Chapter 4: In Supermarket, In Clinic, and Ahead Ellen's House
Menggoda Gray dan Mary memang cukup menyenangkan bagi Jack. Tapi kalau sudah terkena jitakan dari Gray, itu lain lagi ceritanya. Yang pasti sangat menyakitkan.
"Pukulan Gray keras juga," keluh Jack sambil mengelus kepalanya yang terkena jitakan Gray itu. "Dia seorang pandai besi, sih... Wajar saja pukulannya begitu kuat."
Tak lama kemudian Jack tiba di depan Supermarket. Dia terdiam sejenak untuk memikirkan apa yang akan dia lakukan di tempat itu. Dia belum bisa mulai bercocok tanam karena cangkulnya masih diperbaiki. Tapi, dia pikir lebih baik beli saja bibitnya dulu. Kalau cangkulnya sudah jadi, tinggal tanam saja. Lagipula sebagian lahan sudah dibersihkan. Kemudian Jack pun melangkah memasuki Suermarket.
Terdengar bunyi bel saat Jack membuka pintu. Namun, dia malah disambut dengan pemandangan yang dirasa kurang menyenangkan. Terlihat seoranga pria berpenampilan dokter sedang berbicara dengan pria yang menjaga kasir. Kelihatannya pria itu dokter di Klinik, pikir Jack.
"Masukkan total belanjaanku dalam daftar tagihanku," kata si dokter.
Pria penjaga kasir terlihat murung. "Oh, ya... baiklah," jawabnya lemas sambil mengambil sebuah buku dan menulis barang-barang yang dihutangkan.
Kemudian dokter itu keuar, melewati Jack begitu saja yang terdiam di dekat pintu. Setelah dokter itu keluar, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu yang ada di samping kasir. Dia terlihat marah.
"Jeff, lagi-lagi kau membiarkan orang berhutang," bentaknya, tapi pria yang dipanggil Jeff itu tetap cuma diam murung. "Kalau begitu biar aku yang menagih belanjaannya." Wanita itu kemudian berjalan keluar dan melewati lagi Jack begitu saja.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya berbaju ungu dengan rambut yang sudah mulai beruban, datang. Dia langsung mengambil salah satu barang dagangan. "Jeff, tambahkan ini di daftar tagihanku, ya," ucapnya.
"Ya, baik...," sahut Jeff lesu, kembali menulis daftar tagihan pria tersebut.
Jack merasa kesal. Masa semuanya berhutang pada Jeff. Kasihan 'kan dia. Bisa-bisa dia merugi kalau begitu.
Pria yang tadi berhutang kemudian berbalik hendak melangkah pergi, namun Jack menghalangi jalannya.
"Hei, ada apa? Ada yang salah?" tanyanya yang heran pada Jack yang menghalangi jalannya.
"Tolong bayar apa yang Anda ambil itu," kata Jack tegas.
Pria itu malah tertawa pelan. "Tenang saja. Tidak apa, kok," ucapnya enteng.
Jack semakin merasa kesal melihat ulahnya.
Seorang gadis berambut coklar panjang tiba-tiba keluar dari pintu di samping meja kasir, tempat di mana wanita yang keluar tadi juga muncul. Gadis itu langsung menatap tajam pada pria yang ada di hadapan Jack itu.
"Duke, kalau kau membeli sesuatu, kau harus bayar," kata gadis itu tegas.
"Ba,baiklah... Aku tidak bisa lari," kata pria yang ternyata bernama Duke itu.
Jack agak tertegun melihat ketegasan gadis itu.
Si gadis berambut coklat itu kemudian berjalan menghampiri Duke dan mengambil uang pembayarannya. Setelah itu Duke langsung pergi. Dia tidak mau mencari masalah lagi. Si gadis kemudian menghampiri Jack.
"Terima kasih, ya, atas bantuanmu tadi," kata gadis itu, tersenyum.
