohnya lagi dia anggap sahabat. Oh dan aku terlalu malas untuk menyebutkan nama sahabatnya itu."

Tadi malam Mark menelpon lagi, seperti biasa dia menelpon Jinyoung terlebih dahulu dan dijawab oleh suara perempuan yang dengan baik hati mengabarkan kalau hp pacarnya tidak di aktifkan. Padahal Mark sangat ingin mendengarkan suara Jinyoung, tapi apa hendak dikata. Akhirnya dia menelpon Jaebum, mengabarkan kalau dia akan pulang besok dan meminta untuk dijemput di stasiun.

Jaebum sempat menunggu Jinyoung pulang tapi sampai jam 1 malampun Jinyoung belum menampakan batang hidungnya, terpaksa dia tidur duluan tapi tadi pagi dia sempat menengok kamar Jinyoung, dan kau tahu apa? Jinyoung tidak pulang. Alhasil dia menulis note dan menempelkannya di kulkas.

Ya, Jinyoung ketiduran di aprtmen Jackson setelah pertarungan panjangnya semalaman dan pulang ke dormnya pukul 9.15. Untunglah saat itu dia merasa haus jadi menyemmpatkan diri mengunjungi dapur jadi sempat melihat note yang ditinggalkan Jaebum.

Mark pulan. Kalau kau masih menganggapnya pacar datanglah jam 10. Stasiun.

"Hyung aku tidak sengaja mematikannya. Lagipula Aku dan Jackso-" belum sempat Jinyoung menyelesaikan kata katanya tiba tiba mereka dikagetkan oleh sebuah suara.

"Jackson? Ada apa dengan kau dan Jackson?" Mark, terlihat tersenyum dengan cerahnya, badannya sekarang berisi, berotot dan terlihat ketegasan di wajahnya. Mark terlihat sangat... gagah.

"Ma..mark hyung?" Jinyoung tidak sanggup berkata kata, kenapa Mark tiba tiba ada disini? Kapan keretanya datang? Apa dia mendengar semuanya? Bagaimana kalau iya?

"Hai beb? Maaf membuatmu menunggu." Mark memeluk Jinyoung dan mencium keningnya. Senyum masih terpasang diwajahnya. Tapi jinyoung yang terlalu kaget bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Kau kenapa? Tidak senang aku pulang?"

"Bu..bukan begitu, tapi kau. Mana keretanya?"

"Oh, hehe aku naik kereta keberangkatan sebelumnya. Semalam temanku meminku untuk bertukar tiket maaf karena tidak memberi tahi terlebih dahulu. Aku sudah datang dari dua jam yang lalu tapi tertidur di bangku sebelah sana. Haha" Mark tertawa kikuk sa,bil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kemudian matanya beralih kepada jaebum yang berdiri disamping Jinyoung.

"Oh, hey Jaebum. Terimakasih sudah menjaga Jinyoungku dengan baik. Kau memang dapat diandalkan." Mark tersenyum sambil menjabat tangan Jaebum.

"Aku kan sudah berjanji Mark." Jaebum tersenyum balik.

"aku jadi ingin tahu beb, apa Jackson juga menjagamu dengan baik? Katakan padaku kalau dia sering membuatmu kesal."seketika baik Jinyoung maupun jaebum saling bertatapan. Seandainya Mark tahu. "ngomong ngomong ada apa denganmu dan Jackson?" Mark beralih menatap Jinyoung serius?

"Ma..maksudmu?" Jinyoung mendadap gugup, lebih gugup dari sebelumnya.

"tadi yang sedang kau bicarakan dengan Jaebum?" Mark menatap Jinyoung curiga.

Jaebum yang melihat Jinyoung gelapan akhirnya buka suara "bukan apa apa Mark. Hanya candaan. Aku tahu kan sahabatmu itu senang sekali bermain main?" iya bermain perasaan juga. Dia memang ingin sekali Mark tahu semuanya tapi bukan saat ini. Ini masih belum tepat.

"oh, kupikir apa. Maaf aku berpikir yang tidak tidak." Mark kembali memeluk Jinyoung. Dan Jinyoungpun hanya tersenyum kaku.

Cepat atau lambat semua pasti terbongkar. Hanya butuh bukti.

Telat update, maaf lagi dapet banyak musibah dan revisi skripshit :')

Unedited tolong maklum. :)

terimakasih review, follow and fav nya *hug :D