Baekhyun menyandarkan kepalanya dimeja dengan malas. Bell istirahat sudah berdering sejak sepuluh menit yang lalu, namun ia tak bergerak juga dari posisinya. Kyungsoo sudah berlari ke kantin tepat saat bell istirahat berbunyi, ia bilang perutnya sangat lapar. Si mata bulat itu sudah mengajak Baekhyun, namun Baekhyun terlalu malas untuk menyeret kakinya ke kafetaria.
Ini sudah hari kedua dimana ia terlihat uring-uringan, dimana keadaan hatinya benar-benar gelisah, dan ia benci untuk mengakui kenapa ia terlihat seperti itu.
Park Chanyeol, pria yang ia sebut 'ahjussi' itu benar-benar menghilang dari kehidupannya. Setelah mengantarkan Baekhyun pulang dari birthday party teman Chanyeol, pria itu sama sekali tidak menghubunginya lagi. Pernah, satu kali ia mencoba menelepon pria itu dengan alasan menanyakan tentang Sehun, namun yang terdengar hanyalah suara operator yang mengatakan nomor Chanyeol sedang tidak aktif. Damn! Dia seenaknya saja menghilang dari kehidupan Baekhyun disaat 'sesuatu' itu tumbuh dalam hati Baekhyun.
Tunggu…sesuatu? Mungkinkah Baekhyun mulai menyukai pria yang ia sebut ahjussi itu?
"Hahhhhh, aku benci seperti ini." keluhnya. Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan brutal.
"Baekhyun?"
Baekhyun merasa seseorang memanggil namanya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati Kyungsoo sudah berdiri di samping mejanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo, mata bulatnya menyiratkan kesan khawatir pada Baekhyun. Si Byun hanya tersenyum pada sahabatnya itu.
"Apa itu?" Baekhyun menunjuk kantung yang Kyungsoo pegang.
"O-oh, ini…" Kyungsoo menaruh kantung itu di meja Baekhyun, mengeluarkan sekotak susu strawberry dan roti strawberry. Baekhyun merasa liurnya menetes-netes melihat makanan kesukaannya, ia merasa selera makannya mulai bangkit.
"Jongin menitipkan ini padaku."
Baekhyun menelan ludahnya kasar. Rasa laparnya hilang begitu saja dan perutnya mendadak kenyang.
"Aku tidak mau." Baekhyun kembali menyenderkan kepalanya diatas meja.
Tak perlu dipikirkan lagi dalam rangka apa Jongin memberikan ini pada Baekhyun. Kemarin, seisi sekolah heboh dengan putusnya Jongin-Krystal, Jongin memutuskan Krystal di lapangan basket disaat Krystal menghampirinya untuk memberikan air mineral karena Jongin baru saja selesai latihan. Dan disaat itu juga, Jongin memutuskan gadis itu. Mereka bertengkar hebat dan menjadi tontonan semua murid yang berada di lapangan basket. Baekhyun juga melihatya, ia tidak sengaja melintas di dekat lapangan basket dan ikut menonton hal itu.
Baekhyun memang memberitahu Jongin perihal apa yang ia lihat saat pesta malam itu. Ia tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan mantan kekasihnya itu, hanya saja ia masih memiliki rasa kasihan terhadap Jongin.
Dan sekarang…Jongin bersikap seperti ini padanya.
Kalau Jongin melakukan ini untuk merayunya kembali, tidak. Baekhyun benar-benar sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan laki-laki itu.
"Baekhyun? Kau tak mau memakannya? Kalau begitu, aku saja yang makan ya?" tanya Kyungsoo yang hanya dibalas dengan erangan dari Baekhyun.
Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo yang sedang membuka bungkus roti strawberrynya. "Omong-omong, dimana Sehun?" tanya nya.
"Oh, Sehun sedang berada diruang klub fotografi, tadi Irene sunbae memanggilnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting." Kyungsoo membelah rotinya menjadi dua bagian dan memasukkannya kedalam mulut Baekhyun begitu saja. "Aku tahu kau lapar, Baek." katanya.
Baekhyun tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan roti. Jadi ia hanya membalas ucapan Kyungsoo dengan matanya yang berkilat tajam.
"Oh, aku lupa. Pulang sekolah nanti Sehun mengajak kita belajar bersama dirumahnya. Kau mau pergi, Baek?"
Baekhyun terdiam. Bukan karena makanannya belum habis didalam mulutnya, tetapi karena ia bingung. Pergi ke rumah Sehun? Mungkinkah ia akan bertemu Chanyeol disana? Pria yang sedang ingin ia temui namun ia terlalu malu untuk mewujudkannya?
