Renata berjalan pelan menuju ke koridor sekolah yang mereka bilang angker. Dengan langkah yang sangat hati hati, ia berjalan sepelan mungkin tanpa menimbulkan suara. Saat hendak membuka pintu gudang, tiba tiba ada sebuah suara yang menginterupsi dirinya.

" Apa semua baik baik saja, Renata-san?" Tanya sosok itu dengan suara yang cukup pelan. Renata berbalik dan meneguk ludah ketika melihat sosok di depannya. Sosok yang sudah lama ia rindukan selama 2 tahun terakhir, sebelum ia tewas dalam suatu kecelakaan.

" Ka-kakak? Apa kabar kakak sekarang?" Tanya gadis berparas anime tersebut. Sosok yang sedari tadi bersidekap dada langsung mencekik Renata sampai ia kehabisan nafas.

" Kakak..uh lepaskan aku," rintih Renata. Sosok tersebut menghela nafas dan melepaskan cekikannya pada sang adik, lalu memasang cengiran khas anak kecil.

" Hehehe… maaf ya, habis aku kangen banget sama kamu, dear. Oh ya, bagaimana permainan Telescream? Apa semua berjalan sesuai rencana?" tanya sosok itu dengan raut wajah yang berbinar. Renata kembali meneguk ludah paksa dan memalingkan wajahnya, enggan menatap sang kakak.

" Telescream berjalan seperti rencana. Tapi mengapa kau mendaftarkan kematianku pada permainan setan itu?" tanya Renata hendak menangis. Sosok tersebut langsung memeluk Renata, seperti memberikan kepercayaan. Namun justru tubuh Renata serasa lemas seperti tak punya tenaga.

" Aku butuh teman. Kau tahu kan kematianku karena permainan yang sama? Jadi aku mau teman agar ada yang menemaniku disini…. Adikku. Karena aku, Hanazawa Ochobot Gilbert akan melakukan apapun untuk membawa mereka padaku, sekalipun dengan cara paksa seperti ini,"

BOBOIBOY © MONSTA

AKU HANYA PINJAM CHARA

WARNING : CARI SAJA YA SENDIRI, AKU MALAS MENJABARKAN

ENJOY

.

.

.

4 Juni 2016,

Kaizo's House, 08.00 a.m…

" 3 pemain telah meninggal akibat permainan itu. Aku tak menyangka kata menegangkan akan berakhir dengan kematian kita yang di percepat seperti ini," gumam Gopal sambil menyeruput teh yang sebelumya di hidangkan Kaizo. Ying mengangguk mengiyakan ucapan sang sahabat.

" Yah, apalagi sejak kematian Halilintar, sang pangeran ceria yang biasanya mencairkan suasana malah murung seperti itu," kata Ying sambil menunjuk Taufan yang menenggelamkan kepalanya di bantal milik Fang dulu. Kaizo hanya menghela nafas.

" Begini, sebelumya aku sudah menduga bahwa permainan Telescream sangat berbahaya untuk kita," kata Kaizo. Yang lain kembali mengangguk. Blaze dan Ice yang sedari tadi diam langsung bangkit dari duduknya yang membuat semua orang yang ada di sana langsung kaget.

" Sebelumnya, Telescream memberikan teka teki kepada kita jika akan ada salah satu dari kita yang akan meninggal. Maka kita harus memecahkan dulu teka teki itu jika tak ingin kena bencana dan tak ingin ada korban lagi. Betul tak?" tanya Blaze pada mereka dengan tatapan tajam dan menusuk.

" Tapi masalahnya Telescream selalu memberikan teka teki yang isinya di luar penalaran manusia karena selalu menggunakan kata kata kias. Bagaimana kita bisa menang melawan permainan biadap itu?" tanya Ice. Blaze merenung sejenak. " Dan lagi, ia tak memberikan petunjuk kepada kita siapa yang akan meninggal, bagaimana kita bisa mencegahnya?" tambah Ice yang membuat Blaze seolah tersudut.

" Hmmm… coba pikirkan. Korban akan berjatuhan apabila ada yang mau menjalankan aktivitas kan? Seperti Yaya yang hendak membeli buku namun tertimpa papan reklame. Terus ada Fang yang kepalanya terpotong baling baling karena tak mendengarkan nasihat kita. Disusul Halilintar yang meninggal karena peluru nyasar akibat hendak menelpon operator telescream. Jadi korban seterusnya juga akan berada di posisi yang sama bukan?" kata Gempa sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Taufan karena merasa ia sudah tak kuat lagi menahan cobaan hidup. Taufan yang menjadi sandaran hanya diam tak memberi komentar. Lalu, ia menatap teman teman yang berada di sekelilingnya. Semenjak permainan telescream berjalan, hidupnya dan kawan kawannya tak tenang. Mereka selalu diawasi oleh makhluk telescream yang tak kelihatan wujudnya. Memikirkannya saja membuat Taufan ingin meninju wajah orang yang melakukan permainan bodoh ini.

" Tapi kita kan tak tahu siapa yang jadi korban selanjutnya. Bagaimana kita bisa memprediksi jika kita tak mengerti alur permainannya?" ujar Renata sambil membenarkan kacamata yang melorot. Ice menatap sang kekasih sejenak dan menghela nafas panjang.

" Renata benar, jika kita tak mengerti alur dari permainan ini maka kita tak bisa mencegah kematian yang akan datang kapan saja. Mungkin sekarang kita hanya bisa pasrah," ujar Ice putus asa. Sontak, Taufan yang sedari tadi diam langsung memukul wajah Ice sampai ia tersungkur dan membuat sudut bibirnya Ice mengeluaran darah.

