Pagi-pagi sekali Kuanlin sudah berdiri di depan gerbang rumah Jihoon. Dia memang sengaja menunggu gadis itu, untuk mengajaknya berangkat bersama. Seumur hidupnya pergi ke sekolah, dia tidak pernah bangun sepagi ini untuk berangkat ke sekolah. Ini semua hanya demi misi pendekatannya pada gadis manis bermarga Park itu.

Suara derit gerbang besi yang dibuka membuat Kuanlin mengalihkan perhatiannya.

"Selamat pagi, Kak" sapanya pada Jihoon yang masih terpaku menatap Kuanlin. Sepertinya dia tidak percaya melihat penampakan sosok tinggi Kuanlin sepagi ini di depan rumahnya.

"Lai Kuanlin?"

"Ya. That's me. The one and only Lai Kuanlin" jawab Kuanlin pongah. Sedikit bangga karena berhasil mengejutkan Jihoon.

"Ngapain Lo disini?" tanya Jihoon setelah pulih dari rasa terkejutnya.

"Jemput lo lah, Kak. Kita berangkat ke sekolah bareng"

"Hah? Nggak usah. Udah sana lo berangkat bareng sopir lo aja. Gue berangkat naik subway" usir Jihoon.

"Yaaahh Kak. Gue udah suruh sopir gue pulang"

"Ya suruh balik sini lah" ucap Jihoon cuek sambil berjalan menuju halte, Kuanlin mengekori di belakangnya dengan langkah pendek yang santai. Yah gimana ya. Efek perbedaan panjang kaki memang signifikan sekali.

"Ogah, nunggunya kelamaan. Lagian Kakak masa tega ninggalin gue yang belum pernah naik subway ini sendirian?"

Jihoon berhenti dan berbalik menghadap Kuanlin, tangannya berkacak pinggang, wajahnya cemberut, dengan mendongak dia berbicara pada Kuanlin yang menjulang dihadapannya, "salah lo sendiri kan Aliiin! Ngapain sih hobi banget nyusahin diri sendiri kalo lo bisa leha-leha di dalam mobil mewah lo itu"

Kuanlin yang cengar cengir memandang wajah lucu Jihoon ketika kesal tertegun mendengar nama asing yang masuk ke pendengarannya.

"Eh, lo panggil gue apa Kak? Alin? Kependekan dari Kuanlin ya?"

Jihoon mengalihkan pandangannya dengan kikuk, "Bukan! Kuping lo tuh budek! Gue manggilnya Kuanlin kali"

"Ah, kuping gue masih normal kok Kak. Gue yakin tadi lo manggil gue Alin"

Jihoon yang wajahnya sudah memerah berbalik dan segera berjalan menjauhi Kuanlin.

"Loh Kak, kok gue ditinggalin sih?" seru Kuanlin geli. Dia mengikuti Jihoon yang berjalan cepat hingga menyisakan jarak diantara mereka. Sengaja sih, biar Jihoon puas aja bisa menghindar sementara waktu, padahal dengan beberapa langkah panjang dia bisa menyusulnya.

"Kak Jihoon? Kok nggak dijawab sih? Itu tadi panggilan kesayangan Kakak buat gue, ya?"

Kini mereka berdua sudah kembali berjalan beriringan. Kuanlin bisa melihat betapa merah wajah Jihoon. Membuat Kuanlin gemas setengah mati.

"Ih, itu merah banget pipinya. malu ya?" goda Kuanlin sembari menjawil pipi Jihoon yang chubby, yang tentu saja ditepis oleh si empunya pipi dengan kasar.

"Lo mau berangkat bareng gue Cuma mau bikin gue kesel pagi-pagi ya?" nada bicara Jihoon sudah terdengar serius. Sepertinya dia benar-benar marah karena digoda Kuanlin.

Kuanlin berhenti lalu meraih pergelangan tangan Jihoon membuat langkah gadis itu ikut terhenti. Ditautkannya jari jemari mereka berdua.

"Dari semua sikap dan tingkah laku gue ke elo selama ini, semenjak Kakak nolong gue waktu itu, masak Kakak belum bisa paham semuanya sih?"

Jihoon memilih tetap bungkam sambil menatap tangan mereka yang bertautan. Kuanlin menghela napas, "Gue mau kenal lo lebih dekat. Bukan untuk jadi temen atau sahabat lo. Gue mau jadi orang yang bisa menetap di dalam hati Park Jihoon"

Jihoon mendongak, menatap wajah Kuanlin lekat mencoba mencari setitik humor dari wajah yang biasa cengar cengir bodoh itu. namun, kali ini tidak ada raut lain selain keseriusan.

"Gue..."

"Gue tahu Kakak belum yakin sama gue. Bahkan mungkin setitik rasa juga belum tumbuh dalam hati Kakak. But please, beri gue kesempatan. Tolong terima gue dengan hati yang terbuka. Please open your heart for me"

'dan aku juga akan meyakinkan hatiku bahwa hatimu lebih berharga dari rasa keingin tahuanku dan egoku'

Jihoon masih kesulitan dalam merangkai kata untuk membalas ucapan Kuanlin.

