Eh... dilajut lagi ^^
Nggak mau dikomenin panjang-panjang ah pembukaannya. Paling juga ma reader langsung dilewatin gitu aja.
Tapi sayang sekali bagi anda-anda yang sengaja melewatkan bagian pembuka ini. Karena saia berniat memberikan sebuah bonus stage. Yaitu.... TEBAK-TEBAKAAAAN!!!
Benda apa yang warnanya hitam...*digebukin rame-rame*... O..oke...silakan dilanjut aja....
Monggooo...
Bitter Sweet
Stage IV
Malam itu kegelapan awan meluas menutupi kota. Perlahan, cahaya kuning lampu jalanan menyorot air yang mulai berjatuhan seperti jarum. Gerimis mulai menutupi kota lagi seperti tirai dan di sebuah rumah berdinding abu-abu, Kakashi berlari keluar meninggalkan pintunya terbuka.
"Sakura! Hei! Biar kuantar! Kau tidak bisa hujan-hujanan lagi!" Kakashi menarik lengan Sakura yang berjalan terburu-buru menerobos hujan.
"Tidak mau!" jawab Sakura tegas sambil berusaha melepaskan tangannya dari Kakashi. Kakashi mulai menghela nafas gusar.
"Kupanggilkan taksi kalau begitu. Tunggulah!" Kakashi menarik ponselnya dan bersiap memanggil, tetapi...
"Uh, Sakura.... batereku habis," Kakashi tersenyum bersalah dan Sakura menarik nafas dalam-dalam bersiap meneriaki senseinya sekuat tenaga tetapi akhirnya dia hanya mengepalkan kedua tangannya di depannya dengan geram seolah mencekik Kakashi.
"ERRRRRRRRRGGHHHH!!!!!"
Malam itu berakhir dengan Sakura menumpang taksi sampai ke rumahnya dan Kakashi yang membuntutinya. Dia ingin memastikan Sakura sampai ke rumah dengan selamat karena Kakashi masih tidak percaya Sakura akan pulang ke rumah mengingat kejadian kemarin.
Setelah kejadian malam itu, Kakashi hampir setiap saat memikirkan pidato yang pas untuk diucapkan pada Sakura. Dan setelah menghabiskan semalam suntuk dan hari minggu yang cukup tidak menenangkan, paginya Kakashi siap mengajar di kelasnya dengan pidato yang sudah dihapalkannya. Tetapi, Sakura tidak hadir. Begitu juga dengan hari berikutnya. Dan hari berikutnya.
oooooooooooooooooooooooooooo
"Permisiii..." Sakura menutup pintu di belakangnya dan melongok mencari-cari dokter yang sedang bertugas di ruang UKS.
"Heeh...apa belum datang? Yah, aku cuma mau numpang tidur sih," Sakura hanya menghela nafas dan menuju sebuah tempat tidur yang tampak mengundang di dekat jendela. Pagi itu ada pelajaran olah raga, dan Sakura sama sekali tidak berminat membuang-buang tenaga. Dia sudah cukup berolah raga pagi ini. Saudara sepupunya datang dan dia menjemputnya di bandara pagi-pagi buta atau masih bisa dibilang tengah malam. Dia berlarian untuk melompat dan memeluk sepupu berambut merahnya. Bukankah itu sudah terhitung olah raga?! Sepanjang pagi juga Sakura ngobrol dengannya hingga sudah waktunya ke sekolah. Kejamnya, sepupunya menawarkan Sakura untuk mengantarnya ke sekolah, jadi saat ini Sakura benar-benar ingin tidur untuk membalas dendam kantuknya sepanjang pagi ini.
"Permisi!" suara pintu dibuka dan ditutup hati-hati dengan cepat ditambah suara yang amat sangat akrab bagi Sakura mengejutkan Sakura dan membuatnya berbalik.
"Sakura?"
"Tch!" jawab Sakura sebal segera berbalik dan hendak menuju tempat tidur yang sedari tadi sudah menggodanya, tetapi si pengganggu berambut perak yang baru saja muncul buru-buru menarik lengannya.
