Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

The Black Queen 2

Chapter 4

The Girl and Lucius- O'- Lantern

Awal semester baru yang tertunda berjalan selancar yang diharapkan semua guru. Jadwal pelajaran yang kacau telah diperbaiki. Beberapa guru, yang walaupun mengaku sempurna tetapi pada kenyataannya ceroboh, sudah dipaksa untuk lebih teliti, dikenakan sangsi, dan yang paling buruk menurut pendapat Slughorn, dipotong gaji.

Sistem administrasi di Hogwarts tidak pernah berantakan sebelumnya, maka Narcissa menganggap pekerjaannya kali ini sukses besar.

Hari Senin datang lagi. Lebih cepat dari perkiraan Narcissa. Suasana di aula cukup tenang. Hawa peperangan yang biasanya menekan tidak hadir hari ini. Bahu Narcissa terasa santai karena sebelumnya selalu waspada apabila seseorang berniat mengutuknya dari belakang.

Mungkin karena banyak orang di dunia ini yang membenci hari Senin…

Narcissa mengunyah anggurnya lambat-lambat, meneliti sekeliling. Entah karena terlalu banyak berpikir atau sama sekali tidak mau berpikir, belum ada lagi kekacauan yang terjadi sejak kemarin lusa.

Goyle memikirkan cara klasik untuk membuat kekacauan. Menyumbat seluruh toilet. Sialnya, Myrtle Merana sedang berada di toilet pertama yang Goyle sumbat. Myrtle menangis meraung-raung karena merasa terganggu. Filch datang dan langsung memberi Goyle detensi. Karir Pembawa-Ketakutan Goyle langsung terhenti saat itu juga. Lucius menganggap ide Goyle lebih menjijikkan daripada menakutkan.

Antonin Dolohov lebih kejam. Dia berusaha membuat sapu terbang tim Quidditch Gryffindor kehilangan kendali, lalu menjatuhkan pengendaranya. Dolohov berhasil. Latihan awal semester tim Gryffindor adalah mimpi buruk. Tapi entah mengapa, baru beberapa menit, mantra berbalik menuju Dolohov sendiri. Tujuh sapu berkecepatan tinggi yang menggila meluncur ke arah Dolohov, menabraknya sampai terjengkang dari tribun yang paling atas.

Tujuh anggota Gryffindor selamat. Hanya mengalami patah-patah tulang karena menjadikan Dolohov sebagai alas.

Dolohov langsung dibawa ke Rumah Sakit St. Mungo. Narcissa tidak yakin apakah dia harus gembira atau kasihan. Lucius memberi Dolohov satu poin yang tidak ada gunanya, karena beberapa tulang punggung Dolohov patah dan melukai jantung dan paru-parunya. Bahkan mantra penyembuh pun punya batasan. Maka Dolohov tidak akan bisa berjuang lagi sampai kira-kira setahun mendatang.

Setelah sarapan, Narcissa berjalan menuruni halaman yang melandai sampai ke tepi Hutan Terlarang, tempatnya akan belajar Pemeliharaan Satwa Gaib. Sebelumnya dia kaget sendiri karena semua temannya tidak mengambil pelajaran itu.

"Kupikir kalian mengambil Pemeliharaan Satwa Gaib untuk menambah nilai NEWT?" Narcissa berteriak diluar kemauannya.

Ketiga temannya saling lirik dengan cemas. Akhirnya Yvonne angkat bicara.

"Cissy, aku hanya ambil, yah, pelajaran yang benar-benar penting…"

Narcissa mendelik lalu mengarahkan pelototannya kepada Genevive.

"Mmm… Aku tidak terlalu suka hewan, sih…"

Eva lebih santai menanggapi, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

"Ayolah, Cissy! Pergi ke Slughorn dan buang beberapa mata pelajaran! Kelas enam hanya kelas persiapan NEWT. Santailah sedikit…"

"Aku… tidak memikirkan pelajaran apa yang akan kuambil. Kalian tahu kemarin aku berkonsentrasi pada permainan sialan ini!" kata Narcissa membela diri.

Ada perasaan tidak nyaman yang belum pernah dirasakannya. Ketakutan karena akan berjalan sendirian. Dia jarang berkeliaran di Hogwarts tanpa ketiga temannya.

Narcissa dengan segera menyamakan jadwal mereka. Ternyata selain Pemeliharaan Satwa Gaib, tidak ada satupun dari mereka yang mengambil Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Yang membuat Narcissa lebih kaget.

"Aku pikir pelajaran ini penting di saat-saat seperti sekarang?" desis Narcissa tajam, merasa khawatir karena akan sendirian lebih sering.

Ketiganya berpandangan lagi, Yvonne masih yang pertama yang akhirnya angkat bicara.

"Cissy… Yah… Semua anak Slytherin menganggap pelajaran ini omong-kosong…Dan…"

Yvonne tidak perlu melanjutkan, Narcissa sudah tahu kelanjutannya. Mereka seharusnya mempelajari ilmu hitamnya daripada kontra-nya…

"Ayolah, Cissy," bujuk Eva lagi. "Ambil pelajaran yang sama seperti kami. Aku sebenarnya tidak keberatan ambil Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kalau gurunya seperti Profesor Shaan… Dia pergi kemana, ya?"

Narcissa membiarkan pertanyaan Eva mengambang. Pikiran tentang Shaan menimbulkan rasa tidak enak lagi di suatu tempat di dalam tubuhnya.

Narcissa berusaha mengenyahkan memori-memori yang dengan sekuat tenaga berusaha dihapusnya belakangan ini. Tetapi tatapan mata Shaan yang biru terang seolah tidak mau menghilang. Walaupun mata itu telah pergi ke dunia yang lain dengan dunia Narcissa, tempat Shaan sebenarnya pergi…

.

.

.