Baekhyun mengangguk.
Tak ada salahnya untuk pergi. Jika ia bertemu dengan Chanyeol disana, Baekhyun hanya ingin menanyakan maksud dari perkataan Chanyeol malam itu, karena hal itu masih mengganjal didalam pikirannya. Hanya itu.
Ya, hanya itu saja…
Dan setelah itu ia akan berusaha mengenyahkan perasaan konyol-nya terhadap pria itu.
.
.
.
.
.
"Oh astaga, bukankah dia sangat seksi, Yeol?"
Siang itu Chanyeol dan Kris sedang berada dirumah Chanyeol. Chanyeol merasa badannya kurang sehat untuk pergi bekerja, jadi ia menetap dirumah. Berhubung keadaan rumah sangat sepi, Chanyeol mengundang Kris untuk bermain ke rumahnya dan membebaskan segala pekerjaan pria blasteran itu dikantor.
Chanyeol yang sedang memainkan ponselnya, melirik kearah televisi sebentar. Kris sedang menonton acara musik dan girlgroup Sistar sedang tampil. Chanyeol melirik Kris yang terlihat sedang fokus memperhatikan Hyorin. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apanya yang seksi? Kau pasti sedang memperhatikan dadanya, kan?" ucap Chanyeol sarkastis.
Kris tertawa hambar, sedikit malu karena tebakan sahabatnya itu benar.
Chanyeol mengabaikan Kris yang terus berceloteh tak jelas. Ia memandang ponselnya dengan wajah datar, disana terpampang foto gadis mungil yang akhir-akhir ini mencuri seluruh perhatiannya. Foto itu ia ambil diam-diam dari akun SNS Baekhyun. Ia berpikir mungkin hanya dengan sebuah foto bisa menghilangkan rasa rindunya pada gadis itu.
Chanyeol berusaha mati-matian untuk tidak mengganggu Baekhyun. Seperti meneleponnya, atau mengirim pesan-pesan yang mungkin dianggap tidak penting bagi gadis itu. Chanyeol bahkan mengganti nomor ponselnya dan menghapus nomor Baekhyun. Dia hanya tidak ingin Baekhyun merasa tak nyaman berdekatan dengan orang dewasa seperti dirinya.
Ah, kau seorang pengecut Chanyeol.
Dan sepertinya ia akan mengalah pada Sehun, membiarkan adiknya itu untuk mendekati bahkan mengencani Baekhyun jika Sehun sanggup untuk mencuri perhatian Baekhyun. Tapi, separuh hatinya tidak rela untuk membiarkan Sehun mendekati Baekhyun.
Asik dengan lamunannya sendiri, Chanyeol sampai tak sadar bahwa sekarang Kris sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Chanyeol sedang dirumah. Tentu saja kau tidak akan menemukan dia di kantor." Kris tertawa.
Chanyeol tersentak. Ia menatap Kris yang sedang asik dengan pembicaraannya. Merasa diperhatikan, pria blasteran itu menoleh pada Chanyeol.
"Yejin." kata Kris dengan sedikit berbisik. Chanyeol hanya mengangguk.
"Tentu saja bisa. Kau datang saja kemari…..ya..ya….sampai jumpa."
Chanyeol melotot segarang-garangnya pada Kris saat pria itu memasukkan ponselnya pertanda pembicaraannya dengan Yejin telah selesai.
"Untuk apa kau menyuruh perempuan itu kemari?!"
Kris terkekeh. "Memangnya tidak boleh? Dia bilang, dia ingin menyampaikan sesuatu padamu. Katanya sangat penting, jadi aku menyuruhnya kemari. Bagaimana…jika sesuatu yang penting itu adalah…Yejin ingin memintamu untuk menjadi kekasihnya lagi?"
Chanyeol menghempaskan punggungnya pada sofa. Ia memijit pelipisnya, kepalanya terasa semakin pusing. Ditambah lagi dengan kemungkinan yang dikatakan Kris.
"Molla. Aku mau istirahat."
.
.
.
.
.
Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun sedang menunggu di gerbang sekolah. Kali ini mereka akan kerumah Sehun menggunakan mobil. Laki-laki albino itu mengatakan bahwa Jongdae sudah kembali bekerja, jadi mulai hari ini ia akan diantar-jemput oleh Jongdae.
Diantara ketiga remaja tersebut, wajah Baekhyun terlihat sangat gelisah. Ia tak tahu mengapa dirinya tiba-tiba menjadi gelisah. Pergi kerumah Sehun seperti pergi ke tempat uji nyali bagi Baekhyun. Gadis itu tak tahu apa dia sanggup untuk tak mencuri pandang pada kakak Sehun jika orang itu berada dirumah.