"Tunggu dulu! Hey!"
"Kenapa sih Sensei?!" jawab Sakura ketus sambil mengibaskan tangannya berusaha melepaskan cengkeraman Kakashi. Kakashi melepaskan tangan Sakura kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menghela nafas.
"Soal kemarin maaf! Kita tidak bisa terus-terusan saling menghindar begini kan, tidak baik untukmu, begitu juga denganku," Kakashi mulai berorasi dengan semangat, akhirnya dia menemukan kesempatan untuk melafalkan hapalannya selama beberapa hari ini. Setelah mengucapkannya sebagian dari Kakashi merasa lega. Sakura hanya menatapnya dengan cemberut.
"Lalu?" sambut Sakura malas-malasan.
"Yah, kita anggap saja impas. Kau yang pertama kali melakukannya kan?!"
"Impas?! Sensei menciumku dua kali! Yang di mesin cuci itu juga dihitung!"
"Ugh! Oke kalau begitu kau boleh membalasnya supaya impas!"
"Ha?!" Sakura menatap Kakashi tidak percaya. Apa barusan senseinya menawarkan diri?
"Ugh! Ayolah! Bagaimana kalau kita anggap semuanya tidak terjadi. Kita ulangi lagi dari awal!" tawar Kakashi dan masih dijawab dengan wajah cemberut Sakura. Akhirnya Sakura hanya memalingkan wajahnya dan menghela nafas.
"Haaaah.... Iya! Iya! Sekarang aku mau tidur, kalau Sensei tidak ada perlu lagi aku..."
"Di mana sih orang itu?" suara dari luar UKS tiba-tiba mengejutkan Sakura dan segera membuatnya menoleh menatap pintu masuk.
"Gai-sensei!" gumam Sakura. Kemudian Sakura segera men-scan seluruh ruangan UKS dan matanya berhenti saat menatap sebuah loker yang biasa dipakai untuk menyimpan jas dokter. Tangan Sakura secara reflek mendorong Kakashi menyingkir dari hadapannya dan segera melesat menuju loker. Dalam hitungan detik Sakura sudah dengan sukses menyembunyikan diri di dalam loker sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dan baru beberapa saat kemudian dia baru menyadari kalau ruangan di dalam loker terasa sangat sempit.
"Kenapa Sensei ikutan sembunyi?!" tanya Sakura terdengar geram dan tiba-tiba tangan Kakashi membekap mulutnya. Sebelah tangannya yang lain yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak terdorong ke pintu mengisyaratkan Sakura untuk diam saat dari luar loker terdengar pintu UKS terbuka.
"Haaah...di sini juga tidak ada. Ke mana orang itu?" suara Gai di luar terdengar kecewa. Sepertinya orang yang dicarinya tidak bisa ditemukan di mana-mana. Kemudian Sakura merasakan tangan Kakashi bergerak di sisi tubuhnya dan merasakan punggung tangan Kakashi menyelip diantara mereka.
"Sensei, tanganmu mau ke manaaa?" Sakura panik merasakan tangan Kakashi yang tidak juga berhenti merayap makin ke atas. Tetapi Kakashi hanya menggumamkan 'ssst..' samar yang terdengar jelas di telinga Sakura. Saat Sakura sudah siap menginjak kaki Kakashi keras-keras, Kakashi dengan cepat menarik sesuatu dari kantong di dadanya. Sakura melihat sepintas ponsel di tangan Kakashi sebelum Kakashi membawanya melewati bahu Sakura. Kurang dari sedetik kemudian, ponsel itu bergetar. Dan Sakura bisa merasakan nafas Kakashi saat dia menghela nafas lega.
"Haaah...tidak diangkat juga. Ke mana sih orang itu?" suara Gai di luar terdengar mulai putus asa. Kemudian Gai menghela nafas.
