Disclaimer: Vocaloid bukan milik Mikan.


balas review!

ru-nyan: yosh! ^0^/

MitsuKoudo Arikuchiki: Mikan gak bisa janji soal manjangin chapter, gomen Q^Q

Furika Himayuki: Miku ama Rin itu sebenarnya temenan tapi juga saingan /gakngerti Neru itu temen Rin juga ^ ^

aquathyst: terima kasih Aqua-san! X3

Kagamine 02 Story: maaf, maaf... x_x"

Kurotori Rei: Ok!

Billa Neko: terima kasih atas sarannya Billa-san! Ide Billa-san juga Mikan masukin ke sini lho! ^^


Lanjut ke ceritanya ya!


Matahari dengan malu-malu memberikan cahayanya di kamar yang tadinya gelap gulita itu dan membangunkan Rin yang terlelap. Dengan senyum lebar dia melompat dari tempat tidur dan membuka jendela lebih lebar, membiarkan cahaya matahari memasuki ruangan itu dengan lebih leluasa. Jika Neru melihat ini, dia pasti sudah menghubungi dokter. Bukanlah hal yang biasa melihat seorang Rin Kagene bangun di pagi hari, dengan tersenyum pula!

"Ngh..."

Rin terlonjak mendengar suara aneh di belakangnya. Jangan-jangan ada pencuri, atau pembunuh berantai memasuki rumah ini! Rin mengambil benda pertama yang dilihatnya dan mencari asal suara itu.

"Uh.." suara itu ada lagi. Dan kali ini pemilik suara menampakkan wujudnya.

Dia ada di sofa, rambut blondnya yang berantakan berkumpul di sandaran tangan sofa itu. Rin berada di belakang sofa, jadi dia tidak bisa melihat wajah orang itu. Rin mengatur nafasnya, memegang 'senjatanya' di atas kepalanya, dan mengayunkan ke kepala orang itu dengan sekuat tenaga. Bisa dipastikan reaksi orang itu saat dia membuka mata dan melihat vas bunga melayang di atas kepalanya.

"AAAAAA!"


"Maaf, maaf. Aku benar-benar minta maaf."

ucap Rin berulang-ulang dengan kepala tertunduk. Didepannya Kaito hanya tertawa riang seraya membalut kepala Len yang terluka.

Siapa sangka sosok yang ada di sofa itu adalah Len? well, Rin tidak menyangkanya. Otak ikan masnya lupa mengingatkan kalau itu adalah kamar Len.

"Setelah apa yang kulakukan padamu justru ini yang kudapat. Mungkin aku tidak usah mengajarimu." gerutu Len. Rin mengangkat kepalanya dan melihat Len dengan wajah horror.

"Tidak! Kumohon jangan! Aku benar-benar harus belajar padamu!" Rin memohon, setengah berteriak. Dia bahkan memeluk kaki Len dan menangis dengan dramatisnya.

"He, hei, Bunny. Len hanya bercanda. Jangan menangis." Kaito membujuk. Jawaban yang diterimanya justru glare dari Rin.

"Namaku Rin! Bukan Bunny!" Teriak Rin.

"Oke, oke, Rin." Kaito berkata. Dia berdiri membawa kotak P3K bersamanya dan meninggalkan Len dan Rin hanya berdua saja entah untuk yang ke berapa kalinya.

"... Hei, sampai kapan kau mau memeluk kakiku?" Len bertanya juga akhirnya.

Rin dengan gerakan cepat segera melepaskan pelukannya dan meminta maaf. Len tidak memberi respon, justru berdiri dan berlalu begitu saja. Mengundang tanda tanya di kepala Rin.

"Hei, kau mau kemana?"

"Bukannya kau mau belajar? Ikut aku." Len berkata dengan tetap berjalan tanpa melihat Rin untuk sedetik saja.

Wajah Rin mencerah dan dia mengangguk cepat. Dengan berlari dia mengejar Len bahkan memeluknya. Hal ini tentu saja mengundang rasa kaget dan ketidak seimbangan di tubuh Len, dan akhirnya merekapun terjatuh. Dengan muka Len lebih dulu mencium lantai. Ini benar-benar kesialan untuk Kagamine Len.