"Sama-sama," sahut Jack. "Aku memang tidak suka melihat orang yang membeli sesuatu, tapi menunda pembayarannya. Aku saja tidak pernah seperti itu. Aku lebih memilih menunda belanja dibanding menunda pembayaran."
Si gadis terkekeh pelan. "Begitu, ya," sahutnya. "Oh, aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Ya, aku baru pindah," jelas Jack.
"Ah, aku tahu. Kau si pewaris itu, 'kan? Kalau tidak salah namamu Jack, 'kan?" tebak si gadis.
"Ya," jawab Jack. Dia sudah tidak lagi terkejut mengenai hal itu.
"Aku Karen. Salam kenal, ya, Jack," ucap si gadis memperkenalkan diri. "Oh,ya. Yang di meja kasir itu ayahku, Jeff. Ayahku sangat pasif sehingga apa pun yang dikatakan orang, dituruti saja. Seperti saat Trent dan Duke berhutang tadi."
"Trent?" Jack belum tahu siapa itu.
"Kau belum tahu, ya. Dia itu dokter di Klinik di sebelah, yang tadi berpakaian ala dokter itu," jelas Karen.
Jack mengangguk mengerti. Dia ingat orang itu yang tadi sempat berpapasan dengannya. Jack sempat melihat wajahnya. Begitu dingin dan kaku. Benar-benar tidak berekspresi sedikit pun.
"Kau juga tadi sudah bertemu ibuku, Sasha, yang tadi keluar sebelum aku, 'kan?"
Jack mengingat-ingat kembali. Tadi memang ada wanita yang keluar terlebih dahulu. Rupanya itu ibunya Karen, batin Jack. Mirip sekali dengan Karen. Tegas.
"Lalu, kau ada keperluan apa ke sini?" tanya Karen tiba-tiba.
"Sampai lupa!" seru Jack, memukul dahinya. Dia benar-benar lupa pada tujuan awalnya datang ke Supermarket. "Aku ingin membeli bibit mentimun, kentang, dan lobak. Masing-masing 5."
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu," kata Karen, berjalan ke meja yang ada di tengah ruangan yang terdapat berbagai bungkusan.
Jack memperhatikan penampilan Karen. Gadis itu memakai baju singlet putih dengan rompi berwarna ungu, celana jins pendek biru, dan sepatu sport coklat. Kalau dilihat dari sikapnya tadi, bisa dibilang dia itu tegas dan dewasa. Sama sekali berbeda dengan Mary yang kutu buku itu. Tapi, Jack tidak merasa teman kecilnya itu memiliki sikap seperti Karen. Gaya berpakaiannya saja berbeda. Sikapnya apalagi. Ditambah lagi gadis itu juga tidak terlihat seperti pernah mengenal dirinya. Sama seperti Mary.
Kayaknya bukan Karen juga, pikir Jack.
Tak lama kemudian Karen kembali sambil membawa beberapa kantong. "Ini bibitnya. Semuanya jadi 1000 G," ujarnya sambil menyerahkan kantong bibit pada Jack. "Ada lagi?"
Jack menerimanya, lalu ia bayar sesuai harga yang tadi disebutkan. "Untuk saat ini cuma bibit saja yang ingin kubeli," jawabnya.
"Kalau ada keperluan yang ingin dibeli, datang saja," kata Karen sambil tersenyum.
"Tentu," sahut Jack, sambil memasukkan kantong bibit di tasnya. "Kalau begitu aku permisi dulu. Kalau ada waktu aku akan ke sini lagi," pamitnya sambil berjalan keluar.
"Hati-hati di jalan."
Jack mulai melangkah meninggalkan Supermarket. Dia berjalan melewati Klinik. Langkahnya berhenti saat melihat ibunya Karen, Sasha, keluar dari Klinik.
"Lain kali kalau mau membeli, langsung bayar, ya," kata Sasha agak membentak. Lalu, ditutupnya dengan kasar pintu Klinik. Masih terlihat dia mengumpat-umpat sendiri saat mulai melangkah meninggalkan Klinik. Namun, dia berhenti dengan wajah terkejut saat melihat Jack ada di depan Klinik juga.