"Kenapa kau panik begitu?" bisik Kakashi menyeringai saat menunduk di sisi kepala Sakura. Sakura hanya cemberut menyadari Kakashi yang menertawakannya. Di luar masih terdengar suara Gai yang menghela nafas dan Sakura masih bisa merasakan ponsel Kakashi bergetar di belakang kepalanya. Senyuman yang masih menempel di wajah Kakashi dan matanya yang kelihatan berkilat puas membuat rasa sebal Sakura bertumpuk. Sakura kemudian dengan perlahan mengangkat sebelah tangannya yang sejak tadi menahan tubuh Kakashi agar tidak menghimpitnya.
"Sakura... hentikan!" senyuman Sakura mengembang mendengar suara Kakashi yang berbisik terdengar bergetar walau Kakashi bermaksud mengeluarkan suara geraman.
"Apa?" balas Sakura cuek. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan tertawa saat merasakan tubuh Kakashi berusaha keras menjauh darinya walau dalam posisi mereka, itu sama sekali tidak merubah apapun.
"Tanganmu!" jawab Kakashi masih berusaha keras menjaga suaranya agar tetap rendah. Dia menatap Sakura yang tersenyum menggigit bibirnya, jari-jari Sakura yang naik-turun membuat pola abstrak di dadanya tidak juga berhenti walau perintah Kakashi sudah sangat jelas memintanya berhenti.
"Sakura hentikan!" Kakashi masih berbisik, berusaha keras agar suaranya tidak terdengar lebih keras dari geraman rendah. Kalau saja kedua tangannya sedang tidak sibuk, dia tidak akan membiarkan Sakura sesukanya. Dan akhirnya Sakura berhenti juga dengan senyuman lebar di bibirnya saat menatap wajah serius Kakashi yang berusaha menjauh darinya. Saat itu pintu loker tiba-tiba terbuka.
"Hatake-sensei? Haruno?"
Dengan kompak Kakashi dan Sakura menatap wanita berambut coklat moccha digelung yang tampak saat pintu loker terbuka. Rupanya keduanya sama sekali tidak menyadari saat wanita itu masuk ke dalam ruangan dan mengobrol sebentar dengan Gai hingga Gai meninggalkan ruangan UKS.
"Kaori-san!" "Dokter!" jawab Kakashi dan Sakura bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan di dalam loker?" tanya Kaori menatap keduanya yang masih membeku di dalam loker. Saat itu Kakashi yang lebih dulu menguasai kesadaran segera melangkah keluar dan menempelkan telunjuk di bibirnya meminta Kaori diam.
"Gai-sensei sudah pergi?" tanya Kakashi kemudian sambil menatap pintu dan Kaori mengangguk menatapnya tidak mengerti. Sakura keluar dari loker dan menghela nafas. Akhirnya bebas juga. Mereka berdua kemudian menatap Kaori yang tampak meminta penjelasan. Kakashi menggaruk bagian belakang kepalanya dan tersenyum.
"Aku bersembunyi dari Gai-sensei. Dia memintaku jadi lawan judo-nya di pelajaran olah raga pagi ini karena pagi ini aku sedang kosong. Dan dia..." Kakashi menerangkan dan menunjuk Sakura yang menatapnya dengan bosan.
"Aku sedang malas berkeringat. Jadi dokter, boleh aku menumpang tidur. Semalam aku menjemput kakakku di bandara dan tidak sempat tidur," Sakura memberi alasan yang dijawab dengan wajah bosan Kakashi. Kaori hanya memakai jas putihnya dan tersenyum.
"Oh, silakan. Aku jadi punya teman. Hatake-sensei juga boleh tinggal di sini kalau masih mau bersembunyi dari Gai-sensei," tawar Kaori pada Kakashi yang tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wah! Terima-kasih Kaori-san!" jawab Kakashi yang kemudian duduk dan mulai mengobrol dengan Kaori sedangkan Sakura segera berbalik menuju tempat tidur incarannya. Untung yang menemukan mereka Kaori yang memang agak polos, pikir Kakashi dan Sakura. Sakura berguling di tempat tidur dan tersenyum sambil menutup matanya.
