PikaaChuu dan Park In Jung (dengan tidak tahu malunya) mempersembahkan:
WORLD OF MINE
.
Chapter 3
Jimin masih sibuk dengan dentum jantungnya.
'Milikku katanya? Milik dia? AKU?'
Sementara Yoongi sendiri masih asik memamerkan seringai. Satu langkah, ia mundur, lalu berlanjut terus ke belakang.
Jimin medengus. "Jangan klaim aku seenaknya!" Ya, setidaknya dia ingin jual mahal sedikit saja. Istilahnya, mau tapi malu. Harga dirinya bisa-bisa turun jika semudah itu terbujuk rayu manis Yoongi.
Yoongi sendiri tertawa geli, mengangguk-angguk ringan. "Terserah. Tapi kau bisa memaggilku Yoongi saja sekarang."
Kala Jimin hendak nalik menimpali, tubuhnya mendadak goyah. Hampir ia jatuh jika keseimbangannya tak kembali dijaga. Matanya memicing pada Yoongi. "Hei! Kau tidak sedang menjahiliku lagi, bukan!?" Sentaknya kesal.
Mata Yoongi melotot sambil menggoyangkan tangannya. "Tidak, ini bukan aku."
Lalu keduanya hanya hening, merasakan beberapa detik setelahnya tempat mereka berpijak kembali goyang.
"Gempa?"
Sempat Yoongi diam berpikir, dan sedetiknya ia segera memacu lari keluar kamar. Berpapasan dengan Namjoon yang hendak keluar pula, Yoongi berucap, "Biar aku yang periksa, Tuan."
Tanpa menunggu jawab dari rajanya, Yoongi terbang keluar. Jimin yang hendak ikut menyusul, dicegah oleh Namjoon. "Jika kau ingin keluar, pergi dengan prajuritku."
Jimin mengangguk dengan cepat. Yang penting ia ingin segera memeriksa apa yang bisa menimbulkan goncangan berkelanjutan seperti ini. Setidaknya lima orang yang dipanggil Namjoon itu berbaris dengan cepat. Tanpa berucap apa, Jimin lari keluar hingga menjajarkan diri dengan Yoongi di tengah desa yang mendongakkan kepala dan ia ikut melakukannya.
Apa yang ditangkap mata membuat tubuh bergidik. Ada cakar-cakar raksasa yang menggaruk tanah di langit-langit serta memukul-mukul tameng mantra Yoongi. Menyebabkan selaput pelindung di atas sana mengeluarkan semburat cahaya tipis tiap ditumbuk oleh bogem tangan berbulu itu.
Tak ayal menimbulkan panik. Tentu saja, pasalnya selama dua puluh enam tahun ini tameng Yoongi bertahan kuat, sama sekali tak ada yang bisa menghancurkannya. Mereka bisa hidup dalam tanah selama itu juga berkat Yoongi.
Ketika cahaya dari luar masuk akibat tanah yang digaruk habis, semua orang makin berseru ngeri. Nampak tiga hewan kuat di sana masih memainkan cakar-cakarnya.
Itu Souffir. Beruang besar berwarna dominan putih dengan corak hitam yang menghuni gunung. Sungguh, mereka sebenarnya bukan fauna liar macam ini. Souffir sangatlah bersahabat selama masa hibernasi mereka dalam gua tak diganggu. Kalaupun memang mengamuk, mereka masih mudah dijinakkan. Namun mengapa sekarang terlihat sangat kasar?
"Sialan! Taehyung gila!" Yoongi berucap penuh emosi.
Suara seruan seseorang menghentikan segala padu teriak ketakutan di sana, hanya menyisakan tangis anak-anak yang terdengar. Itu Namjoon, tengah memberi perintah pada sepasang prajurit pengendali tanaman terbaik seantero Croire untuk mengevakuasi penduduk. Ia mengulurkan tangan ke dinding di sebelah kanannya, memecah tanah di sana hingga menampilkan sebuah pintu baja lain. Begitu terbuka, ia titahkan semua orang masuk dan menyusri lorong darurat.
"Bawa mereka ke hutan di bagian utara. Memang agak jauh, tapi mungkin masih aman dari jangkauan Taehyung. Kalian bisa menciptakan pelindung dari sulur untuk melindungi penduduk jika sampai di sana." Begitu mendengar perintah, dua prajurit yang ditunjuk segera memposisikan diri, membuat para warga berbaris rapi. Sebelum mereka mulai masuk, Yoongi terbang mendekati pintu lorong. Ia menyalakan semua lentera di sepanjang dinding.
