Haa, akhirnya update setelah sibuk tes masuk -'
Maaf kalau ada kekurangan~
Enjoy :D
Saat perjalanan mencari air terjun subuh itu, Rukia berkali-kali memincingkan matanya untuk melihat di sekitar hutan yang berkabut tebal. Dia tidak yakin akan melihat Kaien dan dirinya sendiri lagi, tapi kejadian semalam membuatnya resah.
Rukia berjalan paling belakang dengan Ichigo––tak terkecuali Nel. Mereka melewati pepohonan yang basah oleh embun, dan hawa dingin menusuk sampai ke tulang Rukia. Hingga tiap kali dia bernapas, selalu mengeluarkan uap.
"Gila, dingin banget," kata Ichigo saat dia hampir terjungkal tersandung akar pohon yang menjulang.
Tapi Rukia tidak menanggapinya, mulutnya terlalu beku untuk dibuka. Dia sudah terbiasa dengan hawa dingin es. Tapi entah apa yang ada di gunung ini membuatnya Rukia menggigil. Saking dinginya, setiap kali melangkah kakinya terasa berat sekali.
Rukia sedang menyeka darah dipelipisnya karena tergores dahan, ketika dia mendengar sesuatu di sampingnya. Dia menoleh sangat cepat sampai otot lehernya mengejang, dan matanya kembali terbelalak. Dia melihat dirinya sendiri kali ini, dirinya berdiri tidak jauh dari Rukia. Dia tampak tersenyum pada Rukia sebentar, lalu beranjak pergi. Pikiran Rukia kosong saat dia meneriakan kata 'tunggu'. Rukia tidak tahu apa itu, tapi dia berlari menerobos pohon untuk mengejar dirinya sendiri.
Terengah-engah, Rukia menyipitkan matanya agar bisa melihat di kegelapan hutan apalagi ditambah kabut tebal. Mungkin Rukia sudah sinting mengira melihat dirinya sendiri dan terlalu idiot untuk mengejarnya. Tapi apapun yang dilihatnya, kini jelas Rukia tidak sinting. Karena dia melihat dirinya sendiri lagi beberapa meter darinya. Orang itu melambai pada Rukia sambil tersenyum, napas Rukia tercekat, ketika Rukia ingin menyentuhnya dia dikejutkan dengan suara berisik dari pohon dibelakangnya.
Betapa terkejutnya Rukia ketika seekor serigala yang luar biasa besar muncul dari balik pohon. Serigala yang berbulu seputih salju, matanya biru cemerlang manatap tajam Rukia. Serigala itu menggeram, dia hampir sebesar gajah. Dia berjalan mengitari Rukia, menatapnya seakan sedang berusaha menginterogasi Rukia. Tapi anehnya, disekitar leher serigala itu ada seperti asap putih melingkar. Tetap terlihat karena asap itu agak bercahaya, seperti arwah.
Rukia menggenggam erat zanpakutounya, dia masih balik menatap serigala itu. Pertama kalinya Rukia melihat serigala seindah itu, benar-benar anggun, tapi tajam. Karena serigala itu tidak melakukan apa-apa, Rukia angkat bicara.
"Hushh," kata Rukia mengusir, serigala itu malah menatap Rukia dengan pandangan kau-bodoh-sekali.
Saat Rukia akan protes pada serigala itu, teriakan seseorang membuat mereka menoleh. Ichigo dan Hitsugaya melompat melewati dahan pohon yang tumbang dengan gegabah. Mereka terlihat sangat panik.
"Hei Rukia–––apa itu?" kata Ichigo setengah berteriak, tapi begitu mereka melihat seekor monster besar dihadapan Rukia, Ichigo segera mengambil zanpakutounya dan menebaskanya pada serigala.
Tapi ternyata serigala itu sangat gesit, dia menghindar dan menggeram degan gigi-gigi tajamnya itu pada Ichigo. Matanya menatap Ichigo waspada, begitu juga Ichigo yang zanpakutounya hampir tepat di hidung si serigala.
Serigala itu menyerang Ichigo sangat cepat, tanpa mereka sadari. Dia sudah berhasil membuat lengan Ichigo sobek sedikit dan berdarah. Ichigo sama cepatnya dengan serigala itu, dia menebaskan zanpakutounya tapi sayangnya serigala itu menghindar hingga cuma kumisnya saja yang terpotong sedikit. Tapi efeknya luar biasa, serigala itu tampak murka dan siap mencabik Ichigo hingga mati ketika teman-teman Rukia tiba.
