"Terima kasih karena sudah mau membantuku membawakan belanjaan makan malam, Kuroo-san!"

"Ah, tidak... tidak apa-apa. Ah, omong-omong, Yamaguchi-kun.."

"Iya?"
"Kau yakin, dari tadi tidak merasa kalau ada seseorang yang mengikuti kita?"

"E-eh? Tidak, aku tidak merasakan apapun..."

"Hmm... mungkin hanya perasaanku saja, ya? Hahaha.."

.

.

.

Yang pertama, itu bukan perasaan Kuroo saja.

Yang kedua, semua orang—bahkan pembaca cerita ini sekalipun, pasti sudah bisa menebak siapa orang yang sedari tadi mengikuti Kuroo dan Yamaguchi.

Ya, Tsukishima Kei—kelas satu SMA Karasuno, seorang Middle Blocker. Saat ini sedang memata-matai Kuroo yang sedang melakukan modus terhadap temannya, bernama Yamaguchi Tadashi. Tsukishima Kei seharusnya terjebak dalam pertandingan campuran yang merupakan ide dari Sugawara. Tetapi, dengan beberapa cara jeniusnya, Tsukki berhasil melarikan diri.

...Meski 'cara' nya itu berujung pada...

"Ternyata Tsukishima tidak berbohong... si Kuroo itu memang berniat melakukan sesuatu pada Yamaguchi!"

"Kita harus melindungi Yamaguchi! Noya-san, kau ada ide?"

"Belum ada, Ryuu! Tetapi, bagaimana kalau..."

"H-Hey, lebih baik, kita kembali saja, ya..." Asahi berusaha membujuk kedua juniornya.

"Sssst! sudah diam! kalau berisik, nanti ketahuan!" Sugawara memberi sinyal untuk mereka berdua agar diam. "Kita tidak tahu apakah Kuroo orang yang baik, atau tidak... kalau dia ternyata bukan orang jahat, kurasa tidak masalah kalau Yamaguchi bersama dia—"

"TIDAK BOLEH."—adalah jawaban Daichi dan Tsukki secara bersamaan.

"...Loh? Kenapa?"

"Sejak pertama kali aku bersalaman dengan mahluk bengis itu, aku tahu..." Daichi mengingat pertemuan pertama dirinya dan sang kapten dari Nekoma. "...Dia itu orang yang licik!"

"Sugawara-san, 'Kuroo Tetsurou' dan juga 'baik hati' itu tidak mungkin bisa disatukan dalam kalimat yang sama. Yamaguchi terlalu polos untuk menyadari hal itu, dan aku tak akan membiarkan Yamaguchi jatuh ke dalam perangkapnya!" Tsukki ikut memberikan pembelaan.

Sugawara hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia tidak menyangka bahwa Tsukishima akan lari—secara literal. Tsukishima lari kabur begitu saja dari gedung olahraga ketika dirinya menyarankan pertandingan campuran, membuat semua anggota Karasuno—minus Ennoshita, Narita dan Kinoshita yang ditahan oleh pelatih Ukai—mengejar dirinya. Dan ketika Tsukishima sudah berhenti berlari, tepat di dekat supermarket tempat Kuroo dan Yamaguchi berbelanja, ia menjelaskan semuanya kepada anggota Karasuno.

(Dan hal itu membuat Hinata mengerti, kenapa Tsukishima terlihat seperti setan ketika dirinya bertanya aneh-aneh pada Yamaguchi, apalagi itu suruhan Kuroo.)

Anehnya, semua anggota Karasuno setuju dan malah jadi ikut memata-matai Kuroo dan Yamaguchi. Tsukki bersyukur, sih, berarti 'pasukan pelindung Yamaguchi' bertambah, dan dia bisa meminta bantuan mereka kapan saja kalau Kuroo mulai bertindak macam-macam pada Yamaguchi. Tetapi, mereka bisa diandalkan atau tidak, ya...

"Yamaguchi terlihat senang."