"Gue belum nembak kok, Kak. jadi nggak usah bingung ngerangkai kata penolakan buat gue. Ditolakpun gue nggak akan nyerah" ucap Kuanlin kembali nyengir ganteng.

Jihoon menghela napas mendengar Kuanlin sudah kembali ke mode slengekan seperti biasanya.

"Kita ke minimarket dulu beli voucher subway buat lo" ucap Jihoon sambil menarik tangan Kuanlin menuju minimarket.

Kedua remaja tanggung itu masih tetap berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan.

"Loh, bayar subway nya pake voucher? Gue kirain pake uang langsung"

"Pake voucher. Nanti kalo habis bisa beli lagi di minimarket" jelas Jihoon maklum pada anak orang kaya yang belum pernah naik kendaraan umum itu.

.

.

.

Setelah selesai membeli voucher, mereka segera menaiki subway yang memang sudah tiba di halte. Subway itu penuh sesak dengan anak-anak sekolah dan para pekerja dari berbagai usia dan gender. Hingga akhirnya Jihoon dan Kuanlin tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri. Kuanlin menempatkan Jihoon mepet dengan badan subway, sedangkan dia berdiri didepannya sehingga tubuh mungil gadis itu terlindungi dari desakan orang-orang disekitarnya.

Jihoon memandangi punggung adik kelas di depannya itu, suasana sesak dan riuh dalam subway sudah menjadi makanannya sehari-hari. Tak jarang dia mendapat sikutan dan dorongan dari orang-orang yang memaksa ikut naik meski sudah penuh sesak. Tapi kali ini, cowok yang baru saja mengakui isi hatinya itu menggantikan dirinya untuk mendapat beberapa sikutan tak disengaja dari penumpang lain. Entah kenapa hatinya menghangat. Digenggamnya ujung jas almamater Kuanlin dengan erat.

Kuanlin yang merasakan tarikan pelan dari jas almamater bagian belakangnya menoleh, "Kenapa Kak? Nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan menolehkan kepalanya ke belakang.

"Nggak apa-apa" jawab Jihoon.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai di halte dekat sekolah mereka. Tinggal berjalan kaki sebentar mereka sudah sampai di sekolah mereka.

Kuanlin merapikan jas almamater nya ketika telah turun dari subway. Dia mengecek waktu di jam tangannya dan berdecak kagum.

"Wow. Rekor banget nih gue dateng sepuluh menit sebelum bel"

Jihoon mendengus mendengar celetukan Kuanlin. Dia sibuk mengeluarkan tisu saku yang selalu dibawanya dalam tas. Setelah mendapat apa yang dicaarinya, dia mengeluarkan satu lembar lalu menarik lengan jas almamater Kuanlin hingga tubuh tinggi itu sedikit membungkuk. Dengan perhatian, diusapnya dahi dan leher Kuanlin yang berkeringat.

"Emang lo belum pernah dateng tepat waktu ke sekolah?" tanya Jihoon tak acuh dan masih fokus pada kegiatannya. Tak menyadari bahwa Kuanlin membeku mendapat perlakuan yang tergolong manis dari Park Jihoon.

"Sejak gue masuk sekolah sini sih belum" jawab Kuanlin setengah sadar.

"Terus motivasi lo apa berangkat telat terus?"

"Yah nggak seru aja sih terlalu taat peraturan dan jadi sama dengan murid lain"

"Maaf deh kalo hari ini perjalanan lo ke sekolah jadi nggak seru" ucap Jihoon sambil mendorong pelan tubuh Kuanlin ketika keringat di wajah Kuanlin sudah kering.

Jihoon sudah kembali melangkah menuju sekolah, tapi Kuanlin menggapai bahu gadis itu dan membalikkan tubuhnya hingga mereka kembali berhadapan. Diangkatnya dagu Jihoon lalu dia mendekatkan wajah mereka. Ditatapnya manik hitam gadis itu lurus. Cokelat bertemu hitam.

"Sebentar, gue mau ngaca. Rambut gue berantakan apa nggak" ucap Kuanlin yang mengamati refleksi wajahnya didalam manik mata Jihoon.

Tubuh Jihoon masih membeku dan nafasnya masih tertahan ketika akhirnya wajah tampan itu menjauh dari wajahnya sendiri.

'SIALAN!' Maki Jihoon dalam hati sambil mengikuti langkah Kuanlin ke sekolah.

'Nggak enak kan dibuat senam jantung pagi-pagi? Makanya jangan bikin jantung gue pensiun dini sendirian dong' ucap Kuanlin yang masih deg-degan karena tingkah Jihoon.

.

.

.

.

Ketika sosok mereka memasuki gerbang bersama, bisik-bisik mulai menyebar. Siswa-siswa yang tidak pernah mengetahui kabar kedekatan mereka mulai heboh. Kebanyakan dari mereka tidak mengenal siapa gadis yang berjalan bersama Lai Kuanlin, si murid baru yang terkenal badung tapi sialnya super ganteng itu.