"Waah...Sepertinya aku harus kembali ke kelas. Terima kasih kue dan tumpangannya Kaori-san!" Kakashi berdiri saat mendengar bel berbunyi menandakan jam pelajaran selanjutnya segera dimulai.
"Sama-sama. Aku senang ada yang menemaniku. Habisnya ruangan ini biasanya sepi sekali," jawab Kaori tersenyum. Kakashi kemudian segera berbalik dan bersiap keluar tetapi matanya tertuju pada gorden yang menutupi tempat tidur yang dipakai Sakura.
"Anak itu mau tidur sampai kapan sih?" gumam Kakashi menatap gorden dengan bosan, mau-tidak mau pikirannya kembali melayang ke beberapa hari yang lalu saat meninggalkan Sakura yang tidur dengan amat sangat nyenyak di sofanya.
"Hatake-sensei?" panggil Kaori dan Kakashi hanya mengangkat tangannya pada Kaori yang menatapnya saat Kakashi menyelinap masuk ke ruangan kecil Sakura. Di dalam, Kakashi menemukan Sakura yang tidur bergelung dengan nyaman. Tubuhnya terbungkus selimut sampai ke lehernya. Benar-benar serasa di rumah.
"Hey! Waktu tidur sudah selesai! Kau harus kembali ke kelas!" perintah Kakashi sambil melipat tangan di dadanya. Sakura membuka sebelah matanya sedikit dan menutup kepalanya dengan selimut.
"Oi Sakura! Aku mengajar di kelasmu sekarang! Ayo bangun!" Sakura tidak juga bergerak dan Kakashi makin geram. "Hey! Sudah dua minggu aku mengajar dan kau belum sekalipun masuk di kelasku! Sakura! Kalau kau bolos lagi kali ini, aku akan menghukummu!"
"Hnnn.." jawab Sakura terdengar menggumam malas di balik selimut, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Akhirnya dengan emosi Kakashi menghela nafas dan segera menarik selimut Sakura.
Beberapa saat kemudian, Kaori yang sedang seru membaca buku di mejanya melirik Kakashi yang menghambur berlari dengan bantal yang menghantam kepalanya dan suara Sakura yang mengiringinya.
"SENSEI BAKA! JANGAN HARAP AKU DATANG KE KELAS SENSEI!!!"
"Maaf!!!"
"Kenapa Hatake-sensei?" tanya Kaori menatap Kakashi yang hanya tersenyum bersalah dan segera keluar dari ruangan. Kaori menatapnya pergi kemudian berdiri menghampiri tempat tidur Sakura.
"Ada apa Haruno?" tanya Kaori pada Sakura yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sakura hanya menarik selimutnya sedikit dari kepalanya dan menatap Kaori yang balik menatapnya dengan penasaran.
"Sensei sialan itu seenaknya menarik selimutku," gumam Sakura sebal. Kaori menatapnya kemudian pandangannya beralih pada seragam atasan Sakura yang terlipat di atas meja. Kaori kemudian hanya tertawa dan disambut wajah Sakura yang makin sebal.
"Memangnya kau tidak pakai kaos dalam?" tanya Kaori berusaha menghentikan tawanya.
"Aku tidak suka. Panas," gerutu Sakura kembali menutupi seluruh tubuhnya.
"Baiklah, kalau begitu kali ini aku mendukungmu membolos pelajaran Hatake-sensei," komentar Kaori meletakkan bantal yang barusan dipungutnya di samping kepala Sakura kemudian berbalik dan menutup rapat gorden tempat tidur Sakura. Dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya dia melanjutkan membaca buku dan menggigit kuenya.