Ah, suara siapa itu? Tsukki menoleh sambil menatap sinis kepada siapapun yang tadi berbicara. Oh—suara si raja, rupanya.

"Apa maksudmu, senang? Yamaguchi memang baik kepada semua orang, dia tersenyum dan bersikap ramah pada Kuroo tidak akan jadi hal aneh." Tsukki menjawab dengan ketus.

"Oh. Benar juga.." Kageyama tidak menggubris nada ketus dari Tsukishima. "Tapi, bukankah jarang Yamaguchi bersikap sesantai itu di depan orang yang baru ia kenal? Di depan Sugawara-san atau Daichi-san saja, ia masih kaku, bukan?"

...Mengejutkan.

Bukan, bukan mengejutkan karena Kageyama—untuk pertama kalinya—bisa mengucapkan sesuatu yang masuk akal dan menggunakan otaknya untuk sesuatu yang tidak berhubungan dengan voli. Tetapi, mengejutkan karena apa yang dikatakan Kageyama itu benar, dan Tsukishima baru menyadarinya.

Kuroo dan Yamaguchi tidak berbicara banyak selama ini. Mungkin hari ini adalah pertama kalinya mereka dapat berbincang lama secara tidak formal, dan Yamaguchi entah kenapa sudah bisa bersikap ramah dan tidak kaku kepada Kuroo. Padahal dengan para senior yang sudah lama bersamanya saja, Yamaguchi masih sulit untuk bersikap seperti itu...

"Mungkin Yamaguchi juga menyukai Kuroo-san? Makanya ia bisa bersikap begitu!"

TSIING!

Hinata langsung merinding ketika ia melihat Tsukki menatap gelap ke arah dirinya—persis seperti penyihir yang memerlukan tumbal untuk ritual panjang umurnya. Hinata dengan cepat menoleh dan bergumam, 'Tidak deng, Yamaguchi tidak mungkin suka Kuroo-san...' dengan wajah yang pucat.

"Hey, mereka sudah bergerak dari posisi mereka! Sepertinya minuman kaleng yang mereka beli sudah habis dan mereka sudah selesai beristirahat..."

"Laporan yang bagus, rekan Ryuu! Laporkan lagi kalau kau melihat gerak gerik mencurigakan dari Kuroo Tetsurou!"

"Baik, rekan Noya!"

Apaan, mereka berakting seolah mereka itu detektif dan mata-mata...

"Mereka berjalan kembali menuju sekolah, sepertinya..." Sugawara melihat juniornya (dan juga Kuroo) berjalan menuju tanjakan yang akan membawa mereka kembali ke sekolah. "Apa kita akan tetap mengikuti mereka? Atau kita kembali duluan saja dengan rute yang tadi Tsukishima ambil?"

"Mungkin sebaiknya kita kembali duluan saja," jawab Daichi. "Kalau mereka kembali dan melihat kita tidak ada, bukankah mereka akan curiga?"

"...Benar juga..." Sugawara mengangguk—setuju pada jawaban Daichi. "Hey, kalian! Ayo kita kemba—"

"—Mereka tidak berjalan menuju sekolah..."

"Eh?"

"Daichi -san, Suga-san!" Noya mengarahkan jari telunjuknya dengan dramatis—ke arah Kuroo dan Yamaguchi yang tiba-tiba berbelok ke sebuah jalan yang tidak diketahui. "Mereka sepertinya tidak berjalan kembali ke sekolah!"

"...EHHH?!"

.

.

.

"Jalan pintas?"

"Ah, iya... sebenarnya yang tahu hal ini hanya aku dan Kenma, jadi ini rahasia, oke?"

Kuroo menaruh telunjuknya di depan bibir yang tersenyum; gestur yang menandakan bahwa Yamaguchi tidak boleh memberitahu siapapun akan jalan pintas ini. Yamaguchi mengangguk—dan ia kembali fokus kepada jalanan yang tidak ia kenal. Berbeda dengan tanjakan yang harusnya ia ambil untuk pulang, jalanan ini lurus dan datar. Sepanjang jalan dibatasi pagar karena tepat di bawah, adalah sungai yang mengalir perlahan. Pagar, aspal, air, bahkan rerumputan saat ini seperti disiram dengan cat berwarna oranye—Yamaguchi baru sadar, bahwa hari ternyata sudah semakin sore. Dan matahari mungkin akan terbenam, tidak lama lagi.

