Chapter 4
Katakanlah kalau Natal tahun ini adalah Natal tersuram. Kabut tebal muncul sepanjang hari, diselingi hawa dingin tak wajar yang mencekam dan juga awan hitam bergulung-gulung memenuhi langit. Suasana siang terasa bagai malam. Suasana malam bahkan jauh lebih buruk lagi. Detik demi detik bergulir dengan sangat lambat. Seolah hari enggan berakhir. Jelas membuat siapa pun akan berpikir ulang seribu kali sebelum nekat meninggalkan rumah mereka dalam keadaan seperti ini. Cuaca yang buruk untuk merayakan Natal. Begitulah.
Tapi tidak demikian bagi Harry. Merayakan Natal bersama keluarga Weasley adalah pilihan yang sangat tepat baginya. Mendapatkan makan malam yang luar biasa dari hanyalah salah satu bonus. Selebihnya, Harry mendapatkan kehangatan dan juga keakraban antar anggota keluarga. Tulus dan tidak dibuat-buat. Sering Harry merasa seolah dia sudah menjadi bagian dari keluarga Weasley. Ironis, memang. Kebahagiaan seperti ini justru tidak didapatnya dari keluarga Dursley, keluarga yang punya ikatan darah dengannya.
"Kau tidak mau tambah lagi, Harry?" tegur , membuyarkan lamunan Harry. Salah satu tangan menyodorkan sesendok es krim coklat dan rasberi dengan cacahan kacang di atasnya, bersiap mengisi mangkuk Harry yang sudah kosong.
Harry menggeleng, tersenyum untuk menyamarkan kegalauan yang sempat hadir di hatinya. Dia sudah kenyang. Sangat kenyang malah.
Senampan puding karamel, semangkuk besar sup krim ayam dan banyak lagi piring yang diisi sosis, bubur gandum, daging asap, steak dan lain-lain, membuat meja makan keluarga Weasley terlihat penuh sesak. Meski Fred, George, Ron dan Harry sudah 'bergotong-royong' membersihkan semua makanan yang ada, tetap saja masih banyak yang tersisa.
"Natal kali ini cukup sepi," gumam untuk kesekian kalinya.
Tentu saja, penyebabnya lagi-lagi karena cuaca yang buruk. Charlie tidak bisa pulang karena perubahan cuaca yang drastis ini telah membuat naga-naga di Rumania gelisah. Beberapa di antaranya bahkan sampai mengalami depresi dan sering mengamuk tanpa sebab. Sedangkan Bill hanya bisa menjanjikan kalau dia akan berusaha pulang secepatnya tanpa ada kepastian. Rupanya Gringgots sedang siaga satu. Dalam kondisi tidak menentu begini, pasti ada banyak kemungkinan akan terjadi perampokan di bank sihir tersebut. Sementara untuk Percy, sebagian besar anggota keluarga Weasley justru tidak ingin melihat batang hidungnya.
"Kegelapan yang menyulitkan. Seumur-umur belum pernah aku melihat yang seperti ini," sahut kalem saat menuangkan egg-nog untuk mereka semua. "Aku bisa maklum kalau kawan-kawan kita berhalangan hadir, Molly sayang. Memang lebih aman meringkuk di dalam rumah sendiri daripada keluar dan mendapat bahaya."
"Aku tahu, Arthur. Mereka bisa berapparate kalau mau, kan? Tapi sudahlah… Sayang sekali mereka melewatkan hasil kerja kerasku dan Ginny seharian ini," balas muram, menatap semua makanan sisa yang ada di meja. "Semua masakan ini istimewa. Aku khusus memasaknya untuk hari ini. Hmm, bagaimana menurutmu, Harry? Apa kau setuju denganku?"
"Semuanya sangat lezat, . Terutama sup krimnya," jawab Harry sambil tersenyum manis sebelum meneguk egg-nognya. Harry tidak ingin membuat lebih kecewa lagi. Lagipula dia berkata jujur. Sup krim ayam ini benar-benar enak. Bahkan sepertinya peri rumah Hogwarts pun belum tentu bisa membuat sup krim seenak ini.
