MYUNGYEOL FANFICTION - THE PRINCE

Title : THE PRINCE

Chapter: 3/?

Pairing: Myungyeol, Myungstal

Character: Myungsoo, Sungyeol, Krystal Jung, and many more to come

Rating : T+

warning (s) : a bit swearing here and there, typos, boys love atau yaoi (ofc), het!pair, penggantian nama keluarga Myungsoo

inspired by: Manhwa "Goong" atau k-drama "Princess Hours" tapi cerita akan bener-bener beda meskipun setting dan beberapa bagian akan terdapat persamaan.

disclaimer: Sayangnya Emak Sungyeol bukan punya saya tapi punya suaminya, KIM MYUNGSOO, (dan pastinya orang tuanya) tapi mereka milik kita bersama XDD

THE PRINCE - Chapter 3

Pemandangan malam kota Seoul tidak pernah terlihat seindah ini di mata siapapun yang bisa memandangnya termasuk dengan Sungyeol yang duduk menghadap di balkon yang dikelilingi dengan kaca-kaca di tempat ia tinggal selama lebih dari seminggu ini di jantung negeri berjuluk negeri tempat bangkitnya sang harimau Asia itu.

Lampu-lampu kota yang terlihat dari tempat ia terdiam saat ini terlihat seolah-olah berkerlap-kerlip layaknya bintang di langit yang sayangnya tertutup oleh awan. Kaca-kaca tembus pandang gedung pencakar langit yang menjulang di cakrawala kota Seoul menampilkan kegiatan di dalamnya yang tak kenal waktu layaknya sebuah akuarium hidup raksasa.

Namun, sayangnya mata bulat itu tidak pernah sedikitpun terfokus kepada keindahan yang ada di hadapannya itu. Pandangannya tampak menerawang pada panggilan yang datang beberapa saat yang lalu.

FLASHBACK

" Bagaimana kabarmu, yeol?" suara lembut itu terdengar dari seberan sana. Sungyeol tersenyum lembut mendengarnya. Suara itu, suara lembut yang menenangkan dirinya yang selalu terjaga dari semua mimpi buruk yang hinggap dalam mimpi-mimpinya selama sembilan tahun.

" Aku tidak tahu, hyung. Sepertinya kembali ke Seoul adalah kesalahanku yang paling besar, hyung. Seharusnya kau menghentikan keinginanku untuk pergi ke tempat ini," jawabnya. Ia tahu kalau pihak di seberang sana pasti bisa mendengarnya dengan sangat jelas meskipun suara lirihnya hampir menyerupai sebuah bisikan yang tersamarkan deru angin.

" Bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali, yeol? Aku tahu dengan jelas kau pasti akan menyesali keputusan untuk datang ke sana. Tetapi kau harus menentukan jalan di depanmu. Apakah kau akan kembali dan hanya menerima nasib itu, ataukah kau harus maju dan menyelesaikan masalah itu. Aku hanya menyarankan kedua hal itu, dan inilah pilihanmu sekarang," balas suara di seberang sana lagi dengan tenang.

Suara yang lembut di seberang sana memberikan sedikit ketenangan untuk Sungyeol setelah berhari-hari lamanya ia berperang di dalam pikirannya sendiri yang nyaris menyerupai sebuah badai yang tengah mengamuk dengan ganasnya.

" Tapi aku tahu dengan pasti kau sudah mengetahui keputusan yang akan aku ambil bahkan sebelum aku memikirkannya. Aku tahu arti senyummu saat aku datang padamu beberapa bulan yang lalu."

" You're like an open book for me, yeol. I really know what the real you, yeol. I know it for sure. Hadapi apa yang ada di hadapanmu, yeol. Aku tahu kau bisa melewatinya. Jika pada akhirnya kau menyerah, kembalilah. Tempat ini juga rumahmu, bahkan tempat ini terasa sangat sepi tanpa semua kerusuhan yang kau timbulkan bersama para trouble maker cilik itu." Tawa lembut yang merdu sekali lagi terdengar di akhir kalimat itu.

Mau tidak mau sudut bibir mungil itu terangkat membentuk sebuah lengkungan manis mendengarnya. Bahkan lama kelamaan senyum itu berubah menjad tawa kecil mengingat tempat yang bahkan belum sebulan ini ia tinggalkan untuk menyelesaikan semua masalahnya di masa lalu.

Those rascals.