"Sebenarnya, ada beberapa alasan kenapa aku membawamu melewati jalan pintas ini..."

"Eh?" Yamaguchi kembali menoleh ke arah Kuroo. "Bukannya agar kita sampai ke sekolah lebih cepat?"

"Haha! Itu memang salah satu alasannya, tapi.. aku punya satu alasan lain, sih."

"Alasan apa?"

"Akan kuberi tahu saat kita sudah sampai disana, tepat di jembatan."

Tidak jauh dari posisi mereka saat ini memang ada jembatan; mungkin jembatan kecil itu yang akan membawa mereka cepat menuju sekolah. Tidak ada yang aneh bagi Yamaguchi, sungguh—mungkin Yamaguchi memang terlalu polos..

...Tetapi tidak dengan Tsukishima (dan kawan-kawan) yang masih membuntuti mereka saat ini.

"A... apa-apaan?! Jembatan? Jangan-jangan, Kuroo-san berniat mendorong Yamaguchi jatuh ke sungai—"

"Hinata bego! Tidak mungkin seperti itu, 'kan?! Pasti dia mau memberitahu Yamaguchi teknik rahasia dari Nekoma—"

"Euh... yang paling masuk akal di situasi seperti itu hanya... 'menyatakan cinta'... bukan?"

"...Ah."

Kata-kata Sugawara sukses membuat semuanya terdiam.

"...YAMAGUCHIII!"
"TUNGGU, TENANG DULU, KALIAN BERTIGA!"

"Tapi, Sugawara-san! Kita bahkan belum tahu, apa si Kuroo ini orang baik atau bukan—"

"Maka dari itu tenang dulu, Nishinoya!"

"Bagaimana kalau dia melakukan hal yang aneh kepada Yamaguchi?!"

"Tanaka, mana mungkin ia akan melakukan hal aneh di tempat umum—"

"...Aku siap masuk penjara karena kasus pembunuhan."

"TSUKISHIMA?!"

Sugawara pening. Dia tak menyangka bahwa anggota Karasuno akan menjadi se-overprotective ini jika salah satu anggotanya sedang menjadi target modus seseorang, apalagi yang dikenal licik dan penuh tipu muslihat. Sugawara melihat Yamaguchi dan Kuroo yang sudah semakin dekat dengan jembatan—dan langkah keduanya terlihat sedikit melambat.

"Sudahlah, kalian bertiga! Kalau kalian berisik, kita malah jadi tidak bisa dengar apa-apa, bukan?!"

"T-tapi.."

"Mereka sudah semakin menjauh—ah! Mereka sudah di jembatan!"

Semuanya kembali fokus kepada Kuroo dan Yamaguchi. Ah, benar—mereka sudah di jembatan. Dan mereka berhenti berjalan.

Sosok Kuroo terlihat mengatakan sesuatu pada Yamaguchi—sayangnya, dengan jarak mereka saat ini, tak ada satupun yang bisa mendengar kata-katanya dengan jelas. Dengan latar langit jingga dan juga matahari yang sebentar lagi akan digantikan oleh bulan, Yamaguchi menatap Kuroo tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.

Tsukishima memperhatikan dengan seksama. Apa? —Kenapa? Yamaguchi terlihat tidak bisa berpaling dari Kuroo. Belum lagi, itu... Tsukishima melihat ada rona di wajah Yamaguchi. APA YANG SEBENARNYA KUROO KATAKAN?!

Sungguh, Tsukki mulai frustasi.