"Oh, hai, Nak," sapanya.
"Hai, Bibi Sasha," sapa Jack ramah.
"Kau tahu namaku?" tanya Sasha heran karena dia belum pernah memberitahu namanya pada Jack.
"Ya, aku tahu dari putri Anda, Karen, saat di Supermarket tadi," jawab Jack.
"Oh, ya... Aku ingat tadi kau ada di sana. Maaf, ya, tidak menyapamu tadi."
"Tidak apa-apa, kok."
"Lalu... siapa namamu, Nak? Kau sepertinya orang baru di sini."
"Namaku Jack. Aku tinggal di perkebunan milik kakekku dulu."
Sasha terlihat terkejut. "Oh... rupanya kau, ya, pemuda itu. Kau jauh terlihat lebih muda dari yang kubayangkan. Aku harap kau bisa mengembalikan perkebunan itu seperti dulu lagi."
"Ya, akan kuusahakan," sahut Jack yakin.
Sasha tertawa pelan. "Baguslah... Rasanya aku jadi ingin memiliki anak sepertimu, Jack. Penuh semangat."
Jack tersentak. "Maksud Bibi?"
"Ah, sudahlah. Lupakan saja," ujar Sasha cepat. "Sering-seringlah berkunjung ke Supermarket. Kami akan dengan senang hati menyambut kedatanganmu."
"Y,ya... tentu," sahut Jack masih agak shock dengan ucapan Sasha tadi.
"Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Sasha. "Sampai jumpa lagi, Jack." Dia pun berjalan pergi.
"Ya, sampai jumpa, Bibi," sahut Jack.
Setelah melihat Sasha masuk ke dalam Supermarket, Jack langsung menghela nafas lega. "Ucapan Bibi Sasha tadi membuatku kaget saja," gumamnya.
Dilihatnya bangunan Klinik yang bertingkat yang ada di hadapannya. Dia jadi penasaran bagaimana bagian dalamnya. Kemudian Jack pun masuk ke dalam Klinik. Aroma obat-obatan langsung tercium oleh hidungnya.
"Selamat datang. Ada yang bisa kubantu?" sapa seorang gadis berambut coklat pendek dengan pakaian perawat yang kebetulan sedang berdiri di tengah ruangan sambil membawa buku catatan.
"Aku cuma berkunjung saja. Aku orang baru di sini," jelas Jack.
"Orang baru? Jangan-jangan kau ini Jack, ya?" duga gadis itu.
"Ya, aku Jack," jawab Jack.
"Aku Elli. Salam kenal, ya, Jack."
"Salam kenal juga, Elli."
Kemudian seorang pemuda berpakaian dokter muncul dari balik tirai putih yang membagi ruangan. Jack langsung tahu kalau itu Trent yang ia lihat di Supermarket tadi.
"Ada siapa, Elli?" tanyanya. Tapi, pertanyaannya langsung terjawab begitu melihat Jack. "Kau... Sepertinya aku pernah melihatmu."
"Ya, tadi kita sempat berpapasan di Supermarket," jawab Jack. "Namaku Jack," ucapnya memperkenalkan diri.
"Aku Trent, dokter di sini. Tapi, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Dokter'," kata Trent memperkenalkan diri walaupun sebenarnya Jack sudah tahu siapa dia. "Kau tidak terlihat sakit. Kenapa datang kemari?" tanyanya.
"Cuma berkunjung. Sekalian berkenalan dengan penduduk," jelas Jack.
"Oh, begitu. Kalau kau perlu bantuanku, aku ada di ruanganku." Trent langsung kembali ke balik tirai.
Dingin sekali. Lebih parah dari Gray, pikir Jack.
"Maaf, ya. Dokter memang begitu," ujar Elli yang melihat wajah Jack yang terlihat tidak nyaman dengan sikap Trent.
"Ah, tidak apa-apa. Kurasa itu memang sikapnya," ujar Jack, jadi merasa tidak enak karena berpikiran buruk.