" Aku tahu, hyung. Aku berjanji untuk kembali, hyung. Hanya disanalah rumahku berada, tidak di London, California atau bahkan Seoul. Aku akan kembali apapun hasilnya dan akan melepaskan semua keterikatanku dengan tanah ini," balas Sungyeol dengan mantap.

" Jangan menjanjikan hal yang tidak bisa kau tepati, Sungyeol-ah. Kita sama-sama tahu kalau itu adalah kemungkinan terkecil keputusanmu."

" Tidak, hyung. Aku akan melakukannya," jawab Sungyeol dengan mantap.

" Well, keputusan itu ada di tanganmu. Kabari aku jika terjadi sesuatu, segera!"

" Aye, aye, sir." Sebelum sambungan di seberang sana benar-benar terputus, bibir mungil milik Sungyeol megulum senyum indah miliknya yang hanya bisa dilihat oleh segelintir orang-orang.

" Kutunggu teleponmu, Sungyeol-ah." Secara sepihak sambungan itu kemudian terputus. Namun, senyum indah yang sejenak diulaskan oleh bibir mungil itu berganti menjadi sebuah senyum getir yang terasa tidak pas di wajah menawan itu.

FLASHBACK OFF

Sebuah helaan nafas berat terdengar menjadi suara satu-satunya di dalam ruangan apartemen itu selain suara detik jam yang terasa menghakimi karena terbuangnya waktu.

" Apakah semua yang kulakukan ini memang sudah seharusnya kulakukan, ayah? Apakah aku bisa keluar dari negara ini dengan selamat, sampai semua ini berakhir, ayah?" monolognya dalam keheningan.

Kepalanya yang mulai terasa berat dengan semua badai yang bersarang di dalamnya, ia senderkan kepalanya pada kedua lututnya yang tertekuk.

" Terkadang aku menyesalkan kenapa aku harus terlahir dari kalian, ayah-ibu. Tetapi aku lebih sering menyesalkan kenapa darah penuh ambisi itu mengalir di dalam diriku. Tahukah kalian bila otak bodohku ini sempat menginginkan semua darah yang mengalir di dalam tubuhku ini tersedot habis dan mengalir di tempat yang paling menjijikkan?" lanjutnya.

" Bahkan sampai sekarang pemikiran hitam itu masih saja meronta untuk dibebaskan dari balik akal sehatku tempatku mengubur dalam-dalam pikiran itu. Tidak ada yang bisa melenyapkannya, sejauh apapun aku berusaha dan sejauh apapun aku mengalihkan perhatianku, pikiran itu selalu datang dan menguasai alam bawah sadarku."

Tidak ada air mata yang jatuh dari mata bulat indah itu tetapi sebuah senyum miris yang seakan mengejek nasibnya sendiri itu berada di sana ketika namja itu beranjak dari duduknya dan memandang langit malam musim panas Seoul yang dipenuhi oleh bintang yang berkilauan.

' Well, sepertinya besok akan menjadi hari yang panjang.'

Sama seperti musim panas pada umumnya, pagi datang menyapa kota Seoul dengan dengan sinar matahari hangat yang membajir. Sebagian besar warga kota Seoul tengah bersiap menyambut outing yang sangat mereka nantikan di pertengahan musim panas ini.

Begitu juga dengan pangeran mahkota kerajaan Korea yang saat ini tengah bersiap untuk menyambut pertengahan musim panas yang biasanya akan ia habiskan untuk berkuda bersama beberapa teman dekatnya dan tunangannya tentu saja.

Jarum jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi menjadi penandanya untuk segera berangkat. Seperti biasanya, mobil sedan berwarna hitam mengkilap itu sudah menunggunya di depan gerbang kediamannya. Yang telah menjadi bagian dari protokol rutinitas sehari-harinya yang mewajibkan dirinya harus selalu berada dalam pengawasan para pengawal ketika berada di luar kediamannya.

Ketika mobil yang ia tumpangi telah melaju dengan kecepatan rendah meninggalkan tembok panjang istana, sebuah mobil yang memiliki warna yang serupa dengan warna wine masuk melewati gerbang istana.

Warna yang tidak biasa itu membuat sang pangeran mahkota mengalihkan pandangannya dari jalanan di hadapannya dan untuk sejenak berpikir siapa tamu istana yang datang sepagi ini dan untuk urusan apa tamu itu datang.

Namun, secepat pengalihan itu datang, ketidak pedulian menjadi jawaban akhir dari ketertarikan itu. Myungsoo pun kembali mengalihkan pandanganya menatap jalanan kota Seoul yang mulai ramai.