Semua warga berangsur masuk, sempat membungkuk pada sang pangeran dan raja serta memohon pada dewa agar mengirimkan keselamatan. Namjoon hanya tersenyum, berharap tak ada satupun orangnya yang mati kali ini.
Setelah satu prajurit terakhir melangkah ke dalam lorong, tanpa menunggu waktu Namjoon segera menutup pintu bajanya. Kemudian menyusul memberi perintah bentukan formasi penyerangan karena tameng pelindung Yoongi mulai bergaris retak. Yoongi sendiri terbang kembali ke titik semula, di samping Jimin yang masih betah diam mendongak.
Semua prajurit bersayap memposisikan diri sedekat mungkin dengan pusat pecahan, mereka akan menyerbu keluar dan menyerang tiga Souffir itu jika memang nanti tameng berhasil diremukkan. Tepat sebelum mantra benar-benar rusak, sebelum Yoongi benar-benar terbang mendekat, ia memerintah Jimin agar segera menghentikan waktu.
Namun yang diberi perintah justru menggeleng-geleng kuat. Karena Jimin sendiri kini sulit menggerakkan tubuh kala beruang-beruang di atas sana meraung. Ia hanya terlalu kaget dengan segala hal mendadak ini, membuat fokusnya mungkin semrawut tak karuan hingga pemikiran untuk menghentikan waktu pun sama sekali tak terlintas. Jimin justru membiarkan dirinya jatuh tak berguna, mengabaikan seru-seruan Yoongi yang sudah menyaiapkan api untuk penyerangan.
Sungguh, di mata manusia biasa seperti Jimin, Souffir itu bahkan berkali lipat mengerikannya dibanding beruang normal yang memang sudah buas.
"JIMIN!" Yoongi frustasi. Benar pemikirannya, yang perlu Jimin kuasai bukan tentang bagaimana menghentikan waktu, namun mengenai mental menghadapi perang. Sekuat apapun talent yang dikuasai, pangerannya itu tak akan pernah mampu melawan Taehyung jika masih seperti ini.
Tepat kala suara pecah sempurna menguar, kesadaran Jimin seolah diberikan kembali. Bahkan belum melakukan apapun, seluruh tubuhnya sudah dimunculi titik-titik keringat. Jimin sudah hendak menghentikan putaran waktu, namun mendadak hal aneh lain menyusul datang. Semuanya, baik ia sendiri, Yoongi, maupun banyak prajurit lain tak bisa bergerak.
Kaku.
Jimin sempat kembali merasa kaget. Namun, dipikirnya ini bisa jadi waktu yang tepat untuk memakai talent. Kembali ia bersiap, berniat pula harus bisa menghentikan waktu detik itu juga.
'Jangan.'
Seluruh bagian tubuh Jimin meremang kala sepintas suara lirih itu terdengar lewat.
'Jangan.'
Satu kali ini lebih jelas terdengar. Membuat Jimin sempat menghentikan nafas. Siapa? Ingin ia tutup dua telinganya, namun menggerakkan ujung jari pun ternyata berat.
'Jangan berani mainkan putaran waktu. Aku bisa pecahkan otakmu detik ini juga.'
Suara ancaman itu lugas mencekam. Pikiran Jimin berpusat di satu titik.
"Taehyung?" Lirihnya yang dibalas tanpa jawaban.
Takut. Entah Taehyung menguasai pikirannya pula, namun keraguan membuat Jimin jadi enggan melakukan apapun. Bahkan begitu nama orang tersebut terlintas di otak dan dibenakkan dalam hati, segalanya menjadi kosong, kepala dirasa ringan. Jimin seperti terhipnotis di tempat.
Ia seperti sengaja dibiarkan melihat apa yang terjadi di sana.
Jerit dan erangan banyak mengudara. Dengan mata yang terbuka lebar, ia melihat bagaimana sejumlah prajurit raja yang berteriak nyaring kala tubuh mereka terangkat. Kemudian memberontak kesakitan kala aura-aura hitam seolah dipaksa keluar dari dalam jiwa. Hingga ketika kulit-kulit mereka menjadi keriput parah, tubuh mereka pecah. Menjatuhkan tetes-tetes darah yang tak ada habisnya.