"Hei, sepertinya kau terluka," kata Elli tiba-tiba sambil menunjuk lengan kiri Jack.
Jack melihat lengannya yang ditunjuk. Terlihat ada goresan kecil seperti tersayat. Kayaknya lukanya itu didapat saat membersihkan kebun tadi pagi. Kalau tidak salah ingat sabitnya sempat terlepas dari tangannya dan mengenai tangannya. Tapi, dia sama sekali tidak sadar kalau terluka. Perih pun tidak.
"Apa terasa sakit?" tanya Elli dengan wajah cemas.
Entah kenapa sifat bercanda Jack keluar lagi. "Ya, sakit sekali," jawab Jack yang sebenarnya bohong besar. Wajahnya pun dibuat terlihat kesakitan, tapi terlihat pula cuma bercanda.
Wajah Elli langsung cemberut. "Kau itu laki-laki! Jangan merengek begitu hanya karena luka kecil seperti itu!" bentaknya.
Jack cuma tersentak kaget melihat respon yang didapat. Kelihatannya Elli bukan orang yang suka diajak bercanda. Jelas-jelas Jack memasang wajah kesakitan yang cuma bercanda. Tapi, reaksi Elli seperti menganggap dirinya betulan merasa sakit.
Elli kemudian mengeluarkan sebuah plester kecil dari sakunya. "Nih, plester saja. Nanti juga sembuh," ucapnya sambil memberikan plester tersebut pada Jack dengan kasar. Lalu dia berjalan menuju mejanya.
Jack cuma terdiam melihatnya. Terlihat jelas Elli begitu marah padanya.
"Ng... aku permisi dulu. Aku mau mengunjungi tempat lain," pamitnya dan langsung melangkah pergi karena tidak tahan melihat wajah marah Elli.
Begitu tiba di luar Klinik, Jack menatap plester yang diberikan Elli. "Aku 'kan tidak butuh ini. Lukaku sama sekali tidak sakit, kok," gumamnya, memasukkan plester ke dalam sakunya. "Sekarang ke mana lagi, ya?"
Dia menengok ke kiri di mana terlihat ada gereja. Dia masih ingat dengan cerita Thomas mengenai si pastur yang aneh itu. Niat untuk berkeliling jadi batal kalau mengingat hal itu. Jack pun memutuskan untuk ke tempat lain saja dulu. Gereja akan dia jadikan sebagai tempat terakhir yang akan dia kunjungi.
Baru saja melangkah, Jack mendengar suara tangis anak kecil. Terlihat di depan rumah Ellen, seorang anak kecil sedang duduk sambil menangis. Segera Jack berlari menghampirinya.
"Kau kenapa, adik kecil?" tanyanya begitu tiba.
"Aku terjatuh," jawab anak kecil itu sambil tetap menangis. "Kakiku terluka."
Jack melihat kaki si anak kecil. Lututnya terluka, tapi cuma tergores. Jack jadi teringat pada plester yang diberikan Elli. Dia segera mengeluarkan plester itu dari saku celananya dan memplesterkan luka anak kecil itu.
"Sudah, jangan menangis. Lukanya sudah diplester. Jadi tidak sakit lagi, kan?" bujuknya.
Anak kecil itu berhenti menangis dan melihat lukanya sudah diplester. "Terima kasih, Kak."
"Sama-sama," sahut Jack sambil mengelus kepala anak itu.
"Kakak orang baru, ya?" tanya si anak kecil.
"Ya, nama kakak Jack," jawab Jack.
"Aku Stu." Anak itu memperkenalkan diri. "Salam kenal, ya, Kak Jack."
"Salam kenal juga, Stu."
Tak lama kemudian Elli datang. Sepertinya dia juga mendengar suara tangis Stu yang keras itu.
"Stu, kenapa kau menangis?" tanya Elli cemas. " Seharusnya laki-laki itu itu tidak boleh menangis," katanya menasehati.
"Tadi aku terjatuh, Kak Elli," kata Stu membela diri sambil berdiri.