"Sup krimnya paling enak?" terbelalak, tapi tampaknya dia tidak terlalu terkejut. "Tentu saja, Harry. Ginny yang memasaknya sendiri. Dia hebat, kan?"
Mendadak Harry tersedak. Sambil terbatuk-batuk kecil dia mengerling Ginny yang sedang duduk di sudut ruangan. Meskipun Ginny tampak sibuk membaca sebuah buku tebal yang menutupi separuh wajahnya lebih, Harry bisa melihat semburat rona merah yang seketika muncul di kening gadis itu.
"Err… ya," jawab Harry tanggung, tersenyum salah tingkah.
tidak banyak tanya lagi setelah itu. Hanya sibuk memberesi meja makan seorang diri dan menolak halus bantuan Harry. Tak ada pilihan lagi buat Harry. Dia pun berbalik dan bermaksud untuk meninggalkan ruangan, mengikuti dan ketiga putranya. Tapi itu sebelum Ginny memanggilnya.
"Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan, Harry," tutur Ginny. Meskipun ekspresinya agak cemas, nada bicaranya terdengar sangat mantap. "Ini tentang triple A yang misterius itu."
"Kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Harry cepat, menatap Ginny dengan antusias, lebih antusias dari biasanya.
"Kukira begitu," Ginny mengangguk pelan dan memberi isyarat agar Harry mengikutinya ke ruang keluarga.
Meski duduk berseberangan, hanya berdua di ruang keluarga membuat mereka berdua merasa agak canggung. Entah mengapa Harry seolah tidak ingin bertatapan langsung dengan gadis yang duduk tepat di sebelahnya itu. Ada sesuatu di balik sorot mata Ginny yang membuatnya tanpa sadar tertunduk dengan jantung berdebar kencang setiap kali mereka berkontak mata. Anehnya, sensasinya terasa sangat menyenangkan.
"Begini… " Ginny mulai membuka mulutnya setelah menarik nafas panjang. "Well… Siang tadi mendadak aku teringat kalau Hermione pernah meminjamiku sebuah buku yang bagus. Aku belum sempat mengembalikannya dan aku bersyukur karenanya," sambung Ginny sambil tersenyum jahil. "Buku ini sangat menolongku, Harry. Setidaknya aku jadi tahu kalau bukan aku saja yang pernah memimpikan Arcelia."
Harry menerima buku bersampul kulit yang disodorkan Ginny kepadanya. Buku setebal sepuluh centi itu berjudul Peradaban Dari Masa Ke Masa - Yang Terlupakan Dalam Sejarah dan Tergerus Oleh Zaman oleh Profesor Dahlia Villa Sanchez S.H., M.H. .
"Buku itu berisi banyak hal tentang peradaban yang pernah ada di dunia. Baik yang masih eksis ataupun sudah menghilang. Mulai dari peradaban suku Aztec, Atlantis yang hilang dan lain-lain."
"Lalu apa hubungannya dengan triple A itu?" tanya Harry, mulai membuka beberapa halaman sampai menemukan apa yang dicarinya di daftar isi. "Arcelia… Peradaban antara ada dan tiada? Hei, apa maksudnya ini?"
"Bacalah halaman 875, Harry!"
Arcelia berasal dari kata Araceli yang dalam bahasa Spanyol diartikan sebagai "altar langit". Keberadaannya belum dapat dipastikan. Namun dari keterangan beberapa sumber yang mengaku pernah melihat sebuah pulau misterius mengapung di langit, timbul dugaan kalau bisa saja ada sebuah kehidupan lain di atas sana. Akan tetapi, fakta-fakta yang ada patut disayangkan. Selain keterangan dari para saksi yang melihat penampakan pulau mengapung di tempat-tempat yang berbeda di seluruh dunia, ternyata belakangan diketahui bahwa banyak di antara para saksi tersebut yang hanya melihatnya dalam keadaan setengah sadar, bermimpi atau beranggapan sedang berhalusinasi yang membuat informasi menjadi tidak akurat.