"Huh?" ucap Rin dengan wajah blank. Len menoleh ke arahnya.

Saat ini mereka berada kembali berada di kamar Len. Len memperkenalkan Rin pada hewan-hewan peliharaannya, Rin baru tahu kalau kotak-kotak yang dia lihat sebelumnya adalah kandang.

"Kau dengar apa yang kukatakan kan?" Len berkata seraya menaruh seekor hamster ditangan Rin. Hamster berbulu oranye itu tampak tidak senang dengan kehadiran orang baru dan menujukkan ketidak senangannya dengan menggigit jari Rin lalu kembali melompat kembali ke tangan Len. Len tertawa kecil mendengar teriakan kesakitan Rin dan mengelus-elus hewan pengerat itu.

"Ham nakal." ucapnya sambil mengelus-elus bulu oranye hamster itu. Dia kembali menaruh Ham ke kandanganya yang berbentuk kotak kaca dan mengalihkan kembali perhatiannya pada Rin yang sekarang sedang menangisi jarinya yang berdarah.

"Kau harus memberinya makan 2 kali sehari. Begitu juga dengan Chocho." Dia menunjuk kotak kaca lainnya yang berisi air, seekor ikan mas koki berenang dengan riangnya disana.

"Lalu Fo dan San juga. Mangkuk makan mereka ada di dapur jadi kau tidak akan lupa letaknya." Len berkata dengan santai sambil menunjuk 2 ekor anjing siberian husky dengan bulu putih-hitam dan putih-orange yang tidur dengan lelap di bawah kasur. Rin tidak pernah menyadari mereka ada disana sejak hari pertamanya berada disini. Yah, mungkin itu karena sepanjang malam hingga pagi ini mereka hanya tidur saja.

"Ah, juga-" Len bersiul dan tak lama sua ekor kucing persi dengan aura sihir yang kuat berlari ke arah mereka. Kucing itu memiliki bulu berwarna putih didahinya yang berbentuk seperti bintang. rin trekesiap. Dia tau dia pernah melihat kucing itu di suatu tempat.

"Nama mereka Chi dan Nina. kau juga harus memberi makan mereka dengan benar. Mangkuk mereka ada bersama dengan mangkuk Fo dan San. Jadi janagn lupa dan juga jangan tukar mangkuk mereka." jelas Len panjang lebar.

'eh, tunggu dulu! Bukannya kau mau mengajariku?" Protes Rin segera.

Len melihatnya dengan alis terangkat. "Lalu?"

"Kenapa aku harius memberi makan peliharaanmu? Harusnya kita belajar tentangn sihir, mantar-mantar, ramuan atau sesuatu!"

"ini adalah pelajaran pertamamu." Jawab Len singkat sebelum menguap lebar.

"Tapi-tapi..."

"Jangan banyak bicara." Len berkata dengan nada dingin. Rin kicep seketika. Tanpa melihat Rin untuk yang kedua kalinya Len melompat ke kasurnya yang sebelumnya dipakai Rin untuk tidur semalaman. Dengan mendesah panjang, Len menutup mata dan tidur.

Di lain pihak, Rin membatu di tempatnya berdiri. Pelajaran pertama apanya?! Dia jelas-jelas menjadikan Rin pengasuh hewan-hewan peliharaannya. Kalau begini, lebih baik Rin tidak usah meminta bantuan Joker. Apalagi dia tidak terlalu akrab dengan hewqan-hewan. Pangalaman terakhirnya bersama hewan membuatnya berada di rumah sakit selama seminggu. Rin merinding. Dia tidak mau hal itu terjadi lagi.

Sentuhan lembut di kakinya membuat Rin terlonjak kaget, Dia melihat ke bawah, ternyata kucing-kucing itu menggosokkan diri mereka ke kakinya. Meskipun takut, dengan perlahan Rin berjongkok dan mengelus kedua kucing itu. Mereka mengeluarkan suara lucu yang anehnya menentramkan hati Rin dan mengusir rasa takutnya.

"kucing-kucing ini, seperti yang pernah kulihat di kerajaan Seir-Aqua..." gumamnya pelan.


TBC~