Crazy Seventeen!
© Souma Yuna
Vocaloid © Crypton and Yamaha Corp
UTAUloid © masing-masing creator (terlalu banyak untuk disebutkan)
"Jangan ikut campur, Taya. Ini masalah antar-saudara." ujar Dell tanpa melihat ke arah Taya.
"Ya, Taya. Lebih baik kau jangan dekat-dekat kalo kau masih sayang nyawamu." kata Deruko memperingatkan.
"E-eh?" Taya pun kehabisan kata-kata.
"A-ano, Dell, Deruko, yamete kudasai yo..." ucap Haku agak gemetar.
"Hn, lihat saja, Deruko! Aku akan mengangkat barbel ini walau nyawa taruhannya!" ujar Dell mantap.
"Ja-jangan bercanda, Dell! A-aku benar-benar bercanda tadi!" ujar Deruko panik.
"D-Dell, tolong jangan memaksakan diri!" ujar Haku hampir menangis.
"Kalian berdua percaya atau tidak padaku?" tanya Dell dengan tatapan serius.
"Hm..." Deruko pun menatap Dell dengan ragu-ragu. "Baiklah. Pokoknya kalau terjadi apa-apa, aku gak mau tanggung jawab."
"Iya, aku percaya. Dell, ganbatte!" ujar Haku setengah berteriak.
"Uuh, Dell. Kau ini, sok keren ya kalo di depan imouto-ku." ledek Hakuo.
"Apa kau bilang?"
"Uwaaa! Itte! Dame yo, Dell! S-sakit!" rintih Hakuo yang dijewer oleh Dell.
"Hn." Dell pun melepaskan jewerannya. "Hei, Kiyo! Lomba ini, peraturannya apa saja?"
"Eh, pe-peraturannya..." Kiyo pun segera membaca buku peraturan lomba. "Pokoknya beban itu harus diangkat, tidak ada peraturan lain."
"Begitukah?" Dell pun langsung tersenyum lebar (baca: agak licik). Dia pun mengambil sebuah papan dan batu besar.
"Eh? Apa yang mau dia lakukan?" tanya Meiko.
"J-jangan-jangan..." gumam Kaito.
"Wah, Dell pintar juga ya." puji Akai sambil tersenyum.
"Eh?"
Yang lainnya pun hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Dell menyelipkan sebagian papan tersebut ke bawah barbel, otomatis sisi lainnya terangkat sendiri (bayangkan saja sebuah jungkat-jungkit jika dinaiki seorang anak di satu sisi), lalu ia mengangkat batu dengan susah payah, dan menaruh batu tersebut di papan yang sisinya masih kosong.
"Oh, aku mengerti sekarang!" ujar Rook sambil menjentikkan jarinya. "Teorinya sama seperti jungkat-jungkit!"
Alhasil, barbel tersebut terangkat (karena batu saja tidak cukup, Dell pun juga menekan papan tersebut dengan kekuatannya).
"Yak! Juara pertama-nya sudah ada!" ujar Yuki bersemangat. "Dell-kun-senpai jenius!"
"Berhenti memanggilku 'Dell-kun-senpai', Yuki!" ujar Dell sedikit membentak.
"Dell..." gumam Haku—yang tak bisa berkata apa-apa lagi karena kagum.
"Kyaaa! Aniki sugoi ne! Daisuki yo!" teriak Deruko sambil melambaikan tangannya.
"J-jangan berteriak-teriak seperti itu, baka-imouto! Memalukan tau!" ujar Dell. Wajahnya sedikit memerah.
"Wah, Dell kalau sedang malu imut ya~" ledek Hakuo.
"B-berisik!" ujar Dell kesal. Ia pun men-death glare Hakuo.
"Ahaha~ A-Cuma bercanda kok, Dell. Cuma bercanda! Ja-jangan dianggap serius ya?" ucap Hakuo dengan badan gemetar.
"Eto, Hakuo-nii, bukannya kau juga harus melanjutkan lomba?" tanya Deruko-sweatdropped.
"Hm, aku tidak mau. Nanti kalau aku mengikuti cara Dell, itu namanya copycat. Jadi, lebih baik aku menyerah saja."
"Ya! Ternyata Hakuo-senpai sudah MENYERAH! Dengan ini hanya tersisa 3 orang lagi!" ujar Yuki bersemangat.