Sayang sekali, pangeran mahkota kesayangan kita itu terlalu cepat menfokuskan kembali pandangannya ke depan, padahal jika ia bertahan lebih lama, ia pasti melihat sosok yang akan sangat ia kenali turun dari mobil berwarna unik itu.

Pemandangan luas yang menyapa Sungyeol ketika tiba di tempat ini, mau tak mau membangkitkan banyak kenangan yang sebagian besar terus menghantuinya.

Sungyeol pun melangkahkan kakinya dengan pasti menembus lorong-lorong yang membuat rasa sesak di dadanya datang berpuluh-puluh kali lipat kuatnya daripada saat ia datang untuk pertama kalinya ke negeri tempat ia dilahirkan setelah 6 tahun berada di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sampai pada lorong terakhir tempat ia seharusnya berada di sana, seorang lelaki yang berumur mendekati 60 tahunan datang menghampirinya, rambut yang mulai sepenuhnya berubah warna menjadi perak itupun menyambutnya dengan senyuman yang terkembang lebar.

Belum sempat Sungyeol memberikan salamnya, lelaki tua itu memeluknya dengan erat.

" Selamat datang kembali, Sungyeol-gun." Sungyeol yang terkaget-kaget mendapatkan salam tiba-tiba itu hanya bisa berdiri mematung selama beberapa detik.

Salah satu tangan Sungyeol terangkat dan menepuk lembut pundak lelaki berumur yang akhirnya bisa ia jumpai juga. Salah satu bagian konsisten dari masa lalunya. Seseorang yang selalu menjadi pengingat akan masa lalu serta jati dirinya yang sebenarnya.

" Senang sekali akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan saya untuk bertemu dengan anda. Paling tidak dengan ini seandainya Tuhan memanggilku kembali, aku tidak akan menghantui orang-orang karena permintaan terakhir saya tidak bisa tercapai," canda lelaki paruh baya itu dengan senyum ramahnya.

" Paman bisa saja. Lagi pula pasti paman masih memiliki kesempatan untuk bertemu denganku lagi. Masih ada waktu 40 tahun bagi paman untuk meninggalkan dunia," balas Sungyeol dengan senyum tipisnya.

" Ah, apakah paman ada di dalam, Sekertaris Han?" tanya Sungyeol lagi.

" Ah, saya lupa anda memiliki janji dengan beliau. Silahkan masuk, beliau sudah menunggu kedatangan anda. Maafkan saya sudah menghambat pertemuan anda dengan beliau," kata sang lelaki paruh baya itu.

" Tidak apa, paman Han. Aku justru senang bisa bertemu lagi dengan paman Han setelah sembilan tahun kita tidak bertemu," balas Sungyeol dengan senyum tipis miliknya.

" Anda berada dimana saja se..." belum sempat lelaki tua itu melanjutkan kata-katanya, isyarat Sungyeol yang menaruh telunjuknya pada bibir merahnya membuat sekertaris Han terdiam dan memandangnya dengan heran.

" Tolong rahasiakan kedatanganku kepada seluruh pegawai senior, paman. Aku tidak akan muncul sampai benar-benar saatnya tampil. Akan ada banyak pertunjukan besar selama kehadiranku di sini," kata Sungyeol dengan misterius.

Sungyeol pun dengan segera melanjutkan perjalanannya menyusuri lorong tersebut agar segera sampai di tempat tujuannya, sekaligus menghindar dari pandangan mata yang bisa menyusahkannya dengan melihat kehadirannya sebelum waktunya bom untuk di jatuhkan.

Sekertaris Han hanya menatap punggung Sungyeol yang menjauh dengan pandangan yang nanar. Sedikit rasa khawatir terselip di dalamnya, tetapi rasa bersalah terlihat jauh mendominasi tatapan itu.

Hingga saat ini pun tidak bisa melakukan apapun untuk pemuda yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri itu. Terlebih saat pemuda itu berada di dalam kesulitan yang menjebaknya.

Saat itu, ia hanya bisa diam ketika bocah laki-laki kecil berumur 10 tahun yang bahkan hanya bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain itu menjadi sasaran dari intrik politik yang kejam. Padahal tidak pernah sekalipun bocah itu mengetahui semua intrik yang terjadi di balik tembok rapat ini.