Setelah dua jam ketidaknyamanan yang dirasakannya di tepi hutan saat pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib, Narcissa mendiamkan semua temannya dalam dua mata pelajaran berikutnya. Termasuk makan siang.

Suasana menjadi tidak enak. Tetapi Narcissa menganggap apa yang dialaminya lebih tidak enak lagi. Profesor Kettleburn, yang tentu saja tidak bisa memperbaharui izin merawat Kepiting Api-nya dalam waktu seminggu, sedang dalam masa percobaan, dan berusaha untuk tidak menambah rekor hukuman, atau mungkin sama sekali belum menyiapkan hewan lain untuk pelajaran mereka, memilih main aman.

Profesor Kettleburn mendudukkan mereka di padang rumput yang empuk, menyuguhi mereka apel dan bercerita panjang lebar tentang legenda monster di seluruh dunia. Suasana musim panas yang akan segera berakhir membuat hutan yang rindang menjadi teduh. Beberapa murid Gryffindor, dengan sangat menyebalkan, mulai mengobrol sendiri. Membicarakan cowok dan diet. Narcissa menyibukkan diri menulis apapun yang Profesor Kettleburn katakan, yang sama sekali tidak menempel ke otaknya. Dia menggigiti apel dengan geram, berusaha menutupi kecanggungan. Narcissa Black yang biasa angkuh, dan memandang rendah anak asrama manapun karena merasa aman dikelilingi teman-temannya, kini harus susah payah menghindari tatapan aneh mereka karena sendirian.

Sorenya, Narcissa kembali ke ruang rekreasi karena buku Pertahanan Terhadap Ilmu HItamnya tertinggal. Lucius sudah menunggunya di pintu-tembok batu saat Narcissa akan keluar lagi.

"Eva sudah bilang. Apa sulitnya pergi ke Slughorn dan bilang batal mengambil Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam?" tanyanya tajam tapi berhati-hati, mungkin khawatir Narcissa akan mengamuk.

"Tentu saja mereka bilang…" gerutu Narcissa, sekarang bertambah kesal kepada teman-temannya yang pengadu. "Jangan mengaturku…"

"Itu tidak cocok dikatakan seseorang yang tidak kompeten mengurus Boggart-nya sendiri…"

Tangan Narcissa bisa saja langsung melayang apabila dia tidak ingat itu Lucius yang menolongnya kemarin. Dan Narcissa tahu betul apa yang mengganggu Lucius karena dia belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Tapi ssat ini Narcissa tidak mau tahu apa-apa.

"Karena itulah aku perlu mengambil pelajaran ini, kan?" tantangnya.

Mata Lucius sekarang menyipit.

"Ini masih karena Shaan sialan itu, bukan? Ada apa? Kau merasa perlu meneruskan langkahnya atau apa?"

"Tidak!" cetus Narcissa.

Alis mata Lucius terangkat sebelah, menyadari kebohongan.

"Jangan katakan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan, Lucius. Kau tahu betul aku hanya akan bertindak sebaliknya…"

Narcissa dengan terburu-buru menghindar, sebelum Lucius bisa menahannya lagi.

"Kau hanya akan menyesalinya, Cissy!" teriak Lucius akhirnya pada punggung Narcissa.

.

.

.

Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, syukurlah, digabung dengan anak kelas enam Ravenclaw yang serius. Mereka sama sekali tidak memandang aneh Narcissa, terlalu sibuk dengan buku-buku mereka sendiri. Narcissa berjalan pelan, langsung menuju meja paling belakang.

Guru baru itu masuk dengan tergesa setelah terlambat beberapa menit. Mukanya merah dan pakaiannya hari itu payah sekali, menurut pendapat Narcissa. Jubah yang tebal itu tidak pantas untuknya yang bertubuh agak gemuk. Dan warnanya yang kecoklatan hanya membuatnya semakin kusam. Narcissa tiba-tiba mengusap kepalanya, khawatir rambutnya sendiri akan mencuat seperti si guru. Narcissa sebelumnya tidak pernah terlalu menganalisis penampilan guru-guru wanitanya. Tapi setelah tidak sengaja tahu bahwa salah satu ketakutan terbesar guru ini adalah tidak akan menikah, mau tidak mau Narcissa berusaha untuk tahu apa masalahnya.

"Baiklah…" gumam si guru dengan suara pelan dan gugup. "Kelas enam untuk NEWT, … yah! Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu…"

Cahaya emas memenuhi papan tulis bertuliskan Alice Spages. Akhirnya Narcissa mengetahui namanya lagi, setelah seminggu ini lupa. Dan dia berpikir Profesor Spages beruntung mendapat kelas dengan rombongan Ravenclaw yang serius sebagai murid pada jam ini. Mereka dengan diam menyimak perkataan Spages yang pelan, belepotan, dan gugup. Narcissa tidak yakin Spages akan didengarkan apabila berada di kelas Sirius atau James Potter yang selalu ribut.

Narcissa pastilah melamun sambil memandangi Spages karena tiba-tiba dia bertanya, mengagetkan Narcissa.

"Ada yang akan ditanyakan, Miss Black?"

Narcissa melihat wajah Spages terlihat malu-malu dan beberapa wajah tegas-serius anak Ravenclaw menoleh memandangnya.

"Hmm..." gumam Narcissa gugup. "Bisa tahu apa saja yang akan kita pelajari tahun ini?"

Narcissa merasa lega setidaknya bisa memikirkan pertanyaan yang tidak bodoh.

Jawaban non-verbal sudah didengar Narcissa pada pelajaran-pelajaran sebelumnya. Anak kelas enam diwajibkan untuk tidak mengucapkan mantra keras-keras pada waktu apapun. Sebagai penyihir darah murni yang sering melihat ayah-ibu-bibi dan pamannya melakukan sesuatu hanya dengan jentikkan dan lambaian, Narcissa tidak mengalami kesulitan yang berarti saat melakukannya. Tetapi dia tidak pernah berpikir akan bisa mempertahankan diri dengan diam dan bukannya berteriak mengucapkan mantra.