Jimin ngilu, mual menyeruak. Ingin menghindar, menutup mata juga telinga tetapi tak sanggup. Ia bahkan tak bergetar. Sungguh, sekedar menelan saliva pun sulit bak hendak memaksakan batu sekepal tangan melewati tenggorok.
Di lain sisi, Namjoon masih terheran. Ia tahu semua orang di sana kesulitan bergerak, namun mengapa ia tidak? Dia bahkan menggerakkan jemari yang sudah menggenggam pedang, masih bisa. Mencoba menoleh menggerakkan kepala, masih sanggup. Membuang pandangan ke segala arah, pun dapat dilakukannya. Ia menyipit kala melihat beberapa ksatria bersayap terbang tak berarah dan meronta seolah ingin lepas. Namjoon bisa mendengar debuman keras kala mereka menabrak dinding, lalu naik menyentuh langit-langit dan bernasib sama seperti pejuang yang lain. Tubuh pecah begitu saja.
Dan itu membuat Namjoon sadar. Bukan tubuh yang dikendalikan, namun aliran darah mereka. Dan itu adalah talent Seokjin. Kekasihnya memiliki kemampuan tersendiri untuk mengatur fluida, apapun jenisnya. Jadi, ini bukan menghipnotis, namun mengendalikan cairan dalam tubuh supaya korban tak bisa bergerak.
Maka itu sudah cukup jelas untuk menerangkan mengapa Namjoon masih bisa bergerak. Kemampuan Seokjin tak akan pernah berpengaruh dengannya. Sama sekali tidak, barang sedikitpun.
Tentu ada keinginan hendak menolong. Namun ia tak tahu bagaimana. Ingatannya hanya kembali berputar pada kotak memori dua puluh enam tahun lalu. Semua hanya ada merah, dera sakit, amis, dan ketakutan.
Tepat kala hujan darah tak henti turun, kala berlusin-lusin prajurit Namjoon tersapu dengan mudahnya, seseorang terbang masuk dan mendarat tenang. Sedari tadi rupanya melayang tanpa sayap. Begitu tudung dibuka, Jimin melihat jelas rupawannya Taehyung. Pria yang kini dengan santai mendekati Namjoon, menendang-nendang banyak bagian tubuh yang menghalangi langkah kaki. Ia bahkan tak peduli bercak merah yang menempel pada sepatu elegannya.
"Bagaimana pendapatmu tentang hewan peliharaanku, hm? Kau tahu, sangat sulit menjinakkan mereka." Taehyung menatapi kuku-kuku tangannya.
Namjoon terhenyak. Ia terlampau paham dan seluruh penghuni Croire juga tahu jika memiliki Pet bukanlah hal gampang. Semua hewan di sana sulit sekali untuk mau menggabungkan pikiran dengan seorang manusia, apalagi memiliki tuan yang dirasa akan mengekang seluruh hidup. Namun Taehyung bahkan bisa menaklukan tiga Souffir di gunung. Sejenius apa pria jahat di hadapannya ini?
"Dua puluh enam tahun kalian semua bersembunyi di bawah tanah layaknya orang bodoh. Aku tidak menganggur selama itu hanya untuk memerintah negeri kosong tanpa penduduk, Namjoon. Hewan-hewan di luar sana bahkan lebih berguna bagiku." Selanjutnya Taehyung terkikik kecil.
Taraf emosi Namjoon tentu meningkat, ia bergolak marah. Tangan pada pedang makin dieratkannya, hendak diangkat naik.
Taehyung mundur selangkah. "Ahh, aku lupa jika kau tak bisa kukendalikan dengan kekuatan kekasihmu. Bahkan anakmu bisa kugenggam. Lihat, jika sedikit saja kumainkan darah di tubuhnya, maka-" Taehyung sengaja menggantungkan kata seraya melirik Jimin yang tentu saja masih tegak berdiri kaku.
Jelas saja Namjoon makin tersulut. Ia melepas pedang di tangan namun benda logam itu tidak jatuh. Bahkan semua senjata logam di sana kini sudah melayang disertai tangan Namjoon yang sudah dalam posisi siap melempar seluruh ujung runcing itu ke tubuh Taehyung. "Berani mengendalikan Jimin atau menghisap kekuatanku, semua ini akan mencabik tubuhmu!"
Hanya dengusan remeh yang dikeluarkan Taehyung. "Kalau kau lupa, biar kuingatkan. Menurutmu apa gunanya aku merebut banyak talent penduduk dulu? Lalu membantai habis prajuritmu? Coba saja hunuskan semua pedang itu ke tubuhku."