Tunggu…kenapa ia harus mencuri-curi pandang?!
Baekhyun menampik pikiran bodohnya itu jauh-jauh. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Berusaha menghilangkan rasa gugupnya, padahal mereka belum sampai di rumah Sehun.
"Baekhyun, kau tak apa-apa?"
Baekhyun menoleh kekanan, dimana Sehun berdiri disamping kanannya sambil menatapnya khawatir. Sejak tadi laki-laki itu memperhatikan Baekhyun, namun sepertinya Baekhyun tak menyadari bahwa Sehun sedang menatapnya.
"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa. Umm, apa supirmu masih lama?"
Sehun melirik jam tangannya sekilas. "Mungkin lima menit lagi Jongdae hyung sampai."
Baekhyun hanya tersenyum tipis, lalu ia menatap lurus ke jalanan yang terbentang dihadapannya. Sedangkan Sehun masih setia memandangnya. Sehun bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang terjadi pada gadis itu? Kenapa Baekhyun terlihat gelisah?
Dan kemungkinan besar jawabannya adalah, karena Park Chanyeol.
.
.
.
Baekhyun, Sehun dan Kyungsoo telah sampai di rumah Sehun. Begitu Baekhyun turun dari mobil Sehun, ia tercekat saat melihat dua mobil yang terparkir dihalaman rumah Sehun, ia tahu salah satu dari mobil tersebut adalah mobil Chanyeol, tapi ia tak mengetahui milik siapa mobil yang terparkir di belakang mobil Chanyeol.
"Sepertinya ada tamu." Sehun bergumam. "Ayo masuk." ajaknya pada kedua gadis yang masih berdiri di samping mobil.
Sehun melangkah lebih dulu, diikuti Baekhyun di belakangnya dan Kyungsoo di sebelah Baekhyun. Sehun membuka pintu rumahnya, dan saat itu juga Baekhyun merasakan hatinya menjerit.
Disana, diruang tamu, di sofa itu..Chanyeol duduk dengan seorang wanita cantik yang tak dikenal Baekhyun. Wanita itu jelas bukan wanita yang mengadakan pesta ulangtahun sabtu lalu, dia lebih cantik dari Sulli eonnie. Mereka berdua tampak akrab, dan Baekhyun bisa melihat dengan jelas sesekai wanita itu mencubit pipi Chanyeol.
"Yejin noona?"
Kedua makhluk berlainan gender itu menoleh dengan serempak kearah pintu. Wanita yang bernama Yejin itu tersenyum pada Sehun, sedangkan pria yang disebelahnya mendadak terlihat kaku saat melihat Sehun datang bersama Baekhyun dan temannya.
"Sehun? Astaga, kau tumbuh menjadi laki-laki tampan. Sama seperti hyung mu." Ucapnya dengan senyuman manis.
Baekhyun dan Kyungsoo mendadak seperti patung diantara ketiga manusia itu.
"Aku tak menyangka kau akan datang kemari noona." Balas Sehun. "Tetaplah disini untuk menemani hyung ku. Aku akan belajar bersama teman-temanku di halaman belakang." Lalu Sehun mengisyaratkan Baekhyun dan Kyungsoo untuk mengikutinya ke halaman belakang. Baekhyun berjalan dengan pelan, ia menundukkan wajahnya. Ia tak mau bertemu pandang dengan Chanyeol, entah…hatinya terasa nyeri melihat kebersamaan Chanyeol dengan wanita yang bernama Yejin itu.
Sedangkan Chanyeol, pandangannya tak lepas dari Baekhyun yang berjalan sambil menunduk. Ia terus menatap Baekhyun sampai gadis itu sampai dihalaman belakang. Gadis itu kembali mengangkat wajahnya, terlihat jelas sekali bahwa ia tak ingin melihat Chanyeol saat diruang tamu tadi.
"Apa salah satu dari kedua gadis itu adalah kekasih Sehun?"
Chanyeol menggeleng. "Mereka hanya teman."
"Kurasa aku pernah melihat gadis yang bermata sipit itu, Yeol. Kira-kira dimana ya?" Yejin memasang mimik penasaran.
"Aku membawanya ke pesta Sulli sabtu lalu." Ucap Chanyeol dengan santai.
"Ah! Aku baru ingat. Sulli menunjukkan fotonya padaku. Dia bilang, gadis itu adalah calon kekasihmu…apa itu benar?" Wanita itu menaik-turunkan alisnya, bermaksud menggoda Chanyeol. "Kau sudah mengubah tipemu, Yeol?" lalu ia tertawa pelan.