Di kelas, Kakashi yang sedang menatap Neji mengerjakan soal di papan tulis menghela nafas. Matanya menatap tulisan yang dibuat Neji, tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Dia itu seorang guru tetapi muridnya sudah dua kali mengatainya 'baka'. Benar-benar bukan guru yang bisa dicontoh oleh murid. Kakashi kemudian menghela nafas lagi dan mendapatkan tatapan bingung Neji yang tidak mengerti alasan kenapa senseinya dari tadi terus-terusan menghela nafas. Sedari tadi juga semua murid agak heran saat kali ini Kakashi tidak menanyakan siapa yang absen, padahal kebiasaan Kakashi saat masuk ke kelas, pertanyaan pertamanya adalah:
"Siapa yang absen hari ini?"
Sepupu Sakura, seorang anak laki-laki. Putra tunggal dari kakak perempuan ibu Sakura. Umurnya tidak lebih tua dari Sakura dan dia memiliki mata hijau yang sama dengan Sakura. Rambutnya boleh dibilang sejenis dengan Sakura, hanya saja milik sepupunya berwarna merah dan agak acak-acakan. Darinyalah Sakura mempelajari hampir semua yang diketahuinya. Mulai dari tata cara memakan pancake yang benar itu dari tengah ke pinggir hingga cara memiting lengan seseorang cukup dengan satu gerakan. Gaara. Dialah sensei sejati Sakura. Yang namanya sensei itu mengajarkan semua hal yang berguna kan?! Yaaah.... Tetapi bisa dibilang untuk yang kali ini, mungkin bisa dikategorikan hal yang sama sekali tidak perlu untuk Sakura.
Sejak kedatangan Gaara sekitar seminggu yang lalu, setiap pagi Gaara akan selalu berhasil memasuki kamar Sakura dan membangunkan Sakura lalu memaksanya cepat-cepat bersiap agar dia bisa mengantar Sakura ke sekolahnya (padahal Sakura sedang mengalami sindrom malas-ke-sekolah).
"Anikiii!!! Sampai kapan mau di sini?!" tanya Sakura sebal pada suatu pagi saat Gaara seenaknya melompat duduk di atas tempat tidur Sakura dan mengukur seberapa tinggi dia bisa memantulkan diri.
"Sampai kau bangun," jawab Gaara santai dengan senyuman tersungging di bibirnya saat Sakura akhirnya duduk dengan rambut acak-acakan dan wajah mengantuk plus emosi.
"Kapan Aniki pulang ke Suna?!" sergah Sakura mengoreksi pertanyaannya yang pertama dan hanya disambut wajah bingung Gaara.
"Lho! Kupikir kau akan senang kalau aku datang. Yaah...karena sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu, aku pikir aku akan menginap di sini sampai setahun,"
"He? Bertahun-tahun? Apanya? Baru tahun baru kemarin kita ketemu di rumah nenek kan?! Memangnya Aniki tidak sekolah?"
"Oh iya ya," Gaara tersenyum dan hanya ditanggapi Sakura yang memutar matanya dan menghela nafas pasrah. "Sebenarnya, aku kembali ke Suna besok pagi. Konan sudah mendapatkan tiket untukku," lanjut Gaara membuat Sakura tiba-tiba menghilangkan wajah sebalnya.
"He? Cepat sekali,"
"Oooi! Tadi siapa yang mau aku cepat-cepat pulang hah? Sudah sana mandi! Konan sudah menyiapkan sarapan di dapur," sambil turun dari tempat tidur, Gaara mengacak rambut Sakura dan meninggalkan kamarnya menuju dapur untuk sarapan yang dijanjikan oleh Konan karena mereka lebih suka makan di dapur daripada di ruang makan yang kaku. Sakura menatap kepala merah Gaara yang menghilang dari pintunya kemudian menghela nafas.
"Curang," gumam Sakura sambil berjalan ke kamar mandinya. Sakura memang sebal kalau setiap pagi dibangunkan Gaara dengan cara seperti itu, tetapi dia lebih sebal lagi mengetahui Gaara akan pulang besok. Dan lebih sebal lagi karena alasan kepulangan Gaara besok adalah karena ayah Sakura akan kembali besok lusa. Gaara sama sekali tidak ingin bertemu dengan ayah Sakura, begitu juga sebaliknya.