" DASAR BODOH! KAU HARUSNYA OPTIMIS DALAM MENJALANKAN PERMAINAN INI, KARENA DALAM APAPUN PASTI ADA CELANYA," bentak Taufan keras. Ice langsung bungkam mendengar ucapan sahabatnya.

" Taufan benar, kita harus berpikir jernih agar bisa memecahkan permainan ini," sahut Kaizo. Mereka semua menatap Kaizo dengan pandangan apa kau yakin dengan ucapanmu huh?

Tak lama, ponsel mereka semua bergetar menandakan pesan masuk.

From :666

Mencoba meyakinkan tapi akhirnya ia sendiri yang kalah. Suara deru mesin yang tak terdengar telah memekakan dirinya yang tengah bersembunyi dari masalah. Cairan lava merah yang meleleh menjadi saksi dari kebiadaban dunia.

" Wow, sepertinya ini akan mengarah pada Taufan ataupun Kaizo," celetuk Blaze. Semua orang menatapnya dengan tatapan menuntut.

" Perhatikan bait awal. Mencoba meyakinkan tapi akhirnya ia sendiri yang kalah. Itu sudah jelas bukan bahwa sms ini mengarah pada salah satu dari mereka yang menyuruh kita untuk tetap optimis? Walaupun selebihnya aku tak mengerti maksudnya,"

" Tapia apa maksudnya kalimat yang kedua?" tanya Ying sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak tak gatal. Yang lain hanya mengendikan bahu.

" Entahlah, tapi menurutku itu tak bagus. Bagaimana jika kita pergi ke hutan untuk berkemping malam ini? Sekalian refreshing dan agar kita bisa memecahkan sms ini. Mau tidak?" ujar Thorn. Mereka semua mengangguk lemah mengiyakan. Setelah itu, mereka semua pergi ke rumah masing masing untuk berkemas.

Death Forrest, 15.30 pm….

" kenapa kita pergi ke hutan ini? Apa kalian tak mendengar rumor bahwa hutan ini adalah hutan kematian persis seperti di Jepang?" gerutu Ying pada Solar sambil mengambil ranting kering untuk dijadikan kayu bakar pada malam hari. Karena terlalu berisik, Solar menyumpal mulut Ying menggunakan roti yang tadi ia bawa agar setidaknya gadis berkucir dua itu diam untuk sejenak.

" Kau terlalu berisik. Sudah, lakukan saja tugasmu dan jangan banyak mengeluh. Kau juga jangan percaya pada rumor yang beredar. Itu hanya alat agar kita tak pergi ke hutan ini," ujar Solar penuh penekanan. Dengan terpaksa, Ying menuruti perintah dari Solar. Kalau bukan Solar ini adalah sepupu dari Taufan, sudah dari tadi ia mencekiknya. Ketika mengambil ranting di dekat semak, Ying merasakan bau amis yang sangat menyengat. Ketika iamengangkat tangannya dari semak itu, ia menemukan bahwa tangannya berlumuran darah.

" Darah siapa ini?" tanya Ying kaget. Solar yang tadi membelakangi Ying langsung menghampirinya. Ia juga sebenarnya kaget, namun segera menyembunyikannya.

" Alah, paling hanya darah binatang yang tak sengaja di buru," ujar Solar ngasal. Ying langsung mendelik kearah pemuda yang hobinya narsis tersebut.

" Kau jangan asal bicara ya,kalau kau bicara itu lagi maka aku akan langsung mencincangmu sekarang juga dan – "

" Ying, diamlah sejenak," pinta Solar. Ying mengkerutkan dahinya.

" Apa maksudmu, apa kau takut kalah berdebat denganku hah?" ejek Ying. Solar menahan diri agar tak menjitak gadis di sampingnya tersebut. " Kubilang diamlah," tambahnya. Setelah iitu, ia menyusuri darah yang menggenang di semak semak. Betapa kagetnya mereka berdua ketika melihat sosok di balik semak semak tersebut. Sosok itu tersandar di bawah pohon dengan kondisi mengenaskan. Sosok itu adalah Kaizo yang sudah meregang nyawa dengan di sampingnya ada sebuah gergaji mesin yang berlumuran darah. Selain itu, disana hanya ada tubuhnya. Sedangkan kepalanya hilang entah kemana.

" K- kemana kepala Kaizo?" tanya Ying gemetar, Solar langsung membulatkan matanya dan mengambil ancang ancang untuk berlari.

" Lari Ying, lari….."

.

.

.

Disisi lain, Gopal dan Taufan merasa letih karena sudah membuat beberapa tenda untuk nanti malam. Hingga tak lama, mereka mendapat sms ke lima dari operator setan tersebut.

From :666

Pemain kelima,game over. Kondisi mengenaskan tanpa kepala, sayang sekali. Nantikan korban selanjutnya, Muahahahahaha

" Siapa yang suda meninggal?" batin Taufan sambil membulatkan matanya. Sementara Gopal sudah pingsan ditempat melihat sms tersebut

Tbc

A/N : Nah, Fugu udah kasih tahu tuh siapa yang mengendalikan permainan Telescream. Tapi bukan dia lho ya yang membuat permainannya. Oh ya, itu Kaizo kenapa? Ada yang bisa menjabarkan kematiannya? Maaf juga ya lama updatenya, Fugu lagi kena WB plus bentar lagi uts. Jadi tak boleh di laptop mulu *nangis di pojokan*ah maaf tak bisa balas review, soalnya lagi persiapan uta. Gomenasai *bungkuk badan*

Ok sampai jumpa lagi

Pay pay

Fugu Chibi