"Intinya adalah konsentrasi dan kesungguhan niat!" kata Spages seolah menjawab pertanyaan batin Narcissa.

"Baiklah! Selain mantra-mantra pertahanan yang sudah dipelajari sebelumnya dengan non-verbal, kita akan mempelajari mantra baru. Diantaranya mantra Firestrom untuk mengusir inferi dan mantra tingkat tinggi Patronus!"

Suara Spages berdesing di telinga Narcissa saat dia mendengar inferi, merasa keakraban yang sangat tidak menyenangkan lagi. Apakah kebetulan penanganan inferi ada dalam kurikulum sekolah? Atau Dumbledore tahu proyek Voldemort yang sedang bereksperimen dengan dengan inferi?

Salah satu anak Ravenclaw yang bertampang kritis mengacungkan tangan untuk bertanya.

"Patronus? Untuk menghadapi Dementor? Tapi Dementor ada di bawah perintah Kementerian, bukan?"

Sebelum Spages sempat menjawab, anak Ravenclaw bertampang kritis lainnya mengangkat tangan.

"Apakah Anda pikir mereka akan meninggalkan penjagaan di Azkaban? Mengapa?"

"Yah…" Spages menyela sebelum ada yang menyelanya lagi. "Itu penting bagi…"

"Anda akan mengundang para Dementor kemari untuk praktek kalau begitu?" tanya si kritis nomor satu tadi.

"Apakah anda yakin? Bagaimana dengan inferi? Anda tidak bermaksud melakukan Nekromansi, bukan?" ada anak Ravenclaw lain yang menyela, tapi kali ini dia terdengar agak takut akan kemungkinan mereka praktek menghidupkan mayat.

"Saya dengar Anda ditegur Dumbledore karena tidak mampu menangani tiga Boggart sekaligus…"

Narcissa tahu dia telah salah besar saat berpikir Spages beruntung mendapatkan kelas dengan gerombolan Ravenclaw sebagai murid. Spages bertambah gugup, yang sama sekali tidak seperti guru, saat mengatakan sesuatu yang berintikan Dumbledore hanya menganggapnya kelewat berlebihan karena membawa tiga Boggart sekaligus ke kelas.

"Kalian tidak berpikir siapapun bisa mengendalikan Boggart saat ada kerusuhan, bukan? Bahkan Profesor Flitwick tidak bisa mengendalikan murid-muridnya sendiri…" Narcissa memotong tajam sebelum anak-anak Ravenclaw itu mulai mengemukakan pendapat yang membuat guru baru manapun ingin kabur dari kelas.

Kelas menjadi hening, semua kepala menoleh kepada Narcissa. Wajah anak-anak Ravenclaw itu tampak tersinggung karena Narcissa mengungkit Flitwick. Kepala asrama Ravenclaw yang senin lalu terjepit murid-murid yang ricuh.

"Kalau kita harus menciptakan inferi asli untuk berlatih mantra, Kementerian sudah sejak dulu menutup Hogwarts. Dan kita tidak bisa sepenuhnya beranggapan Dementor bisa dikendalikan. Lihat saja Centaurus dan Duyung. Mereka makhluk yang punya pikiran sendiri seperti Dementor. Mereka tidak mau dikekang oleh kita…"

Narcissa mencoba berargumen, lebih karena kebiasaan membantahnya. Tetapi detik berikutnya dia menyesal.

"Apa yang membuatmu yakin bisa memproduksi mantra Patronus?" tanya si kritis entah-nomor-berapa.

"Apa maksudmu?" Narcissa balik bertanya.

"Patronus kabarnya hanya bisa di produksi oleh penyihir baik-baik…"

"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak baik-baik?" potong Narcissa dengan suara meninggi. Wajahnya terasa panas.

"Menilai siapa kakak dan pacarmu…"

"BAIKLAH, ANAK-ANAK!"

Suara Spages yang keras mengejutkan mereka, kepala anak-anak Ravenclaw kembali menghadap ke depan, memberi kesempatan bagi wajah Narcissa untuk kembali mendingin.

Spages, seperti Profesor Kettleburn, berusaha untuk mengajar dengan aman. Jadi sisa jam berikutnya dihabiskan dengan mengulang mantra non-verbal tanpa tongkat. Dan Narcissa hanya bisa berpikir, waktu akan lebih efektif apabila dia bisa menguliti kepala si Ravenclaw sialan yang tadi berani mengatainya.

"Tunggu, Miss Black!" seru Spages ketika bel pulang berbunyi dan Narcissa berusaha mengutuk si Ravenclaw itu dengan mantra Confundus non-verbal.

Narcissa dengan enggan berbalik, mendapati Spages tersenyum malu lagi. Walaupun begitu, tatapan matanya menyiratkan perasaan bersalah.

"Aku belum berterimakasih atas pertolonganmu kemarin dulu…" katanya.

Narcissa mengernyitkan dahinya sambil berusaha untuk tersenyum sesopan mungkin. Otaknya berusaha keras mengingat wajah anak Ravenclaw tadi. Anak itu mungkin sudah separuh jalan menuju lorong utama…

"Dan yang berambut pirang waktu itu pacarmu?" tanya Spages, sekarang wajahnya agak semburat merah. "Orang seperti itu tidak mungkin jahat seperti kata-kata anak tadi…"

Narcissa berhenti memperkirakan langkah si anak Ravenclaw dan memandang Spages tanpa ekspresi.

"Ah, hari ini pun kau menyelamatkanku lagi… Tidak banyak yang begitu…"

Narcissa tetap diam karena sulit berpikir enaknya-merespon-bagaimana.