Dan setelah sembilan tahun ia menyesali ketidakberdayaannya untuk melindungi bocah itu, kini ia menyadari dengan jelas akibat dari semua itu pada namja yang baru saja berlalu dari hadapannya. Sorot matanya memperlihatkan adanya kesedihan yang mendalam meskipun sebuah tekad berkobar di dalamnya. Tekad untuk menyelesaikan semuanya.

Ia sudah hidup selama 60 tahun tetapi tidak pernah ia menemukan sorot mata sedalam itu. Terlebih pada orang yang selalu ia anggap sebagai cucunya sendiri. Ia pun menghela nafasnya dan berbalik menuju tempat pemuda itu baru saja menghilang.

Myungsoo menutup pintu di belakangnya dengan debuman yang cukup keras. Emosinya sudah hampir memuncak hingga bisa saja ia menyerang apapun yang ada di depannya. Setengah jam yang lalu ia dipanggil ke ruang kerja ayahnya.

Bahkan mobil yang ia tumpangi pun belum sempat menyentuh tempat tujuannya, dan ia sudah harus kembali lagi ke kompleks kediaman pribadi anggota keluarga kerajaan atau lebih tepatnya ke ruang kerja sang raja.

Tapi, apa yang ia dapatkan di dalam ruangan itu, seseorang yang selalu ia anggap pengkhianat duduk di hadapan ayahnya, sang raja. Berani-beraninya dia muncul setelah mngekhianati janji yang mereka ucapkan di masa kecil dengan meninggalkannya sehingga ialah yang terjebak dalam kekuasaan yang mengungkung pergerakannya.

Sosok itu hanya duduk diam di salah satu kursi yang ada di hadapan sang raja ketika Myungsoo masuk ke dalam ruangan. Bahkan tidak sekalipun namja itu menoleh kepadanya.

Dan setelah seperempat jam ia berada di ruangan itu, waktu seakan sudah berjalan lebih dari enam jam. Obrolan di dalam ruangan itu hanyalah berisi pembicaraan kriptik antara ayahnya dengan namja itu, seakan ia tidak pernah berada di sana.

Baru setelah beberapa menit berlalu dan pembicaraan rahasia itu selesai, barulah sang raja memutuskan untuk memberitahukan maksud keberadaannya di dalam ruangan itu. Dan berita yang disampaikan oleh sang raja membuatnya kaget setengah mati layaknya petir yang datang di siang bolong.

Ia yang nyaris tidak bisa mengendalikan dirinya, merasa harus segera keluar dari ruangan itu sebelum ia meledak dan meluapkan semua amarahnya. Myungsoo masih terdiam di depan pintu tempat ia keluar tadi selama beberapa saat sampai akhirnya suara halus pintu yang tertutup menyadarkannya.

Myungsoo pun segera berbalik, bersiap mengkonfrontasi namja yang semenjak tadi berada dalam satu ruangan bersamanya.

" Apa maksud semua ini, Lee Sungyeol? Bahkan setelah kau pergi tanpa meninggalkan jejak apapun, kini kau kembali dan berniat mengembalikan semuanya pada posisi semula, wahai sang pengkhianat?" selama beberapa saat mereka hanya bertahan pada posisinya masing-masing.

Sungyeol yang mengarahkan pandangannya pada dinding kayu berukir di sebelahnya, sedangkan Myungsoo pada wajah orang yang ia anggap sebagai pengkhianat kepercayaannya itu.

Myungsoo menunggu bagaimana reaksi Sungyeol ketika ia memuntahkan satu kalimat yang sejak dulu ingin ia ucapkan. Ketika Sungyeol menoleh dan membalas tatapan Myungsoo dengan lembut tetapi penuh kesedihan.

" Sayang sekali selama enam, ah tidak, sembilan tahun ini kau menganggapku sebagai seorang pengkhianat. Padahal selama sembilan tahun bahkan sebelum aku menghilang dari hadapan kalian, aku menganggapmu sebagai seorang pembunuh."

_ T.B.C _

A/N: Hai hai! maaf baru sempat ngasih proper author note sekarang muehehehehehe... gimana ceritanya? menarik nggak? sebenernya ff ini udah di update di fb author... cuma karena disana lebih privat jadi akhirnya mutusin buat di upload juga di ffn... ukkhhh... makasih banget yang udah stay di ff ini XDD

makasih banget buat dumb-baby-lion yang udah stay di sini dari awal banget... buat juga makasih banget udah nyempetin baca dan review meskipun ini bakalan jadi ff yaoi... maaf yaaa...

akhir kata, ppyong 3