"Tetap saja kau tidak boleh menangis hanya karena jatuh."
"Sudahlah, Elli. Stu 'kan masih kecil. Wajar, 'kan?" Jack membela Stu.
"Maaf, ya, Jack. Dia jadi merepotkanmu," ucapnya pada Jack. "Stu itu adikku. Dia memang mudah menangis."
Secara tidak sengaja Elli melihat plester yang diberikannya pada Jack tertempel di kaki Stu. "Plester itu... kenapa kau tidak memakainya? Malah dipakaikan pada Stu."
Jack nyengir. "Itu karena aku mendapatkannya darimu," jawabnya.
Elli terkejut. Lalu dia tersenyum. "Kau ini orangnya lucu, ya. Terima kasih, ya, Jack, sudah menolong adikku," ucapnya. "Stu,sudah bilang terima kasih belum?" tanyanya pada Stu.
"Sudah, Kak," jawab Stu.
"Kalau begitu aku kembali dulu. Ada pekerjaan di Klinik," pamit Elli. "Sampai jumpa." Dia pun berbalik pergi.
"Sampai jumpa, Elli," sahut Jack sambil melambaikan tangan.
Jack jadi merasa sebenarnya Elli memiliki sifat keibuan. Buktinya dia langsung datang begitu mendengar suara adiknya menangis. Hanya saja ketidaksukanya terhadap laki-laki cengeng agak berlebihan. Siapa pun bisa saja menangis, bahkan laki-laki sekali pun.
Biarpun seingatnya teman kecilnya juga punya sifat keibuan, tapi Jack merasa Elli bukan temannya itu karena sepertinya temannya itu tidak membenci laki-laki cengeng. Lagipula reaksi Elli juga sama seperti Mary dan Karen, tidak terlihat seperti pernah mengenal dirinya.
"Oh, ya, Stu. Kau tinggal di mana?" tanya Jack, melihat Stu. "Biar aku mengantarmu pulang."
"Tidak perlu, Kak," tolak Stu. "Rumahku 'kan di sini," ucapnya sambil menunjuk rumah Ellen.
"Rumah Nenek Ellen? Jadi kau ini cucunya Nenek Ellen, ya?" duga Jack.
"Yup," sahut Stu.
"Itu berarti Elli juga cucunya Nenek Ellen," gumam Jack.
Dia baru ingat kalau Ellen dulunya adalah soerang perawat. Tidak heran kalau Elli juga jadi perawat di Klinik. Nama gadis itu juga hampir sama dengan Ellen, Elli.
"Kak, ke rumahku dulu, ya," ajak Stu tiba-tiba. "Nenek baru saja selesai membuat kue. Kue Nenek enak, lho."
"Ya... Baiklah," sahut Jack setuju. Sekalian berkunjung, 'kan?
Mereka berdua kemudian masuk ke rumah Ellen. Ellen pun menyambut kunjungan Jack dengan senang hati.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Maaf telat… Banyak penghalang yang membuatku tidak dapat update. Sebagai gantinya aku tambah 2 chap.
Terima kasih untuk Owlybros The masterless owl dan Domia Ryuugen Chelymystery . Pereview bertambah satu lagi, nih. Senang juga ada yang masih mau meluangkan waktu untuk mereview. Jadi semangat melanjutkan fic ini ^^.
Seperti yang kutulis sebelumnya, fic jadi sedikit lebih panjang. Entah kenapa kelihatannya, di setiap chap, semakin lama ceritanya semakin panjang. Tapi, semoga tidak membosankan dan menjadi bertele-tele karena aku sendiri tidak suka cerita bertele-tele.
Yang chap 4 ini ada bagian yang aku agak lupa dialognya. Jadi, terlihat agak tidak nyambung ucapannya. Sudah lama tidak main HM, sih. Malah PSnya ada di rumahku yang ada di Papua lagi. Argh, parah...
Ok. Sekali lagi terima kasih bagi yang telah membaca dan juga mereview ^^.
~Princess Fantasia~