"Terima kasih sekali lagi, Miss Black!" kata Spages akhirnya dan mereka bertukar senyum canggung.

Narcissa akhirnya meng-confundus si anak Ravenclaw sampai terjatuh di anak tangga terakhir sambil terus berjalan dengan gusar. Pikiran sudah berkecamuk lagi di kepalanya. Lucius, si cowok jahat dalam pandangan anak-anak tadi dan cowok-tidak-mungkin-jahat dalam pandangan Spages, mungkin benar tentang suatu hal. Bahwa Narcissa akan menyesali pilihannya.

.

.

.

Akhir pekan Hogsmeade datang bersamaan dengan Halloween. Narcissa luar biasa lega, bahwa tidak ada kekacauan apapun sejauh ini. Dia setengah berharap, mereka mulai menganggap konyol dan melupakan hal ini. Narcissa sudah benci harus terus waspada agar tidak terjebak.

Yvonne, Eva, dan Genevive sedang kompak lagi. Mereka terkena flu berat, yang untungnya, tidak mengajak Narcissa. Setelah meminum ramuan dari Madam Pomfrey, mereka sukses tertidur. Narcissa dengan terpaksa dan bersungut-sungut keluar dari kamar untuk pergi ke Hogsmeade sendiri. Berpikir berada di ruangan yang hanya dihuni orang tidur akan jadi lebih parah.

Sebenarnya banyak anak Slytherin yang ingin menjadi bagian dari geng Narcissa. Beberapa bahkan berharap menjadi pengikutnya. Tetapi Narcissa bukan Lucius dan dia terlalu angkuh untuk berbicara dengan anak-anak dari kelas bawah. Anak kelas lima terlalu tertekan untuk diajak bersantai, karena ini adalah tahun OWL mereka. Dan Narcissa benar-benar lebih memilih sendirian daripada harus bergabung dengan anak kelas tujuh Slytherin yang termasuk pendukung Pelahap Maut lainnya.

Jadi, Narcissa dengan gundah berjalan menuju halaman kastil, meninggalkan bermangkuk-mangkuk kaldu panas yang terhidang di meja makan. Merasa lebih sendirian daripada kapanpun.

Angin dingin yang menyengat namun menyenangkan menerpa lembut. Tetapi baru saja sedetik dia menikmatinya, wajahnya kembali tertekuk. Puluhan pasangan yang terkikik sambil bergandengan tangan memblokir pemandangan. Diantara sekumpulan anak, seseorang yang berambut merah tua terlihat paling menonjol.

Itu Lily Evans. Dia berjalan berhimpitan dengan teman-teman perempuannya, berusaha menghindar dari anak lelaki yang menggodanya.

Narcissa mencibir melihat James Potter dan gengnya, termasuk Sirius, ada di kumpulan anak tersebut. Lalu Narcissa dengan otomatis menoleh ke belakang. Benar saja. Rambut berminyak menutupi wajah dan jubah yang menggantung mulai kekecilan itu milik Snape. Dia sedang memperhatikan apa yang diperhatikan Narcissa. Ekspresi wajahnya bercampur antara sedih dan marah.

"Aku pikir kau lebih baik tanpanya!" Narcissa meneriaki Snape.

Snape tampaknya sadar teriakan itu ditujukan padanya karena dia mulai celingukan mencari sumber suara. Dia berdiri terpatung ketika melihat Narcissa dan segera berlari menghampiri ketika Narcissa akan meneriakinya lagi.

"Cissy!" ujarnya terengah. "Itu bukan seperti…"

"Apa?" potong Narcissa. "Kau naksir darah-lumpur itu sudah tertulis besar-besar di dahimu. Jadi kau berhasil mengantarnya dengan selamat musim panas lalu? Dia memberimu ciuman terima kasih?"

Narcissa sama sekali tidak berusaha memelankan suaranya, sehingga wajah Snape sekarang seperti sosis panggang di udara dingin menyengat.

Tetapi pikiran tentang pernikahan Andromeda yang dikacaukan Pelahap Maut gara-gara informasi dari Snape membuat Narcissa sedih alih-alih marah. Jadi, entah karena pengaruh udara segar, Narcissa memutuskan untuk berhenti bersifat kejam.

"Well? Pergilah ke Hogsmeade dan cari beberapa cewek yang pantas!" perintah Narcissa akhirnya.

Snape masih terdiam, sekarang mulutnya komat-kamit sebagai tambahan wajah merahnya. Dan Narcissa tahu apa yang menyebabkannya demikian.

"Ayolah, aku traktir cokelat toffee…" ajak Narcissa, berpikir bagaimana rasanya ingin pergi jalan-jalan tapi orang tuamu tidak memberi uang jajan dan orang yang kau taksir pergi dengan musuh besarmu.

"Tidak usah, Cissy…" tolak Snape segera.

"Kau selalu mau apabila diberi apa-apa oleh Lucius!" sergah Narcissa. "Ayolah! Hari pertama kelas tiga ke Hogsmeade, kau akan menyesal kalau melewatkan ini…"

Narcissa akhirnya mendorong paksa Snape dan merengut surat izin Hogsmeade-nya untuk diserahkan pada Filch yang memeriksa di gerbang.

"Tapi aku…" Snape berkata berulang-ulang sepanjang perjalanan ke Hogsmeade.

"Dia hanya akan menyakitimu, Sev…" Narcissa mengulang lembut. "Kau lihat dia hanya berpura-pura tidak memedulikan si Potter itu. Aku tahu para gadis. Tidak ada dari mereka yang sebaik itu. Dan kita lebih baik tanpa mereka…"

"Aku tidak…" protes Snape, berusaha membalikkan badan.

Narcissa mendorong kembali bahu Snape, terus memaksanya berjalan. Dan terus memberikan nasihat, atau lebih tepatnya lagi, perkataan yang sebenarnya ditujukan lebih kepada dirinya sendiri.