''Loh itu Kuanlin datang bareng siapa sih?''

''Paling juga pacar barunya lagi''

"Tapi masa sih pacar barunya? Nggak mungkin ah"

"Kenapa emang?"

"Pacar-pacar dia yang dulu tuh selalu high class. Yang ini mah biasa aja"

"Duh masa selera Kuanlin jadi menurun drastis gitu?"

"Mendingan juga gue kemana-mana daripada cewek bantet itu"

"Bukannya itu Kakak kelas PMR ya? Gue pernah lihat dia pas bantuin anak-anak yang sakit waktu MOS dulu"

"Loh itu kan Park Jihoon. Bukannya dia nggak mau pacaran ya?"

"Alah ternyata munafik. Sama aja kayak yang lain. Lihat yang ganteng juga dipepet"

Selentingan-selentingan tak sedap itu sampai ke kuping Jihoon dan Kuanlin . Jihoon mencoba menulikan telinga dan tidak ambil pusing pada semua nyinyiran yang tidak benar itu. Sedangkan Kuanlin tengah menahan emosi, dia tidak peduli kalau semua itu hanya ditujukan padanya, tapi dia tidak terima kalau Jihoon dilabeli macam-macam.

Akhirnya mereka sampai di depan kelas Jihoon. Sedari tadi Kuanlin memang mengikuti langkah Jihoon ke kelasnya. Jihoon yang fokus menenangkan hatinya tidak menyadari kalau Kuanlin ternyata mengikutinya.

"Maaf ya. Karena gue Kakak jadi digosipin macem-macem" ucap Kuanlin.

"Kalo lo emang..."

Sebelum Jihoon meneruskan ucapannya Kuanlin memotong, "Sorry, gue nggak bisa jauhin Kakak. Untuk saat ini gue Cuma bisa bilang kalo Kakak nggak usah dengerin ucapan jahat mereka. Kalo mereka udah berani berbuat lebih dari sekedar nyinyirin Kakak bilang ke gue"

Jihoon terdiam mendengar ucapan serius itu.

"Selamat belajar ya, Park Jihoon" ucap Kuanlin sembari mengacak rambut Jihoon lalu pergi ke kelasnya sendiri.

.

.

.

Jihoon sudah duduk di bangkunya sambil melamun, teman sebangkunya entah pergi kemana padahal tas nya sudah ada di bangkunya.

"Park Jihoooon" seru seorang gadis heboh sambil menghampiri Jihoon. Ralat, nama gadis itu Kim Dongbin teman sebangku Jihoon.

"Apa sih,Bin? Kenapa pagi-pagi udah heboh?"

"Dih bisa-bisanya orang yang bikin satu sekolah heboh ngomong gitu" cebik Dongbin.

"Alah lebay"

"Serius saayy. Gimana ceritanya lo bisa berangkat bareng Kuanlin ke sekolah?"

Jihoon menghela napas lelah atas tingkat kekepoan teman sebangkunya yang tinggi ini.

"Tadi ketemu di halte"

"Nggak mungkin! Ngapain Kuanlin yang naik mobil berhenti di halte? Udah lo nggak bakal bisa bohongin gue" cecar Dongbin tidak menyerah.

"Dia tadi berangkat naik bus dari rumah gue" jawab Jihoon pada akhirnya. Karena teman sebangkunya sejak tahun pertama itu pasti tidak akan menyerah sebelum mendapat jawaban sesuai keinginannya.

"Serius? Astaga.. Gimana ceritanya?"

Akhirnya Jihoon menceritakan semuanya, sejak awal mula mereka kenal di UKS hingga Kuanlin yang mendatanginya ke rumah pagi ini, minus pengakuan Kuanlin tadi pagi sih.

"Duh..Padahal selama ini gue yang ngefans dia, elo nggak tertarik sama sekali. Kok malah elo sih yang bisa deket sama dia?" ucap Dongbin cemberut yang membuat wajahnya semakin manis.

"Gantiin aja gue kalo lo mau. Supaya lo aja yang jadi bahan gosip satu sekolah" ucap Jihoon lelah, padahal baru sepagian dia jadi trending topic.

"Heehehehe sabar aja ya Say. Emang susah sih kalo deket sama selebriti sekolah. Udah nggak usah peduliin orang-orang itu. Nanti juga mereka diem kalo capek" kata Dongbin sambil menepuk-nepuk pundak Jihoon simpati.

"Thanks ya, Bin"

.

.

.

TBC

A/N: Finally, updating this baby. gimana ceritanya? semoga nggak jadi murahan kayak sinetron yang kebanyakan drama ya kkkk... Thank you yg udah read, fav, follow dan terlebih review untuk chapter-chapter seblumnya ya.. Ditunggu feedback dari reader-deul untuk chapter ini..

Btw, cerita apa yang selanjutnya harus ku update? OSIRIS, NEVER TEAM, ATAU CHERRY AND LEMON nih?