"Jangan bicara sembarangan." bantah Chanyeol. "Aku…aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri."
Bohong. Chanyeol tak pernah menganggap Baekhyun seperti adiknya.
"Masih tak mau mengaku rupanya." Yejin menggelengkan kepalanya. Lalu wanita itu melirik jam tangannya sekilas. "Sudah sore, Yeol. Sebaiknya aku pulang." Yejin berdiri dari duduknya lalu mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya. "Aku hanya ingin memberikanmu ini."
"Undangan pernikahan?" gumam Chanyeol.
Yejin mengangguk.
"Kau tidak cemburu kan?" ia tertawa. "Jangan berpikir bahwa aku tak berhasil melupakanmu, Tuan Park. Kau harus datang, dan kau harus membawa kekasihmu."
"Mungkin aku akan datang bersama Kris."
.
.
.
.
.
.
Sehun dan Kyungsoo tampak fokus mengerjakan tugas sekolahnya. Sementara Baekhyun, perhatiaannya sama sekali tak tertuju pada buku yang ada didepan matanya. Sejak tadi ia selalu melirik kearah ruang tamu, memperhatikan Chanyeol secara diam-diam. Tapi sayangnya pria itu sudah pergi entah kemana.
Baekhyun menghela nafasnya.
Ia menggenggam bolpoinnya dan berusaha untuk fokus pada soal-soal matematika yang terpampang dibuku. Soal itu tidak rumit, bahkan biasanya Baekhyun bisa menyelesaikan lima butir soal dalam waktu sepuluh menit. Sayangnya saat ini pikirannya sedang buyar.
"Sepertinya aku butuh minum." ucap Baekhyun pada kedua temannya.
Sehun mendongak, menatap wajah Baekhyun yang terlihat kusut. Ia memutar bolpoinnya, lalu mendesah pelan. "Kau ingin kuambilkan minuman?" tawar Sehun.
Gadis itu menggeleng. "Aku bisa mengambilnya sendiri." Lalu Baekhyun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kedalam rumah Sehun.
"Sehun…sepertinya Baekhyun tampak aneh beberapa hari ini."
Sehun menoleh pada Kyungsoo yang menatap kepergian Baekhyun dengan khawatir.
"Apa maksudmu?"tanya Sehun, ia menaikkan alis sebelah kanannya.
"A-ani. Hanya saja beberapa hari ini Baekhyun terlihat uring-uringan."
Sehun menarik napasnya dalam-dalam. Sebesar itukah pengaruh seorang Park Chanyeol pada diri Baekhyun? Sehingga menyebabkan Baekhyun menjadi seperti itu hanya karena Chanyeol tidak menghubungi atau mendekati Baekhyun lagi. Seharusnya Sehun senang, karena hyung nya itu berkata ia akan berhenti mengejar Baekhyun, seharusnya Sehun merasa lega karena sejak dulu ia tak pernah menemukan rasa ketertarikan Baekhyun terhadap hyung nya. Tapi kenapa, disaat Sehun ingin melangkah maju, Baekhyun bersikap seolah-olah ia begitu mencintai Chanyeol?
"Kurasa…aku tahu apa yang membuat Baekhyun seperti itu."
Lalu mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing mengenai sahabatnya.
.
.
.
Baekhyun sampai di ruang makan keluarga Park. Ruang makan itu terlihat sepi. Lalu Baekhyun berjalan menuju lemari pendingin berukuran besar disudut ruangan. Ia membukanya dengan perlahan-lahan, saat lemari itu terbuka, kedua mata sipit Baekhyun berbinar-binar melihat isi yang ada pada lemari pendingin tersebut.
Begitu banyak makanan dan minuman dengan rasa strawberry, kesukaannya. Ia memutuskan untuk mengambil sekotak susu strawberry, dan satu cup ice cream strawberry. Bibirnya tak henti-hentinya mengulum senyum.
"O-oh astaga!"
Gadis itu terperanjat saat ia membalikkan tubuhnya. Sosok tinggi seorang Park Chanyeol kini berada dihadapannya dan Baekhyun hampir saja menabrak pria itu. Karena terlalu terkejut, ia juga hampir saja menjatuhkan minuman dan ice creamnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol, datar.
Baekhyun mengangguk pelan. "Aku hanya terkejut.." cicitnya.
Chanyeol terdiam. Ia memandangi Baekhyun yang tiba-tiba saja menundukkan kepalanya
"Apa aku terlihat seperti hantu? Kenapa kau selalu menundukkan kepalamu jika melihatku?"