"Rukia!" teriak Renji, tapi dia langsung mundur kaget melihat pemandangan didepanya.
Serigala itu menggeram pada mereka semua, tapi sepertinya dia terlihat berpikir, dan tanpa menunggu seseorang untuk berbicara, serigala itu berlari menerobos hutan setelah sempat melirik Rukia dengan angkuh.
"Apa itu tadi~?" tanya Nel ketakutan dibalik punggung Ichigo.
Hitsugaya langsung menghampiri Rukia, dia mengguncangkan bahu Rukia cemas.
"Kau tidak apa-apa kan, Kuchiki?" tanyanya berusaha menutupi kepanikanya.
"Yaa, kurasa begitu," jawab Rukia bingung sendiri. Dia melihat satu persatu teman-temanya yang tampak sama khawatirnya. Tapi Rukia bersumpah melihat urat dikepala Ichigo berdenyut dan dia manatap marah pada Rukia.
"Kenapa kau tadi tiba-tiba pergi sih?" kata Ichigo dengan nada tinggi, dia tampak marah.
"Soalnya–––"
"Hei dengarkan!" potong Ishida tiba-tiba. Mereka semua diam seketika, dan terdengarlah suara seperti deras air hujan.
"Yeah, kurasa kita sudah sampai tepat waktu," kata Hisagi sambil tersenyum puas.
Dan benar saja, ketika mereka melewati pohon yang sangat besar, dibaliknya ada sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi luar biasa indah.
Air terjun itu membentuk sebuah kolan bundar dibawahnya. Rukia terpesona sebentar sampai dia tiba di depan kolam.
Dia menoleh seraya bertanya, " 'yang bisa melewatinya hanya seorang perempuan lho' kata kakek itu kan. Apa itu artinya cuma aku yang bisa lewat?"
Semua orang menatap kaget perkataan Rukia, tapi Hitsugaya terlihat sangat berpikir.
"Jangan bodoh. Dibalik tirai hujan, berarti dibalik air terjun itu. Baik, aku akan kesana dulu," kata Hitsugaya tegas dan terdengar serius.
Rukia yakin mendengar Ichigo mencibir pelan. Lalu saat Hitsugaya mencelupkan kakinya ke dalam air, dia berteriak keras sekali.
"PANAS!" pekiknya dan buru-buru mencabut kakinya dari air. Wajahnya tampak shock.
Rukia bingung mau khawatir atau tertawa, Ichigo, Renji, dan Hisagi malah terang-terangan tertawa. Nel dan Kon juga tertawa sampai berguling.
"Ahahaha! Ternyata cuma bisa sampai kaki, haha!" ejek Ichigo tertawa puas. Mau tak mau Rukia ikut tertawa pelan, yang langsung mendapat pelototan dari Hitsugaya.
"Coba saja kau rasakan dan menangislah!" elak Hitsugaya menantang.
Ichigo dengan masih menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata berair, maju ke depan kolam. Seketika itu juga tawanya lenyap saat dia mencelupkan tanganya ke dalam air. Wajahnya tiba-tiba berkeringat dan hampir menguap.
"Panas banget!" pekiknya kaget. Hitsugaya cuma mendengus dan tertawa mencemooh.
Rukia tertawa juga, lalu mencoba mencelupkan tanganya ke dalam air, "Apanya yang panas? Airnya biasa saja kok––ahh! Sudah kubilang hanya perempuan saja yang bisa lewat kan? Kan kurasa aku bisa membuka jalan untuk kalian," kata Rukia berseri-seri.
Mereka saling pandang, dan mengangguk setuju, tapi Hitsugaya masih tampak berpikir keras.
"Tapi bagaimana caranya kau membuka jalan Kuchiki? 'akan ada yang bercahaya' tapi apa? Bagaimana kalau kau harus menghadapi musuh di dalam sana? Kau pikir aku akan membiarkanmu?" tanya Hitsugaya, nadanya meninggi.
Ichigo mendengus keras sekali, lalu berkata "Kau ini cerewet sekali, percaya dong pada Rukia!"