Namun jika dirunut dari cerita-cerita yang berkembang di berbagai belahan dunia, kita tentu pernah mendengar ada kalanya cerita-cerita tersebut menyinggung tentang suatu kehidupan di langit. Penyebutan Khayangan, Nirwana dan istilah-istilah lain untuk menamai lokasi yang dianggap berada entah dimana di langit adalah salah satu bukti bahwa masyarakat dunia pernah memikirkan tentang kehidupan yang ada selain kehidupan di muka bumi.
Lalu apakah itu Arcelia?
Untuk mengetahui lebih jauh, berikut ini adalah sebagian kecil ulasan dari banyak keterangan yang diberikan oleh para narasumber yang mengaku pernah berkunjung ke Arcelia serta berinteraksi dengan penghuninya.
- Pada tahun 1986, Camelia Jones mengaku didatangi seorang gadis cantik luar biasa dari bangsa Alexus yang mengajaknya pergi ke sebuah tempat yang dipenuhi cahaya matahari dan permukaan tanahnya diselimuti kabut putih berarak-arak. Ketika terbangun dari tidurnya dan beranggapan kalau dia baru saja bermimpi, tiba-tiba saja dia mendapati sebuah syal pemberian gadis cantik tadi berada di atas kasurnya. Sementara dari balik jendelanya, samar-samar terlihat benda asing mengambang di angkasa.
- Pada tahun 1993, Imanuel Gonzales mendadak ditemukan sedang tertidur di tengah-tengah sebuah areal persawahan. Ketika tersadar, dia mengaku baru saja pulang dari sebuah tempat yang terang benderang dan penuh aroma wangi. Orang-orang menganggapnya tidak waras saat Imanuel berkata kalau tempat itu berada jauh di antara awan dan menyebutnya sebagai Arcelia kota para Alexus.
Lalu siapakah bangsa Alexus itu sebenarnya?
Penggambaran yang diperoleh dan beredar dari masa ke masa menyebutkan bahwa wujud fisik bangsa ini dapat dikatakan menyerupai manusia pada umumnya. Namun karena penampilan fisik mereka yang terlalu sempurna untuk disamakan dengan manusia, banyak yang meyakini bahwa sebenarnya bangsa Alexus ini adalah sejenis peri yang hidup bermasyarakat sebagaimana bangsa manusia. Ada pula yang meyakini kalau bangsa Alexus adalah keturunan dewa-dewi, sebagaimana anggapan masyarakat zaman dahulu yang meyakini bahwa hanya para dewa yang bisa hidup di langit. Hal ini diperkuat dengan nama Ashriel, yang sering disebut-sebut oleh semua narasumber sebagai penguasa Arcelia sekaligus pemimpin bangsa Alexus, yang diduga berasal dari nama Azrael, sang dewa kematian.
Yang jelas, siapapun mereka, masih banyak hal yang belum terungkap.
Setelah membaca beberapa keterangan penting ini, Harry berusaha mengingat apa saja yang sudah dikatakan Orion kepadanya siang ini.
Namaku Orion. Seorang hunter dengan Ashriel di balik pundakku. Seorang pembela kehormatan kaum Alexus. Kami datang dari Arcelia.
"Semuanya berawal dari mimpi, Harry. Memang sih terdengar tidak masuk akal. Tapi apa tidak terasa aneh kalau ada banyak sekali orang di dunia ini, yang dari tahun ke tahun, memimpikan hal yang sama, padahal mereka tidak punya hubungan langsung satu sama lain? Mereka semua bermimpi pergi ke sebuah tempat yang ada di langit. Mereka bermimpi pergi ke Arcelia. Sama seperti apa yang kumimpikan tadi siang," tutur Ginny lamat-lamat.
"Kau yakin kalau tempat dalam mimpimu itu benar-benar Arcelia?" Harry mengangkat wajahnya dari buku dan menatap Ginny penuh rasa ingin tahu. "Benarkah ciri-ciri tempat yang kau kunjungi itu sama seperti yang dijabarkan narasumber dalam buku ini? Dipenuhi cahaya matahari, permukaan tanahnya diselimuti awan putih, dan juga udaranya beraroma wangi?"
Ginny mengangguk lemah.