Seperti yang Taehyung tantangkan, Namjoon tanpa merespon apapun segera melayangkan seluruh pedang ke tubuh sang musuh. Bagaimanapun juga ia sangat berniat ingin menggores kulit Taehyung. Namun agaknya memang apa yang dikuasai pria licik itu terlampau sempurna.
Tepat sejengkal sebelum semua senjata bertubrukan menkamnya, Taehyung lebih dulu berpindah. Ia kini berdiri tegak di belakang Namjoon, memajukan wajah dan menuai bisikkan pendek. "Bersimpuh."
Semua pedang terjatuh, menciptakan denting logam berdentum nyaring. Sementara Namjoon sendiri entah mengapa menurut.
Untuk kali ini, Taehyung benar-benar menghipnotis.
Ia berjalan mengelilingi tubuh yang mau menunduk padanya itu sambil tersenyum bangga. Kemudian, Taehyung menunduk, ingin membisikkan sesuatu lagi.
"Kurasa lebih baik kau tusukkan pedang itu pada prajurit yang tersisa." Setelah ia kembali tega, Namjoon pun ikut berdiri.
Seperti biasa, tangan terjulur guna menerbangkan pedang-pedang itu. Baru kemuadian diarahkan ke seluruh target yang ada.
Taehyung mengerling sebentar sebelum berujar, "Biarkan ajudan dan anakmu. Aku ingin bermain dulu dengan mereka."
Menurut. Dua senjata yang melayang menuju perut Jimin dan Yoongi dijatuhkan. Taehyung sungguh merasa senang. "Sosok lemah sepertimu, bagaimana bisa menjadi pemimpin. Ck ck ck…" Dan ia berjalan pergi, meninggalkan tubuh Namjoon yang masih tak bergerak.
Dengan riang ia meloncati mayat-mayat secara santai, dua tangan diletakkannya di belakang tubuh. Agaknya ia selalu riang gembira di hari yang suram. Ada bait tawa kejam yang keluar dari tenggorokannya.
Mendekati Jimin, tawa itu masih betah dipamerkan. "Kau pikir, hanya dengan mengendalikan waktu bisa mengalahkanku, huh?" Pipi sang pangeran incaran diusapnya lembut. Ingin Jimin menarik wajah. Sayang tubuhnya juga masih kaku. Taehyung berlanjut, "Lihat. Bergerak saja kau tidak bisa." Gumamnya penuh kesenangan.
Mendadak, raut wajahnya berubah kesal. Dengan keras ia berseru. "Jangan!"
Selanjutnya, kepala menoleh pada Yoongi.
Rupanya pria itu sudah bersiap henda membaca mantra demi membebaskan Jimin.
"Aku bisa membaca pikiranmu, Yoongi-ssi. Sudah kubilang, jangan lakukan." Seperti biasa, nada ancam Taehyung tidak terdengar main-main.
Susah payah Yoongi angkat satu ujung bibirnya, ikut memahat seringaian di wajah. "Sayang sekali, Taehyung-ssi. Sejujurnya seranganmu tidak akan lagi mempan padaku." Ujarnya seolah sudah menang. Selanjutnya ia membatin sebuah mantra, tak peduli jika Taehyung bisa mendengar. Lagipula, Taehyung juga tak akan bisa mengaplikasikan mantra.
Memang tubuh Yoongi akhirnya bisa kembali bergerak, hingga ia bahkan bisa jatuh tersungkur di tanah. Segera diraupnya oksigen banyak-banyak, karena sedari tadi ia sungguh kesulitan bernafas. Tentu saja ia tak lupa membebaskan Jimin, hingga membuat pemuda itu tersengal hebat. Jimin mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.
Taehyung was-was. Sedetik saja Jimin bergerak, maka waktu bisa segera terhenti.
Sesuai perhitungan, tanpa menghamburkan banyak waktu ia segera merubah diri menjadi kepulan asap hitam. Terbang melayang, mengudara masuk dalam tubuh Yoongi yang mana belum siap menghindar. Pria itu berteriak kuat, mengagetkan Jimin yang kembali bingung harus bagaimana.
Yoongi membungkuk, merintih banyak kali. Ia bahkan memeluk tubuh, merasa ada gelora tak nyaman yang memaksa masuk. Yoongi sadar, jika ia melemah maka Taehyung akan menguasai tubuhnya. Jika benar begitu, Jimin dan Namjoon jadi di ambang kematian. Sayang, berjuang sekuat apapun sepertinya ia tak mampu bertahan.