"Hey! Lihat, dia—"

Mata-mata dari Karasuno seketika bersiap untuk bergerak, tepat ketika mereka melihat Kuroo menyentuh sisi wajah Yamaguchi dengan tangan kanannya—membuat Yamaguchi sedikit tersentak, dan oh Tuhan—Tsukki melihat rona di wajah Yamaguchi semakin merah.

Kuroo tidak hanya menyentuh wajah Yamaguchi saja. Perlahan, ia mendekat...

...Mendekat pada wajah Yamaguchi yang masih menatapnya, terkejut dan kebingungan.

—Oh tidak. Tentu saja tim Karasuno tidak bisa diam saja.

"BERHENTIIII!"

Dan dengan membabi buta, mereka berlari ke arah Kuroo dan Yamaguchi—membuat suasana romantis di antara keduanya lenyap, tanpa sisa.

.

.

.

"Jadi. Bisa tolong jelaskan kepada kami apa arti semua ini, hmm?"

Kuroo melirik ke arah lain, dan dengan susah payah menutupi sebelah matanya yang kini berwarna biru. Bukan, itu bukan karena make-up. Itu karena hadiah penuh kasih dari kapten Karasuno. Begitu juga dengan luka memar lainnya, semuanya hadiah dari anggota Karasuno.

"Aku tidak... melakukan apa-apa?"

"Kenapa ada tanda tanya di akhir kalimatmu?" Sugawara menarik satu alisnya ke atas. "Kenapa kau menyentuh wajah Yamaguchi? Kenapa kau mendekatkan wajahmu, hmm?"

Tsukki tersenyum penuh kemenangan di belakang. 'Rasain lo'. Kalau dia sendiri tidak bisa membuat Kuroo jera, maka ia akan membuat Kuroo merasakan seramnya kemarahan keluarga burung gagak yang murka.

"T-tunggu dulu, kalian semua salah paham!"

Semuanya berhenti menginterogasi Kuroo ketika 'korban'—atau Yamaguchi—berbicara, memberikan pembelaan.

"Kuroo-san hanya mengatakan bahwa ia selalu melihat aku berlatih!"

'Itu berarti dia adalah stalker yang suka melihatmu diam-diam, bukan?!'

"Dia memberitahu apa kekuranganku dan apa yang harus aku lakukan. Dia juga memujiku karena sudah berlatih keras!"

'DIA HANYA GOMBAL, GOMBAL!'

"Oh, dan soal menyentuh wajah, dia hanya memperhatikan memar ringan yang ada di dahiku karena terkena bola kemarin—"

'DIA MODUUUSSS!'

"Itu saja, kok!"

—Yamaguchi, kamu terlalu polos.

"Kamu tidak berbohong dan berusaha melindungi lelaki ini 'kan... Yamaguchi?"

"Tidak, TsukkI! Aku tidak bohong!"

"Baiklah... kalau begitu, kau kami lepaskan hari ini." Daichi melepaskan lengan Kuroo yang semenjak tadi ia tahan. "Tapi, kalau kau ketahuan menyentuh anggota tim kami lagi..."

"...Maka kau akan mati." Sugawara melanjutkan kalimat Daichi—dan Kuroo sukses merinding.

Sayang sekali, sepertinya akan jadi lebih sulit mencari kesempatan untuk mendekati Yamaguchi lagi. Tetapi Kuroo bisa tersenyum hari ini—ada satu hal yang mereka semua tidak ketahui. Satu hal yang hanya dia, dan Yamaguchi yang mengetahuinya. Dan ia bersyukur karena Yamaguchi tidak membicarakan hal itu saat memberinya pembelaan tadi.

Yamaguchi mengikuti teman-temannya yang perlahan melangkah pergi, kembali menuju ruang kelas dimana mereka menginap selama pelatihan musim panas. Namun sejenak, ia menoleh ke arah Kuroo—yang ternyata masih menatap dalam ke arahnya. Yamaguchi tidak bisa menghindari rona merah yang muncul di wajahnya, bersamaan dengan Kuroo yang menggerakkan mulutnya tanpa suara..

'Aku menunggu jawabanmu, Yamaguchi Tadashi.'