Baekhyun mendongak. Ia melihat Chanyeol yang memasang wajah datarnya. Tiba-tiba Baekhyun merasa bersalah. "Ma-maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk bersikap tidak sopan."
Chanyeol terdiam lagi. Ia bisa melihat tangan Baekhyun yang sedang memegang kotak susu itu terlihat gemetaran.
Pria itu berjalan melewati Baekhyun, sedangkan Baekhyun membalikkan lagi tubuhnya untuk melihat Chanyeol yang sedang membuka lemari pendingin.
"Kau pasti menyukai ini semua. Sehun sudah mempersiapkannya kemarin malam." Ucapnya dingin. Itu memang benar, Sehun berbelanja habis-habisan ke supermarket hanya untuk membeli makanan dan minuman kesukaan Baekhyun.
"Ma-maksud oppa?" Baekhyun mengernyit. Ia tidak mengerti apa maksud dari kalimat Chanyeol barusan.
Chanyeol mengambil sebotol minuman isotonik yang bersembunyi dibalik tumpukan kotak susu strawberry. Ia menutup lemari pendingin itu dan berbalik hingga ia bisa melihat wajah Baekhyun yang kebingungan.
"Kau tidak menyadarinya ya? Kau tidak sadar juga kalau Sehun menyukaimu?"
Kau juga tidak sadar kalau aku cemburu pada Sehun?
.
.
.
.
Baekhyun dan Kyungsoo pulang dengan berjalan kaki. Sebenarnya, Sehun ingin mengantarkan mereka, namun dengan cepat Baekhyun menolaknya dengan halus.
Perkataan Chanyeol terngiang-ngiang ditelinganya. Benar juga, bagaimana bisa ia tidak menyadari sikap aneh Sehun akhir-akhir ini terhadap dirinya? Tapi, ia tidak menyukai Sehun. Ia hanya menyukai Sehun sebagai sahabatnya, bukan sebagai pria. Ia juga tidak pernah menginginkan ada cinta yang tumbuh didalam persahabatan mereka.
"Kyungie…" panggilnya.
"Hmm? Ada apa Baekkie?" Kyungsoo menoleh kesamping, dimana Baekhyun menundukkan wajahnya dan menendang-nendang kerikil yang ia temui disetiap langkah mereka.
"Kalau ada seseorang yang menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"
"Hmm…tergantung, apakah aku menyukainya juga atau tidak. Kalau aku menyukainya juga mungkin kami akan menjadi sepasang kekasih." Jawab Kyungsoo dengan lancar.
Baekhyun mengangguk samar. "Kalau seseorang itu…teman terdekatmu? Bagaimana?"
Langkah Kyungsoo berhenti begitu saja. Baekhyun juga berhenti saat ia menyadari bahwa Kyungsoo berdiri mematung di belakangnya.
"Baekhyun…apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Kyungsoo khawatir.
Baekhyun menggeleng. "Aku hanya bertanya. Memangnya tidak boleh?"
"Hanya saja pertanyaanmu terlihat seperti kau sedang mengalami hal itu." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tatapan intimidasi. "Baiklah…kalau kau memang hanya bertanya, aku tidak akan menyukai orang itu. Maksudku, aku akan menolaknya jika ia menyatakan perasaannya padaku. Karena, kami hanya berteman. Dan selamanya akan seperti itu."
Baekhyun terdiam mendengar jawaban Kyungsoo. Tatapannya terlihat menerawang, Kyungsoo sadar akan hal itu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Note :
HALOOOOO._.
Ada yg masih inget ff ini? xD /ga pasti ga ada/ wkwk. Maaf banget ff ini aku telantarin selama…1..2..3..4..5...bulan/? soalnya otak udah mumet bgt waktu itu karena udh mau un juga,ditambah tugas" yg numpuk/?
Sbnrnya ff ini mau diupdate pas mei kemaren,cuma w sibuk ngurusin persiapan kuliah-_- /gada yg nanya/
Dan pas udh selesai ngurusin kuliah,inspirasi itu terbang kemana tau, jd bingung mau lanjutin gimana udh sibuk sama roleplayer/? tp begitu liat msh ada aja yg ngereview ff ini,aku langsung mikir keras ini ff enaknya chap selanjutnya kaya gimana wkwk.
Btw,aku tau chap ini ngegantung/kurang memuaskan mungkin yg penting update kan? :O .untuk chap selanjutnya diusahain secepatnya,tp ga janji ya…
Makasih yg msh ngereview nagihin kapan ini lanjut wkwkwk.
Jangan lupa review lagi ya