"…dan tanpa sepengetahuanmu, semua hal indah, malu-malu, menyengat, tersenyum-senyum sendiri sebelum tidur hanya karena berpapasan dengannya saat di koridor, hilang seketika. Digantikan dengan perasaan cemas berlebih karena dia mulai mengejar hal lain yang amat besar. Terlalu sibuk menyenangkan hati orang lain. Dan ada yang lebih penting darimu. Yah, aku tahu supremasi darah-murni penting. Tapi bisakah pakai cara yang biasa saja? Setidaknya yang tidak mempertaruhkan leher. Atau leherku? Dan memperlakukanku hanya seperti cewek pendamping? Tidak ada seorangpun yang bisa seenaknya memperlakukan kita seperti itu, Sev, tidak seorangpun…"

"Itu benar, Sev!" potong seseorang mengucapkan nama kecil Snape dengan mencemooh.

Baik Snape maupun Narcissa sendiri sekarang berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara di belakang mereka.

Ternyata itu Lucius. Berjalan dengan hati-hati mendekati mereka, jelas mendengar setiap perkataan Narcissa, karena dia melanjutkan,

"Kau seharusnya dengar apapun yang dikatakan seseorang yang melupakan kekasihnya sendiri saat pergi ke Hogsmeade…"

Narcissa tidak bisa berkata apapun lebih karena Lucius benar. Narcissa sama sekali tidak berharap Lucius akan ingat dan mengajaknya, akan punya waktu untuk jalan-jalan, dan terlebih lagi, dia sedang tidak ingin dianggap cewek jahat karena berjalan bersama Lucius didepan hidung anak-anak Ravenclaw.

Snape lebih cepat bereaksi.

"Ah… Hmm… Kalau begitu, aku akan… hmm… menyusul temanku!"

Snape langsung berlari, menghindari suasana panas yang mungkin akan melibatkan dirinya.

"Hei! Kau belum ambil galeon untuk cokelat-mu!" teriak Narcissa pada punggung Snape yang menjauh.

Narcissa berdecak kesal, berbalik menghadap Lucius, lalu bersiap menyusul Snape, tetapi Lucius menangkap tangannya.

"Aku tidak yakin ini ide bagus," gumamnya terdengar cemas. "Beberapa memori tidak bisa terhapuskan, walaupun kau saat ini lupa…"

Narcissa menatap Lucius dengan bingung selama beberapa detik. Mereka sudah hampir sampai di pintu masuk desa yang amat ramai. Tiba-tiba pemandangan itu berubah dalam pikiran Narcissa. Mundur jauh sampai ke hari saat dia sedang menjalani ujian OWL Astronominya. Ada muggle-muggle yang dijatuhkan hidup-hidup dari ketinggian sapu terbang. Beberapa diantaranya masih menggeliat-geliat. Beberapa menumpuk di jalan seperti karung. Beberapa menancap pada pagar dan sebuah trisula besar berujung runcing…

Api mulai membumihanguskan mereka… Membakar Hogsmeade…

Darah di kepala Narcissa seolah tersapu angin dingin. Lucius pastilah menyadarinya. Genggaman tangannya mengencang.

"Yah, Mantra Perbaikan yang sangat baik bukan?" gumam Lucius memperhatikan desa yang tetap ramai. "Tampak tidak pernah terjadi apa-apa… Bagaimana pun mereka harus tetap buka toko untuk hidup…"

Narcissa menelan ludah berulang kali, tetap memandang jalan masuknya, dan berulang kali juga menanyakan hal yang sama dalam hatinya. Siapkah dia memasuki Hogsmeade kembali?

Dengan perlahan, Narcissa berbalik memandang Lucius, yang menunduk memandang Narcissa seolah merasa bersalah dan prihatin.

"Mau pergi ke tempat lain?" tanyanya pelan.

Narcissa ragu tapi kemudian mengangguk. Lucius hampir meremas tangannya, kemudian tanpa peringatan, isi perut Narcissa seolah tertarik keluar. Kakinya meninggalkan tanah yang padat. Kemudian menjejak lagi. Rasa mual, pusing dan kebingungan yang familiar menerpa. Dia melepaskan diri dari pegangan Lucius untuk membungkuk memegangi lututnya yang lemas.

Aroma menyengat air asin menerpa hidung dan lidahnya. Angin bertiup sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya. Narcissa menyibakkannya dan mendongak.

Sejajar dengan pandangannya adalah lautan. Berwarna biru, licin tidak terusik, menyatu dengan langit. Ombak-ombak berbuih putih berkejaran disisinya membuat laut didepannya berwarna biru muda kehitaman, menonjolkan batuan karang dikedalaman. Akhirnya ombak berlabuh disisi air yang berwarna hijau toska muda, menyatu dengan pasir pantai yang seputih tepung.

"Aku pikir kau bosan dengan pemandangan Hogwarts…" Lucius berkata dibelakangnya, berusaha mengalahkan suara debur ombak yang memecah.

Tahulah Narcissa, Lucius baru saja mengajaknya ber-apparate. Yang entah legal atau tidak. Tetapi hal sekecil itu segera tersingkir dari pikiran Narcissa.

Mereka ada diatas tebing yang rendah, dengan lautan bergradasi-warna di sepanjang mata memandang. Tampaknya di suatu pulau kecil di tengah lautan. Ombak berdebur dan angin menyembur tak henti-henti.

Batuan cadas menjadi dasar tebing. Tetapi rumput tumbuh dengan rimbun dibawah kakinya. Rumpun tanaman hijau yang tidak bisa dikenali Narcissa dan gumpalan bunga-bunga ungu yang terlihat seperti kembang kol mini terhampar di seluruh permukaan tebing. Jauh dibelakangnya, menuju pusat pulau, pohon-pohon menjulang tinggi menunjuk langit.