Beberapa saat kemudian setelah merapikan rambutnya di depan cermin, Sakura menarik tasnya di atas meja belajarnya dan segera meninggalkan kamarnya menuju dapur. Saat dia sedang menuruni tangga, matanya menatap kepala merah Gaara di depan pintu ruang makan yang terlihat dari tangga. Bukannya tadi katanya mau makan di dapur? tanya Sakura dalam hati.
"Aniki?" panggil Sakura dan Gaara langsung menoleh ke arahnya. Sakura langsung membeku di tempatnya. Wajah Gaara yang menatapnya terlihat sangat datar, wajah tanpa emosi yang selalu diingat Sakura sejak dulu kalau ada yang sedang mengganggu Sakura. Wajah marah. Tetapi kemudian wajah itu segera digantikan dengan senyuman. Tiba-tiba Sakura merasa sangat tidak enak. Perlahan dia kembali menuruni tangga dan menghampiri Gaara. Dan setelah sampai di depan pintu, mata Sakura membulat.
"Ayah?"
A Continuar...
Ufufufufufufu........... ada Gaara! Ada Gaara! Ada Gaara!!! Iyei! (apaan sih?) Begitulah ^^a. Nggak tau knapa di fic eke slalu ada gaara-nya. Bukannya nge-fans sih, tapi entah mengapa daku paling suka ma chara berambut merah :D (apa karena rambutku juga merah yakk?). Karin juga (entah knapa dia slalu ada di fic eke)....mungkin karena dia mirip banget ma Grell Sutcliffe si Akashitsuji hahahaha..... apalagi kalo pas meluk-meluk sasuke. Aku jadi curiga, jangan-jangan karin juga banci? (Lho?! Kok jadi curhat?) :D
Ah...sutralah! Sbelum nglantur gak jelas kemana-mana, mending njawab ripyuan aja ah...
Miamau Kakashi: Hehe...iya cepet. Soalnya pas kepikiran. Langsung diketik en langsung diapdet dah :D Sip! Ini lanjut kan ^^
hanaruppi: Oh! Benar sekali! Sangat hot! (Dasar penjual crepe sialan! Hot tauk!!!) Mmmmm... saskee mergokinnyaaa....ntar lah coba liat ^^
awan hitam gi mendunga: niat banget sih bikin nama bu?! Mau ngamuk ma sylvia? Sana gih! Paling dikau yang ntar babak belur disenggol :D Iya..iya ini diapdet.
Kakalia: Ow..ow... tengkiyu ^^. Sering-sering? Umm.... nggak janji yakk :D Yang jelas skarang cukup ini dulu ^^
Koko Mike: Hahaha iya. Soalnya tangan udah gatel pengen lanjut sih. Kan mumpung didatengin ide. Wah! Wah! Dirimu memuji terlalu tinggi nih! Jadi malu sendiri eke ^^. Eniwei tengkiyu yakk...
Intan: Ha? Lama? (ngliat ripyuan yang laen) cepet koook...T.T Osh! Ini dilanjut lagi.
Kuroneko Hime-un: Sasuke? Siapa tuh? *dikerosok Sasu fans* Hehe... sasu ntaran dulu ya munculnya ^^. Sementara mo ndeketin kakasaku dulu, biar hubungan mreka nggak terkesan maksa ^^a. Umm... Itachi itu pertama kenal sakura sbage koi-nya kakashi. Stelah putus dari kakashi barulah dia jadi deket ma sasuke. Gitu ^^.
Ryuku S. A .J: Oke! Diapdet :D
Azure Azalea: Wow! Dikau masih hidup rupanya!!! Hehehe....... mungkin lupa kalo sbenernya imejnya sakura itu diambil dari diriku ini ^^ *dikeroyok sakura fans*. Sip! Ini dilanjut! Bai t wei....Snow white-nya nggak dilanjut?
Ja!
Sankyuu mina-san atas ripyu, alert, fave, hits-nya. Eke tunggu lagi selanjutnyah. Pareeeeeng......^^