"Aku tidak tahu apakah aku sedang berada di atas pulau yang mengapung di langit atau apa, tapi saat itu matahari terasa begitu dekat. Itulah yang membuat tempat itu begitu terang benderang. Karena Arcelia berada di atas awan dan sinar matahari tidak terhalang apa pun di sana. Lalu tentang permukaan tanah yang berselimut kabut dan udaranya beraroma wangi, kurasa memang begitulah yang ada. Sudah kukatakan kepadamu kalau sepertinya aku benar-benar berada di tempat itu. Seperti sebuah kenyataan, sebelum kau membangunkanku tadi."
"Lalu bagaimana dengan mimpimu yang kedua? Mimpimu yang mengerikan itu?"
"Err…" Ginny terdiam. Mendadak dia berubah murung. "Entahlah, Harry. Tapi kurasa tempat itu bukanlah Arcelia. Di Arcelia aku merasakan ketentraman dan juga semangat meluap-luap. Berbeda jauh dengan apa yang kurasakan di tempat aneh dalam mimpiku yang kedua. Di sana rasanya aku seperti terjebak di alam kematian…"
Hening sejenak. Baik Harry atau Ginny sama-sama terdiam. Harry bisa merasakan bahwa Ginny masih belum siap membicarakan tentang mimpinya yang kedua. Apakah mimpinya itu terlalu mengerikan? Atau sebenarnya ini adalah suatu firasat bagi Ginny kalau hidupnya tidak akan lama lagi, bahwa dia akan berakhir sama seperti apa yang terjadi di dalam mimpinya itu?
Informasi bahwa nama Ashriel (yang didengarnya dari Orion) yang dalam buku ini disangkutpautkan dengan nama dewa kematian membuat perasaan Harry jadi semakin tidak tenang. Apalagi saat mengingat ucapan Orion bahwa dia diperintahkan Ashriel untuk turun ke bumi. Apa misi Orion sebenarnya jika dikaitkan dengan lahirnya iblis yang akan menyasar Harry dan Ginny?
"Well, setidaknya kita sudah mengetahui sedikit tentang bangsa Alexus dan juga Ashriel. Aku juga sudah tahu tempat seperti apa itu Arcelia dan kuharap 'kunjunganku' ke sana tidak berarti banyak, sama seperti 'kunjungan' semua narasumber dalam buku ini. Di akhir ulasan tentang Arcelia dalam buku ini, para narasumber itu justru mendapat keberuntungan beruntun. Semoga saja itu juga akan menular padaku," Ginny tertawa lirih. "Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, Harry. Aku sangat senang kau tidak menganggapku aneh."
"Tidak, Ginny. Tentu saja tidak…"
Harry masih ingin bercerita banyak. Apalagi Ginny belum tahu sama sekali tentang mimpi Harry tadi siang. Hanya saja dia kebingungan memikirkan bagaimana sebaiknya untuk menceritakan mimpinya kepada Ginny tanpa menakuti gadis itu. Di lain pihak, Ginny sudah beranjak dari kursinya setelah mengambil alih bukunya dari tangan Harry, berniat untuk meninggalkan ruangan.
"Ginny!" panggil Harry saat Ginny sudah di ambang pintu.
Seketika itu Ginny berbalik dan memandangi Harry dengan ekspresi kaget.
"Err… aku… " Harry menelan ludahnya agak kesulitan. Tiba-tiba saja dia jadi gugup. "Err… Selamat Natal…"
Akhirnya justru kata-kata itu yang keluar dari bibir Harry. Begitu bertatapan dengan Ginny, sekali lagi hatinya luluh. Dia tidak tega. Bagaimana bisa dia mengatakan dengan santai, kalau ada iblis yang sedang mengincar nyawa mereka berdua. Juga bahwa ada utusan dewa kematian yang sedang berkeliaran di dekat The Burrow. Mungkin berterus terang akan lebih baik. Tapi Harry tidak ingin membuat ketakutan Ginny akan hal-hal tak logis ini semakin bertambah parah. Jauh di dalam hatinya, Harry bertekad ingin melindungi Ginny dengan segala cara.
"Selamat Natal juga untukmu, Harry," balas Ginny, tersenyum manis. "Dan juga selamat malam."