Narcissa maju pelan-pelan. Mulutnya menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti, wah, ah, atau waw

"Terima kasih kembali…"

Lucius ikut maju menyusul Narcissa. Dan segera merebahkan diri begitu saja di rumput yang empuk.

"Kau lulus ujian apparation kalau begitu?" tanya Narcissa sementara matanya menjelajah kembali pemandangan disekelilingnya, seolah tersihir.

"Dengan pujian…" gumamnya terdengar mengantuk.

Narcissa akhirnya memutuskan duduk disamping Lucius dengan mata masih terpaku jauh ke depan. Berulang kali menghirup dan menghembuskan nafas seperti orang pilek.

"Dimana kita?" tanya Narcissa setelah beberapa detik hening.

"Suatu tempat yang agak jauh…" jawab Lucius.

Hening lagi. Hanya debur ombak dan angin…

Lucius mulai memainkan rambut Narcissa yang jatuh dipunggungnya.

"Mengapa kau membencinya?" tanya Lucius sambil terus menarik lembut rambut Narcissa.

"Benci apa?" Narcissa balik bertanya, merasa terlalu senang untuk membenci sesuatu saat ini.

"Aku dan kelompokku," jawab Lucius pendek.

Narcissa tidak menjawab.

"Aku minta maaf sudah menyeretmu ke dalam hal ini. Tapi kau tidak akan bisa tetap diam, seperti gadis-gadis kebanyakan. Kau akan selalu melakukan sesuatu…"

Narcissa tetap diam.

"Ini cita-citamu juga, Cissy. Kau tidak akan mau dunia kita yang indah ini dirusak oleh keturunan-keturunan darah lumpur itu…"

Narcissa merasa cita-cita itu akan menuntut lebih banyak kerusakan, jalan yang sulit, kepedihan, dan terutama… menuntut nyawa mereka. Dia hanya ingin hidup tenang, setenang suasana saat ini…

"Kau tetap akan mendukungku, bukan?" suara Lucius santai walaupun terdengar menuntut. "Kau yang pertama memulai permainan kita! Gunakan semua kemampuanmu di pihak kami! Tolong jangan memberontak…"

Narcissa ikut merebahkan diri disamping Lucius, lalu menelusupkan kepalanya ke bahu Lucius. Memeluknya…

Paduan suara ombak dan angin yang berdebur mengantarkan Narcissa ke pintu mimpi…

"Aku rasa, aku tidak ingin membicarakan tentang itu saat ini…" gumam Narcissa pada leher Lucius.

Dan, seolah sendirian di dunia, baik Narcissa maupun Lucius tertidur beratapkan langit…

.

.

.

Hari sudah gelap ketika Narcissa dan Lucius langsung ber-apparate sampai ke depan pintu gerbang. Lucius langsung menarik Narcissa untuk berlari. Waktu tampaknya sudah akan mendekati tengah malam karena kastil gelap sekali.

Setengah perjalanan menuju aula, mereka menabrak seseorang dengan keras. Bahkan dalam temaramnya kastil, Narcissa bisa mendengar Spages mengaduh. Lucius otomatis membantunya berdiri, lebih karena dia menghalangi jalan mereka.

"Ah…" gumam Spages gugup. "Miss Black! Dan, hmm… Mr Malfoy…"

Narcissa mendengar suara Spages lebih tergagap ketika menyebut nama Lucius. Tapi belum sempat mereka melakukan apa-apa lagi, lantai terasa bergetar. Rasanya seperti ada beberapa bayi raksasa belajar berlari.

"Itu dia! Itu dia! Narcissa Black!" seru seseorang.

Puluhan anak, dengan siluet tubuh seukuran Slughorn, menyerbu mereka. Narcissa tidak pernah tahu kalau ada anak Hogwarts sebesar itu. Mereka mulai bergumam riuh.

"Kupikir permen gratis di Hogsmeade itu?" tanya seseorang dari mereka.

"Tidak! Dia bahkan tidak terlihat disana!"

"Mungkin kabur?"

"Apa yang kau lakukan, Black? Mengaku sajalah!"

"Kembalikan kami ke bentuk tubuh yang semula!" teriak seseorang menuntut.

Dan kata-kata terakhir inilah yang diserukan lagi oleh semua orang.

Narcissa tidak tahu apa yang terjadi ketika seseorang berteriak.

"DIAM!"

Tetapi tidak ada yang mau diperintah, suara-suara tetap meninggi di kegelapan kastil.

Gelap?

Narcissa menyadari kandil-kandil di dinding kastil telah padam. Hogwarts jarang sekali segelap itu bahkan saat malam hari sekalipun.

"KENAPA GELAP SEKALI?" seru suara itu lagi. "Lu…"

"TIDAK!" semua anak menjerit histeris, memotong orang tersebut menyelesaikan mantranya.

"Lumos…" terdengar Lucius dengan malas-malasan menyelesaikan.

Tawa Narcissa hampir meledak kalau saja suasananya tidak segenting ini. Cahaya memenuhi kandil, menerangi semua murid yang berkumpul.

Rasanya seperti tadi, berada dalam kumpulan bayi-bayi raksasa. Semua anak dihadapan Narcissa bertubuh gemuk, dengan jubah kekecilan hampir sobek. Pipi mereka menggumpal menutupi hidung. Mata mereka menyipit seperti babi. Mereka semua murid perempuan. Dan karena Narcissa tidak mengenal satupun diantaranya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah, mereka semua terkena Ramuan Penggemuk-Kilat.