"Kau tidak bisa berpikir panjang, Kurosaki!"
"Ooh, maaf kapasitas otaku terbatas! Tidak seperti otak licin mu itu!"
Byuur!
Rukia tidak mendengarkan perdebatan mereka lagi karena dia sudah menceburkan diri ke kolam. Bagaimanapun juga dia yakin apa yang dilakukanya. Selama berenang ke arah air terjun, Rukia tidak tahu mengapa tubuhnya terasa agak panas, dan dia melihatnya, mahluk aneh bergerombolan mengepungnya. Banyak sekali hingga Rukia heran kenapa tadi dia tidak bisa melihatnya di atas air.
Rukia mencabut zanpakutounya, tanpa berkata dia sudah berhasil membekukan sebagian mahluk-mahluk itu lalu menebasnya sampai menjadi potongan-potongan kecil. Tapi betapa ngerinya Rukia saat sadar kalau mereka itu mayat hidup, dengan mata diblok putih, mereka terus-terusan mengepung Rukia. Bahkan sudah ada yang marik-narik hakamanya hingga robek disana-sini. Rukia marah, lalu menggigit jarinya hingga berdarah dan mengoleskanya disisi zanpakutounya. Zanpakutounya memanjang, dan dengan cepat Rukia menebaskan pedangnya yang panjang itu ke sekeliling danau. Rukia hampir tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi didalam air, dengan susah payah melepaskan diri dari beberapa mayat hidup itu (walaupun luka ada dimana-mana) Rukia berhasil melewati deru air terjun diatasnya. Terakhir kalinya, dia berhasil menendang wajah salah satu mayat yang berusaha memegang dadanya.
"Hahh..hah.." dengan napas tersengal-sengal, Rukia terduduk di batuan terjal yang licin dibalik air terjun. Tempat itu seperti gua yang dindingnya basah oleh air. Ngeri akan darah mengucur di bahu, tangan, dan kakinya, Rukia mencari-cari apa yang berchaya di sana. Walaupun rasanya mustahil karena Rukia hampir tidak bisa melihat apa-apa oleh kegelapan pekat.
Rukia menyipitkan matanya, mencari-cari selama hampir setengah jam apakah ada setitik cahaya walaupun itu kunang-kunang. Tapi hasilnya nihil, lalu dia berusaha masuk ke dalam gua lebih dalam, sekilas dia melihat gundukan batu berbentuk aneh. Tiba-tiba dia merasakan dingin yang menusuk, dia mendongak, dan ternyata ada lubang agak besar di atas. Rukia melihatnya, langit biru gelap dan Rukia baru sadar, kalau ini memang masih subuh. Dan kalau perkiraanya tidak salah, sebentar lagi matahari akan terbit.
Benar saja, belum ada semenit dia menunggu, dia melihat cahaya matahari memasuki celah itu menerangi jalanan batu yang basah. Dan betapa kagetnya Rukia saat menyadari yang semula dikiranya gundukan batu tak berbentuk, sekarang perlahan bergerak dan bangkit. Dia melebarkan sayapnya, seekor burung hitam mengkilap menatapnya. Dia sama sekali tidak mirip gagak berbulu hitam, tapi burung itu benar-benar indah. Ekornya yang menjuntai berwarna putih kontras dengan badanya.
Rukia semakin panik karena matahari sudah terbit dan dia belum menemukan yang bercahaya. Tapi, sedetik kemudian dia membeku, dia sadar dia telah menemukanya. Burung itulah yang bercahaya, tertimpa sinar matahari. Burung itu akan menuntunya untuk membuka jalan pada teman-temanya.
Rukia mendekat pada burung itu, dan tanpa sadar dia mengelus bulunya. Burung itu tampak keenakan, lalu mulai terbang, Rukia berusaha mengejarnya. Burung itu terbang kea rah air terjun dan dia hinggap di dinidng yang basah. Lalu mematuk salah satu batu yang menonjol disana.
Rukia kaget setengah mati saat tiba-tiba tanah disekitarnya berguncang pelan, lalu beberapa saat kemudian, Rukia hampir terjungkal karena kaget melihat Ichigo menyeruak menembuas air terjun. Dia tampak sama kagetnya dengan Rukia, dan teman-temanya yang lain menyusul Ichigo, muncul satu persatu.