"Hakuo! Tega sekali kau meninggalkan aku sendirian!" protes Kikaito.
"Salahmu sendiri, menyerah saja kalau tidak mau sendirian." respon Hakuo santai.
"Aku menyerah!" ujar Miko dan Iroha bersamaan.
"Nani?"
"Ya! Kalau begitu pemenangnya hanya satu, yaitu DELL-KU-Maksudku DELL-SENPAI!"
"Omedetou ne, Onii-chan!" ujar Deruko.
"'Onii-chan' katamu?" ucap Dell agak risih mendengar kata itu keluar dari mulut Deruko.
"Selamat ya, Dell!" ujar Haku sambil tersenyum manis.
"Hn, iya. Arigatou." respon Dell-tanpa menatap Haku secara langsung.
"..." Deruko pun menatap Dell, yang lama-kelamaan menjadi tatapan sinis.
!
"Akh! Apa yang kau lakukan, Deruko?"
"Baka aniki! Kalau bicara dengan Haku, tatap wajahnya dong! Jangan bersikap tidak sopan dengan calon kakak iparku!" gerutu Deruko.
"'K-kakak ipar' katanya..." ucap Meiko.
"Pfft... Ahahahahahaha!"
"Baka! Apa yang kalian tertawakan?" ujar dua Honne bersaudara itu.
"Ahaha~ Huh, aku tidak menyangka, Deruko ternyata polos juga ya." komentar Kaito sambil mengusap air matanya (karena tertawa).
"Apa maksudmu?" ucap Deruko sambil menatap Kaito dengan sinis.
"E-eh, bu-bukan apa-apa kok!"
"Oke, minna-san! Ayo kita istirahat dulu! Kalian boleh bubar, dan mohon berkumpul lagi saat 1 jam sudah lewat. Terima kasih." ujar Kiyo mengumumkan lewat mic.
.
.
.
"Ja-jadi, Ta-Taito-kun ha-hanya bersandiwara?" ujar Kiku kaget mendengar pernyataan Taito.
"Tentu saja. Aku minta tolong pada Neru untuk menjadi koibito-ku, namun hanya pura-pura, dan ia bersedia membantuku." jelas Taito.
"Ta-tapi aku kira, T-Taito-kun tidak menyukaiku sama sekali..."
"Tidak kok, aku-melakukan ini karena aku ingin melihat, apakah kau akan cemburu atau tidak, jika aku berpacaran dengan gadis lain."
"Jadi kau..."
"Iya, orang yang kusuka itu kau, Kiku. Daisuki yo!"
"Ta-Taito-kun..."
Gyut!
Taito lalu memeluk Kiku dengan erat. "Kiku."
"I-iya?"
"Maukah kau jadi pacarku?"
"... Iya!" respon Kiku bahagia. Ia lalu membalas pelukan Taito.
"Wah, pasangan yang serasi!"
"Sstt! Baka! Jangan berisik!"
"Hei! Aku 'kan sudah merendahkan suaraku!
"E-eh?"
Rook, Eiichi, dan Sora-yang sedang bersembunyi dibalik semak-semak—kaget melihat Taito dan Kiku yang mempergoki mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Taito dengan tatapan sinis.
"E-eto, ka-kami cuma... Cuma..." Sora pun kehabisan kata-kata.
"To-tolong jangan salah paham, Taito, Kiku! Ka-kami tidak bermaksud menguping kok!" kilah Eiichi.
Tep
"?"
Rook-yang berusaha untuk kabur dari situasi tak menyenangkan ini—tidak sengaja menginjak sebuah ranting sehingga menimbulkan suara.
"Mau lari ke mana kau?" tanya Taito—yang langsung menarik baju Rook untuk mencegahnya kabur.
"... A-aku... Aku..." Rook pun menengok ke belakang perlahan-lahan.
"Ka-kami minta maaf!" ujar Eiichi, Sora, dan Rook bersamaan.
-Diam sejenak-
"Huh. Ya, kami memaafkan kalian." ujar Taito.
"Lagipula tidak ada gunanya menahan kalian. Toh hal yang kalian lakukan bukan kesalahan besar." tambah Kiku.
"Be-benarkah?"
"Ya, tapi kalau kalian melakukannya lagi..." ucap Taito.