Kericuhan gadis-gadis itu bertambah sangar. Mereka mulai merangsek ke depan, menyerang Narcissa. Lucius maju ke depan, melindungi baik Narcissa maupun Spages yang terjepit diantara kericuhan. Dengan jijik berusaha mengusir mereka dengan kata makian seperti Menyingkirlah, bola!, Pergi, cewek gendut!, atau yang lebih kejam, Enyahlah, babi!.

"DIAM!"

Teriakan menggelegar yang diperkeras dengan sihir membuat semua mendadak terdiam.

Itu adalah suara Dumbledore.

Sesuatu yang seperti lilin berwarna ungu menyelip-nyelip diantara kerumunan anak. Akhirnya setelah beberapa detik, Dumbledore berada dihadapan mereka.

Walaupun merasa tidak bersalah, Narcissa sama sekali belum berani memandang Dumbledore. Lain dengan Lucius, yang menganggap Dumbledore adalah Kepala Sekolah yang paling buruk dalam sejarah Hogwarts. Hanya dengan merasakan punggung Lucius yang tegang, Narcissa sudah tahu bahwa Lucius sedang memandangi Dumbledore dengan dagu terangkat tinggi.

"Lihatlah dia, Profesor…" kata seseorang yang tidak lagi dikenali Narcissa karena tubuhnya menjadi gemuk. "Dia sama sekali tidak berubah seperti kami… Mencurigakan, bukan?"

"Cukup, Miss Lestrange!" potong Dumbledore kalem.

Narcissa melupakan keheranannya dengan keterkejutan. Lestrange? Andrea? Atau Adrianna?

Tetapi semua anak sudah resah sehingga tidak mengindahkan bahkan kata-kata Kepala Sekolah. Semua mulai menunjuk-nunjuk Narcissa lagi.

"Profesor McGonagall!" seru Dumbledore. "Tolong bawa kembali para gadis cantik ini ke aula. Dan kondisikan dengan Madam Pomfrey untuk memberikan ramuan Pelangsing-Kilat… Dosis yang tinggi dapat berbahaya, aku harapkan kalian sedikit bersabar…"

Anak-anak riuh lagi mendengar mereka tidak bisa mengempis secara kilat.

"Harap kembali ke aula untuk mengantri… Profesor Slughorn!" seru Dumbledore lagi seolah tahu bahwa Slughorn hampir pasti akan kabur dari kekacauan ini. "Tolong bantu mereka… Aku akan berbincang sebentar dengan Mr Malfoy, Miss Black, dan Profesor Spages…"

Narcissa baru menyadari keberadaan Spages lagi. Dia menoleh ke samping. Spages sepertinya adalah gadis yang paling kurus di Hogwarts sekarang, apabila dibandingkan dengan semua anak-anak tadi. Wajahnya bingung dan takut. Tetapi yang membuat otak Narcissa beku seketika adalah, ketika dia melihat Spages memegangi lengan jubah Lucius.

"Aku yakin Alice tidak ada hubungannya, Kepala Sekolah!" potong seseorang. Kacamata orang itu nyaris melesak dari pipinya yang bulat. Sekarang perhatian Narcissa teralih lagi. Dia nyaris tertawa terbahak melihat Profesor McGonagall yang kurus kering itu sekarang sukses bertambah berat badan.

"Aku hanya ingin mengobrol…" kata Dumbledore melambaikan tangannya.

Anak-anak dengan susah payah digiring menuju aula. Rasanya seperti melihat iring-iringan babi untuk masuk ke kandang. Hanya saja babi biasa tidak bisa menatap Narcissa dengan pandangan yang mengharapkannya mati.

Dumbledore mempersilakan mereka mengikutinya. Narcissa tegang lagi. Dia melupakan kenyataan Spages masih memegang lengan jubah Lucius dan Lucius yang tidak menyadarinya.

Dumbledore tidak membawa mereka ke kantornya, seperti yang dilakukannya apabila ada masalah pelik. Narcissa, Lucius, dan Spages beriringan menuju kelas kosong.

"Jadi?" tanya Dumbledore pelan.

Narcissa menganggap pertanyaan itu diajukan pada mereka bertiga, karena dia sama sekali belum menatap Dumbledore lagi.

"Pertemuan yang kebetulan sekali, Miss Black. Ada di tempat kejadian saat kekacauan terakhir juga, bukan?"

Narcissa dengan kaget menengadahkan wajah, tetapi melihat kemana saja selain mata Dumbledore.

"Hanya ada di waktu yang salah, Profesor!" celetuk Lucius tiba-tiba. "Anda tidak bisa menghubungkan dia dengan kejadian ini. Kami bahkan tidak ada di sekitar Hogwarts dan Hogsmeade sejak pagi…"

"Tepatnya kemana, kalau boleh tahu? Aku hanya memberi kalian izin ke Hogsmeade…"

Lucius, masih dengan keangkuhannya, walaupun kelepasan bicara, membuka mulut lagi. Tidak menyadari tempatnya berada. Karena Lucius masih tetap murid dengan Dumbledore sebagai kepala sekolahnya.

"Itu pribadi…"

"Ke suatu pulau kecil di tengah laut. Hogsmeade masih menjadi mimpi buruk bagi saya, karena apa yang saya lihat sewaktu OWL Astronomi tahun kemarin. Dan dia punya lisensi untuk ber-apparate… Harap anda maklum, Profesor…" potong Narcissa segera.

Lucius tampaknya berusaha menyikut perut Narcissa, tetapi tidak berhasil.

"Beresiko besar, bukan? Ber-apparate jauh dengan membawa seseorang?" tanyanya lagi.

"Itu akan menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Kami ada diluar lingkungan Hogwarts…" jawab Narcissa.

"Dan tentang kejadian malam ini?"

"Saya benar-benar tidak tahu apa-apa…" kata Narcissa jujur dengan sepenuh hati kali ini.