"Rukia––––" Renji tidak menyelasaikan teriakanya, dia mimisan hebat.
Rukia heran, dan metapa malunya dia saat sadar hakamanya sudah sobek sana-sini. Pahanya terekspose jelas, bahunya juga. Bahkan punggung Rukia hampir kelihatan semua.
Renji yang darahnya paling banyak mengucur dari hidung, diam-diam Hisagi sudah hampir mimisan, Ishida matanya terpejam dari tadi seakan menahan sesuatu, Ichigo ternyata sudah berpura-pura memeriknya dinding batu yang basah. Hanya Hitsugaya yang tampak normal, walaupun tercengang.
Hitsugaya mendekat pada Rukia, Rukia tidak berani mengangkat wajahnya dia malu sekali berpenampilan seperti ini didepan seorang kapten.
"Apa yang terjadi padamu, Kuchiki?" tanya Hitsugaya, dia melepas haori-nya dan memakaiakanya di tubuh Rukia.
Belum sempat Rukia menjawab, ada suara orang lain yang kedengaran senang.
"Jadi kalian berhasil kesini, shinigami? Rukia Kuchiki?"
Mereka semua menoleh, Renji yang darahnya masih menetes-netes terlihat semakin pucat menatap siapa yang baru datang dari kegelapan gua. Kakek-kakek yang mereka temui di pasar kemarin, berjalan dengan santainya ke arah mereka.
"K-kau––!" pekik Ichigo sambil mengacungkan jarinya pada kakek itu.
Kakek itu tertawa terbahak-bahak, "Seorang Kuchiki memang hebat ya. Mari-mari, sebelum kalian menyabut pedang kalian dan memenggal kepalaku, ada baiknya kita bicarakan di rumahku yang hangat dan nyaman."
Rukia tercengang, begitu juga teman-temanya. Renji yang sudah bisa menguasai diri, menawarkan Rukia untuk digendong, mengingat kaki Rukia bersimbah darah. Tapi Ichigo langsung memberikan Nel digendonganya, dan tanpa bicara lagi Ichigo tiba-tiba menggendong Rukia dipunggungnya.
Mereka berjalan dalam diam, tapi akhirnya Rukia berbisik pada Ichigo bagaimana mereka bisa sampai ke gua tadi.
"Tiba-tiba ada gemuruh dan munculah jalan ke arah air terjun itu, jadi aku tak perlu repot-repot kepanasan dia air itu. Kukira kau berhadil membuka jalan untuk kami, Rukia?"
"Ya memang, dingin sekali ya. Tadi aku dikeroyok sekumpulan mayat-mayat hidup," kata Rukia agak keras suapya teman-temanya yang lain bisa mendengar. Rukia mengeratkan peganganya di leher Ichigo.
"Kau diserang Inferi?" tanya Hitsugaya tampak kaget.
"Hahaha! Inferi suka sekali pada seorang gadis," komentar kakek itu tiba-tiba.
"Nah, ini dia rumahku. Kuharap ini tidak terlalu kecil dibandingkan rumah Kuchiki," kata kakek itu lagi, dia tersenyum nyengir, tak peduli seberapa ompongnya dia.
Setelah Rukia diberi baju ganti (kimono putih polos seperti yang biasa dia pakai dirumah), Rukia segera bergabung ke Ichigo dan yang lain utnuk menuntut penjelasan dari si kakek gila.
"Kenapa kau bisa ada disini kek?" tanya Ichigo memulai dnegan nada kurang sopan.
"Karena ini rumahku, anak muda,"
"Jangan bilang kalau anda adalah quincy yang kami cari?" tanya Hitsugaya tiba-tiba.
"Jika kalian mengharapkan orang lain, sayangnya itu benar."
Mereka tercengang, Ichigo entah bagaimana bisa langung bersamaan saling pandang dengan Rukia. Rukia sudah diobati sana-sini, tapi dia masih tampak pucat. Ichigo merasa tidak terima, seharusnya kalau memang kakek ini yang dicari-cari, dia bisa saja langsung mengajak mereka menemui pedangnya tanpa membuat Rukia terluka.
"Jadi kenapa kau tidak langsung mengajak kami kemari sejak awal?" tanya Ichigo menahan nadanya tidak meninggi.