"Kalian akan tau akibatnya..." lanjut Kiku
"Ha-hai!" Mereka bertiga pun langsung ngacir entah kemana-karena takut melihat ekspresi seram duo yandere itu.
-Di tempat lain-
"Oh, jadi Neru-chan tidak putus dengan Nero-kun ya?" tanya Haku.
"Tentu saja tidak! Memang, Taito itu merepotkan saja. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku juga mau mereka bahagia." jelas Neru.
"Ah, yokatta~ Aku kaget sekali waktu kau bilang jadian dengan Taito. Ya, karena aku pikir, mana mungkin Neru-chan suka Taito."
"Ehehe~"
"Baguslah sandiwaranya sudah selesai." sahut Nero.
"Ah, Nero-kun!" ucap Haku.
"Nero?"
"Jujur saja, aku—sedikit cemburu." ucap Nero sambil menggaruk-garuk pipinya.
"... Ahaha~ Tidak kusangka kau bisa cemburu juga!" ujar Neru sambil tertawa.
"Hei, ini tidak lucu!"
"Ahaha, cuma bercanda kok~" ucap Neru, yang lalu mencium pipi Nero.
Nero pun hanya bisa diam-dengan wajah memerah tentunya.
"Eh? Siapa itu yang sedang berlari?" tanya Neru mengganti topik pembicaraan.
"Lho? Itu 'kan Eiichi, Sora, dan Rook!" ujar Nero.
"Kenapa mereka kelihatan panik begitu ya?" tanya Haku penasaran.
"Tidak usah dipikirkan, Haku. Paling-paling mereka berbuat ulah lagi." ucap Neru santai.
"O-oh..."
"Hei, ini sudah hampir satu jam, lebih baik kita kembali ke arena lomba." saran Nero.
"Hai!"
.
.
.
"Ya, kita lanjutkan ke lomba 'Main Enggrang'!" ujar Yuki bersemangat.
"Wah, Yuki sudah seperti MC yang profesional saja ya." komentar Miko kagum.
"Pesertanya kali ini bebas! Silahkan yang mau ikut maju ke arena!" lanjut Yuki.
Shuuuu~~~
"Ehm! Aku ulangi, yang mau ikut, silahkan maju!"
Krik... Krik...
"Eto, Kiyo-sensei, gak ada yang mau maju, jadi kita harus gimana?" tanya Yuki yang pasrah terhadap keadaan.
"Entahlah. Huh, ini semua karena Master-sama memberikan lomba yang aneh-aneh, para Vocaloid dan Utauloid pun jadi tidak tertarik sama sekali dengan lomba-lomba yang lain." ujar Kiyo dengan lesu.
"Wah, wah~ Ternyata kalian tidak bisa melakukan apa-apa tanpa aku ya~" sahut sebuah suara.
"E-eh?"
"He-hei, i-itu 'kan..." ucap Leon terbata-bata.
"D-dia..."
Tsudzuku
Interview with Nekomura Iroha
Author (A): Iroha! Bisa minta waktunya sebentar?
Iroha (I): Ah, Yuna-san! Tentu saja bisa!
A: Iroha, bagaimana perasaanmu setelah direlease oleh Yamaha Corps and Crypton?
I: Tentu saja senang! Aku senang bisa mempunyai banyak teman, dan aku juga senang bisa muncul di fic-nya Yuna-san!
A: Syukurlah kalau begitu! Maaf ya Iroha, harus membuatmu menyerah di lomba itu.
I: Daijobu, Yuna-san! Lagipula, lebih baik aku menyerah daripada memaksakan diri ^^
Dell (Dell): Hei! Yuna no baka! Kau sudah membuatku mengikuti lomba yang tidak berguna dan aneh itu! Beraninya kau!
A: Hei, hei, tapi kau 'kan menang juga akhirnya! Harusnya kau bersyukur tau!
D: Bersyukur apanya? Kau tau aku harus berpikir keras untuk menang?
A: Hei! Itu 'kan ideku supaya kau menang!
D: Idemu apanya?
A: Ya ideku karena aku authornya!
Haku (H): Eto, minna-san, lebih baik kita akhiri interview kali ini, dimohon RnR dari readers maupun author sekalian! Arigatou gozaimasu! -bows-