"Ah…" komentar Dumbledore. "Rupanya ada yang beranggapan memasukkan ramuan penggemuk ke dalam sesuatu yang di makan kita itu lucu. Mungkin hanya khusus wanita karena tidak ada laki-laki yang berubah. Dan keributan yang terjadi sungguh luar biasa… Ini wajar untuk para gadis… Dan karena Miss Black ini tidak terpengaruh… Juga Anda, Profesor…" Dumbledore menunjuk Spages.

Pintu kelas menjeblak terbuka bahkan sebelum siapapun angkat bicara. Snape masuk dengan tergopoh-gopoh. Tangannya disisi perut. Rambutnya terburai ke segala arah. Dia berbicara dengan nafas tersengal.

"Saya… memberikan… Ramuan Pelangsing untuk Narcissa. Dia… meminumnya! Tidak akan… terpengaruh… ramuan itu!"

Ruang kelas hening sejenak. Akhirnya Dumbledore mengangguk. Lalu matanya kembali kepada Spages. Yang dipandang menunduk gelisah dan cemas.

"Saya… eh… sedang berdiet… Saya tidak makan apa-apa…"

"Andrea dan Adrianna Lestrange!" seru Narcissa tiba-tiba, tahu apa yang dihadapinya sekarang. "Mereka menuduh saya duluan. Itu pasti sengaja. Dan Ramuan Penggemuk, meski bereaksi kilat pada hasil, membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam untuk menyerap ke tubuh. Apalagi digunakan sebagai campuran dalam makanan. Semua orang memakan kaldu itu tadi pagi. Kecuali saya… Mereka tahu saya jarang makan… Mungkin…"

Sekarang Narcissa tidak yakin atau hanya malu karena punya problem tentang berat badan, sama seperti gadis lain… dan Spages!

"Semua peri-rumah di Hogwarts milik Anda sebagai Kepala Sekolah. Anda cukup meminta mereka jujur mengenai siapa yang mengendap-endap ke dapur…"

Baik Lucius, Spages dan Snape menatap Narcissa tercengang. Bahkan untuk seorang Slytherin yang terkenal akan kemampuannya berkelit, Narcissa terlalu cepat melakukannya.

Dumbledore sendiri hanya mengangguk kalem. "Impresif… Ya… Ya…"

Dia menggumam sendiri beberapa saat. Yang menegangkan bagi mereka berempat.

"Kami boleh pergi kalau begitu?" tanya Lucius terdengar gelisah, seolah Narcissa akan membuka mulut lebih banyak lagi.

"Boleh pergi sampai terbukti bersalah…" kata Dumbledore akhirnya. "Berhati-hatilah… Semua dalam pengawasan saat ini…"

Narcissa berpura-pura tidak mendengarkan kata pengawasan yang dikatakan Dumbledore. Lalu beranjak pergi. Berusaha untuk tidak berlari dan kelihatan bersalah.

Narcissa tidak berkata apa-apa sampai Spages memisahkan diri dari mereka dengan gumaman yang tidak jelas. Narcissa memilih jalan lain menuju ruang rekreasi Slytherin, karena sedang tidak mau diserbu oleh gadis-gadis yang menggemuk. Baru ketika kandil-kandil hijau sudah menerangi langkah mereka, baik Narcissa maupun Lucius sama-sama membuka mulut.

"Dan apa yang kau pikir kau lakukan…" kata Lucius, berbarengan dengan Narcissa yang gusar.

"Seorang Malfoy tidak menyadari wanita darah-lumpur pada ujung jubahnya! Apa yang akan dikatakan ibumu…"

"..aku tidak melakukan apa-apa!"

"Yah, aku tahu kau menikmati jadi pahlawan untuk si Spages itu…"

"…beranalisis seolah kau tahu segalanya! Tahukah kau bahwa Dumbledore mencurigaimu?"

"…aku harus melindungi diriku sendiri! Cowokku terlalu sibuk dengan tugasnya sebagai ketua dan… oh! Ada seseorang yang menganggapnya sangat baik hati…"

"… tidak tahu apa yang kau maksud! Kau membahayakan kami!"

"Aku tidak minta Andrea dan Adrianna menuduhku! Mereka pasti berusaha menyingkirkanku! Dan rencana mereka sangat bodoh khas cewek!"

Mereka berhenti dengan terengah-engah dan berusaha tidak mempedulikan Snape yang merepet ingin kabur lagi. Narcissa sama sekali lupa Snape telah menolongnya sedikit tadi. Kepalanya terasa penuh.

"Tahukah kau ada cacat dalam rencanamu ini? Dumbledore tidak bodoh seberapa bencinya kau padanya…" kata Narcissa sebelum Lucius menyelanya lagi.

"Aku hanya berusaha untuk menyebarkan teror pada sekolah sialan ini! Agar mereka menyadari keberadaan kami dan takut…"

Ada kilat di mata Lucius, yang Narcissa harapkan hanya pengaruh cahaya kandil. Tetapi keserakahan, kesombongan, atau bahkan ketakutan, mampu mengubah seseorang. Narcissa tahu hal ini, karena dia sendiri pun mengalaminya.

"Tapi tidak ada yang terjadi. Kau sebaiknya menyudahinya. Semua yang kita lakukan hanyalah hal konyol yang membuat ricuh… Tidak ada hubungannya dengan teror… Dan Dumbledore…"

"… akan menyadari bahwa kami bukan sekedar Slytherin yang pengecut. Kami melakukan apapun untuk memperoleh tujuan kami. Kau tahu betul itu, Cissy… Kalau ada seorang Slyterin sejati, kau salah satunya… Dan bersiaplah…"

"Untuk apa?" tanya Narcissa dengan gusar.

"Ini Halloween… Ada sejarah panjang mengenai malam ini… Sesuatu yang mengerikan mungkin terjadi…"

Jam berdentang di kejauhan, menunjukkan waktu tengah malam…

∞ to be continued ∞