"Hahaha! Bagaimana bisa aku mempersilahkan dengan senang hati segerombolan shinigami untuk minum teh dirumahku begitu saja?"
"Tapi gara-gara kau Rukia terluka, tahu tidak!" bentak Ichigo akhirnya. Rukia menyodok tulang rusuknya agar diam, Ichigo cemberut.
"Maaf saja, tapi aku meberikan perlindungan terbaik agar tak sembarang orang bisa memasuki daerah rumahku. Kalau boleh aku bertanya, apa sebenarnya tujuan kalian mencari orang tua tak berdaya seperti aku?"
"Mencari pedang, untuk menebas leher misalnya?" jawab Ichigo cepat, kentara sekali ditujukan pada si kakek.
Kakek itu tertawa terbahak-bahak lagi, "Kau ini kurang ajar sekali ya, tapi tidak apa-apa, tak apa-apa. Aku suka keberanianmua, nak. Yah, kurasa kita sudah saling tahu sekarang. Sebaiknya kita makan dulu, lalu bicara lagi?" tawar kakek itu sambil tersenyum.
Ichigo tidak tahu apa kakek ini berpura-pura atau tidak, dia terlihat sangat tenang menghadapi mereka semua. Ingin rasanya Ichigo mengguncang-guncangkan kakek itu suapaya bisa menunjukan dimana pedang itu disimpan, tapi dia mendapat glare dari Rukia terus.
"Siapa namamu kek?" tanya Rukia tiba-tiba, tampak seperti menanyakan nama seorang anak TK.
"Reiko Ren, panggil saja aku kakek oke?" katanya. Rukia tersenyum mendengarnya, lalu mengangguk.
Tiba-tiba ada yang memanggil, "Kakak~" Reichi berlari dan jatuh dipelukan Rukia. Menggeliat-geliat pelan dengan manja, membuat Ichigo ingin menonjoknya.
Setelah makan, ternyata si kakek hanya ingin bicara pada Hitsugaya dan Ishida. Ichigo kesal setengah mati, karena kakek itu menyuruh mereka menikmati apa saja yang ada di rumah itu. Rumahnya memang besar bergaya jepang seperti rumahnya Rukia, bahkan katanya ada pemandian air panasnya juga. Di halaman depan tampak hamparan kebun sayur dan bunga yang ditata rapi. Ichigo yakin seharusnya kakek itu seorang pensiunan kalau di dunia nyata. Siapa sangka dia seorang quincy.
Setelah agak siang, ternyata awan mendung lagi membawa angin yang agak besar. Tapi sama sekali tidak menandakan akan turun hujan. Ichigo sering merasa kedinginan sejak di gunung ini, hawanya dingin terus. Karena itu Ichigo memutuskan meninggalkan Renji dan Hisagi yang terlelap tidur dari tadi di kamar. Beruntung Nel sudah tidur berpelukan dengan Kon di kamar sebelah saat Ichigo mengintipnya.
Ichigo menguap lebar saat dia melihat dibalik pintu belakang, ternyata memang ada sumber air panas disana. Dengan semangat agak bangkit, Ichigo segera mengambil handuk sembarangan yang ada didekatnya dan menutup pintu belakang agar tak diganggu.
Setelah melepas pakain shinigaminya, dia hanya mengenakan handuk dan segera menceburkan diri ke kolam yang dikelilingi pohon bambu itu. Yah, rasanya pegal ditubuhnya agak berkurang. Malah rasanya Ichigo senang sekali bisa menikmati hal senormal ini ditengah perang. Ichigo bersandar pada batu besar di tengah kolam itu, tapi instingnya sebagai shinigami membuatnya menoleh ke balik batu.
Hatinya mencelos, tiba-tiba saja jantungya berdengup kencang sekali sampai tubuhnya berkeringat. Rukia bersandar pada batu itu juga, dengan mata terpejam––tidur. Beruntungnya, Rukia––Ichigo tidak sengaja melirik ke tubuhnya, masih menggunakan handuk putih terlilit dari dada sampai––Ichigo tak sanggup melihat lagi. belum pernah Ichigo melihat tubuh Rukia sejelas ini, atau tepatnya tubuh cewek.
Gawat, Ichigo mau mimisan.
TBC
RnR?