Jimin sendiri bisa dengan jelas bisa melihat surai Yoongi berubah perak beberapa helai. Serta satu manik mata berubah menjadi hijau, hijau rumput khas Taehyung. Dan terakhir dengan sayap hitam Yoongi, semua apinya padam. Diganti dengan asap yang juga berwarna hitam, makin mengesankan kelam.
Jimin tentu kembali dirundungi rasa takut.
Ia melihat bagaimana sayap di punggung Yoongi meengepak lebar membawa tubuh yang sudah dirasuki Taehyung itu naik.
"Woah, bukankah tubuh ini terlalu hebat?" Itu seperti bukan nada tanya untuk Jimin.
Suara Yoongi bahkan berubah menjadi lebih berat dan serak, menandakan jelas jika Taehyung di atas kendali penuh dari tubuh tersebut. Kembali ditatapnya Jimin, membuat sang korban terkaku.
"Aku tahu semuanya. Semua hal!" Taehyung lagi-lagi tergelak keras. "Talent-mu tidak akan pernah bisa mengganggu Yoongi, juga sebaliknya, benar bukan? Jadi selama aku bersarang di tubuh ini, kau tak akan pernah bisa menghentikanku!" Ada selarik nada menang yang diserukan. Seolah dia sudah benar-benar menguasai Croire.
Jimin kewalahan. Kebingungan melanda, ia tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Benar memang, menghentikan waktu tak akan berguna.
Tapi dia tak perlu itu.
Walau dalam keadaan tidak sadar, ia pernah memundurkan waktu. Mungkin dia akan melakukannya kali ini. Seharusnya memang bisa.
Yoongi pasti sadar saat ia memutar balikkan waktu di pesawat, karena pria itu tahu apa yang terjadi. Kalaupun kali ini Taehyung ikut sadar jika waktu diubah, setidaknya Jimin berhasil mengeluarkan ia dari tubuh Yoongi.
'Harus bisa!' Dan dia sudah bertekad.
Sebelum kemudian Taehyung mengangkat tangan, bersamaan dengan itu tubuh Jimin juga naik. Disertai sensasi mencekik di leher, pasang tangan dan kaki Jimin bergerak acak.
"Aaaakhh…" Pasok oksigen kembali dihentikan oleh Taehyung, sama seperti kala direnggut kesadarannya. Namun setidaknya, kali ini ia masih bisa menggerakkan mulut, mengemis sedikit udara demi menenangkan paru-paru.
Percuma banyak bergerak, Taehyung tak akan melepaskannya.
Maka, begitu tubuhnya dibawa mendekat pada pria itu, Jimin hanya diam pasrah. Terutama saat tawa terkikik dikeluarkan Taehyung. Jimin tetap tak bergerak, seraya menimbang-nimbang apa yang bisa dilakukan.
"Dengar. Jangan gunakan kekuatanmu sedikitpun." Bisik berat Taehyung merambah masuk ke pendengaran Jimin. Suaranya mendayu, sama ketika ia pertama kali menelusupkan kata ke otak Jimin.
Jimin pikir ia akan kembali dikuasai pikirnya, akan kembali terhipnotis.
Dalam diamnya menunggu, ternyata tak dirasakan apapun. Otaknya masih bisa berpikir walau kacau. Manakala coba menggerakkan jemari, berhasil. Perkiraannya, Yoongi mungkin sempat menujukan mantra pelindung untuknya.
Namun ia tetap diam, membiarkan Taehyung mengira jika ia tunduk takluk. Jimin tatap manik mata di hadapannya tersirat akan kemenangan licik. Satu warna hijaunya seolah bersinar makin cerah. Jimin benci melihat Yoongi yang seperti ini.
Dan Taehyung, dalam kesenangannya sendiri sudah mulai menghisap talent Jimin. Memandang penuh kuasa mendapati aura gelap keluar dari tubuh sang pangeran. Megacuhkan jerit sakit tertahan dari sosok yang dicekiknya. Tentu, setelah ini selesai mungkin ia bisa menjadi setara dengan dewa.
Jimin sendiri berkutat melawan nyeri di seluruh tubuh. Melihat banyak prajurit sang ayah yang dibunuh Taehyung saja ia ikut merasa ngilu, kini ia harus ikut merasakan bagaimana tersiksanya. Ini seperti kulitnya dipaksa terkelupas sedikit-sedikit, perih dan menusuk tajam. Bersama dengan jantung yang seolah diremat, tulang bergemeretak.
Jimin bahkan merasa tak punya sedikitpun tenaga untuk meronta, apalagi memberi perlawanan. Rasa-rasanya merasa seluruh bagian tubuh bergetar hebat serta keringat dingin yang merebak keluar dari pori-pori.
"Breng-brengsek…" Susah payah dia melengkungkan bibir naik, berniat menggertak lawan.
Agak berguna. Karena ia bisa menikmati kekagetan Taehyung setelahya.
Taehyung sendiri dengan cepat mencoba masuk paksa ke pikiran Jimin, hendak tau apa yang terlintas di sana. Sungguh, ia tak mengira jika Jimin masih mampu mengumpat di bawah kendalinya.
'Hipnotismu tak lagi mempan untukku, Taehyung.' Itu suara otak Jimin.
Dan yang disebut namanya segera sadar.
Ia kalah cepat.
Memanfaatkan keterkejutan Taehyung, Jimin segera menutup mata. Sekuat yang ia bisa mengabaikan siksa sakitnya supaya bisa fokus. Juga mengabaikan seruan Taehyung yang menggema keras dalam ruang.
"JANGAN!"
-WORLD OF MINE-
TBC
Author's corner :
PikaaChuu : Fast update kan ya? Iyaaa XD Walau jumlah word nggak begitu banyak, memang. Tapi semoga menikmati.
Park In Jung : wew… bagaimana chapter kali ini? Gak terlalu cepat kan yah alurnya? Wkwkwk, kami ngejar waktu soalnya. Hehehe, semoga kalian ikut deg-deg-an saat baca bagian ini~~ dan btw, kali ini aku yang membalas review kalian~ /love and peace :3/
Balasan review :
Meganehood, yup… setelah Taehyung muncul gak ada unyu2nya lagi :')
Gasuga, hahaha makasih kak! Iyup! Kami akan semangat~ tapi keknya di chap ini gak ada manis-manisnya kali yah? Wkwkkw…
Yongchan, hanjay keknya iya… perlu diena-enain dulu biar sadar bukan mimpi wkwkwk /otak kotor/
Avis alfi, di sini… yoonminnya gak berlucu-lucu ria lagi :')
MingyuAin, yup! Benar sekali! Tae bisa ngendaliin darah lebih tepatnya. Wkwkkw, di chap ini kebanyakan yang dipakai kekuatan si Jin~~
Gummysmiled, kampret u dimana-mana ada om telolet om. Hanjayy kakek! Umur 128 suka ama yang 26! Ini cerita kurang anti mainstream apalagi coba~~ itu si Jimin tegas kok… tegas.
Magnae palsu, benar sekali! Jika ditakdirkan bersama, maka talent gak saling ngarus satu sama lain~ dan yap, Jin udah mati :')
Kv, jungkookie keknya gak akan muncul di sini yah, mian… aku memikirkan mungkin jungkook muncul sebagai cameo di akhir chap. Heheh, dan ini tetet mu muncul nak~
Park RinHyun-Uchiha, benar sekali kak. Soooo, di sini yang soul mate atau udah ditakdirkan bersama, maka talent mereka gak ngaruh ke masing-masing pasangan. Dan soal bagaimana cara tae ngisap talent lawan, itu dia seakan menghisap aura hitam yang keluar dari tubuh orang tersebut. Disini sudah di jelaskan kok, wkwkwkwk.
ChiminsCake, sekarang masih meleleh?
Cluekey6800, keknya gak ada lowongan pengganti seokjin XD wkwkkw, aku juga greget gitu di akhir kalimat chap kemarin . bayangin yoongi beneran ngomong gitu ke jimin! Akhh, melintir badan nih jadinya!
The Min's, ahh makasih udah memuji alur ceritanya~~ sepertinya nanti kookie dan hobie gak akan muncul, aku merencakanan kookie bakal muncul sebagai cameo di akhir chap. Tapi belum terpikir untuk kehadiran hobie. Dan yup! Mari tingkatkan yoonmin moment~~
ChimSza95, iyup! Yang ditakdirkan bersatu gak bakal mempan sama talent pasangannya! Dan yap, ini dia pertarungan vmin. Rada horror yah… wkwkwkwkk
Sekian dari kami!
Nantikan chap selanjutnya!
Big thanks bagi yang review dan membaca~~
